Paltescian Royal Academy for Higher Learning adalah institusi pendidikan terbaik di Theolas bagi para bangsawan muda yang sedang dipersiapkan untuk memahami dunia. Mahkota kerajaan mewajibkan semua anak bangsawan untuk bersekolah di sana selama tiga tahun, dimulai sejak usia lima belas tahun.
Dan tentu saja, itu juga berlaku bagi Luciana Rudleberg.
Tahun ini adalah tahun pertamanya di Royal Academy, sebuah momen yang biasanya dirayakan bersama keluarga. Namun, orang tuanya sudah kembali ke wilayah kekuasaan mereka untuk menangani berbagai persoalan di sana. Luciana sama sekali tidak menyadari bahwa hari-hari sepinya di ibu kota akan dihabiskan di sebuah rumah yang nyaris terasa seperti rumah berhantu.
Kediaman itu sebelumnya hanya dirawat oleh seorang maid tua. Fakta bahwa bangunan itu belum ambruk sepenuhnya saja sudah nyaris seperti mukjizat, tetapi kini maid itu pun telah pergi, dan sebagian besar penyebabnya adalah Luciana sendiri. Ia pernah mengundang teman-temannya untuk minum teh tanpa terlebih dahulu memeriksa kondisi rumah barunya, memaksa maid veteran itu benar-benar mematahkan tubuhnya, atau lebih tepatnya pinggulnya, demi buru-buru membuat manor itu cukup layak untuk menerima tamu. Dan fakta bahwa para tamu itu nyaris tidak terlihat menikmati kunjungan mereka cukup menjelaskan seperti apa hasil dari semua jerih payah tersebut.
Tak lama setelah kejadian itu, maid tersebut memutuskan pensiun dari pekerjaannya.
“Dan kurasa itu kurang lebih mencakup semuanya. Ada pertanyaan lain?”
“Untuk saat ini tidak ada. Terima kasih, Nona.”
Sang lady dan maid-nya masih berada di ruang makan, tetapi kali ini bukan untuk menikmati teh lezat tadi. Mereka baru saja menyelesaikan semua penjelasan yang diperlukan agar Melody siap resmi mulai bekerja untuk Keluarga Rudleberg.
“Saya akan mulai sekarang juga... setelah membuat seragam saya, tentu saja!”
“Seragam?” tanya Luciana. “Kamu mau membuatnya? Menurutmu itu akan makan waktu berapa lama?”
Keluarga Rudleberg tidak punya seragam maid, sesuatu yang sangat membuat Melody kecewa. Tapi itu bukan masalah. Melody tahu persis caranya!
Melody berdiri, memberi dirinya sedikit ruang, lalu mengangkat tangan.
“Rethread. Ricucitura.”
Luciana menatap penuh takjub saat gaun Melody terurai tepat di depan matanya, secara harfiah benar-benar terlepas di bagian jahitannya. Setiap helai benang, ribuan jumlahnya, bergerak sendiri dan menyusun ulang diri mengelilingi sang maid. Melody berputar di antara helaian benang itu seolah sedang menari.
Padahal sebenarnya, apa yang dilihat Luciana sebagai tarian itu adalah Melody yang sedang memanipulasi benang-benang tersebut saat membentuk ulang pakaian di sekeliling tubuhnya. Luciana sampai terpaku oleh pemandangan itu.
“Wah. Aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa.”
Sebenarnya, Luciana masih bisa melihat pertunjukannya dengan cukup jelas. Hanya saja, ia sama sekali tidak bisa menangkap sesuatu yang lebih vulgar dari itu. Pakaian Melody sekarang tak lebih dari untaian-untaian benang yang melayang, untaian benang yang sangat sopan. Seberapa pun Luciana mencoba, dan ia sama sekali tidak malu mengakui bahwa ia memang mencoba, benang-benang itu seolah-olah menutupi pandangannya demi menjaga kesopanan.
Benang-benang itu mulai menyatu membentuk wujud yang utuh. Dalam kilatan-kilatan cahaya singkat, sebuah dress hitam mengembang, disusul sebuah apron, lalu sebuah cap muncul di kepala Melody dengan bunyi pop. Rasanya seperti transformasi magical girl, lengkap dengan sorot cahaya yang dengan sangat conveniently menutupi segalanya dan efek-efek gemerlap yang menghalangi pandangan.
Tapi Melody jelas bukan magical girl ala pop culture.
Sebaliknya, ia kini menjadi gambaran sempurna seorang maid Inggris era Victorian abad ke-19. Dress dan apronnya menjuntai sampai ke pergelangan kaki, dan cap putih itu menjadi penyempurna penampilannya. Anggun, rapi, dan sangat domestik.
Ketika sang maid selesai berganti pakaian, ia memberi lady-nya sebuah curtsey yang benar-benar sempurna.
“Apakah penampilan ini memuaskan Anda, Nona?”
“I-imut,” hanya itu yang bisa Luciana keluarkan.
“Terima kasih, Nona. Saya sendiri juga sangat menyukai tampilannya. Maaf kalau saya lancang, tapi menurut pendapat pribadi saya, maid yang roknya cukup pendek sampai pahanya terlihat itu sama sekali bukan maid.”
“Aku tidak tahu maksudmu apa, tapi pertunjukannya luar biasa! Aku tidak menyangka sihir bisa sefleksibel ini.”
“Seragam ini juga demikian. Saya sudah menambahkan sedikit perlindungan padanya, jadi ketahanannya seharusnya bahkan lebih baik daripada armor.”
Luciana terkikik, mengira Melody hanya bercanda.
Dan kata mengira itulah yang penting di sini.
Keluarga Rudleberg bukanlah keluarga yang berbakat dalam sihir. Karena itu, pengetahuan mereka mengenai seni tersebut paling banter sangat terbatas. Ditambah lagi kurangnya pendidikan akibat kemiskinan mereka, maka tak heran putri sang count benar-benar gagal memahami apa yang baru saja ia saksikan: keterampilan yang dibutuhkan untuk menjahit ulang seluruh pakaian dengan cara ghaib, mengubah warna dress dari hijau menjadi hitam dan putih, lalu entah bagaimana memunculkan kain tambahan dari ketiadaan untuk apron dan cap itu...
Betapa sedikit yang ia ketahui.
“Ngomong-ngomong, tadi itu curtsey yang sempurna,” kata Luciana. “Kira-kira, kamu bisa mengajariku hal-hal seperti itu? Sebentar lagi ada ball, dan aku sama sekali tidak punya gambaran etiket seperti apa yang harus kupelajari.”
Mata Melody langsung berbinar.
“Jadi Anda menginginkan seorang pengasuh untuk mengajari Anda tata krama yang benar. Tenang saja, Anda berada di tangan yang tepat.”
“Cara kamu menatapku malah bikin aku jadi ragu. Kita, err, mulai pelan-pelan dulu saja, ya?”
“Oh, Nona, saya sungguh tidak bisa cukup berterima kasih karena Anda telah menerima saya bekerja di sini. Saya tak bisa membayangkan kediaman yang lebih baik untuk menyalurkan bakat saya.”
“S-syukurlah kamu ada di sini, Melody.”
“Saya juga begitu, Nona.”
Luciana pun kembali ke kamarnya untuk belajar. Sementara itu, Melody tidak membuang waktu sedikit pun dan langsung mulai bekerja.
Ia menatap ruang keluarga itu seperti predator yang sedang mengukur mangsanya.
“Hal pertama yang harus dilakukan, tempat ini harus dibuat layak huni. Saatnya memperbaiki.”
Kediaman ini membutuhkan lebih dari sekadar sedikit perapian. Dalam arti yang sangat harfiah, tempat ini memang benar-benar sedang ambruk. Sekali pandang saja, Melody sudah tahu bahwa ia tidak akan bisa menangani pekerjaan ini sendirian.
“Masalah yang cukup mudah diatasi. Satu menjadi banyak. Alter Ego.”
Sejumlah bola cahaya melesat keluar dari telapak tangannya lalu menyebar ke seluruh ruang keluarga. Di tengah udara, bola-bola itu berubah menjadi bentuk humanoid, dan akhirnya menciptakan lima puluh salinan Melody.
Konyol?
Ah, jangan ngaco.
“Kalian semua sudah tahu tugas masing-masing,” kata Boss Melody.
“Ya, Bu!” jawab para Melody bawahan.
Dengan sangat praktis, setiap salinan membawa ingatan dari sumber aslinya, jadi masing-masing tahu persis apa yang harus dilakukan. Mereka memanggil peralatan bersih-bersih dan alat-alat konstruksi, lalu langsung mulai memperbaiki kediaman yang sudah reyot itu. Tentu saja, Melody menganggap DIY repair sebagai salah satu dari sekian banyak skill miliknya. Sihir hanya membuat semuanya berjalan lebih cepat.
“Baiklah,” kata Boss Melody. “Aku akan pergi mencari bahan untuk makan malam.”
“Baik, Bu!”
Perjalanan Melody ke pasar berlangsung sangat singkat. Kondisi keuangan Keluarga Rudleberg si Ignoble benar-benar menyedihkan, dan biaya hidup di ibu kota kerajaan jelas sama sekali tidak bisa ditanggung oleh anggaran mereka.
Namun itu sama sekali tidak membuat semangat Melody turun.
Oh, tentu saja tidak.
Apa pun yang dijual di pasar, ia tinggal pergi keluar dan mengumpulkannya sendiri!
“Hide. Trasparenza. Flight. Ali da Angelo.”
Dengan keranjang di tangan, Melody menghilang dari pandangan, lalu melayang ke udara menuju hutan di dekat sana.
Berlebihan?
Ah, itu sudah biasa.
Ia mendarat di dekat bagian tengah hutan. Kehidupan berlimpah di mana-mana, dari jamur yang tumbuh di sela-sela akar, buah-buahan yang menggantung di dahan, sampai herbal yang tumbuh dari tanah. Hutan itu dipenuhi lebih dari cukup bahan makanan.
“Sempurna. Mudah sekali. Sekarang tinggal cari daging. Kira-kira beast apa yang bisa kuburu?”
Tepat saat itu, sebuah jeritan membelah udara. Melody mendongak dan melihat seekor burung sedang berputar-putar di atas.
“Wah, beruntung sekali! Itu kelihatannya akan sangat ba... ik?”
Makhluk itu langsung menyerang.
“Ih!”
Seekor thunderbird!
Makhluk sihir ini berburu dengan serangan mendadak yang ganas. Seketika, petir menyambar saat beast itu membidik Melody. Sambaran itu melesat lurus ke arahnya, pasti akan menjatuhkannya.
Atau lebih tepatnya, seharusnya begitu.
“Ya ampun, tidak sopan sekali.”
Sang maid yang tabah itu sama sekali tidak terluka. Seragamnya memang benar-benar serbaguna kalau perlindungan yang ia pasang padanya mampu menahan sambaran petir. Mungkin memang benar-benar lebih kokoh daripada armor.
“Kalau begitu maumu seperti itu, ya,” gerutu Melody. “Homing Shot. Missile Guidato!”
Ia menembakkan bola sihir yang sangat padat ke arah beast itu, menguncinya dengan fungsi homing yang ia ciptakan sendiri.
Serangan itu tepat mengenai sasaran. Burung itu menjerit saat jatuh menukik dari langit.
“Kena! Tunggu, oh tidak!”
Melody buru-buru menyingkir ketika monster sejati itu, dalam setiap arti kata, jatuh menghantam tanah di depannya. Thunderbird itu memiliki bentang sayap setidaknya tiga kali tinggi tubuh manusia. Kalau dipikir-pikir lagi, Melody mungkin seharusnya sadar seberapa besar makhluk itu saat tadi ia melihatnya berputar di atas, tapi entah bagaimana ia baru benar-benar menyadari ukurannya yang luar biasa setelah makhluk itu tergeletak di hadapannya.
“Kurasa kejutan untuk hari ini sudah cukup. Burung-burung di dunia ini benar-benar besar, dan sihir juga luar biasa kalau bisa menjatuhkan beast seperti itu dengan begitu mudah.”
Itu lagi-lagi salah paham.
Kepolosan Melody terus membelokkan persepsinya terhadap hal-hal arcane. Seandainya saja ia sempat memikirkan ibunya sendiri, yang nyaris tak punya cukup kekuatan untuk menggunakan mantra cahaya sederhana sekali dalam sehari, mungkin ia akan mulai menyesuaikan ulang ekspektasinya.
Sayangnya, orang hanya bisa berharap kenyataan itu akan meresap juga suatu hari nanti.
Suatu hari nanti.
Melody memotong-motong beast itu, tentu saja dengan bantuan sihir, lalu menyimpan dagingnya ke dalam keranjang. Keranjang itu bahkan tidak terlihat cukup besar untuk menampung tiga baguette, dan tetap saja ia mampu menampung seluruh tubuh thunderbird tersebut.
Kalau seseorang mengintip ke dalamnya, rahasianya akan langsung terlihat, sebab keranjang itu tidak memiliki dasar yang tampak. Sebaliknya, keranjang itu terhubung pada pocket dimension tak terbatas yang diciptakan secara sihir, tempat waktu sama sekali tidak mengalir. Secara teori, pintu masuk ke sana bisa dibuka di mana saja dan pada benda apa saja. Namun untuk saat ini, pintu masuk itu dipasang pada keranjang karena Melody memutuskan bahwa itulah penggunaan yang paling cocok.
Kalau masih belum terlalu jelas dari estetikanya yang dibuat sangat teliti dan sangat mirip maid, maka perlu diketahui bahwa Melody adalah wanita yang sangat memperhatikan penampilan.
“Kurasa bahan makanannya sudah cukup. Kembali ke kediaman, dan aku harus cepat. Ini memakan waktu lebih lama dari yang kuduga. Kurasa aku tinggal membuat koneksi ke servants’ hall saja. Gateway. Ovunque Porta.”
Sebuah pintu muncul di hadapan Melody.
Dan di sisi lain pintu itu ada pemandangan yang mustahil: servants’ hall milik kediaman Keluarga Rudleberg.
Hampir seperti Pintu K... maksudku, Kemana. Sebuah Pintu Kemana Saja yang secara hukum jelas berbeda dari Doraemon.
“Sekarang aku punya jalan pintas yang mudah untuk besok!”
Melody pun melangkah masuk, sangat puas dengan dirinya sendiri.
“Saya membawakan teh, Nona.”
Setelah dua jam belajar, fokus Luciana mulai goyah, dan Melody muncul tepat pada waktunya dengan minuman penyegar.
“Terima kasih, Melody, tapi kamu sebenarnya tidak perlu melakukan itu. Aku yakin kamu sendiri pasti sudah cukup sibuk.”
Luciana sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan yang sangat nyata bahwa maid-nya telah menggandakan diri untuk melakukan pekerjaan berkali-kali lipat secara bersamaan.
“Saya tidak akan pernah terlalu sibuk untuk nona saya,” kata Melody. “Silakan, nikmati tehnya dan beristirahat sebentar, Nona.”
“Kurasa aku memang mulai haus.”
Ia menikmati waktu rehat itu, lalu ketika selesai, Melody mengambil cangkir sang lady dan pamit keluar.
“Oke, balik belajar lagi,” desah Luciana. “Tapi pertama-tama, ke kamar mandi dulu.”
Ia keluar dari kamarnya hanya untuk mendapati Melody sedang membersihkan area di luar pintunya. Namun bukankah tadi ia membawa tea set kembali ke dapur? Apa dia sudah langsung pindah ke tugas berikutnya?
“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya sang maid.
“Oh, tidak. Aku cuma mau ke kamar mandi.”
“Silakan saja. Tempatnya hampir selesai dibersihkan.”
“Oh. Terima kasih.”
Luciana melanjutkan langkahnya. Sambil berjalan, ia tak bisa menahan diri untuk mengagumi kondisi koridor itu.
Wah. Melody kerjanya cepat sekali, dan tidak asal-asalan juga. Aku belum pernah melihat tempat ini sebersih ini.
Tak ada setitik debu pun di lorong menuju kamar mandi. Bahkan plafonnya tampak seperti baru. Dan kalau dipikir-pikir, Luciana merasa dulu ada jauh lebih banyak retakan di dinding dan jendelanya. Apa Melody juga sudah memperbaiki semua itu?
“Melody?”
Dan benar saja, ia ada lagi di depan kamar mandi. Bagaimana dia bisa sampai di sini lebih dulu?
“Timing yang sempurna, Nona. Saya baru saja selesai membersihkan tempat ini. Permisi.”
“T-terima kasih.”
Kepala Luciana mulai terasa sakit.
Setelah urusannya selesai, ia teringat satu hal yang cukup penting.
Apa dia sedang menyiapkan makan malam?
Rasanya tidak mungkin, mengingat Melody seolah ada di mana-mana sambil mengurus seluruh kediaman. Sangat mungkin ia benar-benar lupa soal makan malam di tengah semua kesibukan itu. Luciana pun menuju dapur, bertekad setidaknya menjadi sedikit berguna.
“Soup Me, tolong oper garamnya.”
“Entrée Me, bagi sedikit daging itu. Kita bakal punya lebih, dan aku mau memakainya untuk sup.”
“Dishes Me, kamu sudah selesai mencuci belum?”
“Baru selesai. Semua sudah siap.”
Melody sudah ada di sana dan sedang bekerja keras.
Tepatnya, ada tiga Melody.
Luciana menjerit.
“Nona!” seru para Melody itu bersamaan, harmonis dalam glorious stereo sound.
Luciana menjerit lagi.
“Nona, Anda gapapa?!” lebih banyak Melody ikut bersuara.
Tiba-tiba muncul Broom Melody.
Lalu muncul Feather Duster Melody.
Lalu muncul Dust Cloth Melody.
Lalu satu Melody lagi.
Dan satu lagi.
Dan satu lagi.
Dan satu lagi.
Tak lama kemudian, kelima puluh Melody sudah memenuhi dapur.
Jeritan lain terdengar, disusul desahan halus, dan Luciana pun langsung pingsan.
“Nona!” teriak semua Melody itu bersamaan.
Pada saat itu, kediaman Keluarga Rudleberg di ibu kota berada pada titik paling dekat yang pernah dicapai dalam sejarah suramnya untuk benar-benar menjadi rumah berhantu.
Luciana terbangun tak lama kemudian. Begitu sadar, ia akhirnya benar-benar melihat seberapa banyak kediaman itu telah berubah selama ia belajar di kamarnya. Hal itu memicu jeritan lagi, kali ini jenis yang bagus. Makan malam juga memicu jeritan serupa, kali ini jenis “wah, enak banget”. Hari itu, jumlah jeritannya kira-kira 50-50.
“Terima kasih untuk makan malamnya. Enak sekali,” kata Luciana.
“Dengan senang hati saya melayani Anda,” jawab Melody sambil tersenyum.
“Aku paling suka unggas panggang dengan herbal itu. Sudah lama sekali sejak terakhir aku makan daging yang enak. Aku sampai kaget kamu bisa membelinya.”
“Oh, itu dari burung yang saya buru di hutan luar kota, Nona.”
“Kamu memburunya?!” celetuk Luciana. “Pakai sihir? Seperti yang tadi kulihat?”
“Benar, Nona. Kebetulan saya memang tidak mampu membelinya, atau membeli banyak hal lainnya. Jadi saya kumpulkan semuanya sendiri. Semua yang Anda makan malam ini berasal dari hutan yang sama tempat saya menemukan burung itu. Saya sangat beruntung bisa menemukan hutan yang begitu berlimpah.”
“Aku bahkan tidak tahu ada tempat seperti itu. Satu-satunya hutan dekat ibu kota yang kutahu cuma blightland itu, Great Vanargand Wood. Syukurlah ternyata bukan cuma itu yang ada di luar sana.”
“Oh? Saya belum pernah mendengar nama itu.”
“Itu berbahaya. Sangat berbahaya. Jadi jauhi tempat itu, oke?”
“Saya akan berhati-hati,” janji Melody. “Tapi hutan yang saya temukan itu benar-benar aman, saya pastikan.”
“Semua hutan itu berbahaya sampai tingkat tertentu, entah blightland atau bukan. Tetap hati-hati, ya.”
“Tentu saja, Nona.”
“Melody,” kata Luciana, “terima kasih banyak. Aku benar-benar senang kamu datang ke sini.”
“Kata-kata itu terlalu berharga untuk saya, Nona. Tunggu sebentar, saya akan menyiapkan teh setelah makan malam.”
Melody membungkuk dalam-dalam sebelum pamit keluar. Hari pertamanya sebagai maid, kalau dihitung secara keseluruhan, benar-benar sukses besar.
Malam itu, kekacauan pecah di ruang kerja Yang Mulia Raja di istana kerajaan.
“Penyusup di Vanargand?! Kau bercanda, Sven!”
“Sayangnya tidak, sire. Detection field saya memang benar-benar mendeteksi adanya penyusup di blightland itu.”
Sven Shaykrode, archmage dari istana kerajaan Theolas, jelas tidak senang harus mengganggu sang raja di ruang kerjanya. Yang Mulia Garnard von Theolas bahkan jauh lebih tidak senang daripada Sven saat mendengar kabar tersebut.
Blightlands, habitat alami para magical beast yang biasa disebut monster, tersebar di berbagai penjuru dunia. Tempat-tempat itu berbahaya dan tidak ramah bagi manusia, meski lebih karena monster-monsternya daripada karena Blight itu sendiri, bertolak belakang dengan namanya.
Sebab monster-monster itu tidak akan menerima luka dari serangan fisik apa pun. Hanya sihir yang bisa menjatuhkan mereka, membuat setiap pertemuan dengan mereka berpotensi mematikan bagi orang biasa. Pertahanan terbaik terhadap mereka hanyalah menghindari mereka sejak awal. Tanyakan pada siapa saja, dan setiap orang akan punya kisah peringatan yang berbeda, semuanya mengingatkan para nekat untuk menjauhi blightland seperti mereka menjauhi maut.
Blightland terbesar, Great Vanargand Wood, membentang menyeramkan tepat di timur ibu kota kerajaan. Tempat itu terlarang secara mutlak, benar-benar mutlak, bahkan untuk ukuran blightland sekalipun.
Dan sekarang ada penyusup di dalamnya.
“Apa orang itu masih di dalam?”
Sven mengangguk berat.
“Kemungkinan besar begitu, Yang Mulia. Detection field itu hanya mendeteksi satu kali lintasan masuk. Karena mana individu itu tidak terdeteksi lagi setelahnya, saya menyimpulkan bahwa dia belum keluar. Saya hanya bisa menebak-nebak alasannya.”
“Kita akan menyiagakan para penjaga. Tingkatkan patroli di sekitar Hutan itu. Aku ingin kau memastikan pergerakan orang ini. Ke mana dia pergi? Apa tujuannya? Cari tahu segala hal yang bisa kau pelajari tentangnya. Jangan mengecewakanku.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Makhluk seperti apa sebenarnya penyusup ini...?”
Seandainya saja Yang Mulia tahu bahwa sosok yang begitu ditakutinya itu tidak lebih dari seorang maid sederhana yang sedang mengumpulkan bahan makanan untuk mistress-nya.
Tapi tentu saja, beliau tidak tahu.
Dan seandainya sang archmage tahu bahwa maid itu nantinya akan masuk ke Hutan tersebut lewat portal, sehingga menjadi tak terlihat oleh detection field miliknya.
Tapi tentu saja, ia juga tidak tahu.