Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 2 Chapter 6 — Adik Perempuanku Sangat Menyayangi Mamanya

Beberapa hari telah berlalu sejak kami berenam pergi ke pusat perbelanjaan.

“Lihat, baju dari Hii-chan. Aku lucu nggak?”

“Tentu saja, kamu lucu banget...! Tapi sebelum tidur, kita lepas dulu ya biar nggak kusut.”

“Oke.”

Sepertinya Soyoka benar-benar jatuh cinta pada pakaian yang dipilihkan Hiiragi untuknya. Sejak hari itu, dia memakainya setiap hari.

Memang dia punya seragam untuk TK, tapi setelah pulang dan mandi, dia selalu ingin menggantinya dengan baju itu. Belakangan ini, rutinitasnya adalah memakai outfit itu sampai waktu tidur, lalu baru ganti piyama.

“Aku kan udah dewasa, jadi aku bakal lipat sendiri.”

Memang jadinya malah nambah kerjaan, tapi karena dia kelihatan senang, mungkin tak apa. Dia bahagia sekali karena semua orang memujinya, jadi dia merawat baju itu dengan sangat hati-hati.

Pilihan baju Hiiragi memang punya nuansa yang lebih dewasa, dan sepertinya itu benar-benar kena di hati Soyoka.

Berkat itu, akhir-akhir ini dia jadi suka berlagak seperti orang dewasa.

“Soka lagi mode dewasa.”

“Kalau masuk mode dewasa, memangnya jadi gimana?”

“Aku jadi gerak lebih cepet.”

Soyoka memasang wajah bangga, matanya tampak sedikit lebih tajam dari biasanya.

“Shuh, shuh.”

“Wah...!”

Dia sama sekali nggak maju-maju!

Memang tubuhnya bergerak cepat, tapi kalau dilihat malah bajunya jadi makin berantakan. Dia ini benar-benar sedang melipat baju, kan...?

“Huff... lawan yang berat.”

“Itulah Soyokaku! Oke deh, kalau begitu aku ajari cara supaya kamu jadi lebih kuat lagi. Lihat baik-baik ya?”

“Serahkan padaku.”

“Pertama, bajunya dibentangkan dulu...”

Aku pun mulai memberi Soyoka kuliah singkat tentang cara melipat baju dengan rapi.

Soyoka membungkukkan badan ke depan, mendengarkan dengan sangat serius. Anak ini murid yang baik.

“Kayak gini?”

“Iya, betul. Kamu jago.”

“Aku berhasil!”

Soyoka, yang berhasil melipatnya sambil menirukan gerakanku, bertepuk tangan dengan girang.

Hasilnya memang masih sedikit miring, tapi menurutku dia sudah sangat bagus. Apa dia jenius?

Saat Soyoka sedang menoleh ke arah lain, aku buru-buru membetulkannya sedikit. Dengan begini, bajunya seharusnya aman dari kerutan.

“Berarti Soka udah dewasa?”

“Iya, kamu sudah dewasa. Kalau kamu bisa makan paprika hijau, kamu bakal jadi orang dewasa yang sempurna.”

“Soka masih anak kecil. Anak kecil nggak makan paprika hijau.”

Soyoka memang benci sekali ya sama paprika hijau...

Yah, dulu aku juga bukan cuma benci paprika hijau, tapi hampir semua sayur. Sekarang justru aku suka sayur dan rasanya tidak ada hari tanpa memakainya untuk memasak.

Nanti Soyoka pasti akan bisa memakannya juga. Sambil memikirkan itu, aku mengelus kepalanya saat dia mulai menempel padaku sambil menunjukkan gaya, “Soka masih anak kecil.” Imut.

“Kapan tamasya lagi?”

“Kayaknya sih belum akan ada lagi untuk sementara...”

“Gaan.”

Dia mengucapkan efek suara itu sendiri lalu ambruk di atas baju yang sudah dilipat. Reaksinya yang berlebihan itu memang lucu sekali.

“Aku pengen pakai baju dari Hii-chan.”

“Nanti kita pergi jalan-jalan kok, meskipun bukan tamasya.”

“Kita akan pergi!”

Mau pergi ya. Karena sekarang mulai panas, mungkin enaknya ke tempat yang bisa bikin terasa sejuk.

Sambil melihat Soyoka melompat-lompat dengan gembira, aku mulai memikirkan tujuan berikutnya.

Ke mana pun pasti akan menyenangkan kalau bersama Soyoka. Hanya dengan membayangkannya saja aku jadi tersenyum.

...Tepat saat itu, terdengar suara dari arah pintu masuk.

“Mama?!”

Soyoka langsung bereaksi.

Dia menoleh begitu cepat sampai aku khawatir lehernya akan sakit. Dengan momentum penuh, dia langsung lari dari ruang tamu ke lorong.

“Soyoka, gimana kalau ternyata orang asing? Bahaya!”

Bukan sih, pintunya juga terkunci rapat, jadi kemungkinan itu kecil.

Aku pun mengikuti Soyoka ke lorong, dan di genkan, tepat seperti yang Soyoka duga, atau lebih tepatnya harapkan, berdirilah Mama.

Masih memakai setelan kerja, dengan tas kantor tergantung di bahunya.

“Ini Mama!”

“Oh, Soyoka. Mama pulang.”

“Mama, selamat datang! Dengar ya, dengar ya, hari ini aku juga pergi ke TK.”

“Oh ya, oh ya. Bagus dong.”

“Iya! Terus aku juga gambar!”

Soyoka mengajak Mama bicara dengan semangat saat Mama melepaskan sepatunya di genkan. Namun dia tetap menjaga jarak sedikit, seakan tidak ingin mengganggu.

Entah Mama sadar atau tidak, dia hanya menjawab sekenanya sambil berjalan melewati Soyoka menuju ruang tamu.

“Kamu pulang lebih awal.”

“Yang paling sibuk sudah lewat, untuk sekarang. Tapi nanti bakal sibuk lagi.”

Jarang sekali dia pulang saat Soyoka masih bangun.

Biasanya, dia pulang setelah Soyoka tidur. Bahkan aku sendiri sering tidur tanpa sempat bertemu dengannya.

“Mama, aku seneng Mama pulang cepet.”

“Mama juga senang~”

Soyoka mengungkapkan perasaannya yang jujur dengan senyum lebar.

Mama bahkan tidak menoleh ke belakang, lewat di depanku, lalu langsung masuk ke ruang tamu.

Soyoka mengejarnya dengan langkah kecil.

“Soyoka...”

“Onii-chan, Mama pulang cepet!”

“...Iya.”

Melihat wajah Soyoka yang benar-benar bahagia membuat dadaku terasa nyeri.

Seperti biasa, Mama melempar barang-barangnya sembarangan lalu menjatuhkan diri ke sofa.

“Kyotaaa, bir~”

Aku sudah tahu dia pasti akan bilang begitu, jadi aku sudah lebih dulu mengambil satu kaleng dari kulkas. Tanpa bicara apa-apa, aku menaruhnya di meja rendah di depan sofa.

“Makasih.”

Dia mengucapkannya singkat, tapi tatapannya sudah sepenuhnya tertuju pada bir itu. Begitu kalengnya diletakkan, tangannya langsung meraihnya.

Aku meliriknya sebentar, lalu mulai membereskan “kulit-kulit” yang ditinggalkan ibuku.

“Nggak ada camilan?”

“Camilan malam ini itu cerita-cerita dari Soyoka.”

“Hm? Ya sudah, sesekali begitu juga nggak apa-apa,” jawab Mama seenaknya sambil membuka kaleng.

Soyoka, yang sejak tadi menunggu penuh antusias dari agak jauh, langsung mekar seperti bunga.

“Aku bakal cerita!”

Dengan semangat, Soyoka naik ke sofa lalu duduk di sebelah Mama. Dia duduk dengan jarak yang pas, cukup dekat tapi tubuh mereka tidak bersentuhan, lalu menatap profil wajah Mama.

“Hari ini aku main sama Wiwi-chan, sama Miko-chan, sama Aa-chan!”

“Heeh, itu teman-temanmu?”

“Iya!”

Dia tersenyum begitu polos dan tanpa beban. Setidaknya, mungkin begitu kelihatannya bagi Mama.

Buktinya, Mama mendengarkan cerita Soyoka dengan santai tanpa memikirkannya terlalu dalam. Dia mengangguk-angguk sambil meneguk bir kira-kira tiap tiga detik.

“Terus ya, terus ya...”

Soyoka bicara sekuat tenaga, berusaha sebisa mungkin membuat Mama memperhatikannya. Tapi di mataku, semua itu cuma terlihat seperti dia sedang memaksakan diri.

Senyum yang canggung, atau mungkin lebih tepatnya terlalu sempurna, lalu topik-topik obrolan yang jelas-jelas kekanak-kanakan. Aku tidak tahu seberapa sadar Soyoka melakukan itu, tapi bagiku yang selalu bersamanya, tingkah Soyoka saat ini terasa sangat tidak alami.

Ini kesempatan langka baginya untuk bisa bicara santai dengan Mama. Dia terus menembakkan satu topik demi satu topik, seolah kalau dia berhenti bicara, semuanya akan langsung berakhir.

“Soyoka memang semangat ya.”

Mama tidak berusaha mengembangkan pembicaraan, cuma mendengar sambil lalu. Dia menyilangkan kaki, dan bahkan tidak memalingkan tubuhnya untuk benar-benar menghadap Soyoka.

“Aku semangat!”

Apa tindakan putus asa seperti itu cuma akan ditutup dengan satu kata, “semangat”, begitu saja?

Itulah yang dari dulu selalu kubenci dari Mama.

“Soyoka...”

Aku sempat ingin menghentikannya, tapi begitu melihat wajah Soyoka yang bahagia, tanganku justru terkulai.

Memang kelihatannya menyakitkan, tapi bagi Soyoka, waktu ini adalah waktu yang berharga, sesuatu yang penting baginya.

“Soka sekarang udah bisa makan paprika hijau.”

“Paprika hijau itu enak, kan?”

“Hah? Uh, iya. Enak.”

...Entah kenapa, dia mulai berbohong.

Padahal Soyoka benci sekali pada paprika hijau sampai-sampai kalau melihatnya saja dia bisa kabur...

Setidaknya sampai sekarang, aku belum pernah melihat Soyoka memakan paprika hijau atas kemauannya sendiri.

“Soka itu anak dewasa. Aku anak baik.”

“Iya. Soyoka memang nggak pernah ngambek, kan? Anak baik, anak baik.”

“Iya, Soka anak baik.”

“Iya, anak baik. Lihat tuh, Kyota? Soyoka baik-baik saja, kan? Kalian berdua tetap tumbuh dengan baik, dengan cara kalian masing-masing.”

Kedua tangan Soyoka yang berada di atas lututnya terkepal erat.

Aku yakin, yang sebenarnya dia inginkan adalah memeluk Mama yang duduk tepat di sebelahnya.

Dia pasti ingin menempel seenaknya, sama seperti saat dia bersama aku, bersama Mizuki, bersama Hiiragi.

Tentu saja itu cuma dugaanku, dan sekalipun aku bertanya apa sebenarnya perasaan Soyoka, aku tetap tidak akan tahu pasti.

Tapi... aku tidak ingin menganggap hubungan yang sudah terdistorsi seperti ini sebagai sesuatu yang normal.

“...Dia nggak ‘baik-baik saja.’ Dia cuma bisa jadi seperti ini.”

“Orang tua itu, tahu, pada dasarnya cuma bikin repot.”

“Itu nggak...!”

Tanpa sadar, suaraku jadi terdengar tajam.

“Onii-chan!”

Sebelum aku sempat melanjutkan, Soyoka lebih dulu meninggikan suaranya.

“Mama lagi ngobrol sama Soka.”

“...Iya. Maaf, Soyoka.”

Dengan mata yang sudah hampir berkaca-kaca, Soyoka menegurku.

“Ooh, dimarahi ya~”

“...Aku bikin camilan dulu.”

“Oh, jadi akhirnya bikin juga. Kalau begitu aku mau yang itu.”

“Dashimaki.”

“Itu dia.”

Sikap santainya itu mulai benar-benar bikin aku kesal. Aku perlu menenangkan diri sebentar.

Ini waktu yang sangat berharga bagi Soyoka. Aku tidak boleh mengganggu.

Nggak apa-apa. Kalau aku masak, mungkin kepalaku akan lebih tenang.

“Soka juga bisa masak!”

“Heeh, hebat dong? Mama malah nggak bisa.”

“Mama nggak bisa? Sebenarnya Soka juga nggak bisa...”

“Nggak bisa masak juga nggak bakal mati. Yang lebih penting, kamu harus rajin belajar ya, Soyoka. Kalau kamu pintar dan bagus dalam pekerjaanmu, sebagian besar masalah bisa diselesaikan.”

“Belajar? Aku akan berusaha.”

“Bagus, penurut.”

Mungkin karena alkoholnya mulai bekerja, suasana hati Mama juga tampak sedang bagus.

Aku segera membuat dashimaki lalu menyajikannya untuk Mama.

Aku sendiri sudah tidak tahu berapa kali membuatnya. Karena sudah malam, kali ini aku bahkan tidak menyaring telur atau menimbang bumbunya. Tanganku sudah terbiasa.

“Mmm, enak. Memang cocok sama alkohol.”

Berbeda dengan tamagoyaki yang disukai anak-anak, dashimaki ini cuma memakai shiro-dashi, jadi rasanya tidak manis.

Aku tidak tahu apakah itu memang cocok dengan alkohol, tapi aku sendiri juga suka yang satu ini.

“Mama, um, Soka bakal berusaha belajar.”

“Oh, berusaha yang rajin ya.”

“Kalau aku berusaha, um, lain kali...”

Tidak biasanya, kali ini Soyoka terdiam. Kata-katanya jadi tersendat.

Aku kira-kira bisa menebak apa yang ingin dia katakan, tapi jawaban Mama sudah jelas bahkan sebelum pertanyaannya selesai. Aku tidak sanggup melihatnya dan refleks mengalihkan pandangan.

Tapi ternyata, tidak ada jawaban sama sekali.

Sebelum Soyoka sempat menyelesaikan kalimatnya, Mama lebih dulu berdiri.

“Nah, Mama rasa Mama mandi dulu ya.”

“Mandi. Nanti ketemu lagi!”

Dengan langkah goyah, Mama berjalan menuju kamar mandi.

“Kyota~, pinjamin bahumu dong~”

“...Bukannya lebih baik tidur aja tanpa mandi?”

“Nggak mau. Lagi enak banget begini, aku nggak mau tidur dalam keadaan masih kotor.”

“Ya sudah. Terserah.”

Aku membiarkannya bersandar di bahuku lalu mengantarnya sampai sana.

“Tadi kamu lihat Soyoka, kan? Dia ingin ngobrol sama kamu.”

“Ngobrol sesekali seperti ini aja sudah pas. Aku juga bisa tanya kamu soal keadaannya. Kalau terus-terusan bersama, nanti malah ujung-ujungnya berantem.”

“...Kamu ternyata peduli soal keadaannya, setidaknya di tingkat orang normal ya.”

“Ya tentu saja. Dia kan anakku.”

“Kalau begitu, mulai sekarang tanya langsung sama dia.”

Peduli soal keadaannya? Jelas itu bohong.

Mama cuma sesekali mengingat dirinya sebagai ibu, lalu mendadak mengambil pose keibuan.

Yang dia lihat itu bukan Soyoka, tapi dirinya sendiri.

“Yah, kali ini dia lumayan jadi camilan teman minum.”

Dia melambaikan tangan sekenanya lalu menghilang ke ruang ganti.

Saat aku kembali ke ruang tamu, Soyoka sedang melakukan gerakan aneh.

Dia berdiri di tengah ruangan, kaki terbuka selebar bahu, kedua tangan diangkat ke atas kepala.

“Toh!”

“Kamu lagi ngapain?”

“Olahraga biar nggak ngantuk.”

“R-Right...”

Sedetik tadi aku sampai mengira dia sedang mulai menari hujan.

“Aku lagi nunggu Mama selesai mandi.”

“...Sudah malam, ayo tidur. Begadang itu musuh kulit bagus. Gimana kalau kulitmu yang lembut dan kenyal jadi rusak, Soyoka?”

“Itu bahaya. Aku harus bilang ke Mama juga.”

Mungkin karena tadi sempat bisa ngobrol lama dengan Mama setelah sekian lama, Soyoka terlihat sangat bahagia.

Tapi sekarang sudah lewat dari jam tidurnya yang biasa. Tubuhnya pasti sudah mencapai batas.

Gerakan ritual anehnya juga perlahan mulai melambat.

Akhirnya Soyoka lelah dan kembali ke sofa.

“Soyoka, ayo ke futon.”

“Nggak mau.”

“Mama nanti habis keluar juga langsung tidur.”

“Tapi tetap aja... aku mau bangun...”

Bahkan sambil berkata begitu, dia sudah mengangguk-angguk mengantuk. Kelopak matanya perlahan turun, tampak sangat berat.

“Mama, nanti pulang... buat ulang tahun Soka nggak?”

Kata-kata Soyoka itu meremas dadaku.

Ulang tahun adalah hari yang spesial. Aku sendiri yang mengajarkan itu padanya, tapi tak kusangka justru hal itu yang membuatnya terluka...

Tahun lalu, dan tahun sebelumnya juga, hanya aku yang merayakannya bersamanya.

Waktu itu dia masih sangat kecil, jadi mungkin dia belum benar-benar paham arti ulang tahun. Tapi sekarang pasti dia sudah mengerti. Dia sudah masuk TK, dan di sana tiap bulan ada acara untuk merayakan anak-anak yang ulang tahunnya datang bulan itu.

Soyoka, yang lahir di bulan Juni, akan mendapat gilirannya dirayakan di akhir bulan.

Tapi yang Soyoka inginkan bukan acara ulang tahun dari TK, bukan juga hadiah dariku...

“Soka nggak akan egois, ya? Aku nggak akan nangis, ya? Aku anak baik.”

“Iya. Soyoka itu adik perempuan paling kuat dan paling imut.”

“Uh-huh... Soka anak... paling kuat.”

Begitu mengatakan itu, kesadaran Soyoka pun benar-benar luluh.

Napasnya mulai terdengar pelan dan teratur. Dia sudah tertidur lelap.

“...Kamu benar-benar bikin aku kalah, Soyoka.”

Aku menggendongnya hati-hati supaya tidak membangunkannya, lalu membawanya ke kamar. Aku membaringkannya di atas futon, lalu mengelus kepalanya.

Sebenarnya, beban sebesar apa yang sedang dipikul tubuh sekecil ini?

Sosok Soyoka yang biasanya ceria, bebas, dan penuh semangat itu cuma salah satu sisinya saja. Menurutku, Soyoka memikirkan jauh lebih banyak hal daripada aku. Dengan caranya sendiri, sebagai anak kecil, dia sedang berusaha sekuat tenaga.

Apa yang bisa kulakukan untuk Soyoka yang seperti itu?

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa