“Onii-chan, sekarang sekolah dasar!” seru Soyoka dengan angkuh sambil berdiri di atas sofa ruang tamu dengan kedua tangan di pinggang.
Adik perempuanku yang tercinta... Kuremoto Soyoka, hari ini resmi masuk sekolah dasar.
Kapan dia tumbuh sebesar ini...?
Setelan yang kami beli khusus untuk hari ini membuat Soyoka terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan saat masih memakai seragam TK. Ia mengenakan gaun hitam dengan jaket abu-abu di atasnya.
Tak kusangka pakaian seformal ini sekarang sudah cocok sekali padanya...
“Gimana? Cocok nggak?”
“Imut banget.”
“Imut, kan? Soalnya mulai hari ini Soyoka sudah jadi anak besar!”
Imut. Dan bukan cuma imut, tapi juga cantik.
Tingginya sudah bertambah, wajahnya juga terlihat jauh lebih dewasa. Tanpa kusadari, cara bicaranya yang dulu masih cadel kini sudah jelas terdengar.
Begitu dia mulai masuk SD, mungkin dia akan tumbuh makin cepat lagi.
Aku senang, tapi juga sedih.
Begitu sadar betapa banyak Soyoka telah tumbuh, mataku langsung mulai berkaca-kaca.
“Hah, Onii-chan nangis lagi,” kata Soyoka sambil mengintip wajahku.
“Ya jelas aku nangis.”
“Maluin, jadi nanti di upacara masuk sekolah nggak boleh nangis!”
“Itu mustahil!”
Mana mungkin aku nggak nangis di upacara masuk SD-nya Soyoka. Tentu saja, waktu acara kelulusan TK-nya juga aku menangis sampai saputanganku bisa diperas.
Aku pun berganti ke setelan jas dan bersiap berangkat. Jas ini adalah yang kupakai saat upacara masuk universitas. Meski kalau dipikir-pikir, aku membelinya demi acara-acara yang berhubungan dengan Soyoka juga!
“Aduh. Onii-chan lama banget, jadi aku tinggal ya!”
“Ti-daaak!”
Soyoka meloncat-loncat kecil sambil mengenakan randoseru merah yang dibelikan ibunya untuknya. Tas sekolah yang masih baru itu berkilau mulus tanpa satu pun lipatan.
“Tadaa! Randoseru Soyoka.”
“Cocok banget. Orang yang menciptakan randoseru pasti mendesainnya khusus buat kamu, Soyoka.”
“Yang pilih Mama buat Soka~”
Sambil berputar seolah mau memamerkan randoseru-nya, Soyoka tersenyum lebar.
Ibu kami itu rupanya tetap bekerja hari ini juga.
Katanya dia sudah berusaha menyesuaikan jadwal sampai detik terakhir demi bisa datang. Tapi sepertinya memang benar-benar tidak bisa.
Mama sekarang sama sibuknya seperti saat Soyoka pertama kali masuk TK... tidak, bahkan lebih sibuk dari saat itu.
Meski begitu, sekarang dia sudah mulai meluangkan waktu untuk Soyoka sebulan sekali. Dia juga datang ke acara kelulusan kemarin.
Tapi... ini hari masuk sekolah. Sepertinya Soyoka sebenarnya juga ingin Mamanya datang.
Membayangkan itu membuat dadaku sedikit sesak.
“Nggak apa-apa kok.”
Soyoka menatapku lalu tersenyum cerah.
“Aku paling senang karena Onii-chan yang datang!”
“Kamu ini ngomong manis terus! Tenang saja, Onii-chan bakal menyemangati kamu dari barisan paling depan, sekalian mewakili Mama!”
“Sebenernya nggak usah datang!”
Hahaha, dia cuma malu aja, kan?
Belakangan ini Soyoka memang agak pemalu. Kalau kupeluk dia suka berusaha kabur, dia juga sudah nggak mau mandi bareng lagi, bahkan mulai bilang ingin punya kamar sendiri...
