Masa ujian akhirnya berakhir.
Biasanya, kebanyakan murid akan menikmati rasa lega karena terbebas dari tekanan ujian, lalu pergi ke pasar atau teater untuk melepas penat dengan cara mereka masing-masing.
Tapi hari ini berbeda.
Banyak sekali murid berbondong-bondong menuju colosseum. Kursi penonton jelas sudah penuh sesak, dan bahkan di luar coliseum pun banyak orang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan lewat proyeksi yang dibuat oleh spirit.
“Suasananya udah kayak festival, ya?”
“…………”
Gareth bergumam sambil melihat sekeliling colosseum dari bangku tunggu tempat Rourke duduk. Memang, pertandingan rank tinggi biasanya hampir selalu memenuhi kursi penonton, tapi keramaian hari ini terasa jauh lebih luar biasa.
Tentu saja alasannya adalah duel antara Rourke dan Trallus, tapi yang lebih besar lagi adalah fakta bahwa Trallus sendiri sudah mengumumkan akan ikut bertanding di Ranking Match kali ini. Trallus, yang terkenal hampir selalu absen dari berbagai hal, kini dipastikan tampil di Ranking Match. Tidak heran kalau orang-orang berbondong-bondong datang untuk menontonnya.
Meski bagi Rourke, semua itu tidak lebih dari gangguan belaka...
“Kelihatannya mood-mu masih jelek juga tiap sebelum Ranking Match, ya?”
“Iya. Kalau ini bukan Ranking Match, aku pasti sudah mundur tanpa mikir dua kali...”
Meski begitu, bahkan kalau ini cuma pertandingan biasa, kabur sekarang juga pasti akan berakhir dengan hujan cemoohan. Rourke bisa dengan mudah membayangkan masa depan di mana berbagai benda dilemparkan ke arahnya sambil orang-orang melontarkan protes.
“Jadi, sempat kepikiran strategi apa?”
“...Susah bilangnya.”
“Ngomong-ngomong, semua orang lagi heboh, mikir kamu mungkin bakal manggil contract spirit.”
“Kalau bisa manggil, dari tadi juga udah kulakukan.”
Tapi bagaimana mungkin dia memanggil sesuatu yang memang tidak ada? Mustahil.
[Rourke Areas, Kay Trallus. Silakan memasuki arena.]
“Haaah...”
Rourke menghela napas panjang saat awal dari akhir itu akhirnya tiba. Ia perlahan bangkit dari bangku.
“Aku dukung kamu.”
“Aku bakal berusaha kasih pertunjukan yang layak.”
Tanpa menoleh ke belakang, Rourke melambaikan tangan sebagai balasan atas dukungan Gareth lalu melangkah maju ke medan pertarungan. Di depannya, ia bisa melihat pemuda tampan bak bishounen, Kay Trallus, berjalan ke arahnya dari sisi berlawanan.
“Hei, Rourke Areas. Kurasa ini pertama kalinya kita benar-benar ngobrol langsung begini, ya?”
“Kelas kita hampir nggak pernah bareng. Dan sekalipun bareng, kamu juga jarang banget muncul di Ranking Match.”
“Haha, aku sibuk macam-macam urusan. Maaf soal itu.”
Kay tersenyum sambil meminta maaf, tapi dari ekspresinya yang segar dan santai itu, sama sekali tak terasa ada penyesalan.
“Ngomong-ngomong, aku pernah kalah sekali darimu. Kali ini aku bakal balas dendam.”
“Jangan ngaco. Itu bukan kalah, itu walkover.”
Waktu tahun pertama, Kay tidak datang, dan Rourke akhirnya berdiri sendirian di coliseum. Karena menang default, Rourke mendapat satu kemenangan tanpa bertarung, yang kemudian membuatnya terus dipasangkan melawan lawan-lawan dengan rank lebih tinggi.
Kalau dipikir-pikir sekarang, kemenangan default itu mungkin adalah awal dari kehidupan akademinya yang penuh tekanan.
“Tch, cowok yang ribut soal detail kecil itu nggak menarik, tahu.”
“Siapa yang ribut?”
Rourke menghela napas, jengah pada sikap santai Kay, lalu mengambil posisinya. Kay yang juga sudah berdiri di tempatnya seolah teringat sesuatu, lalu membuka mulut.
“Ah, sebelum mulai, ada satu hal. Aku nggak menyarankan kamu menahan diri. Demi kebaikan kita berdua.”
“Aku nggak pernah menahan diri...”
Bahkan tidak sekali pun.
Rourke bergumam dalam hati sambil diam-diam menarik spirit vessel miliknya dan bersiap. Sebaliknya, Kay berdiri tenang seolah tidak ada yang aneh sama sekali.
“……….”
Sambil menunggu aba-aba dimulainya pertandingan, Rourke benar-benar merasakan perbedaan level di antara mereka. Dibandingkan sikap Kay yang sepenuhnya alami dan tanpa cela, tubuh Rourke sendiri menegang karena gugup. Beberapa detik sebelum pertandingan dimulai terasa sangat panjang, sampai akhirnya wasit memberi sinyal.
[Mulai!!]
“Tch!”
Begitu aba-aba terdengar, Rourke langsung bergerak lebih dulu.
Ia memanggil spirit yang disegel di dalam vessel-nya, lalu dengan cepat membentuk kontrak sementara.
“Hoh.”
Kay mengeluarkan suara tertarik saat spirit itu muncul.
Spirit yang dipanggil Rourke adalah seekor beast yang dibalut petir, bentuknya menyerupai kucing, seekor thunder beast. Makhluk itu menggeram pelan sebelum melompat ke bahu Rourke.
“Thunder Pierce.”
Dengan kekuatan petir, Rourke mengulurkan jarinya lalu menembakkan sambaran petir ke arah Kay yang masih berdiri santai.
Serang lebih dulu, serang sekeras mungkin. Jatuhkan dia sebelum sempat memanggil spirit-nya. Itu keputusan yang logis. Namun sambaran petir yang melesat lurus ke arah Kay memantul oleh sesuatu tepat sebelum mengenainya.
“Tch, cepat juga kamu.”
Kay bergumam dengan wajah santai sambil melihat energi spiritual yang tercerai-berai.
“Yah, aku juga sudah menduganya.”
Kalau Kay bisa dijatuhkan semudah itu, dia tak mungkin menduduki rank tiga di angkatannya. Rourke memang sudah memperkirakan serangan pembukanya akan dipatahkan dengan mudah.
“Tapi kalau begini?”
“Hah?”
Kay menoleh ke arah suara Rourke, tapi Rourke tidak ada dalam jangkauan pandangnya. Sebaliknya, suara gemuruh petir terdengar dari belakangnya. Kay mengalihkan pandangannya tepat pada waktunya untuk melihat Rourke, yang tubuhnya diperkuat energi spiritual petir, sedang mengayunkan sword spirit ke arahnya.
Cepat.
Kay sungguh mengagumi kecepatan Rourke. Kalau digabung dengan energi spiritual yang disalurkan ke sword spirit itu, lawan biasa pasti tak akan mampu menahan serangan tersebut dan langsung kalah di tempat.
Namun, meski tebasan Rourke layak dikagumi, itu tetap bukan ancaman bagi Kay.
“Siren.”
“Ah!”
“Apa!?”
Sebelum Rourke sempat bereaksi, seorang gadis cantik dengan sepasang sayap yang tumbuh dari pinggangnya muncul di samping Kay. Siren. Ia menarik napas kecil, lalu dari tenggorokannya mengalun nada soprano yang indah.
Dalam sekejap, sebuah penghalang tak kasatmata terbentuk di antara Kay dan Rourke. Sword spirit menghantam penghalang itu dengan bunyi nyaring, dan Rourke pun terpental ke belakang.
“Tch!”
“Kamu terlalu terburu-buru. Tunggu sebentar, bisa tidak?”
“Maaf, aku orangnya nggak sabaran!”
teriak Rourke sambil mendorong lengannya ke depan.
Petir dan energi spiritual berkumpul di telapak tangannya, lalu pada detik berikutnya, sambaran petir ditembakkan ke arah Kay.
Kilatan cahaya itu menyelimuti seluruh coliseum, sampai-sampai untuk sesaat membutakan semua yang ada di sana, termasuk para penonton.
“...Sial.”
Saat cahaya memudar dan penglihatannya kembali jelas, Rourke langsung dilanda keputusasaan melihat pemandangan di depannya.
“Ya ampun.”
Kay mendesah dengan wajah setengah jengkel. Dirinya sendiri memang tidak berubah, tapi keadaan di sekelilingnya sudah sepenuhnya berbeda.
Di sampingnya berdiri sang siren, spirit berpenampilan anggun seperti seorang lady.
Di atas mereka, ada spirit cantik setengah wanita setengah ikan yang berenang di udara seolah berada di dalam air.
Dan di sekeliling mereka, melayang lima spirit kecil mirip peri.
Dengan kata lain, seluruh Contract spirit milik Kay kini telah muncul di medan pertempuran.
“Semuanya sudah keluar.”
“…………”
Lily mengangguk diam menanggapi gumaman Gareth dari kursi penonton. Begitu spirit-spirit milik Kay bermunculan, sorak-sorai penonton langsung meledak.
“Tapi Rourke juga sampai menyiapkan thunder beast. Itu cukup mengejutkan.”
Nada suara Celia terdengar sedikit heran.
Dibandingkan spirit yang menguasai empat elemen, api, air, tanah, dan angin, yang konon membentuk dunia, jumlah spirit dengan atribut lain jauh lebih sedikit. Spirit petir, bahkan di rank rendah sekalipun, termasuk cukup langka. Dari mana Rourke bisa mendapatkannya?
“Aku lihat itu di pasar, terselip di salah satu sudut.”
“Tunggu, kenapa kamu nggak beli!?”
“Karena aku nggak butuh...”
“Kalau begitu setidaknya bilang padaku!”
“Maaf.”
“Sudah, sudah, fokus ke pertandingannya dulu.”
Celia menenangkan diri lalu kembali mengalihkan perhatian pada pertandingan.
“Meski thunder beast itu memang mengejutkan, kelihatannya Rourke gagal menghentikan proses pemanggilan spirit.”
“Benar.”
Salah satu strategi yang paling sering dibicarakan untuk menghadapi Kay adalah mengalahkannya sebelum ia selesai memanggil spirit-spiritnya. Strategi itu memang terpikirkan oleh siapa pun, meski sampai sekarang belum ada yang pernah berhasil melaksanakannya.
“Rourke mulai memanggil spirit-spirit kecil. Apa dia masih tetap berniat bertarung tanpa memanggil Contract spiritnya?”
“Itu nekat sekali.”
“Jadi, apa yang akan dilakukan Rourke?”
Gareth, yang mengetahui kebenarannya, diam-diam bertanya dalam hati sambil mendengarkan percakapan mereka.
Pertukaran serangan awal sudah selesai, dan para penonton menahan napas saat keduanya bersiap memasuki pertarungan sesungguhnya.
•••
Sejujurnya, sejarah keluarga Trallus sebagai spirit master itu sangatlah singkat.
Lalu apa profesi keluarga mereka yang sebenarnya? Musik. Sebagai keluarga yang telah melahirkan banyak komposer dan performer ternama, mereka sudah mapan sebagai keluarga musisi bergengsi. Bagi mereka, tidak ada kebutuhan untuk mengejar status sebagai spirit master.
Kadang memang ada anggota keluarga yang memiliki bakat sebagai spirit master lalu masuk akademi, tapi itu pun sekadar bagian dari membangun koneksi, tidak lebih.
“Lorelei, kemarilah.”
Kay Trallus adalah seorang anomali yang lahir di keluarga musisi itu, seseorang dengan bakat langka sebagai spirit master.
Saat Kay mengulurkan tangannya, spirit setengah wanita setengah ikan yang berenang di udara itu terurai menjadi partikel-partikel cahaya dan menyelimuti lengan kanannya. Di saat berikutnya, di tangannya telah tergenggam tongkat konduktor, sementara lengannya dibalut gauntlet yang mengingatkan pada sisik ikan.
“Maaf sudah membuatmu menunggu. Aku akhirnya siap.”
“Aku nggak menunggu...”
Rourke menjawab dengan keringat dingin mengalir di wajahnya.
Spirit Armament. Teknik tingkat tinggi yang digunakan spirit master hebat, termasuk mentor Rourke, Owen, untuk mewujudkan kekuatan spirit mereka.
Terdesak oleh energi spiritual Kay yang terus membengkak, Rourke tanpa sadar mundur selangkah.
“Kamu nggak mau memanggil spirit-mu? Kalau mau, aku bisa menunggu.”
“Urus saja dirimu sendiri. Cepat maju.”
Mungkin itu adalah ucapan yang benar-benar tulus, bukan ejekan atau provokasi, tapi Rourke sengaja menyeringai dan menggerakkan jemarinya seolah menantang.
“Atau lebih tepatnya, karena memang nggak ada, mau nunggu berjam-jam pun aku tetap nggak bisa manggil.”
“......Bagus, menarik.”
Menanggapi provokasi Rourke, Kay sempat memasang wajah kosong, lalu sudut bibirnya melengkung membentuk senyum.
“Aku sudah memutuskan. Tema pertunjukan kali ini adalah sang pahlawan.”
Saat mengucapkan itu pada Rourke yang sudah bersiap bersama spirit-spirit kecilnya, Kay mengangkat baton miliknya.
Pada saat yang sama, Siren mulai bernyanyi nyaring, dan spirit-spirit kecil yang melayang di atas kepala Kay mulai menari-nari sambil memainkan nada yang terbentuk dari energi spiritual.
“Spirit art milikmu tetap aja heboh seperti biasa...”
“Tapi ini pertama kalinya kamu naik ke panggung ini, kan? Jadi silakan nikmati sepenuhnya.”
Begitu Kay selesai bicara, suara nyanyian Siren di sampingnya berubah menjadi nada rendah yang mengerikan, dan musik yang dimainkan para spirit kecil pun menjadi berat dan menyesakkan.
Perlahan, seiring perubahan alunan musik itu, energi spiritual yang merasuk ke dalam nada-nada tak terhitung yang mengelilingi Kay mulai memanas dan berubah menjadi merah tua.
Lalu kemudian
“Hero’s Ode, Chapter One: Blazing Inferno.”
Saat Kay mengayunkan baton-nya ke bawah, nada-nada itu berubah menjadi kobaran api liar, menyerbu Rourke bagaikan gelombang bunga teratai merah yang membara.
Menghadapi lautan api yang meluncur ke arahnya, Rourke mengaktifkan spirit art pertahanan dengan menggabungkan air dan angin, teknik yang sama yang pernah ia gunakan untuk menahan Salamander’s Breath milik Leia.
Pusaran air raksasa menyelimuti tubuh Rourke dan menghantam gelombang api itu secara frontal.
“Tch!”
Saat pandangannya tertutup uap, Rourke segera melepaskan hembusan angin untuk membersihkan sekitarnya dan menyingkirkan kabut panas itu.
“Sang pahlawan yang berhasil melewati cobaan api yang membakar kini akan menghadapi ujian berikutnya, murka lautan luas.”
Saat uap mulai menghilang dan pandangannya kembali jelas, Rourke melihat Kay masih berdiri sambil memimpin pertunjukannya, sementara nada-nada yang tak terhitung itu kini berubah menjadi biru tua.
“Chapter Two: Tempestuous Tides.”
Di bawah arahan Kay, suara Siren mengaum, dan arus air yang mengamuk meluncur ke arah Rourke.
“Nggak ada habisnya, ya!?”
teriak Rourke sambil segera mengganti spirit art miliknya, kali ini mengaktifkan manipulasi tanah. Ia mengangkat dinding tanah untuk menahan gelombang air yang datang, tapi arus itu terlalu kuat dan menghancurkan penghalangnya hanya dalam hitungan detik.
“Wind!”
Jalan kabur yang dipilih Rourke adalah ke atas. Dengan spirit art, ia melayang ke udara, tapi tak lama kemudian ia sadar itu adalah pilihan yang salah.
“Sang pahlawan yang lolos dari lautan kini akan menghadapi penghakiman langit.”
Saat suara Siren meninggi sampai menusuk telinga, nada-nada yang dimainkan spirit kecil mulai memercikkan listrik, naik ke langit dan membentuk awan gelap.
“Chapter Three: Thunder’s Wrath.”
“Gah!?”
Sambaran petir melesat turun dari awan gelap itu, tepat mengarah ke Rourke. Ia buru-buru menyalurkan energi spiritual ke thunder beast miliknya untuk menahannya, tapi petir lawannya terlalu kuat untuk bisa ditekan.
“Chapter Three belum selesai.”
Saat Rourke jatuh dengan asap mengepul dari tubuhnya, Kay dengan tenang memerintahkan spirit-spiritnya untuk melanjutkan serangan.
Gemuruh petir mengguncang arena. Beberapa sambaran petir lagi menghantam Rourke yang sedang jatuh, menelan tubuhnya dalam kilatan cahaya.
“Sudah ketemu.”
“Nggak mungkin!?”
Namun pada detik berikutnya, Kay mengalihkan pandangannya ke sudut arena dan menembakkan petir ke sana. Rourke, yang bersembunyi dengan memanipulasi udara menggunakan spirit art angin, pun muncul dengan wajah terkejut.
Keheranan para penonton bahkan melebihi Rourke. Sejak kapan dia bersembunyi di sana? Lalu siapa yang tadi terkena petir? Pandangan mereka segera tertuju pada sebuah boneka tanah liat yang kini tergeletak pecah di arena.
“Apa!?”
“Tapi kenapa aku nggak sadar? Energi spiritualnya...!?”
Para penonton yang terkejut segera menyadari alasannya ketika spirit kecil muncul dari boneka yang pecah itu. Rupanya Rourke telah menuangkan energi spiritual dalam jumlah besar ke dalam boneka itu sambil menekan keberadaannya sendiri, menciptakan ilusi sementara tentang posisinya.
“Hebat...”
Kombinasi teknik tingkat tinggi yang sangat piawai.
Leia, yang menonton pertarungan itu dari bangku penonton, tak bisa menahan gumaman kagum.
Namun pada saat yang sama, ia juga merasakan kengerian sejati dari Kay Trallus. Dengan manipulasi energi spiritual yang presisi untuk menciptakan lapisan udara yang membelokkan cahaya, Rourke sebenarnya sudah bersembunyi sempurna, namun Kay mampu menembusnya dalam sekejap.
“Senpai...”
“Ara ara, jadi kamu secemas itu ya soal Rourke-senpai tersayangmu?”
“Apa!?”
Akari, yang tiba-tiba muncul dari belakang dan memeluk Leia sambil menggoda, membuat wajah Leia langsung memerah karena salah tingkah.
“Hah? J-jadi itu maksudnya!?”
“B-bukan! Itu salah paham! Aku cuma murni sebagai seorang senpai”
“Ah, Rourke-senpai dalam bahaya.”
Saat Mary yang duduk di sebelah mereka bertanya dengan mata berbinar-binar soal kisah cinta itu, Leia buru-buru mencoba meluruskan salah paham tersebut, tapi ucapan Akari membuat perhatian mereka kembali tertarik ke arena.
Atribut serangan kembali berganti dari petir, dan kali ini tanah di bawah kaki Rourke terbelah seperti rahang raksasa, siap menelannya bulat-bulat.
“Whoa!?”
Rourke dengan wajah panik mencoba kabur menggunakan spirit art, tapi seketika puluhan tombak tanah mencuat dari permukaan arena, semuanya mengarah untuk menusuk tubuhnya.
Tanpa ruang untuk menghindar, Rourke menggunakan pedangnya sebagai tameng untuk menahan tombak-tombak itu, tapi benturan kerasnya justru membuatnya terlempar ke udara.
“Sekarang, bagaimana kamu akan menghadapi ujian berikutnya!?”
Melihat Rourke tak punya pijakan, Kay mengayunkan baton-nya. Suara dingin Siren menggema, sementara nada-nadanya berubah menjadi biru pucat dan melepaskan hawa dingin yang mulai membungkus Rourke.
“Chapter Four: Frozen Tempest.”
Dalam sekejap, sekeliling arena berubah menjadi lanskap bersalju. Rourke yang terperangkap di tengah badai salju menggigil oleh dingin yang menusuk, tapi ia segera mendongak saat merasakan energi spiritual besar di atas kepalanya.
“Tidurlah dalam pelukan musim dingin.”
“Tch!”
Sebuah bongkahan es raksasa terbentuk di atas Rourke
dan tanpa ampun jatuh menghantamnya dengan suara ledakan menggelegar.
“Cuma segini?”
Kay menatap bongkahan es raksasa di hadapannya yang menjulang seperti batu nisan, lalu akhirnya menghentikan serangannya. Bukan karena ia sombong atau karena yakin dirinya sudah mengalahkan Rourke.
Melainkan karena semangatnya untuk pertandingan ini mulai memudar.
“Kukira bakal sedikit lebih menarik...”
Sejak awal, karena latar belakang keluarganya, Kay sebenarnya bercita-cita menjadi musisi, bukan spirit master.
Namun, ia masuk akademi sebagai spirit master karena orang tuanya, yang sangat menghargai bakatnya, terus membujuknya dengan sungguh-sungguh. Bukan karena ia sendiri punya keinginan kuat untuk menempuh jalan itu.
Bahkan, baginya tampil di konser-konser di luar jauh lebih menyenangkan dan terasa lebih bermakna.
Karena itu, minat Kay terhadap Ranking Match sebenarnya sangat kecil, dan ia sendiri tidak terlalu peduli menang atau kalah. Hanya saja, ia tak bisa mencoreng nama keluarga, jadi ia tetap harus ikut serta dan meraih hasil yang layak.
Maka, Kay pun memutuskan untuk menikmati Ranking Match layaknya sebuah opera.
Ia menciptakan latar cerita, menempatkan dirinya dan lawannya sebagai tokoh-tokoh di dalamnya, lalu bertarung sesuai narasi yang ia susun sendiri. Dengan cara itulah ia menjaga motivasinya dalam pertarungan.
Meski begitu, kalau ia sama sekali tidak tertarik pada lawannya, terkadang ia akan begitu saja melewatkan pertandingan, sehingga rank-nya sempat turun. Namun selama ia mengalahkan beberapa lawan rank tinggi di pertandingan lain, posisinya akan tetap bisa dipertahankan.
Begitulah Kay Trallus membentuk pendirian dan gaya bertarungnya di Ranking Match.
“Kau... meremehkanku!!”
“…………”
Bongkahan es itu terbelah menjadi dua, dan dari dalamnya Rourke muncul dengan tubuh diselimuti kobaran api. Sword spirit di tangannya terbungkus api berkat bantuan spirit-spirit kecil, dan sambil meraung, Rourke mengayunkan pedangnya ke bawah.
Sabit merah menyala itu melesat mendekat. Serangan itu cukup berbahaya kalau diterima langsung, tapi Kay sama sekali tak berniat menghindar. Sebaliknya, ia hanya menusukkan baton-nya ke depan.
Dalam sekejap, tongkat energi spiritual terbentuk di sekitar tubuh Kay dan dengan mudah menepis tebasan itu.
“…………”
“...Kamu tetap nggak mau memanggil Contract spiritmu, ya...”
Kay bergumam kecewa, sementara Rourke mengernyit melihat hasil itu.
Rourke Areas, spirit master yang tidak memanggil Contract spiritnya.
Memang, gerakannya luar biasa. Baik serangan maupun pertahanannya menunjukkan teknik yang sangat bagus, dan ada beberapa momen yang benar-benar mengesankan.
Tapi hanya itu.
Dia memang kuat, tapi tak berbeda dari lawan-lawan yang pernah dihadapi Kay sebelumnya. Ia belum cukup menginspirasi untuk membangkitkan kreativitas Kay. Mungkin hasilnya akan berbeda kalau ia memanggil Contract spiritnya, tapi tampaknya itu memang tidak akan terjadi.
“Aku tak punya hak untuk memaksamu memanggil spirit-mu. Tapi kalau memang tidak mau, maka sayangnya sudah waktunya mengakhiri ini.”
Saat suara Siren bergema dengan nada lirih dan menyeramkan, tongkat-tongkat spiritual di sekitar Kay dan spirit-spiritnya meluas dan saling menumpuk berkali-kali. Nada-nada yang dimainkan spirit-spirit kecil mulai bertumpuk di atas staff itu.
“Kamu berhasil melewati badai salju dengan apimu, tapi bisakah kamu selamat dari cobaan ini?”
Nada-nada di atas staff berubah menjadi merah, cokelat, dan kuning, lalu melepaskan energi spiritual dalam jumlah yang luar biasa besar.
Staff itu berputar cepat mengelilingi Kay, dan lima bongkahan batu besar yang diselimuti petir serta api muncul di atas kepalanya.
“Hei, hei...”
Rourke memaksakan senyum pahit saat menatap lima bola ganas yang melayang di udara dan membidiknya.
Energi spiritual yang dimasukkan ke masing-masing serangan itu sudah benar-benar berada di level yang berbeda dari sebelumnya. Sekalipun ia memakai semua spirit art miliknya dan semua spirit kecil yang ada, mustahil ia bisa menahan semuanya sekaligus.
Sudah selesai.
Rasa pasrah perlahan memenuhi hatinya.
Dan pada saat yang sama, tubuhnya justru mulai rileks dengan sendirinya.
“Aku sudah berusaha... kan?”
gumam Rourke, seolah sedang membela dirinya sendiri.
Lagipula, ia sudah bisa bertahan selama ini melawan Kay Trallus. Kalau dipikir-pikir, itu saja sudah pantas dipuji.
Tapi sebuah suara di kepalanya mempertanyakan dirinya.
Apa kamu benar-benar sudah mengerahkan segalanya?
Apa masih ada cara untuk melewati situasi ini?
Apa kamu rela semuanya berakhir seperti ini?
“…………”
Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.
Apa perlu mengambil risiko sebesar itu hanya demi pertandingan ini? Bukankah lebih baik mengakui kekalahan dengan lapang dada, mengatakan bahwa aku sudah berusaha sebaik mungkin tapi memang tak bisa menang? Kalau begitu, mungkin aku tetap akan stres, tapi setidaknya besok aku masih bisa kembali menjalani hidupku seperti biasa.
“Kenapa kamu nggak memanggil Contract spiritmu?!”
“Kenapa kamu nggak mau memanggil Contract spiritmu?”
“Kenapa nggak panggil saja spirit-mu? Kalau kamu lakukan itu, peluang menangmu bakal cukup besar.”
“...Kurasa kamu memang tidak akan memanggil Contract spiritmu, ya.”
Bukan. Bukan karena aku tidak mau memanggilnya, tapi karena aku memang tidak punya.
Tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya...
Karena itu aku terus bertarung tanpa Contract spirit...
Dan sekarang orang-orang mulai bilang aku sedang menyembunyikan kekuatan asliku atau omong kosong sejenis itu...
Padahal di setiap pertandingan, aku selalu bertarung sekuat tenaga...
“...Ya, benar...”
Benar.
Aku memang selalu mengerahkan segalanya.
Tak peduli seberapa salah paham orang-orang di sekitarku, tak peduli siapa lawanku, aku selalu bertarung dengan semua yang kumiliki. Bahkan saat melawan Misha pun aku sudah memberikan seluruh kemampuanku, dan saat tak bisa menang, aku mengakui kekalahan itu.
Tapi aku belum memakai semua yang benar-benar kumiliki.
Aku tidak bisa mengakhirinya seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan diriku kalah sambil tetap dianggap menyembunyikan kekuatan asli, seperti rumor yang beredar. Aku tak bisa menerima itu.
“Chapter Five: Heavenly Meteor Strike.”
“......!”
Saat Kay mengayunkan baton-nya, lima bongkahan batu berselimut petir dan api itu meluncur deras ke arahku.
Tak ada lagi keraguan.
Menghadapi ancaman yang datang, Rourke segera mengeluarkan vessel miliknya dan menyegel semua spirit selain sword spirit.
Dan kemudian
•••
“......?”
Trallus, yang baru saja melepaskan teknik itu, tak bisa menepis rasa aneh yang muncul dalam dirinya.
Pada detik terakhir, tepat saat teknik itu akan menghantam, Kay jelas melihat wajah Rourke. Karena itulah ia menyadarinya.
Rourke tadi...
jelas-jelas tersenyum.
“...Kenapa?”
Ia tanpa sadar menggumamkan pertanyaan itu, tapi keraguan itu tetap tak hilang. Mungkin satu-satunya cara untuk memastikannya adalah bertanya langsung pada Rourke, tapi kemungkinan besar anak itu sudah pingsan setelah menerima serangan tadi.
“...Yah, sudahlah.”
Memang mengganjal, tapi semuanya sudah berakhir.
Daripada memikirkan itu, lebih baik ia segera kembali dan mulai mempersiapkan konser berikutnya.
Sambil berpikir begitu, Kay mengalihkan pandangannya ke arah guru yang bertugas sebagai wasit, siap mendengar kemenangannya diumumkan... namun pada detik berikutnya, hawa dingin menjalar di tulang punggungnya.
“!?”
Secara refleks, Kay segera memalingkan pandangannya kembali ke arah Rourke.
Ia sendiri tak tahu kenapa. Ia bahkan tidak yakin apakah hawa dingin itu memang berasal dari Rourke. Namun tubuhnya secara alami sudah menghadap ke arah Rourke, yang seharusnya masih tertimbun debu dan bebatuan.
Apa ini? Apa yang terjadi?
Saat Kay masih mencoba memahami situasinya, angin kencang bertiup dari arah Rourke.
“Ugh!”
Kay menutupi wajahnya dengan lengan, berusaha menahan terpaan itu, tapi saat menyadari bahwa anginnya cukup kuat untuk menerbangkannya, ia segera mengaktifkan spirit barrier. Lembaran staff membentuk perisai di sekelilingnya, melindunginya dari terjangan angin.
“...Apa itu?”
Ketika Kay menurunkan lengannya dari wajah, matanya langsung membelalak kaget.
Lima bongkahan batu yang sebelumnya meluncur ke arah Rourke kini jatuh secara tidak alami ke kiri dan kanan, seolah sengaja menghindarinya. Dan di tengah-tengahnya berdiri Rourke sambil menggenggam sword spirit.
Lalu di atasnya, melayang santai tanpa beban, ada sosok spirit jahat tingkat tinggi yang jelas menyerupai ikan pari.
“……….”
Saat teriakan dan jeritan kaget menggema di seluruh arena, sudut bibir Kay tanpa sadar terangkat.
•••
Energi spiritual gelap dan jahat yang memancar dari spirit yang dipanggil Rourke itu jelas merupakan ciri khas evil spirit. Begitu ia muncul, semua orang yang ada di dalam arena, maupun mereka yang menonton dari luar, langsung tahu dengan pasti.
Itu adalah evil spirit.
“Apa!? Hah!?”
“Tunggu, itu evil spirit, kan!?”
“Ada apa ini!? Kenapa Areas memanggil evil spirit!?”
Syok. Kebingungan. Jeritan.
Di tengah lautan suara kacau baik dari dalam maupun luar arena, Kay yang berdiri berhadapan dengan Rourke diam-diam mengamati evil spirit itu dan memastikan hubungan di antara mereka.
Ikatan spiritual di antara mereka lemah, jadi hampir pasti itu hanya kontrak sementara.
Tapi itu bukan masalah utamanya.
Bahkan jika itu hanya kontrak sementara, fakta bahwa ia sedang mengendalikan evil spirit sudah merupakan hal yang abnormal, sebuah prestasi, sekaligus ancaman.
“…………”
Kay menurunkan pandangannya dan menatap Rourke, orang yang memanggil evil spirit itu.
Seperti banyak pengguna spirit lainnya, ia sempat mencurigai risiko kehancuran mental yang biasanya menyertai pengendalian evil spirit, tapi kejernihan di mata Rourke saat menatap lurus ke arahnya langsung menepis dugaan itu.
Dia sadar sepenuhnya. Tidak diragukan lagi.
Artinya, setidaknya pada saat ini dan di tempat ini, dia benar-benar mengendalikan evil spirit itu. Fakta bahwa spirit itu hanya melayang santai di atas kepalanya tanpa menunjukkan tanda-tanda mengamuk semakin membuktikannya.
Menarik. Sepertinya akhirnya dia memperlihatkan secuil kekuatan yang selama ini dia sembunyikan.
Kay tersenyum, menyadari bahwa seluruh rasa bosan yang tadi sempat menguasainya kini telah lenyap tanpa sisa.
“Spirit itu... yang dari reruntuhan!”
“Dia berhasil menangkapnya...”
Orang-orang yang paling terguncang saat evil spirit itu muncul adalah Celia dan Lily, yang sebelumnya pernah berhadapan dengannya di reruntuhan Luna. Terutama Celia, yang benar-benar pernah menyaksikan sendiri kekuatannya, tampak jauh lebih syok.
Di samping mereka, Gareth, sahabat terbaik Rourke yang mengetahui semuanya, menatap Rourke dengan campuran keterkejutan dan rasa hormat.
“...Begitu, ya.”
Dengan sedikit senyum di bibirnya, Gareth bergumam pelan lalu kembali diam, hanya memandangi sosok sahabatnya yang tampak heroik di tengah kekacauan di sekeliling arena.
Tak jauh dari mereka, di kursi penonton lain, ada juga seorang junior yang pernah merasakan kengerian evil spirit itu di reruntuhan Luna, matanya terbuka lebar.
“Itu... yang di reruntuhan.”
“Kamu mengenalnya?”
Saat Leia menatap evil spirit itu dengan terkejut, Akari, dengan keseriusan yang sulit dibayangkan dari sikapnya yang biasa, bertanya padanya.
“I-iya. Itu evil spirit yang kutemui saat eksplorasi reruntuhan kuno. Waktu itu aku terpisah dari Rourke-senpai, dan pada akhirnya senpai mengalahkannya sendirian... Tapi aku tidak pernah membayangkan bakal jadi seperti ini...”
“H-heh!? Senpai sedang mengendalikan evil spirit!? Senpai gapapa!?”
Sementara Mary panik, Akari dengan tenang mengamati Rourke lalu menyampaikan pendapatnya. Meski tentu saja dia tidak bisa benar-benar yakin...
“Rourke-senpai...”
Leia hanya bisa memanggil nama senpai yang ia cintai dengan penuh kecemasan sambil menatap tindakan nekatnya itu.
Suara-suara di sekitarnya sudah tidak lagi masuk ke telinganya.
•••
“Evil spirit...”
Menyipitkan matanya sambil mengamati spirit yang baru muncul itu adalah Misha Romus, ketua OSIS saat ini sekaligus pengguna spirit peringkat pertama di angkatannya. Di tengah kegaduhan anggota OSIS di sekitarnya, ia diam-diam merenungkan tindakan Rourke selama ini.
Apa mungkin ini alasan kenapa dia menolak ikut Grand Spirit Martial Festival?
Tapi kalau melihat hubungan di antara mereka, mereka tidak terikat kontrak. Artinya dia pasti punya Contract spirit lain. Misterinya justru makin dalam. Namun alur pikirannya terputus oleh suara Sena, sekretaris OSIS, yang sedang panik.
“President, kita harus bagaimana!? Perlukah kita turun tangan dan menghentikannya!?”
“Tidak, kita amati dulu.”
“Tapi!”
Kegelisahan Sena juga tercermin pada guru yang bertugas sebagai wasit, yang segera melangkah maju.
“Areas! Bisa dengar suaraku!? Suaraku sampai kepadamu!?”
“Ya, Sensei. Saya baik-baik saja. Saya bisa mendengarnya dengan jelas.”
Menanggapi suara gurunya, Rourke menoleh ke arahnya lalu mengangguk pelan. Melihat respons itu, sang guru menghela napas lega. Setidaknya dia masih sadar.
“Kalau begitu segera kembalikan evil spirit itu! Itu berbahaya!”
“Saya menolak.”
“Apa!?”
Mata sang guru membelalak mendengar jawaban Rourke.
“Itu spirit-ku. Dan tanpa itu, aku tidak bisa mengalahkannya.”
“Kamu bicara apa!? Itu evil spirit! Bukan sesuatu yang seharusnya disentuh manusia!”
“Itu spirit-ku. Tidak lebih, tidak kurang.”
Sang guru sesaat tertekan oleh ketegasan dan kelugasan kata-kata Rourke.
“Tolong. Biarkan aku lanjut. Aku tidak akan membuat masalah.”
Kemungkinan itu memang isi hati Rourke yang sesungguhnya. Ketulusan dalam suaranya hampir saja membuat sang guru mengangguk setuju, tapi ia berhasil menahan diri dan malah menggeleng.
“Tidak! Siapa pun kamu, aku tidak bisa mengizinkan ini! Kalau kamu mau memanggil spirit, panggil dulu Contract spiritmu! Jangan memakai kekuatan berbahaya seperti itu!!”
“Aku tidak punya.”
“...Apa?”
Tak mampu memahami arti ucapan Rourke, sang guru menatapnya dengan bingung.
Melihat ekspresi gurunya, Rourke sendiri tampaknya juga sadar akan apa yang baru saja ia katakan, dan dia sama-sama terkejut.
Ah, akhirnya aku mengatakannya.
Namun begitu kata-kata itu terucap, entah kenapa tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Karena itu, dengan senyum pahit yang terasa begitu lega, Rourke sekali lagi mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
“Itulah kenapa aku tidak punya. Contract spirit.”
“K-kamu tidak punya Contract spirit!? A-apa yang kamu bicarakan!?”
Sang guru justru semakin bingung mendengar pengakuan Rourke. Tidak punya Contract spirit? Itu konyol, mustahil. Terlebih lagi untuk orang seperti dia.
“Tunggu, tadi dia bilang dia nggak punya Contract spirit!?”
“Hah? Mana mungkin orang sekuat dia nggak punya!”
“Tapi dia sendiri yang bilang!”
“Kalau itu benar, gila sih...”
“Itu pasti bohong. Harusnya bohong.”
Sekali lagi, suara kebingungan, keterkejutan, dan kecurigaan menyebar ke seluruh arena.
Penggunaan evil spirit, lalu fakta bahwa ia tidak punya Contract spirit. Dua informasi yang sama-sama sulit dipercaya itu dengan cepat menjerumuskan arena ke dalam kekacauan.
Rourke sebenarnya tidak berniat membongkar kebenaran soal Contract spiritnya di sini, tapi dalam panasnya situasi, itu terlanjur terucap begitu saja.
“...Ini jadi merepotkan.”
Rourke memandangi situasi itu dengan senyum pasrah.
Yah, reaksi seperti ini memang wajar. Pertama dia memanggil evil spirit, lalu sekarang mengaku tidak punya Contract spirit.
Dalam situasi seperti ini, jelas pertandingan tak mungkin dilanjutkan. Jadi Rourke diam-diam mengeluarkan vessel miliknya untuk mengembalikan evil spirit itu.
Tepat setelah itu, suara sumbang yang begitu tajam sampai terasa menembus seluruh arena pun bergema.
“Berisik sekali, dan pertunjukannya juga belum selesai.”
Sementara semua orang di arena secara refleks menutup telinga mereka, Kay, sumber suara itu, menatap dengan wajah jengkel sambil mengayunkan baton-nya.
“Sensei, saya akan berterima kasih kalau Anda tidak ikut campur. Ini pertandingan kami.”
“Trallus... tapi”
“Tidak ada masalah. Aku tidak tahu benar atau tidak soal dia punya Contract spirit atau tidak, tapi setidaknya dia jelas sedang mengendalikan evil spirit itu. Dan bahkan kalau sampai mengamuk pun, aku akan menghancurkannya sebelum ia sempat membahayakan sekeliling. Jadi tidak apa-apa, kan?”
“Tidak, bukan, masalahnya bukan di situ...”
“Biarkan mereka.”
Situasi ini sudah jelas berada di luar wewenang guru baru sepertiku. Sang guru yang kebingungan itu baru saja hendak mencari bantuan orang lain, ketika ia terkejut mendengar suara dari belakangnya.
“Ah, Professor Albert...”
“Biarkan mereka melanjutkan pertandingan sesuai keinginan mereka. Setidaknya, saat ini tidak ada hal abnormal pada Rourke-kun. Selama dia masih punya keinginan untuk bertarung, akan sangat disayangkan kalau pertandingan ini dihentikan sekarang.”
“Tapi, tetap saja...”
“Aku yang akan bertanggung jawab penuh kalau terjadi sesuatu.”
Begitu Albert, otoritas di bidang spiritology, berbicara dengan setegas itu, guru tersebut tidak punya pilihan selain diam.
“Aku akan mengambil alih sebagai wasit. Sementara itu, bisakah kau menghubungi seseorang untuk memperkuat barrier?”
“Y-ya, mengerti!”
Setelah melihat sang guru berlari pergi, Albert kembali mengalihkan tatapannya pada Rourke.
“Rourke Areas, ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi mari kita pastikan satu hal dulu. Sebagai murid yang pernah mengikuti kuliah spiritology milikku, kau sepenuhnya paham bahaya dari memanggil spirit seperti itu, bukan?”
“.........Ya.”
Rourke mengangguk perlahan menanggapi pertanyaan Albert yang terasa menguji dirinya.
“Akan kujelaskan dengan tegas, kalau kau kehilangan kendali, aku tidak akan ragu untuk membunuhmu. Meski begitu, apa kau masih ingin bertarung menggunakan spirit itu?”
“Iya.”
Kali ini, Rourke langsung menjawab tanpa ragu.
Albert menatap mata Rourke, merasakan tekadnya, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah.”
“Kita bicarakan sisanya setelah pertandingan selesai. Kalian berdua, silakan lanjut kapan pun kalian siap.”
Setelah berkata demikian, Albert menjauh dari lapangan untuk menyaksikan pertandingan.
Rourke merasakan beratnya tatapan tak terhitung dari seluruh arena saat ia kembali mengalihkan pandangannya ke lawannya.
“Maaf membuatmu menunggu. Dan... terima kasih.”
Rourke menyampaikan permintaan maaf sekaligus terima kasih kepada Kay, terima kasih karena ia ingin melanjutkan pertandingan ini dan karena sudah membelanya.
“Tidak usah dipikirkan. Aku juga tidak ingin semuanya berakhir seperti itu.”
“Dan soal yang tadi kukatakan... aku”
Sebelum Rourke sempat menyelesaikan ucapannya, suara sumbang kembali menggema ke seluruh arena.
“Aku tidak tertarik.”
“.........Hah?”
“Ada atau tidaknya Contract spiritmu sudah tidak penting bagiku sekarang.”
Kay berbicara dengan wajah sedikit jengkel kepada Rourke yang membeku di tempat.
“Kebenaran di balik kata-katamu? Aku tidak butuh penjelasan. Aku bisa mendengar emosi dalam suaramu, dan bisa melihat dari matamu seberapa serius kamu ingin mengalahkanku.”
“Tch!”
“Itulah kenapa aku akan bilang ini, apa kamu benar-benar punya kemewahan untuk memikirkan hal lain? Bukan saat lawanmu adalah aku.”
“…………”
Rourke terdiam mendengar kata-kata Kay. Sejak tadi ia memang terlalu memikirkan bagaimana orang lain memandang dirinya, soal penggunaan spirit, soal dirinya yang tak punya Contract spirit. Tapi ucapan Kay itu tepat mengenai sasaran.
Dia benar.
Benar sekali.
“Inspirasiku akhirnya mengalir deras! Jangan sampai mengecewakanku sekarang!!”
Saat Kay mengayunkan baton-nya, para siren kembali bernyanyi, dan musik dari spirit-spirit kecil pun menjadi semakin ritmis. Itu menandakan kisah yang sedang Kay rajut kembali berlanjut.
“Chapter Six: The Forest of Swords.”
Seiring suara siren bergema, pepohonan sementara menyembul dari tanah lalu tumbuh dengan cepat, merespons nyanyian ganas mereka, bergerak maju ke arah Rourke seperti gelombang.
“Sekarang, bagaimana sang pahlawan kita yang terjebak di hutan terkutuk ini akan merespons!?”
“……….”
Dinding hijau memenuhi pandangan Rourke saat pepohonan itu menutup dari segala arah.
Menghadapi amukan alam yang menyerbu, Rourke berpikir dengan tenang.
Benar juga. Seperti kata Trallus, aku memanggil spirit ini dengan tekad untuk menang.
Jadi, sebelum kebanyakan mikir, aku harus melakukan apa yang memang perlu kulakukan.
“...Heavy Blade.”
Energi spiritual hitam menyelimuti pedang itu, memancarkan dengungan rendah yang menyeramkan.
Saat cabang-cabang yang tak terhitung jumlahnya menutup dari segala arah, Rourke merendahkan tubuhnya, menggenggam pedangnya erat, lalu mengayunkannya secara horizontal dengan seluruh kekuatannya.
Dalam sekejap, hutan pedang itu hancur berkeping-keping oleh gelombang kejut.
“Apa!?”
Gelombang kejut dari ayunan pedang itu melumat pepohonan, mengukir retakan di tanah saat melesat ke arah Kay.
Kay yang lengah buru-buru membentangkan barrier tepat saat gelombang itu menghantam.
“...Ugh!”
Ia terhuyung mundur selangkah akibat benturannya, tapi tetap berhasil menepis gelombang kejut itu dengan satu ayunan baton.
Di tengah hujan puing dari pepohonan dan tanah yang hancur, Kay melihat Rourke perlahan mengarahkan pedangnya ke arahnya.
“...Aku akan mengalahkanmu, Trallus.”
“Bagus. Memang seharusnya begitu...”
Kay menerima deklarasi lugas Rourke itu sebagai sesuatu yang sangat cocok untuk sang pahlawan dalam kisah ini.
Dan Kay, yang sejak tadi merangkai cerita sepanjang degree match ini, merasakan jantungnya berdegup makin kencang saat kisah itu mendekati klimaks. Ia kembali mengayunkan baton-nya.
Bilah-bilah angin yang tak terhitung menari di udara, petir menggelegar saat sambaran-sambaran menghantam tanah, api mengamuk seperti ular, lalu dunia pun berubah menjadi lanskap perak.
Itu adalah pemandangan yang pantas disebut sebagai bencana alam.
Di tengah BGM megah itu, berbagai macam malapetaka alam dilepaskan kepada seorang bocah tunggal di dunia kecil tersebut.
“Hahaha!!”
Di ruang di mana bahkan beberapa detik rasa aman pun tak bisa dijamin, bocah yang berada tepat di pusat semuanya, Rourke Areas, justru tertawa, suara yang mustahil dibayangkan keluar dari dirinya yang biasanya.
Dalam situasi yang menuntut konsentrasi ekstrem seperti ini, Rourke justru tampak sangat menikmatinya.
“Hah!”
“Tch!”
Setelah mendarat di atas batu melayang, Rourke langsung menerjang turun, mengumpulkan energi spiritual ke pedangnya sebelum mengayunkannya sekuat tenaga ke barrier milik Kay.
Berat yang diperkuat oleh gravitasi dan momentum itu
menghancurkan dua dari tiga lapisan barrier Kay, memaksanya jatuh ke tanah.
“Ha!”
Meski tubuhnya terasa sakit, Kay justru menyeringai liar saat mengayunkan baton-nya. Ledakan memekakkan telinga meledak dari spirit-spirit kecil, membentuk gelombang suara raksasa yang menghantam Rourke.
“Kuro!”
Rourke menahan gelombang suara itu, tapi tubuhnya tetap terpental ke belakang. Saat tubuhnya melayang terlempar, ia memanggil sebuah nama. Seketika arah geraknya berubah, dan ia mendarat di atas tumpukan puing di dekat sana.
“Ice Fang Twin Blades.”
Kay mengayunkan baton-nya, dan nada-nada biru pucat terserap ke dalam tanah. Dari sisi kanan dan kiri Rourke, taring-taring es tajam seperti rahang seekor beast menerjang ke arahnya. Tapi tepat sebelum mengenai tubuhnya, taring-taring es itu hancur seolah diremukkan oleh kekuatan tak terlihat, lalu buyar menjadi kabut.
Di tengah kilauan serpihan es, Rourke dengan tenang mengayunkan pedangnya, menghamburkan hawa dingin itu.
“Hmph, gerakan kalian sinkron juga, ya?”
“Iya. Aku sudah kerja keras buat itu.”
Rourke tidak menyangkal ucapan Kay yang bernada menggoda. Ia meletakkan sword spirit di bahunya lalu menjawab dengan datar.
Dan memang benar, ia sudah bekerja keras.
Setelah ritual yang gagal itu, Rourke menghabiskan setiap waktu luangnya untuk mencoba berkomunikasi dengan spirit tersebut agar ia tidak mengamuk. Suatu hari, ia menyadari bahwa meski dirinya tidak bisa memahami kata-kata spirit itu, tampaknya spirit tersebut sampai batas tertentu bisa memahami dirinya.
Dari situ, ia mati-matian mencoba membangun hubungan, dan meski bisa dibilang agak sepihak, pada akhirnya ia berhasil memperdalam ikatan mereka hingga cukup untuk bisa bertarung bersama.
Nama “Kuro” untuk spirit itu.
Itu adalah nama panggilan yang diberikan Rourke kepada spirit yang spesies dan nama aslinya tidak ia ketahui, dan yang berbicara dengan kata-kata misterius. Tampaknya spirit itu cukup menyukainya.
“Jujur saja... kamu mengerikan.”
Kay bergumam dengan senyum pahit sambil memperkuat barrier di sekeliling dirinya.
Sejak spirit itu muncul, situasinya benar-benar berubah drastis.
Semua serangan yang Kay lepaskan entah dihindari atau ditahan. Sementara itu, serangan-serangan Rourke, meski berhasil dipertahankan, tetap memberi beban besar pada tubuh Kay.
Dengan kata lain, Kay sedang didesak mundur.
“Manipulasi gravitasi, bahkan sampai bisa mengubah arahnya. Kamu benar-benar menangkap spirit level tinggi yang luar biasa...”
Alasan utama perubahan ini adalah manipulasi gravitasi milik spirit itu.
Kekuatan itu memperbesar daya hancur serangan Rourke, membuat gerakannya menjadi lebih bebas dan ringan, sekaligus menambahkan tekanan menghancurkan pada barrier milik Kay. Tanpa barrier itu, Kay mungkin sudah dipaksa menempel ke tanah dan tak bisa bergerak.
Situasinya memang berat, tapi Kay juga sudah menemukan kelemahan Rourke.
Tapi kalau energi spiritual sebesar ini terus dipakai, dia tidak akan bertahan lama, kan?
Lagipula itu cuma kontrak sementara.
Sebanyak apa pun energi spiritual yang dimiliki Rourke, ia tetap harus menyuplai spirit itu dengan energinya sendiri untuk mempertahankan kemampuannya. Meski efisiensinya sudah membaik, batasnya tidaklah jauh. Dengan laju seperti ini, kemungkinan besar ia hanya bisa bertahan beberapa menit lagi.
Sebaliknya, kontrak Kay dengan tujuh spirit memberinya energi spiritual dan efisiensi yang luar biasa besar. Meski serangan dan pertahanannya juga menghabiskan lebih banyak energi, tetap jelas bahwa Rourke akan mencapai batasnya lebih dulu.
Jadi, kalau ia terus menyerang sambil membatasi gerakan Rourke dan fokus bertahan, kemenangan Kay sudah nyaris pasti.
Dengan kata lain, kehabisan energi dari pihak Rourke sangat mungkin akan berujung pada kemenangan Kay.
“Itu membosankan.”
Dengan senyum ganas khas orang yang haus bertarung, Kay menepis pikiran itu.
Membosankan. Menang karena lawan kehabisan energi? Itu akhir cerita yang cuma bakal dibuat penulis kelas dua. Sama sekali tidak cocok untuk pertarungan ini, juga tidak pantas untuk seseorang sekelasku.
“Hanya dengan menghancurkanmu saat kamu berada di puncak kekuatanmu, kisah ini bisa benar-benar mencapai akhirnya.”
Akhir yang layak untuk klimaks cerita ini.
Rourke telah memenuhi kepala Kay dengan inspirasi. Yang tersisa sekarang hanyalah membentuk gambaran itu dan menuangkan energi spiritualnya untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.
“Sekarang, nyanyikanlah!!”
Para siren meraung, menyalurkan gambaran Kay ke dalam nyanyian ganas mereka, sementara spirit-spirit kecil menambahkan chorus suara yang intens, menciptakan nada-nada musik dalam jumlah tak terhitung.
“Aku berutang terima kasih padamu, Rourke Areas! Karena berkatmu, aku akan menciptakan karya terhebatku sejauh ini!!”
Nada-nada jahat dan ominous yang dipenuhi kekuatan spiritual mulai berputar dan berkumpul di pusat arena, perlahan membentuk wujud sesuai imajinasi Kay.
“Final Chapter: The Demon King’s Descent.”
Yang terbentuk di depan mata Rourke adalah separuh tubuh atas raksasa hitam bersayap
tidak, itu adalah Raja Iblis, ditempa dari kekuatan kegelapan.
“Bukankah sudah sewajarnya musuh terakhir dalam cerita mana pun adalah Raja Iblis?”
“OOOOHHHHHHH!!!”
Menghadapi raungan Raja Iblis yang lahir dari ledakan energi spiritual luar biasa itu, Rourke dengan tenang mengangkat pedangnya.
“...Dasar jenius sinting.”
Spirit art milik Kay memungkinkannya mewujudkan imajinasi melalui suara. Kemampuan itu memang membuatnya bisa menggunakan teknik spiritual dari atribut apa pun, tapi di saat yang sama ia juga punya kelemahan: ia tidak bisa mengaktifkan teknik jika ia tidak bisa membayangkannya.
Di antara semua atribut spiritual, cahaya dan kegelapan adalah yang paling unik. Meski berbagi atribut yang sama, kemampuan yang diberikan oleh spirit masing-masing bisa sangat berbeda. Terutama atribut kegelapan, yang sampai sekarang masih diselimuti misteri karena belum ada pengguna spirit kontrak yang dikenal memilikinya.
Itulah kenapa Kay tidak pernah sekalipun menggunakan teknik atribut kegelapan dalam pertandingan mana pun sampai sekarang. Tidak, mungkin lebih tepatnya, dia memang tidak bisa menggunakannya.
Namun, kemunculan evil spirit yang dipanggil Rourke tampaknya akhirnya membuat Kay bisa memvisualisasikannya. Kekuatan spiritual yang membentuk Raja Iblis itu, meski artifisial, tanpa diragukan memancarkan kebencian khas atribut kegelapan.
“Kamu baru narik yang beginian sekarang, di saat seperti ini?”
Spirit art yang seflamboyan itu, ditambah lagi memakai atribut kegelapan yang asing, jelas memberinya beban besar. Keringat menetes dari dahi Kay, meski ia tetap berdiri dengan senyum percaya diri.
Rourke tak bisa menahan senyum miring.
Kalau saja Kay tadi fokus bertahan, kekalahan Rourke sudah pasti. Jadi untuk apa dia malah mengambil jalan merepotkan dan sembrono seperti ini?
Tidak, tak perlu dipikirkan lagi.
“Jangan menyesal setelah kalah.”
“Maaf ya, tapi aku belum pernah menyesali apa pun. Jadi, tolong tunjukkan padaku.”
“Baiklah. Aku akan menebasmu bersama Raja Iblis itu!”
Kata dibalas kata.
Rourke menuangkan seluruh energi spiritualnya ke dalam sword spirit dan evil spirit, tanpa memedulikan akibat maupun masa depan.
Yang penting hanyalah saat ini, dengan segenap jiwa dan raganya.
“Pergi, Kuro!!”
Atas perintah Rourke, energi spiritual meledak dari evil spirit itu, menerbangkan puing-puing ke udara. Lalu spirit itu melemparkan seluruh reruntuhan itu ke arah Raja Iblis.
Puing-puing itu menghantam tubuh Raja Iblis, lalu hancur jadi debu begitu mengenai sasarannya.
“Cuma segitu? Serangan seperti itu bahkan nggak akan bisa menggores Raja Iblis!!”
Kay menyeringai sambil mengayunkan baton-nya. Menanggapi itu, Raja Iblis bergerak dengan kecepatan mengejutkan untuk tubuh sebesar itu, lalu mengayunkan lengannya ke arah Rourke.
“Heavy Sword: Roar!!”
Suara berat dan bergema meledak dari sword spirit milik Rourke.
Menyadari dirinya tak akan sempat menghindar, Rourke mengarahkan pedangnya ke depan, menyalurkan gravitasi ke bilahnya. Ia menghentakkan kaki ke tanah lalu menusukkan pedangnya dengan seluruh kekuatan ke arah tinju hitam yang datang.
Energi spiritual padat yang dilepaskan dari bilah pedang itu menghantam tinju tersebut seperti peluru meriam, membuat lengan Raja Iblis terpental ke belakang. Benturan antara dua energi jahat itu memicu gelombang kejut yang menyapu ke arah Rourke.
“Ugh!!”
“Bagus sekali!!”
Rourke menutupi wajahnya dengan kedua lengan, menahan benturan itu, tapi tak ada waktu untuk beristirahat.
Raja Iblis yang sudah kembali stabil langsung mengangkat lengan satunya tinggi-tinggi lalu menghempaskannya turun seperti senjata tumpul.
“Kuro!!”
“○@▽×!!”
Spirit itu menjawab dengan kata-kata aneh seperti biasanya, tapi Rourke memahami maksudnya.
Ia melompat sekuat tenaga ke udara dan menghilang dari tempatnya dalam sekejap.
“Apa!?”
Kay yang sesaat terpana melihat gerakan yang nyaris seperti teleportasi itu segera menggunakan persepsi spiritualnya untuk melacak Rourke. Ia mendapati Rourke sudah berada tinggi di atas sana, berdiri di atas punggung evil spirit yang sebelumnya mundur ke titik itu.
“Begitu, ya.”
Ternyata kecepatan luar biasa Rourke itu bukan semata hasil kemampuannya sendiri. Evil spirit itu telah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk memanipulasi gravitasi, menarik Rourke ke arahnya, dan memungkinkan pergerakan secepat itu.
Kay pun tak bisa menahan kekagumannya terhadap fakta itu.
Koordinasi mereka benar-benar nyaris tanpa cela.
Namun kekaguman tetaplah kekaguman. Pertarungan ini sama sekali belum selesai.
“Tapi kecepatan saja tidak akan membuatmu menang dalam pertarungan ini!!”
teriak Kay sambil mengangkat baton-nya. Raja Iblis memutar tubuhnya dan melancarkan uppercut ke arah Rourke dan spirit itu.
“Siapa bilang aku cuma kabur!?”
Rourke melompat dari punggung spirit itu, nyaris lolos dari tinju yang merobek udara. Dengan kedua tangan menggenggam pedangnya, ia mengayunkan tebasan horizontal dan memotong pergelangan tangan Raja Iblis. Bilah itu menembus dalam, memutus energi spiritual yang membentuk bagian pergelangan tersebut.
Saat energi spiritual itu buyar, Rourke sempat merasakan secercah kepuasan. Tapi Raja Iblis sama sekali tak goyah dan malah mengayunkan lengan buntungnya ke arahnya.
“Gah!?”
Lengah, Rourke pun terpental. Tepat sebelum tubuhnya menabrak dinding, kekuatan spiritual evil spirit itu menahan jatuhnya, membuatnya mendarat dengan selamat.
“...Sial.”
“Mungkin karena penampilannya kamu salah paham, tapi Raja Iblis ini pada dasarnya cuma gumpalan energi spiritual. Sebanyak apa pun kerusakan yang kau berikan, dia tidak akan goyah. Dan soal luka...”
Kay mengayunkan baton-nya, dan lengan Raja Iblis itu pun beregenerasi dari bagian yang terputus, pulih sepenuhnya hanya dalam hitungan detik.
“Sekarang, bisakah kamu melewati ini?”
“Trallus, kamu sendiri tahu jawabannya, kan?”
Sebanyak apa pun ia menebas, Raja Iblis itu akan terus beregenerasi.
Dan Kay sendiri dilindungi beberapa lapis barrier yang sangat kuat.
Menghadapi situasi yang tampak tanpa harapan ini, Rourke mengucapkan kata-kata yang benar-benar keluar dari hatinya.
“Raja Iblis dalam cerita apa pun pasti selalu dikalahkan sang pahlawan, kan?”
“Benar. Tapi itu kalau ceritanya komedi. Sayangnya, kisah ini...”
Trallus perlahan mengangkat baton-nya tinggi di atas kepala lalu mengayunkannya dengan kuat.
“...adalah tragedi.”
Saat Raja Iblis melepaskan gelombang kegelapan, Rourke dengan cepat membalas dengan satu tebasan, mengirimkan gelombang kegelapan balik ke arahnya.
Dua kekuatan gelap itu bertabrakan, memercikkan kilatan.
Pertarungan sengit di antara keduanya tanpa diragukan lagi telah mendekati akhirnya.
•••
“Areas... kamu...”
Murid itu, seorang murid tahun kedua seperti Rourke dan berasal dari kalangan rakyat biasa, selalu mengaguminya.
Awalnya, ia merasa aneh melihat Rourke tak pernah memanggil spirit kontrak dan sering kalah dengan menyedihkan. Namun saat Rourke mulai meraih hasil, kekaguman itu justru makin tumbuh.
Cara Rourke menumbangkan spirit-spirit kuat rank tinggi dengan kecerdikan dan teknik, bukannya mengandalkan spirit yang kuat, telah menginspirasinya. Itu menunjukkan bahwa spirit kontrak bukanlah segalanya.
Mungkin Rourke memang sengaja tidak memanggil spirit untuk mengajarkan pelajaran itu pada mereka. Pikiran seperti itu pernah terlintas di benaknya.
Tapi mungkinkah Rourke benar-benar tidak punya spirit kontrak?
Lalu evil spirit itu...?
Berbagai emosi yang bercampur aduk, sesuatu yang tak bisa dijelaskan, memenuhi dadanya. Di tengah semuanya itu, sebuah suara lantang terdengar dari kursi tak jauh darinya.
“Ayo, Rourke!!”
Saat menoleh ke sumber suara itu, ia melihat seorang pemuda tampan dengan raut wajah rapi. Itu Gareth Orrot, orang yang dekat dengan Rourke.
Arena sempat terdiam setelah pengungkapan Rourke, dan yang terdengar hanya suara pertarungan yang menggema. Karena itu, sorakan itu terdengar jelas menonjol.
Ia kembali mengalihkan pandangannya ke dua petarung itu.
Rourke, yang menghadapi raksasa gelap, sang Raja Iblis, tanpa sedikit pun rasa takut. Ia menghindari hujan tinju yang tak henti-henti hanya dengan selisih tipis, kadang terpental, tapi selalu bangkit lagi dan menerjang maju. Itulah sosok Rourke yang selama ini ia kagumi.
“...Ayo.”
Tanpa sadar, kata itu lolos dari mulutnya.
“Jangan kalah, Areas!!”
Dan setelah itu, satu demi satu orang mulai ikut bersorak mendukung Rourke.
“Ayo, Areas!!”
“Kamu pasti bisa! Aku udah pasang semua uang sakuku bulan ini buat kamu! Kalahkan Trallus yang songong itu!!”
“Trallus-sama! Semangat!!”
“GOOOOO!!”
Sorakan pun bergema ke seluruh arena.
Bangku penonton yang tadi sempat hening kini dipenuhi suara-suara yang mendukung kedua petarung.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, tak seorang pun tahu.
Tapi setidaknya, pada saat ini, semua orang sungguh-sungguh bersorak untuk dua orang yang bertarung habis-habisan itu.
“Haaaaa!!”
Dengan sorakan mereka di punggungnya, Rourke mengayunkan pedangnya sekuat tenaga untuk menahan tinju Raja Iblis yang datang menghantam.
Benturan itu mengguncang udara, tapi Rourke berhasil menghentikan tinju itu di tempat. Lalu sambil meraung, ia mengangkat pedangnya dan membelah tinju tersebut menjadi dua.
“OOOH!!”
Meski lengannya terbelah sampai ke bahu, Raja Iblis sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, malah segera mengayunkan tinju satunya lagi ke arah Rourke.
“Kuro!!”
Begitu Rourke berteriak, tubuhnya tertarik ke atas seolah ditarik kekuatan tak terlihat, lalu mendarat di atas bongkahan puing melayang tepat di bawah evil spirit.
Saat menoleh kembali ke Raja Iblis, ia melihat makhluk itu sudah sepenuhnya beregenerasi, seolah tak pernah terluka sama sekali.
“……”
Suara-suara dari bangku penonton sampai ke telinganya.
Apakah mereka sedang mencemoohnya? Menyemangatinya? Atau justru mendukung Trallus?
Ia tak bisa mendengar jelas kata-katanya, dan ia pun tak peduli. Tidak, memang itu sama sekali tidak penting.
Ia sedang bertarung sebagai dirinya yang sebenarnya, terbuka sepenuhnya di hadapan semua orang.
Dan lawannya juga sedang menanggapinya secara langsung, menerima dirinya apa adanya.
Itu saja sudah cukup.
Fakta itu terasa sangat melegakan... dan lebih dari segalanya, terasa menyenangkan.
“...Ah...”
Ya, ini menyenangkan.
Meski tubuhnya yang sudah mencapai batas, kehabisan energi spiritual, terasa berat seperti timah, hatinya justru ringan dan melayang.
“Hahaha!!”
Begitu menyadari itu, semangat Rourke melonjak semakin tinggi.
Ia memeras tetes terakhir energi spiritual dari tubuhnya yang kelelahan dan menuangkannya ke dalam Kuro.
“Ayo, Kurooo!!”
“▲☆=¥><!!”
Menanggapi teriakan Rourke, Kuro meraung lalu mengangkat sebongkah besar permukaan tanah ke udara seperti tombak raksasa.
“OOOH!!”
Raja Iblis, berniat menghancurkan mereka lebih dulu, meraung dan mengayunkan tinjunya.
“Lakukan!!”
Atas perintah Rourke, tombak batu raksasa itu melesat ke arah Raja Iblis seperti peluru.
“Serangan segitu... tidak akan cukup!!”
Lagi pula itu cuma batu. Tak mungkin bisa menembus Raja Iblis.
Tombak raksasa yang ditembakkan untuk menghancurkan rasa percaya diri berlebihan Kay itu justru menembus tubuh Raja Iblis dan melesat lurus ke arah Kay yang berdiri di belakangnya.
“Tch!”
“AAAAH!!”
Dengan sigap Kay mengayunkan baton-nya, dan Siren membentangkan kedua lengannya sambil mengeluarkan suara indah layaknya seorang penyanyi. Dalam sekejap, perisai suara terwujud, menghancurkan ujung tombak yang meluncur ke arahnya dan mencegah krisis itu. Namun, meski sempat lega, mata Kay langsung membelalak saat ia melihat Rourke sedang menerjang ke arahnya dari tengah badan tombak itu.
“Heavy Sword, Flash Dance!”
“Guh!?”
Rourke melesat seolah ditolak ke depan, menghilang dari pandangan Kay. Pada detik berikutnya, suara barrier yang pecah menggema, dan darah muncrat dari bahu kiri Kay.
“......!? ......!?”
“Tidak apa-apa. Yang lebih penting, jangan berhenti bernyanyi.”
Yang paling terguncang karena Kay terluka justru bukan Kay sendiri, melainkan Siren, spirit kontraknya, yang tetap bernyanyi di sisinya.
Kay menegurnya ketika ia secara refleks hampir berhenti, lalu dengan cepat mengayunkan baton untuk membangun barrier lagi.
“......Hah.”
Kay menyentuh bahunya, merasakan nyeri tajam di sana, lalu tanpa sadar tertawa.
Bukan karena dia seorang masokis, hanya saja karena selama ini ia belum pernah mengalami luka serius dalam pertarungan, sensasi tertebas itu akhirnya memberinya rasa nyata dari sebuah pertempuran.
“Bagus... ini yang terbaik!!”
Seiring semangat Kay naik hingga menyamai Rourke, ketajaman musik yang dimainkan spirit-spirit kontraknya pun ikut meningkat.
“Judgment of Black Lightning!”
Petir menggelegar.
Mulut Raja Iblis terbuka, lalu dari dalamnya melesat banyak sambaran petir hitam ke arah Rourke.
“!!”
Karena masih belum bisa menstabilkan pijakannya, Rourke mencoba menyalurkan energi spiritual ke tubuhnya untuk menahan petir hitam yang datang. Namun pada saat berikutnya, tubuhnya terangkat ke udara dan ditarik paksa ke arah Kuro.
Sepertinya Kuro memutuskan untuk melindunginya.
“Bagus, Kuro!”
“□&○%$■☆♭*♪”
Kuro dengan cepat membangun barrier untuk menahan sambaran petir tambahan yang menyusul setelahnya. Energi spiritual gelap itu saling berbenturan dengan ganas, memercik keras sebelum akhirnya buyar.
“Kalau begitu, akan kuhancurkan kalian!”
“OOOOOOOH!!”
Lengan kiri Raja Iblis membengkak secara grotesque, lalu diangkat tinggi ke langit sebelum dihempaskan turun dengan kekuatan luar biasa.
Rasanya seperti langit gelap itu sendiri sedang runtuh. Menghadapi pemandangan mengerikan itu, Rourke justru dengan tenang mengumpulkan kekuatan ke lengan kanannya yang masih mati rasa.
“......Hoo~”
Raja Iblis yang terbentuk dari energi spiritual kegelapan itu punya daya tahan luar biasa dan bisa beregenerasi nyaris seketika, tak peduli seberapa banyak kerusakan yang ia terima.
Namun, karena ia terbuat dari energi spiritual, ia juga memiliki satu kelemahan fatal.
Setiap kali terluka dan beregenerasi, kepadatan energi spiritualnya akan goyah. Setiap kali ditebas atau ditusuk, sebagian energi spiritualnya tercecer, menciptakan titik-titik lemah rapuh di seluruh tubuhnya.
Rourke menangkap satu titik seperti itu, sebuah bagian tipis dan rapuh di sendi lengan yang sedang turun itu, lalu mengayunkan pedangnya ke atas.
“Hah!”
“!?”
Lengan kiri Raja Iblis melayang terputus ke udara.
Mata Kay membelalak kaget melihatnya, tapi pada detik berikutnya ekspresinya berubah menjadi senyum sambil kembali mengayunkan baton-nya.
“Apa!?”
Kini giliran Rourke yang terkejut.
Mengikuti perintah Kay, lengan kiri Raja Iblis itu tidak beregenerasi. Sebaliknya, lengan itu terurai menjadi partikel-partikel, berubah dari lengan menjadi pedang, lalu digenggam erat oleh tangan kanan Raja Iblis.
“Demon King Sword, Tyrfing!”
Pedang gelap itu pun ditebaskan.
Meski Raja Iblis telah kehilangan satu lengan, daya hancur pedang yang kini dipegangnya sangat luar biasa, meninggalkan luka besar di tanah.
“Hebat, Trallus!!”
Rourke yang nyaris lolos dari tebasan itu berlari menembus puing-puing yang beterbangan sambil melontarkan kekagumannya.
Lalu ia mendarat di atas bongkahan puing yang cukup besar dan mengangkat pedangnya.
Saat evil spirit, Kuro, melayang di belakangnya, energi spiritual gelap dalam jumlah besar mengalir ke sword spirit milik Rourke.
Ini dia, momen penentunya.
Begitu menyadari itu, Kay menuangkan seluruh energi spiritualnya ke Raja Iblis. Ia bahkan memerintahkan spirit-spiritnya untuk mengalihkan energi yang semula dipakai mempertahankan barrier ke Raja Iblis, membuat mereka memprotes dengan bingung.
Siren dan Lorelei, yang telah menyatu sebagai spirit armor, mengirimkan penolakan yang jelas, tapi Kay langsung membungkam mereka.
Keputusan ini sangat tidak seperti dirinya.
Kay, yang biasanya selalu memprioritaskan keseimbangan sempurna antara serangan dan pertahanan, selalu memastikan sisi defensifnya kokoh bahkan saat melepaskan teknik besar.
Tapi pada saat ini, ia membuang semua pikiran soal langkah cadangan.
Ini bukan lagi pola pikir Kay Trallus sang seniman.
Ini adalah tekad Kay Trallus sang spirit master.
Hasrat membara untuk meraih kemenangan meluap dari dasar dadanya.
Karena itu, ia menuangkan setiap tetes terakhir energi spiritual miliknya dan spirit-spiritnya ke dalam Raja Iblis.
“Kamu yakin mau membiarkan dirimu tanpa pertahanan!? Kamu bisa terluka!!”
“Aku nggak butuh itu! Urus dirimu sendiri!!”
“Urus saja urusanmu!!”
Begitu selesai saling berteriak, keduanya justru saling tersenyum.
Tentu saja, tak satu pun dari mereka memikirkan kemungkinan kalah. Pertahanan sudah tidak diperlukan. Mereka akan menuangkan segalanya ke dalam satu serangan ini.
“Segera hubungi tim barrier! Perkuat barrier sekarang juga! Kalau kekuatan sebesar ini tidak ditahan, barrier-nya akan hancur!!”
Albert segera menghubungi tim barrier yang menjaga penghalang arena ketika energi spiritual kedua petarung itu melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menilai benturan serangan mereka berdua bisa saja menghancurkan barrier.
“…………Hah.”
Serangan ini akan menentukan segalanya.
Saat momen penentunya mendekat, hati Rourke membara penuh antisipasi, tapi di saat yang sama ia juga dengan tenang menilai peluang kemenangannya.
Kalau melihat jumlah energi spiritual yang sudah ia habiskan dan cadangan awal yang ia miliki, kemungkinan besar ia akan kalah. Sembilan dari sepuluh kali, bila benturan ini berlanjut seperti sekarang, ia akan kalah.
Lalu kenapa!
Pikiran itu dibuangnya.
Siapa peduli soal peluang? Hanya orang bodoh yang memikirkan kekalahan sebelum melancarkan pukulan terakhir.
Ia tidak akan memikirkan kalah. Semua kekurangan akan ia tutup dengan tekad semata.
Ia akan melemparkan seluruh yang ia punya ke dalam ini.
Rourke sengaja berhenti berpikir.
Karena itulah ia tidak menyadari.
Fokus luar biasa yang memaksimalkan efisiensi energi spiritualnya, lalu energi spiritual yang seharusnya masih belum cukup, semuanya sedang dilengkapi oleh Kuro.
Sejak pertengahan pertarungan, Kuro telah mengembalikan energi spiritual yang dituangkan Rourke kepadanya, sambil menggunakan energinya sendiri untuk mengaktifkan spirit art.
Rourke sebenarnya bisa bertarung seimbang jauh lebih lama daripada yang ia sadari.
Dan begitulah, meskipun ia mengira dirinya berada di pihak yang dirugikan, ia tetap mengayunkan pedangnya, sambil sepenuhnya yakin akan kemenangan.
“Untuk kemenanganku!”
“Untuk kemenanganku!”
Kegelapan besar yang mereka kumpulkan meresap ke dalam senjata masing-masing.
“Menyerahlah!”
“Tumbanglah!”
Rourke mengayunkan pedangnya ke bawah. Kay mengayunkan baton-nya ke bawah.
“Heavy Sword, Kagura!!”
“Tyrfing!!”
Dua tebasan, masing-masing dilepaskan dengan keyakinan mutlak bahwa merekalah yang akan menang, bertabrakan dan menyebarkan percikan hitam.
“OOOOOH!!”
“AAAAAH!!”
Serangan yang dipenuhi seluruh energi spiritual mereka.
Mereka tidak memikirkan akibat apa pun. Yang mereka cari hanyalah kemenangan.
Dua tebasan itu berbenturan, menebarkan energi spiritual, menghancurkan tanah di sekeliling mereka, bahkan membuat barrier retak.
“Hahahaha!!”
Gelombang kejut itu menggoreskan banyak garis merah di pipi dan lengan mereka.
Belum lagi rasa sakit luar biasa dari tubuh yang dipaksa melampaui batas untuk melepaskan energi spiritual terus menggerogoti mereka, tapi Kay Trallus justru tertawa seolah itu semua tak ada artinya.
Lawannya telah melemparkan seluruh dirinya ke arahnya, dan ia pun menerimanya dengan seluruh keberadaannya.
Dan lebih dari segalanya, betapa menggembirakannya bisa mencurahkan semua yang ia punya dan melihat lawannya benar-benar menerimanya.
Tubuhnya menjerit bahwa ia tak sanggup lagi, bahwa batasnya sudah tercapai, tapi hatinya justru meraung gembira, mendorongnya untuk melangkah lebih jauh lagi.
Jantungnya berdetak keras.
“Ah, ini sungguh luar biasa!!”
Apakah ini yang disebut pertarungan!?
Apakah ini yang disebut pertarungan antara spirit master!?
“Guh!”
“Giiiih!”
Wajah mereka berdua terpelintir oleh rasa sakit, tapi pada detik berikutnya mereka malah tersenyum dan memeras sisa kekuatan terakhir mereka. Mereka memeras habis setiap tetes terakhir energi spiritual, semua yang mereka miliki.
“HAAAAAAAAAAHHHHH!!”
Raungan mereka menggema ke seluruh arena, dan
pertandingan ini, yang terasa sekaligus panjang dan singkat, akhirnya mencapai akhirnya.
“.........!!”
“.........!?”
Dua energi spiritual besar yang saling bentrok itu mendadak mengembang dengan ganas, lalu dengan ledakan yang memekakkan telinga, seluruh arena pun ditelan kegelapan.
*****
•••
Dua kegelapan yang saling memercikkan bunga api itu meledak dengan gemuruh dahsyat, dan saat debu perlahan mulai mereda, semua orang mencari sosok dua petarung di arena.
“Siapa yang menang!?”
“Nggak kelihatan! Debunya terlalu tebal!!”
“Tch!”
Apa yang barusan terjadi?
Siapa yang menang? Siapa yang masih berdiri? Atau justru keduanya sama-sama tumbang?
“……”
Gareth diam-diam menatap arena.
“Bagaimana hasilnya?”
“Aku nggak tahu. Aku nggak bisa merasakan energi spiritual mereka berdua.”
Lily menjawab pertanyaan Celia yang kebingungan, menjelaskan bahwa indra deteksi energi spiritualnya tidak bisa menemukan keduanya.
Itulah hasil ketika mereka benar-benar melemparkan segalanya satu sama lain.
“...Siapa, siapa yang...”
“Haha, menurutmu siapa?”
Mary memicingkan mata mati-matian untuk melihat siapa yang masih berdiri, sementara Akari di sampingnya tersenyum ceria.
“...Rourke-senpai.”
Sementara itu, Leia yang berdiri di samping teman-temannya, pelan-pelan menyebut namanya.
Ada banyak hal yang membuatnya penasaran, banyak hal yang ingin ia tanyakan.
Tapi untuk saat ini, ia hanya percaya bahwa dia masih berdiri tanpa terluka, lalu mengarahkan pandangannya ke arena.
Saat semua orang menatap dengan pikiran dan emosi mereka masing-masing, debu itu perlahan menyingkap pemandangan di dalamnya.
“...Masih berdiri.”
Loxley bergumam pelan ketika melihat sebuah bayangan hitam berdiri di arena yang masih diselimuti debu tipis.
Mustahil langsung tahu siapa itu. Tinggi badan mereka berdua hampir sama, dan siluet sosok itu masih samar di balik debu yang tersisa.
“President! Itu...!”
“…………!”
Mendengar teriakan Sena, sekretaris OSIS, Misha pun menoleh dengan sedikit terkejut. Saat debu benar-benar mulai tersibak, identitas sosok yang masih berdiri itu akhirnya terlihat jelas.
Orang yang masih berdiri itu adalah