“Lagi hujan!”
Soyoka tertawa riang sambil membuka payungnya.
Pagi hari Senin, dan hujan. Sial sekali.
Aku memang punya penutup hujan untuk sepeda, tapi itu bikin pandangan jadi terbatas dan berbahaya, jadi aku tidak suka memakainya kecuali benar-benar sedang buru-buru. Kalau hari hujan, aku selalu berusaha berangkat lebih pagi dari biasanya lalu berjalan santai ke TK bersama Soyoka.
Sampai minggu lalu masih banyak hari cerah, tapi sepertinya sekarang musim hujan benar-benar mulai terasa, dan minggu ini kelihatannya akan terus basah.
“Soyoka, jangan lari. Bahaya.”
“Aku nggak lali. Onii-chan aja yang lambat!”
Soyoka mencipratkan air genangan dengan sepatu bot hujannya sambil tersenyum ceria. Payungnya disandarkan di bahu, lalu diputar-putarnya. Tubuhnya ikut berputar, lalu dia menatapku dengan senyum lebar. Imut banget...
Pemandangan ini benar-benar terasa seperti halaman photobook.
Bahkan cuaca hujan pun berubah jadi latar yang membuat Soyoka makin bersinar...
“Lihat, siput!”
Soyoka menemukan siput yang sedang merayap di dinding dekat situ lalu langsung melaporkannya padaku.
“Lucu.”
“Menurutmu begitu...? Jangan dipegang, kotor.”
“Oke.”
Kurasa itu hampir mirip bekicot kecil, tapi di mata Soyoka ternyata itu lucu.
Bahkan perjalanan biasa menuju TK pun terasa menyenangkan kalau bersama Soyoka!
“Soyoka, sebentar lagi ulang tahunmu.”
“Soka bakal lahil?”
“Betul. Itu hari ketika Soyoka lahir. Kita rayakan besar-besaran.”
“Pesta! Aku nggak sabal.”
Ulang tahun Soyoka jatuh akhir pekan ini. Dia akan genap berusia empat tahun.
Entah kenapa hari itu belum ditetapkan sebagai hari libur nasional, tapi tahun ini jatuh di hari Sabtu, jadi itu bukan masalah.
Padahal ini hari luar biasa saat keajaiban bernama Soyoka lahir ke dunia. Kenapa bukan hari libur nasional sih?
“Nanti ada kue?”
“Tentu saja.”
“Soka mau kue stwawbewi.”
“Oke, berarti stroberi.”
Kalau tidak salah, tahun lalu juga dia minta strawberry shortcake.
Aku harus memesannya di toko roti. Tentu saja dengan plakat ucapan ulang tahun yang lucu.
“Telus, telus, nanti ada hadiah?”
“Tentu saja ada! Kamu mau apa?”
“Berlian.”
“Kamu ini host kelas atas atau apa?”
Minta batu mulia tanpa ragu begitu. Masa depannya menjanjikan sekali.
Pria yang nanti jadi pacar Soyoka pasti bakal susah... Hah? Bukan berarti aku akan membiarkan dia punya pacar juga, sih.
“Enaknya apa, ya.”
“Kalau itu keinginan Soyoka, aku bisa menyiapkan satu dua dunia untukmu.”
Tahun lalu hadiahnya boneka dan beberapa properti untuk main rumah-rumahan. Sampai sekarang dia masih sering memainkannya. Kalau dipikir-pikir, meski agak mahal pun, kalau dipakai selama ini ya tetap hemat.
Kira-kira hadiah apa yang bagus untuk ulang tahun keempat? Pilihan aman sih boneka, stuffed toy, atau mainan. Katanya ada juga keluarga yang memberi mainan edukatif seperti puzzle sederhana.
Sejujurnya, aku sudah memikirkan hadiahnya berbulan-bulan... tidak, sebenarnya sejak tepat setelah ulang tahunnya yang tahun lalu, tapi aku masih belum bisa memutuskan.
“Yang paling bisa bikin Soyoka senang itu...”
“Cokelat?”
“Memang sih kamu suka cokelat, jadi pasti bakal senang banget.”
Tapi karena dia sudah sering makan itu, rasanya kurang pantas dijadikan hadiah.
Aku ingin sesuatu yang lebih khas ulang tahun, yang terasa spesial.
“Makan cokelat sepuasnya?”
“Kita sudahi dulu topik cokelat, ya? Nanti gigimu bolong.”
Perjalanan ke TK terasa cepat sekali karena kami terus mengobrol.
Kalau aku lengah, Soyoka gampang sekali menyimpang ke mana-mana, jadi aku harus hati-hati. Bukan berarti aku pernah mengalihkan pandanganku dari Soyoka, sih!
Apalagi kalau sedang memegang payung, pandangan jadi terhalang dan tubuh gampang terdorong ke arah jalan.
Walaupun ini kawasan perumahan dengan lalu lintas yang tidak terlalu ramai, aku tetap tidak boleh lengah.
“Hei, hei, Onii-chan.”
“Hm?”
“Mama datang nggak pas ulang tahun Soka?”
Senyum yang menyakitkan, seperti ditempel paksa. Bibir yang sedikit tertekuk seolah sudah pasrah, tapi masih menyimpan sedikit harapan. Kenapa anak sekecil ini harus memasang wajah seperti itu?
Ah, hadiah yang paling bisa membahagiakan Soyoka ternyata bukan benda sama sekali.
Waktu terakhir dia menanyakan hal itu, aku mengelak. Kali ini pun aku tidak bisa langsung menjawab.
“Soyoka... soal itu...”
Sebenarnya mudah saja kalau aku mau berbohong.
Cukup dengan satu kata, “Iya,” dan Soyoka pasti akan langsung tersenyum cerah lalu berangkat ke TK dengan semangat. Sampai hari ulang tahunnya nanti pun dia akan tetap ceria.
Ternyata Mama nggak bisa datang, sayang ya. Tapi katanya Mama sebenarnya pengin banget datang... Aku tinggal bilang begitu di hari-H. Betul. Bohong sederhana seperti itu saja.
“Aku nggak bisa bilang begitu...”
Tapi kalau kulakukan itu, Soyoka justru akan terluka jauh lebih dalam. Dan dia pasti akan menyembunyikannya, lalu tersenyum polos di depanku. Senyum kekanak-kanakan yang dipaksakan.
Apa benar memberi harapan lewat kebohongan itu baik, kalau di ujungnya sudah jelas ada keputusasaan?
“Onii-chan? Kamu nangis?” tanya Soyoka cemas saat aku berhenti berjalan dan menutupi wajahku dengan tangan kanan.
“Aku nggak nangis. Cuma kemasukan air hujan ke mata.”
“Oh tidak. Onii-chan nggak bisa pegang payung ya?”
“Soalnya hujan itu lembut sama anak kecil, tapi ke orang dewasa dia menyerang dari samping.”
“Dali samping! Soka bakal ngindal.”
Soyoka mulai membuat suara “shuh, shuh” dengan mulutnya sambil bergerak kecil seperti sedang menghindar.
Omong kosong seperti ini selalu keluar begitu mudah dari mulutku, tapi hal yang penting justru tidak bisa kukatakan.
Tapi aku harus bilang.
“Soyoka.”
“Hm?”
Aku mengatupkan rahang, lalu berjongkok agar sejajar dengan mata Soyoka.
“Soal ulang tahunmu. Sepertinya Mama nggak bisa datang.”
“...Oh.”
“Tapi lihat, nanti ada aku! Terus ada banyak kue, banyak hadiah, kita juga bisa pergi ke mana-mana karena hari Sabtu. Aku juga akan bikin bento. Oh ya, kamu juga boleh undang teman-temanmu.”
Meski aku tahu itu tidak akan benar-benar menghibur Soyoka, hanya itu yang bisa kulakukan.
Rasanya kalau aku berhenti bicara, ada sesuatu yang akan hancur, jadi aku terus saja memaksakan ide tentang ulang tahun yang menyenangkan.
“Oke.”
Soyoka mengangguk singkat.
“Soka nggak sabal sama ulang tahun.”
“B-Beneran?!”
“...Walaupun Mama nggak ada, Soka nggak apa-apa.”
Soyoka merapatkan bibirnya lalu mulai berjalan lagi.
Air mata sudah menggenang di matanya, dan dia terlihat seperti bisa menangis kapan saja. Lalu dia tersandung dan jatuh ke tanah.
“Gubeh.”
“Soyoka!”
“Aku nggak apa-apa.”
Dia memang masih anak kecil, tapi menurutku tidak menangis itu bukan tanda kuat.
Saat jatuh tadi, salah satu tulang payungnya sampai bengkok. Itu payung favoritnya, tapi Soyoka hanya terus berjalan tanpa peduli.
Aku sama sekali tidak bisa mengatakan apa pun pada punggung kecil yang berjalan di depanku itu, dan begitu saja kami sampai di TK.
“Haaah...”
Aku menjatuhkan diri di atas meja di kelas lalu menghela napas panjang.
Pada akhirnya, sepanjang pagi aku sama sekali tidak bisa fokus mengikuti pelajaran. Bahkan sekarang, saat jam makan siang, aku tidak berniat menyentuh bentoku.
Saat aku sedang murung begitu, Mizuki dan Hiiragi datang menghampiri. Belakangan ini, aku, Akiyama, Mizuki, dan Hiiragi sering mengobrol berempat. Sepertinya Akiyama sedang tidak ada di tempat duduknya sekarang.
“Jarang lihat kamu semurung ini, Kyota.”
“Jangan-jangan kamu berantem sama Soyoka-chan? Soalnya rasanya cuma itu yang bisa bikin Kuremocchan murung begini,” kata Hiiragi dengan nada yang tajam, ponsel masih di tangannya.
Kami memang tidak bertengkar, tapi aku tidak bisa melupakan ekspresi Soyoka saat kami berpisah tadi pagi. Wajahnya yang tampak seperti akan menangis itu terus terulang di balik kelopak mataku.
Sampai-sampai muncul pikiran, mungkin akan lebih baik kalau dulu aku tidak pernah mengajarinya bahwa ulang tahun adalah hari yang istimewa. Tahun lalu pun Mama tidak datang di hari ulang tahunnya, jadi akulah yang merayakannya besar-besaran.
Aku ingin menghargai hari penting saat dia melangkah satu langkah lagi menuju kedewasaan. Meski suatu hari Soyoka melupakan kenangannya, aku yakin dia tidak akan melupakan perasaan yang tertinggal dari hari itu.
Aku rela melakukan apa pun yang bisa kulakukan.
...Tapi aku tidak bisa menjadi mamanya. Aku ingin Soyoka menyambut ulang tahunnya dengan perasaan bahagia, tapi satu hal yang paling dia inginkan adalah sesuatu yang tidak bisa kuberikan.
“Hei, kalau ulang tahun, kamu juga pasti ingin dirayakan orang tuamu, kan?”
“Ah...”
Begitu aku bertanya, pandangan Hiiragi sedikit teralihkan. Seolah dia langsung memahami sesuatu.
Hiiragi juga tahu kalau ibuku hampir tidak pernah pulang. Mungkin dia langsung bisa menebak situasinya.
Yang berbicara justru Mizuki.
“Kalau kamu sendiri dulu gimana, Kyota?”
“Kalau buatku, nggak ada mereka itu sudah biasa. Aku nggak merasa apa-apa. Paling pagi-pagi bangun, terus di meja ada amplop sama catatan yang bilang aku boleh beli apa pun yang aku mau.”
Buatku, ulang tahun hanyalah hari biasa, tidak ada bedanya dengan hari lain.
Soal uang saku pun, karena aku memang sudah selalu menerima uang untuk biaya hidup, ya rasanya cuma tambahan sedikit saja.
Tentu ada saat-saat aku merasa iri saat mendengar cerita teman-temanku.
Tapi itu terasa seperti cerita dari dunia lain. Aku bahkan tidak punya kenangan dirayakan, jadi aku benar-benar tidak tahu rasanya.
“Hmm, memang susah ya. Sekarang ulang tahun sih nggak terasa segitunya, tapi pas kecil kurasa aku memang senang banget.”

Tahun lalu, Mizuki menerima segunung hadiah dari para gadis saat ulang tahunnya, tapi dia masih bisa bilang itu “nggak segitunya.” Benar-benar khas dia.
“Aku dulu suka banget ulang tahun. Eh, sekarang juga masih suka!”
“Masih?”
“Iya. Tiap tahun aku beli bahan-bahan terus bikin kue bareng ibuku. Awalnya cuma kue sederhana di mana aku tinggal pasang topping, tapi sekarang malah jadi ketagihan, dan tiap tahun kualitasnya naik terus.”
“Dan biayanya juga,” tambah Hiiragi sambil tertawa.
Bikin kue, ya. Tahun lalu kami pesan di toko roti, tapi mungkin tahun ini bikin sendiri bareng Soyoka juga bisa jadi pilihan. Jangan-jangan satu lagi bakat Soyoka akan segera mekar...!
Sayangnya aku sendiri tidak tahu cara membuatnya, tapi kan tidak harus mulai dari memanggang sponge cake dari nol. Kalau cuma menumpuk whipped cream dan buah di atasnya, harusnya tetap bisa jadi.
Masalah Mama yang tidak datang memang masih sama sekali belum terpecahkan, tapi kalau ada sesuatu yang seru untuk dilakukan, mungkin itu bisa sedikit mengalihkan perhatian Soyoka.
“Makasih, kalian berdua. Itu membantu banget.”
“Kalau kamu mau, aku yang bikin kuenya juga boleh. Demi Soyoka-chan, aku bakal berusaha.”
“Hiiragi... nggak, untuk sekarang sih nggak usah dulu. Aku pengin jadi orang yang bikin ulang tahun Soyoka menyenangkan.”
“Oke. Kalau nanti ada apa-apa, bilang ya? Sekali ini aku rela bawa-bawain barangmu.”
Dari ekspresi Hiiragi, aku bisa tahu dia sungguh-sungguh mengatakannya karena niat baik. Dengan caranya sendiri, dia memang baik.
Justru karena itu aku tidak bisa bergantung padanya dalam urusan ini.
Masalah dengan ibuku ini bukan hal sekali lewat, tapi sesuatu yang akan terus ada. Kalau aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri, ke depannya aku pasti akan terus bergantung pada orang lain.
“Makasih.”
“Eh, ah, iya. Rasanya aneh banget lihat kamu seloyo ini, Kuremocchan.”
Hiiragi melipat tangan sambil tersenyum kecut.
Seloyo, ya. Sebenarnya dari awal aku juga bukan tipe yang selalu semangat begini.
Aku dulu menjalani sekolah tanpa menonjol, lalu setelah selesai aku pulang ke rumah kosong dan makan malam sendirian. Kadang aku keluar malam ke taman tanpa tujuan jelas, atau main game cuma buat menghabiskan waktu, lalu begadang tanpa alasan sampai akhirnya tidur.
Begitulah hidup membosankan yang dulu kujalani.
Hidupku jadi terang setelah Soyoka lahir.
Bahkan saat kami tidak sedang bersama, memikirkan Soyoka saja sudah bisa membuat semangatku naik. Melihat foto-fotonya membuatku ingin berusaha lebih keras. Hidupku mulai berputar mengelilingi Soyoka, dan aku pun jadi bersemangat memasak.
Semuanya berkat Soyoka. Alasan kenapa aku bisa menikmati hidupku.
Makanya, aku benar-benar tidak mau melihat wajah sedih seperti itu darinya.
Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan, bahkan mempertaruhkan nyawaku pun akan kulakukan...
“Maaf, kayaknya aku bakal bolos pelajaran siang.”
Perasaan buruk terus berputar-putar di kepalaku, dan aku merasa mual.
Di kelas pun aku pasti nggak akan bisa konsentrasi, dan cuma akan membuat suasana muram.
Aku mau sendiri dulu sebentar dan menenangkan diri.
“Hah? Pelajaran sebentar lagi mulai.”
“Maaf. Kalau ada apa-apa, bilang saja apa pun ke Kiji-chan.”
“Ya, sih, aku bisa bilang... tapi...”
Alis Hiiragi berkerut khawatir.
Bolos pelajaran siang sama sekali tidak akan mengubah apa pun. Secara logika aku tahu itu, tapi tetap saja aku ingin punya waktu untuk sendiri.
“Kyota.”
“...Apa, Mizuki?”
“Kamu bakal punya banyak waktu, kan? Jadi kenapa nggak lihat-lihat foto Soyoka-chan dulu biar tenang? Seharian ini kamu bahkan belum buka ponselmu sekali pun, kan?” kata Mizuki lalu menepuk pundakku pelan dengan kepalan tangannya.
Memang benar, mungkin aku memang belum sama sekali. Bahkan aku sendiri tidak sadar.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Aku membalas terima kasihnya singkat, mengambil tasku, lalu keluar dari kelas.
Bukan berarti kalau aku pulang lebih awal lantas ada sesuatu yang harus kulakukan, tapi aku cuma ingin keluar dari situ.
Hujannya masih belum berhenti. Aku membuka payung lalu mulai berjalan.
Tanpa sadar, kakiku membawaku ke arah TK.
Aku tidak naik bus, cuma terus berjalan lesu. Biasanya aku selalu berjalan cepat, ingin sampai walau cuma satu detik lebih cepat, tapi sekarang justru aku berharap aku tidak segera tiba.
Kapan terakhir kali langkahku terasa seberat ini? Sebelum Soyoka lahir?
“Soyoka...”
Aku teringat apa yang tadi dikatakan Mizuki.
Aku membuka ponsel sambil berjalan.
Begitu layar menyala, seluruh permukaannya langsung dipenuhi deretan. Foto-foto Soyoka yang tak terhitung jumlahnya, semuanya tersenyum padaku.
Setiap satu foto pun mematikan saking imutnya.
“Sial...”
Soyoka sudah banyak sekali menolongku, tapi aku justru tidak bisa melindungi senyumnya.
Fakta itulah yang menghancurkanku.
Terdengar suara klakson. Karena kaget, aku buru-buru menyingkir ke pinggir jalan.
“Jangan jalan melamun begitu! Bahaya!”
Supir truk itu berteriak saat melaju pergi.
“Ah... Ponselku!”
Ternyata saat tadi melompat menghindar, ponselku terjatuh.
Aku buru-buru memungut ponsel yang jatuh ke genangan air. Layarnya gelap.
“Jangan bercanda...”
Aku menekan tombol daya, tapi sama sekali tidak merespons.
Entah karena benturan atau kena air, aku tidak tahu penyebabnya, tapi sepertinya memang rusak.
“Foto-foto Soyoka... Nggak, di rumah ada backup... tapi...”
Bukan berarti semuanya hilang. Aku juga tinggal beli ponsel baru.
Tapi waktunya terlalu buruk.
Ini murni karena keteledoranku sendiri... tapi kalau rusak justru di saat seperti ini, rasanya seperti Soyoka sedang menjauh dari tanganku. Atau seperti dia sedang lari dariku.
Aku tidak mau menafsirkan hal se-sial itu secara takhayul, tapi bayangan itu tetap saja melintas.
“Aku harus bagaimana...?”
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas lalu kembali berjalan dengan linglung.
Aku sendiri tidak tahu berapa lama berlalu.
Saat tersadar, aku sudah ada di depan taman dekat TK.
“...Masih terlalu cepat kalau buat jemput.”
Tentu saja. Aku keluar saat jam makan siang.
Di taman ini ada semacam area istirahat beratap, jadi kalau hujan kita bisa berteduh di sana.
Aku menutup payung lalu masuk ke dalamnya.
Aku duduk di bangku dan menatap tanah.
Sebenarnya aku ini sedang ngapain? Duduk murung di tempat seperti ini sama sekali tidak akan menyelesaikan apa pun. Bolos kelas tadi juga sama sekali tidak ada gunanya.
Secara kepala aku mengerti itu, tapi tubuhku terasa berat sekali.
“Hei, Soyoka... apa bakal aneh kalau aku yang jadi mamamu? Aku bakal selalu bersamamu sesering yang kamu mau, aku bakal selalu datang kalau kamu butuh, aku bakal menerima apa saja.”
Nanti waktu aku menjemputnya, Soyoka pasti akan menunjukkan wajah ceria. Sama seperti saat dia bicara pada Mama.
Tapi itu tidak boleh.
Itu sama saja seperti memaksa anak yang bahkan belum genap empat tahun untuk jadi dewasa.
Aku ingin Soyoka tetap jadi anak kecil yang polos selama mungkin.
“Soyoka... Soyoka...!”
Pikirkan. Apa yang bisa kulakukan?
Memang cuma ulang tahun, tapi tetap saja itu ulang tahun. Bagaimana caranya supaya hari istimewa Soyoka berhasil?
Suara hujan yang menghantam telingaku perlahan melemah.
“...Ngapain kamu di tempat beginian?”
Suara ketus itu turun dari atas.
“...Akiyama.”
Saat aku mendongak, kulihat Akiyama berdiri di sana sambil tersenyum tipis dengan alis yang sedikit turun.
“Mau ke TK dengan muka sekotor itu? Nanti anak-anak malah trauma.”
“...Aku nggak nangis.”
“Air mata itu bukan sesuatu yang indah. Cuma cairan, itu saja.”
Akiyama mengatakan itu dengan ejekannya yang biasa sambil mengulurkan saputangan.
“Itu malah terdengar menjijikkan...”

Aku menerima saputangan itu tanpa bicara lalu mengusap mataku.
Saat aku melirik jam, ternyata sekarang masih pelajaran kelima. Kaget, aku langsung menatap wajah Akiyama.
“Hah? Kelasmu gimana?”
“Aku bolos.”
“Hah? Kenapa? Jangan bilang Iku kenapa-kenapa lagi?”
Bagi murid teladan seperti Akiyama, bolos sekolah selain karena urusan Iku itu hampir tidak terpikirkan. Kejadian saat dia dulu pulang lebih awal karena ditelepon soal Iku sakit masih sangat membekas di ingatanku.
Saat aku menatapnya dengan tercengang, pipi Akiyama sedikit melunak.
“Iku baik-baik saja. Aku kejar kamu, Kyota.”
“...Aku?”
“Betul. Hikaru bilang kamu pulang cepat dengan wajah serius. Aku coba hubungi, tapi nggak bisa masuk.”
“Ah... Ponselku rusak.”
“Kamu juga nggak ada di TK. Mana kusangka aku bakal menemukanmu malah sedang bermalas-malasan di tempat seperti ini. Aku mencarimu.”
“Jadi begitu... Maaf. Tapi aku kan bukan anak kecil, kamu nggak perlu sampai mencariku...”
“Lihat keadaanmu sekarang, aku justru makin yakin keputusanku mencarimu itu benar.”
Kalau dia bilang begitu, aku jadi tidak bisa membalas.
Memang sih, saat sendirian tadi aku malah terus tenggelam makin dalam. Padahal situasinya sebenarnya tidak berubah dari sebelumnya, cuma kejadian tadi pagi benar-benar membuatku terpukul.
“Hei, Kyota. Dulu kamu bilang sendiri, kan? Jangan menanggung semuanya sendirian. Andalkan aku.”
“...Iya. Kamu benar.”
“Lalu sekarang kamu sendiri nggak mau mengandalkanku? Memang benar, kamu lebih jago masak dariku. Pekerjaan rumah dan urusan mengasuh anak juga mungkin kamu selangkah di depanku. Kamu bertanggung jawab, dan bahkan mungkin lebih dewasa. Kamu meremehkanku, ya?”
“Bukan begitu... Menurutku kamu orang yang hebat, Akiyama. Kalau urusan pekerjaan rumah, aku cuma sudah lama melakukannya sampai jadi kebiasaan. Justru kamu yang bisa mengerahkan seluruh dirimu untuk segala hal itu jauh lebih hebat dariku.”
Dari dulu aku memang bukan tipe yang bisa mengerahkan seluruh diriku untuk sesuatu. Aku cuma cukup bisa di banyak hal, tapi tidak pernah benar-benar menonjol, jadi itu juga tidak pernah menimbulkan masalah.
Benar. Selain kalau soal Soyoka, aku tidak bisa mencurahkan semua diriku pada apa pun.
Jadi aku sama sekali tidak merasa lebih hebat dari Akiyama.
“Tapi... ini masalahku sendiri. Aku yang harus menyelesaikannya.”
“Itu kalimat yang dulu kamu bantah saat aku mengatakannya, Kyota.”
“Kondisinya beda sama waktu itu. Ini soal perasaan Soyoka. Hanya aku yang bisa memahami Soyoka. Nggak ada orang yang bisa menggantikanku!”
“Nggak, ini sama saja. Dengarkan. Aku nggak sedang bicara soal Soyoka-chan. Aku juga nggak tahu situasinya karena kamu sendiri nggak mau cerita. Aku lagi bicara soal kamu, Kyota.”
Akiyama memegang kedua bahuku lalu menatap wajahku dari dekat. Tubuhnya hampir membungkuk ke arahku.
Aku yakin mukaku sekarang pasti kacau.
Aku melampiaskan emosi ke Akiyama yang sudah datang jauh-jauh karena mengkhawatirkanku. Aku menolak tangan yang dia ulurkan.
Ah, aku ini benar-benar tipe laki-laki terburuk. Kalau Akiyama atau bahkan Soyoka mulai membenciku pun, itu sama sekali tidak aneh.
Tapi... Akiyama tetap berdiri menghadapku.
“Hei, Kyota, menurutmu aku ini apa?”
“Hah...?”
“Aku menganggapmu teman sesama ortu yang berharga. Sosok yang spesial, lebih dalam dari teman... dan lebih dalam dari kekasih. Karena ini hubungan yang terjalin demi adik-adik kita, yang paling berharga bagi kita, kan? Tentu saja itu spesial.”
Begitu kah cara Akiyama memandangku?
Padahal dulu dia memperlakukanku begitu tajam.
“Kita seharusnya saling membantu, itu katamu sendiri, kan? Karena kita teman sesama ortu. Jadi kalau kamu ada masalah, ya tentu aku datang untuk mendengarkan.”
Akiyama tersenyum lembut.
“...Sekarang malah posisinya kebalik ya.”
“Betul. Kita ini sama-sama gampang lupa semuanya kalau sudah menyangkut adik.”
“Kamu benar-benar penyelamat, Akiyama. Jujur saja, tadi kalau aku sendirian aku cuma makin tenggelam.”
Pipi Akiyama melunak jadi senyum kecil.
Kalau sudah sampai sejauh ini, rasanya bodoh kalau masih malu dan menyembunyikannya.
Jadi aku menceritakan semuanya padanya. Soal ulang tahun Soyoka, soal hubunganku dengan ibuku, soal wajah Soyoka tadi pagi...
Aku mengeluarkan satu demi satu kegelisahanku.
Akiyama mendengarkan semuanya, berdiri tepat di sampingku, dengan tatapan yang tidak goyah.
“Aku nggak bisa melakukan apa-apa soal ibumu.”
“Iya. Aku tahu. Nggak apa-apa. Kamu mau mendengarkan saja juga aku sudah merasa jauh lebih baik.”
“Tunggu, aku belum selesai bicara. Tapi soal yang lain... aku bisa bantu untuk ulang tahun Soyoka-chan.”
“Ulang tahunnya...”
“Soyoka-chan itu juga seperti adik kecil yang lucu buatku. Dan, walaupun menyebalkan, Iku juga pengin merayakannya. ...Kita bikin pesta ulang tahun.”
Dia mengulurkan tangan padaku, seolah-olah mengajak berjabat tangan.
“Kalau kita rayakan berempat, bukannya itu bakal jadi ulang tahun terbaik?”
“...Iya. Kamu benar.”
Pesta ulang tahun, ya. Aku bahkan tidak sempat berpikir untuk mengundang orang lain.
Kalau Akiyama dan Iku ada, mungkin Soyoka tidak akan terus memikirkan Mama. Pasti dia akan senang kalau teman-temannya ikut merayakannya.
Aku pun menggenggam tangan Akiyama lalu berdiri.
“Sebagai catatan, Soyoka itu bukan adikmu. Dia adikku.”
“Hehe, nah begitu dong. Nggak enak lihat kamu murung begitu, Kyota.”
“Hiiragi juga bilang hal yang sama tadi, tapi memangnya aku punya citra sebagai idiot berisik seperti itu?”
“Iya. Menurutku kamu memang idiot.”
Entah sejak kapan, saat kami bicara, hujannya sudah berhenti.
Matahari mulai mengintip dari celah awan.
“Yah, ayo?”
“Iya. Ayo jemput mereka.”
Karena hari ini kami datang jauh lebih cepat dari biasanya, Soyoka pasti bakal senang.
Walaupun tentu dia tidak akan menyangka kalau kami berdua bolos sekolah.
“Onii-chan! ...Onii-chan?!”
Saat aku datang menjemputnya, mulut Soyoka terbuka lebar karena kaget.
“Kamu cepet banget! Kenapa?”
“Ah, yah, ada beberapa hal.”
Ini lebih dari sejam lebih cepat dari biasanya. Wajar kalau Soyoka kaget.
Karena aku datang di jam yang jauh lebih awal dari jadwal jemput biasa, anak-anak lain juga masih banyak di sana.
“Apa sekolahnya meledak?”
“Analisis yang sangat tajam.”
“Soka berhasil nebak.”
Soyoka nyengir bangga karena merasa sudah menebak alasannya.
Sebenarnya aku selalu berharap begitu. Yah, tapi hari ini aku cuma bolos.
Tentu saja aku nggak boleh mengucapkan itu, demi pendidikan Soyoka.
Ah, tapi bolos lalu santai di rumah bareng Soyoka juga sepertinya menyenangkan...
“Nee-chan, kamu bisa datang nanti aja.”
“...Hah? Nggak mungkin. Iku sekarang dingin banget ya sama aku... Bukannya kamu senang aku jemput lebih cepat, Iku?”
“Aku jadi nggak bisa main sama Soyoka-chan...”
Iku melirik sekeliling lalu menunduk.
Jumlah anak yang ikut penitipan tambahan memang menurun drastis, jadi pada jam-jam itu Soyoka dan Iku hampir selalu berdua. Sebaliknya, di jam lain mereka bermain dengan teman-teman yang lain.
Karena aku dan Akiyama datang terlalu cepat, waktu berdua Iku dengan Soyoka jadi terpotong...
“Iku, jangan-jangan kamu serius mulai mendekati Soyoka?! Kakaknya jelas nggak akan mengizinkan!”
Sedih karena waktu bersama Soyoka terpotong itu sudah nyaris seperti cinta...
“Mendekati?”
“Hei, Iku itu cuma teman baik yang perhatian. Dia cuma sedih karena waktu bermain dengan teman baiknya jadi kepotong. Iya, kan? Begitu kan?”
“...Iya.”
“Huff. Tuh, kan? Iku sendiri bilang begitu.”
Rasanya tadi ada jeda sedikit sebelum jawabannya...
Tapi karena itu lebih nyaman buatku juga, aku putuskan untuk menganggapnya begitu saja.
“Soka juga mau main.”
“Kalau begitu hari ini main di rumahku lagi?”
“Main! Sumi-chan, Iku, ayo?”
Setelah Soyoka mengangkat kedua tangannya kegirangan, dia meraih tangan Akiyama.
Sepertinya Akiyama juga tidak keberatan, karena dia menatapku lalu mengangguk. Main ke rumahku setelah pulang sekolah sudah menjadi hal biasa, jadi tidak perlu janjian dulu.
Kami pun mulai berjalan keluar, melewati ibu-ibu lain yang juga sedang menjemput anak mereka.
“Lho? Anak SMA kok ada di tempat begini? Kalau dipikir-pikir, kalian juga waktu tamasya orang tua dan anak itu ada, ya.”
Salah satu wanita yang tadi sedang berbincang di depan pintu masuk berkata begitu sambil memandang kami.
“Ya apalagi kalau bukan berandal. Lagi pula, sekarang bukannya jam pelajaran?”
“Serem ya. Aku harap anakku nanti nggak jadi kayak begitu.”
Dua orang yang tampaknya antek-anteknya langsung ikut menyahut. Mungkin niatnya berbisik, tapi aku mendengarnya dengan jelas.
Rambut ketiganya sama-sama dikeriting dan makeup mereka juga tebal, seolah memang sengaja diseragamkan.
Mereka kelihatan sedikit lebih tua dibanding ibu-ibu lain. Yah, bisa saja itu anak kedua atau ketiga mereka, dan dengan tren menikah terlambat sekarang, bisa juga justru itu anak pertama.
“Kami cuma datang menjemput adik saya.”
Alasan aku sengaja menjawab sopan, padahal sebenarnya bisa saja kuabaikan, adalah karena aku memikirkan pengaruhnya pada Soyoka.
Bukan berarti aku ingin akrab dengan tiga orang itu. Tapi kalau pertengkaran antarpengasuh sampai berdampak pada hubungan anak-anaknya, itu justru salahku.
Tidak ada gunanya sengaja memperkeruh keadaan. ...Jadi, Akiyama, tolong simpan wajah serammu dan kepalan tanganmu itu.
Yang berbicara tadi, si bos ibu-ibu itu, mendekati kami lalu berkata,
“Oh? Dan ibumu sendiri sedang apa?”
“Ibu saya sedang bekerja keras di tempat kerjanya.”
“Kerja? Meninggalkan anaknya demi kerja... kasihan sekali ya kalian.”
“Benar sekali. Yah, sepertinya ibu saya juga memang sedang susah.”
“Zaman sekarang ibu-ibu memang sudah nggak benar. Dulu di zamanku, ibu itu ya jadi ibu rumah tangga, itu hal biasa. Ahh, dengan begitu mana mungkin anaknya tumbuh baik.”
Dia menutup mulutnya lalu menyeringai.
“Tugas seorang ibu itu membesarkan anak, bukan? Jangan-jangan ini termasuk child neglect yang katanya sedang marak itu?”
(TL/N: Child Neglect bisa dicari di google)
“Wah, ibu yang buruk sekali! Kasihan anak-anaknya.”
“Mungkin kita harus laporkan ke dinas perlindungan anak.”
Dua orang bawahannya menimpali satu per satu, melanjutkan obrolan seenaknya sendiri.
Ngomong-ngomong, sebenarnya orang ini ingin membicarakan apa sih sampai sengaja menghalangi kami seperti ini?
Yah, kalau mereka cuma ingin puas dengan melempar beberapa sindiran, kurasa aku tinggal membiarkannya saja.
Tapi, walaupun aku sendiri punya banyak masalah dengan ibuku, tetap saja aku kesal mendengar orang lain bicara seenaknya begini. ...Kalau saja ini bukan lingkungan TK, mungkin aku sudah membalas sedikit. Tapi karena sama sekali tidak ada untungnya berdebat, aku berhasil menelan semuanya.
Lagipula, sepertinya memang benar kalau kita jadi lebih tenang saat ada orang lain yang lebih marah daripada diri kita.
Akiyama melewatiku dan melangkah maju.
“Berani sekali kalian...”
“Akiyama.”
Urat di dahi Akiyama sudah terlihat. Supaya dia tidak mengamuk, aku langsung meraih tangannya dan menahannya.
“Lihat tatapannya.”
“Memang benar-benar berandal.”
“Katanya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, ya begitulah.”
Ibu-ibu tua itu terkekeh.
Mereka sendiri memangnya ada di posisi untuk bilang begitu? Menghina orang terang-terangan di depan umum justru jauh lebih mencerminkan didikan buruk, menurutku.
“Ayo, Akiyama.”
Tahan.
Yang harus kami lakukan cuma pergi dari TK ini diam-diam.
Lagipula kami juga hampir tidak akan bertemu mereka. Tadi dia dengan bangga bilang dirinya ibu rumah tangga, jadi pasti dia memang datang menjemput tiap hari di jam segini. Hari ini saja kebetulan kami datang lebih cepat dari biasanya. Normalnya jam kami tidak pernah bertabrakan. Kalau pun bertemu, paling saat acara saja.
Asal kami berhasil melewati ini, kami bisa kembali ke kehidupan TK kami yang damai.
Tidak ada gunanya membiarkan orang seperti ini mengguncang kami.
“...Aku mengerti. Iku, kamu nggak usah pedulikan itu.”
“Iya...”
Baik Iku maupun Soyoka sama-sama memasang wajah gelap.
Kami harus segera pergi dari sini...
“Memang kasihan ya kalau punya ibu yang nggak ada gunanya.”
Kata-kata itu dilemparkan ke punggung kami saat kami berusaha pergi.
Sebenarnya aku tidak berniat berhenti, tapi aku berhenti.
Karena Soyoka yang memegang tanganku mendadak berhenti.
“Soka nggak kasihan.”
Soyoka menunduk, suaranya gemetar.
“Oh? Kamu bilang apa?”
Si bos ibu-ibu itu menurunkan suara dan menatap Soyoka.
“Mama aku lagi kelja kalas! Mama aku bukan nggak guna. Soka juga punya Onii-chan, jadi Soka nggak kasihan.”
“Oh, ya? Tapi tetap kasihan. Mungkin ibumu sebenarnya membencimu. Kalau tidak, mana mungkin dia menelantarkanmu begitu?”
Suaranya begitu pelan sampai orang lain tidak akan dengar, tapi jelas-jelas itu kata-kata yang sengaja diarahkan untuk menyakiti Soyoka.
“Membenci... aku?”
Kenapa aku tidak menghentikan mereka lebih cepat?
Yang akan terluka kalau mereka membicarakan ibuku itu Soyoka. Tapi aku malah lebih memprioritaskan supaya tidak membuat keributan. Kalau memang aku benar-benar memikirkan Soyoka, seharusnya aku sejak awal sudah menyangkal mereka dengan tegas.
“Hei! Kalian tadi bilang apa ke Soyoka?!”
Terlambat sedetik, aku langsung mengangkat Soyoka ke dalam pelukanku. Aku menyembunyikannya di dadaku seolah ingin melindunginya dari tatapan ibu itu.
Tapi sudah terlambat.
Soyoka membenamkan wajahnya ke bahuku sambil gemetar.
“Astaga, bahasanya jelek sekali. Kalau nggak dididik dengan benar oleh orang tua yang semestinya, memang jadinya buruk begitu ya.”
“Kalian...”
Karena marah, refleks lenganku mengerat. Lalu aku sadar Soyoka ada di sana dan buru-buru melonggarkannya.
Emosiku sudah memuncak, dan rasanya aku hampir kehilangan kendali.
Kalau mereka bicara soal ibuku atau diriku sendiri, aku masih bisa menahannya. Aku masih bisa menganggap itu cuma gangguan sementara.
Tapi kalau soal Soyoka, lain lagi. Siapa pun yang melukai adik perempuanku yang paling berharga, akan...
“Yang bahasanya jelek sebenarnya pihak mana, ya?”
Suara tenang Akiyama menghentikanku tepat saat aku hampir menerjang mereka.
“Kamu mau bilang apa?”
“Kalau tiap kata yang keluar isinya merendahkan orang lain, itu juga termasuk bahasa yang indah ya? Cara membesarkan anak kalian ternyata unik sekali. Sebaiknya jaga jarak dulu sebelum itu menular ke anak-anak kalian.”
“Apa...?! B-Bahasa kamulah yang nggak sopan! Kamu bahkan nggak tahu tata krama bicara sopan santun ya!”
“Aku pakai kalau memang perlu. Untuk orang sejelek kalian sih aku nggak merasa perlu.”
“Jelek...?! Hei, kamu kurang ajar sekali!”
“Oh, maksudku hati kalian yang jelek. Tujuan hidup kalian memang cuma menikmati saat merendahkan orang lain, kan? Tentu saja itu berlaku juga buat kalian berdua yang dari tadi ketawa-ketawa di belakang.”
Akiyama terus melontarkan balasan itu dengan wajah dingin dan tenang.
Tidak, itu bahkan bukan saling balas. Itu sudah satu pihak dihajar habis.
“Kenapa diam? Apa kalian sudah kehabisan kata-kata penghinaan kalian yang berharga itu?”
...Iya. Aku benar-benar tidak akan membuat Akiyama marah di masa depan. Kalau Akiyama serius menghajarku dengan kata-kata, mungkin aku tidak akan bisa bangkit lagi.
Memang ya, seperti yang diduga dari Akiyama. Soal kemampuan menghina, tidak ada yang bisa menandinginya. Mereka salah memilih lawan kalau mau cari perang mulut.
“Mama-ku jauh lebih hebat dari kalian, tante-tante tua!”
Akhirnya Iku, sambil berdiri di depan Soyoka seolah melindunginya, ikut berteriak.
“T-Tua...”
Kosakata si bos ibu-ibu itu benar-benar lenyap total, dan yang tersisa cuma geraman-geraman tanpa bentuk.
“Apa kerja seorang ibu itu bergerombol dengan teman-temannya lalu menyerang orang lain? Menurut kalian, anak-anak kalian melihat itu seperti apa? Bukannya mereka justru malu sampai ingin menangis?”
Begitu Akiyama marah menggantikanku, aku sendiri juga mulai sedikit lebih tenang.
Aku sama sekali tidak akan memaafkan si ibu tua yang melukai Soyoka itu. Soyoka yang biasanya selalu ceria dan positif sampai segini takutnya berarti apa yang tadi dikatakan itu benar-benar parah. Bahkan sekarang pun air matanya masih belum berhenti.
Makanya justru lebih baik kami cepat-cepat menjauh dari mereka.
“Kyota, ayo.”
“Iya. ...Makasih.”
“Nggak apa-apa. Aku cuma bilang apa yang ingin kukatakan.”
Memang begitu katanya, tapi aku tahu dia mengatakannya demi Soyoka.
Ibu-ibu itu masih terus berteriak dari belakang, tapi kami mengabaikannya.
Dengan membawa Soyoka dan Iku, kami pun menuju rumahku. Hujannya memang sudah berhenti sepenuhnya, tapi hatiku masih sama sekali tidak cerah.
“Soyoka, kamu nggak usah dipikirin. Nanti di rumah kita makan camilan terus main yang banyak, ya.”
Aku menyemangatinya sambil mengusap punggungnya.
Aku ceroboh. Ah, kalau tahu bakal jadi begini, tadi aku tidak akan datang ke TK lebih awal.
“Onii-chan...”
Begitu kami hampir sampai rumah, Soyoka perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya bengkak, wajahnya lengket karena air mata dan ingus.
“Soyoka, nggak apa-apa. Kita hampir sampai.”
Apa setelah menangis sejadi-jadinya dia jadi sedikit lebih tenang?
...Tidak, justru mungkin sebaliknya. Mungkin karena memikirkannya terus, dia malah jadi semakin terluka.
Dia menatapku dengan wajah yang sangat sedih.
“Onii-chan... Mama benci aku ya?”
Mendengar pertanyaan Soyoka itu, aku dan Akiyama sama-sama terdiam.
Apa yang sudah kubiarkan dia sampai katakan?
“...Nggak mungkin! Kamu nggak usah pedulikan apa kata orang tadi. Dia cuma asal ngomong.”
Kata-kata ibu tadi, bahwa Mama membenci Soyoka.
Itu pasti hal terakhir yang paling tidak ingin didengar Soyoka saat ini. Kata-kata itu berubah jadi pisau tajam yang menusuk jauh ke dadanya.
“...Mama nggak datang ke tamasya.”
“Itu karena kerja...”
“Dia juga nggak datang pas ulang tahun Soka.”
Alasan Soyoka terluka bukan cuma karena dihina begitu saja.
Tapi karena kata-kata itu terasa cocok dengan kenyataan yang dia rasakan.
Semakin dia mencoba menyangkalnya, semakin banyak peristiwa yang mendukung kecurigaan itu bermunculan di kepalanya.
Dia dipaksa berhadapan dengan kecurigaan yang selama ini selalu ada, kecurigaan yang sudah susah payah dia abaikan.
“Soyoka... Mana mungkin Mama membencimu, kan? Waktu itu dia ngobrol banyak sama kamu. Mama sayang banget sama kamu.”
“Betul. Semua orang sayang sama kamu, Soyoka-chan. Nggak mungkin orang nggak sayang sama anak perempuan secantik kamu.”
Aku menumpuk kata-kata penghiburan yang bahkan diriku sendiri tidak sepenuhnya percaya.
Tapi kata-kata yang tidak datang dari hati memang tidak punya kekuatan.
Karena sebenarnya, aku pun merasakan hal yang sama seperti Soyoka.
Mungkin Mama memang tidak membenci kami. Tapi aku juga tidak bisa membayangkan dia menyukai kami.
“Mama sayang banget sama kamu, Soyoka. Dia juga sering tanya soal kamu. Sebenarnya dia pengin sama kamu, cuma terlalu sibuk sampai nggak bisa.”
“Itu bohonk.”
“Itu benar. Kamu nggak percaya sama kakakmu?”
“...Nggak. Aku percaya.”
Aku sama sekali tidak bisa menatap wajah Soyoka dengan benar.
“Yang paling penting, Onii-chan paling sayang kamu! Aku nggak akan kalah dari Mama!”
Syukurlah. Kami akhirnya sampai di rumah.
Aku mengeluarkan kunci lalu membuka pintu. Kami berempat masuk dan melepas sepatu. Begitu masuk ke ruang tamu, aku membaringkan Soyoka di sofa lalu mulai membereskan barang-barang.
Selama aku terus bergerak, percakapan akan terputus. Anehnya, aku merasa lega karena itu.
“...Kalau aku juga mulai lari dari menghadapi Soyoka dengan alasan sedang sibuk, bukankah aku melakukan hal yang sama dengan Mama?”
Aku baru menyadari fakta itu saat sedang menyalakan mesin cuci.
Ah, betapa menjijikkannya diriku sendiri.
Jadi pada akhirnya, memang aku anak dari ibuku. Saat situasi jadi tidak nyaman, aku juga lari dari tanggung jawab?
...Tidak. Nggak mungkin begitu. Aku harus bicara lagi baik-baik dengan Soyoka.
Aku yakin rasa sayangku akan sampai padanya. Meskipun Mama tidak datang, aku tetap akan membuatnya bahagia. Bukankah itu yang tadi sudah kuputuskan?
“Ja...”
“Shh.”
Saat aku kembali ke ruang tamu, Akiyama menaruh jari di bibirnya.
Ternyata Soyoka sudah tertidur di sofa. Mungkin dia benar-benar lelah secara emosional. Tadi baru saja dia menangis sejadi-jadinya, tapi sekarang wajah tidurnya terlihat damai, dan itu sedikit melegakan.
“Soyoka-chan, tenang, tenang.”
Iku duduk di sampingnya sambil terus mengelus kepala Soyoka.
Syukurlah. Yang dibutuhkan Soyoka sekarang adalah rasa bahwa dia dicintai.
...Tapi yang paling dia inginkan, mungkin tetap rasa kasih sayang dari ibunya sendiri.
“Kyota, sebentar ikut aku ke sana.”
Akiyama menarik tanganku lalu membawaku ke lorong.
Di lorong yang agak gelap, aku bersandar ke dinding lalu menghadap Akiyama. Akiyama yang tadi hampir mendorongku ke sana meletakkan satu tangan di dinding dan menatapku.
Ah, ini yang disebut kabe-don itu ya... Pikiran yang sama sekali tidak penting malah sempat melintas.
“Aku nggak akan menguliahi kamu sekarang. Soalnya kurasa orang yang paling paham ya kamu sendiri,” kata Akiyama pelan sambil tersenyum lembut.
“...Iya.”
Aku yang selalu mendapatkan semangat dari Soyoka justru ikut murung saat dia sedang jatuh. Sebagai kakak, aku benar-benar gagal.
“Hei, soal yang tadi kita bicarakan.”
“Tadi?”
“Soal pesta ulang tahun buat Soyoka-chan. Serahkan itu padaku. Aku akan memastikan Soyoka-chan bersenang-senang. Tapi...”
Akiyama sedang mengatakan sesuatu yang begitu bisa diandalkan.
Kalau ada Iku juga, itu pasti pertama kalinya kami merayakan ulang tahun dengan mengundang teman. Kalau Iku datang, Soyoka pasti senang.
Tapi... itu saja mungkin tetap tidak akan cukup untuk memenuhi perasaannya.
“Soyoka-chan pasti tetap ingin ibunya datang. Jadi, Kyota, kamu harus membujuk ibumu. Bagaimanapun caranya.”
Aku sangat paham perasaan Soyoka. Tapi hari ini, kecurigaan bahwa Mama mungkin membencinya sudah terukir terlalu dalam di hatinya.
Untuk menghapus itu dan membuat Soyoka bisa tersenyum lagi, memang tak ada cara lain selain membawa Mama ke sana.
“Bagaimanapun caranya...”
“Aku belum pernah ketemu ibumu, jadi aku nggak tahu dia orang seperti apa. Tapi orang seperti apa dia itu nggak penting. Soyoka-chan kesepian. Bukankah itu saja sudah cukup jadi alasan?”
“...Tapi aku sama sekali nggak bisa membayangkan Mama bakal datang.”
Tolong datang. Soyoka kesepian... Aku sudah bilang itu berkali-kali.
Dan setiap kali juga Mama selalu mengelaknya lalu lari. Seolah dia memang nggak peduli pada Soyoka, dan tidak pernah menganggapnya serius.
“Dari dulu memang selalu begitu. Mama selalu mengutamakan kerja daripada anak-anaknya. Dia bilang dia khawatir, tapi dia lari dari tanggung jawab sebagai ibu. Mama memang orang seperti itu. Dia nggak memikirkan perasaan Soyoka. Mama cuma mau berlagak keibuan...”
Begitu aku mulai bicara, emosiku langsung meluap dan tidak bisa berhenti.
Aku sebenarnya tidak berniat mengeluh di depan Akiyama. ...Payah sekali.
“Begitu...”
Entah kenapa, Akiyama justru menaruh satu tangan di atas kepalaku.
“Sebenarnya kamu juga kesepian, kan, Kyota?”
“...Hah?”
Kali ini, dia melingkarkan kedua tangannya ke belakang kepalaku lalu menarikku pelan mendekat. Sebelum sempat melawan, dahiku sudah menempel di bahunya.
Akiyama, dalam posisi seolah sedang memelukku, melanjutkan kata-katanya dengan lembut.
“Akiyama, kamu lagi...”
“Nggak kenapa-kenapa. Tadi cuma kelihatan ada anak kecil yang seperti mau nangis, jadi aku peluk saja.”

Akiyama segera melepaskanku lalu tersenyum nakal.
“Nggak apa-apa. Aku yakin ibumu sebenarnya tahu kalau kamu dan Soyoka-chan sangat menyayanginya.”
“...Padahal aku nggak sayang dia.”
“Oh ya? Di mataku sih kamu cuma kelihatan ngambek karena ibumu nggak memperhatikanmu. Ternyata kamu lumayan imut juga, Kyota.”
Aku, kesepian? Mana mungkin.
Sejak kecil aku sudah sendiri, jadi semuanya juga kulakukan sendiri. Aku bisa hidup tanpa bantuan orang tua. Aku tidak butuh ibu.
“Soalnya kamu sampai latihan bikin dashimaki tamago buat ibumu, kan? Supaya cocok sama alkoholnya.”
“...Itu cuma kebetulan.”
“Aku juga tahu kalau setiap kali kamu masak malam, kamu selalu menyisihkan satu porsi buat ibumu lalu menyimpannya di kulkas, Kyota.”
“Itu juga cuma kebetulan. Aku cuma kebanyakan masak.”
“Hehe, kamu bukan tipe yang nggak bisa ngatur porsi, Kyota.”
Aku merasa sedikit malu lalu memalingkan wajah.
Aku benci ibuku.
Harusnya aku benci dia.
“Di dunia ini ada macam-macam keluarga, dan macam-macam orang tua juga... Tapi menurutku ibumu akan baik-baik saja, Kyota. Kalau kamu benar-benar menghadapinya dengan sungguh-sungguh, dia pasti akan mengerti.”
“...Apa dasar kamu bilang begitu?”
“Karena menurutku orang tua itu seperti itu. Kalau masih bisa bicara, ya bicaralah baik-baik. ...Kita nggak pernah tahu kapan kita tidak bisa bicara lagi.”
Mendengar kata-kata Akiyama, aku pun terdiam.
Akiyama pernah kehilangan ayahnya. Hubungan mereka berubah jadi hubungan yang tidak akan pernah bisa berbicara lagi.
“Waktu ayahku meninggal, keluargaku sempat hancur. Sekarang memang susah dibayangkan, tapi dulu ada masa ketika aku hampir nggak bicara sama ibuku. Aku nggak mau membiasakan diri hidup tanpa ayah, jadi aku cuma mengurung diri. ...Hubunganku dengan ibuku dulu pernah hancur total.”
“Dari luar nggak kelihatan begitu waktu di barbeku.”
Memang sih ada beberapa momen canggung, tapi mereka terlihat seperti ibu dan anak yang biasa dan akrab.
“Nggak... mungkin sampai sekarang pun masih rusak. Tapi celah itu diisi oleh Iku.”
Perhatiannya yang berlebihan pada Iku rupanya bukan sekadar karena dia adiknya. Iku adalah jangkar emosi yang menopang keluarga mereka. Sosok yang menyatukan semuanya.
“Jadi, Kyota... demi Soyoka-chan, apa kamu nggak bisa berbaikan dengan ibumu? Nggak baik buat Soyoka-chan kalau kakaknya dan mamanya saling bermusuhan.”
Apa aku bisa...? Kalau demi Soyoka, apa aku bisa bicara normal dengan ibuku? Hubungan kami sudah terpelintir sejak lama, tapi apa masih mungkin kami kembali jadi orang tua dan anak yang akur?
“Aku mengerti. Demi Soyoka. Aku akan coba bicara lagi dengannya, dari hati ke hati.”
Ini ulang tahun Soyoka yang sangat berharga. Aku ingin dia menikmatinya sepenuhnya.
Aku tidak mau dia merasa kesepian walau cuma sedikit. Untuk itu, kehadiran Mama memang penting.
Walaupun dalam keseharian kami hampir tidak pernah bertemu, setidaknya aku ingin Mama melakukan sesuatu untuk hari ulang tahunnya.
...Sekarang bukan waktunya buat aku keras kepala. Seperti kata Akiyama, aku harus membuang harga diriku dan benar-benar menghadapinya.
“Itu keputusan yang bagus. Seperti yang tadi kubilang, urusan pesta ulang tahunnya serahkan padaku. Kamu fokus membujuk ibumu, Kyota. Waktunya bahkan nggak sampai seminggu lagi.”
“Iya. Aku mengandalkanmu.”
Ulang tahunnya akhir pekan ini. Sebelum itu, aku harus berhasil meyakinkan Mama.
Sebelum Akiyama mengatakannya tadi, yang kupikirkan cuma bagaimana caranya mengalihkan perhatian Soyoka dari rasa sepi karena Mama tidak datang.
Tapi yang benar-benar diinginkan Soyoka tetaplah Mama sendiri.
...Aku akan memastikan Mama hadir di ulang tahun Soyoka. Aku pun mengepalkan tangan, meneguhkan tekadku.
“Yah, untuk hari ini aku pulang dulu. Soyoka-chan juga sudah tertidur.”
“Maaf, padahal kamu sudah repot-repot datang.”
“Nggak apa-apa. Ibuku juga bakal pulang malam ini, dan aku memang sudah berencana makan malam di rumah.”
Sepertinya masa sibuk di rumah Akiyama sudah selesai, dan hari-hari ketika ibunya pulang tepat waktu sekarang makin sering. Kalau Akiyama sampai memaksakan diri lagi, itu juga merepotkan, jadi kabar ini bagus.
Masa sibuk ibuku sendiri rasanya terjadi sepanjang tahun... Entah kapan dia akan benar-benar istirahat.
“Makasih untuk semuanya.”
“Sama-sama. Itu hal yang wajar, sebagai teman sesama ortu.”
“Iya. Memang itulah teman sesama ortuku.”
Aku dan Akiyama saling membenturkan kepalan tangan lalu tertawa bersama.
Baiklah, sekarang saatnya ganti suasana dan mulai benar-benar berusaha demi ulang tahun Soyoka.