Tunggu? Jangan-jangan ini fase memberontak? Apa dia benci aku?
Nanti lama-lama dia bakal bilang, “Jangan cuci bajuku bareng punya Onii-chan...” juga, ya...
“Soyoka... jangan tinggalkan Onii-chan...”
“Onii-chan ngomong sendiri lagi. Aku beneran pergi duluan ya!”
Dimarahi oleh Soyoka yang sedang keranjingan bersikap seperti kakak perempuan, aku pun buru-buru menyelesaikan persiapan.
“Ah, dasimu miring~”
“J-Jangan bilang kamu mau membetulkannya untukku!?”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Ya iyalah nggak tahu...”
Dia cuma tertawa padaku. Ah, nggak, dia sebenarnya sedang mengingatkanku.
Setelah membetulkan dasiku, aku pun keluar rumah bersama Soyoka. Bukan lagi menuju jalan ke TK yang telah ia lalui selama tiga tahun, melainkan ke sekolah dasar.
Itu adalah sekolah dasar yang dulu juga kuhadiri. Rasanya sungguh berbeda saat melewati gerbang sekolah sebagai wali murid. Aku jadi penasaran apakah masih ada guru dari zamanku dulu.
Aku cemas membayangkan Soyoka akan masuk ke lingkungan yang benar-benar baru.
Terutama mulai dari sekolah dasar, akan lebih banyak hal yang terjadi di luar pengawasanku. Hubungan pertemanannya juga pasti akan semakin rumit.
Aku tidak tahu masalah seperti apa yang mungkin akan muncul nanti.
Tapi lebih dari rasa cemas itu, aku juga menantikan pengalaman-pengalaman baru yang akan dia alami dan bagaimana dia akan tumbuh.
Lagipula, Soyoka itu baik, gampang bergaul, dan imut, jadi jelas dia bakal populer!
“Soyoka, sesi pemotretan dulu! Pertama, berdiri di samping papan itu!”
“Oke. Tapi sebentar aja!”
“Sebentar itu maksudnya sekitar dua puluh foto?”
Begitu aku bilang begitu, Soyoka menatapku dengan wajah jengah. Tentu saja aku cuma bercanda. Aku juga tahu batas, kok. Tadinya aku cuma berniat berhenti di sekitar lima belas foto saja.
Aku memotret Soyoka habis-habisan di samping papan bertuliskan “Upacara Masuk Sekolah”. Dia terlalu imut. Berkat Soyoka, bukankah kemampuan memotretku juga jadi meningkat?
“Berikutnya... bunga sakura di sana kelihatan bagus!”
“Eeh, masih lanjut?”
“Masih ada waktu sebelum mulai, jadi nggak apa-apa.”
Sambil mengeluh begitu, Soyoka tetap saja sangat kooperatif. Dia bahkan berpose sambil tersenyum.
“Seperti yang diduga dari Soyoka, malaikat! Begitu masuk SD, kamu bakal ditembak kanan-kiri, ya...? Soyoka, hati-hati kalau nanti kamu menemukan amplop misterius di kotak sepatu. Kalau kamu buka, kamu bisa kena kutukan, jadi serahkan ke Onii-chan tanpa dibuka.”
“Onii-chan, berisik...”
Nggak apa-apa, para orang tua lain di sekitar sini juga sama hebohnya. Semua orang terlalu sibuk tergila-gila pada anak masing-masing, jadi nggak ada yang peduli pada kami.
Lihat saja, ibu di sebelah sana juga hebohnya nggak kalah.
“Nggak mungkin, kamu terlalu keren... Dengar ya, Iku, nanti pasti semua anak perempuan bakal jatuh cinta padamu, tapi kalau ada yang menyatakan perasaan, kamu harus menolaknya dengan baik. Dan jangan bilang apa pun yang bisa bikin mereka salah paham. Katanya anak SD zaman sekarang juga lumayan agresif, jadi kamu harus hati-hati...”
“Nee-chan, kamu berisik.”
Mendengar suara itu, aku menoleh. Dan orang di sana juga menoleh ke arahku.
“Kyouta.”
“Yo, Akiyama.”
Akiyama Sumi mengenakan setelan jas yang cantik dengan riasan natural.
Dia tersenyum tipis lalu menghadapku.
“Selamat ya, sudah masuk sekolah.”
“Selamat ya, sudah masuk sekolah.”
Kami menunduk bersamaan.
Di samping Akiyama ada adik laki-lakinya, Iku.
Iku juga mengenakan jas untuk upacara masuk sekolah. Dan itu cocok sekali padanya!
“Iku, selamat pagi!”
“Soyoka-chan, selamat pagi.”
“Dengar ya. Onii-chan berisik banget.”
“Nee-chan juga berisik...”

Mudah-mudahan mereka memaafkan kami, setidaknya untuk hari ini saja.
Ternyata Soyoka dan Iku masuk ke sekolah dasar yang sama. Aku sendiri cukup kaget mendengarnya, karena tadinya kukira mereka akan masuk ke sekolah yang berbeda.
Dulu aku dan Akiyama juga bersekolah di SD yang berbeda. Itu karena waktu itu Akiyama tinggal di tempat lain.
Tapi setelah ayahnya meninggal dan Sachi-san menjadi ibu tunggal, mereka memutuskan menjual rumah lama dan pindah ke apartemen.
Dan tempat mereka pindah itulah rumah mereka yang sekarang.
“Mulai hari ini Soyoka anak SD~”
“Aku juga...”
“Iya! Senang bertemu denganmu!”
Soyoka tampak senang sekali karena bisa masuk sekolah yang sama dengan Iku.
Mereka berdua memang sudah akrab sejak lama... Kalau mereka bisa bersama sampai di SD, aku juga jadi lebih tenang.
Tapi ada satu hal yang justru membuatku sama sekali tidak tenang.
“Iku. Berteman dengan Soyoka sih boleh, tapi hubungan lebih dari itu tidak akan kuizinkan. Memang benar kamu tampan, tapi Soyoka tidak memilih orang berdasarkan wajah.”
“Soyoka-chan. Belakangan ini kamu makin imut ya? Kamu lagi berusaha menarik perhatian Iku, ya? Astaga. Aku jadi nggak bisa lengah sedetik pun.”
Karena mereka terlalu akrab, aku harus mencegah hubungan ini berkembang jadi romansa dengan segala cara.
Pacaran dengan teman masa kecil itu trope yang sangat umum di manga shoujo yang belakangan dibaca Soyoka! ...Eh, tapi bukannya biasanya justru teman masa kecil yang kalah, ya?
Bagaimanapun juga, aku nggak akan membiarkan dua orang itu jatuh cinta!
“Soyoka-chan, ayo. Ikuti aku.”
“Onii-chan, dadah! Jangan berisik ya!”
Aah, Soyoka-ku sedang dibawa pergi oleh Iku.
Aku dan Akiyama buru-buru menyusul mereka dan menyelesaikan pendaftaran bersama. Dari sinilah kami akan tahu untuk pertama kalinya mereka masuk kelas yang mana.
“Ah! Aku sekelas sama Iku! Senang banget!”
“...Iya!”
Soyoka melompat-lompat kegirangan, sementara Iku mengepalkan tangan kecilnya pelan.
Kalau mereka sekelas, setidaknya akan lebih ringan dibanding harus masuk ke situasi di mana mereka tidak kenal siapa pun.
“Baik, anak-anak, lewat sini...”
Mulai dari sini, kami benar-benar berpisah. Soyoka dan Iku dibimbing oleh kakak-kakak kelas enam menuju ruang kelas mereka.
