Setelah pukul enam sore di hari Sabtu, langit diwarnai jingga hangat.
Saat aku membuka pintu masuk, kulihat dua sosok yang sudah sangat familiar.
“Kalian berdua telat juga.”
“Maaf, maaf. Kami terlalu lama nempel-nempelin stiker diskon di supermarket demi hemat uang.”
“Tapi hari ini kita bakal makan makanan yang sepadan dengan usaha Fei itu. Soalnya ini daging wagyu berkualitas tinggi.”
“Bahkan meski sudah diskon, aku agak takut lihat total di struknya nanti...”
Aku bersandar di kusen pintu, lalu memberi isyarat agar mereka masuk.
“Jangan pedulikan aku, masuk saja.”
Kujou Chitose, dengan kedua tangan membawa kantong plastik kecil, melompat riang ke ruang tamu seolah sedang pulang kampung.
Di sisi lain, Yagiyuu Hirofumi memegang kantong-kantong plastik penuh barang. Begitu masuk ke genkan, dia langsung menurunkan semuanya ke lantai untuk istirahat sejenak.
“Kamu nggak seperti biasanya. Bukannya kamu bangga sama kekuatan fisikmu?”
“Aku nggak nyangka minuman alkoholnya bakal seberat ini. Lagian jarak dari supermarket ke apartemen ini lumayan jauh...”
“Kalau seberat itu, kenapa nggak minta tolong Chitose saja?”
“Sebagai laki-laki, harga diriku nggak mengizinkan itu.”
Harga diri macam apa itu.
“Pokoknya, Hirofumi, habis istirahat tolong masukkan barang-barang yang kamu beli ke kulkas. Aku bakal siapkan kompor dan peralatan makan dulu. Oh iya, nanti kasih struknya juga ke aku.”
“Hehe... waduh, maaf soal itu. Kamu sudah mentraktir daging mahal begini, sekarang bahkan aku bisa makan bareng dua kampus no bijin.”
“Yah, nggak usah sungkan. Kamu yang bayar alkohol, jadi minumlah sepuasnya.”
“Hah!? Bukannya tadi kamu bilang Jinzuke yang nanggung semuanya!?”
“Aku cuma nanggung harga dagingnya. Tambahan-tambahan lain nggak termasuk.”
“Dasar, hitung-hitungan banget sih kamu...”
“Yang salah hitung itu orang yang beli barang sebanyak ini.”
Aku melirik kantong-kantong yang penuh dengan botol satu liter dan botol-botol red wine, lalu begitu saja meninggalkan Hirofumi yang sudah putus asa dan merangkak di lorong.
Melihat Hirofumi dan Chitose yang belanja seenaknya karena merasa ini uang orang lain, aku benar-benar cuma bisa pasrah.
Tapi setidaknya kali ini, aku bisa memaklumi mereka yang terlalu bersemangat tanpa sadar.
“...Yah, kali ini aku biarkan saja.”
Tak lama lagi, di kamarku, pesta yakiniku yang sudah lama dinanti akhirnya akan dimulai.
Hari Sabtu adalah satu-satunya hari dalam seminggu saat aku tidak perlu kuliah ataupun kerja part-time, benar-benar hari libur total. Bukan cuma itu, jadwal Chitose dan Hirofumi juga kebetulan cocok di hari ini. Karena itulah aku memilih hari ini untuk mengadakan acara bakar-bakar.
Aku mengangkat salah satu kantong plastik dan segera kembali ke ruang tamu, lalu mulai menyiapkan semuanya.
“Kenapa baru datang langsung memainkan trik beginian...”
“Hah? Ini cuma skinship, kok.”
“Di wajahnya jelas tertulis ‘sebel’ tuh.”
Di seberang pintu, Chitose memeluk Shizune dari belakang, padahal Shizune sedang duduk di meja rendah, lalu sengaja menggesek-gesekkan pipinya ke pipi Shizune dengan menyebalkan.
Shizune memang tidak berkata apa-apa, tapi matanya jelas memohon bantuan.
“Serius deh, kenapa kamu nggak bereaksi sama sekali?”
“Jangan cari reaksi dari orang yang sedang belajar. Ganggu.”
“...Memang sih.”
Setelah dapat teguranku, Chitose malah mengakui kebenarannya dengan canggung.
Dengan outfit dominan hitam yang masih menyisakan sedikit nuansa landmine-kei, rambut putih yang diikat half ponytail, dan aura tenang misterius dia adalah gadis gloomy itu, Kotosaka Shizune.
Shizune menahan godaan Chitose, lalu kembali menurunkan pandangannya ke buku referensi dan catatan di atas meja, siap melanjutkan belajarnya.
“Semua orang sudah datang lho, Shizune. Bukannya kamu juga sudah cukup?”
“Yah... sedikit lagi... biarkan aku jawab satu soal lagi, timing-nya pas sekali.”
Sebelum Chitose dan Hirofumi datang ke apartemen hari ini eh, kalau dipikir lagi, sejak hari Selasa lalu, Shizune memang hampir selalu menghabiskan waktunya di kamarku untuk belajar.
Hari Selasa itu, hari ketika aku, Shizune, dan Chitose berkumpul di ruang kelas kosong.
Awalnya aku mengira Chitose benar-benar tidak menyetujui hubungan antara aku dan Shizune. Tapi setelah kami saling membuka hati, pada akhirnya kami berhasil membuat Chitose menerima hubungan ini.
Dan sejak hari itu, Shizune mulai belajar dengan sungguh-sungguh.
Sekarang, dia sedang kembali mengejar impiannya untuk menjadi guru SD, sambil menargetkan untuk meninggalkan rumahnya saat lulus kuliah nanti.
Dibanding beberapa minggu lalu, ketika dia sudah menyerah pada mimpinya dan cuma datang ke kelas seperlunya saja, kondisi mental Shizune sekarang terasa benar-benar melonjak jauh hanya dalam waktu singkat.
“...Fuu.”
“Sudah selesai?”
“Iya. Untuk sekarang target belajarku hari ini sudah terpenuhi.”
Shizune merapikan alat-alat belajarnya di atas meja, lalu dengan tegas melepaskan tangan Chitose yang tadi sudah pindah dari punggung ke perutnya, dan berdiri.
“Aku akan bantu siapkan yakiniku.”
“Kamu capek habis belajar juga, kan? Pekerjaan segini aku bisa sendiri. Kamu duduk santai saja di sana.”
“Nggak apa-apa. Aku melakukannya karena aku mau.”
Sesuai isi Kontrak Pernikahan Sementara, di sela-sela waktu luangnya dari belajar, Shizune tetap memimpin urusan pekerjaan rumah dan juga membantu latihan ilustrasiku.
Walaupun aku pernah bilang “nggak usah memenuhi semua isi kontrak sepenuhnya”, dia tetap keras kepala dan sampai sekarang belum pernah melewatkan satu pun tugas hariannya.
Oh iya, syarat tambahan seperti “nggak boleh lagi pekerjaan papa,” “nggak boleh self-harm lagi,” dan “kalau ada apa-apa harus datang mengandalkanku” juga semuanya dia patuhi tanpa sekali pun melanggar.
Shizune berjalan melewatiku menuju dapur.
“...Shizune, bisa tunggu sebentar sebelum mulai menyiapkan semuanya?”
Dia menarik kembali tangannya yang hampir meraih pintu, lalu menoleh padaku.
“...Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu, Shizune.”
Aku berjalan ke coat rack yang menempel di dinding, lalu mengambil sebuah benda dari dalam backpack yang tergantung di sana—sesuatu yang dibungkus seperti hadiah.
“Aku sempat bingung kapan waktu yang pas untuk memberikannya, tapi kupikir hari seperti ini cukup cocok... setidaknya, begitu menurutku.”
Perkembangan mendadak ini membuat Shizune terdiam sejenak.
Bahkan ketika aku mendekat dan langsung menyerahkannya padanya, dia masih terus bertukar pandang antara hadiah di tangannya dan diriku, dengan wajah yang belum sepenuhnya mengerti situasinya.
“...Ini, benar-benar mau kamu berikan padaku? Untuk orang sepertiku?”
Setelah jeda sesaat, akhirnya Shizune memahami situasi itu dan menegaskannya dengan ekspresi tercengang.
“Iya. Meski aku juga nggak sepenuhnya yakin kamu akan menyukainya atau nggak...”
Jawabanku membuat ekspresi Shizune perlahan berubah jadi lebih cerah.
“Boleh... aku buka sekarang?”
“Tentu saja.”
Shizune membuka bungkus hadiah itu dengan hati-hati.
“Ini...”
Di dalam bungkus itu ternyata ada celemek putih.
Bagian tali pundaknya, pinggir lengannya, dan kantong depan semuanya dihiasi frill kecil. Bentuknya memang sederhana, tapi keseluruhan desainnya manis.
“Walaupun sekarang aku dan Shizune memang sudah terikat dalam ‘Kontrak Pernikahan Sementara’, itu tetap cuma perjanjian lisan, kan? Jadi aku kepikiran untuk menyiapkan sesuatu yang bisa jadi bentuk ‘fisik’ dari itu.”
“Jadi... kamu memberiku celemek?”
“Begini... Shizune, selama ini kamu kan selalu tetap pakai outfit landmine saat mengurus pekerjaan rumah. Aku beli ini supaya kamu nggak gampang kotor waktu masak atau bersih-bersih.”
Shizune kembali menatap celemek di tangannya.
“Boleh aku coba pakai sekarang...?”
Aku mengangguk. Shizune membuka celemek yang terlipat rapi itu, memasukkan tangannya ke tali pundaknya, lalu mengikat tali pinggangnya erat di belakang. Setelah itu dia berputar pelan di tempat untuk mengecek pas atau tidak.
Bayangan Shizune memakai celemek yang dulu sempat sekilas kubayangkan kini benar-benar ada di depan mataku.
Sebenarnya aku sempat khawatir apakah kombinasi antara fashion landmine-nya dan celemek ini bakal cocok, tapi ternyata kekhawatiranku sama sekali tidak perlu.
Menambahkan elemen rumahan ke atas outfit stylish miliknya justru membuat aura keseluruhannya terasa makin berkelas daripada sebelumnya.
“Gimana... cocok nggak?”
“Yah, cocok banget... menurutku sih, memang sangat cocok, kan?”
Sebagai orang yang memilihkan celemek ini, jelas menurutku cocok, meski aku memang bukan ahli fashion.
Untuk memastikan pendapat yang lain, aku melirik bergantian ke arah Hirofumi yang baru saja masuk ke ruang tamu dan Chitose yang masih duduk di lantai.
“Yah, menurutku lucu banget sih. Benar-benar pantas buat adikku.”
“Tapi dia bukan adikmu.”
“Kamu benar-benar nggak paham ya? Kalau dia nanti menikah dengan Shin, berarti dia akan jadi imouto-ku.”
Bahkan kalau kami menikah pun, dia tetap tidak akan jadi begitu. Kami tidak punya hubungan darah.
“Iya, lucu banget! Ngomong-ngomong, Shin, ternyata kamu lumayan closet pervert juga ya, memberi apron pada istrimu tersayang di timing begini?”
“Bagian ‘closet pervert’-nya nggak perlu. Dan lagi, kami ini bahkan belum pacaran, apalagi menikah, jadi ini sama sekali bukan ‘apron istri tercinta’.”
“Tapi bukannya Shin dan little Shizune sudah membuat ‘Kontrak Pernikahan Sementara’? Kalau begitu, bukannya nggak salah juga kalau dibilang ‘apron istri tercinta’?”
Kalau dibilang begitu... memang ada benarnya juga.
Kalau dilihat dari nama kontraknya, menyebut ini sebagai “apron istri tercinta” memang tidak sepenuhnya salah.
“...Yah, terserahlah. Yang penting aku jadi lega.”
Awalnya aku cukup gugup apakah itu akan cocok atau tidak, tapi melihat reaksi mereka, penilaian positif ini rasanya memang bukan sekadar basa-basi.
Aku mengembuskan napas lega lalu kembali mengalihkan pandangan ke Shizune.
“...Shizune?”
Perubahan ekspresinya yang mendadak sempat membuatku bingung. Tapi dalam beberapa detik, aku sadar bahwa perubahan ini jelas bukan karena emosi negatif.
“Maaf... aku cuma terlalu bahagia...”
Shizune berusaha menahan air mata bahagia yang mulai berkumpul.
Dia menundukkan kepala, menyeka matanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mencengkeram ujung bawah apron erat-erat.
“Nggak apa-apa, kalau kamu bahagia, nggak usah ditahan.”
“Soalnya... bukannya menyebalkan kalau cewek tiba-tiba mulai menangis?”
“Bukan begitu sama sekali.”
Bahunya bergetar pelan.
Aku mengulurkan tangan dan dengan lembut membelai kepalanya.
Tak lama kemudian, getaran di bahu Shizune perlahan mereda.
“...Terima kasih... karena kamu membutuhkanku, sungguh... terima kasih...”
Shizune perlahan mengangkat wajahnya. Sudut matanya agak merah karena tadi diusap, dan beberapa tetes air mata mengalir di pipinya yang memerah.
Kotosaka Shizune teman, pasangan ketergantungan, dan keberadaan yang nyaris seperti istri sementara.
Awalnya, karena prasangkaku sendiri, aku selalu berinteraksi dengannya sambil merasa canggung. Tapi sekarang, perasaan itu sudah benar-benar memudar.
Setelah aku menyadari adanya saling ketergantungan di antara kami, hubungan antara aku dan Shizune pun perlahan berubah menjadi bentuk saling menopang.
Karena itu, pada senyum basah penuh air mata yang diberikannya padaku sekarang, aku juga harus menjawabnya dengan cara yang sama.
Bukan senyum palsu, melainkan senyum yang benar-benar datang dari dasar hatiku sendiri.
“Aku yang justru... bersyukur ada seseorang sepertimu yang membutuhkan aku. Terima kasih.”
Dengan senyum tulus itu, aku membalas gadis berbalut landmine fashion yang berdiri di hadapanku gadis yang kini mengenakan apron istri tercinta itu.