Sehari setelah pengalaman yang sedikit tidak biasa, yaitu pergi karaoke bersama banyak teman sekelas, keseharian pun kembali lagi. Kenyataan terasa makin menghantam ketika ujian tengah semester terus mendekat tanpa ampun. Dan parahnya lagi, aku sudah membuang hari pertama masa persiapan ujian untuk ikut acara kumpul itu...
Kurasa hubungan teman-teman sekelasku memang jadi jauh lebih dekat, terutama orang-orang yang ikut acara kumpul itu. Sulit dipercaya kalau satu setengah bulan yang lalu kami semua masih orang asing. Aku sendiri juga berhasil dapat beberapa teman yang lumayan nyambung denganku. Yah, cowok itu makhluk yang bisa saling paham cuma dengan bertukar candaan bodoh. Simpel, dan itu melegakan. Kelas ini memang kelas yang bagus, hubungan antara anak cowok dan ceweknya juga baik.
Di kelas dua ini memang banyak acara, dan di akhir bulan nanti ada turnamen olahraga antarkelas. Turnamen itu adalah acara yang menguji kekompakan. Jadi, memang lebih baik kalau semua akur.
“Kuremocchan, eh, eh. Soyoka-chan nggak apa-apa habis kemarin? Soalnya kami lumayan nempel-nempel sama dia.”
Di tengah jam istirahat makan siang, saat semua orang sudah selesai makan, Hiiragi membuka percakapan.
“Dia heboh terus kok, bilang ‘Seru banget~’ waktu mandi sama pas makan malam.”
Walaupun lebih dari setengah isi ceritanya itu soal Mizuki!
Berani-beraninya mendekati adik perempuan orang lain... mungkin mulai sekarang aku harus melarang mereka berhubungan. Senyum tampan Mizuki itu terlalu berbahaya. Sekarang aku akhirnya paham perasaan cowok yang tahun lalu pernah memojokkan Mizuki sambil menuduhnya merebut pacarnya. Waktu aku sempat menggeram dan mengintimidasi Mizuki, dia malah cuma tersenyum sambil ngasih peace sign.
“Syukurlah~. Aku sempat khawatir dia malah jadi benci aku.”
“Terima kasih ya sudah main sama dia.”
“Santai aja~”
Kemarin, orang yang paling banyak main sama Soyoka itu Mizuki, lalu setelah itu Hiiragi.
Buat Soyoka, Hiiragi itu kakak perempuan dewasa yang berkilau, jadi kurasa dia senang bisa main dengannya. Soyoka memang gadis yang dewasa sebelum waktunya, jadi dia cenderung mengagumi cewek-cewek seperti Hiiragi.
“Soyoka-chan itu imut banget, serius~. Maksudku, rambutnya halus banget, kan? Rasanya pengin kuelus terus selamanya.”
“Kamu... kamu paham, ya. Kamu orang baik.”
“Ahaha, Kuremocchan... kamu gampang banget, ya?”
Mana mungkin cewek yang mengerti keimutan Soyoka itu orang jahat.
“Rambut seperti malaikat itu berkat bakat alaminya, ditambah lagi perawatan telaten yang kulakukan tiap hari. Sampai soal sampo dan kondisioner pun kupilih baik-baik, belum lagi waktu untuk mengeringkannya... aku nggak pernah setengah-setengah. Kadang pagi-pagi rambutnya suka berdiri sedikit, tapi itu pun tetap imut.”
“Kamu beneran ngomong panjang lebar, ya.”
Soalnya... belum pernah ada orang yang benar-benar mau mendengarkan aku ngomong soal Soyoka... Mizuki sih selalu cuma menanggapinya sambil lalu.
“Waktu kamu ikat rambutnya, dia senyum terus. Beneran kayak malaikat.”
Tentu saja aku melihat Soyoka sepanjang waktu, jadi aku tahu Hiiragi sempat mengajarinya gaya rambut tertentu. Tangannya terlalu cepat sampai aku sendiri nggak paham dia ngapain, tapi hasilnya adalah gaya rambut artistik dengan kepangan di belakang yang membentuk hati. Soyoka juga tampak sangat senang dengan gaya rambut lucu itu.
Aku sendiri juga sudah mencari macam-macam gaya rambut dan pernah mencoba melakukannya. Menurutku hasilnya juga cukup manis, tapi variasiku memang kurang. Lagipula, kalau terlalu lama mengutak-atik rambutnya, Soyoka suka kesal...
“Itu keren banget... kapan-kapan kamu harus ajarin aku caranya.”
“Boleh~. Aku masih punya gaya yang lain juga, jadi Soyoka-chan bisa kubuat makin imut lagi.”
“Kamu orang baik.”
“Itu sudah kedua kalinya kamu bilang begitu,” kata Hiiragi sambil tersenyum lebar.
Yup, yup, para cewek lain kemarin juga tergila-gila pada Soyoka, jadi keimutan Soyoka memang berlaku untuk cowok maupun cewek! Apa aku benar-benar harus mulai mempertimbangkan debut TV nasional untuknya?
“Oh iya. Aku bikin kue buat Soyoka-chan.”
Sambil berkata begitu, Hiiragi menyerahkan kantong kecil berisi kue padaku. Kantong itu diikat dengan pita merah.
“Persembahan. Soyoka itu dewi, jadi kamu sudah melakukan hal yang benar. Terima kasih.”
“Ugh... Mizuki, kamu juga mau? Aku masih punya banyak sisa.”
Setelah agak ilfeel karena komentarku, dia juga memberikan beberapa kue pada Mizuki yang sedang melihat ponselnya di meja serong belakang kami. Hei, target aslimu memang dia, kan?
Soyoka memang suka yang manis-manis, jadi kurasa dia bakal senang. Baik Mizuki maupun Hiiragi benar-benar tahu cara mengambil hati Soyoka.
“Makasih. Bekalku tadi kurang, jadi aku barusan memang lagi ngomong mau ke koperasi. Boleh kubagi ke yang lain juga?”
“I-iya. Makan saja.”
Mizuki lalu menebarkan biskuit kecil yang dia terima di atas mejanya. Buat cowok anggota klub olahraga, satu kotak bekal memang tidak cukup. Hiiragi memandangi reaksinya dengan ekspresi yang rumit.
Aku mengulurkan tangan dari samping lalu mengambil satu kue. Aku mengabaikan tatapan menegur dari Hiiragi dan langsung memasukkannya ke mulut.
Walau sudah agak lama dibuat, teksturnya masih lembap, dan rasa mentega serta manisnya pas. Tidak terlalu manis, jadi rasanya aku bisa makan banyak.
“Ini enak. Aku mengangkatmu jadi koki pastry eksklusif Soyoka. Aku mengandalkanmu mulai sekarang.”
“Kurang ajar banget!”
Membuat kue itu sebenarnya susah, jadi jujur aku memang kagum. Semua harus ditakar dengan tepat, waktu juga harus akurat, suhu harus dikontrol ketat, dan pekerjaan detailnya tidak boleh asal... pokoknya butuh ketelitian seperti itu.
Kalau masak biasa sih meski agak kasar masih bisa jadi, jadi aku bisa melakukannya dengan perasaan... tapi kalau bikin kue, aku memang tidak berbakat. Paling banter aku cuma bisa bikin puding yang tinggal dicampur saja. Walaupun Soyoka sendiri suka banget.
“Kamu memang jago bikin kue, Hikaru.”
Mizuki mengelap remah kue di jarinya dengan tisu.
Anak-anak cowok di sekitar kami juga mulai gelisah lalu ikut meraih kue itu. Buat cowok yang nggak punya pacar, kue buatan tangan dari cewek itu seperti dongeng. Dan kalau yang bikin itu Hiiragi, si idola kelas, rasa senangnya pasti berlipat... meski kue itu sebenarnya sisa jatah Mizuki.
Hiiragi bahkan tidak melirik para cowok itu sama sekali, cuma memperhatikan reaksi Mizuki.
“B-benarkah? Aku memang sering bikin kue sebagai hobi, jadi senang dengarnya.”
“Soyoka suka cokelat.”
“Eh, aku tadi bukan tanya ke kamu... Tapi, tapi, aku lumayan jago bikin fondant au chocolat. Kamu suka cokelat nggak, Mizuki?”
Soyoka memang suka hampir semua makanan manis. Terutama yang rasanya manis kuat seperti cokelat dan gummy. Sebaliknya, dia kurang suka biskuit kering atau camilan renyah. Katanya mulutnya jadi kering.
Tentu saja, dia juga suka fondant au chocolat. Soal kue itu, memang agak susah menyesuaikan waktu panggangnya.
“Iya, lumayan suka.”
“Kalau begitu next time aku bikin! Buat Soyoka-chan juga.”
Hiiragi mengedip padaku diam-diam, hanya supaya aku yang melihat. Licik-imut sekali.
Dia memang tidak mengendurkan usahanya mendekati Mizuki, tapi dengan menjadikan Soyoka sebagai alasan, dia tetap bisa menjaga jarak yang pas. Begitu topik soal makanan manis selesai, dia langsung kembali ke kelompok ceweknya. Mizuki memang tidak suka cewek yang terlalu nempel, jadi itu pilihan yang tepat.
...Bukan berarti aku peduli dengan jalannya kisah cintanya, sih.
“Berkat aku, kamu jadi dapat pendukung yang luar biasa, kan? Demi mengambil hati Soyoka-chan.”
“Kebaikan Soyoka itu nggak ada kata cukup!”
“Heheh, semua ini berkat aku populer.”
“Kamu ngomong begitu sendiri tanpa malu ya?”
Hei, kalian para cewek, tolong sadari dong sifat asli cowok ini!
Tidak, mungkin percuma juga, karena bahkan kalau mereka sadar pun dia tetap bakal populer! Aku cuma berharap Soyoka tidak jatuh ke dalam cengkeramannya...
Waktu istirahat juga sudah tinggal sedikit. Enam puluh menit itu memang cepat sekali habis kalau dipakai ngobrol.
Enam puluh menit ini memang buat istirahat, jadi memakainya untuk santai itu penggunaan yang benar. Jelas bukan berarti aku sedang lalai belajar.
Walaupun, memang ada juga orang yang tetap belajar tanpa istirahat sama sekali. Contohnya Akiyama.
Kalau dia duduk di mejanya saat jam istirahat itu sudah biasa, dan tidak ada yang merasa aneh lagi. Semua orang memang sudah tahu kalau si bunga cantik penyendiri itu tidak bergaul dengan siapa pun. Kalaupun diajak bicara, jawabannya dingin.
Tapi minggu ini, ada sesuatu dari Akiyama yang terasa... putus asa.
Dulu dia masih punya sedikit kelonggaran. Kadang dia membaca dengan santai, dan bahkan saat belajar pun menurutku ekspresinya masih cukup tenang. Benar-benar seperti citra cewek pintar dan keren yang selama ini dia incar.
Sekarang, Akiyama terlihat mencondongkan tubuh ke depan sambil mati-matian mencoret-coret dengan pena. Sampai-sampai dia kelihatan tidak sanggup lagi mempertahankan topeng sempurnanya.
Jujur saja... di mataku, dia kelihatan terlalu memaksakan diri.
“Hm, Kyōta, kenapa?”
“Ah, nggak, bukan apa-apa.”
“Hmm. Nanti aku kasih tahu Soyoka-chan kalau Kyōta tadi melihatin cewek lain, deh.”
“Jangan begitu dong?!”
Ide yang benar-benar jahat!
Oh, tapi mungkin membuat Soyoka cemburu juga tidak terlalu buruk. Meski kemungkinan besar dia malah bakal menginterogasiku soal kehidupan cintaku.
Tiba-tiba, sebuah suara tertangkap di telingaku.
“Akiyama-san. Ini daftar pemain tim voli, kamu yang ngumpulin, kan?”
Aku menoleh dan melihat seorang siswi berdiri di depan Akiyama. Dia anggota salah satu kelompok cewek mencolok di kelas.
“Iya, memang aku. Coba kulihat.”
“Aku sudah isi dengan benar, jadi cepat urus.”
Yang diserahkan itu adalah daftar peserta untuk turnamen olahraga di akhir bulan. Acara itu diadakan seminggu setelah ujian tengah semester, jadi semua orang kelihatan bersemangat ingin melampiaskan stres belajar.
“Nama yang kamu tulis ini dobel dengan anggota basket yang kuterima tadi pagi, dan... aku ingin kamu menuliskan nama lengkap. Juga...”
“Eh, nggak apa-apa. Detail-detail begitu kamu urus saja, Akiyama-san. Kamu kan ketua kelas, jadi urusan kelas itu memang kerjaanmu, kan? Oh iya. Aku juga baru bikin desain kaus kelas. Urusan prosedurnya sekalian kamu beresin juga ya~”
Siswi itu berkata begitu lalu terkikik bersama temannya dari kelompok yang sama.
Ah, aku ingat. Mereka ini kelompok yang memang memusuhi Akiyama.
Aku nggak tahu alasannya. Apa karena iri pada Akiyama yang sering dipuji karena penampilannya, atau karena mereka nggak suka sikapnya, atau mungkin ada hubungannya dengan cowok?
“Ya sudah, pokoknya kuserahkan ke kamu~”
“Oh ya, yang ini juga tolong ya. Sekalian nanti kamu kumpulkan ke guru juga.”
Siswi lain ikut tertawa sinis.
“Wah. Kalian sampai segitunya, ya?”
“Eh, Akiyama-san pasti nggak apa-apa kok. Dia kan selalu sempurna, ya nggak?”
Suara nyaring para siswi itu benar-benar menggesek telingaku.
Sebenarnya Akiyama sedang memikirkan apa sekarang? Seperti biasanya di sekolah, wajahnya tanpa ekspresi, dan aku sama sekali tidak bisa menebak perasaannya.
Dia mengerjakan pekerjaan rumah menggantikan ibunya yang selalu lembur, menjaga Iku, dan tidak melalaikan belajar untuk ujiannya sendiri maupun tugas sebagai ketua kelas. Menurutku, jumlah beban yang dia tanggung itu sudah bukan sesuatu yang bisa ditangani satu orang.
Aku tidak bisa cuma melihat ini. Dia memang bilang padaku supaya tidak ikut campur di sekolah, tapi bahkan sebagai teman sekelas biasa pun aku tidak bisa membiarkan ini. Kalau dibiarkan, ini bisa dengan mudah berkembang jadi perundungan.
Cantik, sempurna, dan dikagumi semua orang. Orang seperti itu pasti bukan cuma disukai.
Akhirnya aku paham kenapa dulu dia ingin menyembunyikan keberadaan Iku. Aku yakin sesuatu yang mirip juga terjadi tahun lalu. Masalah yang tidak kusadari di awal-awal pergantian kelas kini mulai muncul ke permukaan.
Para siswi yang sedang mengganggunya ini berasal dari kelompok yang cukup kuat di dalam kelas. Anak cowok biasanya tidak terlalu peduli pada kelompok atau lingkaran seperti itu, tapi di antara cewek sepertinya memang ada pembagian yang jelas.
Karena itulah tercipta situasi di mana sulit untuk angkat suara walaupun merasa ada yang salah. Ditambah lagi ada alasan yang tampaknya benar, yaitu Akiyama Sumi itu hebat dan bisa melakukan apa saja, jadi pasti tidak apa-apa. Padahal kenyataannya sama sekali tidak begitu.
“Akiyama-san, mau kubantu?”
Saat aku mulai bangkit dari kursi, suara Hiiragi tiba-tiba terdengar jelas di telingaku.
Hiiragi berdiri di depan Akiyama dengan senyum buatan. Senyum khas idola, senyum orang yang benar-benar paham bagaimana dirinya dilihat orang lain.
“Pasti berat ya kalau sendirian? Aku juga bantu urusan acara kumpul kemarin, jadi bisa dibilang aku ini hampir seperti pengurus kelas juga, kan.”
Sambil berkata begitu, Hiiragi melirik ke arah Mizuki. Mizuki yang masih duduk di kursinya hanya memelintir bibirnya dalam senyum geli.
Jadi Akiyama yang juga sama-sama pengurus kelas dan menarik perhatian Mizuki itu, seperti aku juga, cuma batu loncatan untuk merebut Mizuki? Cerdik sekali. Walaupun itu bisa saja cuma prasangkaku.
“Aku nggak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri.”
Akiyama melirik Hiiragi lalu langsung menolak dengan singkat sebelum kembali menunduk.
“Tapi, tapi, kalau begini nanti kamu baru selesai sepulang sekolah. Dan kalau kaus kelasnya nggak cepat dipesan, nanti nggak bakal sempat jadi buat turnamen.”
“Kamu benar, tapi bukan berarti aku butuh bantuanmu, Hiiragi-san.”
Masih sempat-sempatnya dia sok kuat di situasi begini?
Ada bayangan gelap yang lewat di balik senyum Hiiragi. Sudut bibirnya masih terangkat, tapi matanya sama sekali tidak tersenyum.
Suasana tegang seperti hari itu kembali muncul. Para cewek yang tadi mengganggunya pun ikut terdiam, memperhatikan ke mana arah situasi ini akan berkembang.
“Apa maksudnya aku cuma bakal mengganggu? Memang benar sih aku nggak sepintar kamu dalam belajar, Akiyama-san, tapi menurutku ada juga hal yang lebih bisa kulakukan.”
“Iya, aku yakin memang ada.”
“...Nada bicaramu itu apa sih? Kamu memandang rendah semua orang cuma karena kamu bisa segalanya, ya?”
“Itu bukan maksudku...”
Keceriaan Hiiragi lenyap, dan nada suaranya berubah jadi menuduh, tapi suara Akiyama tetap datar. Justru ketidakgoyahannya itulah yang makin membuat Hiiragi emosi.
Aku yakin Akiyama sendiri memang tidak bermaksud merendahkan siapa pun. Dia cuma... entah kenapa, terlalu memaksakan citra sempurna pada dirinya sendiri. Dia tidak memperlihatkan kelemahan pada orang lain, dan juga tidak bergantung pada siapa pun.
Tapi di luar itu, dia memang buruk dalam berkomunikasi. Karena tidak bisa jujur, akhirnya yang keluar malah kata-kata dingin.
“Jangan sok cuma karena Mizuki tertarik padamu.”
“Aku nggak tahu dia tertarik atau nggak, tapi Amaya-kun nggak ada hubungannya sama ini. Sebagai ketua kelas, aku cuma melakukan apa yang bisa kulakukan... Kalau kamu ingin dia menyukaimu, bukankah kamu sendiri juga harus berusaha?”
“Hah? Aku juga berusaha! Mungkin orang jenius sepertimu nggak bakal paham, tapi aku—”
Hiiragi yang sedari tadi masih menahan diri akhirnya membanting kedua tangannya ke meja. Dia langsung tersentak dan menutup mulut. Seluruh kelas hening seperti kuburan.
Aku buru-buru merentangkan tangan dan berdiri di depan Akiyama.
“Sudah, sudah!”
“Oke, oke, Hikaru. Cukup, ya? Sudah.”
Pada saat yang sama, Mizuki meletakkan satu tangan di punggung Hiiragi.
Mata Hiiragi membelalak, lalu dia menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Dia menatap wajah Mizuki, lalu mundur beberapa langkah dari meja Akiyama.
Canggung. Akiyama masih terus menatap Hiiragi dengan ekspresi tenang yang bermartabat, sementara Hiiragi sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksukaannya.
Situasi beku itu berlangsung beberapa detik, dan tepat saat Hiiragi hendak membuka mulut lagi, bel pelajaran berbunyi.
“Kelas mulai.”
Mizuki dengan lembut mendorong bahu Hiiragi.
“...Iya, ya. Maaf, sudah bikin suasana jadi aneh.”
Hiiragi tersenyum canggung sambil memperlihatkan gigi putihnya.
Bel tadi memang menyelamatkan kami... tapi hubungan kedua gadis itu justru jadi makin buruk.
※※※
Bahkan setelah sehari berlalu, keadaan belum juga membaik.
“Cewek itu, hari ini juga belajar lagi.”
“Lagi pamer bisa belajar ya? Putus asanya sampai lucu.”
“Nggak, nggak, dia kan memang nggak punya hal lain buat dilakukan pas istirahat.”
“Bener juga. Apa kita kasih kerjaan lagi, ya?”
Saat jam istirahat dan aku baru kembali dari toilet, tiba-tiba aku mendengar suara itu. Aku berhenti di tikungan lorong.
Ah, mereka lagi.
Para cewek yang tidak suka pada Akiyama itu sedang bersandar di dinding sambil ngobrol. Aku buru-buru bersembunyi.
“Cowok-cowok memang suka tipe begitu, ya~”
“Bagusnya apaan sih dia? Modal muka doang, terus nggak ramah lagi.”
“Iya, kan? Aku cuma berharap Mizuki-kun cepat sadar~”
“Eh? Mizuki-kun juga cuma lagi main-main, kan? Mana mungkin dia serius.”
“Itu juga benar sih.”
Kata-kata berduri yang sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kebencian mengalir keluar satu demi satu, seringan napas.
Nada mengejek, lalu tawa kecil tanda setuju. Semua tentang ini menjijikkan dan menyebalkan. Awalnya kelas ini terasa cerah dan menyenangkan, tapi setelah semua orang menghabiskan waktu bersama di kelas yang sama dan mulai saling mengenal, kelompok-kelompok pun terbentuk secara alami, lalu konflik mulai muncul. Pola yang sudah berkali-kali kulihat sejak SMP.
Bahkan aku pun tahu kalau langsung menghadapi mereka di sini bukan langkah terbaik. Hubungan antarmanusia itu rumit, dan apalagi dalam ruang serta komunitas kecil seperti SMA, semuanya harus dihadapi dengan hati-hati.
Biasanya, kurasa aku akan memilih pura-pura tidak melihat. Itu cara hidup yang cerdas. Tapi... hari ini sepertinya aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Ada amarah yang sulit dijelaskan sedang mendidih dari dalam diriku.
Apa yang kalian tahu tentang Akiyama? Akiyama, teman sesama ibu-ku, bukan orang yang bisa seenaknya kalian rendahkan begitu saja.
Aku yakin Akiyama sendiri tidak ingin aku ikut campur. Tapi bukan demi dia, melainkan demi diriku sendiri, aku tidak akan puas kalau tidak mengatakan sesuatu.
Aku menguatkan diri untuk muncul di hadapan mereka, tapi kata-kata yang kudengar berikutnya membuat langkahku tertahan.
“Kamu juga setuju, kan, Hikaru?”
Salah satu siswi bertanya.
Hiiragi Hikaru... Aku tidak bisa melihat posisinya dari tempatku sekarang, tapi dia memang akrab dengan mereka juga.
“Iya, yah, mungkin.”
“Kan! Dia juga dingin banget sama kamu, Hikaru!”
...Tapi aku benar-benar tidak menyangka Hiiragi akan setuju semudah itu.
Para cewek lain langsung ribut seolah mendapat aba-aba.
Pengaruh Hiiragi memang sebesar itu. Sejak pertengkaran antara Hiiragi dan Akiyama kemarin, kelompok cewek lain mulai ikut-ikutan, seolah-olah kebenaran ada di pihak mereka.
Kalau Hiiragi, yang disukai semua orang, menyatakan seseorang itu musuh, atau bahkan tanpa mengatakannya terang-terangan pun, orang itu bisa berubah jadi orang yang boleh dibully. Kedengarannya memang seperti yang biasa keluar dari drama ratu sekolah, tapi memang begitu kenyataannya.
Tak tahan lagi mendengar hinaan yang terus berlanjut, aku akhirnya muncul di depan mereka. Para siswi itu langsung terdiam kaget melihat kemunculanku yang mendadak. Dan di tengah-tengah mereka... Hiiragi yang duduk sendirian di dekat jendela benar-benar tampak seperti pemimpin kelompok itu. Dia menatapku sambil tetap memasang senyum tenang.
Hanya dari aura keberadaannya saja, kulitku sampai merinding.
“Ada apa, Kuremocchan? Akhirnya kamu sadar juga ya pesona cewek-cewek SMA?”
“Aku bukan lolicon... Bukan itu. Ini soal Akiyama. Dia kelihatannya lagi sibuk, jadi berhenti numpukin kerjaan ke dia.”
“Wah, Kuremocchan malah ngebelain Akiyama-san. Enak banget ya jadi cantik~. Cowok-cowok bakal datang nolongin bahkan tanpa diminta.”
“Bukan begitu, dan kamu juga cantik kok, Hiiragi.”
“Mau nembak aku juga nggak akan mempan, Kuremocchan~”
Kamu nggak seimut Soyoka, jadi tenang aja.
Hiiragi tersenyum ringan seperti biasa.
“Kuremocchan, kita ngobrol berdua di sana, yuk?”
Dengan senyum sempurna yang jelas dibuat-buat, Hiiragi mulai berjalan sambil memanggilku ikut. Para cewek lain yang paham situasi langsung kembali ke kelas.
Tak jauh dari sana, tinggal aku dan Hiiragi yang saling berhadapan.
Hiiragi melangkah mendekat. Satu langkah, lalu satu langkah lagi. Matanya yang besar menatapku dari posisi kepala yang lebih rendah dariku. Ujung jarinya menusuk dadaku pelan.
“Kamu suka Akiyama-san?”
“Aku setia pada Soyoka.”
“Kalau begitu, kenapa kamu membelanya? Tinggal biarkan saja. Itu jalan yang dipilih Akiyama-san sendiri. Entah dia memang sibuk atau nggak, tapi dia sendiri yang memilih jadi ketua kelas, memilih untuk nggak menolak pekerjaan, dan memilih untuk nggak akrab sama siapa-siapa.”
Dia menghitung semua itu dengan jari, lalu memiringkan kepala sambil berkata, “Benar, kan?”
“Akiyama-san itu sempurna dan bisa apa saja, jadi kamu nggak usah khawatir.”
“...Jadi kamu memang sedang mengerjainya? Karena Akiyama itu hebat dan mengerjakan semuanya dengan sempurna, maka nggak apa-apa buat terus melempar kerjaan ke dia?”
“Jangan bikin seolah-olah aku lagi ngebully dia. Aku juga ingin berteman dengan Akiyama-san, tahu? Soalnya Mizuki kelihatannya tertarik sama dia.”
Kurasa kalimat itu memang isi hati Hiiragi yang sebenarnya. Dia memang selama ini mencoba mendekati Akiyama. Dan yang menolaknya, ya memang Akiyama sendiri.
Hiiragi dan yang lain tidak tahu kalau Akiyama sibuk dengan Iku dan pekerjaan rumah. Mereka juga tidak tahu kalau diam-diam dia sedang berjuang mati-matian.
“Aku tahu kamu sendiri nggak berniat seperti itu, Hiiragi. Tapi yang lain beda, kan? Tolong, bisakah kamu menyuruh mereka berhenti?”
“Kalaupun aku bilang, itu nggak akan ada gunanya. Lagipula, permintaanmu itu berangkat dari asumsi kalau aku memang ingin mereka berhenti, kan?”
“Aku salah?”
“Iya.”
Hiiragi mengatakannya pendek, dengan suara rendah yang dingin sekali.
“Soalnya ini nggak adil. Seberapa pun aku berusaha, semua orang... Mizuki tetap bakal bilang cewek itu lebih baik, kan? Akiyama-san itu cantik dan pintar, dia bisa menarik perhatian Mizuki cuma dengan bakatnya.”
“Itu nggak benar, Akiyama itu—”
“Aku nggak tahu. Aku nggak tahu apa-apa soal itu. Aku cuma... nggak suka lihat ekspresi Akiyama-san yang seperti aku bisa melakukan semuanya... nggak, bukan itu.”
Hiiragi melewatiku. Jam istirahat hampir habis.
“Aku iri pada Akiyama-san. Tidak seperti aku, dia nggak goyah karena orang lain dan tetap jadi dirinya sendiri.”
Dia menyipitkan mata saat mengatakannya, lalu kembali ke kelas, meninggalkanku berdiri sendirian di situ.
※※※
Hari itu, pikiranku terus dipenuhi oleh Hiiragi dan Akiyama, sampai aku tidak bisa fokus di kelas sama sekali. Yah, seakan-akan biasanya aku memang fokus.
Akhirnya pelajaran pun selesai, dan Soyoka di layar kunci ponselku menjulurkan tangannya padaku. Imut.
“Akhirnya aku bisa ketemu Soyoka!”
“Kuremoto-kun, kita masih ada homeroom, tahu? Pikiranmu sudah terbang ke cewek lain. Sensei sedih.”
“Cewek lain...? Memangnya ada cewek lain di mana?”
Bukannya Kijimura-sensei sendiri juga nggak menganggap dirinya sebagai cewek dalam arti itu...
Pokoknya, nggak ada gadis lain yang perlu kupikirkan selain Soyoka. Ah, kira-kira Soyoka tadi makan siangnya habis nggak ya, terus tidur siangnya gimana.
Kijimura-sensei menundukkan kepala dengan sedih sambil meletakkan kedua tangan di podium guru.
“Ugh, jadi rumor kalau Kuremoto-kun itu lolicon ternyata benar!”
Aku benar-benar nggak nyangka seorang guru bisa bilang begitu. Lagi pula, sensei kan tahu aku punya adik perempuan.
“Aku ini selalu memandang cuma ke arah Kiji-chan.”
“Itu mah kamu bilang ke semua orang juga, Amaya-kun.”
“Wah, lagi mode cewek ribet ya. Ada apa memang?”
Berhenti, Mizuki, jangan nanya hal yang nggak perlu. Nanti kita jadi makin telat pulang.
Kijimura-sensei berteriak, “Dengar ya!” sambil memandang ke seluruh kelas.
“Aku harus bikin soal ujian, terus wakil kepala sekolah juga melempar banyak kerjaan ke aku. Oh ya, semuanya, ini rahasia ya? Kalau ketahuan nanti sensei dimarahi.”
Guru juga berat, ya. Apalagi Kijimura-sensei masih muda, mungkin banyak kerjaan yang susah dia tolak. Tentu saja, sebagai murid yang pengertian dan pandai menjaga rahasia, kami tidak akan membocorkannya. Oh, dan kita juga harus pura-pura tidak melihat kepala botak wakil kepala sekolah yang sedang mengintip dari jendela pintu depan.
“Oh iya. Akiyama-san, sebagai ketua kelas, kamu diminta kumpul di ruang OSIS sepulang sekolah. Maaf ya, aku tahu kamu sibuk.”
Dia menambahkannya seolah cuma sekadar ingat, dengan nadanya yang lembut seperti biasa. Padahal itu justru informasi paling penting dari homeroom hari ini.
Ketua kelas itu, singkatnya, ya pesuruh. Sebagai wakil kelas, mereka mengatur segala sesuatu saat ada acara dan menangani macam-macam prosedur. Kalau guru punya urusan yang menyangkut kelas, biasanya ketua kelaslah yang dipanggil.
Selain itu, ketua kelas juga jadi penghubung antara pengurus OSIS dan kelas. Panitia pelaksana OSIS yang terutama mengurus acara sekolah cukup sering memanggil ketua kelas kalau ada urusan.
...Atau setidaknya begitu yang pernah kudengar dari Mizuki, yang juga jadi pengurus kelas tahun lalu.
“Baik,” jawab Akiyama tegas, dengan suara jernih dan tajamnya.
“Iya, iya, kalau ada ketua kelas sehebat ini, sensei jadi tenang. Coba kamu sekalian bantuin kerjaan sensei juga dong.”
“Wah, kalau begitu bilang dari tadi. Aku siap jadi sekretarismu dan menemanimu tiap hari.”
“Oke, homeroom selesai! Bubaar!”
Kijimura-sensei langsung mengakhiri homeroom dengan tergesa, memotong perkataan Mizuki. Cepat sekali.
Mungkin karena memang masih ada pekerjaan, Kijimura-sensei langsung pergi tergesa-gesa. Para murid juga segera meninggalkan kelas seolah mengejarnya.
“Akiyama-chan, di ruang OSIS kan? Aku ikut juga ya.”
“Tidak. Yang dipanggil cuma ketua kelas.”
“Ahaha, dingin banget seperti biasa. Ya sudah, kali ini aku serahkan padamu.”
Mizuki mundur dengan enteng, mengucapkan “Sampai nanti” sambil tersenyum, lalu keluar kelas. Akiyama yang melihat kepergiannya dalam diam juga perlahan berdiri. Sepertinya dia memang mau menuju ruang OSIS.
“Akiyama, kamu bakal baik-baik saja?”
Aku berdiri di hadapan Akiyama yang sedang berjalan. Kami saling berhadapan di antara deretan meja.
Dia menatapku dengan mata tanpa emosi.
“Kuremoto-kun, ada apa?”
“Nggak, maksudku kamu—”
Aku refleks ciut melihat sikap formal Akiyama.
Benar. Kami memang sudah sepakat untuk tidak membicarakan hubungan kami di sekolah. Dan sekarang pun masih ada beberapa murid yang belum keluar dari kelas.
Akiyama jelas sedang bilang tanpa kata-kata agar aku tidak ikut campur. Apa persona sekolah itu sepenting itu baginya?
“Yah, kamu sibuk, kan? Kamu nggak perlu terlalu memaksakan diri, bahkan soal tugas ketua kelas juga.”
Akiyama menyipitkan mata lalu membuang muka. Dia mengabaikanku...? Tidak, ini memang Akiyama Sumi yang biasa. Sosok sekolahnya yang biasa.
Apa Akiyama memang tidak mau berhubungan denganku kalau bukan soal adik kami? Pada akhirnya, mungkin kami memang cuma orang asing. Apa cuma aku saja yang sepihak menganggap dia teman?
Karena dia mulai berjalan seolah aku tidak ada, aku refleks minggir dan membiarkannya lewat. Saat kami berpapasan, jari-jari ramping Akiyama menarik ujung blazer-ku. Dari posisi ini, murid lain tidak akan melihat.
Apa dia menyuruhku ikut?
Entah bagaimana aku berhasil mengejar langkah Akiyama yang berjalan terlalu cepat. Kami masuk ke koridor penghubung menuju gedung khusus tempat ruang-ruang pelajaran tertentu berada. Murid-murid yang berpapasan sampai berhenti dan menoleh, bingung melihat Akiyama berjalan cepat seperti itu.
Gedung khusus itu sunyi, seolah suara gaduh dari sisi kelas tadi cuma ilusi. Hanya ada beberapa murid yang tampaknya menggunakannya untuk kegiatan klub atau semacamnya.
Di sudut lorong, setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, Akiyama akhirnya bicara.
“Kyōta, tolong jangan membicarakan Iku di sekolah.”
“Maaf... meski jujur aku masih belum bisa benar-benar menerimanya.”
“Kamu sudah lihat sendiri kan beberapa hari ini? Aku ini nggak terlalu disukai.”
“Benarkah? Menurutku banyak orang yang mengagumimu, Akiyama.”
“Itu cuma penilaian mereka pada penampilanku.”
Bukannya kamu sendiri yang juga tidak mencoba menunjukkan isi hatimu?
Pembicaraan ini cuma berputar-putar. Dia keras kepala dan bahkan tidak mau berusaha mengubah ekspresinya. Apa dia berpikir kalau dia menunjukkan kelemahan, orang lain akan memanfaatkannya?
Tidak, bukan itu yang ingin kubahas.
“Ibumu akhir-akhir ini sibuk, kan? Kamu bakal baik-baik saja kalau masih harus tambah urusan ketua kelas juga?”
Selain pekerjaan yang tadi dilemparkan para cewek itu, masih ada beberapa tugas yang berkaitan dengan turnamen olahraga. Belum lagi belajar ujian tengah semester juga sedang masuk masa-masa berat.
Dia juga harus antar-jemput Iku, mengurus rumah, dan kemungkinan besar dia tidak akan mengendurkan satu pun dari semua itu... Walaupun aku baru mengenalnya sebentar, aku cukup yakin soal itu.
“Memang akhir-akhir ini agak kacau, tapi aku akan baik-baik saja.”
“Kamu bilang bakal baik-baik saja, tapi... kamu nggak harus melakukan semuanya sendirian. Mizuki dan aku juga bisa bantu.”
“Terima kasih, tapi urusan sekolah itu tidak ada hubungannya denganmu, Kyōta.”
“Kalau soal Iku?”
Lampu fluoresen di lorong itu pasti sudah tua, soalnya berkedip dengan mengganggu. Saat Akiyama terdiam, aku bisa mendengar teriakan klub olahraga dari kejauhan.
“Kamu mau bagaimana soal jemput dia hari ini?”
“Itu...”
“Aku tahu kamu bekerja keras demi Iku, dan menurutku itu hebat, tapi salah kalau gara-gara itu kamu justru mengabaikannya.”
Nada suaraku mungkin sedikit terlalu keras.
Aku yakin dia punya alasannya sendiri. Aku tahu dia tidak bisa memprioritaskan Iku dalam segala hal seperti aku memprioritaskan Soyoka. Ada masalah keluarga, ada soal masuk universitas. Bahkan keinginannya untuk jadi onee-chan yang keren pun semua itu dia lakukan demi Iku.
“Dengar, kurasa aku pernah bilang ini sebelumnya, tapi kamu boleh lebih mengandalkanku. Setidaknya untuk hal-hal yang menyangkut Iku.”
Akiyama mengepalkan tangannya. Matanya goyah sedikit.
“Kamu... benar... Umm, apa nggak apa-apa kalau aku minta kamu jemput Iku hari ini?”
“Tentu saja.”
Akiyama langsung menghubungi pihak TK di tempat. Dia memberi tahu bahwa hari ini yang akan menjemput Iku bersamaku dan Soyoka adalah aku. Karena kami memang sering datang menjemput bersama, pihak TK langsung mengerti dengan mudah.
Urusan OSIS itu memang tak terelakkan, soalnya dia ketua kelas. Sementara itu, biar saja Iku bermain di rumahku bersama Soyoka. Kurasa Soyoka juga akan senang punya teman bermain.
“Aku akan segera ke sana.”
“Tenang saja. Oh ya, sekalian makan malam di rumahku juga mau? Ibumu juga nggak di rumah hari ini, kan?”
“Aku nggak bisa merepotkanmu sampai segitunya...”
“Nggak apa-apa, makan saja.”
Kata-kata penolakannya itu sekarang rasanya sudah cuma refleks. Akiyama terdiam lalu menggeleng.
“...Terima kasih. Aku akan menerima tawaranmu.”
“Iya, nanti kubikin masakan seenak mungkin sampai Iku nggak mau pulang.”
“...Kamu ini suka anak laki-laki kecil juga, bukan cuma anak perempuan?”
“Itu sudah keterlaluan.”
Kalau dipikir-pikir, aku sendiri jadi terdengar seperti orang yang sangat berbahaya...
Bagaimanapun juga, Akiyama memang terlalu tidak pandai mengandalkan orang lain. Sementara aku, untuk urusan sekolah saja aku mengandalkan Mizuki dalam segala hal. Kalau ada masalah, aku langsung pergi merengek ke teman-temanku. Demi Soyoka, harga diriku bisa pergi ke neraka!
Akiyama sendiri juga sebenarnya mau menundukkan kepala padaku demi Iku. Tapi... dia tetap mengabaikan beban dirinya sendiri. Masalah itu sendiri sama sekali belum selesai.
“Memalukan sekali buatku harus bergantung padamu, Kyōta. Ini cuma sekali.”
“Iya, iya. Sekarang cepat pergi sana. Makin lama malah tambah telat.”
“Aku tahu.”
Dengan wajah yang tampak sedikit lebih cerah, Akiyama mendengus lalu pergi menuju ruang OSIS.
Aku sendiri juga memutar badan dan berjalan ke arah sebaliknya.
Baiklah, saatnya menjemput Soyoka dan Iku. Kira-kira enaknya malam ini masak apa, ya?