Untuk upacara masuk, mereka akan bergerak ke aula berdasarkan kelas masing-masing.
“Soyoka, Onii-chan akan lihat dari sini!”
“Semangat ya, Iku.”
Saat aku dan Akiyama menyemangati mereka, keduanya membalas dengan senyum lebar.
Para wali murid akan bergerak ke aula dan menunggu upacara dimulai.
Aku dan Akiyama duduk berdampingan di kursi lipat yang berjajar di aula.
“Cepat sekali ya. Tahu-tahu mereka sudah masuk SD. Rasanya baru kemarin mereka masih merangkak.”
“Iya. Sebentar lagi kita juga bakal lulus kuliah tanpa terasa.”
“Benar juga. Aku nggak pernah menyangka kamu bisa masuk universitas, Kyouta.”
“Eh, bukannya itu lebih pedas dari yang kuingat... Tapi memang benar sih, aku berutang besar padamu soal itu.”
“Memang.”
Alasan kenapa aku bisa lulus ujian masuk universitas adalah berkat Akiyama-sama yang agung. Hampir setiap hari dia mengajariku sampai larut malam. Aku begitu menghormatinya sampai rasanya utang budi itu nggak akan pernah bisa kubalas.
Mulai musim semi ini, aku dan Akiyama sudah menjadi mahasiswa tahun kedua. Fakta bahwa Soyoka dan yang lain tumbuh juga berarti kami pun sedang terus berjalan di jalur menuju kedewasaan.
“Kamu di jurusan pendidikan, kan? Aman soal jumlah SKS?”
“Kurasa aku nggak bakal mengulang.”
“Aku jadi merasa kasihan pada anak-anak yang nanti diajar olehmu, Kyouta...”
“Berisik. Kamu sendiri gimana, Akiyama?”
“Aku peringkat satu di jurusanku saat tahun pertama.”
“Seperti yang diduga.”
Aku dan Akiyama masuk universitas yang berbeda. Itu wajar, karena level kami memang benar-benar berbeda.
Tapi karena kami tetap sering bertemu di taman kanak-kanak, dan dia juga datang ke rumah sekitar dua minggu sekali, rasanya sama sekali tidak seperti sudah lama.
Adik-adik kami masuk sekolah dasar yang sama. Mulai sekarang, kesempatan kami untuk terus berhubungan mungkin justru akan semakin banyak.
Tugas sebagai wali murid SD itu sendiri benar-benar wilayah yang belum kukenal... Sepertinya kami akan kembali sama-sama kikuk, sama-sama belajar, dan saling membantu lagi. Yah, kupikir selama ada Akiyama, aku pasti bisa menjalaninya.
“Kelihatannya mau dimulai.”
Guru yang bertugas sebagai pembawa acara mengumumkan dimulainya upacara masuk sekolah.
Musik mulai diputar, dan murid-murid baru masuk mengikuti iramanya. Tentu saja, di antara mereka ada Soyoka dan Iku. Mungkin karena gugup, wajah mereka tampak kaku. Tapi begitu menemukan kami, mereka tersenyum dan melambaikan tangan.
Aku dan Akiyama mengawasi dua anak itu dalam diam.
Upacara masuk sekolah berjalan lancar tanpa hambatan.
Kami cuma bisa menonton, tidak ada yang bisa kami lakukan. Tokoh utamanya memang anak-anak.
Sosok Soyoka dan Iku yang sudah tumbuh besar kuabadikan ke kamera, ke retina mataku, dan ke dalam ingatanku.
Upacara masuk sekolah berakhir dalam sekejap.
Tapi itu adalah momen terbaik dalam hidupku, momen yang pasti akan terus tinggal dalam ingatanku selamanya.
“Ugh... Soyoka... Kamu sudah tumbuh sejauh ini...”
“Memalukan sekali...”
“Kamu juga nangis, Akiyama.”
“Aku tidak setidak-enak-dipandang dirimu, Kyouta.”
“Air mataku juga indah, kok.”
Padahal ingusku juga ikut keluar.
Anak-anak katanya masih harus kembali ke kelas, bertemu teman sekelas, dan mendengarkan salam dari wali kelas mereka.
Para wali murid diminta menunggu di luar.
Aku dan Akiyama keluar dari aula lalu menunggu di bawah pohon sakura. Kami berdiri agak berjauhan, dengan jarak khas “teman sesama ibu”.
Satu kelopak sakura merah muda pucat melayang melewati pandanganku. Angin musim semi yang hangat terasa nyaman.
“Rasanya ini seperti salah satu tonggak hidup, ya.”
Aku mendongak melihat gedung sekolah yang mulai sekarang akan menjadi tempat Soyoka bersekolah.
“Begitu mereka masuk SD, mereka akan mulai menjauh dari sisi kita. Memang terasa sepi, dan waktu yang bisa kita habiskan bersama mereka mungkin akan berkurang. Tentu saja mereka masih anak-anak, jadi kita tetap harus mengawasi dengan baik.”
“Memang sepi.”
Yah, tapi kupikir Soyoka akan tetap berada di sisiku berapa pun usianya nanti!
Dia pasti nggak akan pernah masuk fase memberontak!
...Tapi perlahan-lahan dia pasti akan jadi mandiri, ya.
“Jadi, begini, Akiyama. Mereka sudah masuk SD.”
“Aku dengar. Kenapa kamu bilang hal yang sama dua kali?”
“Umm, jadi, sekarang mereka sudah lulus dari TK. Artinya kita sudah bukan ‘teman sesama ibu TK’ lagi.”
“...Di SD memang nggak ada istilah ‘teman sesama ibu’?”
“Kayaknya masih ada.”
Sepertinya dia paham arah pembicaraanku.
Akiyama melangkah mendekat. Dia menatap mataku, seolah mengujiku, lalu menunggu aku melanjutkan.
“...Apa kita masih tetap ‘teman sesama ibu’ di SD juga?”
“Kurasa... masih setengah. Kita kan belum selesai membesarkan mereka.”
“Setengah sisanya... apa sudah tumbuh?”
“Ngomongnya biasa aja.”
Aku kena tegur.
Memang mau bagaimana lagi. Aku belum terbiasa dengan hal seperti ini.
Dari dalam gedung sekolah, terdengar riuh suara anak-anak.
Sepertinya mereka sudah mulai turun. Aku harus menyelesaikan percakapan ini sebelum adik-adik kami datang.
Aku nggak mau menundanya lagi. Kalau kesempatan ini terlewat, aku nggak tahu kapan lagi aku bisa mengatakannya.
Akiyama menyilangkan tangan lalu memalingkan wajah.
Jadi dia benar-benar berniat memaksaku mengatakannya duluan, ya...?
Yah, selama dua setengah tahun terakhir ini aku sudah menjadi yakin, jadi mau bagaimana lagi.
Meski aku sendiri tidak tahu bagaimana dengan Akiyama.
Yang jelas, aku merasa bahwa Akiyama Sumi—
“Aku suka kamu.”
Itu bukan kata-kataku.
Itu suara yang terlalu familiar.
Aku dan Akiyama menoleh pada saat yang sama.
“A-Aku suka sama kamu, Soyoka-chan!”
“...Aku juga.”
Iku yang berteriak dengan wajah merah padam, dan Soyoka yang menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menunduk malu-malu dengan sangat manis.
Pemandangan itu sedang terjadi tepat di depan gedung sekolah.
Aku dan Akiyama buru-buru saling berpandangan.
Kurasa wajah kami berdua pasti terlihat sangat bodoh saat itu. Kami langsung tertawa bersamaan, lalu berlari ke arah Soyoka dan Iku.
Tamat