“Jeng!”
Soyoka berputar di atas sofa ruang tamu sambil mengangkat kedua tangannya membentuk tanda peace.
Ia mengenakan yukata merah bermotif ikan mas koki, dengan senyum lebar di wajahnya.
“Aku imut nggak?”
“Imut banget...! Tunggu sebentar, Onii-chan bakal panggil fotografer dan wartawan sekarang juga. Besok kamu masuk halaman depan koran, Soyoka.”
Hari ini ada festival musim panas di taman dekat rumah.
Memang cuma festival kecil yang diadakan warga sekitar, tapi setiap tahun selalu ramai oleh anak-anak sekampung. Siang tadi bahkan beberapa anak SD sempat mengarak mikoshi.
Saat itu Soyoka masih tidur siang dengan nyenyak, jadi kami baru ikut meramaikan festivalnya pada sore hari.
Karena mengenakan pakaian yang tidak biasa, suasana hatinya sedang bagus sekali. Di depan cermin, ia berputar-putar dan melonjak-lonjak dengan riang.
“Onii-chan juga pakai yukata?”
“Nggak, Onii-chan pakai baju biasa.”
“Oh.”
“Reaksimu datar sekali!?”
Hari ini tokoh utamanya adalah Soyoka, dan kalau terjadi apa-apa, lebih praktis kalau aku tetap pakai baju biasa.
Lagipula, akan jadi masalah kalau aku terlalu mencolok dan sedikit saja menutupi keimutan Soyoka. Sebenarnya aku bisa tampil lebih keren kalau mau, tapi aku sengaja menahan diri.
“...Hah? Tapi mana mungkin aku bisa mengalahkan keimutan Soyoka?”
“Onii-chan ngomong sendiri.”
Ups, aku tanpa sadar mulai berdebat dengan diriku sendiri.
Karena geta susah dipakai jalan, Soyoka memakai sepatu olahraga. Lagi pula, nanti dia pasti lari ke sana kemari.
Begitu kami keluar rumah, matahari masih cukup tinggi. Sepertinya kami bisa pulang sebelum benar-benar gelap.
Festival musim panas itu diadakan di taman yang sama dengan tempat radio taisou dulu.
Karena setelah itu kami sempat ikut beberapa kali lagi, Soyoka sudah hafal tempatnya.
“Festival!”
Tapi suasananya jelas berbeda jauh dari biasanya.
Di mana-mana tergantung lampion, dan banyak spanduk berdiri. Di sepanjang pinggir taman juga ada beberapa stan makanan dan permainan.
“Soka akan makan semuanya!” deklarasi Soyoka, tertarik oleh aroma lezat yang bertebaran.
Memang ada makanan khas festival yang wajib dimakan... Aku akan membiarkannya mencicipi sedikit demi sedikit. Jenisnya juga tidak terlalu banyak, dan kalau kami berempat membaginya, pasti habis.
Ngomong-ngomong, Akiyama ada di mana...?
Aku melihat sekeliling.
“Iku!”
“Soyoka-chan.”
Ternyata Soyoka lebih dulu menemukannya daripada aku.
Iku mengenakan jinbei hitam dan terlihat sangat imut. Mungkin karena belum terbiasa, dia tampak agak gelisah.
“Iku, lihat. Yukata Soka!”
“I-Iya. Imut kok.”
“Kan?”
Begitu dipuji Iku, pipi Soyoka langsung mengendur senang.
“Onii-chan, Iku bilang aku imut!”
“Kalau dia bilang kamu nggak imut, Onii-chan nggak akan maafkan dia. Tapi fakta bahwa Soyoka itu imut sudah jadi pengetahuan umum di seluruh dunia, jadi kamu nggak perlu sebahagia itu cuma karena Iku bilang begitu...”
“Iku juga imut!”
Aku diabaikan saat sedang berusaha meyakinkan Soyoka supaya jangan tergoda cowok.
“Aku nggak imut.”
“Kamu imut.”
“Aku keren!”
“Eeh, tapi kamu imut.”
Iku malah jadi kesal karena dibilang imut oleh Soyoka. Bahkan itu pun terasa imut.
Sepertinya anak laki-laki memang tidak suka dibilang imut...
“Selera Soyoka-chan memang meragukan... Iku itu makhluk ajaib yang memadukan keren dan imut sekaligus,” sela Akiyama dengan nada seperti, ya ampun.
Sama sepertiku, dia juga datang dengan pakaian biasa.
“Jadi kamu juga pakai baju biasa ya, Akiyama.”
“Iya. Aku sudah puas pakai yukata waktu itu.”
“Benar juga.”
Waktu pergi melihat kembang api, aku dan Akiyama sama-sama memakai yukata.
Hari ini tidak perlu berdandan berlebihan. Ini cuma festival musim panas kecil yang diadakan warga sekitar.
Saat mengingat Akiyama dalam yukata, tanpa sadar sudut bibirku terangkat.
Akiyama juga tersenyum lembut. Mata kami bertemu, lalu kami saling mengangguk kecil.
Untuk sementara, pembicaraan kami waktu itu kami simpan dulu. Karena kami masih... teman sesama orang tua.
“Nee-chan sama Kyouta-niichan pergi kencan.”
“Kencan! Itu artinya menikah?”
“Mungkin begitu.”
“Berarti selingkuh?”
“Selingkuh itu nggak boleh.”
Soyoka dan Iku benar-benar bicara semaunya.
Dan aku sendiri memang tidak bisa menyangkal kata “kencan”.
Karena menurutku, pergi melihat kembang api berdua saja dengan Akiyama memang bisa disebut kencan.
Meski tetap terasa agak aneh kalau harus memikirkannya sebagai kencan dengan Akiyama.
“Hehe. Iku, itu ada lempar gelang. Mau coba?”
“Soyoka, di sana ada apel gula! Kamu belum pernah makan itu, kan?”
Cerita tentang aku dan Akiyama sekarang tidak penting. Dan bukan sesuatu yang perlu didengar dua anak ini.
Lagipula aku sendiri juga belum benar-benar mencerna semuanya. Tidak perlu buru-buru mencari jawaban.
“Dia ganti topik.”
“Apel! Soka mau makan apel!”
“Soyoka-chan gampang dialihkan...”
“Iku juga mau? Kita makan bareng~”
Soyoka memang polos dan imut sekali!
Kalau apel gulanya utuh terlalu besar dan susah dimakan, jadi kami membeli versi yang sudah dipotong. Ada juga stroberi gula, jadi itu sekalian kami beli.
Lapisan gulanya manis, berpadu dengan rasa asam buah yang segar, benar-benar enak.
Tapi lebih dari itu... melihat Soyoka menggigit tusuk buah itu terlalu imut.
“Soyoka, tunggu, jangan dimakan dulu. Diam sebentar dengan itu di mulut. Onii-chan mau foto dulu...”
“Enak-enak.”
“Sekali hap!?”
Stroberi di ujung tusuk itu lenyap seketika. Ini sulap, ya?
Tapi melihat pipinya menggembung seperti tupai juga luar biasa imut.
“Kamu berisik seperti biasa... Ah, jangan, Iku. Kalau kamu makan seimut itu, orang-orang yang lewat bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Kamu ngomongin diri sendiri ya...”
Tanpa memedulikan kakak-kakaknya yang ribut sendiri, dua anak itu menikmati festival dengan santai.
Mereka melihat-lihat ke sana kemari, lalu kalau menemukan stan yang menarik, mereka datang pada kami untuk bertanya.
“Soka mau itu.”
“Main tangkap yo-yo? Oke. Kamu mau warna apa?”
“Biru!”
Permainannya adalah menangkap yo-yo air yang mengapung di bak plastik memakai pengait dengan benang.
Soyoka menerima alatnya dari bapak penjaga stan lalu jongkok di depan bak.
Dari belakang, aku menahan lengan yukatanya sambil sedikit memeluknya supaya tidak basah. Kalau dia terlalu semangat, rasanya badannya bisa ikut nyemplung seluruhnya.
“Bisa ambil semuanya?”
“Hahaha, apa nona kecil seperti kamu bisa melakukan itu?”
“Kalau Soka, bisa!”
Sambil ngobrol dengan bapak penjaga stan yang ramah itu, Soyoka menjepit benangnya dengan ujung jari.
Dengan wajah serius, Soyoka membidik yo-yo incarannya. Ia menurunkan alat tangkapnya pelan-pelan, mengarah ke lingkaran pengait yang mengapung di air.
Tapi karena yo-yo-nya mengambang, pengaitnya jadi susah masuk dengan benar.
Soyoka memang agak ceroboh dan terlalu mengandalkan tenaga, jadi walaupun sudah mencoba beberapa kali, tetap saja meleset.
“Sulit...”
Kelihatannya Soyoka mulai kewalahan.
Sebenarnya aku ingin membantu, tapi kutahan. Ini permainan anak-anak, jadi kalau aku yang turun tangan pasti gampang, tapi itu malah merusak semuanya. Soyoka pasti lebih senang kalau dia berhasil menangkapnya sendiri.
“Ayo, Om ajarin jurus rahasia,” kata penjaga stan itu.
“Jurus rahasia?”
“Iya. Tapi ini rahasia ya?”
Melihat Soyoka terus gagal, bapak penjaga stan itu akhirnya mengambil alat tangkap dari tangannya.
Sebagai gantinya, dia memberi alat lain untuk menangkap yo-yo. Bedanya, alat ini bukan memakai benang, melainkan stik yang bentuknya mirip tusuk sate.
Oh, begitu. Rupanya mereka memang menyiapkan alat yang lebih mudah untuk anak kecil yang belum bisa melakukannya.
Kalau pakai stik, dia bisa bebas mengarahkannya di dalam air, tinggal memasukkan pengait ke lingkaran yo-yo.
“Dapat!”
Begitu diajari jurus rahasia, dalam hitungan menit Soyoka berhasil mendapatkan yo-yo yang tadi dia incar.
“Soka paling kuat.”
“Selamat ya. Tapi jurus rahasia cuma boleh dipakai sekali. Boleh Om ambil lagi?”
“Iya! Makasih!”
Begitu Soyoka mengembalikan stik itu, bapak penjaga stan tersenyum sampai sudut matanya berkerut.
“Onii-chan, lihat!”
“Hebat.”
“Kan!”
Soyoka terlihat sangat puas sambil memamerkan yo-yo yang kini melingkar di pergelangan tangannya. Sepertinya satu saja sudah cukup buat dia, jadi kami mengucapkan terima kasih lalu pergi dari sana.
“Yang ini punya Soka!”
Saat ditepuk dengan telapak tangan seperti menggiring bola, yo-yo itu memantul kembali berkat karet gelangnya.
Dia memamerkannya pada aku, Akiyama, dan Iku, lalu untuk beberapa saat benar-benar tenggelam dalam permainan itu.
“Aku mau main tembak.”
“Main tembak...? Iku memang bisa?”
Mendengar permintaan Iku, Akiyama menoleh ke stan tembak-tembakan.
Kebetulan, ada anak laki-laki sekitar usia SD yang sedang bermain di sana.
“Karena ini festival buat anak-anak, mungkin anak TK juga tetap bisa main?”
“Aku tanya dulu.”
Sepertinya bukan karena Iku sangat ingin main tembak-tembakan, tapi lebih karena dia ingin melakukan hal yang sama seperti kakak-kakak laki-laki yang lebih besar.
Memang benar, stan tembak itu paling banyak dikerumuni anak laki-laki SD.
Kalau dari sudut pandang anak cowok, pasti ini terlihat lebih keren daripada lempar gelang atau tangkap yo-yo. Aku paham sekali kenapa Iku jadi tertarik.
“Katanya boleh. Syukurlah, kan?”
Akiyama kembali lalu mengusap kepala Iku.
Dengan wajah tegang, Iku masuk antrean dan menunggu gilirannya.
“Semangat, Iku.”
“Iya.”
Kalau Soyoka sudah memberi semangat, dia harus berhasil!
Meski semangat itu sendiri setengah hati karena mata Soyoka masih tertuju ke yo-yo...
Akhirnya tiba juga giliran Iku.
Mungkin karena tubuhnya masih kecil, dia dibolehkan berdiri cukup maju. Jaraknya cukup dekat sampai kalau dia mengulurkan tangan sambil memegang senapan, rasanya dia hampir bisa meraih hadiahnya langsung.
Penjaga stan memasang peluru gabus, lalu dengan moncongnya tetap mengarah ke depan, dia menyerahkan senapan itu dengan hati-hati pada Iku.
Tugasnya tinggal membidik lalu menarik pelatuk.
“Aku akan berusaha.”
“Iku...”
Iku berdiri dengan kedua kaki terbuka selebar bahu dan wajah serius. Di belakangnya, Akiyama yang melihat juga ikut serius.
Hadiah yang dibidik Iku adalah pistol air mainan kecil. Letaknya memang agak goyah, jadi kalau kena sedikit saja seharusnya langsung jatuh.
Sesuai dugaan untuk stan anak-anak, penataannya memang dibuat agar benar-benar bisa dapat hadiah.
Tembakan pertama. Terdengar bunyi kering, dan tirai di belakang hadiah bergoyang. Meleset.
Penjaga stan itu mengisi ulang senapannya.
Tembakan kedua dan ketiga juga meleset.
Meski begitu, Iku tidak kehilangan fokus. Tanpa pecah konsentrasi, dia menembakkan peluru keempat sekaligus yang terakhir.
Aku tidak sempat mengikuti arah peluru gabusnya dengan mata. Tapi kali ini, tirainya tidak bergoyang.
Sesaat kemudian, pistol air itu bergoyang. Lalu jatuh ke belakang.
“Dapat!” seru Iku dengan penuh sukacita.
Di belakangnya, Akiyama mengusap dadanya pelan, seperti baru lega.
Iku menerima pistol air kuning itu dari penjaga stan lalu kembali pada kami dengan wajah berseri-seri.
“Aku dapat!”
“Hebat banget.”
“Iku hebat! Soka juga mau coba!”
Melihat Iku berhasil, Soyoka jadi tertarik juga.
Dia langsung masuk ke antrean di belakangnya dengan semangat.
Akiyama kembali lagi sambil mengangguk puas.
“Memang Iku-ku. Lawan apa pun pasti bisa dia kalahkan.”
“Lawan?”
“Iya. Pertama-tama, ayo pakai pistol air itu untuk mengalahkan Kyouta.”
Kenapa orang ini selalu mencoba mengalahkanku setiap ada kesempatan?
Sebagai tambahan, Soyoka meleset di semua tembakannya lalu ngambek dan berkata, “Soka nggak mau main lagi.” Sebagai pelampiasan, aku mengambil alih dan menjatuhkan semua target. Sambil dipelototi Akiyama dan penjaga stan, aku justru jadi pahlawan bagi anak-anak SD laki-laki di sana.
Setelah itu, kami menikmati festival musim panas sambil makan dan bermain.
Kurasa Soyoka dan Iku juga benar-benar bersenang-senang.
Melihat mereka senang, aku dan Akiyama juga ikut puas.
“Sudah, kita pulang sebentar lagi?” tanya Akiyama setelah kami selesai mengelilingi semua stan.
“Tapi Soka masih mau makan!”
“Kamu sudah kenyang. Lagipula, Soyoka, rencana hari ini belum selesai.”
“Perut Soka sakit... tapi masih mau makan...”
Padahal dia sudah menaklukkan semua jenis makanan yang ada sedikit demi sedikit...
Aku sendiri yang juga ikut menghabiskan sisa-sisanya sudah kenyang banget.
“Setelah ini kita ngapain?” tanya Iku, mewakili Soyoka yang sedang galau antara mau makan dan tidak.
“Setelah ini... kita main kembang api di halaman rumah!”
“Kembang api!”
Begitu mendengar itu, Soyoka langsung kembali bersemangat.
Bukan kembang api besar seperti yang kulihat bersama Akiyama. Tapi kembang api tangan.
“Onii-chan, cepetan ayo pulang!”
Soyoka menarik tanganku.
Kami berempat mengobrol sambil meninggalkan taman dan berjalan pulang. Tanpa terasa, langit sudah memerah.
Suhunya juga mulai turun dan terasa pas. Kalau kami mulai main nanti, sepertinya hari sudah gelap.
“Setiap hari menyenangkan! Libur musim panas memang hebat.”
Libur musim panas yang penuh acara ini juga sudah mendekati akhirnya.
Kalau Soyoka menikmatinya, berarti semua rencana yang kubuat tidak sia-sia.
Dan karena ada Akiyama serta Iku, semuanya jadi jauh lebih seru. Aku harus berterima kasih pada mereka.
“Kembang api, kembang api, kem-bang-a-pi.”
Begitu sampai di rumah, Soyoka mulai bernyanyi riang. Lagu orisinal, ya? Apa dia jenius? Dia mungkin bisa jadi penyanyi sekaligus penulis lagu.
Aku mengisi ember dengan air lalu meletakkannya di halaman.
Kembang api yang kubeli kemarin kuambil keluar lalu kususun di atas meja taman. Sebatang lilin kutancapkan di tanah lalu kunyalakan.
“Mainnya gimana?”
Soyoka mengambil satu kembang api lalu mengayunkannya.
“Terbalik. Yang dinyalakan itu bagian sumbunya di sini. Dan ini panas, jadi jangan disentuh langsung.”
“Iya~”
“Dan nggak boleh diarahkan ke orang juga.”
“Ngerti~”
Soyoka menjawab setengah hati sambil mendekat ke lilin.
Apa dia benar-benar mengerti ya...?
Aku menyalakan kembang api pertama lalu menyerahkannya ke Soyoka. Sumbunya cepat habis terbakar, lalu mesiu di dalamnya menyala.
“Waa...” gumam Soyoka penuh kagum.
Dari batang kembang api yang panjang dan tipis itu, bunga api berwarna-warni beterbangan sambil berdesis.
Cahayanya terang dan memantulkan sinar indah di ruang yang mulai gelap.
Iku, yang juga memegang satu kembang api, berdiri di samping Soyoka.
“Keren! Cantik!”
“Iya. Cantik sekali. Baiklah, sekarang foto... nggak.”
Ponsel yang hampir saja kuambil kukembalikan lagi ke saku.
Pemandangan bunga api yang berkelap-kelip sesaat sebelum padam, dan senyum Soyoka yang diterangi cahaya itu, adalah sesuatu yang tak akan pernah bisa ditangkap sempurna oleh foto.
Sebagai gantinya, akan kubakar kuat-kuat ke dalam ingatanku supaya tidak terlupakan.
“Sudah habis.”
“Pun yang ini.”
Kembang api memang cepat sekali habis.
Tadi baru saja memercikkan bunga api yang ramai, sekarang tinggal bara kecil yang menyisakan asap tipis.
Soyoka menatapnya dengan sedih.
“Masih banyak kok! Kamu bisa main sebanyak yang kamu mau.”
“Benewan? Soka mau main seratus!”
Selanjutnya, aku menyuruh Soyoka menyalakan sendiri kembang apinya.
Soyoka mendekatkan ujung kembang api di tangannya ke api lilin dengan ragu-ragu, lalu berhasil menyalakannya.
Sekali lagi, bunga cahaya mekar di tangan Soyoka.
Sambil tertawa dan berseru girang, Soyoka dan Iku terus bermain kembang api.
“Kelihatannya mereka aman.”
“Iya. Dan dua-duanya kelihatan senang sekali.”
Aku dan Akiyama mengawasi mereka dari selangkah di belakang.
“Mungkin ini terdengar aneh, tapi...”
“Apa?”
“Menurutku... ini justru lebih bagus daripada kembang api besar yang kita lihat waktu itu.”
Pergi melihat kembang api berdua saja dengan Akiyama memang menyenangkan dengan caranya sendiri.
Tapi untuk kami, rasanya memang ada yang kurang kalau tidak ada Soyoka dan Iku. Kembang api yang mereka pegang di tangan justru terlihat berkali-kali lebih indah.
“Kamu baru sadar sekarang? Jangan bilang hal yang sudah jelas.”
“Haha. Iya, kamu benar.”
Aku lebih bahagia kalau Soyoka sedang bersenang-senang daripada kalau aku sendiri yang senang. Dan Akiyama pun sama.
Makanya, saat ini, melihat dua anak itu bermain dengan gembira terasa paling membahagiakan.
Aku benar-benar senang Akiyama dan Iku ada di musim panasku tahun ini. Itu yang kupikirkan dari lubuk hati.
Soyoka dan Iku tumbuh dengan kecepatan yang menakutkan setiap harinya. Bagi mereka, waktu seperti ini pasti juga akan berlalu secepat kembang api.
Mungkin nanti saat besar mereka sudah melupakannya sepenuhnya. Tapi itu tidak masalah.
Kalau sedikit saja rasa bahagia ini tertinggal di hati mereka, itu pasti akan menemani mereka seumur hidup.
“Hey, Akiyama. Semester dua nanti, ayo tetap akur juga.”
“Apa-apaan tiba-tiba formal begitu? Seram.”
“Bisa nggak sih kamu tambahin sedikit rasa kasih sayang dalam jawabanmu...?”
Serius deh... tadi suasananya bagus banget...
Rasanya memalukan kalau yang terbawa perasaan ternyata cuma aku.
Saat aku mengangkat bahu, Akiyama mendengus pelan.
“Bukan cuma semester dua, tahu. Mereka masih kelas kecil, tahu? Masih lama sampai lulus.”
Mereka akan lulus dari taman kanak-kanak dua setengah tahun lagi. Bahkan setelah aku lulus SMA pun, mereka masih tetap di TK.
Kalau dipikir begitu, memang benar jalan kami masih panjang.
“Maaf, kamu benar.”
“Benar-benar. Jangan-jangan kamu meremehkan tugasmu sebagai teman sesama orang tua-ku.”
Entah kenapa, justru saat dia ngomel begini dia kelihatan paling menarik...?
Serius, ke mana perginya sikap manisnya tempo hari? Kalau aku bilang begitu nanti dia pasti marah lagi, jadi lebih baik kusimpan saja. Akan gawat kalau dia jadi tidak mau memperlihatkannya lagi padaku.
Tepat saat aku memikirkan itu, Akiyama menarik ujung lengan bajuku pelan dengan ujung jarinya lalu tersenyum malu-malu.
“Dan... jangan lupakan juga soal setelah itu.”
Meski matahari sudah benar-benar tenggelam, pipi Akiyama tampak merah terang.
Soal setelah itu. Saat kami bukan lagi teman sesama orang tua. Bagaimana hubungan kami nanti akan berubah?
“Ah!”
Soyoka, yang seharusnya masih asyik bermain kembang api, tiba-tiba menunjuk ke arah kami.
“Onii-chan sama Sumi-chan lagi mesra!”
“Nee-chan hebat.”
Akiyama langsung menjauh.

Akiyama membenahi rambutnya, wajahnya kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Akiyama yang biasa.
“Soyoka-chan, aku dan Kyouta tadi tidak sedang mesra.”
“Tadi iya.”
“Tidak.”
Akiyama menyangkal dengan tegas pada Soyoka yang sedang tersenyum lebar.
Benar. Aku dan Akiyama tadi cuma sedang bicara biasa.
Tapi entah kenapa, makin dia menyangkal, senyum Soyoka malah makin lebar.
“Baiklah, Soyoka, sekarang Onii-chan akan menunjukkan jurus pamungkas.”
“Jurus pamungkas?”
“Iya. Pegang empat sekaligus!”
“Soka juga mau!”
Begitu permainan kembang api dimulai lagi, Soyoka langsung lupa soal kami.
Pemandangan Soyoka dan Iku bermain kembang api, lalu aku dan Akiyama mengawasi mereka dari belakang...
Saat ini, waktu seperti itulah yang paling berharga bagiku, dan kurasa Akiyama juga merasakan hal yang sama.
Rasanya aku mulai mengerti apa yang dimaksud Akiyama saat dia bilang ingin menjadi keluarga.
Kami tidak bisa lagi disebut sekadar “teman sesama ibu”, tapi juga belum bisa disebut kekasih.
Lebih dari apa pun, yang kuinginkan adalah agar kami berempat bisa terus bersenang-senang bersama, seperti keluarga.
Hubungan kami tidak perlu buru-buru diputuskan. Biarkan saja itu juga tumbuh perlahan.
Untuk sementara waktu lagi, keseharian kami akan terus berlanjut... dalam hubungan istimewa bernama “teman sesama Ibu”.