(POV Akiyama Sumi)
Aku ingin secepat mungkin pergi menjemput Iku, tapi hari ini Kijimura-sensei memberiku tugas.
Tidak apa-apa sih, karena sekolah pulang lebih awal, tapi tetap saja menjengkelkan.
“...Sepertinya dia belum datang.”
Berdiri di tempat kami janjian, aku melihat sekeliling. Aku sengaja berdiri di tempat teduh, mencari sedikit saja kelegaan dari panas.
Para murid dengan seragam yang sama denganku masuk ke stasiun dalam kelompok-kelompok kecil.
Amaya-kun masih belum terlihat.
Tugas yang diminta Sensei padaku adalah membeli perlengkapan untuk acara sekolah. Sebagian besar memang sudah ada di sekolah, tapi untuk barang-barang yang sifatnya lebih khusus, kami harus membelinya sendiri dengan dana OSIS.
Ini cuma belanja sedikit; sebenarnya aku bisa melakukannya sendirian. Lagi pula Kijimura-sensei juga akan datang terlambat, jadi sebenarnya tidak ada alasan khusus bagiku untuk pergi bersama Amaya-kun.
Apalagi sebagai wakil ketua kelas, Amaya-kun sudah cukup membantu di bagian-bagian yang tidak bisa kutangani. Rasanya tidak enak kalau aku masih merepotkannya untuk urusan seperti ini.
Tapi, alasan kenapa kali ini aku tidak menolak bantuannya... adalah karena ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya.
Setelah menunggu sebentar, Amaya-kun pun datang.
“Akiyama-chan, maaf bikin kamu menunggu. Panas, ya?”
“Aku tidak apa-apa.”
“Aku jadi menantikan belanja bareng kamu.”
“Sensei juga ikut, jadi bukan cuma kita berdua.”
“Dingin sekali~”
Meskipun berkata begitu, entah kenapa dia tersenyum cerah dengan wajah senang.
Aku jadi mengenalnya lewat Hikaru dan Kyouta. Tapi kami belum sedekat itu.
Aku masih belum tahu jarak yang pas saat menghadapinya, dan kalau cuma berdua dengannya, percakapan kami pasti akan macet.
“Yah, ini juga cuma urusan kerja.”
“Benar.”
Di sisi lain, Amaya-kun juga tidak pernah berusaha mendekat lebih dari yang diperlukan.
Dia memang bicara padaku dengan santai, tapi tidak pernah mencoba masuk terlalu jauh. Dalam arti itu, rasanya nyaman, tapi tidak seperti Kyouta dan Hikaru yang begitu terbuka soal perasaan mereka, aku jadi tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan.
Mungkin, tanpa diduga, dia mirip denganku.
“Kalau begitu, ayo berangkat?”
Dengan senyum segar, Amaya-kun mulai berjalan.
...Tidak, kami sama sekali tidak mirip. Tidak seperti diriku, dia bisa memperlakukan semua orang dengan sikap cerah yang sama. Itu sesuatu yang tidak mungkin bisa kutiru dengan kemampuan bersosialisasiku yang buruk.
Kami berdua pun naik kereta.
Kami tidak duduk, hanya bersandar di dekat pintu sambil membiarkan tubuh bergoyang mengikuti laju kereta.
“Akhirnya libur musim panas juga~. Akiyama-chan, ada rencana apa selama liburan?”
“Aku akan bermain dengan adik laki-lakiku.”
“Sudah kuduga. Ngomong-ngomong, sama Kyouta juga?”
“...Iya, ada beberapa rencana.”
“Heeh, bagus dong.”
Padahal aku tidak melakukan sesuatu yang perlu merasa bersalah, tapi entah kenapa aku sempat ragu untuk mengatakannya.
Melihat itu, sudut bibir Amaya-kun terangkat membentuk senyum geli.
“Kamu akur banget sama Kyouta ya, Akiyama-chan?”
“Kurasa begitu.”
“Hah, kukira kamu bakal menyangkal.”
Kami akur... kurasa begitu.
Awalnya, aku cuma berhubungan dengannya demi Iku dan Soyoka-chan. Tapi lambat laun, aku mulai terhubung dengan Kyouta sendiri.
Kyouta membantuku ketika aku tidak bisa melakukan apa-apa, seperti memasak atau merawat orang sakit. Dia juga memarahiku saat aku terlalu memaksakan diri demi Iku, lalu meluruskanku.
Tapi kemudian aku tahu, bahkan Kyouta yang kupikir begitu hebat pun ternyata punya kegelisahan dan kelemahannya sendiri. Aku sadar bahwa bahkan diriku pun mungkin bisa membantunya.
Bahkan belum setengah tahun sejak kami bertemu. Namun... kupikir Kyouta sudah menjadi seseorang yang spesial bagiku.
Itulah yang sebenarnya ingin kubicarakan dengan Amaya-kun.
“Aku tidak akan... menyangkalnya. Aku juga tidak mau menyangkalnya.”
“Oh?”
“Dan lebih dari itu, aku ingin menjadi lebih dekat dengannya.”
Aku tidak mencoba memutar kata-kata; aku mengatakannya persis seperti yang kupikirkan. Kalimat yang sangat jujur, sesuatu yang tidak biasa keluar dari diriku.
Mata Amaya-kun membelalak, lalu dia terdiam.
“Tapi aku tidak tahu caranya.”
Setelah ayahku meninggal dan aku jatuh ke dalam depresi, aku kehilangan semua orang yang bisa kusebut teman. Aku juga tidak pernah mendapatkan teman baru. Aku sudah lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain.
Bahkan setelah masuk SMA pun, aku selalu sendirian. Aku menipu diriku sendiri dengan alasan itu demi belajar, berusaha mengalihkan perhatian dari kesepian. Aku terus mengatakan pada diriku bahwa selama ada Iku, itu sudah cukup, bahwa tidak ada gunanya mencari teman setelah ayah pergi.
Lagipula, kalau aku membiarkan seseorang jadi berharga bagiku, suatu hari aku mungkin akan kehilangannya juga. Aku lari dari semuanya karena takut akan itu.
Tapi... Kyouta membuka paksa hatiku yang tertutup lalu berteman denganku, menyeretku ke hubungan aneh yang kami sebut sebagai “mom friend”.
Lebih dari teman, dan lebih dari kekasih. Aku sendiri yang pernah mengatakan itu.
Tapi... entah sejak kapan, itu saja sudah tidak lagi cukup bagiku.
“Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ‘mom friend’?”
Tanpa kusadari, aku sudah menanyakan itu pada Amaya-kun.
Ah, aku memang serakah. Harusnya aku sudah merasa cukup bahagia dengan keadaan sekarang, tapi aku tetap saja menginginkan lebih.
Aku pernah memutuskan untuk tidak menjadikan siapa pun sebagai orang berharga selain Iku. Kupikir lebih baik tidak punya apa-apa sejak awal daripada memilikinya lalu kehilangannya.
Tapi begitu seseorang mulai terasa spesial, kita jadi tidak ingin melepaskannya.
Waktu yang kuhabiskan bersama Kyouta dan Soyoka-chan benar-benar menyenangkan dan membahagiakan. Hidupku sendiri, yang kukira hanya berisi kegelapan, mulai menjadi lebih terang.
Amaya-kun tidak tertawa atau menggodaku; dia menatapku lurus.
“Apakah kamu ingin berpacaran dengan Kyouta?”
“...Tidak.”
“Kalau dari sudut pandangku, kalian berdua cocok, lho. Maksudku, kamu suka Kyouta, kan?”
“...Aku tidak tahu. Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Lagi pula, kebanyakan pasangan itu putus, kan?”
Mungkin ini cuma prasangka, tapi aku percaya hubungan cinta itu pada akhirnya akan berakhir. Saat SMP dan SMA, hampir semua pasangan yang kulihat akhirnya putus. Dan kebanyakan setelahnya hubungan mereka jadi buruk.
Kalau dipikir begitu, yang kuinginkan bukanlah menjadi kekasih...
Dan hubungan “mom friend” juga pada akhirnya akan berakhir suatu hari nanti.
“Aku... tidak mau kehilangan Kyouta.”
Tanganku sedikit gemetar.
Aku menggenggamnya dengan tangan satunya, tapi gemetarnya tidak berhenti.
Setelah kehilangan ayahku, aku sengaja tidak mendekati siapa pun. Lebih baik tidak terlibat daripada harus kehilangan mereka pada akhirnya.
Setelah Iku lahir, hidupku adalah untuknya. Tidak masalah meski dia tidak membalas kasih sayangku. Aku akan mencurahkan segalanya untuknya dan hidup demi dirinya.
Orang yang menerobos masuk ke dalam hatiku yang sudah kuputuskan begitu... adalah Kyouta.
Karena itu, tanpa kusadari, aku jadi takut kehilangan kasih sayangnya.
“Saat adik-adik kita lulus dari taman kanak-kanak, hubungan kita juga akan berakhir. Kalau Iku dan Soyoka-chan mulai menjauh, hubungan itu juga akan selesai. Semua koneksi antara aku dan Kyouta berasal dari faktor luar.”
“Begitu.”
“Kalau kami jadi kekasih pun sama saja. Kalau putus, itu juga tamat, kan? Aku tidak mau begitu.”
Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi.
Semakin aku menyayangi Kyouta, semakin besar pula rasa takut kehilangan dirinya menyerangku.
“Bagaimana caranya supaya aku tidak kehilangannya selamanya? ...Memang arogan, tapi itulah yang kupikirkan.”
Amaya-kun mendengarkan kata-kataku dengan tenang, kata-kata yang terdengar hampir seperti pengakuan.
“Alasan kamu menanyakan ini padaku karena aku teman Kyouta?”
“Iya. ...Kalian berdua terlihat seperti teman sungguhan, teman yang benar-benar tulus. Dan kamu juga kelihatannya tidak menahan diri saat bersama Kyouta.”
“Begitu ya. Jadi, itu artinya menurutmu tidak apa-apa kalau kehilangan aku, Akiyama-chan? Lumayan menusuk juga.”
“Bukan begitu maksudku...”
“Hahaha, tidak apa-apa. Kurang lebih aku juga sama.”
Kupikir, kalau mau jujur, itulah alasan aku memilih bicara dengan Amaya-kun, bukan dengan Hikaru.
Ada sisi dalam diriku yang justru bisa jujur karena kami tidak terlalu dekat.
Tapi alasan terbesarnya tetap karena Amaya-kun adalah sahabat Kyouta.
Kyouta dan Amaya-kun tidak terlihat seperti tipe orang yang akan akrab satu sama lain. Tapi kenyataannya, mereka selalu bersama, dan rasanya mereka juga bisa saling beradu mulut tanpa sungkan.
Kupikir, inilah bentuk persahabatan yang tidak akan putus. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk meminta saran pada Amaya-kun.
Tentang bagaimana caranya aku bisa membangun hubungan seperti itu dengan Kyouta.
“Yah, memang benar aku dan Kyouta akur. Tapi agak berbeda kalau dibilang kami sepenuhnya tulus satu sama lain.”
“Eh...?”
Jawabannya sama sekali tidak kuduga.
“Setidaknya, aku berteman dengan Kyouta karena alasan egoisku sendiri. ...Sebagai balasan karena kamu sudah terbuka padaku, mungkin aku juga akan membuka sedikit isi hatiku.”
Mata Amaya-kun sedikit menyipit.
Ekspresi yang jarang kulihat dari anak laki-laki yang biasanya selalu santai itu memiliki bayangan gelap yang membuatku sedikit tegang.
“Kyouta itu sama sepertiku. Kami tumbuh besar tanpa perhatian dari orang tua, tanpa mengenal kasih sayang.”
“Amaya-kun juga...?”
“Iya. Orang tuaku sampah. Ayahku selingkuh lalu pergi, ibuku kecanduan judi dan tidak pernah pulang. Dan aku, yang dibesarkan oleh sampah seperti mereka, juga sampah. Makanya aku berpikir hal-hal seperti cinta dan persahabatan itu semuanya tidak ada artinya.”
“Ah, tapi yang ini tolong rahasiakan dari semua orang,” katanya sambil mengangkat satu jari ke bibir dengan nada bercanda.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa Amaya-kun yang ceria dan disukai semua orang punya masa lalu seperti itu. Dia tampaknya tidak berniat menceritakan detailnya, tapi kilatan dalam matanya yang gelap saat dia menyebut dirinya sampah terasa menakutkan, seolah memperlihatkan sekilas perasaan terdalamnya yang sebenarnya.
“Itulah kenapa aku mendekati Kyouta. Aku senang ada orang lain di luar sana yang sama sepertiku. Kalau mau jujur, aku sempat menganggap dia orang yang menyedihkan, karena dipaksa mengurus adik perempuannya. Aku berkata hal-hal seperti, ‘Pasti berat, ya,’ lalu menghibur diriku sendiri. ...Karena kalau kamu bersama seseorang yang hidupnya lebih buruk darimu, kamu bisa merasa lega karena ternyata dirimu masih lebih beruntung.”
“Kyouta tidak menyedihkan.”
“Benar, Kyouta ternyata berbeda. Meskipun dia sendiri tidak pernah dicintai... dia mencintai Soyoka-chan dengan sepenuh hati. Dan benar-benar dari lubuk hatinya juga. Mau seberapa sering pun aku main-main dengan perempuan, aku tidak pernah bisa menemukan perasaan seperti itu dalam diriku.”
Aku kehilangan kata-kata mendengar pengakuan tak terduga dari Amaya-kun.
Ternyata itu alasan kenapa Amaya-kun tidak pernah terlalu dalam terlibat dengan siapa pun.
“Aku iri. Aku benar-benar iri. Aku sempat berpikir, kalau aku bersama Kyouta, mungkin aku juga bisa mengerti cinta... Itu juga salah satu alasan kenapa aku mulai sering bersama dia. Meski sampai sekarang aku masih belum menemukannya.”
“Itu tidak benar. Kamu pasti juga punya kasih sayang dalam dirimu, Amaya-kun.”
“Makasih. Tapi aku tidak butuh kata-kata penghiburan itu. Aku tidak bisa mencintai siapa pun. Aku sendiri lebih tahu daripada siapa pun. ...Kita jadi melenceng,” kata Amaya-kun dengan ekspresi yang sedikit menyakitkan. Dia menggeleng pelan seolah ingin mengganti topik, lalu raut wajahnya kembali melunak.
“Jadi, tadi kita bicara soal bagaimana caranya supaya bisa mempertahankan Kyouta, kan? Menurutku, kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Eh...?”
“Kyouta bakal baik-baik saja. Dia tidak akan meninggalkanmu, Akiyama-chan. Selama kamu terus mencarinya.”
“Asal aku... terus mencari Kyouta?”
“Iya. Kalau kamu melakukannya, Kyouta akan menghadapi perasaanmu dengan lurus, tanpa pamrih dan tanpa hitung-hitungan. Maksudku, orang sepertiku saja dia anggap sahabat. ...Ah, kita sudah sampai.”
Amaya-kun melihat ke luar jendela lalu berkata, “Ayo turun.”
Sepertinya kami sudah tiba di tempat tujuan.
Kami memang harus menunggu Kijimura-sensei di sini, karena beliau akan datang dengan mobil. Katanya dia harus menyelesaikan sedikit pekerjaan dulu, jadi kami masih harus menunggu agak lama.
“Tunggu. Kok kamu bisa bilang begitu dengan yakin? Itu saja sudah tidak masuk akal,” tanyaku sambil mengejar Amaya-kun yang berjalan lebih dulu.
“Hmm, sebenarnya tidak serumit itu. Kyouta tidak akan menolak kalau dicari karena kasih sayang. Sama seperti kamu takut kehilangan kasih sayang, Akiyama-chan, hal yang paling ditakuti Kyouta adalah menyadari bahwa dirinya tidak bisa mencintai siapa pun.”
“...Dia takut merasa bahwa dirinya manusia yang tidak punya kasih sayang?”
“Benar. Aku sudah menyerah soal itu sejak lama, tapi Kyouta percaya bahwa dirinya punya kasih sayang di dalam hatinya.”
Amaya-kun, yang sama seperti Kyouta, juga tidak pernah dicintai orang tuanya.
Entah kenapa aku merasa sedikit mengerti kenapa mereka berdua, yang kelihatannya sangat berbeda, bisa menjadi sahabat.
Amaya-kun sangat memahami Kyouta. Dan di saat yang sama, kupikir dia juga menghargai Kyouta karena memberinya persahabatan tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
“Jadi kamu tidak perlu khawatir, Akiyama-chan. Tapi kalau kamu ingin jadi lebih dekat... mungkin kamu bisa coba bersikap sangat manja dan bergantung padanya.”
“A-Aku tidak bisa bersikap manja dan bergantung.”
“Hehe, kelihatannya kamu memang nggak terbiasa. Tapi laki-laki seperti Kyouta itu lemah terhadap ketulusan seperti itu, tahu? Apalagi kalau datang dari gadis yang biasanya tegas seperti kamu, Akiyama-chan. Maksudku, kalau mau, kamu bisa coba latihan denganku...”
“Tidak, terima kasih.”
Amaya-kun sudah kembali ke nada bicaranya yang biasa dan ringan, tapi kata-katanya tadi tetap tertinggal dalam benakku.
Bersikap manja dan bergantung pada Kyouta... seperti Soyoka-chan?
Memang benar, melihat bagaimana dia memanjakan Soyoka-chan, dia terlihat seperti tipe yang senang dibutuhkan.
Misalnya, aku bisa mencoba memeluk lengan Kyouta... T-Tidak. Tidak bisa. Itu terlalu memalukan.
Itu malah akan membuatnya terlihat seperti aku sedang merayunya.
“Hehehe... Yah, Kyouta itu orang baik dan lembut, jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir. Aku jamin.”
“Aku tahu kalau dia baik.”
“Begitu ya.”
Kalau aku mengatakan itu pada Kyouta, mungkin dia akan menjawab bahwa dia cuma baik pada Soyoka.
Tapi setidaknya, dia memang sudah menyelamatkanku berkali-kali.
“Yah, kamu bakal baik-baik saja kok, Akiyama-chan. Soalnya kamu suka sekali pada Kyouta sampai seperti ini.”
“Aku tidak suka dia.”
“Benarkah? Kalau menurutku sih itu kelihatan seperti perasaan romantis.”
Aku memang menyukai Kyouta. Tapi ini bukan perasaan romantis. Aku sendiri tahu itu lebih baik daripada siapa pun.
Ini bukan emosi yang sesederhana itu.
Lagipula, bukan berarti aku ingin punya hubungan romantis. Kalau artinya aku harus berada dalam hubungan rapuh seperti kekasih, aku lebih memilih tetap seperti sekarang.
Tapi kalau dengan bersikap manja dan bergantung aku bisa menjadi seseorang yang spesial bagi Kyouta... mungkin patut dicoba.
Untungnya, kami memang punya rencana untuk bertemu selama libur musim panas. Dan untuk acara besar, kami akan pergi berkemah.
Di sana, bersama Kyouta...
“Hah, itu suara Kiji-chan ya? Kyouta dan Hikaru juga ada di sini.”
“Eh?”
Amaya-kun menoleh ke arah stasiun. Kukira dia cuma bercanda, tapi mereka memang benar-benar ada di sana.
“Ky-Kyouta?”
“Akiyama...”
Begitu melihat wajah Kyouta, hal-hal yang tadi kubayangkan langsung melintas di kepalaku.
Bayangan diriku yang manja memeluknya...
Aku langsung malu dan refleks bersembunyi di belakang Amaya-kun. Ini salahnya, gara-gara dia mengatakan hal-hal aneh.
Dan bukan cuma soal bayangan manis itu.
Hal-hal yang tadi kukatakan sejujur itu pada Amaya-kun, aku belum pernah menceritakannya pada siapa pun. Sekarang setelah semuanya terucap, itu pun terasa memalukan. Benar-benar tidak seperti diriku.
“Oi, Akiyama-saaaan...?”
“Jangan ajak bicara aku.”
“Baik. Maaf.”
Kyouta beberapa kali mencoba bicara padaku, tapi aku malah tidak bisa tidak bersikap dingin padanya.
Selama belanja, aku sama sekali tidak bisa menatap wajahnya dengan benar.
Aku takut kalau mata kami bertemu, dia akan menyadarinya, jadi aku terus melarikan diri.
Aku benar-benar payah.
Kalau aku terus seperti ini, dia pasti akan lelah lalu menyerah padaku. Aku harus berusaha lebih keras.
Lebih dari teman, lebih dari kekasih, seorang mom friend. Tapi sekarang aku mulai ingin menjadi sesuatu yang lebih spesial.
“Manja dan bergantung... manja dan bergantung...”
“Kamu bilang sesuatu?”
“Pergi sana.”
“Seram...”
Mustahil... aku tidak mungkin bisa melakukan ini dengan kepala tetap tenang.