Beberapa waktu sebelumnya, di ruang kerja kediaman Count Leginbarth di ibu kota...
“Spring Ball, Tuan? Apa Tuan benar-benar berpikir orang-orang akan sadar kalau ada satu ksatria yang absen dari kalangan bangsawan?”
“Menurutmu mereka tidak akan sadar? Justru kau akan membantuku kalau kau hadir. Sudah banyak gadis cantik yang menanyakan kenapa kau tidak pernah datang, tahu. Dan Yang Mulia Putra Mahkota juga berencana masuk Royal Academy tahun ini, jadi kalau beliau datang, aku ingin kau juga ada di sana. Mengerti, Lect?”
Lect mengernyit. “Ya, Tuan Leginbarth.”
Ia merasa dirinya tak akan pernah terbiasa dengan tatapan mata ungu Tuan Leginbarth yang begitu tajam.
Cloud Leginbarth berusia tiga puluh tiga tahun. Lect melayaninya sebagai pengawal pribadi sekaligus ajudan.
Bukan berarti sang count tak bisa melindungi dirinya sendiri. Tubuhnya bahkan lebih cocok dimiliki seorang ksatria ketimbang wakil kanselir. Kancing-kancing kemejanya seolah selalu kalah melawan lebarnya dada pria itu. Parasnya tampak berwibawa, tapi juga kokoh dengan cara yang gagah. Dengan rambut perak yang dipotong pendek dan bayangan janggut tipis di wajahnya, ia punya ketampanan tegap khas seorang prajurit.
Namun di balik itu, pria itu sebenarnya berhati lembut dan dicintai banyak orang. Sungguh, Leginbarth punya segalanya. Tak heran para wanita berebut dirinya. Meski begitu, ia tak pernah menikah dan juga tak berniat melakukannya.
Hati sang count hanya milik Selena, dan ia tak tertarik memberikannya pada wanita lain. Kecuali mungkin putrinya, Celesty McMarden.
Di balik ketenangannya yang seteguh batu, Cloud menghela napas lega. Setidaknya masih ada sedikit ruang untuk bernapas. Semoga para wanita itu membiarkanku dan malah beralih mengejarnya.
Cloud adalah pria yang licik dalam arti baik. Ia tahu cara mendapatkan apa yang ia inginkan.
Meski tak punya wilayah kekuasaan sendiri, Lect juga cukup populer di kalangan wanita. Statusnya sebagai ksatria membuatnya nyaris seperti bangsawan kecil. Di antara para peer yang anak-anaknya akan mewarisi gelar keluarga, perbedaan itu memang tak seberapa berarti, tapi siapa pun bisa melihat bahwa pemuda itu punya masa depan. Wakil Kanselir Leginbarth sangat memercayainya dan menugaskannya dalam berbagai peran penting. Tak ada yang akan heran bila dalam waktu dekat ia benar-benar mendapat gelar bangsawan.
Tentu saja, wajah tampan sangat membantu. Lect adalah pemuda tinggi dengan tubuh atletis dan wajah tegas yang menonjol. Tubuhnya ramping berotot, tapi jelas penuh tenaga. Rambut merah cerahnya dipotong pendek, rapi. Matanya, salah satu daya tarik yang paling digemari orang-orang, tampak sayu namun tetap menangkap segala sesuatu di sekitarnya dengan tajam. Ditambah lagi, wataknya pun kuat. Tak heran banyak orang menaruh harapan besar padanya.
Sial, andai saja aku bisa bertukar tempat dengan Sable sekarang, gerutunya dalam hati.
Saat Lect melaporkan kematian Selena dan keberadaan putri sang count, ia sempat mengira Cloud akan mengirimnya ke barat, menyusul Sable yang sudah lebih dulu pergi mencari gadis itu. Tapi hasilnya justru kebalikan. Cloud menahannya tetap di ibu kota, dengan alasan Sable lebih mengenal wilayah barat dan lebih cocok bergerak sendirian di sana. Lagipula, karena Celesty bukan hanya anak di luar nikah dari seorang bangsawan dan rakyat biasa, tetapi juga putri seorang maid, pencarian terhadapnya harus dilakukan secara diam-diam agar Keluarga Leginbarth tidak menjadi sasaran fitnah dan gunjingan.
Sang count memang berniat membawa pulang dan mengakui darah dagingnya sendiri, tapi kalau rumor buruk keburu menyebar sebelum mereka menemukannya, maka Celesty akan datang ke tengah masyarakat yang sudah siap melemparinya dengan lumpur. Karena itu, ia mengambil segala langkah hati-hati agar putrinya nanti bisa datang ke sisinya dengan kepala tegak dan martabat utuh.
Tentu saja, semua itu baru bisa terjadi kalau Celesty ditemukan lebih dulu. Sampai sekarang belum ada kabar tentang gadis itu. Dan sepertinya memang tidak akan ada.
Karena Celesty McMarden tidak pergi ke barat.
Kalau sang count tahu bahwa darah dagingnya sendiri hidup di kota ini dan bekerja sebagai seorang maid, mungkin ia akan limbung saat itu juga. Tapi sayangnya, ia tidak tahu.
“Andai yang kau antar ke Spring Ball itu putriku,” keluh Cloud. “Suatu hari nanti. Kalau beruntung.”
“Tuan ingin aku yang menemaninya?” tanya Lect.
“Tentu. Dalam urusan perlindungan, aku memercayaimu sepenuhnya.” Ia melempar tatapan tajam pada Lect. “Dan juga profesionalitasmu.”
Pria itu bahkan belum pernah bertemu putrinya, tapi taring kebapakannya sudah keluar. Lect tak mengerti kenapa seolah-olah taring itu diarahkan padanya. Ia sendiri sama sekali tak berniat mencampuri urusan sesak dan penuh aturan milik kaum bangsawan.
Ia pun meyakinkan tuannya soal itu, tentu dengan kata-kata yang lebih sopan.
“Ngomong-ngomong, aku juga ingin kau membawa pasangan ke sana, Lect.”
“Hah?!” ksatria itu spontan berseru. “K-kenapa?!”
“Itu juga bagian dari bantuan yang kau berikan padaku. Aku sudah lelah mendengar permintaan tanpa henti dari orang-orang yang ingin mendekatimu. Kalau mereka melihatmu datang ke pesta itu tanpa pasangan... ya ampun, itu tidak akan pernah selesai.” Lect menelan ludah. “Kau pikir kenapa aku selalu datang ke acara-acara resmi bersama adikku? Tepat untuk mencegah hal yang sekarang sedang berusaha kulindungi darimu. Sungguh keajaiban saudara iparku dulu bisa hidup cepat dan lurus.”
Cara yang cukup kejam untuk mengenang orang yang sudah meninggal, tapi jelas sang count memang bersungguh-sungguh. Spring Ball pertamanya setelah mewarisi gelar sang ayah masih tertancap dalam ingatannya seperti duri kecil yang menyebalkan.
“Tak masalah siapa, pokoknya carilah seseorang,” kata Cloud. “Kalau bisa, seseorang yang paham tata krama masyarakat kelas atas, supaya kau tidak mempermalukan dirimu sendiri, atau dia. Bagaimanapun, melihatmu datang bersama pasangan setidaknya akan membuat para pemburu itu mundur untuk sementara. Kecuali kalau kau memang ingin jadi mangsa, ya silakan saja datang sendiri.”
“Aku akan... mempertimbangkannya.”
Sesuai ucapannya, Lect mempertimbangkan pilihan-pilihannya sepanjang perjalanan pulang. Lalu ia memikirkannya lagi. Dan lagi. Bisa dibilang, ia menghabiskan hampir seluruh perjalanan pulangnya hanya untuk memikirkan hal itu. Ia tak punya anggota keluarga atau kenalan dekat yang bisa dengan mudah ia ajak, seperti yang bisa dilakukan tuannya.
“Mungkin Paula bisa... Tidak. Konyol.”
Paula adalah maid serba bisa yang bekerja padanya. Lect menyukai kenyataan bahwa gadis itu tidak terlalu peduli pada pangkatnya. Mungkin itu karena Paula berasal dari keluarga pedagang yang sudah gulung tikar. Tapi tetap saja, ia tidak punya pembawaan dan tata krama yang diharapkan dari seorang tamu pesta dansa.
Lect punya kebiasaan buruk: kalau sedang terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia jadi tak memperhatikan hal lain. Tanpa sadar, ia sudah sampai di rumah, masuk ke kamar mandi, bahkan belum sempat mengumumkan kepulangannya. Berendam air panas yang lama pasti akan membantunya merapikan pikirannya.
Tapi saat ia masuk, ruangan itu terasa anehnya hangat. Apa Paula sudah menyiapkan air mandi?
“Kalau dia mau, dia memang bisa sigap,” gumamnya.
Mungkin baju ganti di ruang pakaian akan membuatnya sadar bahwa kamar mandi itu sebenarnya sudah dipakai seseorang, tapi Paula belum sempat menaruh apa pun di sana. Ia sedang terlalu sibuk membersihkan seragam seorang maid tertentu.
Lect sendiri terlalu lelah untuk berpikir jernih. Kenapa Paula menyiapkan mandi untuknya? Kenapa seorang maid menyiapkan mandi untuk tuannya tanpa tahu pasti kapan tuannya pulang? Sang ksatria bahkan tak sempat mempertanyakan hal-hal itu dan langsung mulai melepas pakaiannya.
Tak lama kemudian, tak ada lagi apa pun yang menutupi tubuhnya yang terpahat rapi. Ia menghela napas letih sambil membuka pintu menuju area pemandian.
Lalu...
Ia disambut pekikan kaget kecil dan keheningan yang memekakkan telinga.
Yang menunggunya bukanlah bak mandi penuh air panas seperti yang ia bayangkan, melainkan sepasang mata biru tua sebening permata.
Butuh sesaat lagi sampai ia menyadari bahwa mata itu milik seorang wanita.
Waktu terasa tersangkut dan berputar di tempat. Setiap putaran memberinya kesempatan lagi untuk memahami apa yang sedang terjadi. Dan setiap kali itu pula, ia gagal.
Siapa wanita ini? Kenapa dia ada di kamar mandinya?
Namun satu hal pasti. Dia jelas seorang wanita.
Rambutnya terurai seperti sutra perak yang indah, menempel di kulitnya yang basah, merona, dan lembut. Matanya, sebiru langit saat senja namun jauh lebih dalam, membelalak menatapnya dengan kepolosan yang justru menggoda.
Tak ada sehelai kain pun yang memisahkan mereka.
Setetes air meluncur dari leher gadis itu. Tatapan Lect mengejarnya, mengikuti jalurnya sampai ke tulang selangka, tempat tetes itu sempat menggantung sebentar dengan menyiksa. Lalu tetes itu terus turun menyusuri lekuk dadanya, dan mata Lect ikut menelusuri jejaknya.
Ia berdiri terpaku, seperti terhipnotis. Di hadapannya, kecantikan seolah mengambil bentuk nyata. Hanya ada satu pikiran yang tersisa di kepalanya, menyingkirkan semua yang lain.
“Kau... malaikat.”
Sesuatu yang lembut menyentuh perutnya. Jari-jari gadis itu menekan permukaan otot keras di sana, dan sesaat, Lect merasa dirinya mungkin benar-benar akan runtuh untuk pertama kalinya dalam hidup.
Lalu gadis itu menjerit.
“Menuju kehampaan... Dimenticate!”
Dan setelah itu, tak ada apa-apa lagi.
Lect terbangun beberapa waktu kemudian. Ia membuka matanya yang berat, lalu melihat seorang gadis berambut perak dengan mata lapis lazuli sedang berjongkok di dekatnya, menatapnya penuh kekhawatiran.
Rambut perak... seperti Count Leginbarth.
Mata lapis lazuli... seperti wanita yang dicintai sang count.
“Nona... jadi akhirnya kutemukan Anda.”
Ia mengangkat tangan, lalu mengusap pipi gadis itu.
Gadis itu memiringkan kepalanya ke samping, tanpa sengaja menghindari sentuhannya. “Nona?”
Lect membuka matanya sepenuhnya, tangannya membeku di udara. Kesadarannya kembali. Tak ada nona berambut perak di sini, yang ada hanya seorang maid berambut hitam.
Hanya ilusi yang muncul karena pikirannya masih kacau.
Lect bangkit sambil menghela napas. Ia sedang berbaring di sofa besar di ruang tamunya, tapi kenapa? Siapa gadis berambut hitam dan bermata gelap ini? Dan kenapa wajahnya terasa begitu familiar?
“Jangan-jangan kau...” ujarnya memulai.
“A-Anda ingat?!” rona merah langsung menjalar turun di leher gadis itu, matanya terbelalak lebar, mata yang kini benar-benar ia ingat setelah kepalanya kembali jernih.
“Kita bertemu di Trendivalez,” katanya. “Kau yang waktu itu sedang mencari kereta pos.”
“Ya ampun, aduh, apa aku hajar sekalian lehernya?” gumam gadis itu pada dirinya sendiri. “Apa aku... eh? Maaf?”
Lect tak bisa menangkap sebagian besar gumamannya, tapi bagian yang sempat ia dengar terdengar cukup mengerikan. Ilusi lagi, simpulnya.
“Bukan kau?” tanyanya.
“Trendivalez. Rambut merah... Oh! Iya, benar! Anda orang yang menunjukkan aku ke stasiun kereta!”
Lect tersenyum, senang karena gadis itu mengingatnya. “Apa yang membawamu ke kediamanku? Maaf, aku sendiri nyaris tak ingat apa pun setelah masuk lewat pintu depan.”
Gadis itu mengembuskan napas yang terdengar seperti helaan lega. Aneh. Dan itu pun cuma sebentar. Tak lama kemudian ia langsung gelagapan, gelisah, dan tampak berusaha mati-matian menghindari pertanyaan itu, meski Lect tak bisa membayangkan alasannya.
Pintu mendadak terbuka. “Ah, Tuan! Anda sudah bangun.”
“Paula,” kata Lect. “Waktunya pas sekali. Bisa jelaskan kenapa aku tertidur di sini? Dan siapa wanita ini?”
Paula menatapnya tajam. Hampir seperti curiga. Atau waspada. Tapi pasti itu cuma perasaannya saja. Apa yang mungkin sudah ia lakukan sampai membuat Paula memandangnya seperti itu?
“Jadi Anda benar-benar tidak ingat.” Paula berhenti sejenak. “Tuan, tadi saya sudah bilang kalau seorang teman saya datang berkunjung, lalu Tuan bilang akan menunggu di ruang tamu ini, dan setelah itu Tuan langsung tertidur. Tuan pasti kelelahan.”
“A-apa kau yakin begitu yang terjadi? Aku sendiri tak punya ingatan untuk membandingkannya.”
“Akhir-akhir ini Anda memang terlalu sibuk.” Paula menggeleng. “Mungkin terlalu sibuk, kalau sampai mengalami semacam hilang ingatan begini.”
Terlalu sibuk memang benar. Ia baru saja pulang dari perjalanan panjang melintasi negeri demi mencari kekasih tuannya yang hilang, lalu langsung kembali memikul pekerjaan sebagai pengawal sekaligus ajudan. Dan sekarang ia juga harus mencari pasangan untuk diajak ke Spring Ball. Sangat mungkin ia memang jauh lebih lelah daripada yang ia sadari.
“Mungkin kau benar,” kata Lect.
“Benar-benar tidak ingat? Serius? Sama sekali?” Paula menatapnya penuh curiga.
Lect kembali menjawab bahwa memang begitu adanya. Sekeras apa pun ia mencoba, ia benar-benar tidak bisa mengingat apa pun.
Melody akhirnya benar-benar rileks. Syukurlah.
Sementara itu, Paula justru tampak hampir kecewa. Sayang sekali. Padahal aku ingin menghajarnya pakai nampan teh. Mungkin lain kali.
Tentu saja, Paula berbohong bulat-bulat. Melody sudah menjelaskan situasinya dengan sangat rinci, termasuk efek mantra yang secara teori ia gunakan pada Lect, dan Paula pun setuju membantu mengingat keadaan yang ada. Sayangnya, mantra itu benar-benar berhasil. Tapi demi Melody, Paula rasa ia masih bisa menerimanya.
“Kalau saya jadi Anda, saya akan lebih berhati-hati mulai sekarang, Tuan,” katanya. “Ngomong-ngomong, izinkan saya mengenalkan kalian. Ini Melody, teman baru saya.”
“Melody Wave, Tuan. Maid dari kediaman Rudleberg. Senang berkenalan dengan Anda.” Maid berambut hitam itu sedikit menekuk lututnya lalu memberi hormat.
Untuk sesaat, Lect terpana.
Sapaan yang begitu sederhana. Aku tak tahu hal sesederhana itu bisa terlihat se... indah ini.
Ia belum pernah melihat gerakan hormat yang seanggun itu. Hampir seperti tarian dalam keindahannya. Lect mulai mengerti pesona tata krama. Gadis ini, pikirnya, pasti akan membawa dirinya dengan sangat baik di tengah para bangsawan.
“Namaku Lectias Froude. Tapi panggil saja Lect.”
“Baik, Tuan Lect,” kata Melody.
“Cukup Lect saja.”
“Kalau begitu... um, Lect.”
“Sempurna.”
“Kalau memang begitu keinginan Anda, meski menurut saya agak tidak pantas memanggil seorang bangsawan tanpa gelar. Saya ini hanya seorang maid.”
“Mungkin suatu hari nanti kau akan punya kesempatan menggunakan gelarku, kalau kita bertemu dalam situasi resmi. Tapi hari ini kita cuma sedang berada di rumahku. Jadi tak usah dipikirkan.”
“Kalau Anda bilang begitu...” Melody akhirnya menyerah. “Bagaimanapun juga, senang bisa berkenalan denganmu, Lect. Dan terima kasih banyak atas bantuanmu di Trendivalez.”
Ia tersenyum padanya, dan jantung Lect seakan berhenti berdetak.
Saat detaknya kembali, bunyinya justru jadi lebih keras dan lebih cepat dari sebelumnya. Sampai-sampai ia khawatir maid itu bisa mendengarnya.
A-apa yang terjadi padaku? pikirnya.
Lect merasa sedikit lega karena setidaknya wajahnya masih tampak tenang di luar. Tanpa ia sadari, di belakangnya Paula sedang tersenyum penuh arti.
Sejak hari itu, dengan Paula sebagai alasan yang sangat praktis, matahari hampir tak pernah terbenam sebelum Lect menemukan cara untuk menemui gadis yang membuat hatinya kacau itu. Dan setiap kali ia bertemu dengannya, jantungnya kembali berdebar dan bergetar seperti sebelumnya, meski Lect sendiri tak pernah benar-benar paham kenapa.
Kebanyakan orang berusia dua puluh satu tahun tak akan kesulitan mengenali perasaan seperti itu. Tapi Lect berbeda. Dan ia akan tetap seperti itu untuk waktu yang cukup lama.
Tea party keesokan harinya di kediaman Rudleberg berjalan lancar tanpa hambatan.
Yang tersisa untuk sang maid sekarang hanyalah menunggu upacara pembukaan Royal Academy bersama nona mudanya.
Yah, selain itu... juga menunggu kedatangan orang tua Luciana.