Heroine? Seijo? Iie, All Works Maid desu (Hoko)! Volume 1 Chapter 20 — Nina Bobo Seorang Maid yang Sedang Marah

“Nah, ketemu juga, aku.”

Salah satu klon Melody meletakkan sebuah keranjang di atas meja tepat di depan Melody asli. Dengan hati-hati, ia memindahkan anak anjing itu dari pangkuan Melody asli ke dalam keranjang.

Melody asli terkikik. “Lihat dia, tidur pules begitu saja. Padahal tadi ribut sekali.”

“Dia memang tukang melolong, ya? Aku harap Tuan mengizinkan kita memeliharanya.” Klon Melody itu tersenyum, lalu kembali menyatu dengan tubuh asli.

Melody menatap bulan purnama yang menggantung tinggi di langit tanpa awan. “Mereka lama sekali pulangnya.”

Waktu sudah mendekati pukul dua pagi. Tuan dan para nyonyanya seharusnya sudah kembali, tapi kediaman itu masih sunyi senyap kecuali dirinya sendiri. Bahkan terasa terlalu sunyi. Seolah-olah seluruh kota tertidur pada saat yang sama.

Dan memang begitulah kenyataannya.

Hanya saja, Melody tidak tahu itu, apalagi bahwa ia punya andil dalam semua itu.

Ia menguap kecil dengan lucu. “Astaga, aku jadi mengantuk. Biasanya aku tidak begadang se... larut ini...”

Begitu kepalanya menyentuh meja, rasa lelah langsung menguasainya. Begitu saja, Melody tertidur bersama seluruh kota.

Jam larut malam bukanlah penyebab sebenarnya dari kantuk mendadaknya. Kelelahan itu hanyalah gejala kekurangan mana akut, tapi Melody tak mungkin tahu soal itu karena seluruh ilmunya dipelajari sendiri. Lagi pula, sampai titik ini, ia belum pernah mengalami efek samping karena sihirnya terkuras.

Dan dengan begitu, orang terakhir yang masih terjaga di ibu kota pun akhirnya tertidur. Ia memimpikan anak anjing kecil di dalam keranjang itu.

Beberapa waktu sebelumnya, setelah Lect mengantarnya pulang, Melody langsung sibuk menyiapkan kediaman untuk menyambut kepulangan tuan dan para nyonyanya. Ia menepuk-nepuk bantal agar empuk, menyiapkan teh dan minuman keras, lalu menyusun camilan, semuanya demi menyambut mereka saat kembali. Tentu saja istana menyediakan makanan, tapi makanan ringan di pesta sering kali tetap membuat orang ingin makan sungguhan. Melody menyiapkan segala kemungkinan.

Jarum jam baru saja melewati tengah malam. Pesta dansa pasti akan segera bubar.

Lalu tiba-tiba terdengar sesuatu pecah di lantai atas.

Suara itu datang dari kamar nyonyanya.

Melody buru-buru naik ke atas untuk memeriksa, dan yang ia temukan adalah bencana. Kamar itu tampak seolah baru saja diterjang angin puyuh. Perabotan, pernak-pernik, teh, dan makanan ringan berserakan di mana-mana, hancur dan tak berguna lagi. Semua kerja keras Melody, semua persiapan telitinya demi menyambut kepulangan nyonyanya, semuanya sia-sia.

Ia menutup mulut dengan tangan, nyaris tak sanggup menanggung tragedi itu, ketika matanya menangkap seekor anak anjing sombong kecil yang sedang berguling-guling di atas ranjang Luciana.

Saat itu juga, ia mengerti.

Setan kecil ini.

“Kau yang melakukan ini, ya? Dan tepat sebelum Nona-ku pulang juga.” Melody gemetar oleh amarah suci, melepaskan arus mana yang oleh orang lain akan dianggap luar biasa besar. Anak anjing itu langsung berhenti berguling dan malah gemetar. “Apa yang sudah kau lakukaaaan?!”

Rasanya Melody bisa saja langsung menangis saat itu juga. Luciana bisa pulang kapan saja, dan ia harus membereskan seluruh kamar itu dari awal. Bisa-bisa saat nyonyanya pulang nanti, bahkan ranjangnya pun belum siap. Tak bisa diterima. Sama sekali tak bisa diterima.

Amarah sebesar itu belum pernah Melody rasakan sebelumnya, sampai-sampai ia tak lagi menyadari dunia di sekelilingnya. Anak anjing itu, dan Dark One yang diam-diam bersemayam di dalamnya, justru sangat memahami situasi mereka.

Ini bukan Silver Raiment! Ini lebih parah! Dan jelas aku tidak akan tinggal di sini untuk mengetahui ini apa!

Dark One menelan ketakutannya sekeras mungkin, sementara respons lari-atau-lawan seadanya yang bisa dimiliki segumpal mana akhirnya aktif.

Dan ia memilih lari.

Anak anjing itu melompat ke arah balkon.

“Kau tidak akan pergi ke mana-mana! Raih—Allungare la Mano!

Anak anjing itu menyalak panik. Artinya: Ini apaan lagi?!

Dark One membeku di udara. Ada sesuatu yang menahannya erat, kekuatan yang setara dengan telekinesis yang tadi ia gunakan untuk mengacak-acak kamar itu. Itu adalah sihir gaya yang membentuk tangan tak terlihat seadanya.

“Kau pikir bisa kabur begitu saja setelah apa yang kau lakukan?! Dasar anjing nakal!”

Ya Tuhan, ini akhir hidupku!

Tubuhnya bergetar seperti kursi pijat murahan. Dark One sama sekali tak punya harapan menang melawan Saint yang sepenuhnya terbangun, apalagi saat kekuatannya sendiri masih tersegel. Ia hanyalah babi yang menunggu disembelih.

Namun ketakutan di mata anak anjing malang itu menyentuh Melody. Sedikit demi sedikit, ia kembali sadar, menekan aliran sihirnya yang mengamuk, dan meredakan amarahnya. Lalu ia menghela napas letih.

“Satu menjadi banyak—Alter Ego.

“Siap, Nyonya! Ada yang bisa saya bantu, Nyo—” Klon itu melihat kondisi kamar. “Ah. Maaf. Pertanyaan bodoh.”

“Tolong rapikan tempat ini. Keluarga akan pulang sebentar lagi, jadi semuanya harus kembali rapi.”

“Siap, Nyonya! Kalau waktunya mepet, saya akan pakai sedikit sihir biar selesai sekejap!” Klon itu langsung berlari ke tugasnya.

Melody mengangkat anak anjing itu dan meninggalkan kamar. “Kau belum lolos begitu saja, jadi jangan terlalu santai dulu.”

Anak anjing itu merengek. Artinya: S-siksaan macam apa yang menungguku sekarang?!

Melody membawa anak itu dengan mencengkeram tengkuknya, membuat makhluk kecil itu tak berdaya dalam genggamannya. Ia membawanya sampai ke kamar mandi, sepanjang jalan menyunggingkan senyum miring.

Iblis! Penjahat! Kau akan menggosok seluruh manaku sampai lenyap! Anak anjing itu menggeliat dan menyalak.

“Tidak, tidak! Jangan begitu! Diam yang manis waktu kubersihkan.”

Melody merasa hal yang paling pantas adalah membiarkan Lord Rudleberg yang nanti memberi hukuman pada anak nakal ini. Tapi sementara itu, si kecil ini sangat perlu dimandikan dengan benar setelah membuat kekacauan mengerikan di ranjang Luciana.

Inilah siksaan yang ditakuti Dark One.

Kekuatan Melody seolah bereaksi pada Dark One dengan sendirinya, secara naluriah. Perasaannya, keinginannya untuk membersihkan anak anjing kecil itu, mewujud sebagai tindakan benar-benar menggosok sihir gelapnya sampai terhapus lewat sentuhan tangannya. Apa yang bagi Melody hanyalah mandi biasa, bagi Dark One terasa seperti kulit dan inti keberadaannya dikikis habis.

Begitu Melody selesai, Dark One nyaris tak punya setetes mana pun tersisa. Ia tak sanggup melawan saat Melody mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

“Nah, begitu. Wah, lihat dirimu. Bulu kamu ternyata cantik sekali kalau nggak penuh kotoran.” Anak anjing itu ternyata sama sekali bukan abu-abu, melainkan perak yang lembut dan indah. “Tapi memang kotoran tidak terlalu cocok buatmu, sih. Sebentar, kapan kamu jadi sekurus...?”

Anak anjing itu terasa lebih ringan setelah mandi. Bahkan agak terlalu kurus. Aneh. Tadi bukannya dia tidak sekurus ini, ya?

Memang tidak.

Tapi berkat “kebersihan total” yang dilakukan seseorang, seluruh mana yang tadinya dipakai Dark One untuk menjaga vitalitas tubuh anak anjing itu ikut terkuras. Maka terdengarlah geraman lapar yang luar biasa dari perutnya, saat ia kembali berdiri di ambang pintu kematian yang sudah terlalu dikenalnya.

