“Bersihkan juga kenangan buruk dari mantanmu! Deterjen Miniskirt-chan, sekarang dijual!”
“Itu Miniskirt-chan!”
Soyoka langsung bereaksi begitu karakter anime favoritnya muncul di TV.
Jadi mereka akhirnya mulai bikin iklan kolaborasi perusahaan juga...
Anime tentang pakaian yang jadi manusia, jadi memang cocok dipasangkan dengan deterjen... kurasa? Tapi tetap saja, slogan itu beneran aman? Bukannya malah bakal memicu keributan?
“Tanktop-kun juga ada! Nih, Tanktop-kun suka sama Jeans-san. Tapi, um, Short-chan suka sama Tanktop-kun, terus...”
“Hubungannya ruwet banget...”
Atau ini harusnya disebut hubungan antarpakaian?
Aku sendiri nggak nonton terlalu serius, jadi agak lupa, tapi bukannya Jeans-san itu wanita yang selingkuh dengan suami tokoh utama?
Berarti si Tanktop-kun itu seleranya lumayan buruk.
“Aku mau nonton Miniskirt-chan.”
“Kamu kan sudah nonton rekaman episode minggu ini.”
“Nonton lagi.”
Sepertinya gara-gara lihat iklannya, dia jadi pengin nonton lagi. Masih ada sedikit waktu sebelum tidur, dan kalau anime ini diputar, dia bakal anteng, jadi kurasa nggak apa-apa.
Aku mengoperasikan remot lalu memutar rekamannya.
Oke, berarti sekarang aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah dulu. Tepat saat aku berpikir begitu, ponselku menyala di sudut pandangan.
Besok kamu ada waktu?
Begitu notifikasi itu muncul di ponsel yang tergeletak di meja, jantungku tanpa sadar langsung berdetak lebih cepat.
Aku mengulurkan tangan lalu memiringkan ponsel supaya bisa melihatnya lebih jelas.
“...Dari Akiyama.”
“Sumi-chan?”
Saat aku membacakan nama pengirimnya, Soyoka yang tadi sedang menonton TV langsung menoleh.
Besok hari Sabtu. Ada apa ya, sampai dia tiba-tiba tanya soal rencana akhir pekan? Aku memang kadang bertukar pesan dengan Akiyama, tapi biasanya cuma soal hal-hal praktis. Dia hampir tidak pernah menghubungiku lebih dulu seperti ini.
Lagipula, kalau dia mau tanya aku ada waktu atau nggak, maunya sekalian bilang buat apa. Soal aku senggang atau nggak kan tergantung urusannya.
“Yah, aku sih ada waktu, tapi...”
Nggak, tunggu dulu, aku kan punya rencana main sama Soyoka! Tiap hari!
Walaupun kalau urusannya Akiyama, kemungkinan besar tetap bakal ada kaitannya dengan Soyoka dan Iku juga, jadi aku nggak perlu terlalu khawatir.
Begitu aku membalas pesannya, tanda sudah dibaca langsung muncul.
Kurang dari semenit kemudian, notifikasi masuk lagi.
Ibuku mau bikin barbeku, dan katanya aku harus ngajak kamu sama Soyoka-chan, Kyota. Tapi ternyata kamu sibuk ya. Ya sudahlah, nggak bisa dipaksa.
Padahal aku baru saja membalas kalau aku ada waktu.
Kamu ini hikikomori apa gimana? Sana bikin rencana sendiri.
Wah, dia kelihatan nggak pengin aku datang banget.
Tapi, ibu Akiyama ya. Aku belum pernah bertemu dengannya, dan Akiyama juga jarang bicara soal ibunya, jadi aku nggak tahu banyak. Ini cuma kesanku sendiri, tapi rasanya beliau orang yang bertanggung jawab. Bentonya juga cantik sekali.
Sebagai ibu tunggal yang bekerja sambil membesarkan anak, bahkan tanpa bertemu pun aku sudah cukup menghormatinya.
Tapi tetap saja, bakal canggung kalau ternyata bukan cuma kami yang ada di sana, tapi juga orang tua kami...
“Soka juga mau telepon Iku.”
Soyoka, yang dari tadi mengintip ponselku walau belum benar-benar bisa membaca, lalu mengambil ponsel anak-anak miliknya sendiri.
Meski belum bisa membaca, dia tetap bisa menelepon dengan tombol pintas yang sudah didaftarkan.
Yang membuatku kesal, nomor Iku jelas terdaftar di salah satu tombol pintas itu.
“Hewwo, ini Iku? Hah? Bawbekyu? Ajak Soka juga.”
Sementara Akiyama sedang mencoba menyusun skenario seolah-olah dia sudah mengundangku tapi aku yang menolak, informasi itu ternyata sudah lebih dulu sampai ke Soyoka.
“Aku juga bakal bawa kakakku! Dadah!”
Soyoka menutup telepon lalu menatapku dengan mata berbinar.
“Onii-chan, barbekyu itu apa?”
“Kamu mau ikut padahal belum tahu itu apa? Di barbeku, kita masak daging sama sayuran di luar terus dimakan.”
“Di luar...! Kedengarannya seru.”
Kalau Soyoka sendiri mau, aku jelas tidak keberatan menerima undangan Akiyama.
Saat kusampaikan itu padanya, balasan yang datang terdengar pasrah.
Katanya dia ingin berterima kasih karena kamu sudah menjaga Iku waktu itu. Aku tahu ini merepotkan, tapi mau datang?
Rasanya aku lebih sering menjaga kamu daripada Iku.
Jangan sampai kamu ngomong macam-macam ke ibuku.
Iku itu anak pendiam dan baik. Setahuku dia tidak pernah bikin masalah.
Untuk sementara, kurasa aku tinggal melaporkan sisi kikuk Akiyama saja.
Setelah memastikan tempat bertemu dan apa yang perlu dibawa, percakapan kami selesai.
Keesokan harinya, sebelum tengah hari, aku dan Soyoka pun keluar rumah.
Katanya ada tempat penyewaan untuk barbeku di dekat stasiun sebelah, dan kami berencana menggunakannya.
Karena janjian langsung di sana, kami pergi naik sepeda.
“Soka bakal makan sewaatus potong daging,” deklarasi Soyoka dari kursi anak di belakang sepedaku.
“Sayur juga harus dimakan.”
“Daging!”
Semangat Soyoka terhadap pengalaman barbeku pertamanya benar-benar sedang naik.
Memang ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan cuma berdua, jadi kami memang belum pernah punya kesempatan.
Bukannya nggak bisa sih kalau dilakukan di halaman rumah, tapi kami memang nggak punya perlengkapannya, jadi belum pernah beli. Lagi pula beres-beresnya juga repot.
“Ibunya Akiyama ya... Aku harus menyapanya dengan sopan, kan...?”
Aduh, aku malah jadi tegang.
Aku harus bersikap seperti apa di depan ibu teman sekelas, apalagi kalau itu ibu Akiyama?
Nggak, nggak ada apa-apa kok antara aku dan Akiyama, jadi harusnya aku tinggal bicara biasa saja.
Aku memarkirkan sepedaku di parkiran stasiun lalu menuju tempatnya.
Atap sebuah bangunan komersial kecil bisa dipakai sebagai area barbeku selama musim semi dan musim panas.
“Itu Iku!”
Saat kami berjalan ke arah toko yang ada meja resepsinya, Soyoka jadi orang pertama yang menemukan Iku.
Saat kami mendekat, Akiyama yang sedang mengenakan kaus menoleh ke belakang. Wanita yang berdiri di sampingnya juga ikut menoleh.
Dia memakai rok denim, kaus, dan penutup lengan.
“Kamu pasti Kyota-kun. Terima kasih ya, karena selama ini selalu menjaga anak perempuanku dan anak laki-lakiku.”
“Ah, iya. Saya Kuremoto Kyota. Senang bertemu dengan Anda. Sumi-san dan Iku-kun juga selalu baik pada saya...”
Aku nyaris terpaku melihat caranya membungkuk yang begitu anggun, tapi buru-buru aku juga ikut menundukkan kepala.
Beliau wanita yang cantik, dan juga terlihat muda.
Wajahnya mirip sekali dengan Akiyama. Kalau berdiri berdampingan, mereka bahkan kelihatan seperti kakak-adik.
Tapi beda dengan Akiyama, ekspresinya jauh lebih tenang dan memberi kesan lembut.
“Aku senang sekali Sumi akhirnya punya teman. Soalnya anak itu kan kurang ramah, ya? Aku sempat khawatir apa dia bisa punya teman...”
“Ahaha, selain saya juga ada kok. ...Beberapa.”
“Fufufu, nggak perlu banyak. Yang penting ada seseorang yang benar-benar bisa dipercaya. Kalau dengan anak baik seperti kamu, Kyota-kun, aku jadi merasa tenang menyerahkan Sumi padamu. Gimana? Mau nggak kamu ambil anak perempuanku jadi istrimu...?”
“Hah? Bukan, kami itu...”
Awalnya beliau kelihatan seperti orang yang sangat anggun dan sopan, tapi ternyata cukup blak-blakan juga.
Akiyama, yang dari tadi memperhatikan pertukaran kami, menghela napas dengan wajah agak kewalahan.
“Makanya aku nggak mau kalian ketemu...”
Akiyama menekan pelipisnya dengan ujung jari lalu berdiri di antara kami.
Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh putus asa.
“Ibu, sudah cukup.”
“Ada apa? Kamu nggak usah terlalu khawatir, kok. Ibu nggak akan merebut Kyota-kun darimu.”
“Aku khawatirnya bukan itu!”
Wah, Akiyama sampai panik. Seperti dugaan, lawannya memang ibunya sendiri.
Bahkan saat Akiyama mulai ketus, ibunya cuma tersenyum dan membiarkannya begitu saja.
Pipi Akiyama memerah karena malu, lalu dia malah menatapku tajam.

“Kalau urusanmu sudah selesai, Kyota, kamu bisa pulang sekarang.”
“Belum selesai sama sekali, tahu?!”
Barbeku aslinya saja bahkan belum dimulai.
“Yang diizinkan ikut cuma Soyoka-chan.”
Sepertinya Akiyama benar-benar pengin aku pulang.
Yah, aku paham sih. Memperkenalkan orang tuamu sendiri pada teman itu memang bikin malu. Aku juga pasti bakal benci kalau harus begitu.
Kelihatannya Akiyama juga bingung harus bersikap bagaimana di depan ibunya.
“Fufufu, Sumi, kamu malu-malu ya.”
“...Bukan begitu.”
Ditertawakan ibunya, Akiyama menggaruk pipinya dengan canggung.
Sikap tajamnya yang biasa sama sekali nggak berguna di depan ibunya. Bahkan Akiyama yang perkasa pun rupanya nggak bisa melawan ibunya sendiri.
“Mama, ini Soyoka-chan.”
Iku dengan bangga memperkenalkan Soyoka. Yah, kalau kenal gadis seimut Soyoka, tentu saja siapa pun pasti ingin memamerkannya!
Tunggu dulu. Dari cara ini, bukannya malah jadi seperti sedang mengenalkan pacarnya?
Sial, Iku, jangan-jangan ini strategimu buat mengepungku dari luar...? Aku pengin menghentikannya, tapi untuk saat ini kutahan dulu.
“Soyoka-chan, ini mama-ku.”
“Iku-mama?”
Kali ini, Iku memperkenalkan ibunya pada Soyoka.
Soyoka mendekati ibunya Akiyama lalu dengan semangat mengangkat tangan kanannya.
“Aku Soka, temannya Iku!”
“Terima kasih sudah memperkenalkan diri dengan sopan. Aku ibunya Iku. Mulai sekarang, semoga kalian tetap akur ya.”
“Iya! Terus, Soka juga temenan sama Sumi-chan!” kata Soyoka sambil menarik tangan Akiyama.
“Oh, begitu? Sumi, ternyata kamu punya teman kecil juga.”
“Soka itu dewasa!”
Soyoka dan Akiyama memang akrab dengan caranya sendiri, jadi tentu saja mereka bisa dibilang teman.
Syukurlah ya, Akiyama. Kamu nambah satu teman lagi.
Akiyama sendiri tampaknya juga tidak membantah. Dia malah menatap Soyoka dengan senyum lembut.
Setelah sesi perkenalan selesai, ibunya Akiyama membungkuk kecil pada aku dan Soyoka.
“Kyota-kun, Soyoka-chan, terima kasih ya karena sudah menjaga Iku waktu itu. Aku sedang kerja dan tidak bisa langsung pulang, jadi kalian benar-benar sangat membantu.”
“Ah, nggak kok. Kami cuma saling membantu kalau ada yang sedang kesulitan.”
Cara bicaranya lembut dan enak didengar. Sikapnya tenang, tapi kehangatannya benar-benar terasa.
“Kamu rendah hati sekali. Tapi kalian memang sangat membantu, jadi tolong izinkan aku berterima kasih. Hari ini semuanya biar aku yang traktir.”
“Hah? Tapi...”
“Sebenarnya, bahan-bahannya juga sudah kubeli. Tempatnya juga sudah kupesan, jadi ayo kita masuk.”
Dia memperlihatkan kantong belanja dari supermarket yang tampaknya baru saja dibelinya, lalu tersenyum sedikit usil. Dari dalamnya terlihat daging, sayuran, dan berbagai bahan lainnya.
Kalau aku terus menolak, itu malah akan jadi tidak sopan, jadi aku memutuskan menerima kebaikan hatinya.
“Terima kasih banyak. Setidaknya biarkan saya yang membawakan tasnya.”
“Oh, bisa diandalkan sekali.”
“Serahkan saja pada saya.”
Aku mengambil tas-tas yang berat itu. Tadi beliau membawanya dengan begitu ringan, tapi saat kupegang ternyata lumayan berat.
“Kalau begitu, ayo kita masuk,” kata ibunya Akiyama sambil menepukkan tangan.
Kami menyelesaikan pendaftaran di resepsionis lalu naik lift ke atap. Rupanya di sini memang boleh membawa bahan sendiri, dan slot sewanya tiga jam. Waktu yang lebih dari cukup untuk barbeku.
Di atap, sudah ada beberapa set barbeku yang tertata, dan beberapa kelompok pelanggan lain juga sudah berkumpul di sekeliling panggangan mereka.
“Akiyama-san, urusan memanggang serahkan pada saya.”
“Benarkah? Kalau begitu, kita serahkan saja pada anak-anak muda. Oh iya, silakan panggil aku Sachi saja.”
“Boleh ya? Kalau begitu, Sachi-san.”
Karena Sachi-san sendiri yang mengizinkan, aku memutuskan memanggilnya dengan nama depannya. Rasanya agak aneh memanggil wanita yang mungkin seumuran dengan ibuku dengan nama depan, tapi ya mau bagaimana lagi, nama belakang semua orang di sini sama-sama Akiyama.
Sachi-san itu cantik, baik, dan benar-benar orang yang luar biasa...
“Hei, kenapa kamu malah terpesona sama ibuku? Ngeri banget... Jadi ini bukan cuma soal lolicon, kamu juga suka yang begituan?”
“Aku nggak suka dua-duanya... Berhenti ngomong aneh dan bantu sini.”
Entah kenapa, Akiyama terlihat sebal.
Dia berdiri di antara aku dan Sachi-san seolah-olah sedang melindungi ibunya. Memangnya dia sedang khawatir apa?
Sementara itu Sachi-san malah sempat berkata sesuatu yang melenceng seperti, “Nggak apa-apa kok, aku masih single.” Aku benar-benar berharap beliau berhenti bikin candaan yang susah dibalas.
“Fufufu, kalau begitu aku santai saja sambil menemani anak-anak.”
“Iya, tolong.”
Berada di dekat orang ini entah kenapa memberi rasa tenang yang aneh.
Soalnya barbeku itu pakai api, jadi jelas berbahaya kalau anak-anak terlalu dekat.
“Soyoka-chan, biasanya kamu dan Iku ngapain kalau lagi main bareng? Aku jarang bisa lihat langsung di TK, jadi tolong ceritakan padaku.”
“Aku bakal cerita!”
Sachi-san yang duduk di kursinya mengundang Soyoka mendekat.
Soyoka yang senang sekali karena diajak bicara langsung mulai menceritakan kegiatannya bersama Iku. Sachi-san mendengarkannya dengan wajah lembut sambil sesekali mengangguk.
Memang ya, Sachi-san benar-benar pintar menghadapi anak-anak.
Padahal kami belum genap satu jam saling kenal, tapi penilaianku tentang Sachi-san sudah naik drastis.
“Iku, hebat ya kamu punya teman yang semanis ini.”
“Iya...!”
“Sampai Iku bisa membawa pulang seorang gadis... Mama jadi terharu.”
“Aku nggak bawa dia pulang...?”
“Benar juga.”
Sachi-san itu ibu veteran yang sudah membesarkan dua anak, jadi aku bisa tenang menyerahkan Soyoka dan Iku padanya.
Aku pun memutuskan fokus ke panggangan.
“Panasnya... pas.”
Arang di bawah pemanggang ternyata sudah lebih dulu dinyalakan oleh staf, jadi kapan pun kami siap, kami bisa langsung mulai.
Sambil membiarkan Sachi-san menjaga anak-anak, aku mulai memeriksa peralatan dan bahan-bahannya supaya semuanya segera berjalan.
Tepat saat itu, Akiyama mendekat.
“...Kenapa kamu bikin muka aneh begitu?”
“Kalau kamu sedang pura-pura, kamu jadi ceria berlebihan sampai menjengkelkan sekali... Dan lagi, itu diarahkan ke ibuku. Dia juga sedang pakai mode suara ‘buat orang luar’.”
“Kamu sendiri jinak banget. Ke mana semua ketajamanmu yang biasa?”
“Aku nggak bisa bertingkah aneh di depan ibuku.”
“Jadi kamu sadar ya kalau biasanya kamu memang aneh...”
“B-Bukan itu maksudku. Maksudku aku nggak bisa sembarang ngomong.”
Dia sudah lupa ya kalau tadi sempat menyebutku lolicon?
Kami berbisik pelan sambil mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kantong.
“Begitu ya... kalau begitu, Akiyama... gimana kalau kamu tuang minumannya dulu?”
“Oke.”
Dia mengangguk patuh lalu mengambil gelas-gelas kertas. Setelah menyusunnya sesuai jumlah orang, dia memiringkan kepala.
“...Aku cuma dikasih tugas yang gampang?”
“Kamu sadar juga.”
Aku mengakuinya dengan jujur.
Tapi menuang minuman juga tugas penting. Mataharinya cukup terik, jadi kami memang harus jaga cairan.
Akiyama menatapku tajam, lalu dengan enggan menuangkan teh dan membagikannya ke semua orang.
“Kalau begitu kita mulai dari kalbi biasa dulu...?”
Aku mengobrak-abrik kantong belanja, meletakkan bahan yang akan langsung dipakai di meja, lalu memasukkan sisanya ke kotak pendingin berisi es.
Akiyama yang sudah kembali kemudian mengintip ke arah tanganku dari belakang.
“Aku juga bisa memanggang daging, tahu.”
“Tanpa bikin gosong?”
“Sedikit gosong itu bagian dari pengalaman barbeku, kan?”
“Itu sih... aku nggak bisa sepenuhnya membantah.”
Siapa sangka akan datang hari ketika aku justru dibuat setuju oleh salah satu pembelaan putus asa Akiyama...
“Yah, ini acara spesial, jadi memang lebih seru kalau semua orang ikut memanggang.”
“Aku akan masakkan bagian Iku.”
“Iya, iya. Kalau begitu aku potong sayurnya, dan kamu pegang bagian daging.”
Aku menyerahkan penjepit dan sekotak daging sapi padanya.
Selama dia benar-benar memperhatikannya, seharusnya sih nggak akan sampai gosong total. Tolong jangan sampai bikin api besar saja...
“Oke, kalau begitu aku yang urus sayur...”
Kalau soal barbeku, aku lumayan punya idealisme sendiri. Walaupun pengalamanku juga cuma beberapa kali melakukannya bersama teman.
Sekadar dipanggang lalu diberi saus, garam, atau lada saja sudah enak, apalagi suasananya juga mendukung. Tapi kalau mau sedikit lebih repot, hasilnya bisa jadi jauh lebih enak lagi.
“Hehehe... seperti yang diduga dari Sachi-san, pilihan bahannya luar biasa...”
“Bukannya ini baru pertama kalinya kamu ketemu ibuku...?”
Cuma melihat jajaran sayurnya saja aku sudah semangat sendiri.
Bahkan ada paprika hijau, yang jelas-jelas dibenci Soyoka. Padahal paprika hijau musim panas kalau dipanggang itu enak banget...
“Lagipula, tolong berhenti manggil ibuku pakai nama depan. Seram...”
“Kejam banget bilang begitu. Kan Sachi-san sendiri yang memintaku.”
“Kamu jelas menikmati ini, kan... Lagipula, kamu manggil aku pakai nama belakang terus, jadi sekarang rasanya agak aneh juga, tahu?”
“Apa? Jangan-jangan kamu mau aku manggil kamu pakai nama depan juga?”
“...Bukan itu maksudku.”
Melihat Akiyama mulai fokus ke daging dengan ekspresi ragu-ragu, aku pun mulai mengerjakan bagianku sendiri.
Aku mengeluarkan irisan daging babi tipis untuk shabu-shabu dari dalam cooler box.
“...? Kan sekarang aku lagi memanggang daging.”
“Lihat saja dulu.”
Aku memilih asparagus, terong, enoki, dan juga jamur king oyster.
Pertama enoki. Tanpa memotong pangkalnya dulu, aku melilitkan daging babi erat-erat di sekeliling jamur itu supaya tidak buyar. Setelah itu baru kupotong menjadi ukuran sekali makan sekaligus membuang pangkalnya. Dengan begitu, enokinya tidak akan berantakan.
Terong dan king oyster kupotong memanjang, kubungkus dengan daging, lalu kupotong juga menjadi ukuran sekali makan.
Untuk asparagus, cukup dibungkus begitu saja dengan daging.
Terakhir, semuanya kutusuk pakai tusuk sate, dan selesai.
“Nah, bagaimana? Sayur gulung daging.”
“Jamur itu bukan sayur.”
“Masalahnya bukan itu...”
Kupikir dia bakal lebih terkesan, tapi reaksinya malah dingin sekali.
Apa dia nggak bisa menghargai teknik gulunganku yang rapi ini? Sebenarnya bikin tampilannya bagus itu cukup sulit, tahu.
...Rasanya aku pernah bilang hal yang mirip soal tamagoyaki, jadi kali ini aku memilih tidak menjelaskan lebih panjang.
“Aku yang akan memanggang ini, jadi jangan sentuh.”
Tusuk sayur gulung daging ini cukup merepotkan, karena kalau tidak hati-hati, gampang sekali menempel di panggangan, lalu saat dilepas bentuknya jadi rusak. Aku menaburkan garam dan lada secukupnya lalu meletakkannya di atas panggangan.
Mulai dari sini, ini pertarungan sungguhan. Barbeku adalah perang bagi laki-laki.
“...Hehe.”
Akiyama yang tadi menonton mendadak tertawa kecil.
“...Tawa ala penjahat apaan tadi?”
“Aku nggak tertawa begitu. Aku cuma lagi berpikir kalau ternyata kamu juga cukup kekanak-kanakan dan lucu, Kyota.”
“O-Oh... Dibilang lucu sama sekali nggak bikin aku senang.”
Apa penilaiannya kacau gara-gara cuacanya terlalu panas? Meski begitu, dibanding hari-hari pertengahan musim panas belakangan ini, hari ini justru tergolong cukup sejuk.
“Ngomong-ngomong, Sachi-san itu orang yang baik.”
“Hah?”
“Kamu nggak usah salah paham, aku nggak bermaksud aneh-aneh... Dari kamu sendiri memang aku nggak pernah banyak dengar soal beliau, Akiyama, tapi menurutku dia ibu yang baik.”
Bahkan sekarang pun, dia sedang menjaga Soyoka dan Iku.
Dari wajah Iku saja aku bisa tahu kalau dia sangat mempercayainya. Bahkan Iku yang biasanya dewasa pun sepertinya jadi lebih manja di depan ibunya. Penemuan baru.
Iku juga punya kepercayaan mutlak pada masakan ibunya. Sebaliknya, kepercayaan pada kemampuan masak Akiyama itu nol besar.
“Iya. Dia memang begitu.”
Mendengar ucapanku, Akiyama tersenyum sedih.
“Menurutku dia ibu yang baik. Sebagai seorang ibu, dia nyaris sempurna.”
Itu pujian tinggi, tapi ada nuansa tertentu dalam cara dia mengatakannya.
Sachi-san membesarkan anak-anaknya sebagai ibu tunggal sambil bekerja penuh waktu. Belum lagi dia tetap mengurus masakan dan pekerjaan rumah, dan juga benar-benar memperhatikan Iku.
Hubungannya dengan Akiyama juga tampaknya baik.
Jauh sekali bedanya dengan ibuku sendiri. ...Mau tak mau aku jadi membandingkannya.
“Maksudmu itu...”
“Maaf, nggak usah dipikirkan. Lebih penting lagi...”
Akiyama melirik ke arah tanganku.
“Yang itu kamu panggang di api yang lumayan besar.”
“Hm? ...Aaaah?!”
Tusuk sateku terbakar.
Api dari arangnya langsung menyambar dagingnya.
“Tusuk sayur gulung dagingku!”
Aku buru-buru mengangkat tusuk-tusuk itu dan memindahkannya ke tempat lain. Begitu kubalik, ternyata memang ada sedikit bagian yang gosong, tapi masih dalam batas aman. Aku pun mengembuskan napas lega sambil mengusap keringat di dahi.
Memang itulah susahnya barbeku pakai arang. Api bisa mendadak membesar begitu cepat.
“Nyaris saja...”
“Untung ada aku. Mau aku ajari cara memanggang tanpa bikin gosong?”
“Ugh...”
Dia mengatakannya dengan nada angkuh, seperti sedang memanfaatkan kesempatan.
Menyebalkan, soalnya biasanya akulah yang bergaya keren dan mengajari dia.
Aku cuma sedikit lengah tadi karena Akiyama sempat ngomong sesuatu yang aneh.
“Tuh, bagian punyaku hasilnya sempurna.”
“Iya, iya, hebat.”
“Aku mau bawa ini buat Iku.”
Dia ternyata menikmati barbeku ini ya...
Awalnya kupikir bakal canggung karena ada ibunya, tapi ternyata syukurlah kami jadi datang.
“Soyoka, bentar lagi daging dari Onii-chan juga jadi!”
Soyoka menunggu dengan lapar.
Tusuk sayur gulung dagingku juga hampir matang, jadi aku harus segera membawanya ke sana.
Aku menaruhnya di piring kertas lalu membawanya ke tempat Sachi-san dan Soyoka.
“Onii-chan, daging dari Sumi-chan enak.”
“Aku juga mau punya Kyota-niichan!”
“Soka juga mau!”
Mereka berdua benar-benar senang. Memanggangnya ternyata sangat sepadan.
“Soyoka, nih daging lagi.”
“Wah, ada aspawagus! Daging banyak banget. Bawbekyu emang hebat.”
Ini memang acara luar biasa di mana kita bisa makan daging sambil bermain di luar. Untuk saat ini masih terlalu berbahaya membiarkan dia ikut memanggang, tapi yang penting aku senang Soyoka menikmatinya.
“Kyota-kun, kamu sangat terampil ya. Kelihatan sekali kalau kamu menikmati memasak.”
“Ah, terima kasih...! Tapi lebih tepatnya bukan karena suka, melainkan karena memang harus.”
“Walaupun awalnya begitu, lama-lama kamu pasti jadi menyukainya. Atau mungkin, kamu suka melihat orang lain memakan masakanmu.”
Alasan aku memasak itu karena ibuku tidak memasak. Demi bertahan hidup, aku memang tidak punya pilihan lain. ...Dan alasan aku tidak sekadar puas dengan makanan instan atau makanan jadi juga karena ada semacam perasaan memberontak terhadap ibuku.
Meski aku mulai memasak karena alasan yang negatif, memasak untuk Soyoka itu terasa menyenangkan. Untuk Akiyama dan Iku juga begitu.
Rasanya seperti dia melihat langsung ke dalam diriku, dan aku jadi sedikit malu.
“Memang, persis seperti kata Sumi saat memujimu.”
“Tunggu, Ibu. Aku nggak pernah memujinya.”
“Nggak?”
“Nggak. Memang sih aku juga nggak benar-benar menolaknya, tapi...”
“Fufufu, Sumi itu jarang sekali membicarakan teman-temannya, apalagi beberapa tahun belakangan, jadi aku senang.”
“...Kami bukan teman. Kami cuma teman sesama ortu.”
Di depan ibunya, Akiyama memang jadi jauh lebih jinak. Dia memainkan poninya dengan canggung.
Sachi-san, dengan senyum lembut yang tidak berubah sedikit pun, menepukkan kedua tangannya lalu berkata, “Benar juga.”
“Kalau kalian berdua teman sesama ortu, berarti aku juga teman sesama ortu dong, kan? Soalnya aku ini ibunya Iku.”
“Hah? Kalau begitu sih memang begitu...”
“Aku senang sekali punya dua teman sesama ortu yang imut-imut begini. Bagaimana menurutmu, Kyota-kun?”
Aku dan Akiyama menyebut hubungan kami sebagai “teman sesama ortu”.
Itu karena adik-adik kami bersekolah di TK yang sama, dan kami cuma berinteraksi karena hubungan mereka. Memang kami bukan ibu-ibu, tapi bentuk hubungannya sendiri memang seperti itu.
Karena itu, Sachi-san yang juga ibunya Iku, jelas tanpa ragu termasuk kategori teman sesama ortu.
“I-Iya. Tentu sa...”
“Nggak.”
Tepat saat aku hendak mengangguk pada Sachi-san, Akiyama memotongku.
Akiyama merapatkan bibirnya kuat-kuat, tangannya mencengkeram ujung kausnya.
“Nggak. Kyota itu...”
Rasanya seperti waktu di meja kami mendadak berhenti. Bahkan Iku dan Soyoka yang tadi masih sibuk mengunyah daging pun ikut membeku.
“Akiyama?”
“Ah... um, bukan itu maksudku. Maksudku... iya, pokoknya aku nggak mungkin mengizinkan Kyota jadi teman sesama ortu dengan ibuku. Jangan berani-berani dekat-dekat dengan ibu orang lain.”
Begitu menyadari semua orang menatapnya, Akiyama buru-buru menjelaskan dirinya sendiri.
“O-Oh. Kalau aku sih nggak masalah juga sebenarnya...”
“Karena kamu ini mesum yang nggak pilih-pilih perempuan, aku harus melindungi ibuku.”
“Tunggu, kamu kira aku ini nggak punya batas usia atas dan bawah?”
Itu keterlaluan banget. Rasanya aku sebentar lagi bakal dapat gelar memalukan yang baru.
Apa dia mengira aku bakal merebut Sachi-san darinya? Sachi-san memang ibu yang hebat, baik, dan pengertian, bahkan kalau bisa aku juga ingin beliau jadi ibuku... Nggak, tunggu, itu sebenarnya bukan ide buruk.
“Sachi-san, jangan jadi teman sesama ortuku, jadi ibuku saja!”
“Aku memang masih ibu yang belum berpengalaman, tapi... senang berkenalan.”
“Terima kasih banyak!”
Ibu dari teman sekelasku kini jadi ibuku.
Apa ini yang namanya merebut hubungan orang tua-anak...? Bukan dalam arti paket ganda, sih.
“Kalian terlalu banyak bercanda. Ibu juga jangan ikut-ikutan.”
Akiyama mengangkat bahu dengan ekspresi lelah.
Tentu saja itu cuma bercanda. Aku juga cuma menganggapnya sebagai senda gurau receh.
“Nggak.”
Tapi... Soyoka, yang dari tadi diam, mengucapkan satu kata pendek itu sambil meremas wajahnya.
“Aku nggak mau Iku-mama jadi mama-nya Soka...”
Satu tetes air mata mengalir di pipinya.
“Soka punya mama sendiri.”
“Soyoka... maaf ya. Sachi-san itu mama-nya Iku, ya?”
“Iya. Soka suka mama-nya Soka.”
Kalau Soyoka punya ibu sebaik itu, maka dia... Rupanya itu cuma anggapan egoisku sendiri.
Walaupun ibuku hampir nggak pernah pulang, bagi Soyoka, dia tetap satu-satunya mama yang dia cintai.
...Aku ngomong hal yang nggak perlu dan malah melukai Soyoka.
“Soyoka-chan, sini, sini.”
Iku yang berdiri sedikit menjinjit lalu dengan lembut mengelus kepala Soyoka yang sedang murung.
“Iku...”
“Soyoka-chan, kamu sayang banget sama mama-mu, kan?”
“Iya! Aku sayang Mama.”
“Kalau begitu nanti kita ceritain banyak-banyak soal hari ini ke dia, ya?”
“Cerita! Aku bakal cerita!”
Berkat Iku, senyum Soyoka pun kembali.
Sementara itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Aduh, ini nggak baik. Kalau sudah menyangkut ibuku, aku memang nggak pernah bisa tetap tenang.
Biasanya kalau Soyoka murung, akulah yang pertama kali akan melucu mati-matian supaya dia tertawa lagi... Tapi waktu dia bilang dia ingin menunggu Mama selesai mandi hari itu, lalu saat tamasya orang tua dan anak juga...
Saat Soyoka sedang merindukan ibuku, aku benar-benar nggak tahu harus bicara apa padanya.
“Onii-chan, daging!”
“...Ah, iya. Sekarang juga aku panggang lagi! Buat kamu, Soyoka, aku akan terus memanggang sebanyak apa pun yang kamu mau!”
“Banyak? Seratus?”
“Nggak, tak terbatas.”
“Tak tewbatas! Nanti perut Soka meledak.”
Dan yang paling parah... sekarang Soyoka malah bersikap pengertian padaku.
Padahal aku selalu menyebut diriku pengganti orang tua untuknya. Lucu sekali.
...Nggak boleh. Nggak ada gunanya tenggelam dalam rasa kasihan pada diri sendiri.
Walaupun aku nggak bisa jadi seorang ibu, yang bisa kulakukan cuma melakukan apa yang memang bisa kulakukan.
“Oke!”
Aku menepuk pipiku sendiri lalu kembali mengambil daging dan sayuran.
“Aku panggang lagi! Soyoka, Iku, terus makan ya, jangan kalah.”
“Serahkan padaku. Aku bakal makan semuanya.”
Soyoka menjawab dengan suara tegas.
Begitulah, pertarungan pun dimulai kembali.
“Perutku sakit... kebanyakan makan. Soka bakal jadi daging...”
“Tenang, Soyoka. Dari awal manusia itu memang terbuat dari daging.”
“Soka bakal dibawbekyu...?”
“Aku nggak bakal memanggangmu!”
Soyoka memegangi perutnya sambil mengerang bahagia. Iku juga kelihatan puas.
Akiyama menyerah lebih cepat, jadi pada akhirnya yang paling banyak makan justru aku...
Bahan-bahannya sudah habis total, dan waktu yang tersisa tinggal sedikit.
Semuanya enak, dan aku sendiri juga sangat puas.
“Stafnya memang yang akan membereskan alat-alatnya, tapi setidaknya sampahnya tetap harus kita rapikan...”
“Benar.”
Melihat meja yang berantakan seperti habis diterjang badai, aku dan Akiyama saling mengangguk.
Piring kertas dan gelas kertas berserakan di atas meja. Sebagai orang yang memakainya, rasanya nggak enak kalau langsung pergi begitu saja.
Aku dan Akiyama mengumpulkan sampahnya jadi satu lalu memasukkannya ke kantong plastik.
“Kyota-kun, sampah plastiknya masuk ke sini?”
“Ah, iya. Terima kasih!”
Sachi-san ikut berdiri dan membantu kami.
“Terima kasih untuk hari ini. Berkat Anda, Sachi-san, saya benar-benar bersenang-senang.”
Dia yang memesan tempat, menyiapkan semuanya, dan juga menjaga anak-anak sepanjang waktu, jadi peran Sachi-san benar-benar besar.
“Syukurlah kalau kamu senang.”
“Iya, saya senang sekali. Dan Anda juga melakukan semuanya untuk kami...”
“Karena aku yang mengajak kalian, tentu saja. Ini cara aku mengucapkan terima kasih.”
Kalau dipikir-pikir lagi, tujuan acara ini memang untuk berterima kasih karena aku sudah menjaga Iku.
Sebenarnya aku sendiri tidak butuh ucapan terima kasih, tapi Soyoka juga banyak berutang budi pada Akiyama dan Iku. Jadi aku senang bisa berkenalan dan menyapa Sachi-san dengan baik.
“Aku juga senang hari ini. Tadi aku sempat berpikir, kalau dia masih hidup, mungkin keadaannya akan seperti ini ya...”
Sachi-san menyipitkan mata, menatap jauh ke suatu tempat.
“Kalau ada Sumi, Iku, dia, lalu kami bisa barbeku bersama teman-teman... tanpa sadar aku jadi membayangkannya.”
“Dia” yang dimaksud pasti ayahnya Akiyama dan Iku, sekaligus suami Sachi-san. Aku nggak tahu detailnya, tapi katanya dia meninggal dalam kecelakaan tepat sebelum Iku lahir.
Sachi-san memang lembut dan baik, tapi di dirinya juga ada kesan murung yang samar. Mungkin itulah alasannya. Dari tadi pun ada saat-saat di mana dia tiba-tiba menatap kosong dengan ekspresi sedih.
“Sachi-san...”
...Ini susah untuk ditanggapi.
Karena nggak tahu harus berkata apa, aku cuma bergumam tidak jelas. Sambil pura-pura sibuk, aku mulai mengikat kantong plastik.
“Aku jadi paham kenapa Sumi percaya padamu, Kyota-kun. Kamu sedikit mirip dengannya. Buat Iku juga, sepertinya kamu orang yang gampang diterima.”
“...Dia sama sekali nggak mirip. Nggak sedikit pun.”
Akiyama langsung mengerutkan kening dengan ekspresi jijik.
“Benarkah? Menurutku cara kamu bicara pada anak-anak itu persis sama.”
“...Sudahlah. Ibu justru bikin Kyota nggak enak.”
“Oh, maaf. Tuh kan, aku jadi kebablasan lagi.”
“Ibu memang sering banget bilang hal-hal yang nggak perlu...”
Sachi-san yang lembut dan Akiyama yang dingin. Meski keduanya kelihatan sangat berbeda, rupanya mereka akur juga dengan cara mereka sendiri.
Keluarga Akiyama pasti juga punya banyak beban, dan kehidupan mereka sekarang mungkin juga nggak mudah... tapi di mataku, mereka terlihat bahagia. Setidaknya, suasananya sama sekali nggak buruk.
Akiyama memang malu kalau bersama ibunya, tapi juga tidak terlihat benar-benar membencinya.
Mereka adalah gambaran orang tua dan anak yang normal dan bahagia, seperti yang kubayangkan.
“...Percuma ya iri pada orang lain,” gumamku begitu pelan sampai tak seorang pun mendengarnya.
Memang nggak ada gunanya membandingkan. Yang penting sekarang adalah memastikan Soyoka nggak merasa kesepian.
“Oke, segini rasanya sudah cukup buat beres-beres.”
“Iya. Arang dan panggangannya tinggal kita serahkan ke staf.”
“Betul. Soal begini memang lebih aman diserahkan pada ahlinya daripada malah asal pegang.”
Fasilitasnya memang benar-benar bagus. Nggak perlu bawa alat sendiri, dan bahan-bahannya pun bisa langsung dibeli di supermarket lantai bawah. Selama ini aku punya bayangan kalau barbeku itu repot, tapi ternyata begini bisa dilakukan dengan santai juga.
Aku jadi pengin melakukannya lagi lain kali, mungkin dengan rombongan besar termasuk Mizuki dan yang lain.
“Soyoka, kamu bisa jalan? Sudah waktunya pulang.”
“Dagingnya ngomong...”
“Jadi sekarang kamu akhirnya menganggapku sebagai daging yang bisa bicara ya...”
Perut kenyang dan kantuk membuat kesadaran Soyoka setengah melayang.
Kelihatannya nanti dia nggak perlu makan malam lagi.
Begitu sampai rumah, kami tinggal santai saja.
Aku menggendong Soyoka yang sudah lemas di punggungku lalu mengambil barang-barang kami.
“Kyota-kun, mulai sekarang tolong terus jaga Iku dan Sumi ya.”
“Serahkan pada saya. Saya akan melindungi Iku.”
“Anak perempuanku juga tolong dilindungi ya.”
“Bukan, saya rasa justru saya harus melindungi Iku dari anak perempuan Anda...”
“Oh my.”
Hari ini pun, Soyoka sempat mencoba menyuruh Iku makan terong mentah. Kalau aku membiarkan mereka begitu saja, Iku jelas dalam bahaya.
“Nanti kamu bayar itu,” bisik Akiyama pelan di dekat telingaku.
Maaf, kayaknya aku bakal dibunuh sebelum sempat melindunginya.
“Dan juga, Kyota-kun.”
Terakhir, Sachi-san memanggilku lagi.
“Iya?”
“Tolong, hargailah keluargamu.”
“Tentu saja. Soyoka lebih penting bagiku daripada apa pun.”
“Bukan cuma Soyoka-chan.”
Sachi-san tersenyum lembut, tapi entah kenapa matanya terlihat serius.
Aku tidak benar-benar mengerti apa maksudnya, jadi aku sempat kehilangan kata-kata.
“Um...?”
“Ibumu, dan ayahmu juga. ...Aku cuma dengar sedikit dari Sumi, jadi aku juga nggak tahu detailnya. Kalau kamu mau mengabaikan kata-kataku, itu juga nggak apa-apa.”
“...Tapi bagaimana kalau mereka memang nggak tertarik?”
“Meski begitu, keluarga tetaplah keluarga. Nggak ada orang tua yang membenci anaknya. Menurutku mereka cuma... tidak terlalu tahu harus berinteraksi bagaimana.”
Mendengar kata-kata Sachi-san, Akiyama juga membuat wajah yang sedikit sulit dibaca. Mungkin di antara mereka berdua juga ada sesuatu yang nggak terlihat dari luar. Rasanya kata-kata Sachi-san tadi juga membawa pengalaman pribadinya sendiri.
Tidak tahu harus berinteraksi bagaimana? Mungkin memang bukan berarti dia membenci kami. Ibuku cuma tidak tertarik.
...Begitulah yang kupikir, tapi Sachi-san, sebagai seorang ibu, rupanya punya pandangan yang berbeda.
“...Anda benar.”
Aku memang sama sekali tidak berniat mempercayai ibuku, tapi mungkin kata-kata Sachi-san ini layak kusimpan di hati.
“Oh dear, maaf ya. Baru ketemu hari ini, tapi aku malah mulai banyak menasihati. Makin tua, aku memang makin cerewet.”
“Nggak, justru itu membantu. Selama ini saya cuma tahu soal keluarga saya sendiri... soal ibu saya sendiri. Saya rasa saya akan coba memikirkannya sedikit.”
“Cobalah.”
Sachi-san benar-benar orang yang sangat baik...
Dia benar-benar gambaran ideal tentang bagaimana seorang ibu seharusnya.
“Yuk pulang, Soyoka.”
Karena keluarga Akiyama berjalan kaki pulang, kami pun berpisah di depan gedung.
Hari ini Soyoka banyak bermain, banyak makan, dan kelihatannya sangat puas.
“Tadi seru...”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Iya. Iku-mama baik.”
“Iya, dia ibu yang baik.”
“Aku juga mau barbekyu sama mama-nya Soka.”
“...Nanti kita coba ajak suatu saat.”
Upacara masuk sekolah, tamasya orang tua dan anak, lalu hari ini.
Soyoka melihat ibu-ibu lain, lalu merasa kesepian.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lebih dari itu, dan cuma mengganti topik sambil berjalan pulang.