“Ah, Kyōta! Sini, sini!”
Di tengah kerumunan orang yang berkumpul di depan stasiun dekat SMA, Mizuki melambaikan tangan dengan penuh semangat. Teman-teman sekelas yang lain juga ikut bereaksi di sana-sini.
Hari ini adalah acara kumpul kelas yang direncanakan oleh Mizuki. Karena aku harus menjemput Soyoka dulu, aku sempat mampir ke TK, lalu baru datang ke sini. Tentu saja, Soyoka juga ikut bersamaku.
Sudah sebulan setengah sejak pergantian kelas, dan tujuan acara ini adalah untuk makin mempererat hubungan kami sekarang setelah mulai saling kenal. Karena keikutsertaannya sukarela, jumlah yang datang cuma sekitar lima belas orang. Kira-kira setengah kelas.
Seperti dugaan, para siswi sudah membentuk lingkaran rapat di sekitar Mizuki. Ini kesempatan emas untuk memanfaatkan status sekelas dengan Mizuki semaksimal mungkin. Mereka bahkan berdandan penuh padahal sekolah baru saja selesai, dan itu menunjukkan betapa seriusnya mereka. Mungkin alasan aku tidak populer adalah karena menurutku cewek lebih imut tanpa makeup.
“Maaf, ya, semuanya. Aku bikin kalian nunggu.”
“Nggak, kok. Kami juga baru selesai ngobrol. Pas banget. Nih, Soyoka-chan, ada hadiah buatmu.”
Dia mulus banget menutupi keterlambatanku sambil tetap perhatian pada Soyoka?!
Cowok ini benar-benar bukan cowok ganteng biasa...
“Mizuki! Fank you!”
Soyoka, yang menerima kantong kertas kecil berbungkus rapi itu, langsung memeluk Mizuki dengan gerakan imut yang terasa terlalu terlatih.
“S-Soyoka...? Di sana bahaya, sini balik ke Onii-chan.”
“Aku mau sama Mizuki!”
Entah kenapa, rasanya dia memasang wajah perempuan dewasa...!
Dia sudah beberapa kali bermain dengan Mizuki sejak tahun lalu, jadi wajar kalau dia jadi akrab. Mizuki juga selalu memberinya camilan yang kelihatan modis, jadi dari tadi dia memang menantikan bertemu dengannya hari ini. Apa anak perempuan, bahkan yang masih kecil, memang suka cowok ganteng?
“Itu adik perempuannya Kuremoto-kun? Imut banget~. Syukurlah dia nggak mirip onii-channya!”
“Dia bilang ‘fank you’! Maksudnya ‘thank you’, ya?”
“Lucu banget!”
Yup, yup, benar, benar.
Aku senang semua orang paham betapa imutnya Soyoka.
Foto saja ada batasnya, soalnya! Syukurlah aku membawanya. Soyoka sendiri juga tampak senang dimanja kakak-kakak perempuan yang lebih besar, tapi apa dia sedikit gugup, ya?
“Oke, semuanya, Soyoka-chan mulai kewalahan, jadi cukup dulu, ya.”
Mizuki dengan santai melindungi Soyoka. Sial, rasanya aku juga kalah dalam urusan jadi onii-chan!
“Oh, iya benar. Maaf ya, Soyoka-chan.”
“Nggak apa-apa.”
Para siswi itu minta maaf lalu melepaskan Soyoka.
“Bagus. Kyōta sudah datang, jadi ayo kita berangkat?” kata Mizuki sambil menggendong Soyoka.
Tempat karaoke itu sudah dipesan dengan sempurna oleh Mizuki, dan kami dipandu ke sebuah ruangan besar yang muat untuk semua orang.
Dengan lima belas orang, kesempatan tiap orang untuk menyanyi mungkin tidak akan banyak. Tapi tujuan utamanya memang untuk mempererat hubungan, jadi itu bukan masalah.
Tempat ini baru buka belum lama, dan pengunjung boleh membawa makanan sendiri, jadi semua orang langsung mengeluarkan camilan mereka ke atas meja. Paket minuman juga sudah termasuk di semua pilihan ruangan.
Padahal yang datang ya orang-orang yang sama seperti di sekolah, tapi suasana khas karaoke dan ruang tertutup itu langsung membuat semua orang jadi lebih bersemangat. Ruangannya memang besar, tapi jumlah sofanya terbatas, jadi semua orang cenderung duduk berdekatan. Sangat cocok untuk acara kumpul seperti ini.
Kalau Soyoka sendiri, dia sudah mengamankan tempat di pangkuan Mizuki di sofa paling dalam, benar-benar dalam mode putri kecil. Dia dikelilingi sepenuhnya oleh para siswi yang datang demi Mizuki. Itu apa, host club?
“Soyoka...? Nggak mau ke sini?”
Aku mencoba menyelamatkannya dari cengkeraman jahat Mizuki. Diabaikan.
...Adik perempuanku tumbuh terlalu cepat, aku benar-benar bisa menangis.
Mizuki menatapku lalu mengacungkan jempol. Memang sahabat terbaikku! Kamu paham, kan!
“Soyoka-chan, kamu mau jus apa? Jeruk, anggur, atau teh? Kayaknya tadi ada cola juga.”
“Jeruk!”
“Katanya begitu, Kyōta. Oh ya, aku oolong tea.”
Dia pesan dengan santainya.
Cowok ini, aku nggak bisa membiarkannya hidup!
“Aku jus sayur~”
“Eh, serius? Kalau begitu aku cola.”
“Maaf ya~. Aku mau kopi panas, dong.”
Setelah Mizuki, para siswi lain juga ikut mengangkat tangan.
Apa aku nyanyikan lagu kebangsaan terus-menerus saja, ya? Entah kenapa aku mulai merasa ingin menunjukkan rasa cintaku pada negara.
Atau lagu kebangsaan Kota Yokohama yang bisa dinyanyikan semua warga... tidak, itu nggak ada di mesin karaokenya. Masa punya cabang di kota ini tapi lagu itu nggak masuk sistem? Bukannya itu melanggar semacam peraturan daerah? Ya, aku juga nggak tahu sih.
Karena ditunjuk jadi tukang ambil minuman, aku berjalan ke drink bar dengan enggan. Punya adik yang terlalu imut memang berat, dia jadi terlalu populer! Sangat menyedihkan, tapi selama dia bersama Mizuki, seharusnya tidak akan terjadi hal aneh.
Aku mengambil gelas dari samping dispenser lalu tanpa sadar menekan tombol oolong tea.
“Kuremocchan, kamu benar-benar dipakai jadi tukang ambil minuman, ya. Keren banget~”
“Itu cara mengejek yang paling parah, ya?!”
Hiiragi Hikaru berdiri di sampingku, menggerakkan jarinya di udara sambil berkata, “Enaknya aku ambil yang mana~?”
Berbeda dengan para siswi lain, penampilannya masih sama seperti saat di sekolah. Rasanya dia punya kepercayaan diri yang bilang dia memang tidak butuh makeup. Potongan rambut bob bergelombangnya juga natural dan memberi kesan bersih.
Saat aku menekan tombol, aku melirik ke arahnya. Hiiragi membuka mulut sambil meletakkan gelasnya.
“Adikmu, Kuremocchan, imut banget. Jadi dia memang benar-benar ada, ya~”
“Eh? Kamu kira dia adik khayalanku?”
“Aku cuma kira kamu lolicon.”
Hiiragi menjulurkan sedikit ujung lidahnya lalu tertawa nakal. Gadis bernama Hiiragi Hikaru ini memang tipe yang bisa melakukan gerakan seperti itu dengan alami. Jujur saja, dia memang imut.
Kemampuannya menjaga percakapan tetap enak di tengah waktu sesingkat menuang minuman itu menunjukkan tingkat skill sosial yang tinggi.
“Mau kubantu?”
“Hmm, kalau begitu ambilin tray-nya, ya?”
“Siap~”
Soyoka maunya jus jeruk, Mizuki oolong tea... terus yang lain tadi pesan apa saja? Yah, kalau ada sedikit yang salah juga sepertinya nggak masalah.
“Kuremocchan, kamu akrab sama Mizuki, kan?”
“Kami juga sekelas tahun lalu.”
“Ah, sekarang kamu bilang begitu, kayaknya aku memang pernah lihat kalian beberapa kali.”
Karena cukup sering ada cewek dari kelas lain datang mencari Mizuki, biasanya aku langsung kabur tiap situasi begitu. Aku tahu Hiiragi secara sepihak karena dia memang menonjol tahun lalu, tapi kesan diriku di matanya mungkin tipis sekali.
“Aku kira kamu aneh, Kuremocchan, soalnya kamu kerjaannya ngomongin adikmu terus.”
“Sebaliknya aku mau tanya, memang ada pilihan untuk tidak membicarakan seseorang seimut Soyoka?”
“Kamu memang aneh beneran, ya...”
Kurang ajar.
Bahkan di tengah obrolan ringan yang nggak penting begini pun, Hiiragi tetap tertawa ceria. Pantas saja dia populer. Dia benar-benar kebalikan Akiyama yang selalu ketus dan cuma tersenyum di depan Iku.
“Yah, aku senang kamu datang hari ini. Ayo berteman, ya?”
“Supaya bisa lebih dekat sama Mizuki?”
“Oh, tepat sekali.”
“Iya,” kataku sambil membalas high five darinya. Jujur, dan itu bagus.
“Memangnya kamu nggak di sana sama Mizuki? Di sana suasananya sudah mirip host club.”
“Eh, tapi Mizuki nggak suka hal kayak begitu, kan?”
“Kamu kenal dia baik juga.”
“Lagipula aku sudah curi start dengan bantu-bantu persiapannya. Buat hari ini, aku kasih ke yang lain dulu.”
Mizuki memang nggak suka kalau cewek terlalu agresif. Pernah sekali aku bilang begitu ke seorang cewek, lalu dia langsung ilfeel berat dan bilang, “Eh... Kuremoto-kun, nggak baik, ya, ngomong begitu cuma karena iri. Atau kamu lagi mencoba ngedeketin aku?” Sejak itu aku berjanji nggak akan bilang hal seperti itu ke siapa-siapa lagi. Seperti dugaan, perempuan selain Soyoka memang tidak bisa diandalkan.
“Kamu juga suka sama Mizuki, ya, Hiiragi?”
“Aku suka.”
Itu sebenarnya cuma candaan ringan untuk menggodanya.
Tapi karena dia langsung menjawab, aku terkejut dan menatap wajah Hiiragi. Senyum manisnya yang biasa sudah lenyap, dan dia membalas tatapanku dengan wajah serius.
Jariku yang lupa kuangkat dari tombol membuat oolong tea meluap dari gelas.
“Nggak dengar, ya? Aku serius suka sama Mizuki.”
“O-oh. Begitu.”
Cowok itu populer banget sampai keterlaluan...
Hiiragi sendiri sepertinya juga cukup populer. Rasanya jumlah mayat laki-laki bakal bertambah lagi. Akiyama dan Hiiragi sama-sama benteng yang susah ditembus.
Mizuki juga sama, dalam arti dia memang tidak berniat punya pacar. Yang dia cari itu hubungan setara, tanpa keruwetan khas percintaan. Dan meski Hiiragi mungkin tahu itu, aku yakin dia tetap tidak akan menyerah. Wajahnya tadi terlalu serius sampai membuatku percaya.
“Jadi, maaf ya? Aku nggak bisa membalas perasaanmu, Kuremocchan.”
Dia bercanda begitu sambil menusuk ringan bahuku dengan jari. Ketegangan pun mengendur.
“Perasaanku...? Coba bilang begitu setelah kamu lebih imut dari Soyoka.”
“Itu pertarungan yang nggak mungkin bisa kumenangkan.”
Tentu saja. Soyoka itu yang paling imut di seluruh alam semesta, jadi yang seperti Hiiragi jelas nggak mungkin menang.
Hah, jangan-jangan Soyoka mulai kesepian. Aku harus cepat kembali! Aku meletakkan gelas-gelas yang sudah terisi di atas tray lalu mengangkatnya dengan hati-hati. Aku menerima tawaran Hiiragi yang berkata, “Aku bukain pintunya, ya,” lalu mengikutinya.
“Ngomong-ngomong, Akiyama-san akhirnya nggak datang, ya?”
“...Yah, mungkin dia sibuk.”
“Hmm? Yah, sebenarnya juga nggak penting. Padahal Mizuki sudah repot-repot mengundangnya.”
Selama beberapa hari terakhir, sepertinya Hiiragi agak bersikap dingin pada Akiyama. Itu cukup jarang untuk orang sepertinya yang biasanya memperlakukan semua orang sama.
“Bukannya justru lebih enak buatmu kalau dia nggak datang?”
“Maksudmu apa? Aku cuma nggak mau dia bikin Mizuki repot. Dia datang atau nggak datang pun, aku nggak berniat kalah.”
Tepat saat Hiiragi membuat deklarasi yang sangat jantan itu, kami sampai di ruangan besar tadi. Dia membuka pintu lalu kembali berbicara dengan semua orang dengan wajah cerianya yang biasa. Dia memang telaten, memastikan dirinya berinteraksi setidaknya sekali dengan semua orang, tanpa peduli gender atau kelompok.
Kalau bisa, aku sih lebih suka dia nggak bermusuhan dengan Akiyama.
“Aku benar-benar nggak ngerti perempuan...”
Maksudku, kalau ini urusan Mizuki, jangan malah seret-seret aku!
Dengan perasaan agak tidak tenang, aku membawa minuman ke meja tempat Soyoka dan yang lain berada. Padahal aku sudah membawakan jus jeruk untuknya, tapi Soyoka bahkan tidak melirikku.
Nggak apa-apa... selama Soyoka senang, itu saja sudah cukup buatku...
“Soyoka-chan, mau nyanyi sesuatu?”
“Aku mau nyanyi! Umm, lagu Miniskirt-chan.”
“Oke. Kyōta, kamu tahu lagunya?”
Karaoke-nya Soyoka! Ide bagus, Mizuki. Tentu saja aku hafal semua lagu favorit Soyoka.
Begitu musiknya mulai, Soyoka berdiri sambil memegang dua mikrofon.
“Nih, Onii-chan, Onii-chan juga nyanyi!”
“Soyoka...!”
Kamu masih ingat aku! Tadi aku sampai merasa bakal turun pangkat dari onii-chan jadi pelayan karena kamu nggak mau mendekat ke aku. Pandanganku sampai kabur karena air mata.
Karena itu permintaan dari Soyoka, tentu saja aku mengambil mikrofonnya. Tapi yang utama tetap suara indah Soyoka. Aku sudah mempelajari cara menyanyi harmoni, berjaga-jaga kalau momen seperti ini datang.
Saat musik mulai, Soyoka berdiri di panggung kecil di depan monitor lalu mulai bernyanyi dengan penuh semangat. Semua orang bertepuk tangan mengikuti irama dan mendengarkannya dengan serius, jadi semangat Soyoka juga naik terus. Dia bergoyang ke kanan dan ke kiri, dan suara merdunya bergema di dalam ruangan. I-imut banget!
Aku sendiri hampir tidak benar-benar bernyanyi, cuma diam-diam membantu saat Soyoka lupa lirik. Dia belum terlalu bisa membaca, jadi tulisan di layar praktis tidak ada gunanya.
“Soyoka! Imut banget!”
Saat bagian instrumental datang, aku langsung berteriak sekuat tenaga. Syukurlah aku membawanya!
Begitu lagu selesai, tepuk tangan pun meledak. Semua orang benar-benar terpikat oleh keimutan Soyoka. Tadinya aku sempat khawatir membawa anak TK ke acara kumpul seperti ini bakal merepotkan, tapi sepertinya mereka semua menerimanya dengan baik.
Soyoka turun dari panggung lalu, masih dalam keadaan bersemangat, melompat ke pelukanku. Aku mengangkatnya dengan tangan kiri lalu mengusap kepalanya.
“Itu tadi bagus banget, Soyoka.”
“Iya! Soka tadi jago nyanyi?”
“Tentu saja. Jenius.”
“Ehehe,” dia menyeringai sambil memperlihatkan gigi putihnya.
Setelah itu, waktu berjalan dalam suasana yang akrab. Ada beberapa anak sekelas yang memang suka menyanyi lalu tampil satu per satu, dan Mizuki yang dipaksa para siswi juga dengan santai mencetak skor tinggi. Oh ya, sekitar tiga orang pingsan gara-gara suara nyanyian Mizuki yang terlalu manis. Nggak adil kalau dia nggak punya setidaknya beberapa kekurangan, jadi nanti aku akan berusaha mencarinya.
Soyoka juga sempat mengobrol dan bernyanyi beberapa saat, tapi lama-lama dia mulai menunjukkan tanda-tanda lelah.
Begitu dia mulai bersandar ke sofa dan lebih sedikit bicara, aku langsung menyelamatkannya dari kerumunan.
“Maaf ya, Soyoka sepertinya capek, jadi kami pulang duluan.”
“Oh, iya juga. Maaf ya? Jadi bikin kamu ikut repot nongkrong sama kami.”
“Nggak, malah aku yang terbantu karena kalian sudah menemani Soyoka.”
Kurasa Soyoka cukup puas karena bisa bermain dengan kakak-kakak perempuan yang lebih besar. Dia menggosok matanya lalu melambaikan tangan sambil berkata, “Dadah~”. Kelihatannya dia memang nggak akan bertahan melek sampai kami sampai rumah.
Aku menitipkan uang iuran pada Mizuki lalu pulang bersama Soyoka.