(POV Akiyama Sumi)
Apa aku sudah menjadi onee-chan yang pantas untuk Iku?
Setiap malam, saat melihat wajah polosnya yang tertidur nyenyak di futon yang sama, aku selalu mengulang pertanyaan itu dalam hati berkali-kali.
Dan setiap kali, jawaban yang muncul di benakku selalu sama.
Belum.
Belajar? Masih kurang. Aku harus masuk universitas negeri dan menghemat uang sebanyak mungkin. Aku ingin Iku masuk sekolah yang bagus. Aku ingin dia mengikuti teladanku dan rajin belajar. Aku ingin bisa mengajarinya.
Pekerjaan rumah? Gagal total. Seharusnya aku minta Ibu mengajariku lebih banyak sebelum beliau mulai lembur sesering sekarang. Aku lambat dalam bersih-bersih dan mencuci. Soal memasak terutama parah, sampai-sampai Iku sendiri menilainya rendah.
Mengurus anak? Sulit. Anak kecil itu terlalu susah ditebak, dan aku mudah panik. Saat Iku sakit pilek, aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
Pertemanan? Hancur total. Jangankan punya teman, orang yang bisa kuajak bicara santai saja tidak ada. Aku muak pada ketidakbecusanku sendiri, tapi di sekolah aku tetap memasang wajah tenang dan mencurahkan diri pada belajar. Berkat itu, aku berhasil memberi kesan pintar dan keren seperti yang kuinginkan. Kurasa dengan begitu Iku akan mengagumiku.
Apa aku sudah benar-benar menggantikan posisi Ayah? Ayahku yang sempurna, yang baik hati dan bijaksana. Seperti ayah keren yang selama ini kukagumi.
Apa aku sudah menjalankan peran seorang ibu saat Ibu tidak ada? Bukan cuma soal pekerjaan rumah. Apa aku sudah menjadi penopang hati baginya, seperti Ibu yang meski sedikit ceroboh tetap mampu merangkul segalanya?
Tidak. Tidak. Tidak.
Sebagai onee-channya Iku, aku masih belum cukup. Aku harus lebih sempurna lagi.
Begitulah yang selalu kupikirkan.
“Sumi, mulai tahun depan kamu jadi onee-chan, ya! Kamu harus jadi onee-chan yang keren! Atau malah lebih bagus kalau jadi onee-chan yang cantik dan manis?”
Wajah Ayah yang tersenyum lembut sambil mengusap perut Ibu yang sedang mengandung kehidupan baru itu terlintas dalam benakku.
Pasangan yang tampan dan cantik, sama-sama sukses dalam pekerjaan. Rumah tangga mereka harmonis, dan mereka hampir tidak pernah bertengkar. Mereka adalah keluarga bahagia yang tampak sempurna.
Bagiku, Ayah adalah pria tanpa satu cela pun. Bahkan saat anak-anak perempuan lain mulai membicarakan keburukan ayah mereka sendiri, rasa hormatku pada Ayah justru semakin dalam, bukan malah berubah jadi benci.
Aku belum pernah melihatnya gagal dalam hal apa pun. Dia mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh anak dengan wajah tenang. Namun meski begitu, dia tetap sangat baik pada Ibu dan juga padaku.
Itulah kenapa kami semua sangat gembira saat keluarga bahagia kami akan bertambah satu orang lagi.
“Kamu ini onee-chan, jadi harus bisa jadi panutan yang baik. Janji ya.”
Waktu itu, aku sama sekali tidak bisa membayangkan Ayah akan mengalami kecelakaan, jadi bagiku itu cuma janji biasa. Saat itu aku masih SMP, masih anak-anak. Kurasa Ayah cuma ingin aku baik pada adik laki-lakiku nanti.
Kami begitu menantikan kelahiran Iku, sampai keluarga kami berkali-kali membicarakannya.
Aku sendiri hampir tidak ingat apa yang terjadi setelah Ayah meninggal.
Kami yang sebelumnya begitu bahagia, mendadak jatuh ke dasar keputusasaan dalam semalam.
Sejak hari itu, Ibu dan aku jadi jarang bicara. Karena kalau kami membuka mulut, kami akan semakin sadar bahwa Ayah memang sudah tidak ada.
Aku lupa bagaimana caranya tertawa, karena itu adalah sesuatu yang diajarkan Ayah padaku.
Bahkan di tengah hari-hari suram itu, waktu tetap bergerak kejam. Adik laki-lakiku terus tumbuh dengan pasti di dalam kandungan Ibu.
Sekitar saat upacara pemakaman selesai, Iku pun lahir.
Awalnya, aku sempat berpikir tidak ada gunanya punya adik laki-laki kalau Ayah sudah meninggal. Aku tidak mungkin bisa merasa bahagia kalau Ayah sudah tidak ada.
Sekarang, aku sungguh menyesal pernah memikirkan hal seperti itu.
Berlawanan dengan dugaanku, Iku justru membawa senyum kembali ke wajah kami. Hidup kami perlahan mulai berpusat padanya, dan di tengah kesibukan yang memusingkan itu, kami sedikit demi sedikit mulai bisa menatap ke depan lagi.
Hanya saat bersama Iku-lah aku bisa tertawa dari lubuk hati. Iku adalah satu-satunya penopang hatiku.
Keluarga kami yang sempat jatuh ke titik paling bawah menjadi lebih cerah berkat Iku.
Lalu, aku teringat kata-kata Ayah.
Aku akan jadi onee-chan yang keren. Onee-chan yang sempurna, seperti Ayah.
Karena itulah peran yang harus kujalankan di rumah ini, setelah Ayah tidak ada.
Aku akan mengisi lubang besar yang ditinggalkannya.
Tapi aku tidak bisa menjadi Ayah.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Ibu mulai bekerja demi mencari nafkah, dan kami pindah ke apartemen dengan sewa yang lebih murah. Meski lingkungan kami berubah, aku tetap saja cuma anak yang tidak berdaya.
Ibu membesarkan Iku sambil bekerja dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendirian. Aku yang masih siswa SMP saat itu hanya bisa melihatnya.
Bahkan setelah aku masuk SMA, itu pun tidak berubah. Baru setelah Iku masuk TK dan pada saat yang sama Ibu mulai sangat sibuk, aku benar-benar menyadari betapa berat semua itu bagi beliau. Sampai saat itu, aku selalu menjadikan belajar sebagai alasan untuk menghindari kenyataan. Kurasa aku juga memanfaatkan fakta bahwa Ibu membiarkanku begitu.
Ini sama sekali jauh dari onee-chan yang sempurna. Dalam beberapa hari terakhir, aku menyadari itu dengan sangat menyakitkan.
Tapi Iku bilang tidak apa-apa.
Kyōta dan Soyoka-chan memarahiku.
Tentu saja, janjiku pada Ayah tetap merupakan harta yang berharga bagiku.
Tapi berkat mereka bertiga, aku bisa sedikit mengubah cara berpikirku.
“Kamu sudah menjadi onee-chan yang baik.”
Entah kenapa, rasanya seperti Ayah dalam ingatanku mengatakan itu padaku.
Untuk sesaat, sosok Kyōta bertumpang tindih dengan bayangan Ayah. Suasananya, caranya memperlakukan anak-anak, cara berpikirnya. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi entah kenapa dia mirip dengan Ayah.
Pantas saja Iku jadi begitu lengket dengannya. Meski tentu saja, Ayah tetap jauh lebih keren dan lebih pintar.
“Aku nggak boleh kalah dari Kyōta.”
Lagi pula, dia terlalu besar kepala cuma karena sudah mengerjakan pekerjaan rumah sejak kecil. Aku pasti akan segera melampauinya.
Aku mengecup lembut dahi Iku yang bernapas pelan dalam tidurnya di sampingku, lalu menenggelamkan kepala ke bantal.