“Onii-chan, kamu putus sekolah...?” tanya Soyoka dengan wajah syok, sampai-sampai selimut kecil yang sedang dipegangnya jatuh.
Sudah beberapa hari berlalu sejak libur musim panas dimulai, dan itulah reaksi Soyoka saat sadar aku ada di rumah setiap hari.
“Kamu belajar yang bener? Kamu udah bilang maaf?”
“Adik perempuanku benar-benar khawatir padaku!?”
“Pergi sekolah!”
“Tunggu, kamu marah ya?”
Dia mengira kakaknya jadi pengangguran...
Memang sih, aku sering berpikir ingin berhenti sekolah dan mendedikasikan hidupku sepenuhnya untuk Soyoka, tapi aku sama sekali tidak berniat putus sekolah sungguhan.
Kalau melihat reaksinya begini, sepertinya dia memang tidak mau punya kakak seorang NEET.
“Tenang, Soyoka. Ini cuma libur musim panas.”
“Libur musim panas! Sama Soka!”
“Betul! Karena kita sama-sama libur, kita bisa main sepuasnya!”
“Nggak bisa. Soka yang akan main!”
Soyoka mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan mendeklarasikan itu.
Ya, ya, syukurlah semangatnya sudah balik lagi.
Bangun pagi lalu santai bareng Soyoka. Rasanya benar-benar luar biasa.
“Jadi ini yang namanya kebahagiaan...”
Aku telah mencapai pencerahan.
Posisi nomor satu dalam peringkat kebahagiaan dunia jelas sudah jadi milikku.
Saat aku memejamkan mata sambil menikmati momen itu, Soyoka merapat padaku.
“Onii-chan, kamu ngantuk? Mau bobo?”
“Aku nggak mau tidur.”
“Soka mau bobo. Bobok.”
Sambil mengerahkan tenaga kecilnya, Soyoka duduk di pangkuanku lalu menyandarkan tubuh.
“Honk mimik.”
“Soyoka, orang tidur itu nggak benar-benar bilang ‘honk mimik’.”
“Honk gogogogo.”
“Itu apaan?”
“Aku lagi niru Onii-chan.”
“Dengkuran aku memang seberisik itu?”
Nggak mungkin, syok banget...
Jangan-jangan Soyoka selama ini mengira dengkuranku keras. Padahal aku merasa aku tidur super tenang tanpa suara sedikit pun.
Sebagai tambahan, napas lembut Soyoka saat tidur dan wajah tidurnya itu imut luar biasa.
“Soka nggak ngantuk!”
“Ya jelas, soalnya kamu tidurnya banyak. Pokoknya, sebentar lagi kita berangkat. Saatnya radio taisou.”
Meskipun sekarang lagi libur musim panas, aku tidak mau merusak ritme hidup bagus yang sudah dia bangun sejak masuk taman kanak-kanak. Dia sudah terbiasa hidup teratur karena TK, jadi sayang sekali kalau kebiasaan itu hilang. Lagi pula nanti saat liburan selesai, semuanya malah akan lebih repot.
Karena itu, kami memutuskan ikut radio taisou yang diadakan di taman dekat rumah.
Acara itu diselenggarakan oleh warga sekitar, dan siapa pun bebas ikut, dari anak-anak sampai lansia.
“Wadio?”
“Kemarin sudah kubilang, kan...? Kita menggerakkan badan mengikuti musik yang keluar dari radio.”
“Kayaknya seru...! Wadio itu apa?”
“Jangan-jangan kamu memang belum pernah dengar radio...? Ini namanya beda generasi!”
Di rumah kami cuma ada TV, jadi memang wajar kalau dia belum pernah punya kesempatan mendengar radio. Tidak heran dia tidak tahu.
Meski namanya radio taisou, sebenarnya mereka cuma memutar CD dengan stereo. Mesin seperti itu pasti pernah dia lihat di TK.
Lagipula, aku sendiri juga jarang dengar radio.
“Soka akan melakukan wadio.”
“Baik, ayo kita lakukan.”
Karena Soyoka menunjukkan minat, rencana jalan pagi kami pun langsung diputuskan.
Kami ganti dari piyama ke pakaian olahraga.
Soyoka mengenakan kaus biasa dan rok seperti biasanya.
“Soyoka, kalau mau keluar rumah di musim panas, apa yang harus kita lakukan?”
“Kalau mau keluar? Pakai sepatu!”
“Itu juga benar! Tapi sebelum itu, ayo pakai sunscreen dulu.”
Akan jadi bencana kalau kulit kenyal Soyoka sampai rusak.
Aku mengeluarkan lotion dalam jumlah banyak lalu melapisi kulit Soyoka dengannya.
“Nah, selesai.”
“Lengket~”
“Nanti juga cepat kering kok, nggak apa-apa.”
“Ugh,” kata Soyoka sambil mengerutkan wajah.
Aku sendiri tidak pernah pakai sunscreen, tapi kulit Soyoka akan kulindungi!
“Berangkat!”
Soyoka yang sudah memakai sepatu sneakers dengan semangat membuka pintu depan.
Padahal masih pagi, tapi sinar mataharinya sudah terik. Memang musim ini matahari sedang semangat-semangatnya...
Tentu saja Soyoka, yang bersinar seperti matahari dan menerangi dunia, juga sudah penuh energi sejak pagi.
“Aku penasaran apa ada kumbang?”
“Ya, aku juga penasaran.”
“Kalau kumbang tanduk?”
“Kamu suka serangga, Soyoka? Semoga kita ketemu ya.”
“Aku nggak suka~”
Jadi ternyata nggak suka...
Rasa ingin tahu Soyoka memang menjalar ke segala hal, jadi serangga pun menurutnya menarik. Entah kenapa, makin besar anak-anak biasanya makin tidak suka serangga... semoga saja dia tetap menjaga kepekaan polosnya yang sekarang.
“Itu dia.”
Taman itu berjarak beberapa menit jalan kaki, letaknya di tengah-tengah antara rumah kami dan taman kanak-kanak.
Begitu kami masuk, sudah ada hampir sepuluh orang berkumpul di sana. Kebanyakan anak SD, ditambah beberapa orang dewasa yang tampaknya orang tua atau panitia. Sepertinya memang tidak ada anak TK lain selain Soyoka.
“Soka akan menang.”
“Di radio taisou nggak ada menang atau kalah.”
Melihat anak-anak lain sudah berkumpul, entah kenapa Soyoka salah paham dan semangat tempurnya langsung menyala.
Setelah menunggu sebentar, waktunya pun dimulai.
Semua orang berdiri menyebar di taman dengan jarak yang cukup satu sama lain.
“Soka akan berdiri di tengah!”
“Tentu saja. Di mana pun Soyoka berada, di situlah pusat bumi.”
Saat Soyoka berbaris dengan penuh semangat, banyak tatapan hangat tertuju padanya.
Bahkan panitianya juga bilang, “Imut sekali ya~.” Betul. Adik perempuanku memang imut.
Tapi kamu, bocah SD yang dari tadi terus menatap Soyoka. Aku paham kamu sudah jatuh hati, tapi aku tidak akan mengizinkannya.
“Onii-chan, pergi ke sana!”
Saat aku sedang memberi tekanan mental pada bocah SD itu dari belakang Soyoka, dia malah marah padaku.
“Aku akan melihat dari depan, jadi kamu tinggal meniru ibu-ibu yang lebih tua, ya?”
“Onii-chan nggak ikut melakukannya?”
“Nggak. Aku punya tugas penting lain...”
Tentu saja aku sudah siap dengan menonton video gerakannya sebelumnya, tapi aku tidak bisa meninggalkan misi utamaku.
Benar sekali, tugasku adalah mengabadikan Soyoka yang sedang senam.
Tentu saja aku bahkan sudah mengincar posisi terbaiknya dari awal.
Saat aku mulai menyiapkan tripod sambil bersembunyi di balik semak, seorang panitia menghampiriku.
“Karena ada anak-anak lain juga, jadi...”
“Iya. Maaf.”
Aku langsung ditegur.
Ugh, kalau begitu aku cuma bisa membakar pemandangan ini ke dalam retina mataku!
“Baik, mari kita mulai~”
Bersamaan dengan ucapan panitia, radio taisou pun dimulai.
Astaga, kalau Soyoka melakukan senam seperti ini, bukankah bakatnya akan mekar? Medali emas senam sudah ada di tangan.
“Tangan di pinggang~, sekarang gerakan tawa jahat penjahat~. Mwahahaha~”
“Mwahahaha~”

...Hm?
“Bungkukkan badan ke depan~, sekarang gerakan penjahat memohon ampun~. Ampuni aku~”
“A-ampuni aku~”
...Sebentar?
“Angkat kedua tangan~, sekarang gerakan transformasi penjahat~. Roaar~”
“Woaar~”
Orang dewasa di depan memperagakan, anak-anak menirukannya. Semua orang menggerakkan badan dengan ekspresi yang benar-benar biasa saja. Tapi...
“Ini bukan radio taisou yang aku kenal!”
Kenapa semua orang begitu gampang beradaptasi?
Jangan-jangan sekarang ini memang hal normal?
Saat aku diam-diam melirik, di kotak CD tertulis “Radio Taisou Penjahat”.
Apaan itu... Apa aku tanpa sadar tersesat ke dunia paralel...?
“Belakangan ini partisipasi anak-anak dalam radio taisou memang terlihat menurun. Ini adalah upaya supaya mereka lebih bisa menikmatinya,” jelas seorang panitia padaku yang masih tertegun.
Aku benar-benar tidak paham kenapa temanya harus penjahat, tapi kalau alasannya begitu, ya agak bisa kuterima.
...Tapi ini benar-benar tidak apa-apa, kan?
“Seru! Woaar~!”
Yah, karena Soyoka kelihatannya senang, mungkin tidak masalah.
Sambil kebingungan dengan audio aneh itu, aku terus mengamati gerakan Soyoka.
Yang aneh cuma audionya; gerakannya sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dari radio taisou biasa. Tetap senam yang menggerakkan dan meregangkan seluruh tubuh.
Soyoka cuma menirukan apa yang dia lihat, tapi ternyata dia cukup pandai.
Bisa melihat pertumbuhan Soyoka saja sudah cukup membuat acara radio taisou ini terasa layak diikuti.
“Radio Taisou Penjahat selesai~. Kalian akan menyesal~”
“Kalian akan menyesal~!”
Bukan bos terakhir, lebih terasa seperti penjahat receh ya...?
Pokoknya, radio taisou itu akhirnya selesai juga dengan aman.
Soyoka berlari kecil menghampiriku.
“Soka akan jadi penjahat!”
“Dia benar-benar terpengaruh!”
Seperti yang diduga dari Soyoka, dia memang gampang menyerap hal-hal baru.
“Mwahahaha~” dia tertawa sambil melengkungkan badan ke belakang. Sepertinya itu frase favoritnya.
“Soyoka, kelihatannya kita bisa dapat cap.”
“Cap?”
Anak-anak SD tadi sedang berbaris di meja penerimaan.
Setelah antreannya agak sepi, aku dan Soyoka ikut mendekat.
“Cap, dong!”
“Ah, dia belum punya kartu. Bisa sekalian minta satu?”
Ternyata sistemnya, setiap datang radio taisou kita akan dapat satu cap. Kalau cap-nya terkumpul banyak, nanti bisa dapat hadiah kecil.
Soyoka menerima kartu cap yang digantung di leher. Di atasnya, cap berbentuk bunga tampak mencolok.
“Apakah Soka menang?”
“Iya, itu kemenangan mutlak Soyoka.”
“Soka paling kuat.”
Soyoka memang suka hadiah-hadiah sederhana seperti ini, jadi dia tampak senang mendapat cap.
Semoga selama libur musim panas nanti kami masih bisa datang beberapa kali lagi.
...Meski aku juga belum yakin kalau setiap kali isinya bakal selalu “Radio Taisou Penjahat”.
Bisa bahaya kalau Soyoka malah bercita-cita jadi villainess. ...Tapi hidup dipermainkan oleh Soyoka juga terdengar tidak buruk, sih?
“Soka lagi transformasi~. Woaar~”
“Jadi berubah jadi apa?”
“Hii-chan!”
“Kurasa Hikaru-nechan nggak pernah bilang ‘woaar’ deh...”
Aku tertawa kecil lalu mengusap kepala Soyoka.
Ah, gara-gara terlalu terdistraksi oleh kedahsyatan isi acaranya, aku malah lupa merekamnya diam-diam.