“PENGAWAL!” bentak sang raja.
Para penjaga berzirah langsung berlari maju, tapi Bjork Quichel sudah siap.
“Kurung—Prigione.”
Sebuah kubah gelap semi-transparan jatuh mengelilingi dirinya dan sang pangeran, sekaligus menjebak Anna-Marie, Maxwell, dan Luciana yang tak sadarkan diri di dalamnya. Christopher berdecak kesal. Tadinya ia berharap setidaknya Luciana akan terlempar ke luar jangkauan sihir itu. Gadis itu butuh pertolongan medis. Cepat.
“Nyala kobar—Bolide!”
Seorang penjaga yang berbakat sihir melepaskan bola api ke arah penghalang itu. Beberapa orang lain segera menyusul, tapi nyala api mereka meledak tanpa hasil di permukaan kubah, bahkan tak meninggalkan goresan sedikit pun.
Sang raja mulai panik. “Ya Tuhan. Sven!”
“Segera, Yang Mulia.” Sang archmage langsung bergerak. “Amukan badai, tombakilah langit—Aria Giavellotto!”
Para hadirin menjerit saat pusaran angin topan berputar mengelilingi sang archmage.
Sven Shaykrode adalah mage terhebat di seluruh kerajaan, dan inilah mantra terkuatnya. Satu tembakan dari badai superpadat itu saja bisa melubangi istana kerajaan dari ujung ke ujung.
Namun kubah itu tetap bertahan utuh.
“Ti-tidak mungkin!” Sven membelalak.
“Jadi kaulah sang archmage,” kata Bjork dengan nada malas. “Ancaman yang sepele.”
Setiap kata yang keluar dari bibirnya meneteskan niat jahat dan meracuni hati semua orang di sekitarnya dengan keputusasaan. Kalau bahkan archmage pun tak bisa menembus penghalang itu, harapan apa lagi yang tersisa? Apa mereka hanya bisa menonton saat pangeran mereka jatuh ke tangan kejahatan?
“Archmage Shaykrode!” raung Christopher. Wibawa dalam suaranya menarik Sven kembali pada kewarasannya. “Berkumpul lagi bersama para penjaga dan terus serang penghalang itu! Jangan berhenti! Lakukan apa pun untuk mengalihkan perhatiannya sementara aku menjatuhkan bajingan ini!”
Meski terjebak dalam bahaya, Yang Mulia tetap mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Bahwa bawahannya yang setia, bahkan seorang archmage, sampai ciut nyalinya saat berdiri aman di luar jangkauan si penjahat adalah aib di atas segala aib, sesuatu yang tak bisa diterima Sven.
“Para mage, ikut aku!” perintah Sven. “Fokuskan serangan kalian dan bebaskan Yang Mulia! Bersama-sama!”
Api mereka kembali menyala, dan semua orang pun melemparkan diri kembali ke dalam usaha itu. Mereka yang tidak membantu menyerang penghalang mengevakuasi para bangsawan ke tempat aman. Bjork memandangi keributan itu dengan acuh tak acuh.
Sekarang malah mengabaikanku, ya? Baiklah. Aku tak akan menolak hadiah begini.
Christopher berbalik.
“Anna-Marie!” teriaknya. “Sadarlah! Kau mau tempat ini jadi kuburanmu?!”
“Apa? T-tidak! Tentu tidak!” Anna-Marie, yang masih terguncang karena pengorbanan Luciana, akhirnya memaksa dirinya bangkit dari lantai. Pengetahuannya tentang lore dunia ini mungkin adalah keuntungan terbesar mereka saat ini.
Bjork kembali memandang Christopher dengan malas. “Sudah siap menerima nasibmu?”
“Maxwell,” kata sang pangeran, “kau tak bersenjata. Mundur dan dukung aku dengan sihir.”
“Mengerti,” jawab Maxwell. “Tapi bukankah Yang Mulia juga tidak bersenjata? Apa Anda punya rencana?”
Kurang lebih. Tapi orang ini jelas nggak akan membiarkanku meraih belatiku begitu saja.
Christopher melirik Anna-Marie.
Gadis itu mengangguk paham.
“Bersenjata atau tidak, tak ada bedanya,” gumam Bjork. “Kalian berjuang sia-sia.”
“Benar sekali. Tapi tahu tidak? Aku ini putra mahkota Theolas!”
Ia dan Anna-Marie sama-sama meletakkan tangan di dada, lalu bersama-sama melafalkan,
“Datanglah padaku—Draw!”
Dalam sekejap, sebuah belati perak sudah berada di tangan Christopher, dan tongkat perak muncul di tangan Anna-Marie.
“Sihir macam apa...?”
“Semoga itu membuatmu tidak bisa tidur malam,” ejek Christopher.
Mereka berdua telah merancang beberapa mantra untuk pertempuran yang suatu hari pasti akan datang melawan Dark One. Salah satu ciptaan itu adalah Draw, mantra yang masih jauh dari sempurna dan untuk saat ini hanya bisa memindahkan benda yang masih berada di tubuh mereka langsung ke tangan. Tapi dalam situasi yang tepat, mantra itu sangat berguna.
“Rahasia kerajaan... baiklah.” Bjork mengarahkan pedangnya ke sang pangeran. “Satu pisau tak akan menyelamatkanmu sekarang.”
Dia benar.
Christopher tak punya harapan menang dalam pertarungan ini, dan sebanyak apa pun keberanian pura-pura yang ia tunjukkan tak akan mengubah itu. Bjork menatapnya dengan percaya diri menjijikkan, dan itu membuat gigi Christopher gemeretak kesal. Sialan, si penjahat ini benar-benar sok yakin.
“Apa kau tidak dengar aku? Aku putra mahkota Theolas!” Christopher mengangkat bilahnya ke atas. “Kau pikir semua perak di seragamku ini cuma buat pajangan? Penciptaan—Alchemy!”
Perak yang ditenun ke dalam pakaian Christopher menggeliat keluar dari kainnya lalu melilit ujung belati itu. Perak itu mengeras, dan belati pendek itu memanjang menjadi pedang dari perak murni.
Untuk pertama kalinya, keterkejutan melintas di wajah Bjork.
Ia pun membuang semua kehati-hatian.
Tak peduli bahwa beberapa saat sebelumnya ia nyaris saja mati.
Lagipula, apa yang bisa dilakukan satu manusia tanpa sihir terhadapnya?
Dark One menuangkan sihir ke jendela, menghancurkannya dengan suara keras, lalu berjalan santai masuk ke ruangan. Begitu berada di dalam, ia langsung merusak segala yang ada. Secara telekinetik, tentu saja, mengingat ia tidak punya ibu jari yang bisa dipakai mencengkeram. Dark One tampak sangat menikmati melihat laci-laci beterbangan keluar dari lemari, kertas-kertas terhambur dari meja, buku-buku berjatuhan dari rak, dan pernak-pernik terlontar dari peti. Meski sama sekali tak ada hubungannya dengan pencariannya, ia juga sangat menyukai ranjang gadis itu dan dengan liar melompat-lompat, berguling-guling, dan pada umumnya menghancurkan seprai bersihnya.
Bisa dibilang, kegiatan itu cukup sukses.
Bukan karena ia berhasil menemukan petunjuk tentang identitas Saint yang baru, tentu saja, tapi karena semuanya ternyata cukup menyenangkan.
Tetap saja, Dark One butuh hasil. Ia menggeram frustrasi, tapi bunyi langkah tergesa-gesa yang menghantam menuju kamar itu memotong gerutunya. Ia menyeringai lagi. Si manusia menjijikkan itu datang.
Betapa menyenangkannya melihat mereka berdarah, tapi mungkin mereka tahu sesuatu tentang Saint itu. Tinggal hipnotis saja. Aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan bahkan tanpa perlu mengangkat satu jari pun.
Pintu pun terbuka lebar, dan seorang gadis menerobos masuk ke kamar. Pakaiannya mirip sesuatu yang oleh manusia disebut “maid”, setidaknya begitu yang diingat Dark One. Ia membiarkan gadis itu mendekat, tenggelam dalam kesombongannya sendiri, sekaligus di atas seprai yang kini berantakan.
Gadis itu terengah, satu tangannya menutup mulut saat tubuhnya mulai gemetar. Karena takut, tentu saja.
Setidaknya, itulah yang diasumsikan Dark One.
Ia menatap gadis itu dengan pongah dan percaya diri, tapi ketika tatapan mereka bertemu, justru dirinya yang mulai gemetar.
Jelas-jelas karena takut.
“Kau yang melakukan ini, ya? Dan tepat sebelum Nona-ku pulang juga,” kata gadis itu dengan suara bergetar, mata penuh air mata dan amarah. Aura amarahnya menghantam Dark One seperti letusan, geyser sungguhan dari sihir perak yang indah berkilau. “Apa yang sudah kau lakukaaaan?!”
Dewa sialan!
Dark One sudah sangat mengenal teror saat itu.
Bahkan bisa dibilang, ia sangat akrab dengannya.
Dari mana semua mana ini datang?! Tadi aku sama sekali tidak merasakannya! Bahkan secuil pun tidak! Apa dia Saint itu?!
Tak ada pertanyaan lagi.
Kekuatan sebesar itu hanya mungkin milik Saint legendaris.
Jadi kenapa Dark One tak merasakannya sebelumnya?
Kenapa dan bagaimana dan mengapa dan semua kata tanya lainnya, kenapa, ya Tuhan, kenapa ini terjadi dan kapan mimpi buruk ini akan berakhir?!
Dark One sedang benar-benar kacau.
Jawabannya sebenarnya sederhana.
Melody memiliki kekuatan luar biasa sekaligus kemampuan mengendalikannya. Ia menyimpan seluruh mananya dengan sangat rapi saat tidak digunakan. Dan ia melakukannya dengan begitu sempurna sampai-sampai bahkan Dark One pun tak bisa merasakan keberadaannya.
Kecuali, tentu saja, ada sesuatu yang membuatnya semurka ini sampai sihirnya meluap keluar dari kendali.
Seperti sekarang, misalnya.
“Kau tidak akan pergi ke mana-mana!”
Dark One merengek seperti anak anjing kecil.
Seekor maid liar yang sangat, sangat marah telah muncul.
Tak ada jalan kabur.