Mantra Ovunque Porta membawa Melody dan Lect dengan cepat dan aman ke area Royal Academy. Mereka langsung berlari menuju gedung kelas, dan tak lama kemudian menyusul seseorang yang tertinggal di belakang.
“Micah!” panggil Melody.
“Miss Melody! Sir Lectias!”
Micah dengan cepat menjelaskan bagaimana ia berhasil merekrut pihak Anna-Marie, memberi Melody waktu sejenak untuk mengatur napas. Namun rasa lega itu tak bertahan lama.
Sesuatu yang gelap melesat ke arah mereka dari sisi gedung kelas.
“Mundur, kalian berdua!” bentak Lect.
Benda itu jatuh tepat di depan mereka lalu menggelinding tak berdaya di atas tanah. Di dalam massa gelap berkabut itu, samar-samar terlihat sosok manusia.
Micah tersentak. “Bjork Quichel!”
Gumpalan gelap itu menggeliat dan menjerit saat anak laki-laki itu bertarung melawan dirinya sendiri. Penolakannya untuk menyerahkan kehendaknya pada pihak lain berbenturan dengan sisa kebencian Dark One, membuatnya mengamuk dan merusak dirinya baik secara fisik maupun mental.
Masih sambil menjerit, sisa-sisa Bjork yang sudah seperti binatang buas itu menerjang Melody, tetapi Lect bergerak lebih cepat. Tangan pemegang pedangnya menyambar secepat kilat, dan sebelum Bjork sempat berbuat apa-apa, Lect sudah berdiri di antara bocah itu dan Melody, dengan pedangnya terangkat.
Anak laki-laki itu tetap maju. Tapi Lect sudah siap. Dengan liar Bjork mengayunkan pedang patahnya ke arah sang ksatria, dan Lect dengan anggun menghindar lalu memindahkan berat tubuhnya untuk membalas, semuanya dalam satu gerakan mulus. Namun lawannya jelas memiliki kekuatan besar, juga semacam daya gaib yang aneh.
Setelah serangkaian gerakan panik, Bjork menahan bilah pedang Lect dengan gagang pedangnya sendiri. Melawan seorang ksatria terlatih, gerakan bocah itu tampak seperti amatir. Seharusnya ia bukan tandingan, namun entah bagaimana ia tetap bisa bertahan.
Lect mengerang. “Aku harus... bertahan!”
Setiap tebasan dan tangkisan membuat tubuh Lect menegang, baik saat menyerang maupun bertahan. Bocah itu bertarung dengan kekuatan supranatural di pihaknya, meski kekuatan itu telah melemah, dan Lect mulai meragukan apakah ia bisa menang dalam pertarungan panjang seperti ini. Melody, meski cukup kompeten dalam bela diri demi profesinya, tak punya cara untuk benar-benar membantu. Micah bahkan tak berani mempertimbangkan kemungkinan itu.
Kedua pria itu meraung, percikan api menari di antara bilah mereka saat kembali beradu.
Ini tak bisa berlanjut selamanya. Kedua maid itu mati-matian mencari sesuatu, apa pun, yang bisa mengubah keadaan, ketika Micah tiba-tiba menyadari sesuatu. Tunggu sebentar, ini awal rutenya!
Dalam cerita aslinya, kejadian ini baru akan terjadi di paruh akhir. Bjork akan mengamuk seperti sekarang dan menyerang kelompok utama. Jika berhasil mengalahkannya, pemain akan membuka CG khusus untuk membebaskannya dari pengaruh Dark One. Jika mereka memang berhasil membebaskannya dari pengaruh Dark One.
Micah berteriak, “Sir Lectias! Pisahkan dia dari pedangnya!”
Itu adalah satu-satunya hubungan Bjork dengan kejahatan kuno itu. Begitu dilucuti, Dark One akan kehilangan cengkeramannya atas Bjork, dan Saint bisa memurnikan sisa-sisa kegelapan yang masih tertinggal di tubuhnya.
“Percayalah, aku sedang berusaha!” geram Lect di sela-sela ayunan pedangnya.
Secara teknik, ia jelas mampu melucuti Bjork, tapi kekuatan bocah itu tidak wajar, dan pertahanannya diperkuat oleh energi gelap yang seperti lapisan baja.
Kita harus melakukan sesuatu! Mengalihkan perhatiannya entah bagaimana caranya. Aku bisa... aku bisa... Oh!
Tentu saja! Selama ini mereka punya senjata anti-Dark One yang sempurna tepat di sini.
“Miss Melody! Tarik perhatiannya dengan sihirmu! Yang mencolok!”
“Y-yang mencolok? Tapi mantra apa yang harus kupakai?”
“Tidak penting,” kata Micah. “Entahlah, bikin kembang api atau apa pun! Pokoknya apa saja! Kita harus mengalihkan perhatiannya, dan sihirmu pasti bisa!”
Lagipula, apa yang lebih efektif memancing reaksi Dark One selain Saint itu sendiri?
Melody mengangkat tangannya ke langit. “Bismillah!”
Ia memunculkan sebuah bola perak raksasa, cukup besar untuk memuat tiga pria dewasa sekaligus dengan ruang tersisa. Itu jelas jauh lebih dari sekadar “apa adanya,” meski Melody membuatnya tampak remeh.
Konsentrasi mana sebesar itu langsung mencuri perhatian bukan hanya Bjork, tapi juga Lect dan Micah. Untungnya, bola itu hanya melayang diam di udara. Karena terlalu panik untuk membentuk mantra yang layak, yang Melody lakukan hanyalah melepaskan sebagian kecil dari mana di dalam dirinya, yang pada dasarnya tidak berbahaya kalau tidak diberi tujuan. Kalau tadi ia menanamkan niat menyerang, mana itu pasti akan muncul dalam bentuk yang sangat berbeda, cukup untuk menjatuhkan semua orang yang sekarang sedang melongo menatapnya.
“Haruskah kutembakkan sekarang?” tanya Melody. “Aku akan menembakkannya!”
Dan ia pun melakukannya. Bola itu melesat begitu cepat sampai tampak lenyap. Rasanya seperti berkedip lalu menghilang. Bahkan, mungkin memang benar-benar seperti menghilang, tergantung seberapa dekat orang menganggap kecepatan cahaya dengan “lenyap dalam sekejap.”
Tak perlu dikatakan lagi, tak seorang pun selain mereka berempat yang menyadari keberadaan bola itu.
Dan itu sudah cukup. Begitu perhatian Bjork teralihkan, Lect akhirnya punya kesempatan untuk mengakhiri pertarungan. Tinggal sesaat lagi...
“Lect! Pedangnya!” teriak Melody.
“Hah? Oh! Ya!”
Bjork bereaksi terhadap suara Melody sepersekian detik lebih lambat daripada Lect, dan ksatria itu langsung memanfaatkan jeda kecil itu.
Dengan bunyi nyaring yang tegas, Lect berhasil melucuti Bjork, dan pedang patah itu pun terlempar dari tangannya lalu jatuh ke semak-semak. Kabut di sekitar Bjork langsung mulai buyar.
Bocah itu jatuh berlutut, lalu roboh ke tanah.
Micah langsung berlari menghampirinya. “Bjork!” Ia mengangkat tubuh bocah itu dan memeluknya, tapi kesadarannya sudah nyaris hilang. Tangannya masih mencengkeram dada, seolah rasa sakit itu tetap ada.
Pedangnya sudah lepas. Seharusnya itu memutus hubungan. Mungkin kita perlu... Micah menoleh cepat ke sekeliling. Tunggu, pedangnya mana?!
Sekarang bukan waktunya mencari pedang itu. Mereka harus bertindak cepat.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Melody hati-hati.
“Miss Melody, bisakah kau menolongnya?!” kata Micah. “Bisakah kau gunakan sihirmu untuk menyingkirkan mana gelap di dalam tubuhnya?!”
“Mana gelap? Aku bisa mencoba.”
Melody tidak yakin, tapi melihat muridnya panik seperti itu, ia tak bisa meninggalkan bocah itu begitu saja. Ia memegang tangannya dan mengalirkan mananya ke dalam tubuh Bjork, kurang lebih seperti yang dulu ia lakukan pada Luciana. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan apa yang dicari. Memang ada sesuatu yang bersembunyi di dalam sana—sesuatu yang asing.
Melody membanjiri mana asing itu dengan mananya sendiri, berusaha menetralkannya. Hasilnya langsung terlihat dari warna wajah bocah itu. Micah mulai sedikit tenang.
“Maaf,” kata mentornya. “Aku sudah menyingkirkan sebagian besar yang bisa kusingkirkan, tapi masih ada sisa.”
“Apa maksudnya?” tanya Micah.
“Itu berarti... bagaimana menjelaskannya, ya? Mana yang mencemari tubuhnya ini sudah berakar di sudut-sudut yang tak bisa kujangkau. Atau lebih tepatnya, tak seharusnya kujangkau. Secara teknis memang bisa, tapi risikonya sangat besar bagi orang yang jadi subjek.”
Berbulan-bulan berada di bawah cengkeraman Dark One telah meninggalkan bekas dalam hati Bjork. Bahkan Melody, dengan segala kemahakuasaannya, tak bisa memisahkan jiwa Bjork dari sentuhan makhluk itu. Keduanya sudah bercampur seperti dua warna cat yang diaduk jadi satu warna baru.
“Tidak...” Micah memeriksa keadaan bocah itu. Memang ia tampak jauh lebih baik, tapi sesekali masih meringis kesakitan saat cakar-cakar Dark One mencengkeram sudut terdalam hatinya.
“Tidak ada cara lain?” tanya Lect.
Melody tetap diam. Seandainya memang sesederhana itu.
Tunggu! Ini memang sesederhana itu!
Kemahatahuan Micah, berkat seluruh pengetahuannya tentang alur game, tiba-tiba memberinya jawaban.
“Pedestal itu!” serunya.
“Yang mana?” kata Melody.
“Kau punya mantra yang bisa memindahkan kita ke tempat lain, kan, Miss Melody?”
“I-iya.”
“Kalau begitu, bisakah kau buat mantra yang bisa mencari lokasi tertentu? Seharusnya ada hutan besar dengan pedestal perak yang dibuat untuk menahan pedang. Mungkin itu yang kita butuhkan!”
Bahkan di dalam The Silver Saint and the Five Oaths pun, heroine tidak pernah berhasil memulihkan pikiran Bjork sendirian. Dalam versi aslinya, pertarungan ini terjadi di Great Vanargand Wood, tepat di lokasi penjara lama Dark One. Setelah menang, heroine meminjam kekuatan Saint sebelumnya yang masih tertinggal di pedestal itu, dan gabungan kekuatan dua Saint itulah yang akhirnya memurnikan Bjork dan membebaskannya sepenuhnya.
Satu-satunya masalah, kita tidak tahu pedestal itu sebenarnya ada di mana. Apa kita masih punya waktu untuk mencarinya?
“Pedestal? Oh, kita tidak perlu mantra untuk mencarinya,” kata Melody. “Kurasa aku tahu tempat yang kau maksud.”
“Bagus! Anggap saja aku tidak bilang apa-apa!” kata Micah.
Tidak kusangka bakal semudah ini!
Bagaimana bisa Melody tahu? Micah tidak berniat mempertanyakannya. Tak seharusnya orang menolak kuda hadiah dan semacamnya. Meski sekali lagi ia mulai meragukan ketidaktahuan Melody soal game ini.
“Kau pasti maksud hutan di luar kota,” lanjut Melody. “Aku sering ke sana untuk mencari bahan-bahan, dan suatu hari aku memang menemukan pedestal yang cocok dengan deskripsimu. Tidak akan butuh waktu lama untuk kembali ke sana.”
Dia... mencari bahan-bahan. Di Great Vanargand Wood.
“Maaf?” kata Lect. “Melody, barusan kau bilang apa?”
Sang maid menatapnya dengan wajah murni tanpa dosa.
Waduh. Dia benar-benar tidak tahu tempat itu terlarang. Ya Tuhan, memang se-oblivius apa seorang maid bisa begini? pikir Micah. Tapi itu urusan nanti!
“Bawa kami ke sana!” seru maid muda itu.
“Siap! Ovunque Porta.”
Sebuah pintu sederhana muncul, dan di baliknya terbentang Great Vanargand Wood. Mereka menyerahkan Bjork pada Lect, lalu keempatnya melewati pintu itu dan berkumpul mengitari pedestal di sisi sana.
“Sekarang bagaimana?” tanya Melody.
“Benar,” kata Micah. “Jadi seharusnya masih ada sisa kekuatan di dalamnya, dan kekuatan itu harusnya beresonansi dengan punyamu sehingga kita bisa...” Krek. Sebuah retakan kecil merambat naik di pedestal itu tepat di tempat jari Micah menyentuhnya. “Kita bisa...”
Retakan lain bermunculan. Celah demi celah. Sebuah simfoni runtuhan batu menggema saat pedestal itu hancur menjadi debu.
“Maaf?!” jerit Micah. Apa itu gara-gara dirinya? Salahnya? Tapi bagaimana? Ia cuma menyentuhnya! “Jangan bercanda! Kita butuh ini! Kita butuh sihir ini! Tanpa itu, dia akan...”
Micah langsung lunglai. Itu seharusnya harapan terakhir mereka. Ini tidak adil.
Tapi justru sumber keputusasaannya itulah yang memberi mereka keselamatan.
“Sihir?” kata Melody. “Oh, tadi memang ada sedikit sihir di dalamnya. Sekarang sihir itu jadi tenaga untuk Serena.”
“Itu jadi apa?! Ya ampun, sejauh apa sebenarnya kita sudah keluar jalur, Miss Melody?! Bawa dia ke sini! Cepat! Tolong!”
Micah masih bisa memaklumi kalau Melody mengabaikan tugas heroik demi menjadi maid, tapi tidak semua titik plot penting yang dia lewati atau hancurkan begitu saja. Dan semua itu dia lakukan sepenuhnya tanpa sadar. Micah nyaris tak sanggup menahan jeritan. Siapa yang tahu sudah berapa banyak benang plot lain yang diputus Melody? Tapi sekarang bukan waktu untuk memikirkan itu.
Tak lama kemudian, Serena keluar dari portal lain.
“Aku, um, paham ini darurat,” kata Serena, “tapi aku masih belum mengerti apa tepatnya yang darurat.”
“Aku butuh kau bekerja sama dengan Miss Melody, supaya mana kalian bisa beresonansi dan kita bisa menyelamatkan bocah ini,” jelas Micah. “Ada sesuatu yang tidak wajar di dalam dirinya dan kami sedang berusaha memurnikannya.”
“Itu justru menambah pertanyaan ketimbang jawaban,” kata Serena, “tapi setidaknya sekarang aku paham kenapa waktunya mendesak. Bocah ini yang membutuhkan bantuan, begitu, Kakak Tercinta?”
Melody mengangguk. Serena tersenyum lalu menggenggam tangan penciptanya. “Kalau begitu, mari kita selamatkan dia.”
Lect membaringkan Bjork di tanah, dan kedua maid itu berlutut di sisi tubuhnya, saling menggenggam tangan. Mana mereka bercampur, bolak-balik mengalir di antara keduanya, beresonansi dan makin membesar seiring proses itu berlangsung.
Menurut game-nya, yang akan terjadi seharusnya adalah lonjakan daya sihir yang eksplosif, seolah Saint masa lalu dan Saint masa kini menyatu sesaat. Micah ikut merapatkan tangannya, berdoa agar keajaiban itu benar-benar terjadi seperti di game, meski rekam jejak Melody selalu membuktikan bahwa segalanya bisa melenceng jauh dari harapan.
“Luar biasa,” bisik Melody. “Aku belum pernah merasakan sihir seperti ini. Ini mungkin benar-benar bisa berhasil.”
Dengan mata tertutup, ia mulai membanjiri Bjork dengan energi perak. Ia bisa merasakan bantuan Serena meresap ke dalam sihir itu dan membuat cahayanya semakin terang. Dalam keadaan mata terpejam, Melody menemukan kilau jiwa Bjork dan melihat sulur-sulur gelap yang membelitnya layu satu per satu. Bocah itu menyerap energi itu dalam bentuk cahaya perak, penerus suci dari keberadaan jahat yang dulu ditinggalkan Dark One. Cahaya itu memenuhi setiap sudut yang dulu dihuni Dark One, sampai tak ada sedikit pun sisa kegelapan, dan warna sehat pun akhirnya kembali ke wajah Bjork.

Napas Bjork akhirnya kembali teratur. Tangan yang tadi mencengkeram dadanya perlahan mengendur.
Micah mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Kalian berhasil, Miss Melody, Serena. Terima kasih... Um, kalian?” Bjork masih terus bersinar, dan kedua gadis itu juga masih terus beresonansi. “Hei, sudah selesai. Kalian berhasil. K-kalian bisa berhenti sekarang. Halo?!”
Cahaya itu membesar sampai nyaris menyilaukan. Merasakan mana yang meluap, Melody dan Serena akhirnya tersadar lalu membuka mata. Hal pertama yang mereka lihat adalah satu sama lain. Mereka pun tersenyum.
“Aku ikut senang kalian berdua menikmati momen ini, tapi kita punya masalah!” geram Micah. “Ada yang tidak beres dengannya!”
Bjork mengeluarkan suara erangan aneh, tapi bukan erangan manusia. Lebih seperti suara benda mati, seperti papan kayu yang menegang atau kain yang terkoyak.
Melody menunduk menatap Bjork, lalu langsung melihat yang kedua. Pakaiannya mulai robek di bagian sambungan. Tubuhnya membesar tepat di depan mata mereka. Seolah sedang menebus bertahun-tahun malnutrisi, Bjork tumbuh dengan cepat dari seorang bocah menjadi pria dewasa, pria yang sesuai dengan usia aslinya. Sayangnya, pakaiannya tidak mampu mengikuti perubahan itu. Celananya menjadi bagian pertama yang menyerah.
Rambutnya memanjang, lengan dan kakinya meregang, dadanya melebar, dan otot-otot perut mulai terbentuk jelas di tubuhnya yang semula ramping. Dalam hitungan detik, bocah itu berubah menjadi pria dewasa, pria yang sangat tegap dan maskulin. Dengan kain yang tersisa sangat, sangat sedikit untuk menutupi fakta itu.
Dan tak sedikit mata indah yang nyaris dipaksa menyaksikan perubahan tersebut. Keindahan tubuh manusia dalam segala ketelanjangannya. Karena ada tiga gadis muda yang menjadi saksi pemandangan itu.
Hari itu, Great Vanargand Wood, tanah wabah dan kematian, momok bagi Theolas, bergetar oleh jeritan mereka. Teriakan panjang dan nyaring menembus sela-sela dedaunan, sampai ke telinga satu-satunya saksi yang tak beruntung, Lect.