Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 1 Chapter 2 — Adik Perempuanku Terlalu Cocok Memakai Seragam TK

“Onii-chan, ini TK!”

“Iya, Soyoka! Hari ini upacara masuknya!”

Di tengah ruang tamu, Soyoka berdiri dengan gagah di atas sofa sambil mengumumkannya dengan penuh kemenangan.

Seragam itu terlalu cocok buat dia. Tunggu dulu, ini jangan-jangan dibuat khusus? Apa memang dirancang cuma untuk Soyoka?

Rasanya baru kemarin dia masih merangkak, tapi sekarang tahu-tahu sudah sebesar ini... Pertumbuhan adikku benar-benar bikin mataku berkaca-kaca. Begitu dia memakai blazer, dia jadi terlihat sangat dewasa, tapi di saat yang sama tetap kelihatan seperti anak kecil yang sedang berusaha tampil dewasa, dan itu malah bikin dia makin imut. Kira-kira dalam tiga tahun ke depan, apa dia akan tumbuh jadi gadis kecil anggun yang bisa mengenakan seragam ini dengan sempurna, ya?

“Onii-chan gampang nangis.”

Aku memang makin cengeng di usia setua ini...

Tapi syukurlah upacara masuknya jatuh di hari Sabtu. Yah, meskipun hari kerja pun aku pasti tetap bolos sekolah demi datang, jadi sebenarnya tidak terlalu masalah juga. Lagi pula, di awal-awal naik kelas dua SMA juga tidak ada pelajaran penting.

Aku mengeluarkan pakaian dari mesin cuci yang sudah kujalankan sejak pagi-pagi sekali, lalu memasukkannya ke dalam keranjang laundry plastik. Cuaca hari ini cerah sekali, seolah ikut merayakan awal baru Soyoka. Cucian pasti bakal cepat kering. Aku pun pergi ke halaman kecil rumah kami yang dilapisi rumput buatan dan menaruh keranjang di sana.

“Soka bantu.”

Soyoka memakai sandalnya lalu berjalan kecil mengikutiku. Dia masih belum bisa mengucapkan “Soyoka” dengan benar, tapi itu juga salah satu bagian imut darinya.

“Oke, kalau begitu kasih bajunya satu per satu ke Onii-chan.”

“Serahkan padaku. Soalnya... hari ini Soka sudah dewasa.”

Dengan tangan kecilnya yang masih kikuk, dia mengambil pakaian dari dalam keranjang. Aku menerimanya, mengibasnya sedikit supaya kusutnya hilang, lalu menjepitkannya ke tali jemuran.

Sejujurnya, bantuan Soyoka malah bikin semuanya makan waktu lebih lama, tapi aku tetap senang dia mau membantu. Lagi pula, begitulah anak-anak belajar. Aku ingin dia terus mencoba hal-hal baru yang menarik perhatiannya dan perlahan memperluas apa yang bisa dia lakukan.

“Onii-chan.”

“Ada apa?”

“Mama nggak ada hari ini?”

Gumaman Soyoka yang tiba-tiba itu membuat dadaku terasa sesak.

Begitu melihat matanya yang sedikit berkaca-kaca, sesaat aku tidak bisa berkata apa-apa.

“...Iya, Mama kerja.”

“Oh, begitu... Tapi Onii-chan ada!”

Sudut bibir Soyoka langsung terangkat ceria, lalu dia mengangkat kedua tangannya dengan semangat.

Menyakitkan rasanya melihat anak sekecil ini harus sampai memikirkan hal seperti itu. Dia seharusnya tidak perlu belajar bersikap perhatian sedini ini.

Alasan Soyoka murung adalah karena di hari sepenting ini, ibunya tetap pergi bekerja.

Dan bukan cuma hari ini. Orang tuaku memang pada dasarnya hampir tidak pernah di rumah. Ayah bekerja sendirian di luar negeri, dan Ibu bekerja setiap hari. Bekerja saat hari libur adalah hal biasa baginya, dan di hari kerja, dia baru pulang setelah Soyoka tertidur.

Setelah mengambil cuti melahirkan dan cuti mengasuh anak selama jangka waktu tertentu, perusahaan Ibu memohon agar dia segera kembali, dan dia pun langsung kembali bekerja. Waktu itu Soyoka baru sekitar satu tahun. Saat aku kecil dulu pun, sejauh yang kuingat, Ibu juga sudah bekerja sejak aku mulai cukup besar untuk sadar akan keadaan. Sekarang aku paham betapa beratnya perjuangan orang tuaku, tapi dulu aku tidak mengerti.

Yah, soal diriku sih tidak penting. Itu semua sudah berlalu.

Tapi Soyoka masih ada di usia di mana dia ingin dimanja oleh ibunya.

Aku tidak bisa menjadi ibu untuknya. Belakangan ini aku makin sering merasakan itu. Yang bisa kulakukan hanyalah mencurahkan kasih sayang sebanyak mungkin dengan caraku sendiri. Hanya itu.

Aku harus berusaha sebaik mungkin supaya Soyoka tidak merasa kesepian!

“Oke, yang ini terakhir.”

“Baju Soka banyak banget.”

Setelah semua cucian selesai dijemur, Soyoka melontarkan komentar aneh itu.

Aku mengangkat keranjang lalu kembali ke ruang tamu bersama Soyoka. Pagi hari memang selalu sibuk, tapi karena hari ini aku tidak sekolah, rasanya aku punya sedikit lebih banyak ruang untuk bernapas.

Sebagai gantinya, seluruh energiku akan kutumpahkan untuk upacara masuk Soyoka.

Bagaimanapun juga, ini momen yang cuma terjadi sekali seumur hidup. Sebagai kakaknya, aku tidak boleh setengah-setengah.

“Rapihin rambutku.”

Soyoka mengangkat ikat rambut favoritnya dengan penuh kemenangan.

“Iya, serahkan pada Onii-chan!”

Aku sudah latihan untuk hari ini dengan melihat situs-situs penataan rambut!

Aku menyuruh Soyoka duduk di kursi, lalu berdiri di belakangnya.

Kalau untuk upacara masuk, tentu harus total. Pakaiannya sudah seragam, jadi satu-satunya bagian yang bisa dibuat lebih modis ya rambutnya. Biasanya aku cuma mengikatnya jadi dua kuncir biasa, tapi hari ini spesial.

Aku mengingat langkah-langkah yang kulihat di internet, lalu mulai menata rambut Soyoka.

“Tahu nggak, aku nanti mau gambar.”

“Nanti setelah masuk TK, kamu bisa gambar sepuasnya!”

“Beneran? Terus, di sana ada perosotan?”

“Ada, ada. Kotak pasir juga ada.”

“Soka jadi nggak sabar.”

Soyoka mengayun-ayunkan kakinya maju mundur, tubuhnya ikut bergoyang senang.

Rambutnya yang jatuh sedikit melewati bahu itu halus sekali. Helainya tipis-tipis, sampai mudah sekali lolos dari sela-sela jariku.

Akhirnya, poni depannya kukepang longgar, lalu kusisir ke belakang dan kupasang jepit. Ini namanya half-up, kalau tidak salah.

Kutambahkan aksesori rambut berbentuk mawar besar, dan jadilah Soyoka cantik yang siap menghadiri upacara masuk.

“Nah, selesai.”

“Terima kasih! Aku imut nggak?”

“Itu sih nggak perlu ditanya. Jangan-jangan kata ‘imut’ memang diciptakan khusus untuk Soyoka? Harusnya ditambahkan sebagai catatan kaki di kamus. Tunggu saja, aku akan hubungi penerbitnya...”

“Ayo berangkat, nanti telat!”

Agh, rencanaku menjadikan Soyoka bagian dari pengetahuan umum seluruh Jepang...

Soyoka melompat-lompat kecil lalu duduk di dekat pintu masuk.

Aku membantu memakaikan sepatu barunya, lalu kami pun keluar rumah. TK-nya sebenarnya masih dalam jarak yang bisa ditempuh naik sepeda, tapi hari ini kami pergi dengan berjalan kaki.

Oh iya, tentu saja aku juga berdandan rapi. Aku mengobrak-abrik kamar Ayah dan meminjam setelan jasnya.

Ini hari penting buat Soyoka, jadi aku tidak boleh membuatnya malu gara-gara penampilanku.

“Soyoka, kalau mau menyeberang jalan kita harus bagaimana?”

“Angkat tangan!”

“Betul. Adikku jenius banget sampai bikin hati sakit...”

Kami melewati area perumahan yang tenang dan jarang dilalui kendaraan, dan setelah berjalan sebentar, kami akan sampai di TK.

Sepanjang jalan, Soyoka terus menggenggam tanganku sambil gelisah tidak bisa diam.

“Sudah mau sampai?”

“Sekitar setengah jalan lagi. Jalan ini bakal kamu lewati selama tiga tahun ke depan.”

Sampai sekarang dia memang pergi ke tempat penitipan anak, tapi masuk TK terasa berbeda dalam arti yang lebih besar.

Perbedaan terbesarnya adalah pendidikan.

Memang tergantung tempatnya, tapi di penitipan anak yang selama ini didatangi Soyoka, fokus utamanya adalah menjaga anak-anak, jadi tidak banyak waktu untuk belajar.

Begitu masuk TK, dia akan diajari hal-hal seperti berhitung, membaca, dan menulis. Itu berarti tantangannya juga akan bertambah, tapi aku yakin hari-hari Soyoka nanti pasti akan menyenangkan.

“Wah, kalau dia mulai dididik, bakat Soyoka pasti bakal mekar ke mana-mana dan Jepang bisa gawat... nggak, sekarang pun dia sudah jenius di segala bidang.”

“Onii-chan sering ngomong sendiri.”

Senyum pun terbit begitu saja di bibirku.

Aku sudah berkali-kali melewati jalan ini untuk mengeceknya, jadi rutenya sudah kuhafal.

Sambil berjalan bersama Soyoka dan memandangi pemandangan sekitar, gerbang TK mulai terlihat di kejauhan.

“Ketemu TKnya!”

Soyoka melompat-lompat dengan wajah yang langsung mekar cerah.

Di samping gerbang utama berdiri papan ucapan selamat yang meriah, dengan tulisan besar “Upacara Masuk”.

Aku segera menyuruh Soyoka berdiri di samping papan yang megah itu, lalu mengangkat ponselku.

“Soyoka, lihat ke sini! Wah, imut banget. Ini malaikat? Dewi? Nggak, kata-kata di dunia ini nggak cukup buat menggambarkannya.”

“Onii-chan, berisik.”

Aku langsung memotret bertubi-tubi dengan mode burst. Suara shutter pun bergema ke mana-mana.

Penyimpanan ponselku mungkin bakal penuh hari ini... Dan aku harus mengabadikan setiap detik dari upacara masuk Soyoka. Apa aku tadi seharusnya bawa ponsel kedua khusus untuk video? Atau malah seharusnya bawa kamera video sungguhan?

“Hmph, Onii-chan berisik, jadi ayo masuk.”

“Ah, Soyoka, satu foto lagi...”

Bahkan wajah cemberutnya juga imut. Dia terus membetulkan topinya dengan kedua tangan, mungkin karena masih belum terbiasa memakainya.

Sambil memperlihatkan pemandangan menyedihkan seorang anak SMA yang dimarahi balita, aku pun masuk ke halaman TK. Tidak apa-apa kalau aku sedikit berisik. Para ibu di sekitar sini juga kelihatan heboh semua!

Tentu saja semangatku sendiri juga sudah mencapai puncaknya. Kalau aku tetap tenang dalam situasi seperti ini, aku bukan kakak yang layak! Dengan penuh semangat, aku melangkah masuk ke halaman TK.

Masih ada waktu sebelum acara dimulai, jadi sepertinya semua orang menunggu di sini. Wajah anak-anak tampak cerah, penuh antusiasme menyambut kehidupan TK.

Sebaliknya, wajah Soyoka justru terlihat murung.

“Mama...”

Melihat anak-anak lain datang bersama ibu mereka, Soyoka menunduk sedih. Bibirnya terkatup rapat, dan dia tampak mati-matian menahan air mata.

Beberapa pasangan orang tua dan anak lewat di depan Soyoka yang terdiam di tempat.

Orang tuaku tidak tahu. Mereka tidak tahu kalau Soyoka yang selalu tampak tegar di depan mereka sebenarnya merasa kesepian di balik semua itu.

“...Baiklah, Soyoka, gimana kalau naik pundak Onii-chan!”

“...Menyebalkan banget!”

Aku mengangkat Soyoka yang mulai tersenyum kecut, lalu mendudukkannya di pundakku. Dia langsung mencengkeram rambutku kuat-kuat, dan itu lumayan sakit.

Tapi sesakit apa pun, selama Soyoka senang, tidak masalah. Meski orang tua kami tidak ada di rumah, aku akan melindungi senyum Soyoka. Aku sudah memutuskannya.

“Ayo, kita jalan! Whoaaaa!”

“Onii-chan, berisik!”

Walaupun mengeluh, dia juga berteriak, “Yeay!” dan kelihatannya bersenang-senang.

Aku mengeluarkan ponsel lalu mengambil selfie. Latar belakang sudah tidak penting lagi. Di bawah langit biru, yang kuabadikan adalah senyum Soyoka.

Setelah bermain sebentar, aku menurunkan Soyoka lalu menghela napas.

Apa upacara masuknya sebentar lagi mulai? Karena tidak terlalu tahu harus berbuat apa, aku pun melihat-lihat sekeliling. Keluarga-keluarga lain juga tampaknya menghabiskan waktu dengan santai sambil menunggu.

“Iku, atau aku panggil Pangeran saja? Imut banget... TK ini apa memang dibuat khusus untukmu, Iku? Tempat ini benar-benar memaksimalkan keimutan dan ketampananmu sampai batas tertinggi. Oke? Kamu nggak boleh terlalu baik sama anak-anak perempuan. Nanti suatu hari kamu bisa ditusuk.”

“Nee-chan, berisik.”

Dari tepat belakangku, terdengar suara seorang wanita muda yang berceloteh cepat tanpa henti. Dia berusaha terdengar tenang, tapi suara indahnya justru terdengar tegang.

Bukannya dia ngomong hampir sama persis sepertiku, ya...? Rasanya kami bakal cocok!

Dengan pikiran bahwa beginilah semua orang tua bersikap, aku pun melirik santai ke arahnya.

Seorang wanita berkulit cerah mengangguk puas sambil melihat foto yang barusan diambilnya. Senyum tipis terlukis di bibirnya ketika dia menepuk kepala seorang anak laki-laki kecil.

Kesan jujurku? Cantik. Dia terlihat muda, tapi memiliki aura lembut dan keibuan, dan dia mengenakan jaket serta rok biru muda yang modis. ...Tunggu, aku tidak boleh menatap istri orang seenaknya.

“Ha, Onii-chan lagi ngeliatin.”

“Aku nggak ngeliatin.”

“Jatuh cinta pada pandangan pertama?”

Katanya sih anak perempuan memang cepat dewasa, tapi belakangan ini, gara-gara drama dan anime, dia jadi sangat tertarik pada hal-hal romantis.

Mungkin mendengar percakapan kami, wanita yang menggandeng tangan bocah itu menoleh ke arah kami.

Begitu mata kami bertemu, aku langsung sadar kalau itu orang yang kukenal. Karena suasananya sangat berbeda dari biasanya, aku sampai tidak sempat mengenalinya.

“Akiyama...?”

“Ah, ini Kuremoto-kun, ya,” katanya datar, dan ekspresinya langsung kosong dalam sekejap.

Aku terkejut Akiyama sampai mengingat namaku.

Di kelas, dia selalu duduk di mejanya tanpa menunjukkan minat pada siapa pun. Bahkan saat jam istirahat pun dia tidak pernah mengobrol dengan siapa-siapa dan selalu belajar dengan buku terbuka di depannya.

Ekspresi lembut yang tadi kulihat lenyap seolah cuma ilusi, digantikan oleh wajah sempurna bak boneka. Setelah berdeham kecil, dia menatap bergantian ke arahku dan Soyoka sebelum bicara.

“Menyedihkan. Fetismemu terhadap anak kecil sekarang sudah berkembang sampai tahap menyusup ke taman kanak-kanak. Sebagai warga negara, sudah jadi kewajibanku untuk melaporkanmu.”

Akiyama mengangkat ponselnya ke telinga dengan gerakan yang terlalu alami sampai terasa menyeramkan. Hah? Dia tidak serius mau lapor polisi, kan...?

“Kenapa juga kamu melakukan itu...? Ini upacara masuk adikku, jadi wajar kalau aku ada di sini.”

“Adikmu... begitu. Mata kalian mirip.”

“Eh, serius?”

Itu bikin aku senang setengah mati.

Begitu aku nyengir lebar, Akiyama menatapku dengan jijik.

“...Ehem. Kalau kamu sendiri, Akiyama? Sama juga?”

“Iya, aku datang bersama adik laki-lakiku, Iku.”

“Kamu punya adik laki-laki, Akiyama? Malaikat kecil di sini ini adik perempuanku, Soyoka. Imut, kan?”

“Tidak lebih imut dari Iku.”

Akiyama melipat tangan dengan bangga saat mengatakannya.

Apa orang ini benar-benar Akiyama Sumi yang itu? Otakku tidak bisa menyambungkan Akiyama yang jadi bahan pembicaraan semua anak cowok, si bunga yang tak tergapai, si gadis cantik penyendiri, dengan gadis yang sedang berdiri di hadapanku sekarang.

Di kelas, Akiyama hampir tidak pernah menunjukkan emosi. Kalau diajak bicara, balasannya selalu dingin. Selalu seperti itu.

Dan gadis yang sama itu sekarang malah mengobrol sewajarnya, bahkan melontarkan sindiran ringan...

“Nee-chan. Siapa ini?”

Anak laki-laki bernama Iku itu menunjuk ke arahku sambil memiringkan kepala. Jadi Akiyama memang punya adik laki-laki. Karena dia ada di upacara masuk, berarti umurnya sama dengan Soyoka. Anak itu kelihatannya pemalu, memeluk pinggang Akiyama sambil bersembunyi di belakangnya.

Akiyama berjongkok agar sejajar dengan pandangan Iku.

“Ini teman sekelasku.”

“Teman?”

“...Kurang lebih begitu.”

“Oooh,” kata Iku sambil bertepuk tangan.

Jadi aku dianggap temannya. Yah, teman sekelas memang pada dasarnya teman, sih. Meski agak mengejutkan juga mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“Onii-chan, kamu janji bakal kasih tahu kalau punya pacar!”

“Dia bukan pacarku.”

“Soka jadi semangat.”

Ucapan Soyoka membuat Akiyama menatapku tajam. Dia memang sedang ada di usia yang mengaitkan semua hal dengan cinta-cintaan, jadi tolong maafkan dia.

Upacara masuk ini cuma untuk murid baru. Di beberapa TK, murid lama juga ikut hadir, tapi karena hari ini Sabtu, sepertinya mereka tidak masuk.

Pengumuman bahwa acara akan segera dimulai membuat kami bergerak menuju ruang kelas. Atau lebih tepatnya, kalau di TK menyebutnya “ruang bermain” atau apa, ya?

“Aku Soka, salam kenal.”

Soyoka melangkah ke depan Iku lalu menundukkan kepala.

“A-Aku Iku... salam kenal, Soka-chan.”

“Bukan Soka, tapi Soka!”

Soyoka yang mengira dia sudah mengucapkan namanya dengan benar jadi sedikit kesal.

Aku mendekat dan berbisik pada Iku.

“Itu Soyoka.”

“Soyoka-chan.”

“Nah, gitu!”

Puas karena namanya dipanggil, Soyoka mengangguk mantap.

“Onii-chan hari ini berisik.”

“Iya, kan...?!”

Wah, benar-benar Soyoka, ya. Dia sudah langsung akrab dengan menjadikan Onii-channya bahan topik pembicaraan!

Kalau begini, kehidupan TK-nya pasti aman. Soyoka memang tidak pemalu, dan dia juga cerewet, jadi pasti bakal populer.

“Tidak masuk akal... Bayangan seorang perempuan sudah jatuh ke atas Iku sejak hari pertama!”

“Kamu ranking satu di angkatan, tapi sebenarnya bodoh, ya?”

Mata Akiyama membelalak tidak percaya.

Rasanya seperti sikap tanpa ekspresinya di kelas itu benar-benar dusta belaka. Aku masih setengah curiga bahwa yang kulihat sekarang ini cuma halusinasi.

Sementara itu, Soyoka terus mengajak Iku bicara sepihak. Kewalahan menghadapi energinya, Iku cuma bisa mengangguk-angguk.

“Tunggu, Soyoka. Kalau kamu terlalu banyak bicara dengan anak laki-laki, nanti dia salah paham, tahu? Kamu imut, jadi harus hati-hati... Jangan lupa bilang padanya kalau kamu cinta Onii-chan.”

“Salah paham apanya? Nggak mungkin ada anak perempuan yang nggak jatuh cinta sama Iku.”

“Hah? Memangnya Soyoka bakal melirik cowok sembarangan begitu?”

“Maaf, ya. Sudah mencuri cinta pertama adik perempuanmu.”

“Hah, cinta pertama Soyoka sudah ditakdirkan untukku. Lebih penting lagi, kamu yakin mau begini? Adik laki-lakimu sebentar lagi bakal patah hati.”

Tatapan penuh keseriusan pun beradu.

Akiyama menyipitkan mata, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menantang. Apaan itu? Wajahnya benar-benar seperti penjahat besar.

“Onii-chan ngomong yang aneh-aneh.”

“Nee-chan juga.”

Mengabaikan kakak mereka masing-masing, dua anak itu berjalan menuju kursi yang sudah ditentukan.

Tunggu dulu, Soyoka, jadi memang itu pendapatmu yang sebenarnya...?

“Hehe.”

Akiyama terkekeh kecil.

“Hei, sekarang Iku malah capek menghadapi aku gara-gara kamu.”

“Itu salahmu sendiri... Yah, demi menghormati upacara masuk, hari ini akan kulewatkan.”

“Itu kalimatku.”

Permusuhan di antara kami pun mengendur, dan kami tertawa kecil bersama.

Senyumnya lembut, dan Akiyama hari ini hanyalah seorang kakak perempuan yang baik, sama seperti kakak-kakak lainnya.

Saat kami sampai di ruangan, aku dan Akiyama secara alami duduk berdampingan. Sesuai dugaan, sebagian besar wali murid yang hadir memang para orang tua.

Ternyata Soyoka dan Iku satu kelas. Meski jumlah kelasnya memang cuma dua.

Kelas anak-anak kecil di sini dinamai berdasarkan bunga, dan Soyoka serta Iku masuk ke Kelas Himawari. Yang satunya lagi, omong-omong, adalah Kelas Sakura.

Aku memandangi Soyoka yang tampak gelisah saat menunggu acara dimulai.

“Hei, Akiyama, orang tuamu juga nggak datang?”

“Betul. Ibuku sedang bekerja.”

Dia menjawab singkat, lalu memalingkan pandangan, seakan tanpa kata mengatakan padaku agar tidak bertanya lebih jauh.

Yah, memang bukan urusanku ikut campur soal keluarga orang. Tapi fakta bahwa dia juga datang menggantikan orang tuanya di upacara ini membuatku merasa dekat dengannya. Sampai kemarin aku pikir kami hidup di dunia yang berbeda, tapi sekarang rasanya jarak di antara kami menyusut dalam sekejap.

Ranking satu angkatan, gadis cantik yang dingin. Aku kira dia manusia sempurna tanpa cela, tapi siapa sangka dia punya sisi seperti ini. Aku melirik diam-diam ke arahnya dan melihat dia sedang memegang ponsel dengan ekspresi serius. Gawat! Aku juga harus ambil foto.

Upacara masuknya sendiri tidak terlalu besar. Pertama ada sambutan dari kepala sekolah dan para guru wali kelas. Setelah itu, semua orang menyanyikan lagu bersama.

Soyoka, sayangku, bagaimana bisa kamu bernyanyi sekeras itu padahal lagunya saja belum tahu? Semoga kamu menghargai keberanianmu sendiri itu.

Di tengah-tengah acara, ada beberapa anak yang mulai rewel karena kesepian dan ada juga yang ribut karena bosan, tapi guru-guru yang tampak berpengalaman menanganinya dengan cepat, dan upacara pun berakhir tanpa masalah. Gerakan mereka begitu cekatan sampai aku nyaris curiga kalau upacara masuk ini sebenarnya pertunjukan untuk memamerkan seberapa kompetennya para guru. Kalau begini, aku bisa mempercayakan Soyoka kepada mereka tanpa khawatir.

Akhirnya kami menerima hadiah kenang-kenangan, lalu acara pun dibubarkan.

“Huuuh. Soka sudah jadi orang dewasa.”

Dengan wajah seolah baru saja menuntaskan tugas besar, Soyoka menaruh kedua tangan di pinggang dan membuat pengumuman itu.

“Bagus, bagus. Kamu hebat.”

Saat aku mengusap kepalanya, dia menggeliat seperti geli lalu memegangi topinya. Yup, imut.

Baik Soyoka maupun Iku bersikap manis selama acara. Anak-anak baik.

“Baiklah, pulang, yuk? Hari ini kita makan kue!”

“Nggak mau. Soka yang makan semuanya, Onii-chan nggak boleh.”

“Serius?”

Yah, kalau itu yang Soyoka mau, tentu aku tidak akan protes!

Tapi kebanyakan makan manis juga tidak baik buatnya, jadi kita makan sedikit-sedikit selama beberapa hari saja.

“Kalau begitu, kami duluan.”

“Ah, tunggu sebentar.”

Saat aku hendak pergi sambil menggandeng tangan Soyoka, Akiyama memanggilku.

“Karena kita sudah ada di sini, bagaimana kalau kita foto bersama?” kata Akiyama sambil menunjuk ke sudut halaman sekolah.

Kami menyuruh Soyoka dan Iku berdiri berdampingan dengan pohon sakura sebagai latar belakang.

Begitu rupanya, teman pertamanya di TK. Memang ide bagus untuk mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Tapi, Iku, kalau sampai tanganmu macam-macam ke Soyoka, Onii-channya yang mengerikan ini tidak akan memaafkanmu. Sambil menggertak main-main dalam hati, aku juga mengangkat ponselku.

Di tengah jalan Soyoka mulai terlihat bosan, tapi sesi foto tetap berlanjut cukup lama berkat dua kakak yang sama-sama sudah tidak terkendali.

“Aku bosan.”

“Gah, tunggu, Soyoka! Satu foto lagi!”

“Aku mau pulang terus makan kue.”

Kuenya kan buat setelah makan malam...?

Meski rasanya masih kurang puas, sesi foto itu akhirnya kami akhiri setelah sekitar lima belas jepretan.

Iku memang menatap kosong ke suatu tempat, tapi berdiri di samping Soyoka sepertinya membuatnya cukup senang.

Memang aku tidak terlalu suka teman pertamanya seorang anak laki-laki... tapi syukurlah dia dapat teman!

“Iku, dadah!”

“Iya! Dadah, Soyoka-chan.”

Karena arah pulang keluarga Akiyama berbeda, kami berpisah di TK.

Sepertinya mereka cepat sekali akrab dalam waktu sesingkat itu. Melihat mereka berdua melambaikan tangan dengan penuh semangat terasa begitu menghangatkan hati.

Di perjalanan pulang, Soyoka mulai mengantuk, jadi aku menggendongnya di punggung dan membawanya pulang.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa