Beberapa hari setelah Insiden Penyihir Cemburu, Micah keluar dari kamarnya di kediaman keluarga Rudleberg, bersiap mengunjungi panti asuhan di hari liburnya, lalu mendapati bahwa ia tidak sendirian. Rekan sekaligus mentornya juga baru keluar ke lorong.
“Selamat pagi, Miss Melody,” sapa Micah. “Jarang sekali melihat Anda keluar dari kamar selarut ini di pagi...” Baru kemudian ia sadar. Jam sembilan pagi itu luar biasa siang untuk ukuran Melody, bahkan di hari libur, yang biasanya pun hampir selalu ia abaikan. Tapi itu baru alasan pertama kenapa Micah terkejut. “Ada acara apa?”
Melody, yang membuat Micah nyaris tidak percaya pada matanya, tidak mengenakan seragam maid. Ia mengenakan pakaian sederhana tapi anggun: blus putih berlengan pendek tanpa banyak hiasan dan rok merah panjang. Sebuah tas kecil hitam tersampir menyilang di dadanya, dan rambutnya dibiarkan tergerai, hanya setengahnya diikat dengan pita cantik. Micah tak ingat pernah melihat Melody mengenakan pakaian biasa sebelumnya. Ini di luar nalar. Ini feminin.
Dan ini...
Aku mencium aroma kencan!
Ini perang! Dan cinta adalah medan tempurnya! Otak anak SMP Micah langsung bekerja terlalu keras.
“Selamat pagi,” balas Melody. “Aku ada urusan di Upper District, jadi akan keluar sebentar.”
Micah mengangguk puas. Wanita yang berpakaian seperti Melody hari ini memang tidak akan terlihat aneh di tengah para bangsawan. “Bukan pergi sendirian, kan?”
“Lect dengan baik hati menawarkan diri untuk mengantarku, sebenarnya.”
Ya ampun. Cowok itu akhirnya punya nyali juga! Hari ini penuh kejutan. Selama membantu Lect di Royal Academy, Micah sama sekali tidak mendapat kesan kalau pria itu punya inisiatif sedikit pun. Ia jelas tidak sesuai dengan sosok stone-faced keren yang dulu membuat begitu banyak orang fangirl saat masih cuma gambar diam di layar. Tunggu. Timing ini. Jangan-jangan ini memang yang kupikirkan?
Pikirannya langsung melayang pada game itu. Sebuah sub-event berjudul “The Princess’s Knight Out” akan terpicu setelah Insiden Penyihir Cemburu, tapi hanya kalau si pemain memilih Lect sebagai partner heroine selama fase penyelidikan. Tepat sesaat sebelum Luciana dan heroine berdamai, villain akan menampakkan diri dan menyingkirkan Luciana, menghancurkan harapan heroine untuk berteman dengannya. Setelah itu, saat heroine sedang terpuruk, ksatria pelindungnya akan mengajaknya keluar untuk menghiburnya.
Kalau tidak salah, ada labirin pagar hidup, lalu kafe, lalu toko perhiasan. Kalau pilihannya benar, heroine dapat aksesori yang warnanya cocok dengan mata Lect, dan Lect dapat yang warnanya cocok dengan mata heroine. Event besar. Tingkat affection naik banyak.
Lect akan menawarkan membelikan heroine sesuatu untuk mengenang hari itu, heroine akan menolak, Lect akan bersikeras, lalu pemain dihadapkan pada pilihan hadiah.
Dia bertanya heroine mau apa, dan kalau ingatanku benar, pilihannya ada tiga: biarkan dia memilih untukmu, minta sesuatu yang cocok dengan warna matanya, atau minta sesuatu yang cocok dengan warna matamu. Dan tentu saja, cuma ada satu jawaban yang benar.
“Sepertinya aku harus berangkat sekarang,” kata Melody. “Oh, satu hal lagi. Tolong rahasiakan ini dari Lady Luciana, ya?”
“Hah? Miss Melo...dy. Loh, dia sudah pergi.” Maid yang tidak berseragam itu pun tergesa-gesa pergi, meninggalkan Micah bersama delusinya sendiri. “Cuma ada satu alasan dia mau merahasiakan ini dari Lady Luciana. Dia benar-benar sedang mengejarnya! Serius! Gah, aku pengin sekali menguntit kencan ini!”
Sayangnya, konsep menjengkelkan seperti privasi menghalanginya. Selain itu, berkeliaran di Upper District sebagai rakyat biasa adalah cara cepat untuk dipanggil penjaga, dan itu bukan risiko yang ingin diambil Micah.
Akhirnya ia pergi ke panti asuhan sebelum berubah pikiran, meski harus diakui nyaris saja ia membatalkan niat.
“Ya ampun. Indah sekali,” kata Melody.
“Bagus, kan?” kata Lect. “Hampir tidak ada bangsawan yang datang ke ibu kota tanpa juga mampir ke taman-taman ini. Khusus labirin pagar hidup itu malah sangat populer di kalangan pasangan yang ingin... b-berduaan secara pribadi.”
Wajah Lect memerah lebih terang daripada rambutnya.
Di tengah taman berdiri air mancur besar. Di kedua sisinya terbentang labirin pagar hidup yang terawat sangat rapi. Di beberapa titik ada gazebo kecil untuk tempat beristirahat, dan di sepanjang jalur juga ada beberapa gerbang agar tak ada pengunjung yang benar-benar tersesat lama.
Intuisi Micah ternyata memang kadang menakutkan.
“Desainnya sangat Italia,” gumam Melody pada dirinya sendiri.
“Sangat apa?” tanya Lect.
“Tidak usah dipikirkan. Kita jalan-jalan dulu, yuk? Aku ingin melihat lebih deka... ah!” Melody menjerit kecil saat kakinya tersandung batu jalan.
“Melody!” Lect menangkapnya tepat waktu, satu lengannya yang besar dan berotot melingkari tubuh gadis itu.
“Oh. T-terima kasih,” kata Melody.
Lect menelan ludah. “Hati-hati melangkah.”
“Benar juga. Nah, kita jalan?”
“B-baik.”
Lect mengikuti Melody dari belakang, lambat sekali, tapi panas sekali juga.
Lembut... empuk... lembut...
Hadirin sekalian, inilah pria dua puluh satu tahun paling polos di seluruh kerajaan.
Sisa hari mereka berjalan kurang lebih seperti yang ditebak Micah. Setelah menyusuri labirin, Melody dan Lect pergi ke sebuah kafe untuk beristirahat dan mengobrol. Setelah merasa cukup, mereka melanjutkan ke tujuan berikutnya.
“Ini dia tempatnya,” kata Lect.
Ia membawa mereka ke pemberhentian terakhir “The Princess’s Knight Out”: toko perhiasan.
“Selamat siang, Milord. Ada yang bisa saya bantu?” sapa penjaga toko. Ia lebih dulu menyapa pihak laki-laki, karena secara budaya, asumsi dasarnya adalah si pria datang untuk membelikan hadiah bagi wanita yang menemaninya. Dan biasanya, asumsi itu cukup aman.
“Bukan untukku. Mungkin untuk dia,” kata Lect.
“Maaf?”
Lect sedikit merusak topeng kaku di wajahnya saat alisnya mengernyit tipis, lalu memberi isyarat dengan matanya ke arah Melody. Penjaga toko itu mengikuti arah pandangnya, masih belum yakin.
Gadis di samping Lect tersenyum lembut. “Aku sedang mencari sesuatu untuk diberikan kepada seseorang yang sangat berharga bagiku.” Pipinya merona manis. “Aku berpikir mungkin aksesori kecil.”
Sang penjaga toko, yang langsung menyimpulkan bahwa orang berharga itu jelas bukan pria tegap di sebelahnya, menoleh lagi ke Lect. Betapa tragisnya segitiga cinta.
Jangan tatap aku dengan belas kasihan begitu! jerit Lect dalam hati. Tolonglah!
“Pilihannya banyak sekali,” kata Melody. “Menurutmu, apa yang cocok untuk hadiah ulang tahun lady-ku?”
Bagi Melody, tak ada cinta segitiga, bahkan tak ada cinta sama sekali dalam radar. Bagi dirinya, yang ada hanya maid dan mistress. Hanya itu yang pernah ada, dan hanya itu yang akan pernah ada.
Ulang tahun Luciana jatuh pada 7 Agustus. Karena mereka sebentar lagi akan kembali ke wilayah kekuasaan keluarga Rudleberg untuk libur musim panas, Melody ingin menyiapkan hadiah untuk lady-nya dari sekarang. Setelah mendengar hal itu, Paula menyarankan Lect menemani Melody mencari hadiah, dan begitulah “kencan” ini bisa terjadi.
Soal labirin pagar hidup tadi, itu juga rekomendasi cerdik dari Paula. Melody memang tidak banyak tahu soal Upper District, tapi menurut Paula, ia benar-benar harus mencoba labirin pagar hidup yang begitu terkenal itu.
Paula memang jiwa yang penuh perhatian dan sama sekali tidak licik.
“Yang ini desainnya sangat sederhana, cocok untuk seorang lady. Tidak terlalu mewah sampai tidak bisa dipakai sehari-hari, tapi juga cukup indah untuk tetap cocok dipadukan dengan gaun pesta.”
“Oh, iya, yang ini cantik sekali.”
Melody memegang sebuah liontin topaz biru yang sangat indah, lengkap dengan rantai emas. Benda itu akan sangat cocok untuk lady-nya, terutama dengan warna matanya.
Hadiah pertama Melody dulu sangat sederhana. Sebagai seorang bangsawan, Luciana sebenarnya tidak bisa banyak memakai cincin murah, jadi kali ini Melody bertekad tidak akan mengulangi kesalahan itu. Bahkan ia sudah siap menghabiskan seluruh tabungannya demi memastikan hal itu.
“Aku ambil ini,” putusnya.
“Terima kasih banyak atas pembeliannya.” Penjaga toko itu tersenyum, kali ini jauh lebih santai daripada sebelumnya. Fakta bahwa hadiah ini untuk seorang wanita dan bukan pria setidaknya menjamin bahwa ia tidak sedang berdiri di tengah konflik berdarah yang akan segera meledak. Setidaknya, sejauh yang ia tahu.
Melody terkikik. “Ini sempurna sekali.”
Apa yang seharusnya menjadi event besar Lect entah bagaimana malah berubah jadi event milik Luciana. Segala “kenaikan affection” yang seharusnya mengarah pada Lect malah dialihkan, lewat rangkaian kejadian rumit, pada seseorang yang bahkan bukan love interest. Apakah heroine maniak maid itu memang sekuat itu? Apa satu hadiah ulang tahun saja cukup untuk menghancurkan satu lagi jalur plot?
Akankah kekuatan yang mengatur dunia ini tinggal diam?
“Melody.”
“Ya, Lect?”
Melody menoleh padanya, sementara penjaga toko sedang membungkus liontin itu dengan rapi. Lect tampak tersipu, bibirnya mengatup kencang.
“Ada apa?” tanya Melody.
“Aku, um... hari ini aku senang sekali menghabiskan waktu bersamamu.”
“Hm? Oh, tentu saja. Aku juga. Terima kasih sudah menemaniku.” Melody tersenyum sopan, sedikit bingung.
“Aku berpikir...”
“Berpikir apa?”
“Berpikir mungkin aku bisa... membelikanmu sesuatu. Sesuatu dari sini. Untuk, um, mengenang waktu... kita bersama.”
“Hah?”
Di saat itulah, ksatria paling polos di seluruh negeri akhirnya memahami makna sebenarnya dari keberanian.
“Tidak, aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu,” kata Melody. “Kau sudah menjadi pemandu yang sangat baik, dan aku tidak enak kalau harus merepotkanmu lebih jauh.”
“Itu tidak merepotkan,” kata Lect. “Aku sungguh mau. Aku hanya ingin memberimu sesuatu untuk... yah, supaya kau punya kenangan dari hari ini.”
Melody mendapati dirinya tak bisa membantah. Tapi apa maksud semua ini? Cara bicaranya goyah dan ragu-ragu, tapi juga tegas. Melody bahkan tak sempat menyela. Bagaimana mungkin seseorang bisa sama-sama gugup tapi juga punya semangat yang, dare she say, setara dengan semangatnya sendiri terhadap segala hal berbau maid?
Aku tidak mengerti, pikir Melody. Sebesar apa pun usahanya.
Jujur saja, pria itu nyaris seperti sedang berteriak menyatakan niatnya dari puncak gunung, tapi kepadatan kepala Melody memang sudah melegenda. Ia akan cocok sekali duduk sejajar dengan protagonis-protagonis paling tidak peka, paling susah dengar, dan paling oblivious dalam sejarah fiksi. Rasanya hampir terdengar bagaimana peluang romansa Lect hancur berkeping-keping menjadi debu.
Melody menatapnya, mencoba memahami. Lect sendiri tak sanggup menahan tatapannya lama-lama.
Para pembeli lain dan pegawai toko memandangi adegan yang cukup dramatis, dan sangat publik, itu dalam diam yang hampir khidmat. Ah, indahnya jadi muda.
Aura lembut dan membuat jantung berdebar memenuhi toko itu sampai akhirnya Melody membuka suara. “Kalau kau bersikeras, maka aku mengusulkan kompromi: tukar hadiah.”
Lect memiringkan kepala. “Tukar hadiah?”
Melody menyeringai. “Hari ini kan hari yang kita habiskan bersama, benar? Kalau begitu, bukankah masuk akal kalau aku juga memberimu sesuatu sebagai balasan? Menurutku kita cari hadiah untuk satu sama lain.”
“O-oh. Oh! Ya! Ide bagus!”
Sempurna, pikir Melody. Jadi kita impas. Seperti teman yang seharusnya!
Penyakit berdebar-debar itu pun makin menular pada semua orang yang menonton. Andai saja mereka tahu kenyataan sebenarnya di balik pasangan “kasmaran” ini.
“Ada permintaan khusus?” tanya Lect.
“Aku serahkan sepenuhnya padamu. Aku ingin kau memilihkan sesuatu yang menurutmu paling cocok untukku, dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu.”
Sang ksatria langsung kelihatan jauh lebih hidup. “A-akan kulakukan!” katanya, lalu buru-buru pergi dengan semangat.
Melody mengamatinya diam-diam saat pria itu menjauh. Hari ini Lect mengenakan vest biru tua yang pas di pinggang, melengkapi pakaian sederhananya. Pakaian yang biasa saja itu ternyata sangat cocok padanya.
Sedikit warna pasti akan bagus untuknya, pikir Melody.
Ia melihat sebuah kemeja putih polos berkerah, dan inspirasi pun muncul.
Sang putri dan ksatrianya pun memilih hadiah masing-masing. Setelah saling bertukar dan mengenakannya, mereka keluar dari toko itu dengan wajah puas dan seolah mawar-mawar bertebaran di belakang mereka.
Ah, indahnya jadi muda.
“Aku senang sekali akhirnya dapat sesuatu.” Kembali di kamarnya, Melody memandangi kotak hadiah yang terbungkus rapi itu, sudah membayangkan seperti apa nanti ekspresi Luciana saat membukanya. “Semoga dia menyukainya.”
Ia menyimpan kotak itu di dalam laci agar aman sampai hari besarnya tiba, lalu melepas bros di dadanya dan mengangkatnya ke depan mata. Bunga amber berhias indah itu berkilau saat menangkap cahaya.
“Cantik sekali.”
Warna kelopak-kelopaknya yang keemasan kemerahan mengingatkannya pada mata dan rambut Lect. Terlebih lagi dalam cahaya matahari senja.
Melody harus menahan tawa kecil saat mengingat wajah Lect ketika memberikan hadiah itu padanya. Kaku. Pipinya memerah. Jelas sekali ia tidak terbiasa memberi hadiah. Lucu sekali melihat pria seusianya bisa begitu malu-malu, tapi setidaknya Melody masih punya cukup akal sehat untuk menyimpan pikiran itu bagi dirinya sendiri.
“Nah, sebentar lagi waktu makan malam. Salah satu waktu favoritku sepanjang hari. Tunggu sebentar, Lady Luciana, aku segera kembali menjalankan tugasku!”
Ia menyimpan bros itu ke dalam laci juga, menyelesaikan ganti pakaiannya, lalu langsung kembali bekerja.
“Jadi kau membelikannya bros, dan dia memberimu... itu?” Paula menarik kuat kemeja Lect, lebih untuk melampiaskan frustrasinya daripada karena semangat membantu melepaskannya. Matanya terpaku pada sepasang manset lapis lazuli di ujung lengan baju Lect. “Minimal kau bisa membuat hadiah kalian serasi, Master. Kau bilang milikmu warnanya cocok dengan matamu, bukan?”
Paula menghela napas. Memang khas Lect sekali, sudah berhasil mengumpulkan keberanian untuk pergi kencan, tapi tetap gagal saat pendaratan.
Lect sama sekali tak memedulikannya saat melepas manset itu. Ia memandanginya sekali lagi dengan tatapan lembut. “Aku sangat senang dengan ini. Lebih dari sangat senang.”
Ia meletakkannya dengan hati-hati ke dalam kotak perhiasan, menyembunyikan senyum lembut saat melakukannya.