“Lululu lulu papapa pa”
Dari ruang tamu terdengar suara dengungan ceria Soyoka.
Minggu pertama TK akhirnya selesai. Setiap hari sepulang sekolah, dia selalu menyanyikan lagu-lagu yang dipelajarinya untukku, jadi aku selalu menantikannya. Meski begitu, suara nyanyian Soyoka benar-benar seperti milik malaikat. Masa depannya pasti jadi diva. Kalau aku merekamnya lalu mengirimkannya ke perusahaan rekaman, dia mungkin langsung debut, kan? Bakatnya benar-benar kelewat melimpah, sampai jadi masalah.
Sepertinya dia sangat terkesan dengan penampilan menyanyi anak-anak kelas atas dalam acara yang mereka sebut “Pesta Penyambutan Murid Baru”, jadi sejak itu dia terus menyanyikannya berulang-ulang. Karena dia belum hafal liriknya, cuma satu bagian melodi saja yang berputar tanpa henti.
“Soyoka, nyanyimu hebat banget!”
“Fank you!”
“Cara kamu bilang ‘thank you’ itu imut banget!”
Membayangkan kalau mulai sekarang dia akan bisa mengucapkan semakin banyak kata membuatku senang sekaligus sedih. Masa cadelnya yang sekarang ini tidak akan berlangsung lama.
“Soyoka, coba bilang itu sekali lagi. Onii-chan mau merekam videonya.”
“Eeh, nggak mau.”
“Nggak boleh? Kalau begitu, pilihanku cuma satu, yaitu pasang kamera keamanan di seluruh rumah...”
Benar juga, aku harus membuat video dokumentasi rumah yang merekam semua proses tumbuh kembang Soyoka. Sekalian saja nanti aku minta izin ke TK untuk memasangnya di sana juga.
“Onii-chan ngomong aneh lagi.”
Tatapan datar Soyoka juga merupakan hadiah tersendiri bagiku.
Biasanya, saat aku sedang mengerjakan pekerjaan rumah, Soyoka akan diam-diam menonton TV atau bermain dengan mainannya. Belakangan ini aku sangat bersyukur karena sekarang sudah lebih aman untuk melepas pandangan darinya sesaat.
Aku melirik TV, dan di sana sedang tayang anime yang sedang digilai Soyoka, Miniskirt-chan in Love.
“White Shirt-san, aku melihatnya. Aku melihatmu dipasangkan bersama Jeans-san di manekin.”
“Miniskirt-chan, apa kamu menuduhku selingkuh?”
“Memangnya bukan?”
“Hah. Merepotkan... Hari ini pun aku bakal pulang terlambat. Jangan khawatirkan pelembut pakaian.”
“...Aku mengerti. Hati-hati di jalan.”
Anime apaan ini, sih...?
Anime romansa tentang pakaian yang dijadikan manusia, dengan drama seberat sinetron siang hari, bukan sesuatu yang pantas tayang sore-sore. Oh iya, karakter atasan itu laki-laki, sedangkan bawahan itu perempuan.
“Kasihan Miniskirt-chan...”
Soyoka benar-benar tenggelam dalam ceritanya, sampai mengusap air mata dengan lengan bajunya. Sensitif sekali. TK macam apa yang muridnya bisa ikut terseret emosi oleh drama siang hari begini?
Kabarnya, Miniskirt-chan punya popularitas misterius berkat karakternya yang kocak dan ceritanya yang ternyata cukup solid. Katanya sih bisa dinikmati anak-anak maupun orang dewasa.
Beberapa siswi di kelasku juga ternyata mengikutinya, dan kadang aku mendengar mereka membicarakannya. Merchandise-nya juga banyak, dan di rumah kami bahkan ada boneka karakter utama, Miniskirt-chan sendiri. Ya, si tokoh utama sekaligus istri White Shirt yang sedang diselingkuhi itu.
“White Shirt-san... tapi aku tidak akan menyerah! Aku akan membuktikan padamu kalau rok mini adalah pasangan terbaik untuk kemeja!”
Tepat saat sang protagonis, Miniskirt-chan, menguatkan tekadnya, lagu ending mulai diputar.
Aku sama sekali nggak paham...
“...Soyoka, kita mulai bikin makan malam, yuk?”
“Oke!”
Ibu hari ini juga lembur.
Rumah kami terlalu besar untuk ditinggali cuma berdua, jadi pada dasarnya kami hanya memakai lantai satu.
Soyoka berlari keluar dari ruang tamu dengan senyum lebar, lalu langsung menyerbu kulkas.
Pada dasarnya, urusan belanja dan pekerjaan rumah memang tanggung jawabku. Berkat orang tua kami yang terus bekerja tanpa henti, kami memang tidak pernah kekurangan uang, tapi tetap saja pekerjaannya banyak. Tapi demi Soyoka, aku bisa berusaha sekuat tenaga!
“Soka sudah memutuskan mau steak.”
“Di rumah nggak ada steak. Tumis daging sama sayur boleh?”
“Kalau masuk paprika hijau, Soka marah.”
Dia menatapku lekat-lekat, seolah sedang mengawasiku saat satu per satu sayuran kuambil dari kulkas.
Kubis, wortel, bawang bombai... dia masih memandang dengan senyum saat sayuran itu berjejer di meja dapur. Tapi begitu paprika hijau muncul, ekspresinya langsung dipenuhi keputusasaan.
Matanya membelalak, lalu tubuhnya mulai gemetar.
“Penyiksaan...?”
“Kamu belajar kata begitu dari mana?”
“Kalau Soka makan paprika hijau, nanti Soka jadi hijau.”
“Nggak bakal begitu...”
Ya sudahlah, hari ini paprika hijaunya tidak usah dipakai. Begitu aku mengembalikannya ke kulkas, senyum Soyoka pun kembali. Ekspresinya yang berubah-ubah begitu cepat memang selalu membuatku gemas sampai ingin terus menggodanya.
Soyoka dengan rajin membawa bangku kecil, lalu berdiri di depan wastafel.
“Lipat lengan baju Soka,” katanya sambil mengangkat kedua tangannya ke arahku.
Sambil tersenyum karena merasa dia lucu sekali, aku menggulung lengan bajunya. Setelah itu, aku mengikatnya dengan karet supaya tidak melorot.
Dia mencuci tangannya dengan serius, lalu menunggu giliran.
“Oke, gimana kalau kamu bantu cuci kubisnya?”
“Serahkan padaku.”
Aku memasukkan potongan kubis ukuran sekali suap ke dalam saringan, lalu memberikannya padanya.
Belakangan ini, membantu pekerjaan rumah memang jadi hobi baru adikku. Rasanya dia tumbuh bukan cuma secara fisik, tapi juga secara mental, dan itu membuat kakaknya sangat bahagia.
Memakai pisau itu berbahaya, jadi tugasnya adalah mencuci sayuran.
“Kalau begini, nanti kamu bakal jadi istri yang hebat... Eh? Bukan berarti Onii-chan bakal membiarkanmu menikah dengan siapa pun.”
“Onii-chan sering ngomong sendiri.”
Aku segera menumis daging dan sayuran, lalu membumbuinya dengan garam, merica, dan kaldu konsome. Masakan pria sederhana.
Aku meletakkan makanan di meja makan yang terasa sedikit terlalu besar untuk kami berdua, lalu kami duduk berdampingan.
“Selamat makan!”
Dengan terampil, dia menggunakan garpu anak-anak untuk memasukkan makanan sedikit demi sedikit ke mulutnya. Dia makan sambil berkata “Enak, enak” dengan penuh semangat, dan itu membuat semua kerja kerasku saat memasak terasa terbayar.
“Di TK menyenangkan?”
“Aku gambar.”
“Tunggu, terus gambar itu sekarang di mana? Cepat kasih ke Onii-chan. Akan kupindai, kulaminating, lalu kusimpan selamanya dalam bentuk asli maupun data.”
Gambar buatan Soyoka itu barang koleksi...
“Udah dibuang.”
Dia mengatakannya begitu santai sampai aku serasa menangis darah. Kalau begitu, pilihanku cuma satu: menyusup ke TK dan mengobrak-abrik tempat sampah...
Tidak, kalau begitu aku benar-benar jadi kriminal.
Begitu melihat Soyoka sudah selesai makan dan mulai membereskan piringnya, aku pun menyodorkan kertas gambar dan krayon.
“Mau gambar lagi di rumah juga?”
“Eeh...”
“Pudingku kasih buat kamu.”
“Serahkan padaku.”
Kesepakatan pun tercapai.
Soyoka menjatuhkan tubuhnya di atas karpet lalu menggenggam krayon hitam. Kakinya bergoyang-goyang di udara.
“Gerakan tangannya luwes sekali. Beginikah wujud seorang jenius...?”
Aku tidak begitu tahu dia sedang menggambar apa. Tapi tak diragukan lagi, sebuah kisah besar sedang berkembang di dalam kepalanya.
Pelan-pelan bentuknya mulai terlihat jelas. Oho, ini orang... jangan-jangan?
“Ini aku, kan?”
“Iku.”
Iku... Iku... adik laki-lakinya Akiyama...
Tanganku gemetar karena syok. Kapan mereka jadi sedekat itu?
Kalau dipikir-pikir, waktu aku menjemputnya tadi, sepertinya dia memang sedang bermain bersama Iku...
Mereka satu kelas, dan aku serta Akiyama juga datang menjemput di jam yang hampir sama, jadi mau tidak mau mereka memang sering berada di penitipan lanjutan pada waktu yang sama.
Nggak adil banget kalau Soyoka malah menggambar dia. Akiyama Iku, aku tidak akan memaafkanmu. Sekarang kamu sudah menjadikanku musuh.
Saat jiwa kompetitifku membara, Soyoka terus menggambar. Meski sederhana, gambar itu jelas menunjukkan mereka sedang bermain dengan gembira di alat permainan taman. Si seniman kecilnya sendiri juga tampak senang.
Ah, kenapa yang digambar bukan aku?
“Selesai!”
“Gah, memang dasar Soyoka. Jeniusnya kebangetan. Aku mau gambar ini, tapi kesal karena modelnya Iku! Begini saja, Soyoka, sekarang gantian gambar Onii-chan, ya? Iya, itu ide bagus banget!”
“Soka bosan. Mau nonton anime.”
Soyoka melempar krayonnya begitu saja lalu berjalan ke sofa.
Tak perlu dikatakan lagi, setelah aku membujuknya mati-matian, akhirnya dia mau menggambar aku juga.
Ilustrasi yang berhasil kudapatkan dengan syarat suplai puding selama seminggu ditambah itu akhirnya kupasang dalam bingkai dan kugantung di kamarku.