Libur musim panas sudah masuk ke paruh akhirnya.
Dan hari ini, ada acara besar khas musim panas.
Benar, festival kembang api.
Sebenarnya sejak sebelum liburan musim panas dimulai, aku sudah mencari tahu soal ini dengan niat mau mengajak Soyoka. Tapi...
“Soyoka, kita perlu bicara.”
“Hmm?”
“Jadi, kamu tetap nggak mau ikut sama Onii-chan hari ini?”
“Nggak mau!”
“Ti-daaak!”
Ditolak sejelas itu, aku langsung menjerit pilu. Rasanya sekarang aku bahkan bisa jadi model baru untuk lukisan The Scream.
Kalau bicara musim panas, ya pasti bicara kembang api. Dan festival kembang api yang diadakan hari ini adalah salah satu yang terbesar di prefektur ini. Mana mungkin aku tidak pergi.
Tentu saja, sudah jelas dari awal rencanaku adalah pergi bersama Soyoka.
Tapi...
“Hari ini aku mau main sama Mama!”
“Jadi kamu sudah nggak butuh Onii-chan!?”
“Nggak butuh~”
Dia memilih Mama daripada aku...
“Masih saja membahas itu? Sudah kubilang dari dulu kalau hari ini aku yang akan membawa Soyoka.”
“Ini negosiasi terakhirku! Lagi pula, kan nggak harus hari ini juga!”
“Aku baru akhirnya bisa dapat satu hari libur,” kata ibuku dengan ketus sambil berdandan.
Waktu ulang tahun Soyoka, dia memang berjanji akan mengambil cuti suatu hari nanti. Memang sudah agak lama berlalu, tapi akhirnya hari ini juga jadi hari di mana dia benar-benar bisa libur.
“Aku pergi sama Mama!”
“Iya dong~, hari ini Soyoka pergi bareng Mama ya~”
“Iya! Kita mau pergi ke mana?”
“Ke taman hiburan.”
“Taman hiburan!”
Soyoka langsung senang setengah mati.
“S-Soyoka...? Hari ini kamu nggak mau main sama Onii-chan...? Aku bakal ajak kamu ke mana pun kamu mau!”
“Aku maunya Mama.”
“Ada festival kembang api loh! Kamu nggak mau lihat kembang api?”
“Nggak mau.”
“Di sana juga ada makanan enak...?”
Aku sudah mencoba segala cara buat merebut kembali hati Soyoka, tapi dia sama sekali nggak goyah.
Kalau aku memikirkan kebahagiaan Soyoka, memang harusnya hari ini aku mengalah untuk Mama... aku tahu itu.
Ingatan saat Soyoka menangis karena rasa cemasnya memuncak, takut dirinya tidak dicintai ibunya, masih terasa sangat jelas. Sikap Mama memang jauh lebih lembut sejak ulang tahunnya, tapi pada akhirnya waktu yang mereka habiskan bersama tetap belum banyak bertambah.
Dan di tengah semua itu, akhirnya datang juga hari libur yang sudah lama ditunggu. Wajar saja kalau Soyoka sangat menantikannya.
Hari ini, aku ingin dia dimanja ibunya sepuas hati, dan benar-benar merasakan seperti apa rasanya punya seorang ibu.
“Aku tahu, tapi aku juga pengin main sama Soyoka...!”
Fakta bahwa kami sebenarnya main bersama setiap hari akan kuabaikan untuk saat ini.
Bahkan ke taman hiburan pun, aku juga pengin ikut pergi bersama Soyoka...
“Onii-chan nggak boleh ikut!”
“Guh!”
Kata-kata tajam Soyoka langsung menjadi serangan penutup yang mematikan. Aku ambruk ke lantai tanpa sempat menahan diri.
Tunggu, jangan-jangan dia bosan padaku karena selama libur musim panas kami terus bersama!? Kalau cuma berdua denganku dia manis, tapi begitu ada orang lain langsung pindah ke sana... apa aku ini cuma pria cadangan yang dipakai saat perlu...?
“Kamu menghalangi, jadi jangan rebahan di tengah ruangan.”
“Aku nggak bisa... aku udah nggak bisa bangun lagi...”
“Apa? Kamu juga mau kumanja, Kyouta? Mau balik jadi bayi? Kamu memang kekanak-kanakan.”
“Jangan. Jijik.”
“Baiklah.”
Ibuku sengaja melangkah melewatiku.
Kapan terakhir kali aku melihat dia mengenakan baju santai?
Karena dia selalu memakai setelan kerja, mungkin dia memang tidak tahu harus memilih pakaian santai seperti apa. Pada akhirnya dia memakai setelan warna linen yang bentuknya mirip pantsuit. Hanya saja, riasannya terlihat lebih mencolok daripada biasanya.
Jangan-jangan dia juga sedang berusaha tampil lebih baik dengan caranya sendiri...
“B-Baiklah, festival kembang api itu ramai banget, jadi buat Soyoka juga pasti berat. Kita harus menunggu lama sampai mulai, dan lebih baik pergi nanti saat dia sudah agak besar. Betul, memang dari awal kita juga nggak berencana pergi...” gumamku untuk menenangkan diri sendiri.
Buat Soyoka, mungkin justru bermain kembang api tangan di halaman rumah akan lebih menyenangkan daripada pergi ke festival kembang api besar seperti itu.
Lagipula, di taman dekat rumah juga ada festival musim panas kecil. Musim panas kami belum berakhir...!
“Kamu nggak punya pacar atau semacamnya? Pergi saja sama cewek.”
“...Bukan urusanmu.”
Benar-benar bukan urusannya. Gara-gara dia, aku jadi teringat pada Akiyama.
Tentu saja, dia bukan pacarku, melainkan teman sesama orang tua. Jadi nggak ada alasan mengajaknya kalau Soyoka sendiri nggak ikut.
“Ooh, reaksi itu berarti memang ada gadis yang menarik ya?”
“Nggak ada. Sana pergi.”
“Aku bakal pergi bahkan kalau kamu larang~”
Begitu Mama berkata begitu, Soyoka ikut menirukannya sambil tertawa, “Aku pergi~”
Mama dan Soyoka kelihatannya sudah siap, lalu mereka meninggalkan ruang tamu dan meninggalkanku sendirian. Karena dia belum pernah punya pengalaman pergi bermain bersama ibunya, Soyoka tampak sangat senang. Kalau Soyoka bahagia, aku tinggal diam saja menelan air mata.
“...Hari ini aku harus ngapain ya...”
Karena selama ini aku selalu bersama Soyoka, aku sampai lupa bagaimana caranya menghabiskan waktu sendirian.
Aku juga nggak punya hobi... Mungkin aku akan pergi ke supermarket dan meneliti mainan yang kira-kira bakal disukai Soyoka!
Kalau ada yang bagus, sekalian bisa kubeli. Hehehe, wajah Soyoka yang bahagia sudah terbayang di kepalaku. Aku harus mengumpulkan poin supaya bisa merebut hatinya kembali.
Saat aku sedang memikirkan cara memakai waktu luang yang datang tak terduga ini, ponselku berdering.
Ternyata telepon dari Akiyama.
“Halo, ini Kuremoto.”
“Ah, Kyouta? Hari ini ada festival kembang api, kan? Kamu jadi pergi sama Soyoka-chan?”
“Ah... maaf, aku baru saja ditolak.”
“Hah?”
“Mau dengar ceritaku? Ini kisah epik yang cukup menyayat hati...”
“Singkat saja.”
“Soyoka pergi main sama ibunya.”
“Itu sama sekali nggak terdengar seperti kisah sedih, Kyouta. Dan memang nggak panjang juga.”
Nggak mungkin... ini seharusnya kisah yang bisa bikin orang menangis sebesar film remaja populer yang dibintangi aktor tampan terkenal. Bahkan sekarang air mata masih mengalir dari mataku.
“Yah, begitulah kejadiannya, jadi walaupun kamu tadi mengajak, maaf ya. Nggak enak kalau aku sendirian ikut ke tengah keluarga kalian saat Soyoka sendiri nggak ada.”
Padahal ajakannya datang pas sekali, jadi sayang sekali.
Awalnya memang Mama sudah dijadwalkan libur hari ini, jadi aku juga belum membuat janji apa pun dengan Akiyama. Aku tadi sempat mencoba merebut kembali hati Soyoka di detik terakhir, tapi tentu saja gagal total.
“Aku sebenarnya ingin pergi.”
Kata-kata itu keluar begitu saja.
Sudah jelas kalau yang paling kuinginkan adalah pergi bersama Soyoka.
Tapi pergi melihat kembang api bersama Akiyama dan Iku juga terdengar menyenangkan.
“Maaf. Yah, bersenang-senanglah...”
“Tunggu.”
Saat aku minta maaf lalu hendak menutup telepon, Akiyama menahanku.
“Kyouta. Soal hari ini...”
“Ya? Tadi juga sudah kubilang, Soyoka nggak ada, dan aneh juga kalau aku sendirian ikut ke tengah lingkaran keluargamu.”
“Dengar dulu sampai habis. Ibu nggak suka keramaian, dan Iku sendiri bilang dia cuma mau pergi kalau Soyoka-chan ikut, jadi dia sebenarnya juga nggak terlalu ingin pergi.”
“Begitu ya. Kalau gitu makin nggak ada alasan juga, tanpa Soyoka...”
Itu benar-benar kejam sekali. Bukan Akiyama, tapi Mama! Dia merebut Soyoka dariku... ibu macam apa itu!
“Bukan itu maksudku, lihat... justru bukan aku, tapi ibuku yang sudah menyiapkan yukata. Katanya ini momen spesial. Tapi sayang banget kalau nggak jadi dipakai, kan?”
“Oho, jadi Sachi-san mau pakai yukata?”
“Punyaku.”
Bahkan lewat telepon, suara Akiyama tetap setajam biasanya.
Jadi Akiyama memang sudah berniat mengenakan yukata untuk festival kembang api ini. Akiyama memakai yukata... jujur saja, aku sangat ingin melihatnya. Dia cantik dan punya bentuk tubuh yang bagus, jadi pasti cocok.
“Eh, Akiyama... kalau kamu mau, gimana kalau kita pergi berdua saja?”
Tanpa kusadari, kata-kata itu sudah terucap.
“Eh?”
Leherku berdenyut. Meski begitu, aku tetap berusaha menjaga suaraku tetap tenang.
“Ah... maksudku, sekalian kita cek suasananya dulu, buat nanti kalau kita datang lagi sama Soyoka dan yang lain.”
Suaraku sedikit gemetar.
Tapi alasan kenapa aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini jelas karena apa yang dikatakan Hiiragi padaku beberapa waktu lalu.
Supaya aku tidak punya penyesalan soal Akiyama...
Dari ujung sana terdengar suara tarikan napas.
“....Aku juga sedang memikirkan hal yang sama.”
“Seperti yang diduga dari teman sesama orang tua.”
“Tentu saja. ...Kalau kamu terlambat, aku nggak akan memaafkanmu.” katanya cepat lalu langsung memutus telepon.
Ya ampun, dia benar-benar nggak jujur. ...Kurasa aku juga sama. Bahkan untuk mengajaknya keluar saja aku masih harus memakai Soyoka sebagai alasan.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini pesan singkat. Cuma dua angka: “4.”
Kurasa dia baru sadar tadi bilang tidak akan memaafkanku kalau terlambat, tapi kami bahkan belum menentukan jamnya. Sepertinya Akiyama sendiri juga lumayan panik.
“...Aku harus menenangkan diri sebelum bertemu dengannya.”
Masih ada waktu. Aku minum teh dulu lalu menenangkan diri.
Tapi masa tenang itu lenyap dalam sekejap.
Aku baru sadar ternyata aku sendiri nggak punya yukata, lalu buru-buru keluar untuk membeli satu, dan tahu-tahu jam pertemuan sudah tiba.
“Hah... nyaris nggak telat...”
Aku sampai di stasiun lima menit sebelum waktu janjian. Benar-benar mepet.
Pakaianku adalah yukata biru tua yang sederhana. Ini pertama kalinya aku memakainya, tapi karena di stasiun ada banyak orang lain yang juga berpakaian yukata, aku jadi tidak terlalu malu.
Padahal sebenarnya aku bisa saja datang pakai baju biasa, dan dalam keadaan normal aku pasti akan begitu.
Tapi saat mendengar tadi Akiyama sendiri akan memakai yukata... kupikir sebagai bentuk sopan santun, sebaiknya aku juga datang memakai yukata.
“Umm, Akiyama ada di...”
Aku melihat sekeliling di depan gerbang tiket.
Meskipun ada banyak orang berpakaian serupa, aku langsung menemukan Akiyama. Karena dia paling menonjol di antara semuanya.
“Lihat deh gadis itu. Cantik banget...”
“Wah, imut sekali.”
Gadis yang menarik semua tatapan orang di sekitarnya itu berdiri tegak di dekat dinding, seolah sama sekali tak terganggu.
Dan seolah-olah orang-orang di sekeliling tanpa sadar memberinya ruang, ada area kosong di sekitarnya.
Jantungku yang tadi sudah berhasil kutenangkan mulai berdebar kencang lagi.
Dan entah kenapa, timbul rasa unggul yang aneh karena aku tahu cuma akulah orang yang sedang dia tunggu.
Aku menarik napas panjang lalu menghampiri Akiyama.
“Ah, Akiyama. Maaf bikin kamu menunggu.”
“Kamu pas waktu. Karena aku sedang murah hati, aku maafkan.”
“Kalau aku telat, memangnya bakal diapain...?”
Aku merinding ngeri. Hari ini nyaris saja jadi hari kematianku...
Akiyama menatapku dengan ekspresi datar. Apa dia sedang memikirkan cara menyiksaku sampai mati?
“Kenapa?”
“...Kamu nggak ada apa-apa yang mau kamu bilang?”
“Hm?”
“Begitu ya. Berarti memang nggak ada.”
Akiyama memalingkan wajah dengan kesal.
Baru saat itu aku paham apa yang sebenarnya dia tunggu.
Aku menatapnya lagi, dari kepala sampai kaki.
Dia mengenakan yukata biru muda bermotif bunga asagao. Rambut panjangnya ditata rapi ke atas, dan tanpa sadar pandanganku tertarik pada tengkuknya.
Wajahnya memakai riasan tipis, dan dipadukan dengan pakaian itu, dia tampak lebih cantik dan lebih manis dari biasanya.
Hanya dengan berganti pakaian, dia memancarkan aura luar biasa yang berbeda dari keseharian.
“Umm... menurutku cocok banget.”
“Aku tahu.”
Dia tersenyum, hanya dengan sedikit mengangkat ujung bibir.
Sepertinya itu jawaban yang lolos. Akiyama mulai berjalan, suara geta-nya berdetak kecil.
“Ayo.”
“I-Iya.”
Hari ini Akiyama sedang dalam suasana hati yang luar biasa baik.
Tas serut kecil dengan motif senada yukatanya bergoyang ringan, seolah ikut mencerminkan suasana hatinya.
“Aku menantikannya.”
“Kamu sesuka itu sama kembang api?”
“Iya. Aku nggak membencinya.”
Aku sudah berkali-kali pergi ke luar bersama Akiyama.
Tapi selalu ada Soyoka dan Iku bersama kami. Satu-satunya saat kami benar-benar cuma berdua paling hanya ketika kebetulan pulang dan pergi sekolah bersamaan.
Jadi ini pertama kalinya kami benar-benar pergi keluar berdua saja.
Hubungan teman sesama orang tua yang selama ini cuma terikat lewat adik-adik kami. Tapi hari ini, hanya untuk hari ini, kami pergi ke festival kembang api sebagai teman biasa.
Kami naik kereta dan menuju Minato Mirai. Hari ini ada festival kembang api berskala besar yang disponsori koran lokal. Acara yang setiap tahunnya menarik ratusan ribu pengunjung.
Kereta penuh sesak, mungkin oleh orang-orang yang menuju ke tempat yang sama.
Aku berdiri di sebelah Akiyama sambil memegang strap tangan. Begitu penuh sampai bahu kami nyaris saling menempel.
“Jadi kamu datang pakai yukata juga ya, Kyouta?”
“Iya. Kebetulan lagi pengin saja.”
“Hee hee hee. Begitu ya. Anak baik.”
“Sebuah kehormatan dipuji oleh Anda.”
Akiyama luar biasa ceria hari ini, sampai aku sendiri bingung harus menanggapi bagaimana. Wajah cemberut biasanya sama sekali tak terlihat, dan rautnya tampak jauh lebih lembut.
Aneh. Bukannya biasanya dia tiap buka mulut langsung menghina aku?
Sepanjang di kereta, dia terus tersenyum.
Aku diam-diam melirik profil wajah Akiyama.
Rambutnya yang ditata rapi memperlihatkan garis samping wajahnya dengan jelas, dan ekspresi senangnya saat berbicara terlihat begitu jelas.
“Ibuku yang mengerjakannya.”
“Eh?”
“Rambutku. Tadi kamu lihat, kan? Aku kan biasanya nggak pernah menatanya begini, jadi rasanya agak aneh.”
Akiyama menatap pantulan jendela kereta sambil sedikit menyentuh rambutnya.
Padahal yang kulihat itu wajahmu, bukan rambutmu.
“Soyoka-chan hari ini pergi sama ibumu, ya?”
“Iya. Ibuku akhirnya bisa ambil cuti, jadi dia pergi main dengan gembira.”
“Kamu ditinggalkan ya, Kyouta? Kasihan.”
“Itu nggak benar! Mana mungkin Soyoka meninggalkanku!”
“Tolong jangan terlalu keras di kereta.”
Ups, suaraku tadi agak terlalu keras.
Nah, ini baru Akiyama yang biasanya. Betul, dia memang harus begini.
“Kalau dilihat orang luar, ini kelihatannya kayak situasi di mana kamu ditolak pemeran utama, terus akhirnya datang sama cewek cadangan.”
“Yah, secara garis besar memang begitu...”
“Untuk orang yang menjadikanku pengganti, kamu lumayan berani ya, Kyouta.”
“Nggak ada siapa pun yang bisa jadi pengganti Soyoka, sih.”
Tetap saja, ini benar-benar ramai.
Mungkin memang lebih baik aku tidak membawa Soyoka... Dengan begini saja pulangnya pasti akan malam, dan itu bakal berat buat Soyoka dan Iku. Bahkan aku sendiri saja sudah cukup lelah.
“...Sudah sampai.” gumam Akiyama saat mendengar pengumuman di kereta.
Sepertinya sebagian besar penumpang memang turun di sini. Begitu pintu terbuka, semua orang langsung bergerak bersamaan.
“Kyouta...”
Saat aku hendak ikut turun mengikuti arus orang, seseorang menarik lengan bajuku dengan lembut.
Sementara itu tubuhku sendiri terus terdorong dan terhimpit orang-orang di sekeliling.
Dalam keramaian seperti ini, kalau cuma mencubit lengan baju memang rasanya tidak cukup. Aku pun meraih tangan Akiyama dengan tangan kiri dan menariknya lebih dekat.
“Yah, kamu tahu sendiri. Aku juga biasa melakukan ini ke Soyoka.”
“...Jangan perlakukan aku seperti anak kecil.”
“Kalau sampai kita terpisah, bakal repot.”
Jari-jari Akiyama yang ramping membalas menggenggam tanganku dengan lembut.

Untuk beberapa saat, kami terus berjalan sambil bergandengan tangan. Setelah melewati gerbang tiket, tangan kami terlepas, meskipun tidak ada satu pun dari kami yang memulai lebih dulu.
Di luar gerbang, ruang geraknya sedikit lebih lega. Kami mulai berjalan lagi berdampingan.
“Jadi kita mau lihatnya dari Yamashita Park, kan?”
“Iya. Memang agak jauh dari titik utama, tapi justru karena itu tempatnya nggak seramai lokasi-lokasi populer.”
“Karena kembang apinya besar, justru dari agak jauh mungkin lebih gampang dilihat.”
Kami berbicara dengan ekspresi biasa saja, sama sekali tanpa membahas soal tangan kami yang tadi saling menggenggam.
Tadi itu memang cuma supaya kami tidak terpisah.
Nggak ada makna lebih dari itu.
Tapi tetap saja, sensasinya masih sangat jelas tertinggal di tangan kiriku.
“Aneh ya? Kita bisa datang ke sini, cuma berdua, tanpa Iku dan Soyoka-chan.”
“Iya. Ini belum pernah terjadi sebelumnya... Apa salah ya aku mengajakmu?”
“Kalau begitu itu sama saja aku yang mengajakmu. Aku cuma membiarkanmu yang mengucapkannya lebih dulu.”
“Hah, kamu ngomong apa? Tadi jelas-jelas kamu panik.”
“Itu... ya mau bagaimana lagi.”
Pipinya memerah samar, dan dia memonyongkan bibir.
“...Aku juga malu, tahu.”
Nggak, nggak, nggak, tunggu sebentar.
Eh? Akiyama memang selama ini secantik ini ya?
Dan sekarang dia sampai malu-malu begini... rasanya seperti sedang melihat gadis yang sedang jatuh cinta...
Wajahku sendiri juga mulai memanas.
Sejak malam di camping sampai sekarang, Akiyama yang kukenal rasanya sudah berubah total.
Dulu, bahkan kalau suasananya mirip begini pun, dia selalu menjaga batas dan sama sekali tidak keluar dari posisi sebagai “teman sesama Ibu.” Tapi sekarang dia jadi sejujur ini... walaupun kalau kupikir begitu, jadi terdengar seolah aku terlalu percaya diri.
Aku tidak sebodoh itu sampai sama sekali tidak menyadarinya.
Kecuali kalau aku memang terlalu percaya diri... Akiyama punya perasaan khusus padaku, sesuatu yang lebih dari hubungan “teman sesama orang tua” itu.
Dan aku sendiri juga memang punya perasaan lebih dari sekadar biasa pada Akiyama. Setidaknya itu bisa kuakui.
Tapi kenyataan bahwa prioritas utama kami tetap adik-adik kami, itu tidak berubah. Karena itulah selama ini kami tak pernah benar-benar mencoba mendekat lebih jauh.
“Kenapa kamu mengajakku? Karena aku kelihatan seperti ingin diajak?”
“...Yah, itu salah satunya. Tapi aku juga memang ingin datang.”
“Begitu ya. Makasih.”
Akiyama mengucapkan terima kasih singkat, lalu tersenyum malu-malu.
“Umm, Akiyama-san?”
“Apa?”
“Kamu kenapa sih sebenarnya?”
“Kenapa malah jadi pakai bahasa formal?”
“Yah, entahlah...”
Yang aneh itu justru sikapmu, bukan cara bicaraku.
Akiyama Sumi yang kukenal itu nggak secantik ini.
“...Maaf. Ini jadi bikin repot, ya? Soalnya sikapku tiba-tiba berubah.”
“Bukan repot, lebih ke bingung.”
“Aku kira aku bisa melakukannya dengan lebih baik, tapi ternyata nggak bisa. Aku memang nggak seahli itu.”
“Maksudmu apaan...?”
“Ah, sepertinya kita bisa duduk di sana.”
Jalan menuju taman itu lurus dan datar.
Tamannya cukup besar, tepat di tepi laut. Karena kembang apinya akan ditembakkan di atas permukaan air, dari sini seharusnya bisa terlihat dengan baik.
Tempat ini memang bukan lokasi tersembunyi, tapi relatif lebih sepi daripada tempat-tempat populer, jadi kelihatannya kami masih bisa menemukan celah untuk duduk.
Saat kami sampai, sudah banyak orang menunggu kembang api dimulai, tapi masih ada ruang. Kami menemukan tempat yang cukup bagus lalu menggelar tikar.
Karena merasa agak canggung, aku duduk dengan sedikit jarak.
“Kamu duduk jauh sekali.”
“...Aku sedang berasumsi kalau di antara kita ada Soyoka dan Iku.”
“Kamu ngomong apa sih, bodoh? Ini ramai, jadi kita harus duduk lebih dekat.”
Akiyama berdiri sekali, lalu duduk lagi tepat di sebelahku. Saat itu, bahu kami saling bersentuhan. Meski duduk dekat, bukankah ini terlalu dekat?
Karena percakapan kami terpotong, aku kehilangan kesempatan untuk bertanya soal apa maksud perkataannya tadi. Dan sekarang pun suasananya terasa tidak cocok untuk mengulang lagi.
Akiyama duduk sambil memeluk lutut, mengipasi tengkuknya dengan kipas tangan. Dia terlihat terlalu cantik, sampai aku buru-buru mengalihkan pandangan.
“Mau aku beli minuman lagi?”
“Nggak usah. Aku bawa sendiri.”
Karena merasa canggung, aku membuka percakapan. Benar juga. Baik aku maupun Akiyama memang sudah membawa minuman masing-masing.
Keringat yang menetes di dahiku ini karena panas, atau justru keringat dingin? Entahlah. Untuk sementara, aku menyeka keringat dengan saputangan lalu meneguk air.
Biasanya kami ngobrol soal apa, ya?
Saat aku sedang mencari-cari topik, Akiyama menatapku dengan ekspresi serius.
“Kalau Iku dan Soyoka-chan ada di sini, kita seharusnya bawa minuman lebih banyak. Kalau pergi beli nanti mungkin nggak bisa balik ke tempat ini. Sama makanan juga.”
“Itu benar. Tapi kalau mereka sampai mau ke toilet juga bakal repot, kan? Pasti antre banget.”
“Kamu benar. Kita harus pergi sebelum acara mulai...”
“Dan nanti semua orang di sini bakal langsung menuju stasiun sekaligus... kira-kira butuh berapa lama ya buat bisa naik kereta?”
“Masalah utamanya memang waktu tunggunya, kan? Mungkin memang lebih baik nanti waktu mereka sudah sedikit lebih besar...”
Percakapan kami hari ini paling lancar justru saat membahas itu.
Nah, ini dia!
Aku dan Akiyama adalah teman sesama orang tua. Kami datang ke sini untuk survei suasana lebih dulu, jadi memang seharusnya kami membicarakan hal seperti ini.
Percakapan yang sudah begitu familiar rasanya begitu nyaman sampai hampir melegakan.
“Hee hee hee. Bahkan saat cuma berdua begini pun, tetap saja kita membicarakan mereka ya?”
“Kepalaku memang sepenuhnya dipenuhi hal-hal tentang Soyoka.”
“Bahkan tadi waktu jalan ke sini, aku tanpa sadar malah melihat-lihat ada stan makanan apa yang kira-kira bakal disukai Iku...”
Aku juga sama. Karena acara utamanya memang kembang api, suasana festivalnya sendiri tidak terlalu kental, tapi tetap ada beberapa stan yang menjual yakisoba dan takoyaki. Dan aku terus membayangkan Soyoka pasti akan suka.
“Yah, memang begitulah kita.”
“Iya, kurasa begitu. Tapi hari ini aku datang ke sini dengan persiapan. Aku memang nggak pandai, dan juga nggak terbiasa menyembunyikan perasaanku. Jadi hari ini, aku ingin membicarakan cuma soal dirimu dan diriku, Kyouta, tanpa Iku atau Soyoka-chan.”
Akiyama menatapku lurus.
“Akiyama...”
“Jangan jawab apa-apa dulu.”
Akiyama melingkarkan kedua tangannya di bawah lutut dan menarik kakinya lebih dekat ke tubuh.
Seperti yang dia minta, aku menunggu diam sampai dia melanjutkan.
“Sebelum bertemu denganmu, Kyouta, dunia kecilku hanya berisi Iku. Aku tenggelam di dasar keputusasaan setelah kehilangan ayahku, dan Iku yang menyelamatkanku. Demi dia, aku rela membuang apa pun yang lain.”
Akiyama yang dulu mencurahkan segalanya demi Iku, bahkan sampai tidak peduli pada dirinya sendiri. Kesan tentang auranya yang berbahaya dan sikapnya yang tak berhubungan dengan siapa pun masih segar di ingatanku.
“Tapi, tahu nggak, itu salah. Yang kulakukan itu bukan benar-benar demi Iku... Aku cuma bergantung padanya. Dan yang membuatku sadar akan itu adalah kamu, Kyouta.”
Aku dan Akiyama memang sangat mirip.
Aku dengan Soyoka, dan Akiyama dengan Iku.
Kami tidak bisa mempertahankan jati diri kami kalau tidak sedang mencurahkan kasih sayang pada seseorang.
Ada bagian kosong dalam diri kami masing-masing.
Aku yang tak pernah menerima cinta dari orang tua, dan Akiyama yang kehilangan cinta yang dulu dimilikinya. Bentuknya memang berbeda, tapi yang mengisi lubang besar itu bagi masing-masing kami adalah Soyoka dan Iku.
“Berkatmu, Kyouta, aku jadi mengenal dunia luar. Aku jadi sadar betapa kekanak-kanakannya diriku. Dan juga betapa aku terlalu bergantung pada Iku.”
“Waktu kamu tumbang dulu?”
“Iya... Kalau kamu nggak menghentikanku waktu itu, Kyouta, kurasa aku nggak akan berubah. Aku akan terus berputar di tempat yang sama sambil bilang semua itu demi Iku.”
Dari speaker terdengar pengumuman festival kembang api.
Sepertinya acara akan segera dimulai.
Kami berdua mendongak ke langit yang mulai menggelap.
“Berbeda denganku, kamu luar biasa, Kyouta. Kamu lebih tahu soal pekerjaan rumah dan anak-anak daripada aku, dan kamu juga punya banyak teman. Meskipun Soyoka-chan itu nomor satumu, kamu tetap punya banyak hal lain... Tapi aku juga jadi tahu bahwa orang seperti kamu pun ternyata punya kelemahan.”
Saat ulang tahun Soyoka, Akiyama sudah menyelamatkanku. Aku sudah memperlihatkan kelemahanku padanya, dan dia menerimanya.
Aku juga tidak sempurna.
Aku sering cemas soal Soyoka, dan Akiyama juga banyak menjagaku. Bahkan hubunganku dengan ibuku sedikit membaik juga berkat Akiyama. Itu jelas sesuatu yang tidak akan bisa kulakukan sendirian. Seumur hidup kami selalu bertentangan.
“Kyouta, Hikaru... dan Amaya-kun. Setelah berinteraksi dengan dunia luar, aku sadar aku harus berhenti terlalu bergantung pada adikku. Hikaru mengajariku banyak hal. Hee hee, Hikaru dan Amaya-kun bilang hal yang sama. Bahwa aku menyukaimu, Kyouta.”
Jadi mereka membicarakan itu.
Dan ternyata Hiiragi memberi tahu kami berdua, ya. Dia harusnya urus cinta dirinya sendiri saja...
“Tapi mungkin mereka memang benar. Karena aku peduli padamu sampai sejauh ini, Kyouta.”
“Akiyama...”
“Aku bahkan sudah mencoba bersikap manis dan bergantung padamu seperti saran Amaya-kun. Rasanya memalukan, tapi juga sedikit menyenangkan. Sampai membuatku ingin jadi semakin bergantung padamu.”
Ternyata Amaya-kun juga memberinya nasihat aneh-aneh ya. Jadi itu alasan Akiyama akhir-akhir ini bertingkah begitu.
Pengumuman lain kembali terdengar dari speaker. Tanda dimulainya acara. Musik mulai mengalun.
Dari permukaan laut di kejauhan, cahaya-cahaya panjang melesat ke langit seperti air terjun yang mengalir terbalik.
“Hey, Kyouta.”
Meski kembang api sudah mulai, aku tidak bisa melepaskan pandangan dari Akiyama. Dan dia pun menatapku.
Bunga merah tergambar di mata Akiyama. Sesaat kemudian terdengar letupan beruntun di langit.
“Aku ingin menjadi keluarga.”
“...Menurutmu, bukankah kamu melewati beberapa langkah?”
“Itulah isi hatiku yang sebenarnya.”
Aku sempat mengira dia akan menyatakan cinta. “Aku suka kamu”, atau “Ayo pacaran.” Aku sudah membayangkan kata-kata seperti itu.
Dalam arti tertentu memang ini pengakuan, tapi maknanya sangat berbeda.
Bukan soal ingin jadi kekasih. Bukan soal ingin jadi pasangan suami istri atau saudara. Tapi tentang menggabungkan semua itu sekaligus dan ingin menjadi keluarga.
“Akiyama, itu bukan cinta...”
“Aku tahu.”
Itu memang bukan perasaan cinta romantis.
Akiyama mengalihkan pandangannya ke depan dan terus mengikuti kembang api dengan matanya.
Perasaannya padaku pasti adalah salah satu bentuk kasih sayang. Tapi bentuknya sendiri sudah terdistorsi.
Kalau kupikir lagi, itu memang jelas. Dia yang selama ini bergantung pada Iku, mulai berusaha mengurangi ketergantungannya dan melangkah keluar ke dunia luar. Kasih sayang yang kehilangan arah itu sekarang bergerak menuju tujuan baru berikutnya.
Akhirnya aku paham alasan perubahan Akiyama belakangan ini.
Akiyama sedang mengisi kekosongan di hatinya dengan menganggapku sebagai keluarga.
Itu bukan sesuatu yang secara umum disebut perasaan romantis.
Tapi... aku sendiri juga bukan orang yang normal.
Aku tidak bisa tidak menganggap seseorang yang datang padaku sambil mencari kasih sayang sebagai orang yang begitu berharga.
Kadang, pecahan kaca yang benar-benar berbeda justru bisa saling masuk dengan sangat pas. Dan itulah kami.
Akiyama yang mencari cinta yang pernah hilang, dan aku yang ingin percaya bahwa di dalam diriku masih ada cinta. Justru karena kami seperti inilah...
“Aneh ya? Aneh banget, kan?”
“Iya. Tapi aku sendiri juga sama anehnya.”
“Andai saja aku bisa bilang dengan yakin bahwa aku jatuh cinta padamu, Kyouta. Seperti anak SMA normal, mengajakmu pacaran. Seperti di film romantis.”
Sambil menonton kembang api, Akiyama perlahan menyandarkan berat tubuhnya padaku.
Sama seperti saat di bangku dek kayu waktu camping dulu, dia menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Tapi tahu nggak, bukan berarti aku sama sekali nggak punya perasaan romantis. Memang masih kecil, tapi itu jelas ada di dalam diriku. Kalau kamu mengizinkan, Kyouta... aku ingin membesarkan perasaan ini.”
Sekitar dua puluh ribu kembang api terus diluncurkan beruntun ke langit malam musim panas.
“Jadi untuk sekarang, izinkan aku bilang ini. Aku suka padamu, Kyouta. Nomor dua setelah Iku.”
Aku suka Akiyama Sumi. ...Kurasa begitu.
Tapi aku tidak yakin.
Rasanya aku sedikit mengerti apa yang dulu dikatakan Mizuki. Aku sendiri tidak tahu seperti apa rasanya menyukai seseorang. Karena aku tumbuh tanpa cinta, aku tidak bisa menilai apakah perasaan yang kupunya sekarang benar-benar perasaan romantis atau bukan.
Mungkin aku juga sama saja, cuma sedang mencari seseorang untuk mengisi lubang di hatiku.
Tapi setidaknya pasti ada sedikit... perasaan romantis yang sungguhan untuk Akiyama.
Jadi, aku pun membalas seperti ini.
“Aku juga suka padamu, Akiyama. Nomor dua setelah Soyoka.”
“...Iya.”
Kurasa itulah kata-kata yang paling pas.
Karena perasaan romantisku untuk Akiyama juga memang belum tumbuh sepenuhnya.
Setelah itu kami tidak berkata apa-apa lagi, hanya saling merapat dan menonton kembang api.
Begitu letupan terakhir di langit buyar, Akiyama pun menjauh dari bahuku.
Saat dia berdiri, ekspresinya sudah kembali seperti biasa.
“Ayo pulang.”
“Nggak ada sisa suasana manis sama sekali, ya...”
“Begitu pulang, kita harus mulai merencanakan jalan-jalan berikutnya. Iku dan Soyoka-chan juga harus merasakan festival musim panas dan kembang api. Benar, kan?”
“...Haha. Iya, kamu benar. Ayo langsung kita rencanakan.”
“Sampai mereka tumbuh besar, kita memang nggak punya waktu untuk memikirkan hal lain.”
Suasana manis itu rupanya hanya bertahan selama kembang api menyala.
Soyoka dan Iku masih kecil. Kami tetap harus mengawasi mereka.
“Ayo pergi sebelum makin padat.”
Karena kami cuma berdua, kami bisa bergerak cepat. Membereskan tempat juga tinggal melipat tikar.
Kami menyelinap melewati kerumunan dan buru-buru menuju stasiun.
Entah kenapa, mengingat percakapan kami tadi, suasananya terasa agak canggung.
Pada akhirnya, kembang apinya sudah keburu selesai sebelum kami benar-benar mencapai jawaban yang jelas.
“Akiyama.”
Karena itu, aku memanggil namanya sekali lagi.
“Kita ini teman sesama ibu, kan?”
“Iya.”
“Hubungan teman sesama ibu demi Soyoka dan Iku.”
“Tentu saja.”
Itulah dasar hubungan kami.
Yang menghubungkan kami selama ini adalah posisi sebagai “teman sesama orang tua”, demi adik-adik kami.
“Tapi nanti, saat mereka sudah besar... dan kita sudah bukan teman sesama orang tua lagi. Waktu itu tiba, bolehkah kita lanjutkan percakapan ini?”
Jadi, untuk saat ini kesimpulannya kita tunda.
Memang rencana jangka sangat panjang, tapi... kurasa untuk kami, inilah waktu yang tepat.
Karena sekarang, kami sendiri masih sibuk dengan adik-adik kami dan juga diri kami sendiri.
“Aku mengerti.”
Akiyama mengangguk kecil menerima usulku.
Di depan stasiun yang dipenuhi orang-orang pulang dari festival kembang api, Akiyama berhenti.
Dia perlahan menoleh ke arahku. Lalu dia tersenyum lebar.
“Kalau begitu, sampai saat itu tiba, aku akan membesarkan perasaan ini.”
“...Iya. Aku juga.”
Hubungan kami, pada akhirnya, tidak berubah sedikit pun. Tapi kurasa perasaan kami jelas sudah berubah.
Dan setelah kembali lagi menjadi teman sesama orang tua, aku dan Akiyama pun pulang sambil tetap membicarakan adik-adik kami.