“Ayah yakin tidak perlu pergi bekerja? Bukankah kanselari sedang kacau balau sekarang?”
“Oh, tapi Ayah memang sedang bekerja, sayang. Lord Chancellor sendiri yang menganugerahkan tugas terhormat ini padaku: mengantar pulang Sang Putri Pahlawan yang tanpa pamrih dengan selamat.”
“Putri apa tadi?”
“Itu Putri Peri, sayang,” sela Marianna. “Begitulah mereka memanggilnya di pesta semalam.”
Hughes tertawa kecil. “Nah, kalau di kanselari, mereka memanggilnya Putri Pahlawan, sebagai penghormatan atas keberaniannya melindungi Yang Mulia.”
“Wah, itu indah sekali! Kau dengar itu, Luciana? Kau seorang pahlawan!”
“Aku berharap bukan!” kata Luciana. “Aku ingin sembunyi di bawah batu!”
“Oh, ayolah,” kata Marianna. “Aku yakin kebanyakan orang tetap mengenalmu pertama-tama sebagai Putri Peri. Itu nama yang paling sering kudengar di mulut semua orang.”
“Aku tidak terlalu yakin,” kata Hughes. “Justru Lord Chancellor sendiri yang mencetuskan julukan baru ‘Putri Pahlawan’ itu. Pasti cepat menyebar.”
“Kalau begitu, aku jadi penasaran nanti di Royal Academy mereka akan memanggilmu yang mana!”
Luciana merintih keras. “Aku bahkan nggak mau memikirkannya!”
Di kursi kusir kereta yang disediakan istana, Melody cekikikan sendiri. Hughes dan Marianna kembali tak lama setelah Anna-Marie meninggalkan ruang tamu, dan keluarga Rudleberg langsung berangkat pulang. Luciana tadi bersikeras agar Melody duduk di dalam kereta bersama mereka, tapi sang maid menolak mentah-mentah. Itu tidak pantas. Lagi pula, ia juga masih punya sesuatu yang harus diurus.
“Tuan, itu apa?” Melody menunjuk ke depan.
Sang kusir mengikuti arah tangannya, menatap jauh ke depan dan menjauhkan perhatian dari si maid. “Yang mana, Nona?”
Dalam sekejap mata, Melody menghilang dari kursi kusir saat perhatian pria itu teralihkan, lalu muncul kembali tepat saat pria itu menoleh lagi.
“Saya nggak begitu yakin sedang melihat apa, Nona,” katanya.
“Sudahlah. Sepertinya cuma burung.” Melody tersenyum. Kusir itu membalas tersenyum dan menganggap semuanya tak penting.
Di dalam kereta, Luciana menatap takjub bagian dalam yang mewah. “Ini jauh lebih mewah daripada kereta kita. Aku harus lebih sering menyelamatkan nyawa pangeran, deh.” Ia menekan kursi empuk itu dengan tangan, dan telapak tangannya tenggelam ke dalam bantalan lembut.
Hughes memberinya senyum lelah. “Tolong jangan biasakan melukai dirimu demi itu. Ayah jauh lebih memilih punya dirimu daripada kereta mewah.”
“Ayahmu benar,” kata Marianna. “Kompensasi semewah apa pun tak akan pernah cukup kalau hal yang tak terpikirkan itu benar-benar terjadi.”
“I-iya, Bu.” Putri mereka langsung merona, tersentak mendengar keseriusan jawaban orang tuanya.
Sesaat keheningan canggung memenuhi kereta, lalu dipecahkan oleh bunyi geraman perut.
Geraman yang sangat mirip perut kosong.
“B-bukan aku! Itu Grail!” seru Luciana.
Di sebelahnya, anak anjing malang itu sedang terkulai lemas. Ia merengek, sebab ia sedang kelaparan. Disiksa dengan sangat kejam, bahkan.
Marianna terkikik. “Kurasa memang sudah waktunya makan siang. Ibu juga mulai lapar. Begitu juga denganmu, Hughes?”
“Memang, sebenarnya. Begitu sampai rumah, mari kita makan.”
“Tapi Ayah, Melody ikut bersama kita,” kata Luciana. “Setidaknya beri dia waktu untuk memasak.”
“Ayah akan memberinya waktu.”
Marianna tersenyum. “Sementara dia menyiapkan sesuatu, kita bertiga bisa menghabiskan waktu bersama, bukan?”
Kereta pun berhenti, dan Melody membuka pintu untuk mereka.
“Kita sudah sampai, Tuan dan para Nyonya.”
Hughes turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu istrinya turun. Luciana menyerahkan Grail pada Melody, baru kemudian ikut turun.
Kereta itu pun pergi, meninggalkan mereka berempat, ditambah satu anak anjing, di depan kediaman Rudleberg. Sebuah kediaman yang sederhana untuk ukuran manor, tapi tetap tampak terhormat dan anggun.
Waktu pertama kali aku datang ke sini, aku sempat pikir aku harus tinggal sendirian di rumah berhantu, kenang Luciana. Tapi sekarang ini bukan rumah berhantu lagi. Ini rumah. Ada Ibu, Ayah, dan sekarang Melody juga Grail.
Dulu, di hari-hari awal itu, ia memang memasang wajah tegar, tapi kenyataannya ia benar-benar sangat kesepian. Perjalanan ke ibu kota seorang diri saja sudah cukup membuatnya lelah dan kacau. Tinggal di kediaman itu dalam kondisinya yang dulu hampir saja menghancurkannya.
Luciana menyempatkan diri memandang profil gadis yang telah mengubah segalanya untuknya. Melody sudah memperbaiki jauh lebih banyak daripada sekadar kondisi hidup dan gaun-gaunnya gadis itu menyelamatkan persahabatannya dan memberinya malam terbaik dalam hidup. Tanpa Melody, Luciana tak akan bisa pergi ke Spring Ball, dan ia tak akan bertemu sang pangeran, Anna-Marie, atau Maxwell. Begitu banyak orang luar biasa.
Semua itu membuat Luciana memandang masa depan dengan optimis. Sejujurnya, sekarang ia sudah tak sabar menunggu masuk akademi.
“Terima kasih, Melody!”
“Untuk apa, Nona?”
Melody tampaknya sama sekali tak sadar betapa luar biasanya dirinya. Luciana berpikir suatu hari nanti ia akan memberi tahu gadis itu. Mungkin. Tapi di sisi lain, mungkin Melody memang lebih baik tak pernah mengetahuinya. Sekarang dia bahagia, jadi untuk apa mengambil risiko mengubahnya?
Luciana tersenyum lebar. “Ah, nggak ada.”
Melody terkikik. “Anda pasti bangsawati paling aneh di seluruh dunia.”
“A-aneh dari mananya?! Sudahlah, ayo masuk. Lagipula nggak ada siapa-siapa yang menyambut kita, sih.”
Karena semua orang sudah lengkap hadir, memang tak akan ada siapa pun yang berdiri menunggu sambil berkata “selamat datang pulang” saat mereka melangkah masuk. Luciana memutuskan untuk menerima itu dulu untuk sementara.
Melody menyeringai. “Nona, saya lebih baik menggantung celemek saya daripada membiarkan nyonya saya berjalan masuk ke rumahnya sendiri tanpa sambutan.”
“Hah?”
“Wah, harum sekali,” kata Hughes.
“Benar juga,” kata Marianna. “Tapi masa iya itu buat kita?”
Aroma yang menggugah selera menyambut mereka di aula masuk, mengalir dari dapur. Tapi itu tak mungkin.
Melody menurunkan Grail dengan lembut ke lantai lalu mengetuk pintu dapur.
“Kau sedang apa? Kan nggak ada ora—” Luciana terengah. Tiba-tiba Melody lenyap. Seolah-olah tadi ia tak pernah ada di sana sama sekali.
Pintu itu perlahan terbuka.
“Selamat datang pulang, Lord Rudleberg. Lady Rudleberg.” Kini berdiri di balik pintu itu, Melody memberi hormat dengan sempurna. “Lady Luciana.”
Hidup seorang maid berjalan berdasarkan jadwal, dan Melody tak pernah melalaikan tugas-tugasnya. Makan siang harus siap di waktu makan siang. Untuk itulah ia tadi membuka portal kembali ke kediaman dan meninggalkan klonnya bersama kusir yang sedang teralihkan, sehingga Melody asli bisa langsung bekerja.
Sang count dan countess hanya bisa menatap dengan mulut menganga. Mereka memang sudah terbiasa dengan para klon, tapi belum terbiasa dengan kemampuan Melody untuk berteleportasi sesuka hati seperti itu.
Bagi Luciana pun ini berita baru.
“Astaga, Melody! Kau nggak harus selalu membuat kami kaget, tahu!” Tanpa peduli lagi pada kepantasan, ia langsung melompat ke arah sang maid.
Melody menjerit. “Nona! Bangsawan tidak melemparkan diri ke arah maid mereka!”
“Yang ini melakukannya! Lady Luciana, putri sulung Keluarga Rudleberg, memerintahkanmu diam dan biarkan aku memelukmu!”
“Siapa di dunia ini yang mengajari Anda bicara begitu?! Lepaskan saya sekarang juga, Nona!”
“Maaf, Melody, tapi ini pekerjaan yang kau pilih sendiri. Dipeluk itu kerja berat, tahu. Dan seperti katamu maid terbaik itu bekerja keras untuk semua pekerjaan!”
Tawa memenuhi aula depan. Sungguh sore musim semi yang indah untuk menandai awal kisah sederhana sang maid kita ini.
“Itu sama sekali bukan maksud saya!”