Perubahan mendadak itu membuat Melody terkejut dan panik. “Ya ampun, kamu nggak apa-apa?! Ah, kamu pasti kelaparan. T-tunggu sebentar, aku buatkan sesuatu!”

Melody membawa anak anjing itu ke ruang makan lalu meletakkannya di atas meja. Makhluk malang itu tampak sangat kurus, jadi pasti sudah lama sekali tak makan, yang berarti makanan padat mungkin akan terlalu berat. Sebagai gantinya, Melody mengambil susu kambing dari lemari penyimpanan sihir. Susu kambing itu lebih mirip susu anjing daripada susu sapi.

Saat Melody meletakkan sepiring kecil susu itu di hadapan si anak anjing, makhluk itu memaksa dirinya bangkit, menjulurkan lidah, lalu meminumnya. Seperti sihir, tenaga langsung kembali ke tubuhnya.

Lega melihat ia masih cukup kuat untuk makan, Melody kembali ke lemari dan mengambil sepotong sosis buatan rumah. Ia mencincangnya sekecil mungkin agar lebih mudah dikunyah dan dicerna. Ditambah sedikit susu kambing, jadilah semacam makanan anak anjing basah versi sederhana.

Anak anjing itu, kini berdiri dengan kaki yang masih goyah, langsung melahapnya. Melody nyaris bisa mendengar suara nom-nom tiap kali ia megap-megap di sela-sela makannya.

Ia terkikik. Mungkin dia masuk ke sini karena lapar. Harusnya lebih mudah cari makan kalau dia ke dapur. Kok bisa-bisanya dia malah sampai ke kamar Nona-ku?

Anak anjing itu, dan Dark One di dalamnya, terus melahap sosis itu.

Ini... “enak”. Sangat... “enak”. Aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini. Aku...

Sebagai kumpulan emosi negatif, Dark One tak pernah membutuhkan makanan, jadi sepanjang keberadaannya, ia belum pernah makan sekalipun. Sama seperti ia juga belum pernah merasakan kebahagiaan, sukacita, atau cinta. Atau emosi positif apa pun, sebenarnya. Saat anak anjing itu makan, rasa lega dan senangnya ikut mengalir ke dalam Dark One, yang sama sekali tidak mengerti kenapa ia tidak membenci sensasi aneh ini.

Kebingungannya membuatnya tak menyadari kilatan kecil yang menyala jauh di dalam dirinya. Segelnya bergetar, seperti nyala api yang tersapu angin berbahaya.

“Sudah kenyang?”

Anak anjing kecil itu bersendawa.

Ya, ia memang sudah kenyang.

Klon Melody kembali dari kamar Luciana. “Sudah selesai, Nyonya. Apa masih ada yang perlu saya... Ah. Rupanya perutnya sudah penuh.”

“Dia tadi ternyata kelaparan.”

“Pantas saja dia sampai membobol masuk, ya? Harusnya lebih mudah cari makan kalau dia ke dapur. Kok bisa-bisanya dia malah sampai ke kamar Nona-ku?”

Klon Melody mengulang pendapat Melody asli hampir persis.

“Bagaimanapun juga, aku lega kamar itu sempat dibereskan tepat waktu. Sekarang tinggal satu hal lagi.”

Kedua Melody itu sama-sama menoleh ke arah anak anjing itu. Ia bergoyang di atas kaki-kaki kecilnya seolah susah payah melawan kantuk.

“Nyonya, saya berhasil membersihkan kamarnya. Tidak ada kerusakan yang tersisa. Mungkin kita tidak perlu memberi tahu Lord soal ini. Toh apa gunanya?”

Melody terkekeh setuju. “Kurasa memang percuma. Anak kecil ini juga nggak akan paham kenapa dia dimarahi.”

Luar biasa sulit mengingat kembali amarahnya tadi saat melihat anak anjing itu kini telentang polos, memperlihatkan perutnya. Ia cuma berusaha bertahan hidup. Melody tak mungkin menghukumnya hanya karena itu.

Lagipula, yang lebih penting, anak anjing ini lucu sekali.

Tapi masalahnya tetap ada: lalu anak anjing ini harus bagaimana? Kalau ia bisa hidup sendiri, seharusnya ia tak perlu melompat lewat jendela hanya demi mencari makanan.

Sambil menggumam berpikir, klon itu mengajukan satu usul. “Nyonya, saya baru kepikiran sesuatu. Bayangkan, kalau Anda mau, Nona kita bermain-main dengan seekor anak anjing. Coba pikirkan. Betapa indahnya pemandangan itu?”

Bayangan itu langsung muncul jelas di benak Melody. Taman di hari yang cerah. Luciana melempar tongkat. Anak anjing itu mengejarnya. Lalu ia menjilat wajah Luciana saat digendong. Luciana tertawa gembira.

Melody bisa membayangkannya dengan begitu jelas. Energi liar nyonyanya pasti akan cocok sekali dengan makhluk nakal yang kini tertidur di atas meja. Tapi ada satu hal yang kurang dari gambaran ideal itu. Ya, seorang maid yang tersenyum kecut sambil menggeleng melihat tingkah bermain-main Luciana yang kurang anggun.

Nah, kedengarannya itu pekerjaan untuk Melody!

“Nona, Anda dan John (nama sementara) sudah benar-benar kotor. Ayo sekarang, sebentar lagi waktunya minum teh. Aku sudah menyiapkan air supaya kalian bisa bersih-bersih.”

“Kau memang memikirkan segalanya, Melody! Ayo, John (nama sementara)! Yang terakhir sampai ke teras berarti telur busuk!”

“Guk!”

“Ya ampun, kalian berdua. Benar-benar tidak anggun!”

Melody nyaris meleleh. “Aku suka sekali.”

“Aku tahu Anda pasti suka! Hebat memang kalau pikiran hebat berpikir sama, ya?”

Apalagi kalau pikiran hebat itu memang pikiran yang sama. Bagaimanapun, Melody sedang berbicara dengan klonnya sendiri.

Tetap saja, Melody kini sudah punya tujuan baru. Langkah Pertama untuk membuat fantasi itu jadi nyata: mengadopsi anjing ini.

“Aku akan cari sesuatu untuk dipakai jadi tempat tidurnya, Nyonya.”

“Tolong ya. Aku akan mengawasinya dulu.”

Melody memeluk anak anjing itu di tangannya saat klonnya pergi. Si kecil itu meringkuk padanya, tampak lebih puas daripada sebelumnya. Dan demi memastikan semuanya, Melody mulai menyanyikan lagu nina bobo.

Tak pernah kubayangkan pekerjaan pengasuh pertamaku justru untuk seekor anak anjing. Tapi kalau memang harus kulakukan, tentu akan kulakukan dengan benar.

Suara bak malaikatnya mengalun lembut di ruang makan itu. Ia merendahkan suaranya menjadi bisikan agar tak mengganggu tetangga, tapi justru itu membuat lagunya terdengar semakin menenangkan. Selena dulu menyanyikan lagu yang sama untuknya saat ia masih kecil. Dan setiap kali lagu itu dinyanyikan, mimpi indah pasti menunggunya.

Kelopak mata anak anjing itu makin turun, makin turun, sampai akhirnya benar-benar tertutup dan tubuhnya pun lemas. Tapi sesaat kemudian ia berkedip dan mulai bergerak lagi. Melody tak tahu kenapa, tapi ia tetap terus bernyanyi.

Lagi, matanya turun.

Lagi, matanya tertutup.

Dan lagi, ia terbangun dengan kaget.

Dia kenapa? Seolah-olah dia nggak mau tidur. Apa dia takut? Sepanjang hidupnya dia kelaparan dan ketakutan, bagaimanapun juga.

Hal-hal buruk sering datang saat kita paling tidak siap. Mungkin si anak anjing mengalami itu sendiri, dan sekarang ia terlalu trauma untuk bahkan tertidur.

Tapi dia juga nggak mungkin terus terjaga selamanya. Apalagi setelah semua yang dia alami. Dia harus istirahat. Yah, kurasa sihir bisa membantu.

Ruangan itu menjadi sunyi saat Melody melafalkan mantra tanpa suara.

Mimpi indah—Fa in Bel Sogno.

Lagu nina bobo baru ini terdengar selembut yang pertama, tapi kini disentuh kekuatan suci. Sasaran sebenarnya, entah Melody tahu atau tidak, adalah Dark One. Bahkan saat tersegel, ia bukan makhluk yang mudah ditenangkan, dan secara bawah sadar, naluri suci Melody memahami itu. Sihirnya membesar, lalu membesar lebih lagi saat menghadapi “ancaman” itu. Begitu besar mantranya sampai menelan seluruh ibu kota, hingga setiap jiwa di dalamnya tertidur.

Kota itu bermimpi.

Mimpi yang lembut dan menenangkan.

Ilusi yang manis.

Ah... keluh kegelapan itu. Kau benar-benar luar biasa, Saint. Jadi ini... kekuatanmu yang sebenarnya...

Melody menutup matanya juga, terlalu tenggelam dalam lagu pengantar tidurnya sampai tak menyadari cahaya perak pucat yang memancar dari anak anjing itu sesaat saja.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa