“Nee-chan...”
Iku, yang kubawa pulang menggantikan Akiyama, menatap pintu depan dengan cemas. Sejak kami sampai di rumah, dia memang terus begitu. Dia duduk di lantai dekat pintu masuk, menunggu kakaknya pulang.
Anak-anak itu, ternyata, sangat memperhatikan keluarganya.
Beberapa hari belakangan ini, bahkan dari sudut pandang orang luar pun jelas terlihat kalau Akiyama benar-benar kelelahan. Iku yang tinggal serumah dengannya tentu tahu betul seberapa keras kakaknya sedang memaksakan diri.
“Iku, kakakmu sebentar lagi juga datang, jadi sambil menunggu ayo main di sana.”
“Nggak, nggak apa-apa.”
“Kalau begitu, mau nonton anime?”
Sudah satu jam dia tetap seperti itu.
Kalau semua ini dilakukan demi Iku, tapi ujung-ujungnya justru membuat Iku khawatir, bukankah itu malah jadi kebalikannya.
Aku yakin Akiyama sendiri juga tidak berniat membebani hati Iku. Tapi Iku bukan anak yang cuek atau tak peka. Dia justru sedang khawatir, demi onee-chan yang sangat dia sayangi.
Ada tekad kuat di mata Iku yang polos. Sepertinya dia tidak akan bergeser dari situ sampai kakaknya pulang.
“Iku, ayo main rumah-rumahan.”
“...Nee-chan lagi kerja keras.”
“Sumi-chan?”
“Dia kerja keras buat aku, jadi aku juga harus kerja keras.”
Soyoka, yang memeluk boneka ular yang dibelinya tempo hari, duduk rapi di samping Iku. Dia juga memeluk lututnya dan ikut menatap pintu depan seperti Iku.
“Soka juga akan kerja keras.”
“Mau kerja keras dalam hal apa...”
Tolong jangan lilitkan ular itu ke leher Iku cuma karena dia tidak bereaksi.
Aku rasa duduk menunggu di situ tidak akan ada gunanya, tapi Iku memang tampak gelisah. Aku sempat menyapa mereka berdua, lalu mulai menyiapkan makan malam.
Waktu terus berjalan, sementara Iku tetap diam dan Soyoka mulai bosan lalu mondar-mandir ke mana-mana.
Sedikit lewat pukul enam, interkom berbunyi. Pintu terbuka, dan Akiyama menjulurkan kepalanya masuk.
“Nee-chan.”
“Iku... maaf ya, bikin kamu menunggu.”
Dengan wajah bersalah, Akiyama mengusap kepala Iku yang langsung memeluknya begitu pintu terbuka. Iku tetap diam, hanya menggesekkan pipinya ke tubuh kakaknya.
“Nee-chan, kamu nggak apa-apa?”
“Iya, aku baik-baik saja. Kamu nggak usah khawatir, Iku. Nee-chan-mu ini populer, jadi semua orang mengandalkanku. Sama seperti Iku juga, kan.”
“Beneran?”
“Iya. Nee-chan-mu hebat, kok.”
Kata-kata kosong itu mengalir dengan mulus, seolah-olah sedang membaca naskah. Bukan sepenuhnya bohong sih. Aku jadi bertanya-tanya apakah dia sudah menyiapkan jawaban itu sebelumnya.
“Tapi, Nee-chan...”
“Di TK hari ini gimana? Iku itu ganteng dan imut, jadi pasti populer, ya. Ada anak perempuan yang mendekatimu? Nee-chan jadi khawatir.”
“...Nggak.”
“Oh begitu, syukurlah.”
Didesak oleh ocehan Akiyama yang bertubi-tubi, Iku akhirnya mengangguk dengan enggan. Tapi wajahnya masih muram.
Seorang adik laki-laki yang khawatir pada kakaknya. Dan seorang kakak perempuan yang ingin terlihat keren di depan adiknya.
Aku bisa memahami perasaan keduanya, dan dalam keadaan biasa itu akan terlihat seperti hubungan kakak-adik yang baik. Tapi dalam situasi ini, semuanya justru terasa sangat terdistorsi.
Iku lebih khawatir pada kakaknya daripada siapa pun. Tapi dia juga tidak bisa menyuruhnya berhenti, karena Akiyama pasti tidak akan mau berkompromi.
“Kyōta, terima kasih ya. Aku benar-benar berterima kasih karena kamu menjaga Iku.”
“Ah, itu sih nggak masalah, tapi...”
“Kalau terlalu lama di sini juga tidak sopan, jadi kami pamit dulu. Sudah mulai malam.”
“Nggak, tadi aku bilang aku mau masak. Aku juga sudah telanjur masak, jadi aku yang malah repot kalau kamu menolak.”
Aneh rasanya melihat Akiyama selemah ini. Sindiran pedas yang biasanya dia lontarkan sudah hilang, yang tersisa cuma ekspresi murung.
Yang berdiri di sana sekarang hanyalah seorang gadis lemah dan rapuh.
Tapi bahkan dalam keadaan selemah itu pun, dia tetap berusaha terlihat tegar.
“Tapi...”
“Aku mau makan masakan Kyōta-nii-chan!”
“...Iya juga. Kamu sudah repot-repot masak, jadi aku akan makan.”
Didorong oleh Iku, Akiyama akhirnya menyerah. Dia merapikan sepatu dengan rapi, tapi saat menumpukan tangan ke lutut untuk berdiri, tubuhnya tiba-tiba oleng ke kanan.
“Hei!”
Aku buru-buru mengulurkan tangan. Tanganku tidak sempat menangkapnya, tapi Akiyama reflek menahan tubuhnya ke dinding. Lalu dia berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Kalau sedikit saja terlambat, kepalanya bisa terbentur. Dengan tangan kecilnya, Iku ikut menopang tubuh kakaknya.
“Aku cuma kehilangan keseimbangan sebentar.”
Tatapannya kosong. Sekarang kami sudah masuk ke ruang tamu yang terang, jadi wajah Akiyama terlihat jelas. Keringat menempel di dahinya, dan di bawah matanya ada lingkar hitam yang bahkan tidak bisa ditutupi makeup.
“Sumi-chan, kamu demam?”
Siapa pun bisa melihat kalau kondisi Akiyama sudah tidak normal. Dia hanya sempat memaksakan senyum kecil pada Soyoka, lalu menaruh barang-barangnya dan melipat blazer-nya dengan tangan yang tidak stabil.
“Akiyama, duduk saja dan istirahat. Kamu sibuk, kan?”
“Aku sama sekali nggak sibuk. Aku justru berhasil mengamankan banyak waktu untuk belajar.”
“Dengan mengurangi tidur?”
Memang di sekolah dia punya tugas sebagai ketua kelas. Setelah pulang sekolah, dia harus menjemput Iku dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Semua hal yang tadinya tidak ada dalam rutinitasnya menumpuk dan mencuri waktu belajarnya. Kalau aku yang ada di posisinya, mungkin aku sudah lama menyerah untuk belajar, tapi Akiyama jelas tidak membiarkan dirinya berkompromi.
Dan untuk mencuri waktu itu, satu-satunya yang bisa dia korbankan adalah jam tidurnya.
“Iya. Justru minggu ini adalah puncak yang sebenarnya.” katanya santai, bahkan seolah bangga, sambil membusungkan dada.
Aku jadi bertanya-tanya apakah Akiyama menyadari kalau Iku yang berdiri di sampingnya sedang menatap wajahnya dengan mata berkaca-kaca penuh cemas.
Dia pasti merasa bersalah. Sejak masuk rumah tadi, Akiyama selalu berusaha menghindari kontak mata dengan Iku. Tapi Iku sendiri terus mengkhawatirkan kakaknya lebih dari siapa pun.
Dan meski begitu, Iku tetap tidak bicara. Mungkin karena dia tahu Akiyama memaksakan diri justru demi dirinya. Memang itu sebagian benar, tapi masalahnya adalah Akiyama sudah sampai membuat Iku menyadari hal itu.
Aku tahu, karena Soyoka pun sama.
Anak-anak membaca suasana, lalu berusaha bertingkah seperti anak-anak. Mereka menahan diri supaya tidak merepotkan. Dan yang selalu membuat mereka jadi seperti itu adalah orang dewasa.
“...Kalau kamu nggak tidur, tubuhmu bakal rusak.”
“Aku tidur tiga jam.”
“Hah? Ngomong-ngomong, ini sudah berapa hari?”
“Sekitar seminggu, kurasa...? Kamu nggak usah terlalu khawatir.”
Dari sisi mana pun aku melihatnya, jelas ini tidak baik-baik saja. Kalau kurang tidur, efisiensi belajarnya pasti turun. Mana mungkin dia bisa dapat nilai bagus dalam kondisi seperti itu, dan lebih penting lagi, beban pada tubuhnya jelas besar sekali.
Akiyama berjalan limbung ke arah dapur.
“Aku pinjam celemeknya.”
“Tinggal dipanaskan kok, jadi aku yang kerjakan.”
“Kamu juga sibuk, kan, Kyōta? Kalau kamu saja melakukannya, aku nggak bisa begitu saja bilang aku nggak sanggup.”
Memang benar, keadaan kami sangat mirip. Situasi orang tua kami memang berbeda, tapi soal harus menjaga adik menggantikan orang tua, itu sama. Karena itulah aku bisa berempati dengannya dan merasa ada ikatan sesama pejuang, tapi menurutku tidak bagus kalau dia sampai merasa tertekan gara-gara itu.
Dari awal saja, jadi anak SMA sambil merawat anak kecil itu sudah berat.
“Aku sudah melakukan pekerjaan rumah sejak kecil, jadi aku terbiasa, dan aku juga nggak belajar, semua tenagaku kuhabiskan buat Soyoka.”
“Itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan, sih...”
“P-pokoknya, aku nggak apa-apa. Aku kan pernah bilang, ya? Kita ini harus saling membantu.”
Kurasa dia memang cuma buruk dalam mengandalkan orang lain. Urusan dirinya sendiri, urusan Iku. Dia salah paham dan merasa semua hal yang sedang dia pikul itu harus dia tangani sendirian.
Akiyama meletakkan tangan pada rak tempat celemek-celemek disimpan, lalu jongkok. Dia mengeluarkan celemek yang dulu pernah kupinjamkan padanya.
“Aku berterima kasih untuk bantuanmu hari ini, tapi tetap tidak boleh. Aku harus sempurna. Aku sudah berjanji bakal jadi onee-chan yang baik, onee-chan yang keren, jadi...”
Kata-kata itu keluar bertubi-tubi, seperti gumaman orang setengah mengigau.
Apa dia memang sedang setengah mengigau? Tatapannya bahkan sudah tidak lagi mengarah padaku. Seolah dia sedang berkata pada dirinya sendiri. Dia bergerak murni hanya dengan tekad.
Melihatnya, rasanya terlalu menyakitkan.
“Janji... dengan siapa?”
Akiyama menopang dirinya di rak lalu perlahan berdiri. Dia berbalik hendak mengenakan celemek, lalu menoleh ke arahku.
“Akiyama—”
Dan tepat saat itu, tubuhnya limbung.
“Ah...”
Akiyama mengulurkan tangannya, tapi tidak ada yang berhasil diraihnya. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang. Kakinya seperti tersangkut dan tidak bisa bergerak.
“Nee-chan!”
“Hei! Akiyama!”
Aku meraih tangan Akiyama yang terulur putus asa lalu menariknya sekuat tenaga. Aku berhasil mencegah tubuhnya menghantam meja dapur di saat-saat terakhir. Aku menangkap tubuhnya dengan seluruh badanku.
Punggungnya tipis dan bertulang, terlalu rapuh untuk memikul beban seberat itu. Aku perlahan membaringkan tubuhnya yang terasa terlalu ringan ke lantai. Panas dari tangannya hampir terasa membakar.
“Iku...”
Suara lemah keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka.
Lalu Akiyama menutup matanya dan kehilangan kesadaran.
※※※
Akiyama yang kupindahkan ke sofa baru sadar sekitar pukul delapan malam.
Selama itu, Iku terus berada di sisi Akiyama dan tidak mau beranjak.
Kalau sampai Iku juga jatuh sakit, itu bakal gawat, jadi aku berhasil membujuknya makan malam entah bagaimana caranya, tapi selain itu dia hanya terus menatap wajah Akiyama dengan cemas.
“Ngh...”
“Nee-chan!”
“I-Iku...? Ah, maaf, aku...”
Melihat wajah Iku yang nyaris menangis dan selimut yang menutup tubuhnya, sepertinya Akiyama langsung memahami situasinya.
Dia menopang tubuhnya dengan tangan di sandaran sofa. Saat hendak berdiri, Iku langsung memeluknya erat dan menahannya tetap di tempat. Bagus.
“Nee-chan, nggak boleh.”
“Sumi-chan, kalau demam itu harus bobok-bobok!”
Kalau sampai diomeli anak kecil begini, berarti dia masih harus banyak belajar. Aku bahkan tidak perlu mengatakan apa pun.
Soyoka memang imut sekali saat bertingkah seperti onee-chan dan cemberut begitu, tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu.
Aku menuangkan teh ke dalam mug lalu menyodorkannya pada Akiyama. Dia menerimanya masih dengan wajah linglung.
“Minum dulu. Kamu ada nafsu makan? Aku simpan makan malammu, jaga-jaga.”
Warna wajah Akiyama memang sudah jauh membaik, tapi tanda-tanda kelelahan masih sangat jelas. Wajar saja, karena dia mengorbankan waktu tidur setiap hari. Tidak mungkin tubuhnya langsung pulih cuma dengan tidur dua jam.
Dia memegang mug itu dengan dua tangan lalu meneguknya sedikit. Dengan ujung jarinya, dia merapikan poni yang menempel di dahinya karena keringat.
“Terima kasih. Soal nafsu makan... aku nggak terlalu ada.”
“Oh. Kalau begitu kamu tidur saja.”
“Aku tadi sudah tidur banyak kok.”
“Itu cuma dua jam.”
“Itu sudah cukup. Nanti malam aku juga tidur.”
“Kamu masih belum sadar juga, bahkan setelah pingsan tadi?”
Suaraku keluar lebih rendah daripada yang kuduga.
Alasan kenapa sikap Akiyama membuatku kesal pasti karena aku melihat diriku sendiri dalam dirinya.
Aku sendiri juga tidak pantas bicara. Demi Soyoka, aku juga akan melakukan apa saja, dan aku juga tidak mau berkompromi. Justru di titik itulah aku merasa bisa memahami dirinya.
Tidak aneh kalau posisi kami sebenarnya tertukar.
Saat Soyoka masih lebih kecil dan aku masih SMP, aku pernah jungkir balik menghadapi hal-hal baru seperti mengurus anak dan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah tidak pernah selesai, dan aku juga tidak bisa fokus pada PR sekolahku sendiri. Malam-malam aku berkali-kali terbangun karena tangisannya.
Dan itu bukan cuma sekali dua kali sampai aku sendiri jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri.
Tapi meski tubuhku lelah, bukan berarti aku melakukannya dengan terpaksa. Justru sebaliknya, aku melakukannya dengan bahagia.
Karena itulah dibutuhkan seseorang yang bisa melihatnya dengan tenang dari luar untuk memberinya peringatan. Dan itu adalah sesuatu yang bisa kulakukan.
“...Tadi aku cuma sedikit ngantuk. Sekarang aku sudah nggak apa-apa.” Akiyama mengerucutkan bibir dengan wajah tak nyaman.
Aku nggak apa-apa. Kalimat yang sudah terlalu sering kudengar itu terdengar kosong dan tidak bermakna.
Cahaya lampu mobil yang melintas di luar sempat menerangi jendela sesaat.
“Coba bilang begitu sambil lihat mata Iku.”
“...!”
Akiyama tersentak lalu menatap Iku yang sedang memegangi ujung roknya. Akhirnya dia benar-benar menatap Iku, yang sejak tadi dia hindari karena rasa bersalah.
Iku tidak bilang apa-apa. Dia hanya diam memandangi wajah kakaknya.
“Menurutmu Iku ingin kamu memaksakan diri sampai tubuhmu hancur? Menurutmu membuat Iku khawatir dan menangis itu cara yang benar untuk jadi onee-chan?”
“...Aku nggak pernah berniat bikin dia khawatir. Hanya saja, aku ini onee-channya Iku. Aku harus sempurna. Sebagai kakaknya Iku, aku harus jadi onee-chan yang keren.”
“Onee-chan yang keren... menurutmu yang sekarang ini kelihatan keren?”
“Selalu tenang, pintar, dan bisa melakukan apa saja. Itulah onee-chan. Itulah aku.”
Sampai aku bertemu dengannya di upacara masuk, memang aku juga berpikir begitu tentang dia. Dan semua itu pasti memang sesuatu yang dia bangun lewat usaha tanpa henti.
“Aku nggak melihatmu seperti itu.”
“Lalu aku harus bagaimana?!” Untuk pertama kalinya, Akiyama meninggikan suara.
Suara retaknya menggema di ruangan yang sunyi itu, dan ketenangannya yang tersisa pun ikut runtuh.
“Aku cuma punya Iku! Demi Iku, aku nggak peduli apa yang terjadi padaku. Seberapa pun aku harus memaksakan diri, aku tetap akan jadi onee-chan yang sempurna. Jangan bicara seolah kamu mengerti!”

Gadis bernama Akiyama Sumi itu tidak pandai memasak, tidak pandai pekerjaan rumah, tidak pandai berteman atau menunjukkan emosinya, dan akan panik kalau ada sesuatu yang tak terduga terjadi. Dia canggung, tidak efisien, dan pada akhirnya hanyalah gadis biasa yang sangat mencintai adik laki-lakinya.
Tapi meski begitu, dia tetap berkata ingin menjadi sempurna. Tujuan yang terus dia ulang-ulang itu menggerogoti tubuhnya seperti kutukan. Hampir seperti obsesi.
“Kenapa kamu begitu terobsesi jadi sempurna?! Apa Iku pernah memintamu jadi begitu? Nggak, kan?!”
Aku juga ikut meninggikan suaraku.
“Onii-chan serem...”
Soyoka ketakutan oleh adu suara yang nyaris seperti pertengkaran itu, lalu mulai menangis.
Mendengar isaknya, aku langsung sadar diri.
Iku juga makin meringkuk dekat kakaknya dengan wajah takut.
Ini tidak bagus. Kami tidak seharusnya bertengkar di depan Soyoka dan Iku seperti ini.
Mata Akiyama bergerak ke sana kemari, seperti sedang mencari kata-kata.
“Aku berjanji... saat Iku lahir, aku akan jadi onee-chan yang baik. Aku akan jadi onee-chan yang dikagumi semua orang, onee-chan yang bisa dibanggakan Iku.”
Akiyama mengusap kepala Iku dengan tangan gemetar. Dengan wajah yang seperti ingin menangis sekaligus tersenyum, penuh kasih.
“Janji... dengan siapa?”
“Ayahku. Meski Iku bahkan belum pernah melihat wajahnya.”
“...Maksudmu...”
“Beliau sudah meninggal. Karena kecelakaan, sedikit sebelum Iku lahir.”
Akiyama memeluk Iku seolah ingin melindunginya. Mungkin dia juga sedang berusaha menyembunyikan tubuhnya yang gemetar.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bersamaan dengan itu, aku menyesal karena menanyakannya dengan begitu ceroboh.
Memang benar, dia tidak pernah sekalipun membicarakan ayahnya. Kalau dipikir-pikir lagi, ada beberapa kali aku merasa kakak-adik ini memang tidak punya ayah. Benar. Bahkan belum lama ini dia juga sempat bilang kalau dia harus mengurus rumah karena ibunya bekerja.
Waktu aku ke rumahnya pun memang tidak ada kesan ada sosok ayah. Nuansa interior rumahnya juga terasa sangat feminin.
Ayahku sendiri juga memang hampir tidak pernah di rumah, jadi hal itu tidak sempat terpikir olehku. Tapi situasi kami, walau tampak mirip, ternyata sebenarnya sangat berbeda.
“Sebelum meninggal, ayahku bilang aku harus jadi onee-chan yang baik, yang bisa jadi panutan. Katanya ibuku itu agak ceroboh, jadi sebagai gantinya aku harus jadi onee-chan yang keren. Aku ini bukan cuma kakaknya Iku, tapi juga ibunya, dan ayahnya.”
“...Jadi kamu terus memaksa diri jadi sempurna, bahkan kalau harus merusak dirimu sendiri?”
“Betul.”
Kalau dia meninggal tepat sebelum Iku lahir, berarti itu sekitar tiga atau empat tahun lalu. Tiba-tiba kehilangan pencari nafkah keluarga saat masih punya anak kecil. Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa besar guncangannya.
Bagaimana situasiku waktu Soyoka lahir? Ayahku memang bekerja di luar negeri, jadi kami tidak terlalu khawatir soal uang. Tentu saja juga bukan berarti sampai bisa hidup boros.
Setelah Soyoka lahir, ibuku masih lebih sering di rumah selama kurang lebih setahun... sampai akhirnya dia diminta serius kembali bekerja. Selama itu dia masih sempat melakukan sebagian pengasuhan. Waktu itu aku sudah SMP, dan meski aku memang kesulitan dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak, setidaknya ada rasa aman.
Tapi Akiyama beda. Dia dilempar ke situasi itu secara mendadak, tanpa sempat bersiap sama sekali.
“Begitu ya... Akiyama, jadi kamu memang merasa harus jadi sempurna.”
Begitu kuucapkan, pemahamanku terhadap situasinya langsung jadi jauh lebih jelas.
Akiyama Sumi, yang waktu itu masih cuma anak SMP, dipaksa jadi orang dewasa bersama kelahiran Iku. Situasi tidak memberinya pilihan untuk tetap jadi anak lemah.
Akiyama menggigit bibir bawahnya, seperti berusaha menahan tangis.
“Kalau kamu sudah mengerti, kalau begitu diam saja. Ini tidak ada hubungannya denganmu, Kyōta, kan?”
“Nggak ada hubungannya...? Aku sudah bilang sebelumnya. Kita ini teman sesama ibu.”
“Iya, aku sungguh berterima kasih atas bantuanmu hari ini. Mungkin ke depannya aku akan tetap perlu mengandalkanmu untuk hal-hal yang menyangkut Iku, tapi masalah pribadiku sendiri tidak ada hubungannya denganmu, Kyōta. Kita ini teman sesama ibu. Kita cuma terhubung lewat Iku dan Soyoka-chan.”
Dengan dingin, dia mendorongku menjauh, seolah kami ini bahkan bukan teman, cuma teman sekelas.
“...Aku pulang.”
Matahari sudah lama tenggelam, dan kalau terlalu lama menahannya di sini juga akan mengganggu hari esok. Tapi melihat keadaan tubuh Akiyama yang sudah sampai batasnya, aku benar-benar tidak bisa merelakannya pulang begitu saja. Kalau dia pulang, dia pasti bakal begadang lagi malam ini, entah buat mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar.
Tapi walaupun aku mencoba menahannya, aku sendiri juga sudah tidak bisa menemukan kata-kata untuk membujuknya lagi.
Akiyama bangkit dari sofa, buru-buru mengenakan lagi blazer-nya, lalu meraih tas milik dia dan Iku. Gerakannya berat, sama sekali tidak ada sisa ketajaman seperti biasa.
Dia bahkan tidak menatap Iku yang kelihatan gelisah seolah ingin mengatakan sesuatu. Kurasa dia merasa bersalah karena sudah memakai Iku sebagai alasan.
Aku paham perasaan itu. Aku juga sering melakukan hal yang sama terhadap Soyoka, menjadikan kesulitan-kesulitan harianku seolah-olah semuanya karena dia. Tentu saja bukan berarti aku tidak ingin melakukannya. Justru sebaliknya, aku bangga bisa berguna untuk Soyoka.
Benar, terus-menerus aku meyakinkan diriku sendiri begitu. Aku terus mengulang bahwa melakukan segalanya demi Soyoka adalah hal yang benar, supaya aku tidak pernah berpikir, andai dia nggak ada.
“Nggak mau.”
Yang memecah keheningan adalah Soyoka.
Akiyama yang sudah memegang pintu geser ruang tamu berhenti di tempat.
“Soka nggak mau Onee-chan capek.”
Dia mengutarakan isi hatinya dengan terbata-bata, suaranya gemetar. Hampir seperti tangis, dan air matanya terus mengalir.
“Soyoka...”
“Aku nggak mau Onee-chan demam. Nggak mau nggak tidur. Nggak mau pingsan juga.”
Soyoka terduduk di lantai. Tapi matanya tetap menatap lurus ke arah Akiyama.
Ah, seberapa besar beban yang sebenarnya dipikul anak-anak kecil ini dalam tubuh mungil mereka?
Dia benar-benar mencerna percakapan kami, memahaminya, lalu mencoba mengatakannya lagi dengan kata-katanya sendiri.
“Onii-chan itu bodoh dan aneh, tapi dia Onii-chan yang baik.”
“Hah?”
Aneh... kenapa aku malah sedikit kena serang di situasi seperti ini?
“Soka nggak apa-apa walaupun Onii-chan nggak ada.”
Gah.
Onii-chan ini rasanya mau menangis. Menangis darah.
Memang kata-kata Soyoka terdengar agak meloncat-loncat, tapi inti pesannya tetap sampai. Hanya saja, cara dia mengatakannya sangat buruk! Itu serangan telak buatku!
Dengan kata lain, yang ingin dia bilang adalah, onii-chan maupun onee-chan itu nggak perlu sempurna. Nggak apa-apa kalau punya kekurangan, dan nggak apa-apa juga kalau tidak selalu mengawasi. Itu maksudnya... kan? Dia ini benar-benar sedang menyampaikan isi hatinya, bukan sekadar melampiaskan frustrasi hariannya, kan?
“Soka tetap sayang Onii-chan walaupun dia nggak keren.”
Aku memeluk punggung Soyoka yang kecil tapi terasa sangat berwibawa itu dari belakang. Tubuhnya sedikit gemetar.
Sampai menangis karena benar-benar mengkhawatirkan seorang perempuan yang baru dikenalnya, yang bahkan lebih tua belasan tahun darinya. Andai beberapa bulan lalu, apakah Soyoka bisa melakukan hal seperti ini? Mungkin dia melihat dirinya sendiri di dalam situasi ini.
Aku bisa merasakan pertumbuhannya. Belum lama ini dia masih cuma berjalan terhuyung-huyung, tapi tanpa kusadari dia sudah jadi gadis kecil yang luar biasa.
“Aku juga!”
Lalu ada satu lagi punggung kecil yang juga terasa bisa diandalkan.
“Aku juga nggak selemah itu. Nggak apa-apa kalau Nee-chan nggak selalu melindungiku.”
“Iku, aku...”
“Aku ingin Nee-chan istirahat yang cukup. Walaupun Nee-chan nggak sempurna, kamu tetap Nee-chan-ku. Kamu tetap Nee-chan yang keren!”
Iku yang tadinya terus ragu-ragu akhirnya melemparkan isi hatinya secara langsung tanpa menahan apa-apa lagi.
Tas yang menggantung di bahu Akiyama terlepas dan jatuh ke lantai.
“Nee-chan itu selalu berusaha keras. Terlalu keras.”
“Aku pikir kalau aku nggak sempurna, aku nggak akan diakui sebagai kakak...”
“Itu nggak benar.”
Kakak-adik ini memang mirip sekali.
Sama-sama sok tegar, sama-sama suka jaim. Sama-sama paling peduli satu sama lain, tapi karena tidak menunjukkan perasaan dengan jujur, mereka jadi saling salah paham.
Tapi hari ini, mereka berdua akhirnya mengungkapkan dengan jelas apa yang selama ini dipendam di dalam hati.
“Benarkah? Aku tetap boleh jadi kakaknya Iku? Walaupun aku nggak bisa apa-apa?”
“Iya. Walaupun kamu nggak bisa apa-apa, kamu tetap Nee-chan yang paling aku suka.”
“Iku...!”
Akiyama perlahan berlutut dan memeluk Iku. Erat sekali, seolah dia tidak akan pernah melepaskannya lagi.
Kalau dipikir-pikir, hubungan saudara kandung itu memang sesuatu yang istimewa.
Sebagai keluarga. Kadang seperti teman paling dekat. Dan kadang juga sebagai hubungan antara pihak yang menjaga dan dijaga.
Hanya dengan lahir dari orang tua yang sama, anak-anak jadi terikat sangat dalam satu sama lain.
Dan dari situ lahirlah ikatan istimewa yang tidak mungkin tumbuh dengan orang asing.
“Tentu saja, aku juga sayang padamu, Iku.”
“Tapi kamu nggak bisa masak.”
“Aku bisa... Nggak, memang kadang-kadang aku gagal.”
Wajah tegang Akiyama sekarang sudah tenang, seolah roh jahat yang menempel padanya tadi baru saja diusir.
Dua orang ini pasti akan baik-baik saja sekarang. Bukan berarti satu pun masalah mereka di sekolah sudah selesai, tapi entah kenapa aku yakin. Mulai sekarang, mereka akan lebih saling memahami dari sebelumnya dan jadi duet kakak-adik terbaik. Meski tetap saja, mereka belum bisa mengalahkan kami.
“Iku... Iku!”
“Nggak apa-apa, Nee-chan.”
“Iku, maaf ya. Dan... terima kasih. Aku senang kamu jadi adik laki-lakiku.”
“Aku juga senang kamu jadi Nee-chan-ku.”
Iku mengulurkan tangannya lalu menepuk-nepuk punggung Akiyama.
“Iku dan Sumi-chan baikan.”
Soyoka menatapku dengan wajah puas penuh pencapaian. Padahal yang paling berjasa di sini justru kamu.
Aku mengusap kepala Soyoka lalu mendekati kakak-beradik Akiyama.
“Akiyama.”
Begitu kupanggil, Akiyama mendongak seperti terkejut.
“Memang benar, sebagai kakak kita harus menunjukkan jalan yang benar pada mereka. Tapi kita sendiri juga nggak sehebat itu. Kita pasti salah. Dan mungkin masih jauh lebih banyak hal yang nggak kita tahu dan nggak bisa kita lakukan.”
Sejak Soyoka lahir, sudah berapa kali aku melakukan kesalahan, dari yang besar sampai yang kecil? Bahkan sekarang pun aku masih salah setiap hari. Sebagai onii-chan, aku ini payah sekali.
“Tapi itu normal. Dari awal memang nggak ada orang yang bisa melakukan semuanya. Menurutku yang paling penting pertama-tama adalah menerima kenyataan itu.”
“...Kamu benar.”
“Jadi, ayo tumbuh bersama mereka berdua. Sebagai kakak, usia kita baru tiga tahun. Sama seperti mereka. Pelan-pelan saja juga nggak apa-apa. Nggak perlu terburu-buru. Kita jalan bareng, bergandengan tangan, selangkah demi selangkah.”
“Bersama Iku,” ulang Akiyama sambil menatap Iku.
“Membesarkan anak itu bukan cuma soal membesarkan anaknya. Kita sendiri juga tumbuh bersama anak itu. Lagipula, aku... aku punya teman sesama ibu, tahu. Ayo besarkan mereka bersama. Kita berempat.”
Tadinya aku selalu merasa akulah yang menjaga Soyoka, tapi tanpa kusadari justru dia yang selalu menolongku.
Perasaan-perasaan yang Soyoka ajarkan padaku ikut membesarkanku juga.
Berkat Soyoka, hari-hariku dipenuhi warna. Cinta tanpa syarat yang dia berikan padaku selalu menopangku. Bukan cuma aku yang memberi. Malah mungkin akulah yang jauh lebih banyak menerima.
Kami saling memengaruhi, lalu tumbuh bersama. Menurutku, itulah keluarga.
“Anak-anak itu tumbuh cepat, jadi kalau kita nggak hati-hati, mereka bisa meninggalkan kita.”
Aku menutup ucapanku dengan senyum miris sambil menggaruk pipi.
Benar. Soyoka yang sekarang masih cadel dan imut ini suatu saat pasti akan hilang.
...Tunggu, itu menyedihkan sekali.
“Aku ternyata sama sekali nggak sempurna.”
“Kamu baru sadar sekarang?”
“Aku nggak perlu jadi sempurna.”
“Iya.”
Akiyama menunduk lalu perlahan mencerna semuanya.
Buatnya, ini pasti seperti membalik seluruh nilai hidup yang dia bangun selama tiga tahun sejak Iku lahir.
“Terima kasih, Kyōta.”
“Iya. Kamu jadi ikut makan malam, kan?”
“Aku ikut... Nanti, bisakah kamu mengajariku cara membuatnya?”
Dia melepaskan lagi blazer-nya sambil tersenyum seterang langit cerah.
Menurutku, senyum seperti ini jauh lebih cantik dan jauh lebih manis daripada dirinya yang sedang memaksakan citra keren.
...Yah, mungkin sekitar dua pertiga dibanding Soyoka.