Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 3 Chapter 7 — Adik Perempuanku Jenius dalam Membuat Kue

“Soyoka-chan, sudah lama sekali~! Aku kangen banget~!”

“Hii-chan! Soka juga kangen!”

“Serius? Aku senang banget! Kamu memang ngomong hal-hal paling imut.”

Orang yang langsung memeluk dan mengusap-usap Soyoka, yang tadi menyambutnya di pintu, adalah Hiiragi Hikaru.

Dia memakai rok mini hitam dan topi, dengan sukajan yang cuma disampirkan longgar di bahu tanpa memasukkan tangan ke lengannya. Tas kecil yang jelas-jelas nggak mungkin muat apa-apa itu sebenarnya perlu buat apa?

“Kamu juga, Kuremocchan, hai.”

Ini pertama kalinya kami bertemu lagi sejak libur musim panas dimulai, tapi dia tetap seramai biasanya.

“Oi, Hiiragi. Jangan sentuh Soyoka dengan tanganmu yang kotor.”

“Oh, maaf, maaf. Aku cuci tangan dulu.”

“Bukan, maksudku jangan sentuh dia dengan tangan orang dewasa yang kotor. Soyoka yang murni nanti ternoda.”

“Wah, hari ini level lolicon-mu maksimal banget.”

“Jangan panggil aku lolicon.”

Hiiragi masuk ke ruang tamu, melepas jaketnya dan melipatnya, lalu meletakkan topinya di atas.

“Master, teh barley!”

“Itu lima ratus yen.”

“Aku suka deh, kamu ngomong begitu tapi tetap menyiapkannya buatku.”

Hiiragi menerima gelas dariku lalu menghabiskannya sekaligus.

Di luar masih panas, jadi sepertinya cuma datang ke rumah kami saja sudah cukup bikin dia berkeringat. ...Tunggu, apa nggak sopan ya memikirkan begitu soal cewek? Tapi untuk gadis sporty seperti Hiiragi, bahkan keringat pun cocok padanya.

“Maaf ya, aku tiba-tiba menghubungimu. Syukurlah kamu luang, Kuremocchan.”

“Aku nggak luang. Jadwalku penuh setiap hari dengan rencana penting bermain bersama Soyoka.”

“Aku tahu kamu pasti bilang begitu, makanya aku pakai alasan ‘membuat kue bersama Soyoka-chan’. Kita memang pernah janji soal itu, kan.”

“Alasan? Berarti kamu ada urusan lain?”

“Hmm, yah, nggak apa-apa kan begitu?”

Apa sekarang tren baru itu bicara setengah-setengah soal maksud sendiri? Atau memang aku saja yang terlalu tidak peka?

Jujur saja, orang itu nggak akan paham kalau nggak dijelaskan dengan kata-kata. Meski kalau aku dan Soyoka, kami bisa telepati!

Baru kemarin Hiiragi mengirim pesan padaku bilang dia ingin bermain dengan Soyoka.

Setelah acara camping bersama keluarga Akiyama, kami memang belum punya rencana apa-apa untuk sementara waktu, jadi tanpa pikir panjang aku langsung menerima ajakannya. Katanya, dia ingin membuat kue bersama Soyoka.

Aku memang agak kaget dapat pesan dari Hiiragi, tapi... haha, pasti dia mulai kangen pada Soyoka. Soyoka memang punya tingkat keimutan yang bisa memikat seluruh umat manusia, jadi aku paham kalau Hiiragi ingin bertemu dengannya.

“Soyoka-chan, ayo kita bikin kue enak bareng, ya~?”

“Serahkan pada Soka.”

“Aaah, imut banget! Memang adik kecilku!”

“Onee-chan?”

“Iya dong~. Kalau kamu jadi adikku, kamu bisa makan manis sepuasnya!”

“Soka akan jadi adik kecil Hii-chan!”

Soyoka sedang ditipu penyihir jahat. Karena Soyoka terlalu polos, dia benar-benar termakan rayuan itu.

Hiiragi sendiri menampilkan senyum licik.

“Guh heh heh, sekarang Soyoka-chan jadi milikku.”

“Soyoka? Kakak laki-lakimu yang luar biasa ini jauh lebih baik daripada kakak perempuan buruk seperti dia, kan?”

“Nggak tuh. Iya kan, Soyoka-chan?”

Kembalilah padaku. Dengan harapan itu di dalam hati, aku berlutut lalu melebarkan tangan.

Soyoka melirikku sekali saja, lalu tanpa ragu langsung memeluk Hiiragi.

“Aku mau Hii-chan!”

“Tidaaaaak!”

Kepalaku terkulai dalam keputusasaan.

Aku nggak bisa hidup kalau Soyoka meninggalkanku...

“Memang Soyoka-chan-ku ini paham! Oke, ayo kita tinggalkan makhluk aneh yang lagi ambruk di sana itu dan mulai!”

“Soka akan makan semuanya!”

“Iya, iya, tapi lebih enak kalau kamu buat sendiri, tahu?”

“Aku akan buat!”

Sejak Hiiragi datang, rasanya keberadaanku hilang total dari mata Soyoka. Menyedihkan sekali.

Tapi aku tetap bersyukur Hiiragi mau bermain dengan Soyoka. Namanya juga libur musim panas, jadi aku ingin dia mencoba macam-macam hal.

Soal membuat kue, aku benar-benar amatir, jadi kuputuskan untuk tidak ikut campur.

Hiiragi dan Soyoka memakai celemek kembar yang dibawa Hiiragi sendiri. Persiapannya benar-benar matang.

“Aku numpang pakai kulkas ya~”

“Pakai saja alat dapur dan apa pun yang ada dengan bebas. Nggak usah tanya tiap kali.”

“Roger. Makasih.”

Bahan-bahan yang dia bawa dimasukkannya ke dalam kulkas. Hiiragi kelihatannya sudah terbiasa, jadi sisanya kuserahkan padanya.

Mungkin lebih baik aku sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

Sekalipun sekolah dan taman kanak-kanak sedang libur, pekerjaan rumah nggak mungkin ikut hilang.

Memang penginnya aku melempar semua urusan dan menikmati liburan saja, tapi tentu aku nggak bisa begitu.

Rasanya sepi kalau harus jauh dari Soyoka, tapi... kalau Hiiragi yang menjaganya, aku bisa fokus mengerjakan pekerjaanku.

“Soyoka-chan, kamu tahu Hari Valentine itu apa?”

“Vawen-tan?”

“Masih lama sih, tapi itu acara waktu kamu kasih cokelat buatan sendiri ke anak laki-laki. Ada nggak orang yang pengin kamu kasih, Soyoka-chan?”

“Iku!”

“Ooh, kalau begitu kita harus latihan supaya Iku-kun nanti bisa makan cokelat enak!”

Saat aku sedang membersihkan kamar mandi, aku mendengar percakapan yang tidak bisa kuabaikan.

Masih memakai sarung tangan karet, aku langsung buru-buru kembali ke ruang tamu.

“Oi! Nggak mungkin Soyoka bakal kasih cokelat Valentine ke cowok mana pun selain aku! Jangan ajari dia hal-hal aneh!”

“Soyoka-chan mau kasih ke Iku-kun, ya~?”

“Aku nggak akan mengizinkannya.”

Enam bulan dari sekarang... aku harus membujuknya sebelum itu tiba...

Soyoka malah tertawa dan bilang, “Iya~” bersama Hiiragi. Ugh, cokelat Soyoka itu cuma untukku dan tidak untuk siapa pun selain aku!

Saat aku masih menggerutu, dua orang itu mengusirku dengan, “Ganggu, sana,” dan “Pergi sana,” jadi aku kembali ke urusan bersih-bersih. Pandanganku sampai kabur dan aku nggak bisa melihat ke depan.

“Bisa bikin choco? Dari kebun?”

“Cacao... itu buah seperti apa ya? Aku juga nggak terlalu punya bayangan itu tumbuh di kebun... nggak tahu deh. Kalau ‘membuat cokelat’ itu biasanya artinya dilelehkan lalu dicetak, atau dibuat jadi kue cokelat.”

“Kue! Kesukaan Soka.”

“Aku tahu~”

Kalau Hiiragi bicara dengan Soyoka, rasanya dia nggak terlalu memperlakukannya seperti anak kecil dan malah bicara seolah setara. Soyoka memang mengagumi perempuan dewasa seperti Hiiragi, jadi kurasa dia senang diperlakukan seperti orang dewasa. Dia memang sangat sayang pada Hiiragi.

Dia juga masih menyukai baju yang dulu dipilihkan Hiiragi untuknya.

Kelihatannya dia benar-benar bersenang-senang membuat kue bersama Hiiragi... Aku menggertakkan gigi dan menahan diri sekuat tenaga agar tidak ikut campur. Aku nggak mau sampai dibenci!

Tapi kalau cuma mengintip sedikit, harusnya nggak apa-apa, kan? Supaya Soyoka nggak sadar, aku membuka pintu geser ruang tamu sedikit saja lalu mengintip dari sela.

“Kayak gini?”

“Iya, iya! Pintar banget! Aduk pelan-pelan sampai nggak ada yang menggumpal~ ...Hm?”

Hiiragi yang menyadari tatapanku langsung melihat ke arahku.

Dia menyeringai, mengedip, lalu melempar ciuman ke arahku. Aku nggak tertarik sama kamu! Aku nggak bisa lihat Soyoka, jadi minggir!

“Hii-chan, boleh aku cicip?”

“Belum masuk tahap cicip, lho...? Nih, makan gummy dulu.”

“Gummy!”

Soyoka benar-benar terus dibeli dengan makanan manis.

Gimana caranya aku merebut kembali Soyoka dari iblis manisan itu...?

“Bagus banget~. Tinggal dipanggang di oven. Aku pindahkan ke cetakan muffin dulu, jadi lihat baik-baik ya caranya?”

“Tatap terus.”

“Kayaknya terlalu dekat deh...? Setelah kuisi setengah, aku akan masukin ganache yang sudah kubuat di rumah, lalu ditutup lagi pakai adonan~”

“Gan-ash?”

“Itu semacam cokelat yang lembut. Nih, kayak gini! Sekarang giliran kamu.”

Tanpa memedulikan penderitaanku, proses membuat kuenya tampak berjalan lancar.

Membuat kue... mungkin lain kali aku harus minta Hiiragi mengajariku, supaya aku juga bisa membuatnya bersama Soyoka. Ini jelas bukan demi Iku!

Saat pekerjaan rumahku selesai dan aku kembali ke ruang tamu, Soyoka sedang mengintip ke dalam oven. Ini adalah kue pertama yang pernah dia buat sendiri. Sepertinya dia benar-benar menunggu sampai matang dengan penuh semangat.

Ngomong-ngomong, aku belum bertanya mereka sebenarnya sedang membuat apa.

Aku sama sekali nggak paham soal kue, jadi cuma dengan melihat prosesnya saja aku tidak bisa membayangkan hasil akhirnya.

“Apakah ini saat nasib ditentukan...?”

Aku duduk di sofa lalu menyiapkan mental. Bagaimanapun hasilnya nanti, aku yakin hatiku tidak akan selamat.

Maksudku, apakah Soyoka akan memberikannya padaku atau tidak. Inilah titik balik takdir.

Bip, bip, bip, timer memberi tahu bahwa kuenya sudah matang.

“Hii-chan, bunyi bip bip bip!”

“Iya~. Kira-kira hasilnya cantik nggak ya~?”

“Ya ya?”

“Masih panas, jadi jangan disentuh dulu~”

Karena tadi mataku terpejam, satu-satunya cara aku tahu apa yang sedang terjadi hanyalah dari percakapan mereka.

Sepertinya kuenya sudah matang.

Gawat, jantungku mulai berdebar.

Tanganku gemetar karena gugup. Kepalaku sampai kosong dan aku bahkan hampir tidak mendengar percakapan mereka lagi.

Cokelat buatan tangan pertama Soyoka. Tekanan luar biasa karena kemungkinan aku tidak akan menerimanya sudah benar-benar mendorong jiwaku ke batas maksimal.

Ini pertama kalinya aku segugup ini. Rasanya aku mau mati... Tapi kalau aku mati, aku tidak akan pernah bisa memakannya. Dengan pikiran itu, aku entah bagaimana berhasil bertahan.

“Onii-chan!”

Aku mendengar suara indah milik Soyoka.

Dengan takut-takut, aku membuka mata.

Dan di depanku... Soyoka berdiri sambil memegang piring dengan kedua tangan.

“Aku kasih satu buatmu!”

“Soyokaaa...!”

Air mataku langsung menetes.

Dengan tangan gemetar, aku menerima piring itu dari Soyoka. Di tengah piring itu ada satu kue cokelat kecil.

“Ini namanya hon-da? choco? Katanya begitu!”

“Itu namanya fondant chocolat.”

“Soka yang bikin!”

“Soyoka-chan juga yang menuangnya ke cetakan, kan~? Katanya dia mau Onii-chan mencicipi duluan sebelum dia sendiri makan.”

Hiiragi menjelaskan sambil memberiku sendok.

Anak yang baik sekali... Tadi aku sampai khawatir aku nggak akan menerimanya, itu artinya aku tidak percaya pada Soyoka. Mana mungkin Soyoka tidak memberikannya padaku.

“Hiks, hiks. Makasih, Soyoka...”

“Ih, jijik. Kenapa nangis?”

“Aku akan mengawetkannya dan menjadikannya pusaka selamanya...”

“Makan aja. Yang beginian paling enak pas masih hangat.”

Hiiragi membalas dengan santai. Berisik. Sekarang aku sedang menikmati momen berharga ini.

“Onii-chan aneh banget.”

“Soyoka-chan, kamu nggak boleh terbiasa sama begini. Di dunia nyata, orang kayak gini namanya mesum.”

“Mesum?”

Saat ini, bahkan hinaan dari Soyoka pun terdengar seperti musik di telingaku.

Aku perlahan menyendok fondant chocolat itu.

Bagian luarnya seperti cake atau muffin. Tapi begitu dibelah, dari dalamnya cokelat lembut yang lumer langsung mengalir keluar.

Aku membawanya ke mulut lalu menikmatinya perlahan. Tekstur kue berpadu dengan cokelat yang meleleh di lidah, benar-benar enak sekali.

“Gimana?”

“Enak banget sampai kelewatan...”

“Yay! Soka juga mau makan!”

Soyoka melompat senang lalu pergi mengambil bagiannya sendiri.

Dia membuka mulut lebar-lebar lalu langsung memakannya, sambil mengunyah dengan nikmat. “Enak-enak-enak!”

“Sayang sekali kalau dimakan... Tapi lebih sayang lagi kalau nggak dimakan saat masih enak! Ah, andai saja momen ini bisa berlangsung selamanya!”

“Kamu lebay banget~. Oh, ini memang enak sih. Punya oven besar memang jauh lebih gampang buat memanggang.”

Syukurlah oven yang dipasang ibuku karena ngotot, padahal dia sendiri nggak pernah memakainya, ternyata ada gunanya juga.

Segala sesuatu yang punya bentuk pada akhirnya memang akan hilang.

Aku sudah berusaha menikmatinya selama mungkin, tapi karena terlalu enak, kue itu habis dalam sekejap.

“Hiiragi.”

“Eh, kenapa tiba-tiba nadamu serius banget? Serem tahu.”

“Makasih. Serius.”

“Oh, um. Kalau cuma hal beginian sih, kapan saja.”

“Serius? Kamu orang baik. Nikahi aku.”

“Maaf, aku punya... ah.”

“Hm?”

Aku sebenarnya mengatakannya cuma bercanda seperti biasa, tapi reaksi Hiiragi terasa kaku.

Untuk sesaat, percakapan kami terhenti.

Jarang sekali suasana jadi canggung dengan Hiiragi yang biasanya selalu sigap membalas. Ada apa ini?

“O-Oke deh. Karena kita sudah selesai makan, sepertinya aku akan beres-beres!”

“Ah, iya. Bersih-bersih biar aku saja.”

“Hmm, tapi kan yang pinjam dapurmu itu aku. Nggak mungkin semuanya kutinggal ke orang lain. Yah, meski kalau kamu bantu juga nggak apa-apa.”

Dalam sekejap dia sudah kembali seperti biasa. Jangan-jangan tadi cuma perasaanku saja...?

“Soka jadi ngantuk habis makan...”

Setelah menghabiskan dua fondant chocolat, Soyoka langsung tumbang di sofa. Nanti aku harus menyuruhnya menggosok gigi biar nggak ada gigi berlubang.

Aku dan Hiiragi berbagi tugas mulai mencuci mangkuk dan peralatan lain yang kami pakai.

Cara kerja Hiiragi benar-benar rapi, sampai aku yang menganggap diriku lumayan bisa memasak pun ikut kagum.

Kue... aku sendiri sih nggak terlalu tertarik, jadi memang belum pernah membuatnya. Tapi kalau itu bisa membuat Soyoka senang, mungkin aku akan coba. Berbeda dengan masakan biasa, membuat kue itu nggak lebih murah dan belum tentu juga lebih enak dibanding tenaga yang dikeluarkan, jadi aku memang nggak terlalu termotivasi.

“Kamu nginep bareng Sumi, kan, Kuremocchan? Mukamu serius begitu, tapi ternyata lumayan maju juga.”

“Bukan begitu. Ada Soyoka, Iku, dan ibu Akiyama juga.”

“Wah, bahkan sudah disetujui orang tua.”

Dia selalu mengaitkan semuanya ke arah romansa...

Apa Hiiragi yang memang aneh, atau anak SMA memang semuanya begini?

“Kalian tidur di tempat yang sama, kan? Ada sesuatu yang... terjadi?”

“Nggak ada apa-apa.”

“Ah, berarti memang ada sesuatu. Nggak apa-apa kok, nanti aku datang nengok kamu.”

“...Dari awalnya memang menganggap aku bakal ditangkap polisi!?”

Leluconnya terlalu melompat, sampai responku jadi terlambat. Memalukan.

Rasanya memang ada banyak hal yang terjadi, tapi itu bukan sesuatu yang akan kuceritakan pada Hiiragi. Lagipula aku sendiri juga belum selesai memproses semuanya. Aku juga belum bertemu lagi dengan Akiyama sejak saat itu.

“Enak ya, masa muda~”

“Kamu sendiri juga sibuk dengan masa mudamu di klub, kan?”

“Ah, jadi kamu nggak menyangkal kalau kamu juga sedang mengalami masa muda.”

...Mungkin sebaiknya aku memang lebih banyak diam saja di depan Hiiragi.

Rasanya dia terus mencoba mengorek sesuatu yang bahkan belum tentu ada.

“Masa mudaku, ya. Entahlah.”

“Kalian ada training camp dan semacamnya, kan?”

“Training camp-nya minggu lalu.”

Sepertinya saat kuenya masih dipanggang tadi, Hiiragi sudah mencuci sebagian peralatan juga, jadi urusan bersih-bersih selesai jauh lebih cepat.

Hiiragi mengeringkan tangannya dengan handuk lalu memandangku.

“Aku ditolak.”

“...Begitu ya.”

“Iya. Nggak berhasil,” kata Hiiragi dengan ekspresi yang sulit kubaca.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku tetap diam.

Aku memang tidak tahu kata-kata yang tepat untuk diucapkan pada seorang gadis yang baru saja patah hati.

“Ngomong dong.”

Mata Hiiragi sedikit turun saat dia tersenyum getir pada dirinya sendiri.

“...Umm.”

Aku mencari-cari kata, sampai mataku bergerak ke sana-sini.

Melihat itu, Hiiragi malah tertawa terbahak-bahak.

“Ahaha, bercanda! Kuremocchan ternyata lebih polos dari dugaanku, jadi gampang digoda. Gimana tadi? Aku mencoba berakting jadi gadis yang nyaris menangis setelah patah hati. Bikin kamu jadi pengin memelukku nggak? Sebenarnya boleh loh kalau kamu mau.”

“Hiiragi.”

“Mizuki memang nolak aku, tapi dari awal aku juga tahu peluangnya kecil kok~. Aku bukan tipe yang akan lama terpuruk. Aku sudah move on. Ugh, memang aku nggak cocok melakukan hal-hal yang nggak biasa kulakukan, seperti mengejar seseorang. Gadis secantik aku ini harusnya yang dikejar, tahu?”

“Diam sebentar.”

Hiiragi terus bicara sambil menggerakkan tangannya ke sana-sini tanpa arah.

Aku paksa menangkap kedua bahunya lalu membuatnya menatapku.

“Kamu ini lebih serius soal ini daripada siapa pun, kan? Jangan menertawakan dirimu yang dulu cuma karena kamu gagal.”

“...Apa itu? Kamu kan temannya Mizuki, Kuremocchan?”

“Aku sudah menganggapmu teman sejak lama.”

Memang benar Mizuki dan aku dekat sampai bisa disebut sahabat. Tapi aku sama sekali nggak tertarik ikut campur urusan cintanya, dan aku juga selalu menjaga jarak dari hal semacam itu. Mizuki pun nggak pernah sengaja membicarakannya padaku.

Jadi, dalam kasus Hiiragi ini, kalau harus jujur, justru aku berpihak padanya.

Memang aku nggak pernah terang-terangan memihak, tapi aku pernah beberapa kali membantunya.

Dan semakin aku mengenal Hiiragi, semakin aku paham betapa serius perasaannya.

Saking seriusnya sampai aku sempat berpikir Mizuki tidak pantas mendapatkannya. Hiiragi Hikaru benar-benar jatuh cinta sungguh-sungguh. Meski peluang ditolaknya besar, dalam hati aku tetap mendukungnya.

“...Kamu baik ya, Kuremocchan.”

Hiiragi perlahan menepis tanganku, lalu memeluk lengannya sendiri dan bersandar ke dinding. Dia merosot turun sampai jongkok dengan punggung menempel di dinding.

“Aku serius. Saking seriusnya sampai rasanya ingin muntah... Makanya aku nggak bisa langsung menghadapinya. Kalau aku nggak menipu perasaanku sendiri, aku nggak akan kuat. Jangan ngomong itu semudah itu.”

“...Maaf.”

“Ah... bukan, maaf. Aku malah melampiaskannya ke kamu. Payah ya, beginian.”

“Bukan hal yang payah sama sekali.”

“Payah kok. Ahh, padahal aku ke sini cuma buat melapor, tahu. Aku nggak berniat memperlihatkan sisi kacauku yang begini ke kamu.”

Jadi itu alasan kenapa dia tiba-tiba menghubungiku.

Melihat Hiiragi, yang biasanya selalu percaya diri, sekarang tampak selemah itu, membuat dadaku terasa sesak.

Aku tidak akan bilang Mizuki salah. Mau menerima atau menolak seseorang itu memang pilihannya sendiri.

Tapi aku tetap berpikir akan lebih baik kalau usaha Hiiragi bisa terbayar. Meski sebagai orang luar, aku memang tidak bisa berbuat apa-apa.

“Tapi memang benar aku nggak menyesal! Aku justru pasti akan jauh lebih menyesal kalau aku nggak mengungkapkannya. Jadi ini tetap keputusan yang benar. Rasanya aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan.”

Hiiragi cepat-cepat berdiri lalu berkata dengan ceria.

“Kamu kuat. Cinta berikutnya pasti akan berjalan lebih baik buatmu, Hiiragi. Meski aku nggak tahu kapan itu akan datang...”

“Cinta berikutnya? Kamu ngomong apa sih?”

Hiiragi berkedip beberapa kali dengan wajah bingung.

“Aku nggak pernah bilang aku akan menyerah. Kalau aku ditolak sekali, ya berarti aku tinggal berusaha lebih keras lagi supaya dia menoleh ke arahku, kan?” kata Hiiragi dengan senyum penuh jiwa saing.

Begitu kah caranya...?

Setidaknya, gadis-gadis yang ditolak Mizuki tahun lalu langsung menyerah semua dan beralih ke cowok lain. Dari awal mereka memang cuma menembak dengan perasaan, kalau berhasil syukur. Kurang lebih semuanya begitu.

“Lagipula, Mizuki sendiri yang bilang. Dia memang belum berniat pacaran dengan siapa pun. Katanya dia nggak paham apa itu perasaan romantis...”

“Bukannya itu harapan nol ya? Artinya ini mustahil, bukan soal kamu atau bukan, Hiiragi.”

“Nggak juga! Aku tinggal membuat dia memahami perasaan romantis dengan kekuatan cintaku.”

“...Kamu nggak malu ngomong begitu sendiri?”

“Iya, sih, malu. Ehehe,” kata Hiiragi sambil menggaruk pipinya.

Hiiragi itu imut dan populer, jadi kalau lawannya bukan Mizuki, seharusnya dia nggak akan sesulit ini. Tidak banyak cowok yang akan tetap tahan kalau terus dikejar seintens itu.

Tapi... tetap saja dia memilih jalan yang sulit itu. Sebegitu besar dia menyukai Mizuki.

Cowok itu, sampai menolak seseorang yang menyukainya segini besar, benar-benar kebanyakan untung. Semoga suatu hari dia kena tikam.

“Eh, boleh aku tanya satu hal?”

“Hmm?”

“Kenapa kamu bisa sesuka itu sama dia?”

“Eh, wajahnya.”

“Ah, begitu...”

Jawabannya keluar seketika.

Baru saja aku mendesah pasrah, Hiiragi langsung melanjutkan.

“Awalnya sih gitu. Tapi setelah kami saling mengenal, aku sadar. Dia ternyata gelap juga.”

“Selera kamu parah.”

“Kepribadiannya buruk, bengkok, seenaknya sendiri, dan nggak punya cinta.”

Hiiragi mulai menghitung ciri-ciri Mizuki sambil mengangkat jari satu per satu.

“Sejauh ini yang kedengarannya cuma hinaan, kamu yakin baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja. Justru itu yang kusuka. Mizuki itu ya, sepertinya punya masalah juga di keluarganya... dan saat dia memperlihatkan sisi gelap seperti itu, aku jadi merasa harus melindunginya.”

Oke, ternyata dia tipe yang jatuh cinta pada cowok bermasalah.

Aku memang tahu Hiiragi suka Mizuki, tapi aku sama sekali tidak menyangka alasannya seperti itu. Dia sendiri ternyata cukup aneh.

Mungkin setelah mengeluarkan semua isi hatinya dia jadi merasa lega, karena Hiiragi tersenyum seolah beban besar telah terangkat.

“Ahh, syukurlah aku datang menemuimu, Kuremocchan. Kalau nggak mengeluh ke seseorang, aku pasti bakal terus murung. Ah, lega banget.”

“Yah, aku senang kalau begitu...”

Jadi akhirnya tadi itu semua apaan? Sepertinya dia sendiri sudah punya jawaban dalam kepalanya, jadi aku tadi khawatir sia-sia.

Dengan wajah yang sekarang kembali terang dan lega, Hiiragi keluar dari dapur lalu duduk di sofa. Dengan ujung jarinya, dia membelai poni Soyoka yang sedang tidur pulas.

“Iya... aku benar-benar senang sudah menyatakan perasaanku. Satu-satunya hal yang paling nggak kuinginkan adalah menyesal.”

“Benar. Kerja bagus.”

“Makasih. Kamu juga pastikan jangan sampai punya penyesalan, ya, Kuremocchan.”

“Aku juga?”

Aku merasa aku selalu menjalani hidupku sekuat mungkin, jadi sebenarnya aku nggak punya banyak penyesalan... Tentu saja kalau aku melakukan kesalahan pada Soyoka aku akan menyesal, tapi itu lebih ke arah refleksi diri.

“Kalau kamu jatuh cinta, kamu nggak boleh memalingkan muka dari perasaan itu. Kamu harus menghadapinya dengan benar lalu bertindak. Kalau baru sadar belakangan nanti bakal terlambat.”

“Hah? Yah, memang benar sih, tapi kalau aku...”

...Aku nggak punya waktu untuk romansa.

Aku akan mendedikasikan diriku sepenuhnya untuk Soyoka. Sebagai kakak laki-laki saja aku masih belum berpengalaman, jadi aku nggak punya kemewahan untuk terdistraksi oleh hal lain.

“Hmm. Yah, kalau kamu benar-benar berpikir begitu dari lubuk hati, Kuremocchan, ya nggak apa-apa.”

“...Iya, memang begitu.”

“Oke. Berbohong padaku sih nggak apa-apa, tapi nanti saat waktunya tiba, jangan bohong pada dirimu sendiri, ya? Hadapi dengan benar. Paham?”

“...Yah, aku paham.”

“Bagus. Dan itu tadi adalah nasihat dari pakar cinta, Hikaru-chan!”

Seolah memberi tanda bahwa suasana muram tadi selesai, Hiiragi menepuk tangannya.

Begitu saja, kami kembali ke hubungan santai kami seperti biasa.

“Padahal kamu baru ditolak.”

“Aah, jahat banget. Itu namanya menabur garam di atas luka!”

Dia terkikik lalu menyenggol bahuku.

“Yah, karena Soyoka-chan sudah tidur, kurasa aku akan pulang. Kalau aku di sini lebih lama lagi, nanti kamu bisa-bisa jatuh cinta padaku, Kuremocchan...”

“Itu nggak akan pernah terjadi, jadi tenang saja.”

“Heeh, mau kita uji?”

Hiiragi memberi senyum menantang lalu mendekatkan wajahnya padaku. Dilihat dari dekat, seperti yang diduga, wajahnya benar-benar imut.

“Kamu tadi sempat berharap sedikit, kan?”

“...Tentu saja tidak.”

“Jawabnya cepat banget~”

Ya mau bagaimana lagi. Itu naluri laki-laki.

Hiiragi segera menjauh lagi lalu mulai bersiap untuk pulang. Dia menarik topinya sampai rendah lalu menatapku sambil menahan pinggiran topi itu.

“Yah, sekarang aku benar-benar pulang.”

“Sampai nanti. Makasih sudah main dengan Soyoka.”

“Sama-sama. Sampai ketemu di sekolah~”

Sambil melambaikan tangan, Hiiragi pun pergi.

Dia benar-benar seperti badai...

Tapi aku sedikit iri pada Hiiragi yang bisa begitu serius pada cintanya sendiri.

Tanpa sadar, wajah Akiyama melayang di benakku. Dan juga ekspresi Akiyama pada malam saat camping itu.

Orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersamaku, dan orang yang paling dekat denganku, tanpa diragukan lagi adalah Akiyama.

Kalau harus mengekspresikannya dalam istilah umum, kurasa perasaan yang kupunya padanya memang bisa disebut perasaan romantis.

Tapi tetap saja, itu tidak sesederhana itu.

“Jadi jangan sampai ada penyesalan, ya...”

Kata-kata yang tadi Hiiragi ucapkan padaku.

Setidaknya, aku nggak ingin hubungan kami berakhir begitu saja tanpa aku sendiri memahami perasaan ini.

Tapi aku juga belum merasa siap untuk mengucapkannya keras-keras atau bahkan mengakuinya.

Sekitar setengah jam kemudian, Soyoka bangun dari tidur siangnya yang panjang lalu mulai merengek bilang ingin bertemu Hii-chan. Sepertinya hari pertemuan mereka lagi memang akan segera datang.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa