Ripīto Vaisu: Akuyaku Kizoku wa Shinitakunai no de Shitennō ni Naru no o Yamemashita Volume 1 Chapter 2 — Desa Nelayan Terlantar

“Rofus Ray Lightless! Gara-gara kalian para bangsawan, Norn... Norn jadi...!”

Seorang wanita pirang dengan wajah dipenuhi kebencian terus menebaskanku dengan pisau di tangannya. Lagi dan lagi.

Dalam mimpi di mana aku dibunuh tak terhitung jumlahnya, wanita itu adalah seorang pelaut yang, di antara pihak protagonis, paling membenciku. Dengan mata penuh niat membunuh, dia menatapku sambil menyebut nama sahabat masa kecil yang tak sempat ia selamatkan, lalu akhirnya mengayunkan bilah itu ke arahku.

Aku terbangun oleh samar-samar bau laut. Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kereta yang berguncang. Aku baru saja bermimpi buruk. Mimpi buruk yang mengerikan, di mana aku dibunuh oleh perempuan sinting. Tempat yang sedang kami tuju, Roguebelt, adalah kampung halaman pelaut perempuan itu.

Aku tak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi mungkin naluriku menolak segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

Menyadari aku sudah bangun, Carlos yang duduk sebagai kusir mengintip lewat jendela.

“Sudah bangun.”

“...Iya. Kereta ini memang nggak nyaman buat tidur. Aku mimpi buruk.”

“Oh, ampun, mimpi buruk lagi? Belakangan ini Anda sering sekali mengalaminya.”

“Benar.”

Aku sudah muak dibunuh karena hal-hal yang bahkan tak kuingat.

“Tolong tunggu sebentar lagi. Kita akan segera sampai di Roguebelt.”

Carlos berbicara dengan senyum cerah, lalu aku pun menoleh ke luar jendela. Terhampar lautan luas dan sebuah desa nelayan yang suram.

Setelah empat hari diguncang-guncang di dalam kereta, kami akhirnya tiba di Roguebelt. Bahkan dari dalam kereta pun, bau laut sudah terasa jelas.

Rumah-rumah kecil yang semrawut berdiri tak beraturan di desa itu.

Benar-benar pelosok. Desa antah-berantah yang sempurna. Bagi orang sepertiku yang dibesarkan di ibu kota, tempat seperti ini jelas sangat tidak menyenangkan, tapi mengingat nyawaku sedang dipertaruhkan, aku tak punya pilihan selain menahannya.

Roguebelt adalah desa nelayan kecil dengan penduduk kurang dari seratus orang. Karena letaknya berada di jalan utama, seharusnya cukup banyak pelancong atau pedagang yang lewat.

Tak aneh kalau mestinya desa ini sedikit lebih hidup, tapi...

“Hei, ini benar-benar Roguebelt?”

Desa itu jauh lebih kumuh daripada yang kubayangkan. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang, bahkan beberapa rumah jelas tampak sudah ditinggalkan.

“Ini... desa mati?”

“Dilihat dari peta, seharusnya memang di sini, tapi...”

Carlos yang memegang tali kekang kuda juga memiringkan kepalanya dengan bingung. Dalam cerita, Roguebelt pertama kali muncul di Chapter 1, tak lama setelah kehidupan akademi dimulai.

Masuk akademi sendiri masih sekitar tiga tahun lagi, saat aku sudah dewasa. Bahkan pada masa itu, tempat ini tidak sesepi sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Carlos, hentikan keretanya.”

Aku menyuruh Carlos menghentikan kereta, lalu turun.

“Apa yang akan Anda lakukan?”

“Aku akan mencari penduduk desa.”

Cara tercepat untuk memahami situasi di Roguebelt tentu dengan bertanya langsung pada penduduknya, meski masalahnya justru tak ada orang yang terlihat.

Aku berjalan menyusuri desa yang sepi bersama Carlos, lalu menemukan sebuah penginapan di sudut jalan.

Di pintunya tergantung papan bertuliskan “Buka”. Sepertinya memang masih beroperasi. Aku masuk ke dalam, tapi tak ada seorang pun di meja depan.

Sebagai ganti pegawai, hanya ada sebuah lonceng di atas meja.

“Anak muda, kalau lonceng itu dibunyikan, pegawainya harusnya keluar.”

“Kau mengejekku? Aku juga bisa melihat.”

Kalau aku masuk ke toko milik keluarga kami yang dikelola langsung di ibu kota, sepuluh pegawai akan langsung berbaris menyambutku.

Hmph, inilah alasan aku membenci pelosok terpencil. Sambil menghela napas, aku membunyikan lonceng itu.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki lesu yang sama sekali tidak tergesa-gesa, lalu muncullah seorang pemilik penginapan botak dengan janggut tak terurus. Hal pertama yang ia katakan adalah:

“Mau nginap? Atau cuma mau buang-buang waktu?”

“...Hah?”

Di kerajaan ini, rakyat jelata yang berbicara sekasar itu kepada bangsawan sama saja dengan melakukan penghinaan terhadap kehormatan kaum bangsawan. Di antara para bangsawan, aku berasal dari keluarga marquis berpangkat tinggi, dan merupakan pewaris garis penguasa wilayah ini.

Dengan kata lain, pemilik penginapan botak itu saat ini bersikap dengan cara yang membuatnya pantas dieksekusi seketika tanpa bisa mengeluh. Bahkan di pelosok seperti ini pun, ternyata ada orang serendah itu di wilayah kekuasaanku.

Mungkin merasakan amarahku, Carlos menatap tajam pemilik penginapan itu. Pria itu tampak ciut lalu mundur selangkah, menatapku dan Carlos dengan cermat. Begitu menyadari pakaian kami yang bagus, sikapnya langsung berubah.

“M-Maaf sebesar-besarnya. Ada yang bisa saya bantu?”

Sambil menggosok-gosok tangannya dan memasang senyum menjijikkan yang jelas menunjukkan ia tidak terbiasa menghadapi situasi seperti ini, si pemilik penginapan berbicara.

Walau itu hanya perubahan sikap yang sangat minim, aku menelan amarahku dan bertanya.

“...Apa yang terjadi dengan desa ini? Aku tidak melihat seorang pun.”

“Ah, soal itu...”

Pemilik penginapan itu memalingkan pandangan dengan canggung, seolah sulit mengatakannya.

“Ada apa? Bicara yang jelas.”

“Maaf, tapi... apakah Anda seorang bangsawan?”

Pertanyaan pemilik penginapan itu membuatku mendesah. Benar-benar, inilah alasan aku membenci pelosok. Apa dia tidak mengenali lambang bulan sabit pemangsa matahari di jubahku, lambang keluarga Lightless? Meski tempat ini terpencil, sebagai rakyat wilayah Lightless, seharusnya ia tetap tahu. Ketidaktahuan memang sebuah dosa.

Tidak mengenali lambang penguasa wilayahnya sendiri sama saja dengan penghinaan terang-terangan terhadap bangsawan. Kebodohan semacam itu layak dihukum berat.

Aku membungkus tanganku dengan sihir gelap lalu menarik kerah baju pemilik penginapan itu dengan kasar.

“Hiiiii!!”

Ia menjerit, dan aku mendekatkan wajahku.

“Apa kau diajari menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Tingkat pendidikan rakyat jelata memang menyedihkan. Yang harus kaulakukan hanyalah menjawab apa yang ditanyakan.”

“S-Saya sungguh minta maaf...”

“Cukup alasanmu. Jawab. Apa yang terjadi pada Roguebelt? Kenapa tidak ada orang?”

“M-Mereka tidak ada! Sebagian besar penduduk sudah kabur dari Roguebelt!”

“...Apa?”

Kabur? Kabur dari apa?

Aku melepaskan pria itu lalu membentuk bola kegelapan di telapak tanganku. Tentu saja, itu hanya untuk mengancam.

“Kenapa mereka kabur? Apa alasannya?”

“Hiiiii!”

Begitu melihat sihirku, pemilik penginapan itu langsung meringkuk setengah gila sambil memegangi kepalanya.

“...Tuan Muda, bukankah ini malah jadi kontraproduktif?”

Carlos bertanya sambil menatap reaksiku, tapi aku tak peduli.

Dari awal, orang yang bahkan tak mengenali lambang keluarga Lightless sudah pantas dihukum mati saat itu juga karena penghinaan. Ini bukan sekadar bodoh, tapi penghinaan yang nyata. Aku tidak punya belas kasihan untuk orang sekasar itu.

“Pemilik penginapan, kesabaranku sudah habis. Pilihanmu cuma dua: langsung beri tahu alasannya, atau mati.”

“T-Tolong... ampuni saya...”

Pemilik penginapan itu terus mengulang kata-kata yang sama seperti mantra. Sepertinya dia memang ingin mati. Aku mendesah lalu mengumpulkan sihir di tanganku.

Satu serangan untuk dosa penghinaan. Akan kuakhiri cepat agar dia tidak terlalu lama menderita.

“T-Tunggu!”

Saat aku hendak melepaskan sihir, seorang gadis tiba-tiba berdiri di antara diriku dan si pemilik penginapan yang meringkuk. Dia merentangkan tangan seolah melindungi ayahnya dan berdiri di depanku.

“Yang Mulia! Mohon, saya memohon belas kasih Anda!”

Gadis itu memohon mati-matian agar nyawa si pemilik penginapan diselamatkan. Mungkin dia putrinya. Berbeda dengan ayahnya yang gemetar, keberaniannya untuk maju ke depan cukup patut dipuji.

Namun, ini juga tindakan lancang dan tidak sopan. Rakyat jelata tak seharusnya berdiri di hadapan bangsawan, apalagi menghalangi bangsawan menegakkan hukum. Itu pun termasuk pelanggaran. Rakyat jelata tak boleh merintangi tindakan bangsawan.

Apa karena di pelosok seperti ini mereka jarang berhubungan dengan bangsawan? Percuma juga dikeluhkan, meski aku mau.

“Ini adalah eksekusi sah atas penghinaan yang dilakukan orang ini, tindakan yang memang diizinkan bagi bangsawan. Gadis, dengan hak apa kau menghalangi tindakanku?”

“Dia ayah saya. Saya tidak peduli apa yang terjadi pada saya. Tolong, selamatkan nyawanya saja.”

Gadis itu bersujud, menempelkan tangan dan dahinya ke lantai.

...Hmm. Yah, boleh juga. Setidaknya dia masih menunjukkan sedikit ketulusan dan rasa hormat kepada bangsawan. Mengeksekusi ayah dan anak sekaligus mungkin akan terlihat terlalu picik untuk seorang bangsawan. Aku diam-diam memadamkan bola kegelapan itu.

“Gadis, kalau kau sudah paham, angkat wajahmu...”

Baru saja aku hendak berbicara, sekelompok pria menerobos masuk ke dalam penginapan dengan suara gaduh dan kasar. Mereka mengepungku dan Carlos.

Mereka membawa senjata seadanya seperti sekop, senapan, alat-alat berkarat, dan tombak pancing. Saat kulihat ke luar, ternyata ada banyak pria berkumpul di sana.

“Aku sudah nggak tahan lagi.”

“Bangsawan atau apa pun, nggak peduli.”

“Hajar mereka!”

Para pria itu berteriak penuh amarah. Aku sempat berpikir desa ini tak berpenghuni, lalu kenapa orang-orangnya sebanyak ini? Pemilik penginapan tadi bilang sebagian besar penduduk sudah kabur. Berarti mungkin mereka bersembunyi?

Dan waktu kemunculan mereka terlalu pas. Sepertinya mereka memang mengawasi kami dari luar.

Rakyat jelata mengepung seorang bangsawan, bahkan berteriak ingin menjatuhkannya, itu bukan lagi sekadar penghinaan, tapi sudah masuk pemberontakan.

Kalau sudah begitu, bukan cuma satu orang yang dihukum mati. Perbuatan itu bisa merembet ke kerabat mereka, bahkan seluruh desa bisa dilenyapkan. Ini kejahatan berat.

Apa orang-orang ini sadar sebenarnya mereka sedang melakukan apa? Sementara Carlos menghela napas, tangannya sudah berada di gagang pedang dan matanya menjadi tajam.

Memang, ini sudah keterlaluan. Paham atau tidak, yang dilakukan tetaplah dilakukan.

Sebagai bangsawan, seharusnya aku mengeksekusi semua orang di sini karena pemberontakan lalu memajang kepala mereka di jalan... tapi.

“Hah...”

Tenang. Tetap tenang. Tidak, aku cukup tenang. Lagi pula, alasan aku datang sejauh ini ke desa nelayan terpencil seperti Roguebelt adalah untuk memasang dasar agar aku tak dibunuh di masa depan.

Sekalipun aku membunuh belasan rakyat jelata di sini, itu tak akan mengubah kenyataan bahwa aku mungkin tetap akan dibunuh nanti.

“Anak muda, kita akan lolos dari ini.”

“Diam di belakangku, jangan lakukan apa-apa.”

Aku menahan Carlos yang hampir saja menebas kepala para pria di sekitar kami. Dengan kemampuannya, dia mungkin bisa membunuh semua orang di ruangan ini dalam sekejap.

Aku sendiri yakin bisa membunuh puluhan, bahkan ratusan rakyat jelata tanpa luka sedikit pun, bahkan tanpa perlu bergerak. Tapi tidak ada gunanya melakukannya di sini.

Aku memusatkan sihir di tanganku dan membentuknya menjadi bilah. Bahkan bukan mantra, cuma sihir yang dipadatkan. Hampir tidak mematikan, tapi cukup sebagai alat ancaman.

Walau, kalau kutusukkan ke jantung, tentu tetap bisa membunuh.

“Gadis, kalau kau tidak bergerak, aku juga tidak akan berbuat apa-apa. Diam saja.”

Aku berbicara pelan agar hanya gadis itu yang mendengar, dan tampaknya dia menangkap sesuatu lalu mengangguk tanpa suara. Hm, cukup peka juga.

Entah dia mengerti maksudku atau sekadar patuh supaya tidak dibunuh, setidaknya dia lebih baik daripada para rakyat bodoh yang berani menentang bangsawan.

Aku menempelkan bilah sihir itu ke leher gadis tersebut, lalu menatap tajam para pria di sekeliling kami.

“Kalau kalian ingin gadis ini selamat, jangan bergerak.”

Begitu aku memperingatkan mereka, para pria di sekeliling langsung tersentak tegang.

“Pengecut!”

Salah satu rakyat jelata melontarkan kata-kata itu.

“Bukankah lebih pengecut segerombolan pria dewasa mengepung anak kecil dan orang tua dengan alat-alat begitu, apalagi dalam jumlah sebanyak ini? Aku benar-benar tidak mengerti cara pikir rakyat jelata.”

Saat aku menyindir sambil mencibir, para rakyat jelata menatapku penuh kebencian sambil menggertakkan gigi. Apa mereka sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan penyanderaan?

Impulsif, tak punya rencana. Seperti dugaan, kecerdasan rakyat jelata memang tak jauh beda dari monyet.

“Bicara dengan monyet tidak ada gunanya. Di sini ada yang setidaknya masih bisa diajak bicara?”

Saat aku menatap sekeliling sambil memaksa melewati para pria berwajah merah padam, muncullah seorang pria paruh baya.

Di dahinya ada bekas luka berbentuk salib, kulitnya gelap kecokelatan karena matahari, dan wajahnya tampak keras. Tatapan tajamnya sendiri cukup menekan para pria lain sampai mereka mundur.

Pria dengan luka berbentuk salib itu pasti pemimpin kelompok ini.

“Saya minta maaf karena tiba-tiba mengepung Anda. Untuk sementara, tolong lepaskan Lilia-chan.”

Pria berbekas luka itu melangkah maju dan berbicara langsung padaku. Jadi nama gadis itu Lilia, ya. Tidak terlalu penting bagiku.

“Sepertinya rakyat Roguebelt memang tak paham dunia. Kalian bahkan tidak membungkuk atau memperkenalkan diri di hadapan bangsawan.”

“Oh, maaf. Namaku Craig, kepala para pelaut di sini. Seperti yang bisa dilihat, aku cuma orang kampung. Jadi jangan berharap banyak soal tata krama.”

Craig memperkenalkan dirinya sambil menyeringai. Tentu saja dia tidak membungkuk, dan matanya pun tidak sedang tersenyum.

Tangannya tetap berada di gagang pedang dan perhatiannya tampaknya lebih tertuju pada Carlos ketimbang diriku.

Dia rupanya lebih waspada pada Carlos yang membawa pedang daripada padaku yang masih anak-anak. Berarti dia bukan orang bodoh sepenuhnya.

“Maaf soal ini. Akan kusuruh yang berisik ini mundur. Kalian semua, mundur.”

Atas perintah Craig, para pria itu meski tampak tak puas tetap mencoba mendekat, tapi langsung terdiam begitu mendapat tatapan tajam darinya, lalu keluar dari penginapan.

“Setidaknya kaulah yang masih bisa diajak bicara.”

Aku mematikan bilah sihir itu lalu menghadap Craig. Craig menatapku dengan sedikit terkejut.

“Aku nggak nyangka kau bakal melepas Lilia-chan semudah itu.”

“Sama. Aku juga malas harus memusnahkan seluruh desa di sini.”

Mendengar ucapanku, tatapan Craig makin tajam.

“Apa tatapan itu? Dengarkan. Rakyat jelata mengepung bangsawan adalah perkara besar. Kali ini mereka bahkan membawa senjata. Tindakan seperti itu sudah melampaui penghinaan biasa dan termasuk pengkhianatan. Bukan cuma pelakunya yang harus dihukum, tapi seluruh desa pun sah untuk ditindak.”

“...Ah, begitu. Jadi demi mencegah itu, kau menjadikan Lilia-chan sandera supaya anak buahku nggak bergerak sembarangan.”

Sesuai dugaanku dari seorang pemimpin, dia cukup cepat menangkap maksudku. Memang, aku tak bisa membiarkan mereka bergerak tanpa konsekuensi.

“Dengar, kali ini aku biarkan lewat. Tapi tidak akan ada lain kali. Bahkan kardinal gereja pun belum tentu menunjukkan kemurahan hati sebesar ini.”

“Jadi aku harus berterima kasih atau semacamnya? Aku bakal menunduk sebanyak yang kau mau, Tuan Bangsawan.”

“Hah, memangnya kepalamu itu ada nilainya? Menunduk itu sudah sewajarnya, jadi lakukan saja.”

Suasana tegang menggantung di antara diriku dan Craig. Dari sudut mataku, aku melihat Lilia gugup menyiapkan teh lalu membawanya ke sini.

Tak usah repot-repot melakukan hal yang tidak perlu. Berdiri diam saja.

“Sial, mulutmu pedas sekali untuk ukuran anak kecil... Yah, aku menghargainya. Kau melewatkan kekasaran anak buahku. Meski kau bangsawan, kau nggak kelihatan seperti sampah busuk. Beda dengan si Clinton itu.”

Craig, tanpa membungkuk, melontarkan kata-kata itu. Akan lebih baik kalau dia tetap membungkuk. Dan siapa Clinton ini? Carlos menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat kuucapkan.

“Clinton Fou Serpente. Dia yang bertanggung jawab mengelola daerah ini.”

Ah, seorang magistrat. Serpente... kalau tidak salah itu keluarga viscount perbatasan. Jadi dia berasal dari bangsawan kelas bawah.

...Tunggu. Magistrat untuk Roguebelt?

Jangan-jangan Clinton inilah pejabat yang memungut pajak berat seperti yang disebut dalam cerita? Meski memang di cerita itu namanya tidak disebutkan.

“Jadi, hubungan kalian dengan si Clinton ini buruk?”

“Buruk saja bahkan nggak cukup buat menggambarkannya. Dia musuh kami, benar-benar sampah. Soal pengkhianatan atau bukan, kalau dia muncul lagi, aku bakal benar-benar membunuhnya.”

Kelihatannya Clinton memang sangat dibenci. Para pria di luar juga masih penuh amarah, dan suasananya benar-benar seperti bisa meledak jadi kerusuhan kalau Clinton muncul.

Dan sekarang Craig dengan santainya mengucapkan niat memberontak di depan pewaris keluarga Lightless. Dia memang belum mengatakannya terang-terangan, tapi apa dia sungguh tidak mengenaliku?

Apa dia tidak melihat lambang keluarga Lightless di jubahku? Atau benar-benar tidak tahu lambang itu?

Dengan orang sebanyak ini? Tak ada satu pun yang tahu? Yang begini benar-benar bikin kepala sakit...

“Ah, ini bukan hal yang pantas dibicarakan di depan bangsawan, ya?”

Craig menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil.

“Tapi ya begitulah keadaannya, Tuan Bangsawan. Aku nggak tahu apa urusanmu datang ke desa nelayan terpencil ini, tapi banyak orang di sini menyimpan dendam terhadap bangsawan. Sebaiknya kau jangan lama-lama di sini.”

Intinya dia menyuruhku pergi. Padahal ini wilayah keluarga Lightless. Disuruh pergi oleh rakyat jelata di wilayah sendiri saja sudah cukup jadi alasan eksekusi.

Apa ini salahku karena belum membuka identitas? Apa mereka tak bisa memahami hal sesederhana itu tanpa diberi tahu? Apa rakyat perbatasan memang sebodoh dan setidak berpendidikan ini?

Pada titik ini, mereka tak berbeda dari monyet liar. Sambil menahan rasa pening akibat ketidaktahuan mereka yang luar biasa, aku berbalik.

“...Ayo pergi, Carlos.”

“Eh? Tidak apa-apa?”

Carlos bertanya dengan nada terkejut. Benar, biasanya aku pasti sudah mengeksekusi semua orang yang kurang ajar.

Tapi sudah cukup. Aku sudah muak dengan kebodohan rakyat jelata ini.

“Tak masalah. Tinggal di sini bikin kepalaku sakit.”

“...Maaf, Nak. Aku nggak bermaksud mengusirmu.”

Wajah kasar Craig tampak menyesal saat dia bicara. Diamlah, jangan bicara lagi, atau aku benar-benar akan membunuhmu. Mengabaikan Craig, aku naik ke kereta bersama Carlos sambil menghela napas panjang entah untuk keberapa kalinya hari ini.

Ngomong-ngomong, dalam cerita, di Roguebelt inilah aku bertemu sekutu-sekutu baru, salah satunya seorang heroine.

Salah satu heroine yang bergabung di Roguebelt adalah pelaut perempuan sinting itu. Hanya dengan memikirkannya saja bulu kudukku meremang.

Dilihat dari waktunya, dia mungkin sebenarnya ada di desa ini. Syukurlah hari ini dia tidak muncul. Kalau dia sampai muncul, mungkin aku akan terlalu kesal dan malah membunuhnya.

“Kita kembali.”

Aku menyuruh Carlos memutar balik ke ibu kota. Aku sudah tidak tahan lagi berada di pelosok menjijikkan seperti ini.

Kami harus secepat mungkin kembali ke ibu kota dan memulihkan lingkunganku ke standar terbaik agar aku tidak mengalami keruntuhan mental.

Carlos, yang sudah empat hari berjaga tanpa tidur, tampak sangat lelah mendengar perintahku. Tidak masalah, kau seharusnya masih bisa bertahan sampai delapan giliran jaga sekalipun.

Yang lebih mengkhawatirkan justru keruntuhan mentalku. Saat Carlos menghela napas letih, suara cambuk mengenai kuda menggema. Empat hari penuh lagi sampai ibu kota. Perjalanan panjang menanti. Namun ketenanganku yang nyaris datang kembali hancur oleh teriakan marah para rakyat jelata.

“Itu Clinton! Anak buah Clinton datang!”

Para rakyat berteriak dan mulai gaduh. Aku menoleh ke luar jendela kereta dengan mata mati. Jalan keluar desa telah diblokir oleh sekelompok orang berzirah.

“Kami datang memungut pajak. Keluarkan harta kalian, dasar sampah.”

Para prajurit berzirah itu berbicara angkuh kepada penduduk desa. Sebagai balasan, penduduk berteriak marah.

“Jangan bercanda! Kami nggak punya uang buat bayar pajak!”

“Lihat dulu keadaan kami!”

“Kami bahkan nggak bisa menangkap ikan! Gimana caranya bayar pajak!”

Sambil menyeringai, para prajurit itu menjawab.

“Kalau kalian nggak bayar pajak, ya kami ambil paksa. Oh, dan jangan melawan, ya? Aku dapat perintah untuk membunuh siapa pun yang melawan.”

Para prajurit itu bersiap dengan senjata mereka lalu mulai menyerbu rumah-rumah untuk mencari barang berharga.

“Sialan!”

Tentu saja penduduk melawan. Tapi dengan besi tua dan sekop, mereka tak mungkin menang melawan prajurit yang bersenjatakan pedang dan tombak.

Penduduk yang melawan langsung dipukul jatuh, dan rumah-rumah mulai dijarah satu demi satu. Aku menyaksikan pemandangan itu dari dalam kereta dengan dagu bertumpu di tanganku.

“Hei, Carlos.”

“Ya, Tuan Muda Rofus?”

Aku menunjuk para prajurit yang sibuk menjarah dengan daguku.

“Itu dibolehkan?”

“Tidak, itu jelas melanggar hukum kerajaan. Penarikan pajak paksa tanpa prosedur yang benar adalah tindakan ilegal. Jelas sekali tak ada prosedur apa pun yang dijalankan di sini.”

“Iya, kelihatan seperti perampokan. Benar-benar kasar. Dan zirah yang mereka pakai itu juga bukan pasukan resmi.”

Zirah yang dikenakan para prajurit itu berbeda dari zirah standar kerajaan. Tentu saja juga berbeda dari zirah milik keluarga Lightless.

“Sepertinya memang begitu. Kemungkinan itu pasukan pribadi Clinton atau tentara bayaran.”

“Dan penutupnya adalah lambang itu.”

Panji yang dibawa para prajurit menampilkan lambang ular melingkar. Itu bukan lambang keluarga Lightless.

“Itu memang... lambang keluarga Viscount Serpente.”

Di wilayah yang diperintah keluarga Lightless, mengibarkan lambang selain lambang Lightless sebagai simbol kekuasaan jelas tidak bisa dibenarkan. Clinton Fou Serpente hanyalah agen yang ditunjuk untuk mengelola wilayah ini, bukan penguasa Roguebelt.

Artinya, Clinton memamerkan lambang keluarganya sendiri dan bertindak seolah dia penguasa di wilayah milik orang lain.

“...Keluarga viscount rendahan berani sekali bertindak kurang ajar.”

“Kita harus segera kembali ke ibu kota dan melapor kepada kepala keluarga.”

“...Kalau aku sendiri yang menangani Clinton ini, apa itu jadi masalah?”

“Yah... sebaiknya jangan dilakukan tanpa izin kepala keluarga.”

“Akan jadi masalah?”

“Itu tidak akan dipandang baik.”

“Hm.”

Membuat kehebohan di sini mungkin memang bukan pilihan bijak. Namun, kalau aku melaporkan Clinton sekarang, besar kemungkinan ia akan dicopot dari posisinya sebagai pemungut pajak.

Kalau begitu, pajak berat akan berhenti, dan salah satu faktor masa depan yang bisa menyebabkan kematianku pun akan hilang. Kalau begitu, sudah cukup. Tujuan awal kedatanganku ke Roguebelt berarti tercapai. Aku menghela napas lega lalu menatap ke luar jendela.

Desa itu terus dijarah para prajurit pribadi. Bahkan penginapan tempat kami tadi singgah kini sedang dijarah oleh mereka, dan terdengar jeritan dari dalam. Lilia diseret keluar oleh para prajurit.

“Hei! Kapten, kami nemu perempuan muda yang ngumpet!”

“Berhenti! Dia putriku yang berharga! Aku akan bayar, jadi tolong hentikan!”

Pemilik penginapan botak itu ikut berlari keluar sambil memohon begitu. Ah, lalu dia dipukul sampai terlempar oleh prajurit yang marah.

Hmm, perilaku rakyat jelata yang benar-benar tak berkelas. Tingkah prajurit-prajurit ini juga persis seperti perampok, benar-benar menunjukkan kurangnya pendidikan.

Memamerkan lambang keluarga sendiri, menjarah, bahkan menculik gadis desa. Ah, daftar hal yang bisa kulaporkan kepada Ayah semakin panjang.

Saat aku menonton semua itu dengan ekspresi puas, seorang prajurit mendekati kereta kami.

“Apa ini? Kereta yang kelihatannya mahal sekali. Bisa laku tinggi.”

Hah?

“Hei, orang tua. Kalau nggak mau mati, turun. Anak di dalam juga.”

Prajurit rendahan begini berani bicara sesombong itu. Apa mereka juga tak mengenali lambang keluarga Lightless? Carlos, yang tadinya diam menonton penjarahan itu, kini pembuluh darah di dahinya menegang saat ia melotot ke arah prajurit tersebut.

“Minggir, bodoh. Kau bahkan tidak pantas mendekat kepada kami.”

“Apa katamu? Aku prajurit Viscount Serpente. Dilindungi oleh Bangsawan Gelap, keluarga Lightless. Siapa pun kalian, nggak ada bedanya!”

Setelah berkata begitu, si prajurit mencabut pedangnya dan mengarahkannya pada kami berdua.

“Kalau paham, turunlah. Nilai kereta ini bakal turun kalau sampai kena darah.”

Saat prajurit itu melangkah maju, kepalanya jatuh ke tanah. Wajahnya masih menyeringai, bahkan belum sempat sadar bahwa dirinya sudah mati.

Teknik pedang yang benar-benar indah. Carlos menyeka darah di rapier-nya.

“Tuan Muda, maaf karena Anda harus melihat pemandangan yang kurang sedap.”

“Tak masalah. Kalau kau tidak bergerak, aku sendiri yang akan melakukannya.”

Prajurit-prajurit ini bahkan berani menyebut nama Lightless. Di hadapan kami, yang sedang menaiki kereta berlambang Lightless. Benar-benar memuakkan sampai rasanya lucu betapa rendahnya orang-orang bodoh ini. Namun ini memberiku alasan. Alasan untuk menghancurkan Clinton dan, sekaligus, menyelamatkan Roguebelt.

“Kalian! Tahu tidak apa yang baru saja kalian lakukan!?”

Pemimpin para prajurit, yang tadi dipanggil kapten, mendekati kami dengan wajah murka.

“Kalian baru saja menjadikan Viscount Serpente dan Bangsawan Gelap, Marquis Lightless, sebagai musuh! Apa kalian pikir bisa...”

Tanpa berkata apa-apa, aku membentuk bola kegelapan besar di tanganku lalu meledakkan kepala prajurit itu. Dan apa pula julukan “Bangsawan Gelap” itu? Jangan memberi keluargaku julukan sejorok itu.

“Kalianlah yang tidak akan pulang hidup-hidup. Carlos, bunuh mereka semua. Aku mengizinkannya.”

“Dengan senang hati.”

Carlos, bersenjatakan rapier, langsung menerjang ke tengah kerumunan prajurit. Meski kalah jumlah, Carlos menunjukkan kemampuannya yang luar biasa, menebas satu demi satu prajurit itu dengan keganasan bagaikan satu pasukan penuh.

Para prajurit terpaku karena kapten mereka roboh di tanganku, sehingga mereka tak sempat membangun koordinasi yang baik. Di hadapan Carlos, mereka tak lebih dari orang-orangan sawah.

“...Yah, sekalian saja.”

Aku yang masih agak terpana melemparkan bola kegelapan ke arah prajurit yang sedang memegang Lilia. Prajurit itu langsung terpental tanpa sempat bereaksi.

Begitu terbebas, Lilia menatapku kosong lalu mulai membungkuk berulang-ulang dengan panik. Pemilik penginapan botak itu juga ikut melakukannya. Jangan tunjukkan tingkah memalukan seperti itu kepadaku. Masuk saja ke dalam rumah kalian. Sementara itu, para prajurit sudah dibantai habis oleh Carlos dalam waktu singkat.

Pada saat itulah, aku merasa seakan mendengar sesuatu dari arah laut, suara yang mengingatkanku pada peluit kapal perang. Rasa dingin menjalari punggungku.

Rasanya seperti ditarik ke dasar laut. Itu bukan benar-benar suara yang kudengar, melainkan sensasi sihir yang terbawa angin laut dan menciptakan ilusi pendengaran.

Carlos rupanya juga menyadarinya dan berhenti lalu menatap ke arah laut. Orang-orang lain tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Hanya sedikit sekali sihir, terlalu kecil untuk bisa dirasakan oleh orang yang tidak peka terhadap sihir. Tapi kalau sihir sekecil itu saja bisa menciptakan ilusi seperti ini... apakah ada sesuatu di lautan itu? Atau jangan-jangan, monster raksasa yang akan muncul di perairan dekat Roguebelt tiga tahun lagi...?

Saat aku sedang memikirkan hal-hal itu, Carlos yang sudah selesai membereskan para prajurit kembali. Ekor jas hitam legamnya bahkan tidak ternoda setetes darah pun. Carlos membungkuk dalam-dalam.

“Maafkan saya. Sepertinya ada sekitar dua orang yang berhasil kabur.”

Ketika aku menoleh ke arah pintu masuk desa, terlihat banyak kuda tertambat di sana. Itu pasti milik para prajurit tadi. Begitu rupanya, jadi saat perhatianku teralihkan oleh gelombang sihir aneh itu, ada yang sempat melarikan diri dengan menunggang kuda.

“Sepertinya ada beberapa tikus yang kakinya cepat. Sudahlah, kali ini kumaafkan.”

Aku sendiri juga sempat lengah. Lagi pula, hasil ini tidak buruk. Prajurit-prajurit yang melarikan diri itu pasti akan melapor pada Clinton, dan setelah itu dia tentu akan mengambil tindakan. Aku jadi menantikan alasan macam apa yang akan dibuat Clinton di rumahnya nanti. Akan menarik melihat bagaimana dia mencoba bergerak setelah ini.

Ayah sering pergi berburu rubah, dan mungkin beginilah perasaannya. Melihat mangsa menari-nari dengan canggung di telapak tangan kita, padahal mereka tak mungkin kabur, pasti memang cukup menghibur.

Selama ini aku selalu menolak ajakan beliau karena kelihatannya membosankan, tapi mungkin lain kali aku boleh mencobanya juga. Bisa jadi cukup menarik.

Aku naik ke kereta bersama Carlos lalu memberi perintah. Tujuannya adalah rumah Clinton, yang berada di kota pelabuhan sekitar setengah hari perjalanan kereta dari sini. Malam ini kami akan menginap di sana. Karena itu kota pelabuhan, seharusnya penginapannya sedikit lebih baik daripada di sini.

“Tunggu, Tuan Muda!”

Tepat saat kereta hendak berangkat, seseorang memanggil. Itu Craig, pria berwajah keras dengan bekas luka berbentuk salib di dahinya. Sepertinya dia juga terluka saat menghadapi para prajurit tadi.

“Padahal tadi kami malah mengusir Anda, tapi sekarang justru Anda yang menolong kami. Saya benar-benar tidak tahu harus membalasnya bagaimana...”

Dia mulai bicara panjang lebar. Aku mengetukkan tongkatku ke langit-langit kereta, memberi isyarat untuk berangkat.

“...Tidak apa-apa? Sepertinya dia sedang mengucapkan terima kasih.”

“Jalan saja. Aku tidak ingin mendengar suara berisik rakyat jelata itu lagi.”

“Baik.”

Mengabaikan suara Craig, kereta pun mulai bergerak. Meski begitu, Craig malah meninggikan suaranya lebih keras lagi.

“Aku salah menilai kaum bangsawan! Maaf! Tolong datang ke Roguebelt lagi! Lain kali kami pasti akan menyambutmu!”

Berisik sekali...!

Aku tidak akan pernah kembali ke desa nelayan terpencil seperti itu. Karena tak tahan lagi dengan gangguannya, aku menutup telinga dan menunggu sampai suaranya menghilang.

Clinton Fou Serpente adalah putra keempat dari keluarga viscount pedesaan. Rambut abu-abunya diikat ke belakang seperti abu yang kusam, dan matanya yang sipit tajam membuat tubuhnya yang kurus tampak mirip ular pada lambang keluarga Serpente.

Clinton, bangsawan rendahan manja yang dipekerjakan keluarga Marquis Lightless, kini membungkuk dan menjilat di hadapanku sambil terus menggosok-gosok kedua tangannya.

Di rumah Clinton, di dalam ruangan besar, aku duduk di tengah seperti seorang penguasa sementara Clinton membungkuk-bungkuk di depanku.

Sekitar setengah jam yang lalu, kereta yang kutumpangi bersama Carlos tiba di kota pelabuhan tempat rumah Clinton berada.

Pada saat yang sama, kami langsung dikepung oleh orang-orang yang tampaknya adalah prajurit pribadi Clinton. Namun begitu melihat lambang keluarga Lightless yang menghiasi kereta, Clinton terkejut sampai benar-benar melompat. Ia segera memerintahkan anak buahnya menurunkan senjata, lalu langsung bersujud di depan kereta dengan kedua tangan menempel ke tanah.

“Saya mohon ampun sebesar-besarnya atas kebodohan mengepung kereta keluarga Marquis Lightless!”

Clinton terus meminta maaf. Aku turun dari kereta dengan tenang, lalu menginjak kepalanya dengan keras tepat di depan para prajuritnya.

Para prajurit pribadinya langsung gempar. Clinton sendiri, entah karena takut atau malu, gemetar di bawah kakiku. Aku menatap tajam para prajurit yang masih berdiri.

“Hei, kenapa kalian masih berdiri? Mau mati?”

Begitu aku membentuk bola kegelapan di tanganku, Clinton yang masih bersujud buru-buru membentak para prajurit itu.

“Bodoh! Cepat berlutut! Beliau ini Rofus Ray Lightless, pewaris keluarga Marquis Lightless!”

Mendengar itu, para prajurit langsung melempar senjata mereka dan berlutut di hadapanku dengan sikap tunduk. Meski ini daerah perbatasan, rupanya sebagai aparat wilayah Lightless mereka mengenali wajahku. Para pejabat dan prajurit yang mengatur kota ini pun langsung menundukkan diri di hadapanku. Hm, rasanya sangat menyenangkan. Nah, ini baru benar. Meski tadi aku sudah setengah putus asa karena tempat ini terlalu pelosok, beginilah seharusnya sikap orang-orang terhadap keluarga Lightless. Bagaimanapun juga, kami termasuk golongan penguasa atas di kerajaan ini.

Setelah itu Clinton dengan hormat mempersilahkanku masuk ke rumahnya, dan begitulah akhirnya kami sampai pada situasi sekarang. Carlos sendiri sejak tadi hanya menatapku dengan wajah lelah dan pasrah.

“Baiklah, Clinton. Di Roguebelt, aku diserang oleh prajurit-prajuritmu. Aku ingin mendengar penjelasanmu.”

Aku menanyainya dengan nada menekan. Clinton yang memasang senyum kaku di depanku terus bersujud sambil bercucuran keringat dari dahinya.

“Y-ya. Saya sudah menerima laporan dari para prajurit. Tampaknya mereka melakukan penghinaan itu tanpa sadar bahwa itu adalah Anda, Tuan Rofus, dan saya sungguh meminta maaf...”

“Prajuritmu tidak melihat lambang keluarga Lightless di kereta itu? Atau kau mau bilang mereka tidak tahu lambang itu?”

Bagi orang yang bekerja di wilayah ini, tidak mengenali lambang keluarga penguasa jelas tidak bisa diterima. Bahkan rakyat jelata di perbatasan pun bisa dituduh melakukan penghinaan karena hal seperti itu.

Bagi orang-orang dari kalangan militer seperti prajurit, tanggung jawabnya bahkan jauh lebih besar. Mereka akan langsung diseret ke pengadilan militer, dan kegagalan membina bawahan juga akan menyeret atasan mereka ikut dihukum.

Lambang keluarga adalah simbol pasukan sendiri. Tidak mengenalinya lalu malah menyerang pihak sendiri jelas bukan perkara sepele. Kalau prajurit pribadi tidak tahu lambang keluarga Lightless, maka tanggung jawab itu tentu jatuh kepada tuan mereka, Clinton.

“Mengaku tidak tahu itu sama sekali tak masuk akal! Seharusnya tidak ada seorang pun di wilayah Lightless, bahkan di seluruh kerajaan, yang tidak mengenali lambang keluarga bangsawan Marquis Lightless. Sepertinya itu hanya kesalahan karena mereka tidak melihat dengan baik... Prajurit yang bersangkutan akan dihukum berat.”

“Oh?”

Memang, kupikir kemungkinan besar mereka benar-benar tidak tahu, dan prajurit-prajuritmu sendiri mungkin memang begitu. Bahkan penduduk Roguebelt pun tampaknya tidak mengenali lambang kami.

Namun, jawaban semacam ini memang sudah kuduga. Membuang tanggung jawab kepada bawahan adalah hal yang sangat wajar. Prajurit-prajurit yang kabur dari Roguebelt mungkin bahkan sudah lebih dulu dibungkam. Akan merepotkan bagi Clinton kalau mereka sampai memberi kesaksian yang merugikannya.

“Ngomong-ngomong, di Roguebelt, para prajuritmu mengibarkan lambang yang tidak kukenal.”

Begitu aku mengatakan itu, tubuh Clinton langsung menegang.

“Lambang itu... mungkin lambang bangsawan desa entah dari mana?”

Bagi seorang pengelola wilayah sewaan, memakai lambang keluarganya sendiri adalah tindakan pengkhianatan yang jelas-jelas tak terbantahkan. Clinton mengusap keringat di wajahnya dengan saputangan, lalu mendongak.

“Y-yah, para prajurit itu direkrut dari daerah sekitar, dan sampai belum lama ini mereka memang bertugas di wilayah keluarga saya sendiri, wilayah Serpente. Senjata serta perlengkapan mereka masih dari masa itu...”

Clinton bicara sambil mengintip reaksiku.

“Lalu?”

“Begini... agak memalukan sebenarnya. Daerah perbatasan ini tidak punya banyak kelonggaran dana. Kami belum sempat menyiapkan perlengkapan yang baru... Saya jamin, sama sekali tidak ada niat memberontak.”

Clinton kembali menempelkan dahinya ke lantai. Alasan itu benar-benar terlalu dipaksakan. Sangat khas orang bermuka dua. Bahkan kalaupun itu benar, tetap saja mengibarkan lambang wilayah lain di sini adalah pelanggaran berat. Saat aku menontonnya sambil menyeringai, Carlos yang berdiri di samping akhirnya ikut bicara.

“Clinton, terus pura-pura tidak paham keadaan hanya akan mempermalukanmu. Penjarahan di Roguebelt, kekerasan terhadap penduduk, hingga upaya penculikan... semua tindakan keterlaluan itu telah disaksikan langsung oleh Tuan Rofus. Kau sudah tidak bisa lari lagi dari tanggung jawab.”

Dihujani tuduhan tanpa celah oleh Carlos, Clinton hanya bisa membungkuk sambil gemetar.

Carlos, sebenarnya kau tak perlu menambahkan semuanya begitu rinci. Tapi ya sudahlah, tidak masalah. Aku sendiri juga sudah bosan mendengar alasan tipis yang dibungkus setengah kebohongan.

Tepat ketika kelihatannya semuanya selesai, Clinton tiba-tiba mendongak dan mencoba membela diri.

“S-Saya tidak salah! Yang salah adalah penduduk Roguebelt karena tidak membayar pajak dengan benar!”

“Orang ini masih juga bicara omong kosong...”

Carlos yang tampak muak menaruh tangan di gagang pedangnya, tapi aku menahannya dengan isyarat.

“Sudah cukup. Kau akan merangkum seluruh urusan ini secara tertulis.”

Aku juga diam-diam memerintahkan Carlos untuk mengamankan barang bukti agar hanya dia yang mendengarnya. Carlos mengangguk tanpa suara lalu keluar dari ruangan dengan tenang.

Di rumah ini pasti ada cukup banyak bukti kotor yang disembunyikan. Akan merepotkan kalau Clinton sempat memusnahkannya, jadi aku harus mengamankannya dulu sebelum itu terjadi.

“Hmm, jadi mereka lalai membayar pajak. Menarik. Coba ceritakan lebih lanjut.”

Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik, tapi sampai Carlos selesai mengamankan buktinya, biarlah Clinton terus bicara di sini.

“Mereka terus beralasan karena tidak bisa menangkap ikan!”

“Kenapa mereka tidak bisa menangkap ikan?”

“Mereka bilang monster laut jadi lebih ganas, katanya bahkan jumlahnya meledak! Itu cuma alasan supaya mereka bisa menyimpan uang mereka sendiri tanpa membayar pajak!”

“Apa? Monster laut jadi lebih ganas?”

“Itu bohong! Mereka berbohong hanya untuk menghindari pajak!”

Clinton terus berteriak bahwa semuanya bohong, sampai pembicaraannya sendiri jadi sulit diikuti. Tapi soal monster yang semakin ganas dan menyebar...

Cerita semacam itu memang ada dalam kisah itu.

Di Chapter One, kebangkitan «iblis» membuat langit biru berubah kemerahan kehitaman, lalu matahari gelap yang menakutkan pun terbit. Setelah itu monster di seluruh dunia mulai menjadi lebih ganas dan berkembang biak.

Itulah bencana pertanda akhir dunia yang dalam cerita disebut sebagai “Malapetaka”. Namun sekarang belum seharusnya sampai ke masa itu. Dilihat dari waktunya, kejadian itu setidaknya masih tiga tahun lagi. Langit juga belum menunjukkan perubahan apa pun. Namun, sebelum “Malapetaka” itu tiba, memang sempat ada tanda-tanda berupa kemunculan monster kuat di berbagai wilayah.

Bawahan dari «iblis»... «empat iblis buas». Salah satunya muncul tepat di lepas pantai Roguebelt.

Monster laut raksasa yang sama sekali di luar kewajaran, seekor kraken kolosal, iblis laut Strath. Apa mungkin dia sudah mulai muncul? Bukankah kemunculan «empat iblis buas» itu seharusnya baru tiga tahun lagi? Mungkinkah gelombang sihir aneh yang kurasakan tadi berasal dari salah satu «empat iblis buas» itu?

“Tidak... beda.”

Dasar perhitungannya salah. Lagi pula, cerita itu sendiri bahkan belum dimulai. Kisah itu baru dimulai tiga tahun lagi, saat protagonis masuk akademi sihir. Informasi sebelum saat itu memang tidak tercakup dalam cerita. Jadi mungkinkah «empat iblis buas» itu sebenarnya memang sudah ada dan membuat kerusakan sebelum cerita dimulai?

“Clinton. Sejak kapan penduduk Roguebelt pertama kali melaporkan monster menjadi lebih ganas?”

“Itu... sekitar enam bulan lalu! Sebelumnya mereka masih bayar pajak dengan teratur, tapi tiba-tiba mulai membawa-bawa kebohongan ini!”

Enam bulan lalu... berarti cukup baru. Di sisi lain, itu berarti hanya dalam enam bulan Roguebelt sudah membusuk sampai separah ini. Apa Roguebelt bahkan bisa bertahan sebagai desa nelayan sampai cerita dimulai tiga tahun lagi?

Kalau aku tidak ikut campur, tampaknya tempat ini bisa berubah menjadi desa mati dalam waktu kurang dari setahun. Atau jangan-jangan...

“Jangan-jangan kemunculan «empat iblis buas» malah jadi lebih cepat...”

Kemungkinan itu terasa masuk akal. Roguebelt saat ini jelas lebih hancur dibanding penglihatan yang kulihat dalam mimpi cerita itu, yang seharusnya baru terjadi tiga tahun lagi.

Karena monster di laut menjadi ganas dan jumlahnya meningkat, Roguebelt tak bisa menangkap ikan. Karena tak bisa menangkap ikan, mereka tidak mampu membayar pajak. Akibatnya, Clinton melakukan penagihan paksa dalam bentuk penjarahan karena Roguebelt tak sanggup membayar pajak.

Awalnya semua ini seharusnya baru terjadi tiga tahun lagi. Apa ini terlalu dipaksakan? Tidak, bukan berarti mustahil.

Kalau peristiwa yang akan datang itu adalah takdir, maka aku sendiri, dalam arti tertentu, adalah anomali terhadap arus takdir dunia. Faktanya, aku sudah ikut campur dalam urusan Roguebelt dan mencoba mengubah masa depan.

Tidak ada alasan untuk percaya bahwa hanya aku satu-satunya yang berusaha mengubah masa depan. Bukan berarti hanya aku yang mendapat mimpi tentang kisah itu.

Saat aku sedang memikirkan itu, Carlos kembali. Cepat sekali. Ia lalu berbisik pelan di telingaku.

“Saya sudah mengamankan seluruh barang bukti. Dan juga...”

“Apa?”

“Sepertinya bukan hanya Roguebelt, tapi desa-desa di sekitarnya juga dibebani pajak yang jauh lebih berat dari ketentuan. Selain itu, penjarahan dan penculikan seperti yang terjadi di Roguebelt ternyata sudah cukup sering dilakukan. Jumlah kota dan desa yang terdampak pun lumayan banyak.”

Berarti Clinton sudah bertindak semaunya cukup lama di wilayah Lightless.

“...Bagaimana dengan pemeriksaan?”

Seharusnya ada pemeriksaan rutin dari inspektur untuk memastikan para pejabat tidak melakukan penyimpangan. Kalau kerusakannya sudah sebesar ini, rasanya mustahil semuanya bisa tetap tertutup.

“Besar kemungkinan bahkan para inspektur itu juga sudah disuap.”

“Menjijikkan.”

Kalau dipikir-pikir lagi, rumah ini memang terlalu mewah untuk sebuah kota pelabuhan di perbatasan. Clinton pasti memperkaya dirinya sendiri lewat pajak berlebihan itu.

“Kelihatannya dia sudah mengumpulkan uang dalam jumlah besar.”

“Ya. Saya sudah memastikan bahwa ada simpanan yang cukup besar di ruang bawah tanah.”

Dia sudah menemukan sebanyak itu juga?

“Kita sudah punya cukup bukti. Sebaiknya Clinton langsung ditahan dan kita hubungi kepala keluarga.”

Melaporkan keadaan ini lewat merpati pos dan meminta keputusan Ayah memang tampaknya adalah langkah paling aman. Namun sayangnya, masalahnya tidak berhenti sampai di situ.

Selama iblis laut Strath, salah satu dari «empat iblis buas», masih ada di sekitar Roguebelt, maka ikan tak akan bisa ditangkap. Dan kalau tidak ada ikan, Roguebelt bahkan tak akan mampu membayar pajak normal sekalipun.

Aku tak tahu nanti pihak protagonis akan merespons seperti apa, atau tuduhan apa lagi yang mungkin mereka lemparkan kepadaku di masa depan. Yang kubutuhkan adalah penyelesaian sampai ke akar.

Artinya, iblis laut Strath harus dibasmi.

“Tunggu, Carlos. Jangan kirim laporan dulu.”

“Maaf? Tapi kalau dibiarkan lebih jauh lagi...”

“Laporan dikirim setelah semuanya selesai. Tujuanku datang ke Roguebelt belum tercapai.”

“Tuan...”

“Iya, iya, Carlos. Aku tahu wajahmu tampak makin lelah. Bertahanlah sedikit lebih lama.”

Clinton yang menatap kami dengan gelisah tampaknya merasakan ada yang tidak beres, meski tidak bisa mendengar percakapan kami.

Clinton Fou Serpente, ya? Baiklah kalau begitu, kurasa aku akan memanfaatkan semua yang tersedia.

Iblis laut Strath bukan yang terkuat di antara «empat iblis buas». Ciri khas «empat iblis buas» sebagai bawahan «iblis» adalah ukuran tubuh mereka yang luar biasa besar.

Di antara mereka, yang paling besar adalah iblis laut Strath. Namun, besar tidak selalu berarti paling kuat. Dalam cerita, ia bertarung melawan kapal perang kerajaan dan kalah.

Pihak protagonis menahan invasi monster laut yang sudah menjadi ganas dan jumlahnya meledak, sambil terus menghujani iblis laut Strath dengan tembakan meriam dari kapal perang, dan akhirnya meraih kemenangan.

Dengan kata lain, iblis laut Strath bisa dibunuh dengan tembakan meriam. Meski ukurannya sebesar pulau, pada akhirnya dia tetap cuma makhluk bertubuh lunak.

Namun, saat ini di sini tidak ada kapal perang kerajaan. Keluarga Lightless mungkin memang bisa menyiapkannya, tetapi aku ragu Ayah akan percaya apa pun penjelasanku. Mau menjelaskan bagaimana? Tentang mimpi masa depan di mana aku dibunuh? Tentang rakyat jelata yang bangkit lalu menjadi raja? Tidak mungkin. Ujung-ujungnya malah aku yang dianggap perlu diperiksa dokter.

Lagipula, mengoperasikan kapal perang berarti mengerahkan pasukan militer. Meski aku pewaris marquis, tetap ada hal-hal yang bisa dan tidak bisa kulakukan. Tapi sekarang ini kota pelabuhan dengan dana melimpah sedang ada di depanku.

Ada banyak cara untuk menangani ini.

“Clinton. Carlos sudah mengamankan semua bukti kejahatanmu.”

“Apa!?”

Clinton yang shock langsung terlihat panik.

Yah, belum juga tiga puluh menit berlalu sejak Carlos pergi.

Dia pasti tidak menyangka buktinya bisa diamankan secepat itu. Sayang sekali, Carlos kami yang andal memang luar biasa.

“A-apa ini bukan semacam kekeliruan...?”

Dia mundur menjauh dariku sambil melirik diam-diam ke arah pintu. Terlalu jelas. Apa dia pikir bisa kabur?

“Oh, orang-orang yang menunggu di ruang sebelah juga sudah dibereskan.”

Carlos menambahkan dengan nada santai.

“Ini... ini tidak masuk akal...”

Clinton jatuh berlutut dan menundukkan kepala. Jadi memang ada pasukan tersembunyi. Carlos benar-benar efisien.

Tapi pasukan tersembunyi? Apa dia sungguh mengira tipu daya semacam itu bisa menghadapi diriku atau Carlos? Benar-benar meremehkan kami.

“Wah, kelihatannya semakin banyak hal yang harus kulaporkan kepada Ayah. Pemungutan pajak berat sewenang-wenang, penjarahan terhadap rakyat, penculikan, dan terhadapku, pewaris keluarga Lightless... ini bisa dianggap percobaan pembunuhan? Mungkin masih ada tuduhan lain juga.”

Sambil menatap Clinton yang putus asa, aku menyusun fakta-faktanya satu per satu dengan tajam. Clinton yang gemetar ketakutan bahkan tak sanggup mengangkat wajahnya.

“Dengan sebanyak ini, hukumanmu tak akan berhenti pada dirimu sendiri. Orang tuamu pun pasti tak pernah menyangka putra mereka akan menimbulkan skandal sebesar ini.”

Begitu kusiratkan bahwa tanggung jawabnya bisa merembet sampai keluarga Serpente, wajah Clinton langsung berubah pucat ketakutan dan ia mencoba merangkak memegangi kakiku.

“T-tolong, apa saja asal jangan itu...”

“Lepas, dasar lancang!”

“Ugh!?”

Namun bahkan tindakan itu pun segera dihentikan Carlos. Dalam keadaan ditahan pun, Clinton masih terus mengulang, “Ampun, ampun.”

Benarkah orang seperti ini seorang bangsawan? Aibnya bahkan lebih parah daripada rakyat jelata. Dan kepada orang bodoh macam inilah aku akan mengulurkan belas kasihan.

“Clinton, aku akan memberimu satu kesempatan.”

Ketika seseorang dijatuhkan sampai ke dasar keputusasaan, penilaiannya biasanya akan goyah. Sama seperti orang terkutuk di neraka yang spontan meraih benang yang menggantung di hadapannya tanpa berpikir. Clinton perlahan mengangkat wajahnya.

“Ke-kesempatan...?”

“Ya, kesempatan. Bagaimanapun juga, kau seorang bangsawan, berasal dari garis keturunan yang berbeda dari rakyat jelata. Tidakkah menurutmu aneh kalau kau diadili hanya karena memeras sedikit dari rakyat biasa?”

Di wajah Clinton yang penuh putus asa, tampak secercah harapan.

“...Ya, ya, benar sekali. Rakyat jelata memang sewajarnya dieksploitasi. Aku ini bangsawan!”

Semangatnya kembali. Clinton pun berdiri. Carlos menatapnya dengan bingung, tapi aku memberi isyarat agar ia diam dulu.

“Tapi hukum kerajaan tetap mutlak. Kalau semuanya dibiarkan seperti sekarang, kau akan berakhir di penjara. Dengan bukti yang sudah kukumpulkan, aku juga tidak bisa begitu saja menutup mata. Karena itu... aku akan memberimu satu kesempatan.”

“Oh, betapa murah hatinya Anda... lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Kau akan menyelesaikan masalah monster di Roguebelt yang kau bicarakan tadi...”

“Hah...? Tapi itu cuma kebohongan putus asa dari para penduduk...”

“Bohong atau tidak, itu bukan masalahnya, Clinton. Yang penting adalah kesan bahwa kau telah menanggapi permohonan bantuan dari Roguebelt.”

“Kesan, maksud Anda?”

Clinton berpikir sambil menopang dagunya.

“Tak peduli monster itu benar-benar ada atau tidak, kalau aku, Rofus, melaporkan kepada Ayah bahwa Clinton Fou Serpente telah menaklukkan iblis laut, maka itu akan diterima sebagai fakta.”

Memang. Yang penting bukanlah kebenaran. Semua bergantung pada perkataanku.

“Dengan kata lain, hanya dengan sepatah kataku, kau bisa menjadi sekaligus penjahat yang menindas rakyat dan pahlawan yang menyelamatkan Roguebelt.”

“.....!”

Mata Clinton membelalak seolah baru mendapat wahyu dari langit.

“Tapi kata-kataku juga butuh pendukung. Jadi kau tetap harus mengambil tindakan.”

“Pendukung... apa yang harus saya lakukan...?”

“Kalau hanya mengandalkan kata-kataku, pencapaian membasmi monster itu akan terasa dibuat-buat. Karena itu, kau harus meninggalkan bukti bahwa kau memang mengerahkan pasukan.”

Aku menulis sebuah memo di atas perkamen lalu melemparkannya pada Clinton. Ia buru-buru memungutnya.

“Siapkan seluruh kekuatan yang tertulis di situ sebelum hari ini berakhir.”

Di atas memo itu tertulis jumlah personel, mesiu dalam jumlah besar, meriam, senjata, kapal, dan berbagai hal lain yang diperlukan untuk menaklukkan iblis laut Strath.

Clinton membaca isinya, lalu wajahnya langsung berubah.

“T-Tuan Rofus... kalau soal prajurit, saya masih bisa menyewa tentara bayaran, tapi untuk senjata, meriam, bahkan kapal juga, mustahil semuanya bisa disiapkan hari ini...”

Clinton tampak panik. Namun kekuatan sebanyak itu memang mutlak diperlukan. Yang akan kami hadapi adalah iblis laut Strath, bukan monster khayalan.

Tidak ada ruang untuk kompromi.

“Tidak. Semuanya harus siap hari ini. Besok kita berangkat.”

“Tapi tidak ada monster. Bukankah kekuatan sebesar ini terlalu berlebihan...?”

“Kalau tidak sebesar itu, ceritanya tak akan terdengar meyakinkan. Lagi pula, kalau ini ditunda sampai lusa, Ayah bisa saja ikut campur. Kalau itu terjadi, aku tidak akan bisa melindungimu.”

“U-um...”

Clinton mengerang kesusahan. Apa dia sungguh merasa masih punya pilihan?

“Baiklah. Kalau kau tak mau, tidak masalah. Aku akan melaporkan keadaanmu yang sebenarnya pada Ayah. Lain kali kita bertemu, mungkin di pengadilan.”

“T-tunggu!!”

“Kalau begitu, cepat bergerak. Gunakan semua koneksi dan kekayaan yang sudah kau kumpulkan. Kau sudah memeras banyak sekali dari rakyat wilayah Lightless, bukan? Aku tidak akan menerima alasan apa pun.”

“A-akan segera saya siapkan...!”

Dengan wajah tegang, Clinton gemetar lalu keluar dari ruangan.

Dari luar terdengar suara Clinton memberi instruksi kepada bawahannya, disusul langkah kaki yang berlarian terburu-buru. Rumah ini mendadak jadi ramai sekali. Kelihatannya mereka benar-benar sedang pontang-panting.

“Ada kemungkinan dia mencoba kabur?”

Carlos tiba-tiba memicingkan mata dan bertanya.

“Clinton? Tidak. Dia belum benar-benar jatuh ke dasar. Kepalanya masih terlalu sibuk mengejar benang keselamatan yang baru saja kuulur.”

Memang, kemungkinan dia kabur bukan nol. Lebih baik aku menyiapkan langkah berjaga-jaga.

“Summon Familiar.”

Aku memanggil familiar ke atas telapak tanganku. Bentuknya gumpalan bulu hitam kecil seukuran telapak tangan, dengan satu mata merah yang berkedip-kedip penuh semangat, menunggu perintah.

“Awasi Clinton Fou Serpente.”

Begitu mendengar perintahku, familiar itu melompat dari telapak tanganku lalu lenyap menjadi kabut.

Kemungkinan besar ia langsung menuju Clinton. Dengan begini, kalau ada sesuatu yang aneh, aku akan langsung tahu.

Malam itu aku dijamu makan mewah di rumah Clinton. Kamar untukku menginap juga sudah disiapkan.

Kamar tempatku menginap kualitasnya jauh di atas penginapan biasa. Karena Clinton mengumpulkan uang lewat cara ilegal, hidangan yang disajikan pun setara restoran mewah di ibu kota. Meski ini kota pelabuhan, sedikitnya hidangan ikan kemungkinan memang karena dampak serangan monster. Saat makan malam itulah aku menerima laporan dari Clinton.

Ia melaporkan bahwa semua yang kuminta telah berhasil disiapkan. Menurut Carlos, sejumlah besar emas sudah menghilang dari ruang bawah tanah. Sepertinya memang uang benar-benar bisa menyelesaikan segalanya.

“Kerja bagus, Clinton. Mulai besok, kaulah pahlawan yang menyelamatkan Roguebelt.”

“Oh, tidak, tidak, ini pengorbanan pribadi yang sangat layak.”

Wajah Clinton tampak agak kuyu.

“Kau juga berhasil menyiapkan meriam dan mesiu tepat waktu.”

Kalau soal mesiu masih satu hal, tapi mendapatkan meriam dan peluru dari para pedagang kota pelabuhan jelas tidak mudah. Lagipula perdagangan senjata di dalam kerajaan itu dilarang hukum.

Yah, makanya tadi kusuruh dia memakai koneksi. Mengingat dia juga terlibat penculikan warga, besar kemungkinan ia pun terlibat perdagangan manusia.

Kalau begitu, pasar gelap semacam itu pasti bukan hal asing baginya.

“Setengahnya kami ambil dari cadangan sendiri. Sisanya... yah, bukan hal yang bisa saya katakan keras-keras, tapi kami dapat lewat jalur tak resmi...”

“Hmph, selama semuanya sudah siap dengan benar, aku tidak akan mempermasalahkannya.”

Clinton membungkuk dalam-dalam. Berkat itu semua kekuatan yang kubutuhkan sudah terkumpul, jadi untuk saat ini aku tidak akan mengungkitnya lebih jauh. Namun setidaknya sekarang aku tahu ada serangga-serangga berbahaya yang bersarang di wilayah Lightless kami.

Setelah semuanya selesai, baru akan kubereskan mereka.

“Dan, mohon terimalah ini.”

Atas isyarat Clinton, pintu terbuka dan sebuah troli masuk berderak. Pelayan menyingkirkan kain hitam yang menutupinya, memperlihatkan tumpukan besar koin emas.

“...Apa ini?”

“Karena Anda sudah menunjukkan belas kasih sebesar itu, saya merasa harus mempersembahkan sesuatu. Tentu saja saya tidak berharap ini cukup. Kalau di masa depan ada hal apa pun yang bisa saya lakukan, mohon perintahkan saja.”

Clinton tersenyum dengan wajah seolah dipaku pada ekspresi itu. Begitu rupanya, jadi ini suap.

Karena kali ini kelemahannya sudah kugenggam, dia rela menyerahkan sejumlah uang yang cukup besar. Kemungkinan besar uang kotor.

“Hmph, baiklah, akan kuterima. Sikapmu bagus.”

Begitu aku memujinya sedikit, Clinton tersenyum lega. Namun waktu baginya untuk tersenyum tinggal sebentar.

Karena besok, Clinton dijadwalkan mati dalam pertempuran melawan monster laut Strath.

Pagi-pagi sekali, aku tiba di Roguebelt bersama beberapa kapal. Layar kapal-kapal itu dihiasi lambang bulan sabit keluarga Lightless.

Sepanjang perjalanan menuju Roguebelt, kami beberapa kali diserang monster laut. Meski disebut monster laut, sebenarnya mereka hanyalah gangguan kecil.

Sebelum aku sempat memakai sihir, Carlos sudah lebih dulu mengubah mereka jadi sashimi. Serangan itu malah makin sering terjadi saat kami semakin dekat ke Roguebelt.

Prajurit pribadi Clinton yang mengikuti di belakang juga ikut melawan, tapi saat kami tiba di Roguebelt, mereka sudah tampak sangat kelelahan. Padahal pertarungan yang sebenarnya bahkan belum dimulai, tapi mereka sudah begini?

Mungkin mereka memang tidak terbiasa melawan monster, atau latihan mereka kurang. Saat menjarah sih mereka kelihatan cukup mahir. Tapi kalau kondisi mereka seperti ini sebelum pertempuran utama, ya benar-benar mengkhawatirkan.

Iblis laut Strath memiliki sifat menghasilkan minion bertubuh lunak dalam jumlah besar. Dalam cerita, pihak protagonis pada dasarnya menghadapi para minion lunak itu dalam jumlah tak terhitung, sambil terus membombardir Strath sendiri untuk meraih kemenangan.

Kemungkinan besar, ledakan jumlah monster laut dan keganasan mereka yang kini terjadi di Roguebelt memang berhubungan dengan minion-minion Strath itu.

Sebenarnya aku berniat membiarkan prajurit pribadi Clinton yang menangani para minion itu, tetapi... kelihatannya kemampuan mereka lebih rendah dari dugaanku.

Yah, selama aku dan Carlos ada di sini, para minion seharusnya bukan masalah. Yang justru mengganjal adalah, di antara monster yang menyerang kami, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda minion Strath.

Monster yang muncul beragam, ada manusia ikan bersisik, ikan todak berkepala seperti pisau, bahkan makhluk besar mirip naga laut.

Menurut para awak kapal, monster-monster seperti itu memang kadang ditemui saat berlayar, tetapi serangan sesering ini benar-benar belum pernah terjadi.

Selain itu, monster-monster yang menyerang juga tampak terlalu ganas, jauh di luar taraf yang bisa disebut normal.

Dalam cerita, monster laut yang membeludak itu seharusnya adalah minion lunak milik Strath, bukan monster laut biasa.

Monster laut biasa seharusnya tidak ikut menjadi lebih ganas.

“Hmph...”

Apa sebenarnya yang berbeda dari cerita itu? Atau justru ada faktor lain sama sekali yang mengacaukan lautan ini, bukan Strath? Dengan sedikit kegelisahan, aku terus maju hingga akhirnya kami sampai di Roguebelt. Ngomong-ngomong, Clinton sudah kuperintahkan mengikuti dari belakang bersama kapal-kapal sisanya.

Aku memberi instruksi lewat telepati bahwa hanya aku dan Carlos yang akan turun di Roguebelt, sedangkan kapal-kapal lain tetap berlabuh. Kalau Clinton sampai muncul di desa, bisa-bisa kerusuhan pecah lagi.

Saat aku turun bersama Carlos, orang pertama yang menghampiri kami adalah Craig, pemimpin para pelaut dengan bekas luka berbentuk salib di dahinya.

“T-Tuan Muda! Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini...?”

Dia memegang senapan. Wajar saja, kalau beberapa kapal dengan lambang keluarga bangsawan tiba-tiba datang, tentu mereka akan waspada.

“Tidak ada yang aneh. Kami datang untuk membasmi monster.”

“Hah? K-kenapa kalian...?”

“Aku dengar serangan monsternya sangat parah. Makanya hasil tangkapan ikan menurun, bukan?”

“I-iya... benar. Jadi maksudmu kapal-kapal ini datang untuk membereskan monster...!?”

Craig memandangi kapal-kapal itu dengan wajah ternganga.

“Pertempuran sengit sangat mungkin terjadi. Ada risiko kerusakan sampai ke daratan sini. Sebaiknya kau segera mengungsikan penduduk desa.”

“Apa!? Jadi begitu!? Mengerti, aku akan...”

Tepat saat Craig hendak berbalik, sebuah mangkuk kayu terbang ke arahku. Carlos yang berdiri di belakangku dengan santai menepisnya dengan tangan, lalu mangkuk itu terpental jatuh ke laut.

Saat aku menoleh ke arah asal mangkuk tadi, kulihat seorang bocah dengan bandana terikat di kepala sedang memelototiku. Dari penampilannya, usianya mungkin sekitar empat belas atau lima belas tahun. Tatapannya jelas-jelas penuh permusuhan. Carlos memicingkan mata dan hampir meraih pedangnya, tapi aku menahannya. Roguebelt adalah desa barbar tanpa tata krama; kalau setiap provokasi harus ditanggapi satu per satu, urusannya tak akan selesai.

Begitu melihat bocah itu, mata Craig melebar dan ia langsung membentaknya.

“Fol! Apa yang kau lakukan!? Anak ini adalah penolong Roguebelt!”

Sudah saatnya mereka berhenti memanggilku anak kecil, apalagi aku seorang bangsawan. Itu penghinaan.

“Kenapa Ayah langsung percaya begitu saja pada kata-kata bangsawan? Apa maksudnya evakuasi? Jangan-jangan kalian cuma mau menjarah desa saat tidak dijaga!?”

“Jangan bicara omong kosong, Fol! Anak ini berbeda dari Clinton!”

Perdebatan kasar yang menyedihkan. Benar-benar seperti pertengkaran monyet gunung. Ngomong-ngomong, Clinton sebenarnya ada di kapal itu.

Tapi aku tidak akan bilang, malas bikin ribut. Saat aku memandangi mereka dengan jengkel, Fol kembali menatapku tajam.

“Hei, bangsawan! Aku dengar kau menyelamatkan desa waktu kami sedang pergi, tapi aku tidak akan tertipu. Cepat tunjukkan warna aslimu!”

Fol yang membuat keributan itu tampaknya menyimpan kebencian yang besar terhadap kaum bangsawan.

“Hei, Craig. Anak itu anak buahmu? Tidak punya tata krama sama sekali.”

“Ah, ya... dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Maaf sekali kalau dia membuat Anda tidak nyaman.”

“Dia tadi bilang ‘waktu kami pergi’?”

“Beberapa pemuda desa yang lebih cakap, termasuk anak-anakku, rutin keluar untuk membasmi monster. Kalau tidak, monster yang makin banyak itu akan sampai ke desa. Kebetulan serangan pasukan Clinton kemarin terjadi saat mereka sedang pergi.”

“Begitu...”

Jadi mereka memang bertugas membasmi monster. Cukup berani juga, rakyat jelata tanpa kekuatan sihir berurusan dengan monster.

Sementara aku terus bicara dengan Craig dan mengabaikan Fol, tiba-tiba Fol mengangkat tongkat kayu yang entah dari mana ia ambil, lalu menendang tanah dan sekejap kemudian sudah berada tepat di depanku.

“...Apa?”

“Jangan abaikan aku!”

Dengan gerakan tiba-tiba itu, Fol mengayunkan tongkatnya ke arahku. Namun Carlos yang berdiri di belakangku langsung menahannya dengan rapier.

“Ck.”

Fol berdecak. Terjadi benturan singkat di antara Fol dan Carlos dengan diriku berada di tengah. Yang menghentikan mereka adalah Craig.

“Apa yang kau lakukan, bodoh!!!”

“Gah!?”

Craig berteriak sambil menendang keras sisi tubuh Fol, membuatnya terlempar ke laut dalam lintasan melengkung. Tak lama kemudian Fol muncul ke permukaan dan kembali berteriak keras.

Dalam keadaan normal, memukul bangsawan adalah hal yang tidak mungkin dibiarkan.

Biasanya aku akan menanganinya sendiri, tapi sejak kemarin aku sudah paham bahwa Roguebelt dipenuhi orang-orang yang tidak bisa diajak bicara dengan benar.

Kalau lawannya sesama manusia sepertiku, aku pasti akan murka. Tapi menghadapi hewan yang memang tak bisa diajak berkomunikasi adalah hal yang masih bisa ditoleransi. Lagi pula, monyet liar memang bertindak semaunya karena kecerdasannya rendah.

Meski begitu, walaupun Fol cuma monyet, gerakannya cukup cepat sampai sulit ditangkap mata. Padahal sebagai rakyat biasa seharusnya dia tidak punya kekuatan sihir, tapi kemampuan fisiknya luar biasa.

Tak heran kalau dia ikut tugas membasmi monster.

“Tuan Muda! Saya benar-benar minta maaf! Bagaimana saya harus menebus ini...!”

Craig menundukkan kepala, dan dengan murah hati aku menerima permintaan maafnya.

“Tak usah dipikirkan. Pada titik ini, aku memang sudah tidak mengharapkan tata krama dari kalian.”

“Bukan soal tata krama saja. Fol biasanya juga bukan tipe yang sembarang memukul orang...”

“Permusuhannya besar sekali. Padahal ini pertama kalinya kami bertemu. Apa cuma karena aku bangsawan?”

“Belum lama ini, sahabat masa kecil Fol diculik oleh tentara bayaran milik Clinton. Fol berusaha menyelamatkannya, tapi... sejak itu dia memendam dendam pada bangsawan. Memang tidak masuk akal, tapi tolong jangan terlalu buruk menilainya.”

“Begitu.”

Yah, cerita semacam itu biasa saja. Aku juga tidak terlalu tertarik.

“Jadi, Craig, apa semua pemuda yang ikut membasmi monster itu sekuat bocah tadi?”

Karena tentara bayaran Clinton ternyata jauh lebih tidak berguna dari dugaanku, dan kemampuan fisik Fol cukup mengesankan, kalau mereka bisa dipakai tentu aku ingin membawa mereka.

“Fol memang luar biasa, tapi yang lain juga cukup bisa diandalkan. Kalau Anda mau, bawa saja mereka. Mereka pasti bisa membantu.”

Cepat sekali dia menyetujuinya.

“Tapi apa mereka akan mendengarkan perintah? Sehebat apa pun, kalau ada yang pembangkang seperti itu...”

Melihat sikap Fol, rasanya dia jelas tidak akan patuh. Kalau yang lain juga sama, mereka cuma akan jadi penghalang.

“Soal itu tidak masalah. Yang lain tidak punya dendam pada Anda. Lagi pula, Andalah yang menyelamatkan Lilia-chan.”

Lilia? Ah, gadis penginapan itu.

“Tunggu sebentar. Aku akan memanggil mereka.”

Setelah berkata begitu, Craig kembali ke desa dan datang lagi membawa sekelompok pria bertubuh kekar.

Jumlahnya sekitar sepuluh orang. Semuanya tampak agak kurus, mungkin karena kurang gizi, tapi tubuh mereka lebih tinggi dan lebih besar dari Fol. Craig tadi bilang Fol yang paling luar biasa, tapi apakah mereka benar-benar di bawah Fol?

Reaksi para pria itu padaku bermacam-macam, tetapi relatif ramah.

“Oh, jadi anak yang nolong Lilia-chan itu ternyata bangsawan!”

“Ternyata dia lebih kecil dari yang kubayangkan!”

“Kukira yang membantai semua prajurit itu orang besar!”

Seperti dugaanku, mereka benar-benar monyet yang tak paham sedikit pun soal tata krama. Aku jadi bertanya-tanya lingkungan seperti apa yang bisa membesarkan manusia dengan tingkat kecerdasan serendah ini.

Tidak ada gunanya. Berada di sini benar-benar bikin kepalaku sakit.

“Hei! Itu bangsawan! Apa-apaan kalian ngobrol akrab begitu!?”

Fol yang sudah merangkak naik dari laut kembali mendekat sambil berteriak. Ah, sumber sakit kepalaku sudah kembali.

“Diam sebentar!”

Saat itu juga, tinju besar Craig menghantam Fol. Fol pun memegangi kepalanya sambil berkaca-kaca, sementara para pria lain tertawa.

“Sudahi sandiwaranya. Kita harus membahas soal pembasmian monster.”

Mendengar ucapanku, wajah Craig dan para pria itu langsung serius.

“Kami akan memulai pembersihan monster laut dengan armada kapal. Kalau berhasil, kerusakan akibat monster akan hilang, dan kalian seharusnya bisa menangkap ikan seperti dulu lagi.”

Para pria itu langsung mengeluarkan seruan kagum.

“Tapi pasukan yang kubawa ternyata lebih tidak berguna dari yang kuduga. Jadi aku ingin meminjam bantuan kalian yang memang terbiasa bertarung di laut.”

Sebenarnya tanpa bantuan mereka pun pembasmian monster itu tidak akan terlalu sulit, tapi lebih banyak tangan tentu membuat semuanya lebih mudah. Meski ada kemungkinan korban jiwa, aku juga tidak terlalu peduli kalau beberapa rakyat jelata mati.

Pokoknya itu memang tidak terlalu penting, tapi reaksi para pria itu justru sangat positif.

“Tentu kami ikut!”

“Itu masalah Roguebelt juga!”

“Memalukan kalau semuanya diserahkan pada anak kecil!”

Di antara para pria itu, satu yang tubuhnya paling besar melangkah maju. Wajahnya keras, dan di dahinya ada bekas luka berbentuk salib. Karena mirip Craig, kemungkinan dia anaknya.

“Tentu kami ikut. Malah biarkan kami membantu, kami pasti berguna. Laut ini adalah halaman rumah kami sendiri.”

Pria besar itu mengulurkan tangan besar seolah meminta berjabat tangan. Aku mengabaikan uluran itu dan menatap tajam ke arahnya.

“Kau juga anak Craig? Kekurangajaranmu dan cara tidak memperkenalkan diri itu benar-benar mirip.”

“Oh, maaf. Saya ini cuma orang kampung. Saya Log, putra sulung Kepala Craig, dan kepala muda para pelaut.”

Jadi benar dia anak Craig. Bahkan kalimat standarnya pun sama persis, merepotkan sekali. Sampai bekas luka berbentuk salib itu pun rasanya seperti hasil tiruan.

“Naik kapal sekarang juga. Kalau kalian ikut, langsung naik. Log, kau ikut denganku.”

Tepat saat aku hendak membawa Log ke atas kapal, Fol yang masih ditahan Craig terus berteriak.

“Tunggu! Bangsawan membasmi monster demi rakyat jelata? Aku tidak percaya! Apa tujuanmu? Apa untungnya buatmu?”

...Rakyat jelata yang cerewet sekali. Saat aku menoleh padanya dengan jengkel, Log menundukkan kepala.

“Maaf atas ulah kerabat saya yang bodoh itu.”

Ah, jadi Fol itu saudaranya.

“Tidak apa-apa. Aku juga punya adik yang merepotkan.”

Tidak sepertiku yang tinggal di kediaman terpisah, adikku yang berusia sepuluh tahun tinggal di rumah utama bersama Ayah dan Ibu. Kekuatan sihirnya bahkan tidak sampai setengah milikku, dan dia benar-benar adik yang tak berguna dan tanpa semangat.

Ngomong-ngomong, setelah aku dibunuh dalam cerita itu, adikku lah yang menjadi pewaris keluarga Marquis Lightless. Dan yang lebih menyebalkan lagi, dia malah bekerja sama dengan pihak protagonis.

Kalau penerusnya orang tak bersemangat seperti itu, keluarga Lightless tak akan pernah makmur. Demi keluarga Lightless, sudah sepantasnya akulah yang mewarisinya.

“Tuan Muda, Anda benar-benar sudah tumbuh dewasa...”

Carlos berbicara sambil mendesah. Mungkin karena aku membiarkan rakyat jelata yang terus berteriak itu lolos tanpa hukuman?

Hmph, aku tidak sependek itu pikirannya sampai harus membunuh seekor kera yang bahkan tak bisa membedakan benar dan salah. Namun Fol sama sekali tidak memahami niat baikku dan terus berteriak.

“Hei, kenapa kau mengabaikanku? Kau, iya kau! Bocah bangsawan dengan wajah sok itu! Dasar idiot! Bodoh!... Cebol!”

...Hah? Dia barusan memanggilku cebol?

“Tuan...? Tunggu, hentikan! Ini gawat...!”

“Hah, bocah!?”

Aku berjalan diam-diam ke arah Fol yang sedang ditahan Craig, lalu langsung mencengkeram kerah bajunya. Carlos sampai memelukku dari belakang mati-matian, tapi aku tak peduli.

Mengabaikan keributan dan keterkejutan orang-orang sekitar, aku mendekatkan wajahku ke Fol.

“Dengar, tinggi badanku sekarang itu cuma karena aku masih dua belas tahun. Jangan besar kepala hanya karena kau sedikit lebih tinggi dariku, rakyat jelata.”

Tanpa sadar, sihir yang sangat pekat mulai meluap dari tubuhku, tapi anehnya Fol yang berada tepat di depanku tetap tenang.

“Hah, akhirnya kau mau melihatku juga. Kukira bangsawan memang tidak bisa melihat rakyat jelata.”

Fol menyeringai penuh provokasi. Sampah yang benar-benar tidak tertolong. Aku membentuk bola kegelapan besar di tanganku.

“Kelihatannya kau memang mau mati.”

“Akhirnya kau menunjukkan wajah aslimu juga. Bangsawan memang semuanya sampah.”

“Kau sendiri yang memancingku.”

“Wajar saja orang terpancing kalau kau terus bersikap seperti sampah.”

“Begitu ya. Kalau begitu, mati saja.”

Tepat saat aku hendak meledakkan kepala Fol, Carlos menahanku.

“Tolong hentikan! Kalau pada jarak sedekat itu, orang lain juga akan ikut terkena!”

Craig yang memegangi Fol kini menatapku dengan wajah pucat.

“...Ck.”

Aku berdecak, lalu menghapus sihir itu. Craig mengembuskan napas lega, sementara Fol malah tertawa.

“Ada apa? Takut, ya? Bangsawan pun ternyata tetap saja anak kecil.”

“Sudahlah!”

Craig membentak Fol. Log ikut meninju Fol sekali lagi. Fol kembali berkaca-kaca. Bocah yang benar-benar merepotkan.

Aku menoleh pada Carlos yang masih belum melepaskanku.

“Lepaskan.”

“Tidak bisa.”

“Aku tidak akan pakai sihir lagi. Lepaskan saja.”

“...Baik.”

Carlos akhirnya melepaskanku dengan mudah. Aku menatap tajam ke arah Fol.

“Hei, bocah. Dendammu pada bangsawan, atau latar belakang apa pun yang ada di balik itu, aku sama sekali tidak peduli. Terus terang, aku juga tidak tertarik.”

“Sialan kau... semua ini bermula dari bangsawan seperti kalian...”

“Aku tidak peduli. Jangan melampiaskan frustasi dari kemalanganmu sendiri pada orang lain. Aku sedang bilang bahwa aku akan menyelamatkan desamu, jadi jangan menghalangiku.”

“...Aku tidak bisa percaya padamu. Apa untungnya bagimu kalau kau melakukan itu?”

Aku menghela napas panjang.

“...Menjelaskan ini pada monyet kurang pendidikan seperti dirimu memang percuma, tapi akan kujelaskan juga. Dengarkan baik-baik. Kerusakan akibat monster laut yang aktif bukan cuma terbatas di Roguebelt. Kalau dibiarkan, kapal dagang yang melintasi laut juga akan diserang. Kalau itu terjadi, dampak ekonominya pada wilayah Lightless akan sangat besar. Dan kerugiannya bukan cuma berhenti di wilayah Lightless, tapi bisa meluas ke seluruh kerajaan. Kalau para monster itu naik ke darat, korban jiwa manusia juga akan muncul.”

Aku menjelaskannya dengan panjang dan sabar demi monyet lambat ini.

“Hal sesederhana itu seharusnya bisa dipahami kalau kau mau berpikir sedikit. Ini bukan soal percaya atau tidak.”

“........?”

Saat aku terus bicara, Fol cuma memiringkan kepala dengan wajah bingung. Jelas sekali dia tidak paham bahkan setengahnya.

Itulah sebabnya aku membenci orang bodoh tak berpendidikan yang berani menantangku. Aku menghela napas sekali lagi, lalu merangkum semuanya dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh monyet ini.

“Ini bukan soal untung dan rugi, tapi soal kepentingan. Kalau monster-monster itu dibiarkan, wilayah Lightless akan dirugikan. Pembasmian monster ini bukan demi kalian. Ini demi wilayah Lightless, yang berarti demi diriku sendiri. Jadi jangan salah paham, rakyat jelata.”

Setelah mendengarnya, Fol memalingkan wajah dengan kesal.

“...Aku tetap tidak suka dipanggil rakyat jelata di bagian akhir, tapi berarti kau membasmi monster demi dirimu sendiri, bukan demi kami.”

Berani sekali dia. Akan kubunuh kau, rakyat jelata.

“Yah, sekarang logikanya masuk. Sikap egoismu memang sangat khas bangsawan, jadi kurasa kali ini kau tidak bohong.”

“...Kalau sudah paham, diamlah.”

Hanya itu yang kukatakan sebelum naik ke kapal. Di belakangku, Log dan pria-pria lainnya ikut naik ke atas kapal dengan canggung.

Carlos yang berjalan di belakangku tampak mengusap keringat dengan saputangan.

“Selamat atas kesabaran Anda. Saya benar-benar khawatir Anda akan langsung mengeksekusi pemuda itu di tempat.”

“Yah, kali ini aku memang nyaris membunuhnya. Tapi kalau aku membunuh dia bersama Craig, itu bisa berarti menjadikan seluruh Roguebelt musuh.”

Itu pasti akan sangat merepotkan. Tapi omong-omong, apakah dalam kisah Roguebelt memang ada orang seperti Fol?

Dengan kepribadian sekuat itu dan kemampuan seperti itu, seharusnya dia muncul juga dalam pertarungan melawan monster laut Strath. Tapi kalau kuingat-ingat, aku sama sekali tak merasa pernah melihat bocah seperti itu.

Atau jangan-jangan dia mati dalam tiga tahun ini, atau pergi meninggalkan Roguebelt karena suatu alasan. Tidak, Fol? Rasanya aku seperti pernah mendengar nama itu di suatu tempat...

Sambil memikirkan itu, aku membawa para pria itu ke geladak kapal. Tiba-tiba terdengar langkah kaki ramai yang menggema keras. Saat aku menoleh ke arah suara itu, sebuah bayangan melompat dari dermaga. Sosok itu mendarat tepat di tengah geladak lalu duduk bersila. Itu Fol.

“Kalau pembasmian monsternya sungguhan, aku ikut. Mengandalkan kalian saja rasanya tidak meyakinkan.”

Fol melempar cutlass kesayangannya yang tergantung di pinggang ke lantai, lalu bersantai begitu saja.

Meski ada banyak hal yang terpikirkan soal daya lompat dan kemampuan fisiknya yang luar biasa, yang muncul lebih dulu justru rasa kesal.

Aku menunjuk ke arah Roguebelt lalu menatapnya tajam.

“Turun.”

“Ogah. Kau sendiri tadi bilang ini soal kepentingan.”

“Jangan asal pakai kata yang baru kau pelajari tadi seolah-olah kau paham, monyet.”

“Siapa yang kau sebut monyet! Yang pendek itu kau! Pendek!”

“...Akan kubunuh kau.”

Aku pun menerjang Fol.

Dan begitulah, perkelahian antara aku dan Fol pecah di atas geladak, sampai Carlos dan para pria lain turun tangan untuk menghentikannya. Setelah Log menghajar Fol dengan satu pukulan keras, ia lalu menjelaskan kepadaku kemampuan dan kelebihan Fol. Tampaknya Craig sendiri tetap tinggal di desa untuk membantu evakuasi penduduk. Kenapa dia tidak sekalian menahan Fol? Dasar orang tidak berguna.

Dan begitulah, dimulailah pelayaran yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa