Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 2 Chapter 9 — Ulang Tahun Adik Perempuanku

Waktu berlalu begitu cepat, dan tanpa terasa tibalah hari ulang tahun Soyoka.

Langit cerah sekali, seolah-olah bahkan langit pun sedang memberi restu. Seperti yang diduga dari adik perempuan yang dicintai dunia...

“Soyoka, selamat ulang tahun!”

“Makasii!”

Aku memeluk Soyoka yang bangun dengan ceria seerat mungkin.

Iya, itu senyum yang bagus.

Beberapa hari terakhir ini aku sudah pontang-panting demi hari ini... Jadi begitu melihat Soyoka tersenyum, semua rasa lelahku langsung hilang.

Tapi begitu teringat rencana setelah ini, perutku langsung terasa mulas.

Kurasa aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi rasa cemas ini tetap tidak bisa hilang.

“Mulai hari ini kamu sudah empat tahun, Soyoka!”

“Kuwemoto Soka, umuw empat tahun!”

“Kamu masih nunjukin tiga jari. Kalau empat itu begini.”

Aku menunjukkan tanganku dengan ibu jari ditekuk. Soyoka pun menirukanku dan mengangkat empat jari.

Dia bahkan sudah bisa memperkenalkan diri dengan benar. Anak baik sekali!

“Onii-chan umuwnya belapa?”

“Aku enam belas.”

“Enam belas... Belapa tahun lagi biar kita sama?”

“Itu nggak bakal bisa kamu kejar sampai seumur hidup...”

“Gaan.”

Selama aku belum mati, aku memang akan selalu lebih tua. Itu sudah pasti.

“Soka nanti akan lebih besaw dari Onii-chan.”

“Aku sih nggak mau adik perempuanku lebih tinggi dariku... Tapi aku yakin kamu nanti bakal tumbuh jadi wanita cantik dengan tubuh yang bagus! Waktu kecil pun kamu sudah imut, jadi mau yang mana pun tetap bagus!”

“Tubuh bagus!”

Soyoka bertolak pinggang lalu memamerkan tubuhnya dengan penuh gaya. Imut.

Soyoka akan terus bertambah umur dan tumbuh semakin besar, sedikit demi sedikit. Rasanya itu membahagiakan sekaligus menyedihkan. Aku mau Soyoka yang sudah besar dan Soyoka kecil sekaligus...

“Onii-chan,” panggil Soyoka dengan suara manja sambil menadahkan kedua tangannya.

“Mmm!”

“Hm?”

Aku menaruh kedua tanganku di atas tangan Soyoka.

“Bukan itu!”

“Hadiah nanti dulu. Pertama, kita pergi keluar.”

“Kelual?”

“Hari ini kita sibuk.”

Betul. Rencana hari ini bukan cuma makan kue.

Nanti sore, Akiyama sudah menyiapkan pesta ulang tahun untuk kami.

Aku sudah janji urusan itu kuserahkan padanya. Jadi yang harus kupikirkan sekarang adalah ini.

“Pergi kelual!”

Soyoka berlari kecil ke kamarnya lalu membawa pakaian yang dulu dipilihkan Hiiragi untuknya. Dia menggerutu kecil saat berganti baju, lalu mengenakan kaus kakinya dengan benar.

Setelah itu dia berputar di depanku dan berpose.

“Pewsiapan selesai!”

“Imut banget... Tunggu sebentar sebelum berangkat. Pertama, sesi foto dulu.”

“Ini Soka umuw empat tahun.”

Entah kenapa Soyoka sangat semangat, sampai-sampai dia membuat pose peace ke arah kamera.

Ulang tahun memang yang terbaik!

Setelah sesi pemotretan yang cukup panjang, kami sarapan makan siang ringan lalu keluar rumah.

“Kita mau ke mana?”

“Itu rahasia sampai kita sampai.”

Aku belum memberitahu Soyoka kami akan pergi ke mana.

Soalnya ini kejutan. Selain itu, aku juga bakal repot kalau ekspektasinya terlanjur terlalu tinggi.

Tempat yang kami tuju setelah keluar rumah adalah stasiun terdekat.

“Naik keweta?”

“Iya. Kita jalan-jalan agak jauhan sedikit.”

“Kencan!” seru Soyoka kegirangan sambil duduk di kursi kereta dan melihat ke luar jendela.

Ulang tahunnya jatuh di hari Sabtu, jadi ini kesempatan bagus. Sebenarnya dari dulu aku memang sudah memikirkan untuk pergi ke suatu tempat.

Masih ada banyak sekali tempat yang belum pernah kami kunjungi, dan kalau pergi ke Tokyo, mencari tempat bermain juga tidak sulit. Itu sudah lebih dari cukup untuk menciptakan suasana ulang tahun yang spesial.

Tapi... pada akhirnya itu tetap cuma akan jadi kami berdua seperti biasa.

Kalau buatku sih tidak masalah, tapi buat Soyoka mungkin berbeda.

“Aku suka pegi kelual!”

Soyoka yang tersenyum lebar sambil mengayun-ayunkan kakinya tampak sedikit memaksakan diri.

Sejak pagi ini, Soyoka tidak menyebut soal Mama sama sekali. Sudah beberapa hari ini dia seperti itu.

Kurasa dia sudah sadar bahwa Mama memang tidak akan meluangkan waktu untuk datang di hari ulang tahunnya, jadi dia menyerah.

Aku benar-benar senang karena Soyoka tumbuh makin dewasa, tapi aku berharap dia tidak menjadi dewasa dengan cara seperti itu.

“Soyoka...”

“Yup.”

Aku sempat ingin bertanya, kamu mau bertemu Mama? tapi lalu kuurungkan.

Jawabannya sudah jelas, dan itu hanya akan membuatnya semakin terluka.

“Nggak, nggak apa-apa.”

“Onii-chan aneh.”

Soyoka terkikik lalu kembali memandangi pemandangan di luar.

“Lihat, ada bola gede!”

“Serius?! Hebat banget kamu bisa nemu itu, Soyoka!”

“Aku mau main soccew pakai itu.”

“Itu... kayaknya nggak bakal bisa kecuali kamu jadi jauh lebih besar...”

Yang ditemukan Soyoka ternyata sebuah bangunan bulat raksasa. Kalau tidak salah, itu tangki gas.

Waktu pertama kali aku melihatnya dulu, aku juga sama sekali tidak tahu benda itu buat apa...

“Lebih besaw... kayak sepuluh tahun?”

“Kurasa mau umur berapa pun itu tetap nggak bakal bisa.”

“Kalau gitu seratus tahun.”

“Nenek yang sangat kuat, ya.”

Bahkan sambil mengobrol santai seperti ini pun, jantungku terus berdegup kencang.

Aku bertanya-tanya apa Soyoka akan senang dengan tempat yang sekarang sedang kutuju.

Setelah naik kereta cukup lama, kami tiba di stasiun tujuan. Ini stasiun tempat Shinkansen juga berhenti, tapi tentu saja kami tidak pergi sejauh itu.

Kami keluar dari stasiun lalu berjalan di jalan yang dipenuhi gedung-gedung perkantoran.

Sambil menggenggam erat tangan Soyoka, aku berjalan menuju tujuan kami dengan melihat peta di ponsel.

“...Ini dia.”

Beberapa menit kemudian, kami sampai di depan sebuah gedung perkantoran.

“Woooh,” ucap Soyoka terpukau sambil mendongak menatap gedung itu.

“Apa Soka mau kelja?”

Mungkin karena melihat banyak orang dewasa bersetelan jas keluar masuk gedung, dia jadi berpikir begitu.

Soyoka langsung memasang wajah tajam dan bertolak pinggang.

“Soka umuw empat tahun juga bisa kelja. Serahkan padaku.”

“Sayangnya kita datang bukan buat kerja.”

Rasanya sayang memadamkan semangat anehnya itu, tapi tentu saja aku tidak membawa anak TK ke sini untuk bekerja.

Tempat ini... adalah kantor Mama.

Dengan sedikit gugup, aku masuk ke dalam gedung.

“Permisi, nama saya Kuremoto Kyota...”

Aku menyampaikan tujuanku pada resepsionis. Gedung ini menampung beberapa perusahaan, dan perusahaan Mama adalah salah satunya.

Resepsionis itu menatapku sambil tersenyum geli, dan itu membuatku sedikit kikuk.

Dia segera menyiapkan kartu tamu untukku, lalu kami pun naik lift.

“Soyoka, ini hadiah ulang tahun pertamamu.”

“Gedung?”

“Aku memang nggak bisa kasih hadiah kayak orang kaya... Tapi kurasa ini sesuatu yang bakal bikin kamu lebih senang lagi.”

Ting. Lift berhenti.

Begitu pintu terbuka perlahan, terlihat dinding dengan nama perusahaan tertulis besar.

Soyoka memiringkan kepala, tampak bingung.

“Hadiahnya itu... tur keliling tempat kerja. Tempat kerja Mama.”

“Mama?”

Soyoka mendongak kaget ke arahku.

Aku tidak berkata apa-apa, cuma menggandeng tangan Soyoka lalu membawanya masuk ke kantor.

“Kyota, Soyoka.”

Begitu mendengar suara itu, Soyoka langsung melepaskan tanganku lalu berlari.

“Mama!”

Yang menyambut kami adalah Mama, masih dengan setelan kerjanya. Berbeda sekali dari sosok berantakan yang kulihat di rumah, sekarang dia tampak tegas dan rapi.

“Hore! Mama! Kenapa? Bukannya lagi kelja?”

“Oh, Soyoka. Mama memang sedang kerja.”

“Soka juga mau kelja!”

“Itu nggak bisa, jadi kamu cuma tur keliling saja.”

“Oke!”

“Bisa pelan sedikit suaranya?”

“Aku bi... sa.”

Soyoka yang tadi hampir berteriak langsung buru-buru menutup mulutnya sendiri dengan tangan.

Mama tersenyum lalu mengangguk kecil, seolah bilang bagus.

Soyoka membalas anggukan itu dengan senyum lebar, dan Mama pun sempat mengangkat tangan ke arah kepala Soyoka. Tapi tangannya berhenti di tengah jalan. Sebagai gantinya, dia mengambil paper bag yang diletakkan di meja resepsionis lalu menyerahkannya pada Soyoka.

“Nih, hadiah ulang tahun. Bukanya nanti saja. Mama minta yang paling populer ke pegawai tokonya, jadi harusnya bagus.”

“Makasii!”

“Iya, ya sudah. Mama balik kerja lagi.”

Meski hari ini Sabtu, Mama memang sedang bekerja. Sepertinya dia memang tidak bisa terus-terusan menemani kami di sini.

Mama melambaikan tangan pada Soyoka, lalu melewatinya dan berdiri di depanku.

“Kamu benar-benar membawanya.”

“Iya. ...Makasih.”

“Biasa saja. Mama masih akan mendengarkan permintaan anak Mama kok. Apalagi kalau kamu sampai memintanya seperti itu.”

“Ugh...”

Seperti kata Akiyama, kali ini aku memang benar-benar membuang harga diriku dan memohon padanya.

Begitu benar-benar berhadapan dengan Mama, aku ternyata bisa bicara cukup normal dengannya.

“Yah,” kata Mama sambil menggaruk pipinya dengan malu-malu.

“Mama juga senang. Mama nggak nyangka Soyoka bakal sebahagia ini.”

“Ya jelas senang, lah. Ini ulang tahunnya.”

“Benarkah? Soalnya Mama sendiri dulu nggak pernah ingin melihat orang tua Mama.”

Mama menyipitkan mata, tampak sedikit kesepian.

“Ah, melenceng dari topik. Pokoknya, Mama balik kerja lagi. Jangan terlalu bikin repot, ya?”

“Aku tahu. Aku bakal suruh dia lihat-lihat dengan tenang.”

“Iya. Ayo, Mama antar ke bagiannya Mama dulu.”

Mungkin karena sedang di kantor, cara bicaranya terdengar lebih tenang. Kalau melihatnya di sini, dia benar-benar punya aura wanita karier yang jago bekerja. Padahal kalau di rumah dia cuma orang dewasa yang nggak berguna.

Sepertinya Mama akan menunjukkan tempat kerjanya pada kami, jadi kami pun mengikutinya dari belakang.

“Onii-chan, Mama ada di sini.”

“Iya.”

“Kamu bilang dia nggak datang, tapi dia ada di sini!”

“Itu karena kita yang datang ke sini.”

Soyoka mengayun-ayunkan tanganku. Tapi karena dia masih menepati janjinya untuk bicara pelan, suaranya cuma bisikan.

“Aku seneng.”

Soyoka tersenyum cerah, dan di sudut matanya mulai muncul air mata. Dia benar-benar tampak bahagia.

Syukurlah. Aku sempat berjudi dalam hati apakah dia bakal sedih karena melihat Mamanya tetap bekerja di hari ulang tahunnya, atau malah senang karena bisa bertemu dengannya.

“Duduk di sini. Oh ya, minumannya ambil sendiri aja dari sana. Memangnya sih cuma ada kopi sama teh. Kalau nggak suka, di bawah ada mesin minum.”

Sepertinya Mama sudah menyiapkannya, karena di ujung kantor ada dua kursi lipat.

Setelah menyuruh kami duduk, Mama menunjuk ruang istirahat dan berkata dengan nada datar.

Lalu sesudah itu dia langsung kembali bekerja.

Meja kerja Mama memang agak jauh dari kursi lipat kami, tapi tetap masih bisa terlihat.

Di atas mejanya ada tumpukan dokumen dan komputer dengan banyak sekali jendela terbuka. Kelihatannya memang sangat sibuk.

“Oh, ini anak-anaknya Kepala Kuremoto?”

“Iya. Imut, kan?”

“Imut banget. Kamu juga pulanglah lebih sering. Tiap hari lembur terus.”

“Iya, iya. Kalau kamu mau kerjain semua tugasku...”

“Ah, itu sih nggak mau.”

Bahkan sambil bertukar kata seperti itu dengan pegawai wanita lain, tangan Mama tetap terus bekerja tanpa berhenti.

Mama bekerja di sebuah biro iklan.

Katanya dua lantai gedung ini dipakai oleh perusahaan itu.

Tadi waktu di lobi aku juga sempat lihat, memang ada cukup banyak perusahaan berbeda di sini. Selama ini aku kira satu perusahaan itu pasti punya gedung sendiri, tapi ternyata nggak juga.

Bagian dalam kantornya juga lumayan bergaya, dengan dinding kaca dan semacam logo terpampang di dinding.

Yah, aku memang nggak tahu kantor lain seperti apa, jadi sebenarnya aku juga nggak bisa menilai banyak...

“Duduk diam sambil lihat-lihat begini malah bikin nggak tenang...”

Bukan cuma Soyoka. Ini juga pertama kalinya bagiku datang ke kantor seperti ini.

Karena itu, entah kenapa aku jadi agak gelisah.

Walaupun hari ini Sabtu, ternyata masih banyak pegawai yang bekerja di kantor, seolah-olah mereka benar-benar tidak punya waktu luang.

Mama juga langsung tenggelam dalam pekerjaannya lagi, seolah kami bahkan bukan sesuatu yang perlu dia perhatikan.

Perasaan canggungnya kuat sekali...

Berbeda denganku yang sama sekali tidak bisa tenang, Soyoka justru memasang ekspresi serius.

Dia duduk manis di kursinya, tangan di atas lutut, tanpa bergerak sama sekali.

Sepertinya dia benar-benar sedang menepati janjinya untuk diam.

“Onii-chan...”

Soyoka mendongak ke arahku.

“Mama kelihatan keren banget!” bisiknya sambil menutup mulut dengan tangan.

Matanya berbinar-binar dan senyumnya sangat lebar.

Syukurlah... Aku sempat khawatir dia malah akan syok melihat Mama hanya mengabaikannya dan fokus bekerja, tapi sepertinya dia justru menikmatinya.

Serius, perutku sudah mulas sejak pagi. Tapi demi Soyoka, segini sih akan kutahan!

“Mama hebat.”

“Iya.”

“Seperti yang diduga dari mama-nya Soka.”

Soyoka terus menatap Mama yang sedang bekerja dengan penuh perhatian.

Padahal yang dia lihat cuma Mama sedang mengetik di komputer, tapi dia lebih serius daripada saat menonton anime. Bagi Soyoka, melihat Mama bekerja seperti ini pasti terasa baru dan menarik.

Dan kalau dipikir-pikir, buatku juga ini pertama kalinya masuk kantor.

“Suasananya beda banget kalau lagi kerja...”

Mama mengerjakan tugasnya sendiri sambil memberi instruksi pada pegawai lain. Aku paham sekarang kenapa perusahaan sampai memohon-mohon agar dia cepat kembali setelah cuti melahirkan.

“Soka juga mau kelja.”

“Pekerjaanmu itu main dan tidur, Soyoka.”

“Nggak bisa. Soka jago banget kalau soal itu.”

Dia memang terutama suka tidur...

“Kamu senang, Soyoka?”

“Iya!”

Itu senyum terbaik yang kulihat darinya sejak beberapa hari terakhir.

Keputusan membawanya tur ke tempat kerja ternyata memang tepat.

Aku sendiri sama sekali tidak pernah terpikir soal tur ke tempat kerja.

Kedengarannya aneh, tapi aku selalu merasa ibuku, saat dia pergi bekerja, adalah sosok yang tidak ada hubungannya dengan keluargaku. Bahkan hari ini, di hari ulang tahun Soyoka, aku sempat berpikir kalau dia sedang bekerja, ya memang tidak ada yang bisa dilakukan.

Aku harus berterima kasih pada Mama.

Karena yang memberi ide untuk tur tempat kerja hari ini... justru Mama sendiri.

Itu terjadi beberapa hari yang lalu.

Aku harus membujuk Mama, entah bagaimana caranya.

Setelah berjanji pada Akiyama, aku langsung menjalankan rencanaku keesokan harinya.

“...Kamu ngapain di tempat kayak gini?”

Mama mengerutkan kening curiga saat melihatku duduk menunggu di depan rumah seperti sedang menyergap seseorang.

Meski hari musim panas masih panjang, matahari saat itu nyaris benar-benar tenggelam. Udara lembap yang basah menempel di kulitku.

“Ah, Mama tahu. Kamu diusir Soyoka, ya? Wah, kamu memang nurut banget.”

“Bukan begitu.”

“Kalau gitu apa?”

Aku sempat menatap lampu jalan sejenak, ragu untuk bicara.

“...Aku nungguin Mama.”

“Hah?”

Walaupun bilang mau membujuknya, bukan berarti aku punya rencana yang jelas.

Tapi bagaimanapun juga, semuanya tidak akan mulai kalau kami tidak bicara dengan benar dulu. Karena itulah aku menunggunya di sini, sejak Soyoka tidur.

“Kamu mau ngomong sesuatu? Nanti saja ya, Mama dengar nanti~”

“Nggak, harus sekarang.”

“Kenapa? Mama capek, tahu.”

“Kalau Mama sudah minum nanti, kita nggak bakal bisa ngobrol baik-baik.”

Itulah alasan kenapa aku sengaja menunggu di luar.

Begitu Mama pulang, dia selalu langsung membuka bir. Kalau sudah begitu, percakapan yang layak mustahil terjadi.

Memang ada pilihan untuk mencegahnya minum, tapi kalau pembicaraan itu dilakukan di dalam rumah, aku sendiri juga nggak akan bisa tenang...

Makanya aku pilih menunggu di luar.

Kupikir kalau di luar, aku bisa bicara lebih tenang.

“...Baiklah.”

Mungkin karena dia menangkap sesuatu dari sikapku, Mama mengangkat bahu lalu duduk di sampingku.

Sinar lampu jalan menerangi profil wajahnya.

Mama mengeluarkan rokok elektrik dari saku jaketnya lalu menggenggamnya. Kalau dipikir-pikir, dia memang tidak pernah merokok di dalam rumah.

“Jadi... um...”

Padahal aku sudah berniat memikirkan baik-baik apa yang ingin kukatakan, tapi entah kenapa kata-katanya tak kunjung keluar.

“Terakhir kali kita ngobrol santai begini kapan, ya?”

Anehnya, justru Mama yang lebih dulu membuka pembicaraan.

Asap yang dia hembuskan larut ke udara malam.

“Entahlah. Aku nggak ingat.”

“Mama juga. Yah, mungkin dari awal kamu memang nggak mau bicara sama Mama.”

“Mama juga sama.”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa kesal mendengar kata-katanya.

“Jadi, kamu memang mau ngomong sesuatu, kan? Soal Soyoka?”

“Iya. Untuk ulang tahun Soyoka, bisa nggak Mama entah bagaimana caranya meluangkan waktu?”

“Buat apa? Kalau Mama datang pas ulang tahunnya, nanti suasananya malah rusak.”

“Nggak benar. Soyoka paling ingin Mama ada di sana. Lebih dari hadiah apa pun... dia ingin waktu bersama Mama.”

“Itu bohong. Orang tua itu...”

Mama memasang wajah seperti baru menelan sesuatu yang pahit lalu menggeleng.

Aku sendiri juga sudah tidak tahu berapa kali mencoba membujuknya. Kata-kata yang sama jelas tidak akan sampai padanya.

“...Aku juga dulu begitu.”

“Hah?”

“Aku juga dulu kesepian.”

Begitu mengatakannya, aku langsung memalingkan wajah karena malu.

Aku sama sekali tidak pernah mengira akan tiba hari ketika aku mengucapkan hal seperti itu.

Aku tidak pernah berniat mengakui kalau dulu aku kesepian, dan kupikir aku hanya membenci ibuku... begitu yang selama ini kukira.

Aku baru menyadarinya karena Akiyama mengatakannya padaku. Dan sekarang, saat kuucapkan langsung, aku kembali menyadarinya dengan lebih jelas.

Aku kesepian. Karena itulah aku memelihara perasaan yang nyaris seperti kebencian terhadap ibuku yang hampir tak pernah pulang.

“Kesepian? Kenapa?”

Mata Mama membelalak dan mulutnya sedikit terbuka.

“Kenapa, katamu... ya... kalau pulang ke rumah dan nggak ada siapa-siapa, ya pasti kesepian.”

Siapa sangka hari ketika aku dengan serius bilang kalau aku dulu kesepian benar-benar datang... Pipiku terasa panas.

“Mama kan sudah kasih uang dengan benar? Kamu juga masih anak-anak, jadi harusnya tinggal main saja sama teman.”

“Meski begitu, malam-malam aku tetap sendirian.”

“Malam ya tinggal tidur, kan? Sebelum tidur juga tinggal nonton TV.”

Sejak kecil, Ayah dan Mama memang hampir tidak pernah pulang.

Setiap kali aku pulang, rumah selalu gelap. Walaupun aku menyalakan TV, suara berisik para artis dan acara varietas malah justru membuatku merasa semakin hampa.

Tapi kalau TV dimatikan, aku tidak tahan dengan kesunyiannya.

Lalu setiap kali mendengar suara ramai keluarga-keluarga lain yang berjalan di jalan komplek, dadaku selalu terasa sesak.

Dan setiap kali itu juga, kebencianku pada Mama bertambah.

...Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin perasaan itu memang kesepian. Meski sekarang sudah berubah jadi sesuatu yang jauh lebih terpelintir.

“...Dulu aku sempat berharap orang tuaku hilang saja.”

Saat aku menatap ke bawah dalam diam, Mama bicara dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Mama memang nggak pernah mengenalkan mereka padamu, tapi orang tua Mama... kakek nenekmu... benar-benar sampah. Kalau mereka tersinggung sedikit saja, mereka langsung main tangan... rumah seperti itulah tempat Mama dibesarkan.”

Kurasa itu pertama kalinya aku mendengar Mama bicara soal keluarganya sendiri.

Mama memelintir bibirnya menjadi senyum getir.

“Mama kabur dengan kawin lari buat melarikan diri dari sana, dan entah bagaimana, Mama malah bikin kesalahan dengan menjadi orang tua juga.”

“Begitu ya...”

“Awalnya Mama pikir Mama nggak akan pernah jadi seperti mereka. Mama pikir Mama bisa membesarkan anak Mama dengan benar. Tapi... semakin kamu tumbuh besar, Kyota, Mama justru makin yakin kalau lebih baik Mama nggak terlalu ada di dekat kalian.”

“Itu nggak...”

“Darah mereka mengalir dalam diri Mama. Mama takut sekali membayangkan hari ketika tangan Mama mungkin terangkat ke anak Mama sendiri... Cuma membayangkannya saja bikin Mama nggak berani mendekat. Makanya Mama menjaga jarak. Kalau nggak berinteraksi, kita nggak akan saling melukai, kan?”

Suaranya bergetar, seperti benar-benar ketakutan.

Jadi Mama juga punya alasannya sendiri. ...Meski tentu itu bukan berarti aku bisa langsung memaafkannya.

Tapi setidaknya, sepertinya dia bukan menghindari Soyoka karena membencinya.

Justru...

“Mama sayang Soyoka, kan? Beneran?”

“Tentu. Soyoka, dan kamu juga, Kyota... Mama sayang kalian berdua. Justru karena itu Mama nggak berani menyentuh kalian. Karena Mama nggak mau merusak kalian.”

Mama memang selalu bilang lebih baik kami tidak terlalu sering berinteraksi. Katanya hubungan orang tua dan anak yang tidak terlalu banyak bicara justru sudah pas.

Makanya Soyoka jadi kesepian, tapi... aku juga tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa justru interaksi itu bisa berakhir menyakitkan untuknya.

Memang ada keluarga-keluarga seperti itu. Kekerasan, kekerasan dalam rumah tangga... berita seperti itu sering terdengar. Dan rupanya keluarga Mama memang sungguh seperti itu.

“Meski begitu, Mama pasti nggak apa-apa.”

Entah kenapa, aku yakin sekali akan hal itu.

“Kenapa?”

“Karena Mama itu ibuku.”

“...Hah?”

“Tadi Mama sendiri bilang darah orang tua Mama mengalir dalam diri Mama, kan? Tapi aku, yang harusnya mewarisi darah yang sama, justru sangat mencintai Soyoka. Aku sayang banget sama dia.”

“...Terus?”

“Kalau aku yang lahir dari Mama bisa seperti ini, berarti Mama juga pasti bisa menyayangi Soyoka dengan normal.”

Aku teringat sesuatu.

Waktu aku ngobrol dengan Mizuki dan yang lain, aku bilang aku nggak punya ingatan apa pun tentang Mama melakukan sesuatu untuk ulang tahunku. Tapi... mungkin sebelum aku cukup besar untuk mengingat. Ada satu kali ketika Mama membelikan kue untukku.

Itu memang bukan ingatan yang jelas, bahkan mungkin cuma bayangan dari keinginanku sendiri... tapi rasa hangat dari waktu itu jelas masih tersisa di dalam dadaku.

“Logika apaan itu... Hmph.”

Mama mengembuskan senyum kecil.

“Adik perempuan dan anak perempuan itu beda, tahu.”

“Nggak, begitu Mama sekali memeluk dia, Mama pasti akan ngerti. Soyoka itu super imut, lho.”

“Mama lebih tahu itu daripada kamu. Menurutmu siapa yang melahirkannya?”

“Hah? Aku lebih tahu dia. Jumlah waktu yang kuhabiskan bersamanya jauh beda.”

Mungkin ini pertama kalinya aku benar-benar saling balas bicara santai dengan Mama.

Kami memang sudah tak terhitung berapa kali bertengkar. ...Tidak, kalau dipikir-pikir, Mama justru selalu bicara dengan santai. Yang terus-terusan pasang kuda-kuda adalah aku.

Mungkin kalau dari dulu kami bicara dengan benar, kami bisa berdamai lebih cepat. Meski saat itu aku juga belum punya ruang hati untuk melakukan itu.

“Jadi, soal ulang tahun.”

“Maaf. Hari itu Mama memang kerja, dan meskipun mungkin berbeda karena sekarang kamu sudah SMA, Mama tetap merasa belum punya keberanian untuk berhadapan langsung dengan Soyoka.”

Sambil menyipitkan mata, Mama berkata begitu.

“...Tapi...”

“Tapi,” potong Mama sebelum aku sempat membantah.

“Kalau di kantor... saat Mama sedang kerja, mungkin Mama masih bisa ngobrol normal dengan Soyoka.”

“Di kantor... eh?”

“Kebetulan di perusahaan ini ada program tur tempat kerja.”

“Mama, jangan-jangan Mama jenius? Jenius dalam kerja?”

Suara Soyoka tiba-tiba membawaku kembali dari kilasan ingatan tentang bagaimana aku membujuk Mama.

Soyoka tampak sangat senang melihat Mama menangani pekerjaan satu demi satu dengan cekatan. Aku lega dia menikmatinya.

“Soyoka, bentar lagi kita pulang ya?”

Waktu aku melirik jam, ternyata cukup banyak waktu sudah berlalu.

Tur satu jam itu terasa selesai dalam sekejap.

Kurasa aku sebaiknya... tidak menyapa Mama dulu. Sejak tadi dia terus berbicara di telepon.

“...Oke.”

Soyoka tampak sedikit enggan, tapi cepat-cepat mengangguk.

Anak ini terlalu penurut.

...Perasaan Soyoka bahwa dia tidak boleh merepotkan Mama mungkin sudah mendekati semacam kebiasaan yang tertanam. Dari dulu dia memang selalu anak yang baik.

Soyoka turun dari kursinya lalu meraih tanganku. Tapi dia terus melirik ke arah Mama, seolah tidak rela pergi.

“Mama...”

Tidak mungkin ini saja cukup untuk memuaskan hatinya.

Memang hari ini ulang tahunnya, tapi yang bisa dia dapat cuma bicara sebentar dengan Mama. Setelah itu dia hanya menonton Mama bekerja dari jauh.

“Ayo, hadiahnya kita buka di kereta.”

“...Oke.”

Resepsionis tadi mengantar kami sampai keluar, dan aku menekan tombol lift.

Soyoka memeluk erat hadiah yang dibungkus itu, seolah benda itu sangat berharga.

“Soyoka!”

Tepat saat lift datang dan kami hendak masuk, terdengar suara dari belakang.

“Mama?”

Ternyata itu Mama. Mungkin dia sengaja berlari mengejar kami, karena napasnya sedikit terengah.

“Mama, kamu pulang baweng kita?”

“Nggak... Cuma, Mama baru kepikiran ada satu hal yang belum sempat Mama bilang.”

“Hm?”

Mama mendekati Soyoka. Dia berjongkok hingga sejajar dengan mata Soyoka.

Jarak mereka begitu dekat sampai sebenarnya Mama tinggal memeluknya saja. Tapi Mama tidak pernah menyentuh Soyoka. Seolah dia mengira sentuhannya akan merusak anak itu.

Dan Soyoka sendiri, karena takut dibenci kalau terlalu manja, juga tidak pernah memeluk Mama.

Setidaknya, biasanya begitu.

“Soyoka. Selamat ulang tahun, ya. ...Kamu sudah besar sekali.”

Mama mengulurkan tangan ke kepala Soyoka. Setelah beberapa kali ragu, akhirnya dia dengan hati-hati mengusap rambut Soyoka.

“Mama...!”

Begitu tersentuh, Soyoka langsung melemparkan diri ke pelukan Mama.

Dia merangkul ibunya sekuat tenaga, seolah ingin menebus semua waktu yang selama ini hilang.

“Aku sayang Mama. Aku sayang Mama.”

Mama menoleh padaku, alisnya turun dalam ekspresi bingung dan gelisah.

“Beneran nggak apa-apa ya, orang seperti Mama memeluk dia...?”

“Tentu saja. Mama itu ibunya Soyoka.”

“Ibu, ya. Mama nggak tahu seperti apa seorang ibu itu. Mama juga nggak pernah diajari.”

Mata Mama mulai dipenuhi air mata.

“Tapi aneh ya. ...Anak ini terasa sangat, sangat berharga.”

Dengan senyum yang nyaris menangis, Mama pun akhirnya memeluk Soyoka kembali dengan malu-malu.

Soyoka menangis cukup lama di pelukan ibunya.

“...Ternyata cuma sesederhana itu,” gumamku pelan sambil menggaruk kepala.

...Apa-apaan. Jadi dia sebenarnya bisa juga menyayanginya.

Mungkin pekerjaannya tetap tidak akan tiba-tiba berkurang, tapi kalau begini, setidaknya rasa sepi Soyoka mungkin akan sedikit berkurang.

“Kayaknya Mama harus balik kerja lagi.”

Beberapa menit kemudian, Mama berkata begitu sambil melepaskan pelukannya dari Soyoka.

“Mama pergi lagi?”

“Iya. Sampai jumpa lagi ya, Soyoka. Lain kali kalau kita ketemu, Mama akan dengarkan semua ceritamu.”

“Hore! Aku sayang Mama!”

Mama kembali mengelus kepala Soyoka dengan penuh kasih.

Sepertinya celah yang sempat terbentuk di antara mereka benar-benar telah tertutup.

Kalau melihat mereka sekarang, mereka tampak seperti orang tua dan anak yang biasa dan akrab.

“Kyota, makasih.”

“Iya.”

“Mau dipeluk juga?”

“Nggak usah.”

“Ehh, apaan sih. Kamu nggak imut banget.”

Aku sudah bukan di usia untuk itu. Lagi pula, yang kuinginkan tadi cuma memperbaiki hubungan Soyoka dengan Mama. Hubunganku dengannya itu urusan lain.

“Sabtu atau Minggu... entah kapan bulan depan. Kosongkan ya. Mama akan ambil cuti juga.”

Sebelum Soyoka yang baru memahami arti kalimat itu sempat melonjak kegirangan, Mama sudah lebih dulu kembali ke mode kerja.

Tapi barusan, sesaat saja, wajah sampingnya tampak bahagia. Mungkin itu cuma perasaanku.

“Ulang tahun emang hebat.”

Dari pagi tadi aku cemas setengah mati akan berakhir seperti apa, tapi ternyata pada akhirnya Mama cukup lembut, dan Soyoka juga bahagia, jadi ini memang keputusan yang benar.

“Kalau begitu, kita pulang sekarang?”

“Aww.”

“Kalau kita kelamaan di kantor, nanti malah jadi mengganggu.”

“Aku belum mau pulang. Aku mau nunggu Mama selesai.”

Mungkin karena terlalu senang, Soyoka jadi mulai ngambek kecil.

Aku berjongkok lalu mengelus kepalanya.

“Hehehe... tahu nggak, ulang tahunmu itu belum selesai, lho.”

“Beneran?”

“Iya. Habis ini kita masih ada pesta di rumah!”

“Pesta! Mauuu!”

Dengan susah payah, aku berhasil mengembalikan mood Soyoka. Kami turun naik lift lalu keluar dari gedung.

Tentu saja, ini bukan satu-satunya hadiah ulang tahun untuk Soyoka. Bahkan, membawanya bertemu Mama hari ini rasanya lebih seperti bonus.

Karena aku sendiri juga belum benar-benar merayakannya bersama dia!

“Onii-chan, gendong.”

“Siap! Hari ini kita sibuk, jadi kita harus hemat tenaga.”

Karena Soyoka manja padaku, aku langsung mengangkatnya ke punggungku.

Meski sudah empat tahun, dia tetap anak kecil. Ya tentu saja.

Tapi berat tubuhnya yang dari hari ke hari makin bertambah, mulutnya yang semakin lincah, jumlah hal yang bisa dia lakukan yang makin banyak. Semua perubahan yang cuma bisa kurasakan karena aku selalu ada di sisinya itu, membahagiakanku sampai tak tertahankan.

Aku ingin merayakannya setiap hari, bukan cuma di ulang tahunnya saja.

“Aku suka digendong.”

Dia menempelkan dahinya ke punggungku.

“Jangan panggil aku kakak, panggil aku kaki.”

“Kaki?”

Wah, bukan. Bukan berarti aku masokis atau semacamnya.

Aku cuma taksi eksklusif milik Soyoka. Aku akan membawanya ke mana pun.

“Aku penasawan hadiahnya Mama apa.”

“Nanti kalau kita dapat tempat duduk di kereta, kita buka?”

“Iya! Aku rasa isinya computew! Soalnya tadi ada banyak.”

“Nggak segede itu juga.”

Gara-gara di kantor tadi banyak komputer berjajar, kamu pikir kita boleh seenaknya bawa pulang satu?

Dari dalam paper bag, aku bisa melihat ada kotak terbungkus. Mama tadi bilang dia tinggal minta yang paling populer pada pegawai toko, tapi sebenarnya isinya apa ya.

“Cepet, cepet.”

Untungnya keretanya kosong, jadi Soyoka langsung menemukan dua kursi kosong berdampingan lalu duduk dengan plop.

Seorang nenek yang duduk di sebelahnya memandang Soyoka dengan senyum lembut. Aku mengangguk kecil padanya lalu ikut duduk.

“Aku buka sendili.”

“Karena kamu sudah dewasa?”

“Betul.”

Dengan dada membusung penuh semangat, Soyoka merebut hadiah itu dariku.

Dia membongkar kertas pembungkusnya dengan berantakan.

“Itu Miniskirt-chan!”

Begitu sedikit bagian kotaknya terlihat, dia langsung tahu. Setelah itu kecepatannya membukanya jadi makin gila. Dalam sekejap kertas pembungkusnya sudah tersobek habis, dan seluruh isinya pun terlihat.

Ternyata itu mainan dari anime yang belakangan sangat digandrungi Soyoka. Semacam boneka dress-up dari tokoh utamanya.

“Mama hebat! Ini yang Soka pengen. Kok bisa tau?”

“...Siapa tahu ya.”

Aku sendiri tidak pernah memberitahunya...

Janji soal tur tempat kerja memang dibuat oleh Mama, tapi keputusan untuk menyiapkan hadiah dan memilih barang ini juga sepenuhnya keputusan Mama.

Bisa saja ini memang cuma kebetulan. Miniskirt-chan memang anime yang entah kenapa sangat populer, dan barang ini juga akhir-akhir ini sering muncul di iklan. Kalau dia minta barang paling populer ke pegawai toko, wajar kalau tanpa sengaja pilihannya jatuh ke ini.

Atau jangan-jangan... Mama memang tahu Soyoka menginginkannya, lalu sengaja memilih ini. Kalau begitu, alasan “aku cuma minta yang paling populer” tadi mungkin cuma karena dia malu?

Dua-duanya sama-sama mungkin, jadi aku sendiri tidak tahu.

Satu-satunya hal yang pasti adalah, menyebalkan sekali, tapi pilihan Mama benar-benar tepat.

Semangat Soyoka langsung melonjak ke titik tertinggi, bahkan lebih heboh daripada saat upacara masuk sekolah maupun tamasya orang tua dan anak.

“Dengan ini, baju rok Miniskiwt-chan bisa diganti.”

“Padahal justru roknya itu tubuh utamanya, kan?”

“Wawna roknya bisa ganti!”

Karakter pakaian yang jadi manusia bernama Miniskirt-chan itu, sesuai namanya, memang figur miniskirt dengan tangan dan kaki.

Sekilas dari tulisan di kotaknya, sepertinya kita bisa memilih dan mengganti rok dengan berbagai pola dan warna.

“Boleh aku buka?”

“Kalau kamu buka di sini, nanti bagian-bagiannya hilang, jadi nanti pas di rumah saja, ya.”

“Kalau gitu aku lihat-lihat aja.”

Soyoka menerima itu dengan mudah, lalu sampai kami turun dari kereta dia terus menatap kotaknya sambil tersenyum.

Setelah naik kereta selama waktu yang sama seperti tadi, kami pun tiba di stasiun dekat rumah. Sekarang sudah lewat jam tiga sore.

“Pas banget...”

“Hm?”

“Maksudku, kayaknya kita akan pas sampai untuk pestanya.”

“Pesta, aku nggak sabal!”

Tentu saja, rencana setelah ini juga sudah sempurna.

Aku sudah menyerahkan pesta ulang tahun pada Akiyama. Rencananya, setelah aku dan Soyoka keluar rumah tadi, Akiyama akan datang ke rumahku dan menyiapkan semuanya. Jujur sih aku agak cemas, tapi kali ini aku harus percaya pada Akiyama...

Begitu aku mengirim pesan, balasan yang datang bilang kalau persiapannya sudah selesai, jadi kami langsung pulang ke rumah.

“Soyoka, bisa buka pintunya?”

“Serahkan padaku. Aku kan udah empat tahun!”

Begitu kuminta, Soyoka langsung berlari kecil ke depan pintu.

Dia meraih gagangnya lalu membuka pintu lebar-lebar.

“Soyoka-chan, selamat ulang tahun!”

Pop! Terdengar suara pesta popper yang enak didengar. Kertas warna-warni beterbangan ke udara.

“Selamat. Kami sudah menunggu.”

“Soyoka-chan, selamat ulang tahun!”

Di belakang Iku berdiri Akiyama dan Hiiragi.

Sambil mengucapkan selamat, mereka juga menarik tali popper masing-masing.

Soyoka membeku di tempat, tangannya masih menempel di pintu yang terbuka.

“Ini pesta ulang tahun untukmu, Soyoka, bareng semuanya!”

“Horeeee!”

Soyoka menjerit kegirangan lalu masuk ke genkan, disambut semua orang dengan senyum lebar.

Dengan momentum yang sama, dia langsung memeluk Iku.

“Ikuuu!”

Iku yang tubuhnya kecil tapi surprisingly stabil langsung menangkap Soyoka. Dengan wajah agak repot tapi juga tidak sepenuhnya keberatan, dia membalas pelukannya.

“...Kali ini aja aku izinkan.”

Akiyama yang melihat kontak fisik antara Iku dan Soyoka itu langsung menggertakkan gigi belakangnya.

Aku sendiri juga pengin memisahkan mereka sekarang juga... tapi aku nggak mau merusak suasana ulang tahun yang bahagia, jadi aku menahannya sambil mengepalkan tinju. Tenang, tangan kananku!

“Ahaha, ekspresi kalian berdua luar biasa banget.”

Hiiragi tertawa melihat kami, tapi kami serius.

Pokoknya cuma hari ini, ya...?

“Kenapa semuanya ada di sini?”

“Karena ini ulang tahunmu.”

“Ulang tahun emang hebat! Soka mau tiap hali itu ulang tahun Soka.”

Soyoka mengangkat kedua tangannya.

Kalau tiap hari ulang tahun, dalam sekejap dia bakal jadi nenek-nenek!

“Soyoka-chan, ayo ke sana.”

Iku yang akhirnya berhasil lepas dari pelukan Soyoka menggandeng tangannya lalu membawanya ke ruang tamu.

Pesta sesungguhnya baru dimulai sekarang!

Ruang tamu sudah didekorasi dengan origami dan macam-macam lain oleh Akiyama dan yang lain, dan suasana hati Soyoka langsung naik tinggi.

“Makasih, Akiyama.”

“Hehe, yang beginian sih gampang.”

Akiyama kelihatan sangat bisa diandalkan, sesuatu yang jarang.

Dia yang merancang seluruh pesta ulang tahun ini. Alasan aku tadi bisa fokus membujuk Mama juga berkat Akiyama.

Kali ini aku benar-benar berutang banyak padanya.

“Kamu juga, Hiiragi. Kamu bantu banyak banget. Makasih.”

“Sama-sama. Padahal dulu kamu bilang pengin jadi orang yang bikin dia bahagia sendiri.”

“Ugh... ya, waktu itu aku masih mikir akan menghabiskannya cuma berdua.”

Hiiragi tersenyum jahil lalu menyodok bahuku.

Menyebalkan sih, tapi memang fakta bahwa dia membantu banyak hal, jadi aku harus terima.

“Oh iya, ngomong-ngomong, Mizuki ke mana?”

“Ada latihan klub, jadi dia telat. Sebagai catatan, aku bolos.”

“Itu... nggak apa-apa?”

“Klubku kan tiap hari. Bolos sehari nggak masalah. Lagi pula aku juga pengin melakukan sesuatu buat Soyoka-chan!”

Dia sampai mau datang ke tempat tanpa Mizuki, ya... Jujur aku agak terkejut, meski itu pikiran yang agak tidak sopan.

Tapi sepertinya Hiiragi memang betulan tergila-gila pada Soyoka. Malah saat Mizuki nggak ada pun, dia lebih fokus pada Soyoka daripada apa pun. Maaf ya, soalnya adik perempuanku memang terlalu imut...

“Soyoka-chan, sini. Aku sudah bikin kuenya, jadi tinggal kamu pasang stroberinya saja.”

“Stwawbewi! Soka bakal bikin kuenya.”

Soyoka mencuci tangan dengan baik lalu berdiri di samping Hiiragi.

“Hii-chan, aku siap!”

“Anak baik. Kalau begitu aku taruh kuenya di meja dulu.”

Hiiragi membuka kulkas lalu mengeluarkan whole cake yang sudah diselimuti whipped cream. Sebenarnya itu saja sudah tampak enak, tapi setelah itu dia mengeluarkan mangkuk berisi tumpukan stroberi.

“Aku panggang sponge cake-nya di rumah~”

Soyoka langsung berdiri di atas kursi, matanya berbinar.

Kami memang sudah sering membeli kue, tapi ini pertama kalinya dia benar-benar ikut membuatnya, walau cuma bagian topping.

“Soyoka-chan, kamu bisa taruh sesukamu kok, kayak begini.”

Hiiragi menaruh kue dan mangkuk stroberi di atas meja sambil menjelaskan.

“Oke!”

Soyoka menjawab penuh semangat lalu langsung mengambil satu stroberi.

“Iku, kamu juga mau ikut?”

Soyoka melihat Iku yang dari tadi memperhatikan dengan sangat serius dari pinggir meja, lalu mengajaknya.

“N... Nggak!”

Dan seperti biasa, Iku langsung jaim. Padahal wajahnya jelas kelihatan pengin...

Tentu saja Soyoka pasti bisa membuat kue terbaik sendirian, tapi... ya mau bagaimana lagi. Buat kenangan, akan lebih bagus kalau mereka membuatnya bersama.

Kurasa aku perlu membantu sedikit.

“Iku, bikin kue itu sulit, lho.”

“Sulit...?”

“Iya. Kalau cuma Soyoka sendiri, bisa-bisa jadinya kue aneh. Kalau kamu nggak keberatan, bantu dia ya?”

“...! Oke!”

Anak ini gampang sekali diajak... maksudku, dia jujur sekali!

Iku pun duduk di seberang Soyoka sambil tersenyum lalu mengambil satu stroberi.

“Soka mau bikin towel.”

“Nanti jatuh.”

“Bahkan kalau jatuh, itu nggak jatuh.”

“Ah, fondasinya harus kuat.”

Mereka berdua mengobrol seru sambil mewarnai kue putih itu dengan merah stroberi.

Karena stroberinya terlalu banyak dan tidak mungkin semua muat rata, mereka jadi bebas menumpuknya setinggi apa pun. Asal nanti nggak ambruk, sih.

Tetap saja, bisa membuat kue itu hebat sekali.

Whipped cream-nya juga dioles rapi dan kelihatan cantik, jadi aku punya ekspektasi tinggi pada rasa sponge cake-nya. Yah, meski barusan Soyoka juga sukses meninggalkan bekas telapak tangan besar di whipped cream.

Aku memandang Hiiragi dengan hormat, dan dia langsung membuat peace sign di dekat dagunya sambil memamerkan ekspresi penuh kemenangan.

“Kamu boleh jatuh cinta padaku.”

“Aku jatuh cinta.”

“Maaf, tapi sepertinya aku nggak bisa pacaran sama kamu, Kuremocchan...”

“Tapi tadi kamu sendiri yang bilang aku boleh jatuh cinta?!”

“Aku nggak pernah bilang aku akan pacaran sama kamu.”

Bikin orang jatuh cinta lalu menolaknya saat ditembak... wanita macam apa ini!

Seperti yang diduga dari seseorang yang sudah menumbangkan tak terhitung banyak pria... Kalau bukan karena perlindungan dari Soyoka, aku mungkin benar-benar bisa salah paham.

“Kyota, jangan-jangan kamu beneran jatuh hati sama dia...?”

“Sayangnya hatiku sudah terlalu penuh oleh Soyoka sampai nggak ada ruang bagi makhluk lain untuk menyelip masuk.”

“Begitu ya... Syukurlah.”

“Syukurlah?”

“...Kalau Hikaru disukai orang aneh sepertimu, Kyota, itu juga bakal merepotkan.”

“Maaf banget. Tapi nggak bakal kejadian, jadi tenang aja.”

Penilaian Akiyama terhadapku masih serendah itu ya...?

Padahal kupikir kami sudah membangun tingkat kepercayaan tertentu, tapi jangan-jangan itu cuma khayalanku saja...

“Sudah jadi! Menara stwawbewi!”

“Bukannya kalian main game lain sekarang?!”

“Yang tinggi itu kuat.”

Mungkin justru konsep bahwa semuanya harus tersusun rapi itu cuma cara pikir orang dewasa.

Begitu ya, yang penting stroberinya sebanyak mungkin!

“Soyoka-chan, ini sempurna! Makasih banyak.”

“Kuenya jadi lebih enak?”

“Jadi dong, jadi dong. Soyoka-chan, kamu bisa jadi pastry chef. Jenius banget.”

Hiiragi memuji Soyoka habis-habisan sambil mengelap tangannya.

Begitu selesai, Hiiragi menatapku dengan wajah agak tercengang.

“...Wah, barusan aku spontan ngomong persis kayak Kuremocchan.”

“Kamu punya bakat.”

“Ugh~ aku mau Soyoka-chan dan Iku-kun dua-duanya~”

Setelah itu dia mengelap tangan Iku juga, lalu memeluk keduanya sekaligus.

“H-Hikaru-neechan...”

Oh, Iku merah. Ternyata dia tetap laki-laki meski masih kecil... Aku paham. Kontak fisik dari Hiiragi memang susah diabaikan walau nggak mau. Apalagi bagian sekitar dadanya.

“Hikaru...?”

Melihat Iku jadi kikuk, wajah kakaknya langsung berubah menyeramkan.

Bahkan Hiiragi yang hebat pun langsung berkeringat dingin dan buru-buru menjauh.

“B-Baiklah, aku bawa kuenya dulu! Tinggal finishing sedikit lagi.”

Sambil membawa kue dengan tumpukan stroberi, dia kabur ke dapur.

“Soyoka, ini tempat dudukmu.”

“Kuenya sudah siap?”

“Sebentar lagi.”

Sambil menahan Soyoka yang sudah mulai gelisah, aku dan Akiyama saling bertukar pandang lalu menutup tirai.

Menyesuaikan dengan persiapan Hiiragi, Akiyama mematikan lampu.

Karena masih siang, ruangan tidak jadi gelap gulita, tapi cukup untuk membangun suasana.

“Soyoka-chan, selamat ulang tahun~”

Hiiragi, yang sudah menancapkan lilin di atas kue, kembali membawanya keluar.

Di ruangan yang agak gelap, cuma ada empat nyala api kecil yang berkelip.

“Waaah!”

Soyoka menutup mulutnya, seperti benar-benar tersentuh.

Reaksi yang begitu maidenlike. Senyum alami muncul di wajah semua orang.

Dengan lagu yang sudah dikenal semua orang, kami pun merayakan ulang tahunnya.

“Boleh aku tiup?”

“Tentu.”

“Beneran? Nanti padam, lho.”

“Memang harus dipadamkan. Setiap lilin yang padam berarti kamu jadi sedikit lebih dewasa.”

“Aku bakal tiup!”

Begitu lagu selesai, Soyoka menarik napas dalam-dalam.

“Fooo, fooo, fuffufufu-foo.”

Sayangnya dia tidak berhasil memadamkan semuanya sekaligus, tapi dengan ritme anehnya sendiri, dia berhasil memadamkan semua lilin.

“Itulah Soyokaku... ternyata dia bahkan punya bakat meniup lilin.”

“Itu bakat apaan...?”

“Mungkin bakat meniupnya dengan lucu?”

“...Kalau itu sih, aku harus mengakuinya.”

Ooh, Akiyama akhirnya mengakui keimutan Soyoka.

Apa ini berarti Soyoka umur empat tahun memang sudah beda level?

Setelah acara meniup lilin selesai, kami menyalakan lampu lagi.

Karena masih siang, kami memutuskan melewatkan makan berat dan langsung ke kue. Dari bentuknya saja, kuenya sudah terlihat cukup mengenyangkan.

“Aku yang potong ya.”

Hiiragi membawa kuenya kembali ke dapur.

Gerakannya cekatan sekali! Seperti yang diduga, dia pasti sudah terbiasa karena sering melakukannya di rumah. Tadinya kukira dia cuma gadis populer yang ceria, tapi ternyata cukup domestik juga. Nggak boleh meremehkannya...

Hiiragi kembali lalu meletakkan piring-piring berisi potongan kue.

Tentu saja, piring milik Soyoka dipenuhi stroberi paling banyak. Bagian terbesar kedua diberikan pada Iku.

“Ayo makan!” seru Soyoka keras-keras sambil sudah memegang garpu.

Hal pertama yang dia tusuk adalah satu buah stroberi utuh.

“Enak-enak.”

Dia mengunyah sambil menunjukkan senyum yang begitu puas.

Apa ini? Sudah beberapa saat sejak ruangan ini dipenuhi suasana hangat dan lembut. Cuma dengan melihat Soyoka, semua orang langsung jadi merasa hangat.

“Enak banget!”

“Yess!”

Soyoka lalu memasukkan potongan kue ke mulutnya dan sampai mendecakkan lidah karena puas.

Melihatnya begitu, kami semua pun mulai makan juga.

“Nee-chan, aku juga mau bikin kue.”

Sepertinya Iku benar-benar menyukainya, karena sambil makan dia sampai bilang begitu.

“Di-di rumah...? Y-Ya, tentu saja. Serahkan padaku.”

“Iku, kalau kamu nggak mau mati, sebaiknya batalin saja... Krim itu cepat basi, tahu. Yang begitu lebih cocok minta diajari onee-san di sana.”

“A-Aku sih nggak bisa jamin bakal aman, tapi...”

Setelah melihat kue buatan Hiiragi, tentu saja Akiyama jadi tidak percaya diri, dan matanya pun bergerak ke sana kemari.

Kalau melihat betapa senangnya Soyoka dan Iku, mungkin membuat sesuatu bersama memang pilihan bagus. Kalau bikin sendiri, rasanya jadi dua kali lebih enak.

“Huff, aku kenyaang.”

Soyoka, yang sudah menghabiskan bagian miliknya sampai bersih, mengembuskan napas sambil memegangi perutnya.

“Terima kasih buat makanannya!”

“Sama-sama~. Kalau begitu aku bersihin dulu, ya. Masih ada sisa, jadi besok kamu masih bisa makan lagi.”

Bahkan setelah menyisihkan satu potong untuk Mizuki, ternyata masih ada cukup banyak untuk Soyoka. Akan kuterima dengan senang hati.

Setelah kue, akhirnya giliran acara hadiah. Kami membagi tugas membereskan meja, lalu menyuruh Soyoka duduk lagi.

Tepat saat itu, bel rumah berbunyi.

“Ah, jangan-jangan Mizuki?”

Wajah Hiiragi langsung berubah jadi wajah gadis yang sedang jatuh cinta, lalu dia bersenandung kecil sambil menuju pintu masuk.

Peralihan modenya cepat banget...

“Oops, jangan-jangan aku datang pas banget?”

Mizuki yang baru naik ke rumah berkata begitu sambil melihat keadaan ruangan.

Tangannya disembunyikan di belakang punggung, sepertinya dia sedang memegang sesuatu.

“Selamat ulang tahun, Soyoka-chan. Ini hadiah dariku.”

Dia berlutut di depan Soyoka sambil tersenyum tampan. Lalu, dia mengeluarkan benda yang tadi dia sembunyikan di belakang punggung.

“Bungaaa!”

“Setangkai mawar merah, cocok sekali untuk Soyoka-chan.”

“Makasii, Mizuki!”

Cowok ini... dia benar-benar memberi Soyoka setangkai mawar sebagai hadiah?!

Apa-apaan, romantis sekali... Itu bisa bikin hati Soyoka berdebar, tahu!

Dan benar saja, Soyoka memegang mawar yang diterimanya itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu amat berharga.

“Sekarang umurmu berapa, Soyoka-chan?”

“Empat!”

“Begitu ya. Kamu sudah jadi gadis besar.”

“Betul. Soka udah dewasa.”

“Selamat ya. Mulai sekarang, tolong jaga kakakmu baik-baik juga, ya?”

“Oke!”

Mizuki... kamu orang baik, ya?

Sebagai imbalan atas kata-kata itu, mungkin urusan soal kamu yang mencoba mendekati Soyoka akan kubiarkan lolos. Nggak, dipikir lagi sih aku tetap nggak bisa memaafkanmu, jadi nanti malam aku bakal menyergapmu di tempat gelap.

Karena kalau terus dipegang nanti tangannya penuh hadiah, aku mengambil mawar itu dulu darinya. Nanti kutaruh di vas.

“Oke, sekarang giliranku! Nih, ini. Kuteks anak-anak.”

“Makasii! ...Ini apa?”

“Hehe, ini tuh... sini kasih tanganmu.”

Hiiragi menarik tangan Soyoka yang masih bingung, lalu membuka tutup botolnya. Dengan lembut dia mengecat kuku telunjuk kecil Soyoka dengan kuteks warna pink.

“Nih, lucu nggak?”

“Lucu! Soka jadi tambah lucu?”

“Jadi dong! Padahal dari awal kamu juga sudah lucu!”

“Soka juga mau coba!”

Soyoka langsung meniru Hiiragi dan mulai mengecat kuku yang lain.

Begitu ya, ternyata ada kuteks khusus anak-anak. Ibuku seperti itu, dan aku juga sama sekali nggak tahu hal-hal yang spesifik soal perempuan, jadi benda seperti ini bahkan tidak pernah terpikir olehku.

Katanya sih anak perempuan memang akan mulai tertarik pada makeup dan semacamnya.

“Bahannya aman, dan bisa gampang hilang pakai air hangat.”

Hiiragi menjelaskannya untukku. Begitu ya, kalau begitu aman.

Dan sepertinya Soyoka juga sangat tertarik. Apa nanti kalau habis kita bakal beli isi ulangnya juga?

“Sekarang giliranku. ...Maaf ya kalau nggak terlalu menarik.”

Yang disodorkan Akiyama dengan agak malu-malu adalah sebuah payung anak kecil yang lucu. Bukan dibungkus kertas kado, tapi diberi pita merah.

“Payung Soyoka-chan yang dulu kan sempat rusak. Aku berusaha cari yang cocok buatmu...”

“Payung! Lucu!”

Soyoka langsung membukanya dan memutarnya dengan gembira.

Memang, beberapa waktu lalu payungnya rusak.

Kalau nggak salah, itu pagi hari ketika aku dan Akiyama sama-sama bolos pelajaran sore.

“...Kamu sadar juga.”

“Kita kan teman sesama ortu.”

“Iya, makasih. Ini praktis dan lucu. Hadiah yang sempurna.”

“Tentu saja. Soalnya yang pilih aku.”

Aku benar-benar nggak menyangka Akiyama bisa seperhatian ini pada Soyoka. Tadinya kukira matanya cuma tertuju pada Iku.

Aku sendiri juga menganggap Iku seperti adik laki-laki, walaupun prioritas utamaku tetap Soyoka... Mungkin Akiyama juga merasakan hal yang sama.

Rasanya bukan cuma hubungan antara aku dan Akiyama, tapi termasuk anak-anak kami juga, perlahan-lahan mulai membangun ikatan yang baik.

“Sekarang giliranku!”

Dengan timing yang sempurna, Iku mengangkat tangan.

“Um, ya... aku nggak tahu kamu bakal senang atau nggak, tapi...”

Sama seperti kakaknya, dia juga menyodorkan hadiahnya sambil lebih dulu mengucapkan semacam alasan pelindung.

Sepertinya dia malu, karena tatapannya mengarah ke tempat lain.

“Makasii! Isinya apa?”

“Buka aja.”

“Oke!”

Hadiah dari Iku itu adalah paket kecil seukuran telapak tangan.

Dan yang keluar dari dalamnya adalah kalung berbentuk hati. Mungkin memang tidak mahal, tapi kilau pink gold-nya sangat cantik.

“Lucuuu banget~!”

Soyoka sampai menjerit kecil, seperti baru saja jatuh cinta.

Iku itu... waktu kami pergi belanja dulu dia bilang pengin beli mainan... Tapi ini sudah seperti pengakuan cinta, kan? Dia memang serius mengincar posisi pacar, kan?

“Onii-chan, pasangin!”

Soyoka datang kepadaku sambil membawa kalung itu, dan walaupun hatiku sakit, aku tetap menerimanya.

Aku nggak pengin pasangin... tapi aku pengin bikin Soyoka senang juga...

“Kenapa aku yang harus memasangkan kalung yang dibelikan laki-laki lain buat dia? Menyedihkan sekali.”

Sambil menahan air mata, aku memasangkan kalung itu ke leher Soyoka.

“Wah, cemburunya jelek banget, Kuremocchan.”

“Terserah kamu mau bilang apa...”

Aku mengaitkan penguncinya di belakang leher Soyoka.

“Imut banget?!”

Itu cocok sekali padanya. Kalung itu benar-benar menonjolkan keimutan Soyoka sampai rasanya seperti dibuat khusus untuknya.

Sial, Iku... ini hadiah yang bagus...

“Iku, lucu nggak?”

“I-Iya. Itu... lucu.”

“Hore! Iku bilang aku lucu!”

Interaksi antara mereka berdua terlalu menyilaukan.

Kalau kubiarkan, hubungan ini bisa beneran berkembang jadi romansa, jadi aku sengaja berdeham untuk menghentikan suasananya.

“Ahem. Baiklah, terakhir adalah hadiah dari kakakmu!”

Tentu saja, aku punya pemahaman sempurna terhadap selera Soyoka.

“Hadiah dariku adalah tiket acara Miniskirt-chan! Jumlahnya terbatas, jadi itu bukan barang yang bisa didapat kapan saja!”

Aku mengeluarkannya dari tas lalu menunjukkannya pada Soyoka.

Kalau boleh jujur, ini hadiah terbaik yang mungkin ada... Soyoka pasti akan sangat senang.

Tapi Soyoka malah mendekat tanpa berkata apa-apa.

“Hah...?”

Lalu tanpa bicara, buk, dia memelukku.

Aku refleks menangkapnya, sementara tiket itu masih ada di tanganku.

“Soyoka...?”

“Makasih, Onii-chan.”

“O-Oh? Kamu senang sama tiketnya?”

“Tiketnya bagus. Tapi pergi lihat Mama juga bagus.”

“Iya. Yang itu juga hadiah dariku.”

Kupikir dia bakal lebih heboh dan lebih senang, tapi ternyata dia malah jadi sedikit sentimentil.

Apa dia nggak senang...?

“Soka suka Mama. Tapi, aku lebih suka Onii-chan.”

“Soyoka...”

“Aku tahu Onii-chan selalu mikilin Soka banyaaak banget. Soka sayang Onii-chan.”

Dengan kata-kata itu, rasanya seluruh usahaku selama ini benar-benar terbayar.

Selama ini aku selalu merasa tidak cukup, merasa aku tidak bisa menggantikan ibunya.

Aku ini cuma kakaknya, bukan orang tua. Aku bisa merawatnya, tapi aku nggak bisa mengisi semua kesepiannya sepenuhnya.

Makanya kali ini aku memilih mengandalkan Mama.

Karena kupikir itulah hal yang paling diinginkan Soyoka. Aku tidak salah, dan Soyoka memang sangat senang.

Tapi... lebih dari itu, ternyata dia juga membutuhkan aku.

Melihat air mata Soyoka, aku akhirnya menyadarinya.

Pada akhirnya, bukankah Mama tetap lebih penting daripada aku...? Jangan-jangan, hanya untuk sesaat, dia menangkap pikiran itu dariku. Anak-anak ternyata lebih peka dari yang kita kira.

Aku sudah kalah telak. Ini ulang tahun Soyoka, tapi justru aku yang menerima hadiah terbaik.

“Soyoka, mau tetap bersamaku terus mulai sekarang?”

“Iya! Aku bakal sama Onii-chan sampai umur seratus tahun.”

“Itu bakal berat. Berarti aku juga harus hidup panjang.”

Aku memeluk Soyoka seerat mungkin sambil mengelus rambutnya.

Iya, Soyoka memang adik perempuan terbaik.

Setelah ngobrol sebentar, pestanya selesai agak lebih cepat.

Alasannya karena tamu kehormatan kami, Soyoka, sudah mulai tertidur-tidur di sofa. Wajahnya terlihat sangat bahagia, dan cuma dengan melihat itu saja aku juga jadi ikut bahagia.

Mizuki dan Hiiragi pulang lebih dulu, dan yang tersisa tinggal Akiyama serta Iku. Iku juga sudah terlihat mengantuk.

“Akiyama, makasih banget untuk hari ini.”

“Aku sudah dengar itu tadi.”

“Tetap saja mau kukatakan. Berkat kamu, ini jadi ulang tahun terbaik.”

Aku menuangkan teh, lalu kami duduk berdampingan di sofa di depan anak-anak sambil meminumnya.

Tadi suasananya masih ramai sekali, jadi kesunyian mendadak seperti ini terasa aneh.

Begitu anak-anak tertidur, suasananya langsung damai.

Ternyata jarang sekali ada waktu tenang seperti ini di mana aku bisa bicara dengan Akiyama berdua saja.

“Aku nggak melakukan sesuatu yang istimewa,” kata Akiyama sambil menyingkirkan poni Iku dari matanya. Wajah sampingnya penuh kasih sayang, dan ekspresi dingin yang dia tunjukkan saat pertama kali kami bertemu sudah tidak terlihat lagi. Yah, walaupun kadang-kadang dia tetap menyeramkan.

“Buatku sih itu istimewa. Berkat kamu, Akiyama, aku bisa punya tekad buat mendekati Mama. Dan soal pesta ulang tahunnya juga, kalau tanpa kamu, nggak bakal sebesar ini.”

“...Kamu jujur banget sampai bikin aku merinding. Coba kalau biasanya pun kamu punya pesona sebanyak ini.”

“Kamu juga sama.”

Serius deh. Aku lagi berusaha berterima kasih dengan tulus, dan dia malah cuma menggodaku.

Tapi entah kenapa, aku tidak membenci suasana seperti ini.

Setelah itu, sempat hening cukup lama. Yang terdengar cuma suara kami menyeruput teh dan napas lembut adik-adik kami yang tertidur.

Padahal aku lagi minum teh berkafein, tapi tetap saja aku mulai mengantuk.

“Hei, Akiyama.”

“Apa?”

“Nggak, itu...”

Aduh. Kalau dipikir-pikir, sejak kemarin kepalaku penuh dengan urusan ulang tahun sampai aku hampir nggak tidur.

Dan sekarang, rasa kantuk itu langsung menyerbu sekaligus.

“Maaf, aku ngantuk banget...”

“Hah?”

Rasanya seperti gravitasi cuma untuk tubuhku saja jadi berkali-kali lipat, dan aku ditarik ke bawah. Tubuhku miring ke samping.

Yah, kurasa kalau aku tidur di sini juga nggak masalah... Soyoka juga sedang tidur, dan Akiyama mungkin bisa pulang sendiri. Besok juga hari Minggu, jadi nggak peduli aku bangun jam berapa...

Begitulah pikiranku mulai mengambang.

“T-Tunggu, masa tiba-tiba langsung meluk begini... Jangan-jangan kamu malah mau lanjut lebih jauh...? N-Nggak. Kita ini teman sesama ortu... dan cuma sampai situ.”

Akiyama sepertinya mengatakan sesuatu. Tapi hari ini aku cuma mau tidur dengan perasaan bahagia ini.

Hm? Buat sofa atau karpet, ini kok terasa agak hangat dan lembut ya...

“...Aku pinjamin pangkuanku cuma sebentar, ya? Soalnya hari ini kamu memang sudah berusaha keras sebagai kakak.”

Aku mendengar suara lembut Akiyama.

Lalu aku pun tertidur.

...Beberapa jam kemudian, Soyoka terbangun lalu membuat keributan soal “menikah” dan “selingkuh”, tapi aku sama sekali nggak tahu dia sedang bicara soal apa.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa