Cahaya perak berkilau samar di antara semak-semak. Di sanalah sisa-sisa sebuah pedang yang dulunya agung tergeletak tak berdaya. Dilupakan oleh mereka yang telah membuatnya bernasib seperti itu, gara-gara kemunculan “pedang” lain yang jauh kurang tak berdaya dan jauh lebih traumatis.
Kabut jahat merembes keluar dari bagian bilah yang patah berbulan-bulan lalu. Kabut itu tidak akan semudah itu melupakan kebencian yang dipendamnya pada penangkapnya, maupun pada penerus meddlesome-nya. Tidak akan pernah. Ia merembes dari bilah itu seperti api hantu penuh amarah. Seekor tikus ladang kecil berlari sedikit terlalu dekat, mendekati logam itu dengan rasa ingin tahu yang polos.
Kesalahan yang fatal.
Dark One, kalau makhluk itu masih pantas disebut begitu, melihat sebuah kesempatan lalu menerjang, lemah dan tanpa wadah. Sama tak berdayanya dengan si tikus. Tapi tikus masih bisa bersembunyi dan menunggu waktunya, jadi Dark One menelan tikus itu, mengasimilasikannya ke dalam wujud kabut gelapnya, lalu mengambil alih kendali. Sudah tiba saatnya meninggalkan penjara lama itu untuk mencari wadah baru yang lebih permanen.
Namun sebelum tikus itu sempat berlari pergi menjalankan kehendak jahat itu, sebuah kaki turun seolah dari langit dan menahannya di tempat. Tikus itu mencicit kaget dan ketakutan.
“Kau,” gumam sebuah suara berat, “atau seharusnya kukatakan kita, rupanya sibuk sekali, ya?”
Tikus itu gemetar sekuat yang bisa dipahami benaknya yang kecil. Fakta bahwa dirinya, sisa terakhir Dark One, bahkan masih mampu merasakan emosi seperti itu, mengguncang inti keberadaannya.
Dengan menggeliat, tikus itu menoleh untuk melihat penindasnya. Yang menatapnya dari atas adalah sepasang mata predator milik seekor anak anjing berbulu perak. Tak lain adalah Grail milik keluarga Rudleberg sendiri, Dark One yang asli.
Baru sebulan lebih sedikit yang lalu, Grail hanyalah anak anjing biasa yang tak menginginkan apa pun selain makan berikutnya dan sedikit usapan di perut. Tapi semuanya berubah setelah, dalam kegembiraan usai salah satu waktu makan itu, ia melompat ke arah Serena dan mencoba membanjirinya dengan jilatan kecil khas anjing, seperti anak anjing pada umumnya. Dalam prosesnya, ia tanpa sengaja menjilat ornamen perak di choker Serena, ornamen yang menyimpan sisa-sisa kekuatan Saint terakhir. Apa yang tertinggal dari kekuatan dan mana Saint itu menyetrum jiwa si anak anjing sampai ke dasarnya. Dan itu sudah cukup untuk membangunkan raksasa tidur di dalam dirinya.
Sejak saat itu, Grail hidup dalam ketakutan pada Serena dan Melody yang dulu sangat dicintainya. Lebih tepatnya, pada kekuatan mereka.
Tikus kecil itu gemetar hebat. Fakta bahwa tikus itu dan anak anjing itu pada dasarnya adalah satu dan sama justru membuat perbedaan kekuatan mereka terasa makin jelas. Bukit kecil itu baru saja bertemu gunungnya.
Grail menghela napas kecewa. “Begitu melihatku kau gemetar, tapi saat melihat itu kau tidak merasakan apa-apa?! Bola penghancur yang dilempar gadis itu tanpa berkedip sedikit pun?! Kita yang tak pernah mengenal kematian pasti akan sangat akrab dengannya kalau benda itu sampai sekadar menyerempet kita! Kau paham?! Kau sadar dia bisa mengeluarkan ancaman sebesar itu sesuka hati?! Dan kalau waktu itu dia membidikmu, apa yang akan terjadi?! Kau pasti lenyap! Aku juga pasti lenyap! Paham?! Hilang tanpa jejak! Jadi debu yang diterbangkan angin! Tahu diri sedikit, dasar fragmen memalukan!”
Dark One menginjak tikus itu lebih kuat, tak lagi berusaha menjaga kesan tenang atau muram. Ia benar-benar seguncang itu. Tubuhnya sendiri ikut gemetar seperti tikus itu. Apa fragmen tolol ini tidak sempat berpikir sedikit pun bahwa mungkin wujud utuhnya selama ini bersikap manis dan jadi anak baik memang ada alasannya? Bagaimana mungkin fragmen ini sebodoh itu sampai nekat bermain-main dengan nasib seperti tadi?
Dark One mengangkat tikus itu lalu menjepitnya dengan rahang kecilnya. “Rasakan murkaku dan renungkan kebodohanmu!” geramnya di sela-sela gigitan setengah hati.
Ia mengunyah tikus itu cukup lama sebelum akhirnya merasa puas dan memuntahkannya lagi. Tikus itu tergeletak di sana sesaat, mencicit lemah dan basah kuyup, perlahan menyadari bahwa hidup kecilnya yang menyedihkan rupanya belum berakhir. Beberapa detik kemudian, ia kabur secepat kilat.
“Hmph. Tidak lebih dari mangsa sekarang, begitu manaku kembali jadi milikku. Aku akan membutuhkan setiap tetesnya sambil menunggu waktuku. Ya, menunggu waktuku. Aku hanya menunggu momen yang sempurna, supaya tidak sampai terjebak lagi di pedang terkutuk lain! Aku akan jadi anak anjing paling jinak, bukan karena takut, tapi karena kebutuhan taktis.” Tak ada seorang pun di sekitar sana yang bisa mendengar alasan-alasan Dark One itu. Orang bisa saja mengira ia sedang membujuk dirinya sendiri. “S-sekarang, sebaiknya aku pergi. Seingatku makan malam nanti sosis.”
Maka Dark One pun berlari kecil kembali ke rutinitas damainya. Betapa jinaknya ia sekarang.
Pedang patah itu tetap berada di tempatnya, tak bergerak dan terlupakan.
Awan-awan platinum bergulung menutupi ibu kota malam itu, bereaksi pada mana seseorang yang menyebar di atmosfer. Awan itu menurunkan guratan-guratan perak, tetapi pada pagi harinya tak akan ada setetes pun kelembapan yang tersisa. Tak satu jiwa pun akan tahu bahwa sesuatu sebenarnya telah terjadi.