Adik perempuanku adalah yang paling imut di dunia.
Aku memutuskan menghabiskan waktu sebelum pelajaran dimulai dengan melihat foto-foto Soyoka.
Lihat saja foto yang kuambil tadi pagi ini!
Dia lagi asyik menyumpal mulut dengan roti, mirip tupai banget. Dan lebih hebatnya lagi, terjadi fenomena supranatural berupa selai yang entah bagaimana bisa nempel di dahinya. Jenius bukan, sih?
“Guhehehe... Soyoka hari ini juga imut banget...”
Dia malaikat. Seorang malaikat sedang tersenyum padaku. Ah, pantas saja musim semi terasa hangat. Pasti karena adik perempuanku sedang tersenyum.
Sejak lahir dia memang sudah imut, tapi makin besar malah makin bertambah imut.
Kuremoto Soyoka saat ini berusia tiga tahun. Dia benar-benar adik kandungku, dan musim semi ini akan mulai masuk TK. Sementara aku, Kuremoto Kyōta, adalah anak SMA berusia enam belas tahun yang baru naik ke kelas dua. Artinya, jarak usia kami tiga belas tahun.
Aku sudah tidak sabar melihat dia akan tumbuh jadi gadis seperti apa selama tiga tahun masa TK-nya nanti. Tapi di saat yang sama, ada juga bagian dari diriku yang ingin dia tetap seperti sekarang saja.
“Lihat, itu Akiyama-san.”
“Cantik banget seperti biasanya hari ini...”
Saat aku sedang larut memikirkan Soyoka, suasana kelas mulai ribut.
Siapa yang berani-beraninya mengganggu waktu bonding batinku?
Aku mengangkat kepala untuk melihat apa yang terjadi, dan langsung paham.
Seorang siswi baru saja masuk ke kelas.
“Aku masih nggak percaya bisa sekelas sama Akiyama-san.”
“Akiyama-san keren banget...”
Suara-suara kagum bermunculan dari berbagai sudut kelas.
Begitu dia melangkah masuk lewat pintu depan, suasana ruangan langsung berubah total.
Cara berjalannya saja terasa seolah membuat ruang di sekitarnya berubah menjadi sesuatu yang tak nyata.
“Kayak model...”
Rambut hitamnya yang panjang sampai pinggang bergoyang lembut bak sutra. Berbanding terbalik dengan itu, matanya yang tajam berbentuk almond dan ekspresinya yang tegas sama sekali tidak goyah. Dia pun tampak tidak peduli sedikit pun karena jadi pusat perhatian.
Kaki jenjang nan ramping, tubuh tinggi, postur langsing, dan wajah yang halus nan rupawan. Semuanya berpadu dalam keseimbangan yang nyaris sempurna, menghadirkan kecantikan bak karya seni.
Bahkan dadanya yang tidak terlalu menonjol justru semakin menegaskan pesona rapuhnya.
Namanya Akiyama Sumi. Dia adalah gadis cantik yang dikenal semua orang seangkatan kami.
Bukan cuma dikaruniai wajah yang luar biasa, dia juga seorang jenius yang selalu menempati peringkat satu dalam setiap ujian reguler di angkatan kami.
Definisi cantik sekaligus pintar. Gadis idaman semua orang. Penilaian itu sama sekali tidak berlebihan.
Aku sudah sering dengar rumor tentangnya sejak kelas satu, tapi baru sekarang aku sadar kalau auranya sebesar ini saat benar-benar sekelas dengannya.
Tidak diragukan lagi, tanpa perlu dilebih-lebihkan, dia memang gadis yang sangat cantik.
Tapi... aku sendiri sih tidak terlalu tertarik.
Aku cuma meliriknya sebentar, lalu segera mengembalikan pandanganku ke layar ponsel.
“Mungkin hari ini aku coba ajak dia ngobrol.”
“Sudahlah, dia juga pasti nggak bakal ngeladenin.”
“Iya juga, sih. Dia nggak akrab sama siapa pun. Rasanya kayak hidup di dunia yang berbeda.”
Tahun ajaran baru dimulai beberapa hari lalu. Dan hampir tiap pagi aku mendengar percakapan yang sama.
Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar mencoba mengajaknya bicara.
Akiyama juga terkenal karena tidak pernah dekat dengan siapa pun. Dia memang menjawab seperlunya, tapi pada dasarnya dingin dan ketus. Selalu terlihat sendirian, benar-benar seperti bunga yang tak terjangkau.
Sikap misterius itu malah semakin mendongkrak popularitasnya. Enak ya jadi orang cantik.
Kalau dibilang aku sama sekali tidak tertarik, itu bohong. Aku juga suka perempuan cantik seperti cowok normal lainnya, jadi aku paham kenapa anak-anak cowok ribut begini.
Tapi saat ini aku sedang sibuk memandangi foto adik perempuanku.
“Soyoka... kenapa aku harus jadi anak SMA? Aku pengin jadi roh pelindungmu saja. Kalau begitu aku bisa terus berada di sisimu selamanya.”
Akiyama-siapa-tadi sudah langsung lenyap dari pikiranku.
Memangnya ada hal yang lebih penting di dunia ini daripada Soyoka?
Saat aku sedang berpikir begitu, seorang cowok tampan berhenti di depan mejaku.
“Pagi, Kyōta. Muka menjijikkanmu pagi ini sama seperti biasanya.”
“Oh, Mizuki. Mau bagaimana lagi? Soyoka terlalu imut, sih.”
“Jadi bagian ‘menjijikkan’-nya nggak kamu bantah, ya.”
Amaya Mizuki terkekeh sampai bahunya ikut berguncang.
Dia itu tipe cowok ganteng yang segarnya keterlaluan, sampai rasanya mata bisa silau sendiri. Kalau Akiyama Sumi adalah cewek paling terkenal di sekolah, maka Mizuki adalah cowok yang paling mencolok. Kenapa mereka harus dimasukkan ke kelas yang sama denganku, sih...?
“Yah, obsesi adikmu itu juga bukan hal baru.”
“Aku memang sudah begini sejak hari aku lahir.”
“Bro, umur Soyoka-chan berapa memang?”
Mizuki langsung menyambar dengan balasan tanpa jeda. Memang sudah takdirku jadi seperti ini, bahkan sebelum Soyoka lahir.
Ya ampun. Aku dan Mizuki sudah sekelas sejak tahun lalu, tapi sepertinya dia masih belum mengerti pesona Soyoka.
Dia menjatuhkan diri ke kursi di depanku lalu menyilangkan kaki.
Biasanya kami bakal langsung mengobrol, tapi entah kenapa aku sedang tidak terlalu berminat. Aku mengalihkan pandangan dari Mizuki, berusaha supaya dia tidak melihat ekspresiku yang muram.
“Oi, Mizuki. Rasanya aku sudah nggak punya waktu lagi buat datang ke sekolah.”
“...Oke, aku tanggapi. Kenapa?”
“Kamu tahu sendiri, kan? Besok itu upacara masuk TK Soyoka! Akhirnya dia jadi anak TK juga. Aku seharusnya bolos sekolah demi mempersiapkan semuanya untuk besok.”
“Ya, aku sama sekali nggak ngerti kamu ngomong apa.”
Aku membuka foto Soyoka yang mengenakan seragam barunya, lalu memamerkannya pada Mizuki. Ada dua puluh foto dengan berbagai pose berbeda. Dan itu pun sudah setelah kupilih habis-habisan. Sekalian saja, aku ikut memamerkannya ke murid-murid lain di sekitar kami. Keimutan Soyoka adalah harta nasional. Aku punya kewajiban untuk menyebarkannya.
“Eh, bukannya Soyoka-chan sama sekali nggak lihat ke kamera? Jangan bilang kamu motret diam-diam...”
“Aku kebanyakan motret, jadi dia sampai kesal...”
“Wah. Benar-benar ucapan khas lolicon.”
“Setidaknya panggil aku siscon.”
Memang benar aku mencintai Soyoka, tapi aku jelas bukan lolicon. Satu-satunya yang kucintai cuma Soyoka.
Reputasiku di kalangan siswi adalah, “Katanya Kuremoto Kyōta itu lolicon,” “Mukanya sih lumayan, tapi dia lolicon,” dan “Sebenarnya orangnya baik, cuma sayangnya lolicon.” Ya ampun. Selera mereka benar-benar payah kalau sampai tidak bisa melihat betapa imutnya Soyoka.
“Hahaha. Padahal kamu lumayan ganteng, Kyōta. Kalau kamu menyembunyikan kecenderungan siscon-mu itu, mungkin kamu bakal populer juga.”
Kalau yang ngomong begitu cowok tampan klasik sepertimu, kedengarannya malah menyindir, tahu?”
Lagipula aku juga tidak merasa perlu menyembunyikannya! Keimutan Soyoka itu kebenaran universal.
“Jadi populer itu juga nggak melulu enak, tahu,” kata Mizuki sambil mengangkat bahu dengan senyum kecut.
Kami sudah sekelas sejak tahun lalu, dan cowok ini memang populer banget... sampai ke tingkat yang justru bikin dia sendiri kerepotan.
Tinggi, ganteng, baik hati, perhatian, pokoknya lengkap. Malah aneh kalau dia tidak populer. Belum lagi dia juga dihormati anak-anak cowok.
Dia juga berprestasi di turnamen tenis. Menurutku Tuhan kasih terlalu banyak bonus ke orang ini.
“Oh iya, Mizuki...”
Aku tadinya mau menanyakan soal pelajaran olahraga hari ini.
Tapi saat itu juga, aku merasakan tatapan dari belakang dan langsung menghentikan kata-kataku.
Aku punya firasat buruk.
Aku pelan-pelan menoleh, dan di sana berdiri si bunga cantik penyendiri, Akiyama Sumi.
Dia sedang melihatku... tidak, melihat layar ponselku, dengan alis sedikit berkerut.
“...Suka anak kecil.”
“Hah?!”
Dia bergumam pelan sekali, nyaris tenggelam. Nadanya datar, dingin, dan penuh rasa tidak suka.
Saat aku buru-buru berdiri untuk memprotes, dia sudah lebih dulu membalikkan badan.
Dan tepat pada saat itu, bel tanda kelas dimulai pun berbunyi, membuatku kehilangan kesempatan untuk mengeluh.
Setelah menatap punggungnya dengan linglung sejenak, aku akhirnya menyerah dan duduk kembali.
Jarang sekali Akiyama memulai percakapan dengan siapa pun. Bahkan setelah setahun sekelas pun, aku tidak pernah menyangka kami bakal berinteraksi. Bisa dibilang ini pengalaman yang cukup langka.
Tapi aku jelas tidak setuju dengan isi ucapannya.
Aku sama sekali bukan orang yang suka anak kecil. Aku cuma mencintai adik perempuanku sebagai kakaknya.
