Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 1 Chapter 5 — Debut Smartphone Adik Perempuanku

Hari Sabtu. Di akhir pekan pertama sejak Soyoka mulai masuk TK, kami berdua pergi ke supermarket besar yang letaknya satu stasiun dari rumah.

Sebenarnya kami tidak perlu jauh-jauh ke sini hanya untuk belanja bahan makanan, tapi tempat ini cukup sering kami datangi kalau ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari atau peralatan elektronik. Ada banyak toko penyewa di dalamnya, dan kadang-kadang juga diadakan acara untuk anak-anak.

Toko yang baru saja buka itu sudah ramai dipenuhi pengunjung. Aku menggenggam tangan Soyoka erat-erat supaya kami tidak terpisah.

Tujuan kami adalah konter ponsel di salah satu sudut.

“Sumaho, sumaho!”

“Bilangnya smartphone.”

Karena Ibu sudah memberi izin, hari ini kami datang untuk membelikan Soyoka smartphone.

Memberi smartphone pada anak TK memang terasa agak terlalu cepat, tapi karena aku dan orang tuaku tidak selalu bisa berada di sisinya, dan ada kemungkinan dia harus sendirian di waktu tertentu, kami memutuskan akan lebih baik kalau dia punya satu untuk berjaga-jaga. Berbeda dengan penitipan anak, lingkup aktivitas anak TK itu lebih luas. Kalau menunggu sampai sesuatu terjadi, semuanya sudah terlambat.

Tentu saja aku tidak berniat membuatnya kecanduan game atau internet di usia segini. Aku berencana membelikannya smartphone khusus anak dengan berbagai fitur keamanan.

Sepertinya Soyoka lebih terpesona pada gagasan punya smartphone itu sendiri, bukan karena ada hal tertentu yang ingin dia lakukan dengannya. Soalnya, semua orang dewasa memang punya satu.

“Sumaho, suma... Taiyaki?!”

Soyoka yang tadi berjalan ceria tiba-tiba menarik tanganku lalu berhenti mendadak. Matanya membelalak, wajahnya penuh keterkejutan.

Yang dia lihat adalah stan taiyaki di salah satu area tenant. Hebat juga dia bisa menyadarinya di tengah keramaian begini!

Soyoka memang maniak makanan manis...

Aku ingin membelikannya satu, tapi kami baru saja sarapan. Taiyaki ternyata lumayan mengenyangkan, jadi ada kemungkinan nanti dia tidak bisa makan siang.

Maka aku pun dengan lembut berkata pada Soyoka yang menatapku sambil tersenyum, “Nanti kamu jadi nggak bisa beli smartphone, lho.”

“Hah...! Ayo cepat pergi. Onii-chan, jangan berhenti.”

“Hei, jangan lari!”

Begitu teringat tujuan utamanya, Soyoka langsung mulai berjalan lagi.

Konter operator ponsel yang dipakai keluargaku ada di lantai tiga.

Sambil menahan bahu Soyoka yang gelisah supaya tidak ke mana-mana, kami naik eskalator dan sampai di toko. Setelah menyampaikan keperluan kami, kami diberi nomor antrean.

Satu jam menunggu... tempat ini memang selalu ramai.

“Soyoka, enaknya pilih yang mana?”

Ada dua jenis smartphone anak, dan masing-masing tersedia dalam tiga warna berbeda.

Semua dilengkapi alarm darurat dan GPS, jadi aku bisa tenang kalau terjadi sesuatu. Katanya, kalau alarmnya ditekan, notifikasi akan langsung dikirim ke smartphone orang tua. Lokasi anak juga bisa dicek lewat aplikasi.

Tentu saja, perangkat itu juga bisa dipakai menelepon dan mengirim pesan, jadi menurutku semua orang tua memang seharusnya proaktif membelikan ini untuk anak mereka.

Yang artinya, aku jadi bisa mendengar suara Soyoka kapan pun aku mau!

“Pink... kuning... pink...”

Mata Soyoka bergerak bolak-balik sambil menekan-nekan tombol alarm yang bentuknya mirip antena di bagian atas smartphone anak itu. Di rumah kami memang sudah melihat katalognya, tapi sepertinya dia masih belum bisa memutuskan.

Satu smartphone hitam yang tersisa tampak agak kesepian. Tidak apa-apa, aku yakin nanti ada anak laki-laki yang membelimu.

Karena masih ada waktu, aku iseng melihat-lihat ke dalam toko. Smartphone model baru keluar setiap tahun, jadi jujur saja aku sudah tidak bisa mengikuti lagi. Aku sendiri cuma ganti ponsel kira-kira tiga tahun sekali.

Saat aku sedang membandingkan model-model terbaru yang jujur saja terlihat hampir sama, wajah yang kukenal masuk ke dalam pandanganku.

“Hei, itu Akiyama, kan?”

Aku mengangkat tangan dan memanggilnya.

Akiyama yang tadi sedang tersenyum ramah sambil berbicara dengan Iku, seketika menghapus ekspresinya begitu melihatku.

“Wah, kebetulan sekali.”

Dengan gerakan dramatis, dia menyibakkan rambutnya ke belakang memakai tangan kanan, lalu membuka mulut tanpa sedikit pun senyum.

“Nggak bisa begitu, kali... Aku tadi jelas lihat, jadi sekarang kamu nggak bisa menipuku cuma dengan sok keren...”

“Apa maksudmu? Aku ini memang selalu tenang.”

Padahal tadi jelas-jelas lagi senang banget?

Akiyama yang hari itu berpakaian kasual dengan hoodie putih, jeans, dan topi, memberi kesan yang sama sekali berbeda dari dirinya saat memakai seragam sekolah. Kalau Iku tidak ada di sisinya, mungkin aku bakal lewat begitu saja tanpa sadar itu dia.

Oh iya, benar juga. TK mereka sama, berarti rumah kami memang berdekatan juga. Kami berasal dari SMP yang berbeda, jadi mungkin dia tinggal di wilayah sekolah sebelah.

“Soyoka-chan.”

“Itu Iku!”

Hei, jangan sembarangan akrab begitu dengan adik perempuanku yang lucu. Begitulah yang ingin kukatakan, tapi aku pernah dengar kalau orang dewasa terlalu ikut campur dalam pertemanan anak, mereka malah bisa jadi dibenci, jadi aku menahan diri. Sebagai gantinya, aku diam-diam memberi tekanan pada Iku, dan hasilnya malah dibalas tatapan tajam dari Akiyama.

Kakak perempuan ini seram banget, ya?

Akiyama melirik Soyoka lalu memiringkan kepala.

“Kamu membelikan Soyoka-chan smartphone?”

“Iya. Bagus untuk keamanan, dan kupikir lebih baik kalau kami bisa menghubunginya saat keadaan darurat.”

“Kukira supaya kamu bisa terus memantaunya lewat GPS.”

“Kamu anggap aku ini apa...? Aku cuma berniat mengecek sesekali.”

Lagipula aku juga tidak perlu mengecek. Selain saat dia di TK, kami hampir selalu bersama.

“Tapi memang benar, punya smartphone memberi rasa tenang.”

“Kalau smartphone anak digabung ke paket keluarga, katanya biayanya hampir nggak terasa.”

“Begitu, ya? Apa Iku sebaiknya punya juga?”

Akiyama menaruh tangan di pipinya sambil berpikir.

Ini sudah bukan percakapan teman sekelas, tapi benar-benar percakapan sesama orang tua.

Sementara itu, Soyoka dan Iku sedang bermain-main dengan smartphone contoh, menempelkannya ke telinga. Meski smartphone anak dibuat relatif kecil, ukurannya tetap terasa besar di tangan Soyoka. Dia menopangnya dengan kedua tangan, lalu entah bagaimana berhasil menempelkannya ke telinga.

“Iku, kamu juga mau beli sumaho?”

“Mau...! Nee-chan, tolong!”

Mata Iku berbinar saat memeluk Akiyama. Anak ini polos dan baik sekali. Meski tentu saja tidak sebaik Soyoka.

Dipeluk begitu, Akiyama langsung membeku dengan mata membelalak.

“I-Iku sedang merayuku.”

“Memangnya itu buruk?”

“Cinta terlarang ini... Tidak apa-apa, Iku. Aku selalu tahu hari seperti ini pasti akan datang. Nee-chan-mu selalu siap menerima apa pun darimu. Silakan lakukan sesukamu, Iku.”

Bukankah kita sedang membicarakan smartphone?

Dia terus mengoceh dengan suara datar.

Begitu sadar lagi, Akiyama berdeham sekali lalu mulai menelepon. Aku tidak bisa mendengar isi percakapannya, tapi sepertinya dia sedang meminta izin pada ibunya.

“Iku, Mama bilang kamu boleh beli satu.”

“Hore!”

“Tapi aku nggak bisa menandatangani kontraknya, jadi kita urus besok saja. Hari ini kita pilih dulu yang kamu mau.”

Anak di bawah umur memang tidak bisa menandatangani kontrak tanpa surat persetujuan orang tua. Tentu saja, aku sudah membawanya.

Ibunya Akiyama libur akhir pekan, jadi hari ini katanya sedang menyelesaikan pekerjaan rumah. Akiyama rupanya datang berbelanja bersama Iku supaya tidak mengganggu.

“Soka sudah memutuskan pink.”

Soyoka membawa smartphone warna pink dan menyerahkannya padaku. Tapi ini cuma unit contoh, jadi sesaat aku bingung harus bagaimana.

“Pink memang warna yang lahir khusus untuk Soyoka. Pilihan yang sempurna.”

“Ada batas juga, tahu, untuk jadi kakak yang terlalu memanjakan.”

“Aku nggak mau dengar itu dari orang sepertimu.”

Entah sadar atau tidak, Akiyama mendengus lalu memalingkan wajah.

Kasus gadis ini justru jauh lebih parah dariku. Aku ini cuma berpikir kalau Soyoka adalah anak tercantik, terimut, paling malaikat, dan paling ajaib di dunia, diberkahi dengan segala bakat yang bisa dibayangkan.

Soyoka pergi memberitahukan pilihan warnanya juga pada Iku. Heh, pada akhirnya kamu tetap nomor dua setelah aku.

Sepertinya Iku juga masih bingung memilih. Dengan wajah serius, dia membanding-bandingkan smartphone yang berjajar di atas meja pajang. Profil sampingnya cukup berwibawa. Memang mirip kakaknya.

“Iku, menurutku yang kuning bagus. Imut sekali.”

“Nih,” kata Akiyama sambil mengambil smartphone anak warna kuning lalu menyerahkannya pada Iku. Iku menerimanya, lalu memandang bergantian antara smartphone itu dan wajah Soyoka. Setelah itu, dia menaruhnya kembali di meja.

Lalu entah kenapa dia malah berjalan menjauh dari sudut smartphone anak. Dengan Akiyama yang mengawasinya, dia mengulurkan tangan ke meja model biasa lalu mengambil unit contoh smartphone dewasa. Itu model terbaru dengan layar besar.

“Aku mau yang ini!”

Ukuran smartphone itu terlalu besar untuk tangan anak, sampai-sampai kelihatannya dia hampir menjatuhkannya. Tidak ada fitur keamanan juga, jadi sama sekali tidak cocok untuk anak TK. Karena dibuat untuk orang dewasa, fungsinya juga banyak, dan pasti bakal sulit buat Iku menguasainya. Dan yang paling penting, harganya mahal.

“Iku, itu untuk orang dewasa. Kita beli yang di sana saja, ya? Ada smartphone yang lucu juga, kok.”

Akiyama berjongkok di depan Iku lalu berbicara dengan nada lembut, berusaha membujuknya. Tangannya meraih smartphone yang dipegang Iku. Tapi Iku buru-buru menariknya menjauh.

“...Nggak mau.”

“Ayo, kenapa? Yang itu masih terlalu susah buatmu, Iku.”

“Aku maunya yang ini!”

“Kalau kamu cuma mau pegang, aku bolehkan pinjam punyaku.”

Akiyama menepuk kepala Iku dengan ekspresi bingung.

Iku sedang melihat ke arah Soyoka.

Soyoka yang memiringkan kepala dengan wajah kosong jelas tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sepertinya Akiyama juga tidak paham kenapa Iku tiba-tiba keras kepala begini.

“Yah, dia memang anak laki-laki.”

Bahkan Akiyama yang katanya jenius itu tampaknya tidak mengerti hati laki-laki.

Mendengar gumamanku, mata Akiyama langsung menyala tajam. Seram.

“Apa? Memangnya kamu tahu apa soal Iku?”

“Cara ngomongmu salah... Pinjam Iku sebentar.”

Aku menitipkan Soyoka pada Akiyama lalu menggandeng tangan Iku dan membawanya agak menjauh. Akiyama memandangku dengan curiga, tapi tenang saja, aku tidak akan menculiknya.

Justru aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu berani macam-macam pada Soyoka.

“Nii-chan, ada apa?”

“A-aku sama sekali nggak berniat jadi onii-chan-mu!”

Anak ini, gaya bicaranya sudah seperti pacar saja! Soyoka masih terlalu kecil untuk punya anak laki-laki!

...Aku berdeham lalu menenangkan diri. Setelah itu aku mengambil smartphone anak warna hitam dan menatap Iku.

“Nih, lihat. Ini smartphone untuk anak.”

“Nggak, aku maunya yang tadi.”

“Kamu benar. Yang itu memang lebih keren.”

“Hah?”

Aku mengangguk dengan penuh kemurahan hati. Mungkin jawabanku berbeda dari yang dia bayangkan, karena mulutnya yang tadi terbuka untuk membantah malah kehilangan tujuan dan cuma mengeluarkan suara bingung.

“Dengar ya. Soyoka-ku yang luar biasa lucu ini akan membeli versi pink dari yang ini. Artinya, kalau kamu beli yang ini, Iku, kalian jadi punya pasangan beda warna.”

“Tapi aku mau yang keren.”

“Betul sekali. Kalau memang mau beli, tentu lebih baik beli yang keren. Tapi coba pikir. Soyoka itu malaikat, tapi dia juga agak sedikit ceroboh. Nggak, maksudku, di masa depan dia pasti jadi perempuan hebat, dan sisi itu pun tetap lucu, dan kemarin saja dia sempat menelan pasta gigi... ehem. Pokoknya, sepertinya dia masih butuh waktu untuk benar-benar terbiasa memakai smartphone.”

Cara bicaraku memang agak berputar-putar, jadi entah Iku sudah bisa menangkap maksudku atau belum. Tapi memang ada alasan kenapa sengaja kupakai kata-kata yang sedikit rumit.

Laki-laki, berapa pun usianya, tetap makhluk yang suka pamer dan ingin terlihat keren. Sepertinya sisi itu pun tidak dipahami oleh kakaknya sendiri.

Pada akhirnya, yang diinginkan Iku cuma satu, yaitu ingin terlihat bagus di depan Soyoka. Memang menyebalkan karena gadis yang dimaksud itu adalah Soyoka, tapi perasaannya bisa kupahami. Harga diri seorang laki-laki tidak akan membiarkannya memilih barang yang sama persis dengan anak perempuan setelah si anak perempuan lebih dulu memilihnya.

Ditambah lagi, cara Akiyama menolaknya mentah-mentah tadi juga tidak membantu. Kalau langsung dibilang tidak boleh, Iku malah bakal makin keras kepala.

Aku pun melanjutkan bicara pada Iku yang masih kebingungan.

“Dengar baik-baik, Iku. Kamu harus jadi yang pertama menguasai cara memakai smartphone ini. Kamu bisa memakainya dengan sempurna, sedangkan Soyoka belum bisa. Kalau begitu, apa yang kamu lakukan?”

“...! Aku bakal ngajarin dia...!”

“Nah, begitu. Susah ngajarin orang pakai smartphone kalau modelnya beda. Soalnya setiap model itu beda semua.”

Iku ternganga, lalu matanya langsung bersinar. Dia merebut smartphone anak dari tanganku dan menyerahkan smartphone dewasa yang tadi dia pegang.

“Aku ambil yang ini.”

“Oke. Kalau begitu, sekarang minta kakakmu belikan.”

“Oke!”

Warna kuning memang terlalu imut, jadi warna hitam lebih cocok, kan? Dengan begitu Akiyama juga bisa tenang karena tetap smartphone anak.

Begitu kami kembali, Soyoka dan Akiyama sedang asyik berbincang.

“Oke? Nanti begitu pulang, bilang begini. ‘Onii-chan bau.’”

“Tapi dia memang nggak bau?”

“Atau bilang saja, ‘Aku nggak mau mandi bareng Onii-chan.’ Kalau kamu bilang begitu, kamu bisa mengalahkan onii-chan-mu.”

“Jadi Soka lebih kuat dari Onii-chan...?”

“Iya, kamu lebih kuat.”

“Soka yang paling kuat.”

Setan. Ada setan yang sedang tersenyum jahat.

“Hei, jangan ajarin adikku hal-hal aneh.”

Kalau dia benar-benar mengucapkan itu padaku, aku pasti bakal terbaring di tempat tidur berhari-hari karena syok.

Aku buru-buru datang menyelamatkan Soyoka. Ekspresinya terlihat agak bangga. J-jangan bilang dia bakal benar-benar mengatakannya?

Seperti pertukaran sandera, Iku juga kembali ke sisi Akiyama. Smartphone anak itu digenggam erat di tangannya.

“Aku pilih yang ini,” katanya.

“Gimana caramu membujuknya?”

Akiyama berkerut lalu menatapku tajam.

Wah, dia kelihatan sangat frustrasi.

“Rahasia. Ya, kan?”

Aku meletakkan jari di bibir lalu bertukar pandang dengan Iku. Iku tersenyum lalu menirukan gerakanku.

“Iya, rahasia.”

Rahasia sesama laki-laki.

Melihat itu, Akiyama malah makin cemberut.

“Gawat, Iku sudah dirusak. Iku, jangan. Itu mesum yang suka anak kecil. Kamu lucu, Iku, jadi berbahaya kalau terlalu dekat dengannya. Cepat berlindung di belakang onee-chan.”

“Aku boleh tanya sekali dengan serius, sebenarnya kamu menganggapku ini apa?”

Sudah berapa kali aku bilang kalau yang kucintai itu cuma Soyoka?

Dan sekalipun aku memang suka anak kecil, Iku jelas bukan anak perempuan.

Nomor antrean kami dipanggil, jadi kami pun berpisah dari kakak-adik Akiyama dan menuju meja layanan.

Karena ini smartphone anak, proses kontraknya sederhana. Karena dipakai anak kecil, aku langsung mengambil banyak opsi tambahan. Meski begitu, karena digabung ke paket keluarga, biayanya tetap murah.

Aku juga membeli pelindung layar, casing, dan tali gantung untuk dipasang di leher. Pengaturan awalnya akan kulakukan pelan-pelan nanti setelah sampai di rumah.

“Dapat sumaho.”

Soyoka yang tadi mulai bosan langsung berseri-seri saat pegawai toko menyerahkan smartphone barunya.

“Kita kasih nama apa, ya?”

“‘Sumaho’ saja bukannya sudah bagus?”

Sambil membawa kantong berisi kontrak dan buku panduan, aku berdiri. Pegawai toko mengantar kami dengan sapaan ceria.

Soyoka, kalau kamu terus menatap ponsel sambil jalan, nanti jatuh, lho.

Saat kami hendak keluar dari toko, aku melihat Akiyama dan Iku masih berdiri di dekat pintu masuk.

“Hei, kalian masih di sini?”

“Aku belum berterima kasih dengan benar.”

“Serius banget. Nggak usah dipikirin.”

“Bukan cuma itu. Yang menyarankan smartphone anak tadi juga kamu, Kyōta. Kamu sangat membantu. Terima kasih.”

Akiyama menundukkan kepala sedikit.

Wah. Memang cuma sedikit, tapi Akiyama Sumi benar-benar menundukkan kepala.

“O-oh. Sama-sama... Eh, kenapa kamu memanggilku dengan nama depan? Bukan berarti aku keberatan, sih.”

Setahuku terakhir kali dia masih memanggilku Kuremoto-kun. Akiyama biasanya memang memanggil semua orang, laki-laki maupun perempuan, dengan nama keluarga.

“Soyoka-chan juga marganya sama denganmu, kan?”

Dia mengatakannya dengan datar, tanpa perubahan ekspresi. Sepertinya tidak ada makna khusus di balik itu.

“Oh, begitu... kalau begitu, um, S-Sumi.”

“Entah kenapa bulu kudukku langsung meremang. Tolong tetap panggil aku dengan nama keluarga.”

“Eh, memang cara aku mengucapkannya se-creepy itu?”

Soyoka yang mendengar percakapan kami langsung menyeringai.

“Soka tahu. Itu tsundere! Aku lihat di anime!”

“Kamu salah, Soyoka. Dia ini bukan tsundere, cuma tsun-tsun doang. Dasar orang bodoh yang sok keren.”

“Sumi-chan bodoh?”

Soyoka belakangan ini memang sedang tergila-gila pada anime dan drama romantis, jadi dia sangat penasaran dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

“Oh?”

Aku cuma bercanda ringan seperti biasa, tapi langsung dibalas suara dingin yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku menoleh dengan hati-hati dan melihat Akiyama sedang menatapku dengan wajah seperti iblis. Aku dan Soyoka langsung membeku.

Aura misterius dan sulit didekatinya itu... kalau orang cantik marah, memang betulan menakutkan.

“Soyoka-chan? Aku ini perempuan cantik yang pintar dan keren. Benar, kan?”

“Sumi-chan pinter. Keren.”

“Betul. Anak baik.”

Soyoka mengangguk berkali-kali sambil mengulangi perkataannya.

Tolong jangan membully adikku, bisa?

“Nee-chan, aku lapar.”

Pertarungan tatapanku dengan Akiyama berakhir hanya dengan satu kalimat dari Iku. Anak ini pandai membaca suasana.

Ekspresi Akiyama langsung melembut ketika menatap Iku dengan mata menyipit hangat. Kalau saja sepersepuluh kelembutan itu dia arahkan ke orang lain juga, aku pasti bisa lebih tenang.

“Kita cari makan siang?”

“Iya! Soyoka-chan, ayo makan bareng!”

Iku menatap Soyoka dan berkata dengan polos.

Aku refleks menatap Akiyama. Sebenarnya aku berencana makan di rumah, tapi sesekali makan di luar juga tidak apa-apa.

“Kamu nggak masalah, Akiyama?”

“Sepertinya anak-anak ingin makan bersama.”

“Kedengarannya kamu sendiri nggak mau makan bareng aku.”

Yah, pada akhirnya hubungan Akiyama dan aku memang cuma terhubung lewat adik kami masing-masing.

※※※

Karena Soyoka sangat bersemangat bisa makan di luar bersama teman, kami pun pergi ke food court di lantai satu supermarket. Di sepanjang dinding berjejer beberapa restoran, dan sistemnya adalah membeli makanan dulu lalu makan di meja mana saja yang kosong.

Kami berhasil mendapatkan meja untuk empat orang lalu duduk masing-masing sambil membawa nampan. Anak-anak yang sebaya duduk di satu sisi, remaja yang sebaya di sisi satunya lagi, saling berhadapan.

“Iku, lap tangan dulu. Habis itu pakai hand sanitizer. Nah, pintar.”

Akiyama sibuk mengurus Iku sambil memanfaatkan tisu basah dan semprotan disinfektan. Persiapannya lengkap sekali.

Bahkan setelah Iku mulai makan pun, dia tidak memedulikan makanannya sendiri dan terus menatap Iku. Dia tampak sibuk membagi makanan ke piring kecilnya dan menghapus mulutnya.

Ekspresinya sangat serius. Kamu tidak perlu setegang itu... Iku memegang sendoknya lalu diam-diam menyuapkan makanan ke mulut.

“Enak, enak.”

“Kalau Soyoka, yah... sepertinya dia baik-baik saja.”

Memang banyak tumpahnya, tapi itu pun tetap imut!

Sebagai catatan, aku makan katsudon. Untuk Soyoka dan Iku ada menu kids plate seperti di restoran keluarga, jadi mereka memilih itu. Akiyama sendiri makan zaru soba.

“Ya ampun. Mulutmu belepotan.”

“Mmph, nggak apa-apa!”

Dia benar-benar seperti ibu. Iku yang diperlakukan seperti anak kecil langsung memalingkan wajah dengan kesal.

“Nih, Iku, mau katsu?”

“Itu punya Soka.”

“Tentu saja Soyoka juga dapat. Kalau kamu mau, bahkan semuanya bisa kuberikan.”

Aku membelah sepotong katsu jadi dua lalu meletakkannya di piring Soyoka dan Iku.

“Terima kasih, Kyōta-nii-chan!”

“Fank you!”

Kalau Soyoka tersenyum seperti itu, aku bisa makan tiga mangkuk nasi, jadi lauk pun sebenarnya tidak perlu.

Suasana hati Iku langsung membaik seketika, dan dia dengan gembira memasukkan katsu ke dalam pipinya.

“...Kamu pandai menghadapi anak-anak.”

“Hm? Ah. Yah, menurutku sih santai saja juga nggak apa-apa. Selama kita turun tangan saat mereka benar-benar dalam bahaya, harusnya aman.”

Karierku sebagai onii-chan juga masih pendek, jadi aku masih terus belajar. Menurutku cara Akiyama yang telaten seperti itu juga bagus, dan aku sendiri tidak tahu mana jawaban yang paling benar.

“Rasanya aneh melihat Iku begitu akrab denganmu, Kyōta. Aku seperti kalah.”

“Jadi itu sebabnya dari tadi kamu kelihatan agak cemberut...?”

Padahal menurutku Akiyama itu kakak perempuan yang baik. Mungkin Iku cuma malu-malu, bukan benar-benar tidak suka.

“...Aku jadi bertanya-tanya, apa beginilah rasanya kalau Ayah ada di sini.”

“Hm? Tadi kamu bilang apa?”

Gumaman kecil Akiyama tenggelam oleh pengumuman dari dalam toko, jadi aku tidak bisa mendengarnya jelas.

“Aku cuma bilang, mungkin kalian cocok karena usia mentalmu rendah, Kyōta. Nih, ada sebutir nasi di pipimu.”

Akiyama mengulurkan tangan, mengambil butir nasi di pipiku, lalu memasukkannya ke mulutnya sendiri. Gerakannya begitu alami sampai aku tidak sempat bereaksi.

“Eh?”

Aku menatap Akiyama dengan bengong.

Dia sendiri membeku dengan jari menyentuh bibirnya. Sesaat kemudian matanya membelalak, lalu dia buru-buru mengibaskan kedua tangannya dengan panik.

“B-bukan begitu! Ini cuma, semacam, kebiasaan mengurus anak, tidak ada makna apa-apa. Aku hanya melakukan hal yang tadi kulakukan pada Iku.”

“I-iya! Nggak apa-apa, kok.”

Melihat dia benar-benar panik begini malah bikin aku ikut goyah! Tadi itu refleks tanpa sadar?!

Akiyama menunduk, buru-buru mengambil sumpitnya, lalu langsung melahap sobanya sekaligus.

“Nee-chan, kamu nggak apa-apa?”

Iku menatap kakaknya dengan khawatir. Tidak usah cemas, kakakmu cuma meledakkan dirinya sendiri.

Saat aku melihat ke arah Soyoka, dia menutupi mulut dengan kedua tangannya sambil menyeringai nakal.

“Mereka mesra-mesraan!”

““Kami tidak!””

Suaraku dan suara Akiyama bertumpuk bersamaan.

“Kompak banget.”

Pada akhirnya, akhir pekan itu pun berlalu dengan kami terus dipermainkan oleh anak-anak.


Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa