Hari ini hari Senin, sekaligus hari pertama Soyoka masuk TK. Karena kami berangkat dari rumah pada jam yang sama dengan saat aku pergi ke sekolah, dia jadi sampai lebih awal daripada anak-anak lain. Namun, TK tempat Soyoka bersekolah punya program penitipan lanjutan yang cukup lengkap, jadi tidak perlu khawatir. Biayanya juga masih masuk akal.
Begitu sampai di TK, Soyoka langsung berlari ke gurunya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Memang bagus sih dia mandiri begini, tapi aku jadi agak sedih. Bukannya anak-anak biasanya lebih gugup di awal...?
Aku mengayuh sepedaku dari TK lalu memarkirkannya di tempat parkir sepeda sekolah. Suara latihan pagi klub bisbol menggema di area sekolah yang masih sepi.
Sekolah yang kutempati adalah SMA negeri biasa. Tingkat akademiknya mungkin ada di level menengah atas. Anak-anak SMP di sekitar sini umumnya ikut ujian masuk SMA negeri, lalu menjadikan sekolah swasta sebagai cadangan. Wajar saja, aku juga memilih sekolah ini karena sesuai dengan nilai akademikku dan jaraknya juga mudah dijangkau.
...Yah, nilai-nilaiku sebenarnya nyaris pas-pasan, tapi aku belajar mati-matian supaya bisa mengantar dan menjemput Soyoka ke TK. Jaraknya dari TK memang pas.
Sekolah ini juga cukup serius dalam urusan pelajaran dan kegiatan klub. Singkatnya, ini SMA yang normal.
Yah, aku juga tidak mencari kehidupan SMA yang istimewa, jadi sekolah yang normal justru bagus. Hari ini pun aku akan menjalani hari yang damai sambil memikirkan Soyoka.
Aku menyampirkan tas sekolah ke bahu sambil berjalan dan menguap.
Saat itulah aku melihat wajah yang kukenal. Itu Akiyama Sumi, yang kutemui saat upacara masuk.
“Oh, Akiyama!” seruku sambil melambaikan tangan.
Sampai minggu lalu, aku bahkan tidak pernah terpikir untuk menyapa Akiyama Sumi si bunga yang tak terjangkau itu. Tapi sekarang kami sudah bukan orang asing lagi. Ke depannya aku mungkin bakal butuh bantuannya dalam urusan yang berhubungan dengan Soyoka, jadi mending akur dari sekarang.
“Yo. Baru dua hari.”
Aku berlari kecil mendekatinya dan menyapanya sekali lagi.
Akiyama berbalik perlahan, lalu matanya menyipit dengan kesal. Setelah itu dia meraih lengan bajuku dan langsung menarikku.
“Ke sini sebentar.”
“Eh? Apa?”
Aku spontan bersuara bingung, tapi Akiyama tidak berhenti.
Kami meninggalkan area parkiran sepeda yang masih sepi dan malah berjalan ke arah berlawanan dari loker sepatu.
Dia membawaku ke belakang gudang penjaga sekolah.
“A-ada apa?”
“Sst, diam.”
Akiyama menaruh jari di bibirnya lalu bicara dengan nada tajam.
Karena tertekan oleh auranya, aku refleks menyandarkan punggung ke dinding gudang.
Jangan-jangan Akiyama yang kulihat di TK itu memang orang lain.
Atau hantu, atau mungkin muncul dalam mimpi gara-gara aku diam-diam mengagumi si gadis tercantik di kelas... Tatapannya sekarang dingin sampai di bawah titik beku, sampai-sampai aku mulai meragukan ingatanku sendiri. Dengan tatapan seperti itu, rasanya dia bisa membunuh orang. Jauh sekali dari sosok heboh yang kulihat saat upacara masuk.
“Rahasiakan soal yang terjadi di TK.”
Tapi bisikan Akiyama berikutnya justru memastikan bahwa kenangan hari Sabtu itu memang nyata. Dari jarak sedekat ini, aku sekali lagi diingatkan pada kecantikannya yang tidak manusiawi. Aroma manis yang samar menggelitik hidungku.
“Eh? Maksudku, nggak masalah sih, tapi kenapa?”
“Aku tidak mau orang-orang tahu.”
“Soal adikmu? Iku, ya?”
“...Pokoknya, kamu dan aku cuma teman sekelas, jadi jangan berinteraksi denganku. Sama seperti sebelumnya.”
“Tapi teman sekelas memang harusnya berinteraksi, kan?”
Bantahanku yang remeh itu dibalas dengan keheningan. Tatapan menusuk yang dingin menembusku.
“Kalau sampai kamu bilang ke siapa pun... kamu tahu apa yang akan terjadi, kan?”
“Aku sama sekali nggak tahu... tapi ya sudah, aku mengerti. Aku janji. Begitu cukup?”
“Iya.”
Seolah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Akiyama langsung berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Sementara itu, aku sendiri justru aktif menyebarkan soal keberadaan adikku ke mana-mana, jadi aku tidak terlalu paham kenapa dia sampai ingin menyembunyikannya.
Tapi ya, urusan keluarga memang bukan hal yang biasa dibicarakan di sekolah. Bahkan soal susunan keluarga teman dekat pun sering kali kita tidak tahu, jadi mungkin justru aku yang aneh.
Aku menepuk-nepuk ringan punggungku, lalu keluar dari belakang gudang.
Akiyama sudah tidak ada. Sebagai gantinya, Mizuki datang berjalan dari arah lapangan tenis dengan senyum penuh arti.
“Hei, Kyōta. Barusan habis terjadi sesuatu yang menarik, ya?”
“Mizuki, jangan bilang kamu nguping?”
“Nggak, kok. Aku cuma lihat Akiyama-chan keluar dari kejauhan. Terus habis itu kamu keluar menyusul, jadi aku mikir, ‘Oh my...’ Jangan-jangan tadi sesuatu yang nggak mau kamu dengar orang lain, ya?”
Mizuki menyeka keringat di dahinya dengan handuk yang melingkar di lehernya. Gerakan itu pasti bakal terlihat menyebalkan kalau dilakukan cowok biasa, tapi kalau dia yang melakukannya, malah kelihatan segar dan enak dilihat. Dari seragamnya yang agak berantakan dan aroma deodoran yang samar, sepertinya dia baru selesai latihan pagi klub tenis.
Kami berdua masuk ke gedung sekolah, mengganti sepatu, lalu menaiki tangga. Ruang kelas tahun kedua ada di lantai dua.
“...Nggak ada apa-apa. Cuma ngobrol sebentar.”
“Hm, sama Akiyama-chan, ya?”
Waktu aku mencoba mengelak, Mizuki malah tersenyum penuh arti.
Ya, bahkan aku sendiri tahu kalau sekadar ngobrol biasa dengan Akiyama yang itu memang terdengar aneh.
Tapi bukan begitu. Dia itu sama sekali bukan seperti yang dipikirkan semua orang. Dia cuma kakak perempuan penyayang! Tentu saja aku tidak akan bilang apa-apa, soalnya aku sudah janji.
“Apa? Kukira kamu nembak dia lalu ditolak.”
“Hah? Jadi kamu langsung berasumsi aku bakal ditolak?”
“Kamu tahu berapa banyak cowok yang nembak Akiyama-chan tahun lalu lalu tenggelam tanpa jejak?”
Apa, memang ada orang seberani itu? Membayangkan ditolak dengan tatapan menghina seperti itu saja sudah mengerikan.
“Aku setia pada Soyoka.”
“Sayang sekali. Kukira akhirnya kamu mulai tertarik juga sama cewek, Kyōta.”
“Aku cuma tertarik pada Soyoka! Hari ini adalah debut TK-nya. Nih, lihat foto ini.”
“Nah, mulai lagi.”
Meski bilang begitu, Mizuki selalu mau menuruti saat aku membanggakan Soyoka.
Tunggu dulu, jangan-jangan dia mengincar Soyoka...? Kukira dia memang tidak pernah punya pacar, tapi mungkin alasannya justru itu. Aku tidak akan pernah membiarkannya.
“Entah kenapa, rasanya kamu sedang membayangkan sesuatu yang sangat tidak terhormat tentang aku.”
“Sama sekali nggak. Omong-omong, Soyoka nggak bakal tertarik sama cowok ganteng yang kepribadiannya jelek sepertimu.”
“Kamu ngomong apa, sih?”
Aku harus terus waspada sebelum Soyoka jatuh ke dalam cengkeramannya.
“Kamu sendiri nggak mau cari pacar, Kyōta?”
“Aku sudah memutuskan jam sepulang sekolah dan hari libur semuanya untuk Soyoka. Bakal susah kecuali ceweknya bisa mengerti.”
“Kedengerannya kayak orang tua tunggal yang sudah cerai.”
Deskripsi yang mengejutkan akuratnya.
Kami tetap mengobrol sambil berjalan menyusuri lorong.
“Tapi tetap saja, Akiyama-chan itu lumayan menarik, ya.”
“Tumben banget dengar kamu ngomong begitu soal cewek, Mizuki.”
“Soalnya, bahkan kalau aku ajak ngobrol pun, dia tetap dingin, tahu? Nggak ada yang lain kayak begitu. Rasanya segar dan seru.”
Cowok ini... kalau dipikir-pikir, dia memang tipe pria yang tidak pernah kekurangan perhatian dari perempuan. Karena selama ini justru selalu dikejar-kejar cewek, mungkin dia lebih suka tipe yang tidak gampang terpikat padanya.
Belakangan ini dia juga suka menggoda guru muda yang tahun ini jadi wali kelas kami.
“Penasaran, hari ini dia bakal dingin ke aku lagi nggak, ya?”
“Aku baru tahu kamu punya sisi masokis.”
“Kalau punya wajah seperti aku, kamu juga bakal paham, Kyōta.”
Menyebalkan sekali.
Begitu kami sampai di kelas, kulihat Akiyama sudah duduk di mejanya sambil menatap ke luar jendela.
Akiyama Sumi di sekolah memang sempurna.
Dia tidak pernah lengah, dan dari kapan pun atau sudut mana pun dia dilihat, kecantikan dan keunggulannya tidak pernah goyah.
Sesuai dugaan, Mizuki langsung menyapanya dengan ceria, lalu dibalas dengan jawaban datar. Entah kenapa aku merasa sedikit puas.
“Heeey, untuk long homeroom hari ini, kita akan menentukan anggota komite dan pembagian tugas kelas, yaa~”
Bersamaan dengan bel masuk, seorang wanita masuk ke kelas dan berkata dengan nada panjang seperti itu. Begitu dia berdiri di podium guru, suasana kelas langsung terasa santai.
Dia adalah wali kelas 2-1, Kijimura Tamaki-sensei.
Mizuki langsung membuka suara dengan senyum jahil.
“Kiji-chan, hari ini juga imut, ya! Ponimu dipotong, ya?”
“Ehh, Amaya-kun, kamu kok bisa tahu?”
“Soalnya aku selalu memperhatikan Kiji-chan.”
“Itu kamu lagi, ya. Jangan melecehkan gurumu, dong!”
Kijimura-sensei memainkan poninya. Aku sih sama sekali tidak bisa melihat bedanya.
Biasanya kalau Mizuki memuji gadis tertentu, para siswi pasti langsung ribut, tapi guru yang akrab dipanggil Kiji-chan oleh murid-murid ini adalah pengecualian. Yah, usianya memang sudah akhir dua puluhan, jadi cukup jauh lebih tua.
Lagipula dia juga menangkis semua gurauan ringan Mizuki dengan santai, makanya jadi sasaran empuk godaannya.
Karena tidak ada yang mengira Mizuki serius, para cewek juga tampaknya menikmati gombalan-gombalan manisnya.
“Baiklah, sebagai hukuman karena pelecehan seksual, Amaya-kun yang pimpin diskusinya. Sensei sekarang marah!”
Sambil mengangguk seolah dapat ide bagus, dia langsung melempar tugas itu ke Mizuki. Jelas sekali itu cuma karena dia malas repot.
“Marah pun tetap imut.”
“Sensei tahu kok kalau sensei imut~”
“Kalau begitu, karena guru yang imut sudah memintanya, kurasa aku harus berusaha.”
Mizuki berdiri di podium, mengambil kapur, lalu menuliskan daftar tugas kelas di papan tulis satu per satu.
“Ada yang mau ambil tugas tertentu? Kalau bisa, aku ingin kita tentukan lewat sukarelawan.”
Aku tidak berniat ikut komite apa pun. Aku harus mengantar dan menjemput Soyoka pagi dan sore, jadi tidak punya waktu untuk kegiatan tambahan. Seluruh waktuku milik Soyoka.
Mizuki tahu soal itu, jadi dia tidak akan menunjukku.
Murid-murid lain juga, mungkin karena aku terus-terusan mengiklankan fakta itu, sepertinya membiarkanku lolos begitu saja.
Tugas-tugas kelas diputuskan dengan lancar lewat sukarelawan, lalu Mizuki menuliskan nama mereka di papan tulis. Orang ikut komite tentu punya macam-macam alasan, tapi aku senang kelas ini kelihatannya cukup termotivasi. Mungkin mereka cuma mau mengambil tugas yang gampang sebelum kebagian yang merepotkan.
“Eh, tunggu. Kok rasanya ini malah lebih lancar kalau Amaya-kun yang ngatur daripada sensei?”
Wali kelas yang tadinya santai bersandar di dekat jendela sambil menonton akhirnya mulai panik.
Mizuki memang punya jiwa memimpin dan juga disukai banyak orang, jadi semua orang mau bekerja sama.
Pada akhirnya, yang tersisa kosong tinggal posisi ketua kelas.
Satu ketua kelas dan satu wakil. Dibandingkan komite-komite yang cuma ada namanya atau komite festival sekolah yang lebih terlihat menarik, posisi ketua kelas memang agak tidak populer. Kerjanya banyak, tapi tanggung jawabnya malah anehnya besar.
“Oke, berikutnya ketua kelas...”
Mizuki memandang ke seluruh kelas dengan ekspresi susah.
Meski tidak ada yang mengatakannya, suasananya jelas seperti ingin melempar tugas itu ke orang lain.
Semua orang ingin menghindari hal-hal yang merepotkan. Kalau sudah begini, biasanya murid yang kurang tegas bakal direkomendasikan dengan alasan seperti “dia kelihatannya serius.” Dari SMP juga selalu begitu.
Aku sendiri juga tidak suka suasana seperti itu... tapi karena aku tidak bisa melakukannya, aku cuma bisa diam mengamati.
Namun, berlawanan dengan dugaanku, ketua kelas langsung terpilih. Soalnya Akiyama mengangkat tangannya lurus dan mengajukan diri.
“Oh, Akiyama-chan, kamu mau?”
“Saya mau.”
“Bagus, terima kasih. Kalau begitu, ketua kelasnya Akiyama-chan.”
Fakta bahwa dia, yang biasanya tidak pernah menunjukkan inisiatif, malah menawarkan diri membuat kelas jadi heboh.
Tapi yang membuatku bingung adalah alasan lain.
Dia harus jemput adiknya, memangnya tidak apa-apa jadi ketua kelas?
Tidak, cuma karena aku sibuk bukan berarti Akiyama juga pasti sibuk.
Bisa saja hari ibunya bekerja itu cuma kejadian khusus di hari upacara masuk, lalu untuk hari biasa antar-jemputnya dilakukan orang tuanya, atau mungkin mereka memakai bus TK.
Nilainya bagus dan dia juga populer, jadi tidak ada yang keberatan. Meski memang karena dia tidak banyak berinteraksi dengan orang lain, kemampuan kepemimpinannya jadi agak meragukan.
“Kalau begitu, untuk wakil ketua...”
“Kalau menurut sensei, Amaya-kun cocok, lho~. Soalnya kelihatannya kamu malah lebih populer daripada sensei~” ujar Kijimura-sensei dengan nada sedikit cemberut.
Pantas saja dari tadi dia terlihat agak tidak senang...
Mizuki punya popularitas dan kemampuan memimpin, jadi tidak akan ada yang menolak dia. Kalau Akiyama tadi tidak angkat tangan, mungkin Mizuki yang jadi ketua.
“Kalau Kiji-chan yang menunjukku, sepertinya aku tidak punya pilihan. Lagipula kalau jadi pengurus kelas, aku bisa lebih sering berinteraksi dengan sensei, kan? Wah, berarti sensei sebegitu penginnya diperhatikan aku?”
“Nggak jadi! Ada yang lain mau ambil?”
“Sudah diputuskan.”
Sambil nyengir, Mizuki menuliskan namanya sendiri di titik kosong terakhir. Cowok itu memang benar-benar suka Kijimura-sensei.
Kurasa tadi ada beberapa cewek yang mungkin bakal sukarela kalau itu berarti bisa jadi wakil ketua bersama Mizuki, tapi sayangnya untuk mereka, posisi ketua sudah lebih dulu diambil Akiyama.
“Senang bekerja sama denganmu, Akiyama-chan.”
“Iya, sama-sama.”
“Aku senang bisa satu komite denganmu. Tahun lalu kita beda kelas, tapi sebenarnya aku sudah lama tertarik padamu.”
“Begitu. Aku memperlakukan semua orang sama.”
Akiyama membalas dengan dingin, tapi entah kenapa Mizuki malah terlihat senang.
Dia terkekeh, lalu menatap sekeliling kelas dan menyatakan pemilihan pengurus selesai.
Begitu Kijimura-sensei yang tampak puas pergi, para murid langsung kembali ribut.
Komentar yang paling sering kudengar terdengar bertolak belakang antara anak cowok dan cewek: “Kasihan Mizuki-kun,” “Dia agak kasar juga, ya,” lalu “Tetap dingin bahkan sama Mizuki...!” dan “Memang Akiyama-san banget... dia nggak goyah sama sekali.”
※※※
Setelah itu, aku menjalani pelajaran hari ini dengan tenaga yang kudapat dari foto-foto Soyoka.
Begitu homeroom sore selesai, murid-murid langsung berpencar ke berbagai arah. Sekitar setengah pergi ke klub masing-masing, dan setengah lainnya pulang.
Aku langsung berangkat menjemput Soyoka. Bisa mengantar dan menjemput adik perempuanku setiap hari adalah yang terbaik.
Dengan gagah aku menaiki mamachari-ku yang dilengkapi kursi anak, lalu melaju menuju TK.
(TL/N: mamachari, jenis sepeda kota Jepang yang populer untuk penggunaan sehari-hari oleh keluarga dan individu, terutama untuk bepergian ke tempat kerja, berbelanja, dan mengantar anak-anak.)
“Tunggu saja, Soyoka!”
Aku menekan rasa bersemangatku dan tetap fokus berkendara dengan aman. Sepeda itu seharusnya berjalan di sisi kiri jalan.
Sebagai Onii-chan, aku harus menaati aturan lalu lintas. Bukan cuma soal kecepatan, tapi aku juga harus waspada terhadap pejalan kaki dan mobil.
Kalau sampai aku kecelakaan saat Soyoka bersamaku, itu bakal gawat. Kalau aku lengah hanya karena sekarang sedang sendirian, nanti itu bisa jadi kebiasaan.
Jalan menuju TK arahnya berlawanan dari stasiun, jadi tidak banyak murid yang lewat rute yang sama. Bagusnya lagi, lalu lintas di jam segini juga tidak terlalu ramai.
“Whoooooaaaa!”
Aku mengayuh sekuat tenaga sambil tetap memperhatikan keselamatan. Saat nanti lulus, jangan-jangan aku sudah bisa ikut Tour de France pakai mamachari ini, ya? Keinginan untuk bertemu adikku membuatku jadi lebih kuat!
Tapi ambisi manis itu terancam hancur oleh kehadiran yang mendekat dari belakang.
“Nggak mungkin! Ada yang bisa menyusulku?!”
“Tolong jangan bikin keributan di jalan. Memalukan kalau aku sampai dianggap murid dari SMA yang sama.”
“Galak banget langsung dari awal?! ...Oh, ternyata kamu, Akiyama.”
Yang muncul dengan ekspresi dingin adalah Akiyama.
Seperti siswi SMA modern, roknya yang dipendekkan sampai di atas lutut bergoyang ke sana kemari. Kurasa itu tidak terlalu cocok untuk naik sepeda, tapi anehnya memang tidak kelihatan apa-apa. Bukan berarti aku pernah sengaja mencoba melihatnya. Sungguh.
“Kamu lumayan juga, bisa menyusulku... eh, jangan-jangan!”
Bahkan cara Akiyama naik sepeda pun tetap anggun. Kakinya mengayuh pedal dengan santai, sama sekali tidak terlihat mengerahkan tenaga. Tapi entah kenapa, tiba-tiba dia menambah kecepatan dan langsung melesat di depanku.
Dia juga pakai mamachari, tapi ada satu perbedaan yang sangat menentukan.
“Sepeda listrik...! Jangan bilang kamu pakai sepeda listrik!”
“Oh, kenapa? Kayuhannya kelihatan putus asa sekali, sampai kamu sudah bermandikan keringat padahal masih awal musim semi.”
“Kamu sudah menyentuh seni terlarang!”
Sambil tersenyum penuh kemenangan, Akiyama menambah kecepatan lagi.
Sepeda listrik. Kendaraan kaum atas yang memungkinkan orang melaju tanpa usaha berkat kekuatan listrik. Keajaiban peradaban yang bahkan bisa dipakai menanjak curam hanya dengan kayuhan ringan.
“Itu jelas pelanggaran aturan!”
Perlengkapan antar-jemput yang benar dan tradisional itu seharusnya mamachari tanpa gigi dengan kursi anak!
Demi semua ibu di seluruh negeri, dan demi Soyoka yang sedang menungguku, aku tidak boleh kalah di sini!
Aku mengangkat tubuh dari jok dan mengayuh sekuat tenaga. Saat kami masuk ke area perumahan dekat TK, entah bagaimana akhirnya aku berhasil menyamai posisinya.
“Kamu berniat membonceng adikmu dengan cara mengemudi sekasar itu? Kasihan sekali.”
“Soyoka justru suka kalau jalannya berguncang!”
Dia memang suka turunan curam seperti sedang naik wahana. Nanti kalau dia sudah lebih besar, akan kubawa ke taman hiburan di Yamanashi yang terkenal dengan roller coaster-nya.
Aku melirik ke arahnya dari sudut mata, dan kulihat pipinya sedikit memerah. Ekspresinya tetap sulit dibaca seperti biasa, tapi entah kenapa dia tampak sedang dalam suasana hati yang baik.
“...Kenapa?”
“Oh... aku cuma lagi mikir, kamu ternyata beda banget sama dirimu yang di sekolah. Yang ini dirimu yang asli?”
“B-bukan.”
Menurutku jelas-jelas beda banget...
Setidaknya, aku tidak pernah tahu Akiyama tipe yang mau menanggapi obrolan isengku seperti ini. Di sekolah dia pasti bakal mengabaikanku. Aku belum pernah sekali pun melihat dia mengobrol dengan senang.
“Kamu juga jemput adikmu, Akiyama?”
“Iya. Ibuku sedang bekerja, jadi aku memutuskan untuk mengantar dan menjemputnya.”
“Ah, jadi begitu.”
Melihat Akiyama yang tampak bangga, aku pun menebak alasan suasana hatinya yang bagus. Atau lebih tepatnya, aku merasa bisa memahami perasaannya.
Aku menyalipnya saat dia menatapku dengan curiga.
“Aku paham, kok. Tadi aku juga lagi mikir betapa enaknya mulai sekarang bisa antar-jemput setiap hari. Wajar kalau kamu senang.”
“Aku tidak senang.”
“Nggak usah disembunyikan lagi sekarang. Waktu upacara masuk kemarin kamu semangat banget.”
“Itu kan! ...Yah, soalnya waktu itu aku ada di depan Iku.”
Dengan wajah malu, Akiyama memalingkan muka.
Ekspresi wajahnya memang masih minim, tapi dia jauh lebih emosional daripada yang kukira. Yup, yup, dia memang sayang banget sama adik laki-lakinya. Aku mengerti.
Aku tidak punya teman yang juga punya adik dengan jarak usia sejauh ini, jadi senang rasanya bisa menemukan sesama pejuang.
“Kamu juga harusnya lebih ceria di sekolah, kayak waktu lagi sama Iku.”
Menurutku, kalau dia menunjukkan sisi lembut yang dia punya saat bersama Iku alih-alih selalu bersikap dingin dan menjaga jarak, popularitasnya pasti bakal makin naik. Meski sekarang pun dia sudah sangat populer.
“Nah, aku ajari satu cara biar tetap ceria walau Soyoka nggak ada. Cukup buka galeri foto di ponselmu. Nanti di sana ada Soyoka yang sedang tersenyum padamu!”
Senyum malaikat itu bisa meniup habis semua rasa lelah!
Sampai-sampai kalau aku tidak melihatnya setiap istirahat, rasanya aku bisa sakau. Kalau Akiyama mau, aku bahkan bisa mengajarinya teknik curi-curi lihat foto saat pelajaran.
Buat Akiyama, foto-foto Iku pasti juga bisa punya efek yang sama.
“Nggak perlu. Seperti yang kubilang tadi pagi, aku tidak ingin orang-orang di sekolah tahu soal Iku.”
“Serius? Kalau aku sih justru pengin semua orang tahu soal saudaraku.”
Menurutku, seluruh rakyat Jepang seharusnya tahu betapa imutnya Soyoka. Kalau dia jadi artis cilik, dia pasti bisa langsung terkenal. Tidak, tunggu dulu, itu jelas tidak boleh, soalnya nanti waktuku bersama dia malah berkurang.
“Aku akan repot kalau Iku sampai kenapa-kenapa gara-gara aku.”
“Kenapa-kenapa seperti apa...? Kurasa kamu nggak perlu khawatir.”
“Sepertinya aku ini tidak terlalu disukai.”
Dia mengatakannya dengan suara yang begitu pelan hingga hampir tenggelam oleh bunyi rantai sepeda.
Akiyama populer di kalangan cowok sebagai gadis cantik yang penyendiri, dan para cewek memandangnya sebagai sosok keren. Jadi bukannya dia dibenci. Hanya saja, memang dia adalah sosok yang sulit didekati.
Dan di antara mereka... memang cuma sedikit sekali, tapi ada juga beberapa cewek yang menganggap Akiyama sebagai musuh. Bahkan hari ini saat pemilihan pengurus kelas, aku sempat mendengar beberapa dari mereka menjelek-jelekkannya.
Apa mungkin kebencian itu meluas sampai ke Iku? ...Aku tidak bisa bilang pasti itu mustahil.
Kalau Soyoka jadi sasaran niat jahat seseorang, apa yang akan kulakukan? Mungkin aku juga akan berusaha menghindarinya, sama seperti Akiyama.
Karena itulah aku tidak bisa begitu saja menepis kekhawatirannya sebagai rasa takut yang tak berdasar.
Malah, aku justru merasa tindakannya yang lahir dari rasa sayang pada adiknya itu sangat mengagumkan.
Setelah itu, kami berkendara ke TK dalam satu barisan tanpa percakapan lagi. Hanya mengejarnya saja sudah membuatku banjir keringat. Sepeda listrik benar-benar terlalu cepat.
Kami sampai di TK lalu memarkir sepeda.
“Hah? Tapi itu tetap nggak menjelaskan kenapa kamu bersikap sok keren di kelas, kan? Dan aku juga masih nggak paham kenapa kamu malah jadi ketua kelas.”
Saat aku mengungkapkan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku, Akiyama mengunci sepedanya lalu menatapku dengan ekspresi puas.
“Soalnya dengan begitu terlihat lebih keren.”
“Hah?”
“Aku sedang berusaha jadi kakak perempuan yang keren dan sempurna supaya Iku bangga padaku.”
“Oh, begitu...”
Cewek ini ternyata memang bodoh juga... Dan jangan menyebut dirimu sendiri cantik.
Bayangan Akiyama yang susah payah kupertahankan di kepalaku langsung runtuh dengan suara keras. Siapa sih yang dulu menyebut dia gadis cantik sekaligus pintar? Kenapa kalau sudah urusan adiknya dia jadi menyedihkan begini...?
Setelah itu, aku menjemput Soyoka yang sedang menggambar di ruangannya, lalu kami pun pulang.
Wajah Akiyama yang berjalan di sebelahku sambil menggandeng tangan Iku tetap terlihat lembut dan santai. Sepertinya rencananya untuk jadi “kakak perempuan keren” masih menghadapi awal yang berat.