Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 3 Chapter 2 — Mimpi Adik Perempuanku Terlalu Imut

“Sensei, kenapa saya ada di ruang guru di hari terakhir sebelum libur musim panas?”

Aku entah bagaimana berhasil lolos dari kelas tambahan setelah ujian akhir, dan hari ini, tepat sehari sebelum libur musim panas dimulai, aku sebenarnya sudah penuh semangat untuk mendedikasikan seluruh waktuku buat Soyoka.

Tapi tepat setelah upacara penutupan, Kiji-chan, Kijimura-sensei, malah memanggilku ke ruang guru.

Wali kelasku, yang kebetulan juga wali kelas Akiyama, sedang berdiri dengan tangan bersedekap dan dagu terangkat tinggi, memasang pose marah. Namun, karena aura lembut dan fluffy bawaannya tidak bisa disembunyikan, dia sama sekali tidak terasa menakutkan.

“Karena aku yang memanggilmu ke sini...? Kamu tipe orang yang ingatannya reset tiap tiga menit, ya?”

Rasanya aku barusan dihina terang-terangan.

“Ingatanku penuh dengan hal-hal tentang Soyoka...”

Begitu aku menjawab setengah asal, Sensei memasang wajah lelah lalu mengusap pangkal hidungnya.

“Jadi guru memang pekerjaan berat, ya... Pasti capek.”

“Sumber stresku saat ini itu kamu, Kuremoto-kun!”

“Yah, yah, murid teladan sebaik aku juga jarang ada.”

“Murid teladan tidak dipanggil ke ruang guru.”

Ya, itu benar sih.

Tetap saja, aku sama sekali tidak bisa memikirkan alasan kenapa aku harus kena ceramah. Aku selalu menyelesaikan tugas piket sepulang sekolah seefisien mungkin supaya bisa cepat-cepat menjemput Soyoka. Tidak pernah sekalipun aku bolos.

“Kuremoto-kun, kamu taaahu nggak kenapa dipanggil ke ruang guru?”

“Umm, Kiji-chan... bertingkah imut di usia segitu agak berat sih.”

“Aku baru dua puluh tujuh!”

Kijimura-sensei menepakkan tangan ke meja lalu berdiri mendadak. Mungkin karena terkejut dengan suara yang ternyata lebih keras dari dugaannya, dia malah mengeluarkan suara kecil, “Ah.”

Guru-guru lain menoleh ke arah kami, dan dia pun buru-buru duduk lagi dengan wajah malu. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya ke meja sambil merentangkan tangan.

“Hiks, Sensei dibully Kuremoto-kun. Padahal aku sangat populer sebagai guru muda yang imut dan cantik...”

“Hal begitu kok diomongin sendiri?”

“Jadi rumor kalau Kuremoto-kun itu lolicon memang benar!”

“Nggak nyangka ada guru yang ngomong begitu...”

Memang benar, di kalangan murid laki-laki, dia cukup terkenal karena masih muda dan seksi. Mizuki, yang dengan bangga bilang kalau dia bisa suka perempuan sampai selisih lima belas tahun lebih tua, sering menggoda dia. Para murid memanggilnya Kiji-chan dan memperlakukannya seperti teman. Bisa juga dibilang mereka tidak terlalu menghormatinya sebagai guru.

Sifatnya yang agak ceroboh juga memang lumayan imut.

Sebagai catatan, kalau harus diberi label, aku ini siscon, bukan lolicon.

“Alasan aku memanggilmu itu ini, ini nih. Kuesioner jalur karier yang kamu kumpulkan minggu lalu!”

Begitu masuk kelas dua SMA, saatnya mulai memikirkan jalan setelah lulus. Memang ada orang-orang yang sudah punya tujuan sejak kelas satu lalu bekerja keras untuk itu, tapi mereka jelas minoritas. Karena ini sekolah negeri yang posisinya ada di level menengah atas, kebanyakan murid punya pola pikir seperti, “Masuk universitas terbaik yang bisa kumasuki,” ya kira-kira sebatas itu.

Aku juga tidak berbeda. Aku belum terlalu memikirkan masa depanku. Aku sampai kesulitan memutuskan apa yang harus kutulis di formulir jalur karier dan telat mengumpulkannya.

Tapi formulir yang akhirnya berhasil kukumpulkan beberapa hari lalu, meski lewat tenggat, seharusnya memang ada di tangan Sensei.

“Memangnya kenapa?”

“Eh...? Kamu nggak tahu? Tunggu, yang aneh di sini aku ya?”

Kijimura-sensei memiringkan kepala sambil bergumam, lalu mendekatkan wajahnya ke kertas di tangannya sampai hampir menempel.

Aku mengangkat bahu lalu mulai berbalik hendak pergi. Soalnya, sejujurnya aku sama sekali tidak menulis hal aneh.

“Nggak, ini jelas aneh!”

Saat aku membelakangi dia, Kijimura-sensei meraih pundakku.

Dengan enggan aku menoleh lagi, lalu Sensei menghantamkan formulir jalur karier itu ke depanku. Kertas yang berkibar di depan wajahku hingga bisa kubaca itu memang jelas berisi rencana masa depanku.

“Kuremoto-kun, kamu bisa baca, kan? Coba, apa yang tertulis di pilihan pertamamu?”

“Pemilik toko kue.”

“Ya, ya, pasti kamu bakal bikin kue yang enak. Terus pilihan kedua?”

“Magical girl.”

“Kenapa?!”

“Aku akhir-akhir ini lagi suka banget sama sebuah anime.”

“Kamu memang penuh mimpi... Ngomong-ngomong, pilihan ketigamu?”

“Baca sendiri aja... tertulis ‘ibu’.”

Kepala Kijimura-sensei terkulai dan dia terjatuh lagi ke kursinya.

Padahal aku sudah rajin “mensurvei jalur karier,” loh.

“Aku tanya cuma untuk memastikan, dan percayalah, Sensei benar-benar nggak mau menanyakan hal setidakberguna ini, ya? Tapi ini tugasku supaya murid-murid berhargaku nggak menempuh jalan hidup yang aneh, jadi... ini jalur karier siapa?”

“Adik perempuanku.”

“Waaah, aku nggak ingat pernah membesarkan anak sebodoh ini!” ratap Sensei pura-pura menangis sambil menutup mata dengan tangan.

Aku juga nggak ingat pernah dibesarkan olehnya. Wali kelasku tahun lalu orang lain.

“Tapi lucu, kan? Sebenarnya aku pengin dia bilang ‘pengantin Onii-chan’, tapi mau bagaimana pun aku mengarahkan, dia nggak pernah mau mengatakannya. Namanya Soyoka, lho. Oh, kalau kanjinya pakai huruf ‘malam’, ‘pikir’, dan ‘lagu’.”

“Kamu kakak yang baik, ya...? Ulangi. Minggu depan aku mau yang baru.”

Sambil memberi jawaban setengah hati, dia menyerahkan formulir jalur karier yang baru padaku. Namun nada suaranya di akhir benar-benar serius.

Ulangi, ya. Ya, tentu saja. Aku dari awal cuma berusaha beli waktu, jadi memang tidak pernah menyangka itu bakal lolos.

“...Hm? Minggu depan? Tunggu, itu kan sudah libur musim panas.”

“Mungkin begitu buat kalian para murid, tapi kami para guru ini orang dewasa pekerja.”

“Ah, bukan. Maksud saya saya sendiri, bukan Sensei. Saya nggak terlalu pengin datang ke sekolah saat liburan musim panas...”

“Kamu bilang sesuatu?”

Aku mencoba mencari jalan keluar, tapi Kijimura-sensei menutupnya dengan senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.

...Ya, dia serius. Kalau aku membantah, situasinya cuma bakal makin buruk.

“S-Saya mengerti.”

“Bagus.”

Mendengar jawabanku, Kijimura-sensei mengangguk dengan anggun.

Lalu, seperti balon kempis, dia langsung ambruk lagi di atas meja.

“Kamu tahu, aku ini cukup paham situasi keluargamu, ya? Tapi ini urusan yang berbeda, kan?”

“Yah, kali ini mungkin aku memang kelewatan soal bercandanya. Aku bakal introspeksi.”

Meski aku menundukkan kepala dengan patuh, ekspresi Sensei tetap tegas.

“Bukan itu.”

“Eh?”

“Maksudku, mengurus adikmu dan memikirkan jalur kariermu sendiri itu dua hal yang berbeda.”

“...Sensei ini ngomong apa...”

Tatapan tajamnya menangkapku lengah, sampai jantungku sempat berdegup kencang.

Biasanya dia lembut sekali, jadi rasanya tidak adil saat dia tiba-tiba menunjukkan wajah seserius itu.

“Kuremoto-kun, kamu pintar, jadi kamu tahu kan apa yang sedang ingin kukatakan? Mmm, tapi nilai tesmu jelek sih, jadi mungkin kamu sebenarnya nggak sepintar itu...?”

“Bagian terakhir itu benar-benar nggak perlu.”

Aku menghargai perhatian Sensei, dan aku juga tahu apa yang dia katakan itu benar.

Tapi bagiku, Soyoka adalah segalanya.

Meski orang tuaku sekarang sedikit berubah pikiran, aku tetap tidak bisa meninggalkan Soyoka pada mereka yang hampir tidak pernah ada di rumah. Demi Soyoka yang berharga, yang lebih penting daripada diriku sendiri, aku bisa mengorbankan apa pun.

Bahkan masa depanku sendiri.

“Mungkin buatmu sulit untuk pergi jauh dari rumah. Tapi, ya, selalu ada pilihan universitas lokal, kan? Memang lebih sibuk daripada SMA, tapi kalau kamu atur jadwal kuliahmu dengan baik, seharusnya tetap bisa dijalani entah bagaimana...”

“Terima kasih. ...Saya akan memikirkannya dengan benar. Permisi.”

“B-Baiklah. ...Hei, Kuremoto-kun.”

Tanganku sudah berada di pintu geser ruang guru, lalu aku menoleh ke belakang.

“Aku ini ternyata cukup pandai memperhatikan murid-muridku.”

“Sensei guru yang baik.”

“Benar, kan?”

Aku mengangguk kepada Kijimura-sensei yang tersenyum lembut, lalu kali ini benar-benar meninggalkan ruangan itu.

Masih ada beberapa murid di sekolah untuk kegiatan klub atau sekadar mengobrol dengan teman-teman.

Sambil berjalan di koridor, aku memikirkan apa yang Sensei katakan.

Seberapa pun aku mencurahkan segalanya untuk Soyoka, aku ini tetap cuma siswa kelas dua SMA. Memilih jalur masa depan bukan sesuatu yang bisa dihindari.

Satu setengah tahun lagi, aku tidak akan menjadi siswa SMA lagi. Entah aku lanjut kuliah atau bekerja, aku tidak akan bisa terus bersama Soyoka sepanjang waktu seperti sekarang.

Seperti yang Kijimura-sensei bilang, mungkin memang ada cara untuk menyeimbangkan keduanya.

Tapi kalau demi pekerjaan atau sekolah aku malah mengabaikan Soyoka, bukankah itu sama saja seperti ibuku yang dulu terlalu lama meninggalkan aku dan Soyoka sendirian?

Begitu pikiran itu muncul, aku jadi tidak bisa melanjutkan usaha untuk memikirkan masa depanku. Aku tahu itu cuma bentuk pelarian.

Selama Soyoka bahagia, aku juga bahagia. Pada akhirnya, semua pikiranku selalu berputar kembali ke Soyoka.

Tapi jelas akan jadi masalah kalau aku sampai menjadi NEET lalu Soyoka membenciku, jadi aku memang harus memikirkan sesuatu.

“Jalur karierku, ya...”

Pada akhirnya, aku sendiri sebenarnya ingin menjadi apa?

Bukan cuma soal pekerjaan. Sebagai manusia, sebagai orang dewasa, sebagai kakak laki-laki... aku ingin menjadi seperti apa? Kalau soal Soyoka, aku bisa memikirkan banyak hal tanpa henti, tapi kalau soal diriku sendiri, aku sama sekali kosong.

Bahkan lebih dari itu, aku takut mengarahkan perhatianku pada hal apa pun selain Soyoka. Aku merasa kalau aku melakukannya, cintaku padanya mungkin akan entah bagaimana berkurang.

Bayangan suatu hari aku menjadi seperti ibuku, terlalu sibuk dengan hal-hal lain sampai tidak bisa menunjukkan kasih sayang padanya, terasa menakutkan.

“Ooh, kelihatannya ada yang lagi punya masalah, nih~”

Saat aku sedang berjalan sambil tenggelam dalam pikiran, aku mendengar kalimat yang terasa sangat stereotip.

Karena tadi aku terus menunduk menatap kakiku, aku bahkan tidak menyadari ada seseorang di sana.

Suara itu milik Hiiragi Hikaru. Dia sedang bersandar di deretan loker sepatu sambil melambaikan tangan kecil.

Dengan tatapan penuh godaan, Hikaru menyunggingkan senyum dan berkata, “Hai.”

“...Hiiragi, ya. Hari ini nggak ada kegiatan klub?”

“Hari ini libur. Hari terakhir kan, jadi ya dimanfaatkan saja.”

“Hoh.”

Ngomong-ngomong, Mizuki yang juga satu klub tenis dengan Hiiragi pernah bilang hal serupa.

Kurasa selama libur musim panas nanti mereka berdua bakal terkubur dalam kegiatan klub. Kalau dipikir begitu, memang tidak aneh kalau mereka meliburkan hari terakhir ini.

“Itu muka kusut kenapa? Kiji-chan ngamuk parah gara-gara... entahlah, mungkin karena kamu ngobrol sama balita?”

“Kamu kira aku dipanggil karena dicurigai sebagai orang aneh, ya!?”

“Aku salah?”

Hiiragi terkikik sambil memainkan ponselnya.

Aku tidak tahu kenapa dia ada di dekat loker sepatu, tapi mungkin dia sedang menunggu temannya. Mustahil gadis ceria dan populer seperti dia tidak punya rencana di hari sesempurna hari terakhir sekolah.

Yah, itu bukan urusanku. Aku cuma ingin cepat-cepat ketemu Soyoka!

Saat aku mendekati loker sepatu untuk ganti sepatu, Hiiragi mendongak menatapku dengan mata menengadah.

“Wah, Kuremocchan, kenapa kamu tiba-tiba mendekat begini? Kamu lihat aku berdiri manis di balik bayangan lalu jadi gugup karena aku terlalu imut, ya?”

“Kamu ngahalangin, aku nggak bisa ambil sepatu!”

“Iya, aku tahu.”

Jadi memang sadar ya kalau kamu nyebelin...

Aku mengabaikannya dan mengulurkan tangan, tapi Hiiragi malah merentangkan kedua tangan untuk menghalangiku. Dari sudut ini, benar-benar kelihatan seolah aku sedang menyerangnya.

“Ahaha, anggota klub pulang langsung sepertimu bukan tandinganku, Kuremocchan.”

“Aku anggota Klub Soyoka! Aku lagi mau jemput Soyoka, tapi musuh menghalangi jalanku... Ugh, apa ini tipe musuh yang harus kukalahkan untuk bisa maju?”

“Nggak nyangka aku diperlakukan seperti monster.”

Aku menyingkirkan Hiiragi yang masih menghalangi dengan lenganku lalu membuka paksa loker sepatuku. Hiiragi berusaha menghentikanku dengan bergelayut di lenganku, tapi akhirnya aku berhasil mengambil sepatuku.

Dia dekat banget seperti biasa... Aku memang sudah tidak terlalu terganggu lagi dengan kontak fisik dari Hiiragi, tapi kalau ada yang melihat kami, pasti mereka bakal mengira kami sedang flirting. Lagi pula, cuacanya terlalu panas untuk begini.

“Aduh, aku kalah.”

“Kedengarannya kamu malah senang.”

“Tapi kalau aku menuntutmu karena meraba-raba, bukannya berarti aku yang menang...?”

“Maaf banget.”

Padahal paling banter yang kusentuh cuma pundaknya.

Begitu dia akhirnya tampak benar-benar bosan, aku pelan-pelan mengenakan sepatuku. Sepatu dalam ruangan ini akan kubawa pulang untuk dicuci.

“Yah, sampai ketemu habis libur musim panas.”

Aku mengucapkan perpisahan dengan santai lalu mulai berjalan pergi.

Tapi Hiiragi menarik ujung bajuku, menghentikanku.

“Eh, tunggu. Ada seorang gadis yang tadi menunggumu, masa kamu langsung pergi begitu saja?”

“...Hm? Menunggu?”

“Betul. Aku kasihan padamu karena kena ceramah di hari terakhir sekolah, jadi aku yang baik hati dan luar biasa ini menunggumu. Senang, kan?” kata Hiiragi dengan bangga pada diriku yang masih kebingungan.

Hiiragi cepat-cepat memasukkan kakinya ke loafers, lalu mengetuk lantai dengan ujung sepatunya.

Tas sekolahnya tampak penuh sesak, seperti dia berencana membawa pulang semuanya sekaligus. Saat dia mengangkatnya dengan kedua tangan lalu menyampirkannya ke bahu, tubuhnya sempat oleng sedikit.

Seolah ingin menutupinya, bibir Hiiragi melengkung membentuk senyum.

“Ayo, kita pulang bareng. Ini kan cuma upacara penutupan, jadi kamu masih punya waktu sebelum harus jemput dia, kan?”

Dalam kepalanya, sepertinya urusan pulang bareng ini sudah jadi keputusan final.

Sebenarnya, taman kanak-kanak sudah mulai libur musim panas sejak minggu lalu, tapi bagi yang mau, anak-anak masih bisa ikut penitipan sampai awal Agustus. Aku dan Akiyama juga memutuskan memanfaatkan penitipan itu sampai hari ini karena kami masih sekolah.

Upacara penutupan selesai sebelum tengah hari, jadi kalau aku pergi sekarang justru mungkin terlalu cepat.

TK itu memang berada di arah berlawanan dari stasiun, tapi kalau naik sepeda jaraknya tidak terlalu jauh.

Kurasa aku masih bisa meluangkan sedikit waktu untuk menemani Hiiragi.

“...Aku bawakan tasmu.”

“Wah, nadamu terdengar males banget. Tapi makasih~”

“Cuma sampai stasiun, ya!”

Tanpa ragu sedikit pun, Hiiragi menyerahkan tas sekolahnya padaku. Begitu kuterima, beban yang jelas tidak mungkin cuma berisi buku satu hari langsung menggantung di lenganku.

“Berat...”

“Isinya banyak mimpi.”

“Isinya buku pelajaran dan lembar print.”

“Tee-hee,” kata Hiiragi sambil menjulurkan lidah dan mengedipkan mata.

Yah, aku bawa sepeda, jadi kalau kutaruh di keranjang juga tidak akan terlalu merepotkan. Lagi pula kalau pulang bareng Hiiragi, aku juga pasti sambil menuntun sepeda.

Kami pun berpindah ke area parkir sepeda sambil mengobrol ringan. Sepertinya sebagian besar murid sudah pulang saat aku dipanggil ke ruang guru tadi.

Tim baseball tampaknya tetap latihan seperti biasa; aku bisa melihat mereka sedang berlari.

Hiiragi menyamai langkahku saat aku menuntun sepeda.

“Jadi, ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?”

“...Heeh, ternyata kamu lumayan peka.”

Bagian “ternyata” itu nggak perlu. Tapi kalau dia sampai rela menungguku, bahkan aku pun bisa menebaknya.

Aku menunggu dengan diam agar Hiiragi melanjutkan.

Dia berjalan sedikit di depanku untuk beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Aku mengikutinya dari belakang sambil menuntun sepeda.

“Kamu tahu, Kuremocchan, kupikir aku harus memberitahumu.”

Setelah kami berjalan cukup jauh, akhirnya Hiiragi bicara.

“Ya?”

“Aku memutuskan akan serius musim panas ini.”

Dia menyatukan kedua tangannya di belakang punggung, berbalik, lalu menatapku lurus.

Aku berhenti dan mendengarkan kata-katanya...

“Oh, gitu...”

Dia mengatakannya dengan sangat formal sampai kukira bakal jadi pembicaraan besar. Ternyata biasa saja.

Kalau dipikir-pikir, apa pun yang ingin dibicarakan Hiiragi pasti ada hubungannya dengan Mizuki. Alasan kami bahkan bisa jadi akrab pun karena aku sahabat terbaik Mizuki. Dia mendekatiku supaya peluangnya untuk bisa nongkrong bersama Mizuki makin besar.

“Lakukan sesukamu. Bukan urusanku.”

Aku mulai berjalan lagi dan melewati Hiiragi.

Hiiragi buru-buru mengikuti sambil tampak kesal.

“Kuremocchan, di sini ada gadis yang serius sedang cemas, masa kamu ngomong begitu!”

“Kamu dari dulu juga selalu serius. Memangnya sekarang kenapa?”

“Wah, kamu bisa ngomong begitu santai malah bikin jantungku berdebar. Tapi, kamu salah.”

Mizuki itu tampan dan pandai bergaul, jadi dia benar-benar populer. Banyak sekali gadis yang menyukainya, dan jumlah pengakuan cinta yang dia terima sudah terlalu banyak untuk dihitung. Cukup dengan Mizuki sedikit bersikap baik, mereka langsung jatuh hati.

Awalnya, kupikir Hiiragi juga cuma salah satu dari mereka.

Tapi berbeda dari gadis-gadis yang sekadar ikut tren itu, Hiiragi benar-benar serius mencintainya. Setelah aku mengenalnya lebih jauh, itu jadi jelas.

“Aku memang serius dari dulu, tapi sekarang aku akan lebih serius lagi.”

“Oh ya...? Yah, semoga berhasil.”

“Nadanya setengah hati banget. Aku serius, lho. Ini kesempatan terakhirku tahun ini.”

“Kenapa?”

“Tahun depan udah masuk masa sibuk ujian, kegiatan klub juga selesai. Kalau nanti kami beda kelas, aku bakal kehilangan satu-satunya koneksi dengan Mizuki...” kata Hiiragi sambil memonyongkan bibir.

Memang benar, saat ini karena mereka sekelas dan sama-sama di klub tenis, mereka punya banyak kesempatan untuk berinteraksi.

Tapi mulai tahun depan, semua itu akan hilang sekaligus. Aku bisa memahami kenapa dia merasa cemas.

“Makanya, kupikir mungkin sudah waktunya aku mengambil langkah. Selama ini aku sudah cukup sering menunjukkan ketertarikan padanya, dan kalau ini pun nggak berhasil, mungkin memang nggak ada harapan.”

“Jadi, musim panas ini?”

“Iya. Klub tenis ada training camp selama libur musim panas, jadi aku akan menyatakan perasaanku di sana.”

“Wah, sampai waktunya pun sudah kamu tentukan, ya?”

Hiiragi mengangguk kecil, matanya tampak sedikit basah.

Pengakuan cinta. Kata yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Aku belum pernah menyatakan cinta pada siapa pun, dan tak seorang pun pernah menyatakan cinta padaku.

Hatiku sudah dipenuhi Soyoka, jadi tidak ada ruang untuk jatuh cinta pada orang lain... Ini jelas, jelas bukan karena aku nggak populer.

“...Hebat.”

Dan aku sungguh-sungguh memaksudkannya.

Dia jatuh cinta dengan serius pada seseorang dan akan mengungkapkan perasaannya. Itu pasti butuh tekad yang luar biasa besar.

Apalagi orang yang dia suka adalah Mizuki. Peluang berhasilnya memang tidak tinggi.

Kalau melihat berapa banyak gadis yang pernah dia tolak, bisa dibilang kemungkinan besar Hiiragi juga akan gagal. Soalnya, Mizuki memang tidak tertarik punya pacar.

Namun mungkin saja Hiiragi berbeda... Bukan karena aku memihak, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir begitu.

Mizuki selalu menghindari gadis-gadis yang merepotkan, dan satu-satunya gadis yang dia biarkan dekat hanyalah Hiiragi. Jadi, setidaknya dia pasti tidak membencinya. Itu memang tidak langsung berarti mereka akan berpacaran, tapi rasanya tetap ada kemungkinan.

...Meski bagiku itu tetap tidak terlalu penting.

“Yah, semoga berhasil. Tapi aku nggak bisa bantu apa-apa.”

“Nggak apa-apa. Kamu sudah banyak membantuku selama ini. Sisanya akan kulakukan sendiri.”

“Hah, kukira kamu pasti bakal minta bantuanku lagi. Kayak ngajak semua orang pergi bareng pas libur musim panas.”

Sudah beberapa kali sebelumnya dia mengajak aku dan Akiyama ikut supaya Mizuki mau keluar main.

Kalau acaranya rame-rame, Mizuki memang mau datang.

Aku sempat mengira alasan dia mencegatku hari ini adalah untuk meminta bantuan lagi.

“Hmm, kalau Kuremocchan bilang dia pengin jalan bareng aku, mungkin akan kupikirkan...”

“Maaf, aku sudah punya rencana selama libur musim panas.”

“Sepanjang liburan!? Itu sebulan penuh! Nggak masuk akal, sama bohongnya kayak bilang ‘maaf, aku tadi ketiduran’ lewat chat.”

“Itu benar. Jadwalku penuh nama Soyoka setiap hari!”

“Sudah kuduga~”

Dia tertawa sambil menutup mulutnya.

Setelah sekian lama, hubungan kami memang jadi lumayan akrab, jadi sebenarnya aku tidak keberatan juga kalau harus nongkrong dengan Hiiragi. Dengan Soyoka juga, tentu saja.

“Tapi serius, kali ini nggak apa-apa. Kesempatanku buat bertemu dia masih banyak waktu camp dan kegiatan klub... Lagi pula, kalau nanti kami mau pacaran, kami harus bisa pergi berkencan berdua saja.”

“Itu benar juga... Kalau kamu nggak butuh bantuanku, terus kenapa repot-repot menungguku hari ini?”

Lalu sebenarnya semua ini buat apa?

Jangan bilang cuma supaya aku membawakan tasmu...?

“Aku cemas, tahu.”

“...Maaf?”

“Ayolah. Kamu harusnya tahu.”

Hiiragi memilin rambutnya dengan jari.

“Aku sudah suka dia sejak lama. Menyatakan perasaan itu menakutkan. Bisa saja nggak berjalan baik. Hubungan kami yang sekarang bisa saja hancur. Kalau kupikir begitu, aku jadi takut dan cemas. Wajar, kan?”

“...Begitu ya.”

Gadis populer di kelas, punya banyak teman, modis, dan imut. Bahkan seseorang yang kelihatannya sesempurna Hiiragi pun bisa merasa cemas soal cinta.

Jarang sekali aku melihat Hiiragi tampak seragu ini. Tapi mungkin justru itu bukti betapa seriusnya dia.

“Makanya aku mau kamu mendengarkan, Kuremocchan. Cuma itu. Rasanya kalau aku nggak mengatakannya, tekadku bisa goyah.”

“Hiiragi... kamu keren.”

“Harusnya kamu bilang aku imut.”

“Imut, imut. Tapi tetap nggak lebih imut dari Soyoka.”

Begitu aku mengatakan itu, Hiiragi menyenggol pundakku. Mungkin karena merasa puas, dia mempercepat langkah dan berjalan di depanku.

Jadi pada akhirnya, dia cuma ingin ada orang yang mendengarkan?

Aku benar-benar tidak paham gadis-gadis...

Atau mungkin, kalau suatu saat aku jatuh cinta pada seseorang, aku akan bisa mengerti.

“Ah.”

Tepat saat kami hampir sampai di stasiun, Hiiragi mengeluarkan suara kecil di sampingku.

“Hm? Ada apa...”

Aku berhenti, bertanya-tanya apa yang terjadi.

Saat aku hendak bertanya, Hiiragi menempelkan jari ke bibirnya, menyuruhku diam.

Seolah ingin bersembunyi, Hiiragi mundur beberapa langkah lalu memegang punggungku.

“Itu, lihat ke sana.”

Mengikuti arah jarinya yang menjulur melewati bahuku, aku melihat sosok yang kukenal di depan stasiun.

“Itu Mizuki. Bagus dong buatmu. Langsung ketemu dia.”

“Iya, tapi... aku belum siap secara mental.”

“Hah? Memangnya kamu selama ini selemah itu?”

“B-Bukan begitu...”

Meski berkata begitu, Hiiragi sibuk membenahi rambutnya dengan panik.

Ekspresinya benar-benar ekspresi gadis yang sedang jatuh cinta. Jauh sekali bedanya dengan saat dia bicara padaku, ya...? Tapi ya, aku sih tidak keberatan.

Karena Mizuki ada di stasiun, tugasku di sini sudah selesai. Aku juga naik sepeda, dan dari awal memang cuma janji mengantar Hiiragi sampai stasiun.

Baiklah, aku tinggal sodorkan tas super berat ini ke Mizuki lalu pulang.

Sambil memikirkan itu, aku kembali melihat ke arah stasiun lalu...

“Hah? Akiyama...?”

Akiyama berdiri di depan kafe yang menempel dengan gedung stasiun.

Dia tepat berada di jalur yang akan dilewati Mizuki.

Saat aku terus memperhatikan Mizuki, dia mendekati Akiyama lalu mengangkat tangan. Akiyama yang menyadarinya mendongak lalu mengangguk kecil.

“Nggak mungkin...”

Suara Hiiragi nyaris hanya berupa bisikan. Aku pun sama terkejutnya, dan mata kami saling bertemu.

Janjian di depan stasiun? Mizuki dan Akiyama?

“Sumi sama Mizuki sedekat itu? Dan lagi, mereka janjian di depan stasiun, bukannya di sekolah, bukankah itu mencurigakan?”

Suara Hiiragi terdengar sedikit gemetar.

Dia menggenggam kedua tangannya di depan dada lalu menatap Mizuki tanpa berkedip.

“Aku bahkan belum pernah jalan berdua sepulang sekolah dengannya.”

Lalu dia mengucapkannya dengan nada seolah menuduh.

“Hiiragi... maksudku, belum tentu juga itu kencan.”

Meski kata-kata itu keluar secara refleks, aku sendiri tidak bisa memikirkan alasan yang bagus. Aku sama terguncangnya dengan Hiiragi.

Jantungku berdebar keras di dadaku, tapi aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari mereka.

Seharusnya tidak penting Akiyama sedang bersama siapa. Dia cuma mom friend, dan Mizuki sahabatku. Bukankah seharusnya aku senang kalau mereka akur?

“...Aku harus menjemput Soyoka.”

Tanpa kusadari, kata-kata itu sudah lolos dari bibirku.

Mizuki dan Akiyama baru saja naik eskalator stasiun bersama.

Akiyama pada dasarnya memang jarang pergi dengan siapa pun, jadi ini sangat langka. Lagi pula, dia seharusnya pulang naik sepeda seperti aku. Biasanya dia naik mamachari dan pergi bersamaku ke taman kanak-kanak...

“Y-Yah, aku pulang dulu kalau begitu...”

“Kuremocchan, kita ikuti mereka! Cepat parkir sepedamu.”

“Hah? Itu aneh banget. Lagi pula kita nggak ada urusan mereka mau pergi ke mana.”

“Kamu benar-benar nggak masalah dengan itu?”

“Ini bukan soal masalah atau tidak.”

“Agh, cepat, nanti mereka hilang!”

Hiiragi mengambil tasnya dari keranjang sepedaku lalu menyampirkannya ke bahu dengan gagah. Dia menepukkan kedua tangannya di depan wajah.

“Kuremocchan, tolong.”

“Aku sih nggak terlalu peduli Akiyama mau ngapain...”

“Bukan itu. Lakukan demi aku. Rasanya aku nggak bisa menghadapi ini sendirian...”

Dari tadi sampai pembicaraan sebelumnya, rasanya hari ini aku melihat sisi baru dari Hiiragi.

Selama ini aku selalu menganggap Hiiragi Hikaru itu mentalnya kuat dan lebih lepas.

Tapi mata yang mengintip ke arahku seolah sedang memastikan reaksiku itu tampak goyah karena kecemasan.

“Kalau begitu, ya sudah.”

“Makasih!”

Untungnya ada parkiran sepeda dekat stasiun, jadi aku langsung memarkirkan sepedaku.

Kami bergegas naik ke peron mengejar mereka, tepat saat kereta datang.

“Kuremocchan, cepat, cepat!”

“Wah, kamu gesit banget!”

Hiiragi melompat masuk ke kereta dengan lincah, sampai sulit dipercaya dia membawa tas seberat itu. Seperti yang diharapkan dari anak klub olahraga, gerakannya enteng.

Begitu aku berhasil naik, pintu langsung menutup tepat di belakangku. Saat aku baru sempat mengatur napas dan memegang strap tangan, keretanya sudah mulai bergerak.

Gerbongnya memang tidak sesak, tapi cukup ramai sampai tidak ada kursi kosong.

“Huff, untung berhasil,” kata Hiiragi sambil mengeluarkan saputangan untuk menyeka keningnya.

Aku juga tadi berlari di tengah panas musim panas, dan keringat mulai mengalir di leherku. Aku mengeluarkan kipas lipat dari tas lalu mengipasi diri.

“Panas... Ngomong-ngomong, apa kita naik kereta yang benar?”

Stasiun terdekat dari sekolah kami memang cuma dilayani satu jalur, tapi tetap ada kemungkinan mereka naik ke arah berlawanan atau kami kehilangan jejak.

Kami tadi naik terburu-buru, tapi kalau sampai salah kereta, semuanya sia-sia.

“Benar kok. Lihat.”

Dia menunjuk melewati jendela pintu penghubung ke gerbong sebelah.

Benar saja, di sana ada Mizuki dan Akiyama yang berdiri di gerbong sebelah seperti kami.

“Benar juga.”

“Mana mungkin aku kehilangan jejak Mizuki.”

“Cara ngomongmu agak serem... kamu pemburu cinta atau apa?”

“Hah?”

Aku melontarkan candaan tanpa berpikir panjang lalu dibalas dengan tatapan datar dan kepala yang dimiringkan. Sedih sekali.

Laki-laki itu makhluk yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan lelucon bodoh yang muncul di kepala... maafkan aku.

“Kamu mirip detektif.”

“Ini sebenarnya jelek banget, ya? Membuntuti teman sekelas.”

“Tapi kamu juga penasaran, kan, Kuremocchan?”

“...Yah, sedikit.”

Kalau bilang aku tidak penasaran, itu bohong.

Tapi itu cuma karena aku berteman dengan mereka berdua.

Mizuki, yang tidak pernah berusaha mendekati gadis mana pun lebih dari yang perlu.

Dan Akiyama juga sama, tidak pernah dekat secara khusus dengan siapa pun.

Aku tidak pernah membayangkan kedua orang itu bisa pergi bersama sepulang sekolah. Bahkan setelah kami berempat mulai sering nongkrong bersama pun, mereka jarang sekali berinteraksi langsung.

“Akiyama...”

Meski tahu ini perbuatan yang buruk, aku tetap tidak bisa berhenti mengawasinya.

Sekilas terlihat seperti Mizuki saja yang terus bicara. Reaksi Akiyama tampak datar. ...Dan entah kenapa, melihat itu justru membuatku lega.

“Jangan-jangan kamu lagi berpikir, ‘Nggak mungkin Akiyama mau membuka diri pada cowok selain aku...?’”

“Itu tiruan diriku?”

“Lumayan mirip, kan? Soyoka-chan juga suka, lho.”

“Kalian berdua kapan mulai main begituan!? Ugh, aku nggak mungkin melakukan hal seperti itu!”

Hiiragi menjulurkan dagunya aneh sekali, seolah sedang meniru wajahku juga. Aku memang begitu, ya?

Suaranya sama sekali tidak mirip denganku, dan kata-katanya juga meleset jauh.

“Ah, kamu menghindari pertanyaan.”

“...Bukan, cuma karena tebakanmu terlalu melenceng sampai nggak perlu dijawab.”

“Hehe, gitu ya?” Hiiragi terkekeh pelan.

Tentu saja. “Cowok selain aku” itu membuatnya terdengar seolah aku cemburu.

Meski akal sehatku menyangkal, tetap saja aku terus memperhatikan ekspresi Akiyama saat berbicara dengan Mizuki.

Tenggorokanku terasa sempit, dan panas perlahan menyebar di belakang telingaku. Suara-suara di sekitarku terdengar samar. Ternyata aku lebih terguncang daripada yang kukira.

Kenapa? Toh bukan urusanku Akiyama akrab dengan siapa.

“Menurutku itu bukan cara pikir yang aneh. Aku juga ingin punya Mizuki untuk diriku sendiri, dan aku nggak mau dia bicara dengan orang lain. Karena... aku suka dia.”

“...Bukannya itu menuntut sesuatu yang salah dari Mizuki? Dia bukan tipe yang setia, kan.”

“Aku tahu. Tapi kan nggak ada salahnya cuma memikirkannya?”

Ngomong-ngomong, bukankah itu yang dulu jadi sumber masalahnya dengan Akiyama? Dia tidak suka melihat Akiyama mendapat perlakuan spesial dari Mizuki tanpa perlu berusaha menyenangkan hatinya.

Mungkin itu memang bagian normal dari perasaan cinta.

Aku ingin jadi satu-satunya yang mengenalmu. Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri. ...Bukan berarti aku sama sekali tidak pernah merasakan hal itu.

“Kalau aku... bukan seperti itu. Aku cuma berpikir sayang saja kalau Akiyama sampai tertipu cowok seperti Mizuki.”

“Ya, ya, jadi kamu nggak mau Mizuki mengambil dia. Kamu sudah jatuh cinta.”

“Itu bukan...”

Tepat saat aku hendak menyangkal, kereta sampai di sebuah stasiun dan berhenti.

Di sudut mataku, aku melihat Akiyama dan Mizuki mulai bergerak.

“Ah, sepertinya Mizuki dan mereka turun!”

“Minggir!” seru Hiiragi sambil berlari keluar dari kereta.

Apa ini benar-benar ide bagus untuk terus mengikuti mereka? pikirku, tapi tetap saja aku ikut turun.

Ini beberapa stasiun dari sekolah. Tidak sejauh Yokohama, tapi cukup seperti area tempat orang datang untuk sedikit belanja.

“Kita kejar mereka!”

“Kita lari lagi...?”

Aku benar-benar tidak mau olahraga di tengah musim panas begini.

Saat kami berlari menaiki tangga, terlihat dua orang itu baru saja melewati gerbang tiket.

Kenapa aku sampai berlari segitunya?

Karena Hiiragi yang menyuruh?

Itu memang salah satu alasannya, tapi sejujurnya aku juga ingin tahu. Bukan soal Akiyama dan Mizuki, melainkan tentang perasaan samar yang sedang mengambang di dalam diriku ini.

“Tapi ya,” kata Hiiragi sambil melirik ke arahku saat kami berlari.

“Menurutku kalian cocok, lho. Sumi dan kamu, Kuremocchan.”

Dia menepuk pundakku seolah berkata, “Semangat.”

Tidak membantuku sama sekali kalau dia bilang kami cocok. Aku tidak punya perasaan seperti itu.

...Atau setidaknya, seharusnya tidak.

Tapi entah kenapa, dadaku terasa sedikit lebih ringan.

“Hah? Mereka berhenti.”

“Iya.”

Akiyama dan Mizuki berhenti di depan papan petunjuk gedung stasiun.

Sementara itu, aku dan Hiiragi bersembunyi di balik sebuah pilar tidak jauh dari mereka.

...Ini benar-benar gambaran sempurna dua orang stalker.

“Hmm, berdasarkan deduksiku, mereka berdua tersesat.”

“Tapi mereka nggak kelihatan sedang melihat peta.”

“Aku tahu! Obrolan mereka terlalu seru sampai mereka mau cari tempat buat bicara lebih lama lagi. Menyakitkan sekali...”

“Dia malah kena damage dari kata-katanya sendiri.”

Kondisi mental Hiiragi benar-benar naik turun.

Hiiragi suka Mizuki. Aku memang tahu itu, tapi selama ini yang kulihat darinya cuma sisi tangguhnya saja. Ternyata dia benar-benar banyak memikirkannya.

“Bukannya Hiiragi yang biasanya pasti langsung nyamperin dan bicara pada mereka daripada bersembunyi begini? Aku pulang saja, jadi kamu lanjut sendiri.”

“Mmm... mungkin dulu iya. Tapi sekarang, sejak aku memutuskan buat menyatakan perasaan, aku jadi agak takut. Aku nggak mau dia membenciku gara-gara melakukan hal yang nggak perlu. Dan kalau dia menolakku, aku rasa aku nggak bakal bisa bangkit lagi.”

“Begitukah?”

“Begitulah.”

Sambil berbisik-bisik, kedua orang itu tetap tidak bergerak.

Gedung itu tersambung langsung dengan stasiun dan berisi berbagai toko, terutama pakaian dan aksesori. Tempat yang sempurna untuk belanja. Tapi mereka tidak kelihatan hendak berbelanja, cuma berdiri di sana saja.

Mereka tampaknya sesekali bercakap-cakap, tapi tidak terlalu antusias.

Beberapa menit berlalu dan situasinya tidak berubah.

“Apa yang sedang terjadi?”

Aku melirik Hiiragi.

Akiyama dan Mizuki tidak bergerak. Rasanya seperti mereka sedang menunggu seseorang...

“Lho, kalau bukan Hiiragi-san dan Kuremoto-kun.”

Tepat saat itu, suara yang sangat kukenal terdengar dari belakang kami.

Kami berdua langsung menoleh.

“Hah? Kiji-chan?”

Hiiragi menutup mulutnya dengan mata membelalak.

Yang berdiri di sana adalah Kijimura-sensei, yang baru saja berpisah dengan kami di sekolah.

“Sensei, kenapa Anda ada di sini...?”

Saat kami membeku, Sensei memiringkan kepala ke arah kami.

Lalu, seolah baru menyadarinya, dia menepukkan kedua tangannya.

“Oh! Kalian pacaran, ya? Aku sama sekali nggak tahu~. Maaf sudah mengganggu. Ah, masa muda. Indah sekali. Sementara aku bahkan tidak punya pasangan.”

Dia heboh sendiri, lalu murung sendiri. Emosinya benar-benar seperti roller coaster...

Hiiragi yang biasanya lincah kini malah membeku total, jadi aku maju selangkah.

“Kami tidak pacaran... Oh, tapi tolong rahasiakan ini!”

Alasan aku dan Hiiragi bersama di sini adalah karena kami sedang membuntuti Akiyama dan Mizuki.

Kalau sampai itu ketahuan, bakal gawat.

“Rahasia! Betapa skandalnya!”

“Oi, guru.”

Kenapa dia malah teriak-teriak begitu?

Dan aku benar-benar butuh dia untuk diam. Soalnya sekarang kami ini sedang bersembunyi...

Tapi kepanikanku ternyata tidak bertahan lama.

“Oops...” gumam Hiiragi sambil memegangi kepala.

Tatapannya tertuju ke balik pilar tempat kami tadi bersembunyi.

“Ky-Kyouta?”

Aku mendengar suara Akiyama yang terdengar tercengang.

Terbawa oleh suara itu, aku ikut menoleh.

“Akiyama...”

Akiyama dan Mizuki, yang seharusnya berada cukup jauh, kini berdiri tepat di dekat kami.

Selesai sudah...

“Um, jadi gini...”

“...!”

Saat aku menatap Akiyama untuk mencoba mencari alasan, dia malah tersentak. Lalu seolah ingin melarikan diri, dia mundur dan bersembunyi di belakang Mizuki.

Eh, apa sekarang dia benar-benar membenciku?

“Oh, Amaya-kun dan Akiyama-san, hai. Maaf aku terlambat. Ceramah untuk Kuremoto-kun tadi agak lama. Gara-gara itu, aku malah nggak sempat mengerjakan pekerjaan apa pun.”

“Nggak apa-apa. Kami juga baru sampai kok,” jawab Akiyama pada Sensei.

“Jadi ternyata begitu...”

Orang yang mereka tunggu adalah Kijimura-sensei. Dan saat dia datang, dia malah menemukan kami sedang bersembunyi di dekat situ.

“Hah? Jadi maksudnya apa?” tanya Hiiragi.

“Urusan pengurus kelas. Kamu tahu kan, setelah liburan nanti ada festival sekolah dan semacamnya? Kiji-chan minta kami ikut belanja perlengkapannya. Katanya dia juga ingin dengar pendapat murid,” jelas Mizuki kepada Hiiragi yang masih kebingungan.

Sangat mudah dilupakan, tapi Akiyama itu ketua kelas dan Mizuki wakil ketua kelas. Ditambah lagi ada Kijimura-sensei, jadi jelas ini memang urusan pengurus kelas.

“Oh, jadi begitu~! Jadi pengurus kelas ternyata capek juga, ya!”

Setelah tahu kenapa Akiyama dan Mizuki bersama, Hiiragi langsung kembali ceria. Dia mulai mengobrol riang dengan Mizuki.

Kami tadi membuntuti mereka demi tahu kenapa mereka bersama, dan misteri itu sekarang sudah terpecahkan. Masalahnya, kami ketahuan.

Akiyama masih juga tidak mau menatap mataku.

Ya, sesekali dia memang melirik ke arahku, tapi begitu aku menatap balik, dia langsung mengalihkan pandangan. Sepertinya sekarang dia benar-benar tidak suka padaku...

Yah, wajar saja. Siapa pun pasti tidak nyaman kalau tahu dirinya dibuntuti.

“Mmm... jadi gimana ya, hubungan anak-anak zaman sekarang cepat sekali berkembang sampai aku sama sekali nggak paham.”

“Sensei juga masih muda, Kiji-chan.”

“Hmph. Dibanding kalian, aku ini wanita tua. Oh iya, karena Kuremoto-kun ada di sini, mungkin aku suruh dia bawakan semua belanjaan kita!” Kijimura-sensei yang tadi sedang mengobrol dengan Mizuki menepukkan tangan seolah baru mendapat ide cemerlang.

“Kenapa cuma aku...?”

Situasi ini canggung sekali, dan aku benar-benar ingin secepat mungkin pergi dari sana.

Akiyama yang diam seperti itu terlalu menakutkan.

Tapi Mizuki menepuk pundakku, memberi tekanan diam-diam. Saat kutatap wajahnya, dia sedang menyeringai lebar sekali.

“Aku nggak akan membiarkanmu kabur.”

Orang ini, dia paham apa yang sedang terjadi dan menikmatinya...!

“Kamu lumayan playboy juga ya, Kyouta.”

“Nggak ada apa-apa antara aku dan Hiiragi...?”

“Aku bukan bicara soal Hikaru.”

Wajah Mizuki yang penuh kemenangan itu menyebalkan sekali.

“Menurutmu tadi kami ngobrol soal apa sebelum Kiji-chan datang?”

“...Itu nggak ada hubungannya denganku.”

“Kamu bisa ngomong begitu dengan wajah semenakutkan itu, tapi... yah, ini lucu, jadi aku nggak akan kasih tahu.”

Sementara kami membuntuti mereka tadi... kurasa Mizuki dan Akiyama memang hanya berbicara biasa. Karena mereka sekelas, tentu banyak yang bisa dibicarakan, tapi aku sulit membayangkan Akiyama akan mempertahankan percakapan selama itu kalau dia tidak tertarik.

Aku penasaran... Tapi Mizuki jelas tidak berniat memberitahuku, dan memang bukan tempatku juga untuk bertanya soal percakapan orang lain.

Apa pun yang dibicarakan Mizuki dan Akiyama, itu tidak ada hubungannya denganku, dan aku juga tidak punya hak untuk mengetahuinya.

“Kalau begitu sudah diputuskan! Belanja sepulang sekolah dengan murid-murid imut. Astaga, terdengar seperti aku guru yang baik sekali! Apa ini masa mudaku?”

Dengan ucapan mengecewakan yang sepenuhnya merusak suasana serius dari pembicaraan tadi di ruang guru, Kijimura-sensei pun mulai berjalan.

Belanja berlima bersama kami selesai dalam waktu sekitar satu jam. Tapi itu satu jam neraka.

Sepertinya mereka memang sudah memutuskan apa yang akan dibeli. Karena aku orang luar, aku diam saja menjalankan tugasku sebagai pembawa barang. Yang dibeli sebagian besar barang habis pakai seperti kertas warna dan selotip, jadi sebenarnya tidak terlalu berat.

Yang berat justru suasananya.

Selama belanja, aku beberapa kali mencoba mengajak Akiyama bicara, tapi dia selalu menghindar.

Sebaliknya, Hiiragi yang mungkin sudah bisa menerima situasinya justru asyik mengobrol dengan Mizuki. Padahal sebagian besar semua ini salahmu juga, tahu...?

Aku sempat khawatir Hiiragi dan Akiyama akan bertengkar lagi, jadi setidaknya untuk hal itu aku lega. Ternyata guru memang hanya meminta mereka ikut membantu, bukan pergi berkencan. Kecemasan Hiiragi tadi ternyata tidak berdasar.

Setelah itu, karena aku dan Akiyama punya sepeda di stasiun, kami ditawari nebeng mobil Sensei.

“Nggak, saya naik kereta saja nggak apa-apa.”

“Jangan sungkan. Ternyata kamu perhatian juga ya, Kuremoto-kun.”

“Itu bukan ternyata sama sekali, saya memang master perhatian, tapi kali ini bukan karena sungkan.”

“Nggak apa-apa, nggak apa-apa.”

Aku mencoba menolak, tapi Kijimura-sensei tetap memaksa.

Kami berpisah dengan Mizuki dan Hiiragi di stasiun, lalu menuju tempat parkir bersama Sensei.

“Akiyama, soal hari ini...”

“...Jangan ajak bicara aku sekarang.”

“Maaf.”

Setiap kali aku mencoba bicara padanya, jawabannya selalu itu.

Dia akan memalingkan wajah dan mundur satu langkah.

Apa hubungan kami benar-benar ter-reset total? Ini jarak yang biasanya dipakai untuk orang asing.

Atau bukan orang asing, melainkan musuh?

Dalam suasana canggung seperti itu, kami sampai di mobil. Mobilnya kei car warna oranye.

“Kamu tahu, sebenarnya aku ini pengemudi yang cukup baik. Soalnya aku nggak pernah punya pacar yang bisa nyetirin aku...”

Dia barusan mengucapkan sesuatu yang agak menyedihkan...

Kijimura-sensei duduk di kursi pengemudi, dan Akiyama duduk di kursi penumpang. Aku berada di kursi belakang, tepat di belakang Sensei.

Dari posisi ini, bahkan ngobrol pun tidak mungkin. Aku malah merasakan sedikit kelegaan karenanya dan menghabiskan waktu dengan menatap ke luar jendela.

Akiyama menjawab obrolan ringan Sensei dengan nada datar. Namun percakapan itu tidak pernah benar-benar mengalir.

“Ugh, udara di dalam sini berat sekali... jangan-jangan aku melakukan sesuatu ya?”

Maaf, Sensei...

Akhirnya, kami sampai di stasiun terdekat dari sekolah.

Soal kemampuan mengemudi Sensei... demi menjaga kehormatannya, lebih baik aku diam saja.

Begitu kami turun, Sensei menurunkan kaca jendela sisi pengemudi.

“Makasih untuk hari ini~. Jangan terlalu liar selama libur musim panas!”

“Iya. Terima kasih banyak.”

Mengikuti ucapan terima kasih Akiyama yang ceria, aku juga menunduk dan berkata, “Terima kasih banyak.”

“Mengantar murid pulang, aku benar-benar guru yang baik...!” kata Kijimura-sensei pada dirinya sendiri sambil tampak puas menerima ucapan terima kasih kami. Aku mulai merasa kasihan padanya.

“Oh, dan Kuremoto-kun, pastikan kamu menyerahkan itu, ya?”

“Iya.”

“Bagus.”

Setelah mengangguk puas sambil menutup jendela, Sensei pun melajukan mobilnya pergi.

Akhirnya selesai juga. Sekarang tinggal menjemput Soyoka dari TK lalu pulang.

Setelah mengantar kepergian mobil Sensei dengan pandangan, Akiyama langsung berjalan menuju parkiran sepeda tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.

Di stasiun ini cuma ada satu tempat parkir sepeda. Kemungkinan besar kami memang memarkir di tempat yang sama.

“Jangan ikuti aku.”

“Yah, aku juga memang mau ke sana...”

Akiyama berjalan cepat seperti sedang melarikan diri dariku. Jadinya aku malah kelihatan seperti stalker.

...Bukan cuma “seperti” sih, karena aku memang benar-benar tadi membuntutinya.

Akiyama kelihatannya cukup marah, jadi mungkin sebaiknya aku minta maaf.

“Akiyama, maaf! Jarang banget lihat kamu dan Mizuki bersama, jadi aku penasaran kalian lagi ngapain! Hiiragi yang ngajak ngikutin kalian, dan aku ikut saja. Maaf.”

“Nggak apa-apa. Itu nggak penting,” kata Akiyama sambil berhenti melangkah.

Begitu aku minta maaf, dia langsung berhenti.

Dan dia memaafkanku semudah itu. Atau lebih tepatnya, reaksinya malah membuatnya terlihat seperti memang tidak terlalu peduli sejak awal.

“Hah? Bukannya kamu marah?”

“Aku nggak marah. Cuma...!”

Dia sempat mau mengatakan sesuatu, lalu menutup rapat bibirnya. Rasanya aku melihat samar-samar rona merah di pipinya.

“Nggak apa-apa.”

“Serius deh... maksudnya apa coba?”

Jadi dia tadi bersikap dingin padaku tanpa alasan jelas.

Antara dia dan Soyoka, mungkin memang sudah takdirku untuk diperlakukan dingin. Menyedihkan sekali.

Entah karena permintaan maafku berhasil atau karena alasan lain, suasana berat itu terasa sedikit mencair.

Tetap saja, hampir tidak ada percakapan. Begitu saja kami sampai di tempat parkir sepeda stasiun. Dan benar saja, tempatnya sama.

Kami masing-masing mengambil sepeda lalu mendorongnya ke jalan.

Tepat ketika kami hendak naik...

Akiyama menatapku.

“Kyouta, kamu tahu...”

“Hmm?”

“Menurutmu bagaimana kalau aku, umm, bersikap manja dan bergantung padamu...?”

“Hah?”

Entah kenapa, Akiyama tampak gelisah dan malu. Tiba-tiba kenapa dia...?

Akiyama bersikap manja? Hah, ini eksperimen pikiran atau apa?

Ini buruk. Kalau aku menjawab sembarangan di sini, amarah yang tadi susah payah reda bisa menyala lagi.

“Jangan bercanda. Kamu bersikap manja padaku? Saking mustahilnya sampai malah terasa seram.”

“...Aku pulang.”

“Aku bercanda! Kalau kamu manja padaku aku pasti senang banget! Sini, lompat ke pelukanku!”

“Nggak.”

Yang mana jawaban yang benar!?

Ugh, kukira dia cuma anak SMA brocon yang kikuk, tapi kalau Iku tidak terlibat, aku benar-benar tidak paham isi kepalanya.

Yang jelas untuk saat ini, aku tahu aku sudah memilih jawaban yang salah. Memangnya ada jawaban benar dari awal?

“Pokoknya, aku juga pulang.”

Satu-satunya yang berbeda dari biasanya cuma titik kami memulai perjalanan.

Kami berdua akan mengayuh mamachari menuju TK untuk menjemput anak-anak. Rutinitas harian yang sama seperti yang terus kami ulangi sepanjang musim semi dan musim panas.

“Kyouta.”

“Apa lagi kali ini?”

“Selama libur musim panas, ayo sering-sering main bareng. Demi Iku dan Soyoka-chan.”

“O-Oh. Iya. Benar juga.”

Begitu aku menjawab, pipi Akiyama mengendur jadi senyuman, lalu dia mengayuh sepedanya pergi.

Demi Soyoka dan Iku... ya, memang begitu.

Meski aku tahu itu, jantungku tetap saja berdebar saat membayangkan akan sering bertemu Akiyama selama libur musim panas nanti.

Aku memandang rambutnya yang berkibar tertiup angin sejenak, lalu menekan pedal sepedaku sendiri.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa