Heroine? Seijo? Iie, All Works Maid desu (Hoko)! Volume 1 Chapter 14 — Tak Ada Jalan Kabur

Setelah menyelesaikan formalitas dengan sang marquess dan para count, Lect dan Melody pun menyapa pasangan masing-masing: kakak perempuan Cloud, Christina, lalu istri Georic, Haumea, dan tentu saja Countess Marianna Rudleberg.

Yang terakhir itu tampaknya sama terkecohnya oleh penampilan Melody seperti suaminya, tapi mempertahankan sandiwara ini jelas bukan hal mudah.

“Manis sekali gadis kecil ini,” decak Christina. Ia memiliki rambut perak seperti adiknya. “Kenapa kau tidak memperkenalkannya pada kami lebih cepat, Lectias?”

“Kami... sebenarnya juga baru bertemu. Dan dia bukan keturunan bangsawan, jadi ini pertama kalinya dia berada di, yah, lingkungan seperti ini.” Lect mempertahankan wajah datarnya dengan sangat baik.

Cerita yang mereka susun mengatakan bahwa Cecilia lahir di wilayah barat kerajaan dan merupakan kerabat jauh Paula. Ia datang ke ibu kota untuk mengunjunginya, dan di situlah ia pertama kali bertemu Lect. Perkenalan mereka masih baru, itulah sebabnya tak ada perkenalan resmi, dan karena dia rakyat biasa, malam ini akan menjadi satu-satunya kesempatan baginya untuk mengintip dunia kalangan atas.

Christina terkikik mendengar penjelasan Lect. Di sampingnya, Haumea bergeser sedikit di kursinya.

“Ya ampun. Kalau memang gadis ini yang akhirnya kau pilih setelah sekian lama, berarti dia pasti sangat berarti bagimu. Sayang sekali ya, kita tidak akan bertemu dengannya lagi, bukan, Lady Christina?”

“Memang sayang sekali, Lady Haumea. Soalnya satu-satunya cara dia bisa datang ke pesta berikutnya adalah kalau dia entah bagaimana masuk ke kalangan bangsawan. Misalnya... dengan menikah ke dalamnya, mungkin?”

“Lho, kenapa aku tidak kepikiran itu, ya?”

Para wanita bangsawan itu terkikik dengan gaya halus dan berkelas yang pasti sudah mereka latih bertahun-tahun. Lect menelan desahan. Ini memang cuma gurauan ringan. Tentu saja mereka akan meminta maaf kalau ia benar-benar tersinggung. Tentu saja.

Inilah tepatnya kenapa aku tidak ingin membawa siapa pun, gerutunya dalam hati.

Tipe bangsawan seperti mereka sangat berbahaya bagi pria sepertinya.

Tipe yang suka bergosip, bercanda, dan menggoda.

Luar biasa, pikirnya, bagaimana mungkin wanita-wanita yang begitu berpengaruh, anggun, dan berkuasa bisa juga begitu usil dan menyebalkan. Mereka benar-benar menikmati penderitaannya.

Lect melirik Melody.

Ia masih tersenyum, setenang dan semalaikat biasanya.

Sifat yang sangat mengagumkan.

Padahal di balik topeng itu, Melody sedang berteriak histeris dalam hati.

Dia melotot ke sini terusrrr!

Sebenarnya, Melody nyaris tak memperhatikan celotehan para bangsawati itu. Fokusnya ada di tempat lain. Jauh di seberang aula.

Di tempat Luciana berdiri.

Menatap.

Keras.

Melody baru menyadarinya setelah ia dan Lect berpamitan dari para bangsawan pria tadi, tapi begitu ia menoleh ke samping, di sanalah gadis itu.

Menatap.

Melody menjerit dalam keheningan yang menyiksa. Bahkan hantu pun tak akan seseram ini.

Di-dia tahu, ya? Tidak. Mana mungkin? Dia tidak tahu. Dia tidak tahu...

Dia tahu.

Melody tahu bahwa Luciana tahu.

Ia tetap berbohong pada dirinya sendiri, karena hanya itulah satu-satunya hal yang masih membuat dirinya tetap waras.

“Jadi kau tahu dari pandangan pertama kalau dia memang orangnya?” desak Christina.

“B-bukan pandangan pertama juga, sih,” kata Lect.

“Ah, sekarang, Lady Christina,” sela Haumea, “aku yakin kisahnya lebih panjang dari itu. Dia bertemu dengannya lalu langsung terpikat, tapi kemudian dia pergi menemuinya lagi dan lagi, setiap hari, sampai akhirnya sadar dia tak bisa hidup tanpanya. Jauh lebih romantis, bukan begitu?”

“Yang Mulia sekalian, saya—”

“Dasar kau ini, ternyata lihai juga,” kata para “ayam betina” itu serempak.

Mereka terlalu kuat untuknya.

Hati dan pikiran Lect yang lugas jelas tak mungkin menang melawan kelicikan para wanita yang terlatih dalam seni politik istana. Sehalus atau setenang apa pun jawabannya, mereka akan memelintirnya sampai ia dipaksa memberi lebih banyak. Belum pernah seumur hidup Lect menghadapi lawan seberbahaya ini.

Marianna, di sisi lain, justru merasa canggung di situasi seperti itu. Tekanan sosial membuatnya merasa ia harus ikut menyumbang sesuatu pada percakapan.

Tapi bagaimana caranya?

Akhirnya ia memutuskan mengatakan hal yang paling buruk dari semua kemungkinan.

Setidaknya bagi Melody.

“N-ngomong-ngomong,” kata Marianna, “Cecilia, maukah kau bertemu dengan pu—”

Waktu melambat.

Otak jenius Melody langsung bergerak.

Semua piston bekerja. Semua neuron menyala.

Kata berikutnya yang akan diucapkan wanita itu adalah putriku.

Itu tidak boleh terjadi.

Bertatap muka langsung dengan Luciana adalah skenario terburuk mutlak. Dari seberang aula, Melody sempat menangkap kilatan di mata Luciana, seolah-olah gadis itu hanya menunggu ibunya menyelesaikan kalimat itu dan memberinya alasan untuk menerkam.

Melody harus melakukan sesuatu.

Apa saja!

“Lect!” serunya.

Dan itu sama sekali tidak terdengar seperti malaikat.

Semua orang menatapnya dalam keheningan penuh keterkejutan, termasuk Marianna. Melody meraih lengan baju pasangannya lalu memaksakan langkah berikutnya.

“M-maukah... kau berdansa denganku?”

Aula dansa sedang sunyi. Tarian sebelumnya baru saja selesai, dan lagu berikutnya akan segera dimulai.

Itu satu-satunya harapan pelariannya.

Namun, dalam momen ini Melody melakukan sebuah faux pas.

Seharusnya pihak pria yang mengajak wanita berdansa, bukan sebaliknya.

Meski begitu, caranya merona, lalu menggenggam malu-malu ujung jas Lect...

Singkatnya, itu sangat manis.

Dan Lect tidak kebal terhadapnya.

Gadis itu sudah melilitnya erat di jari-jarinya.

Ia menuntun Melody ke lantai dansa, dengan jantung berdetak semakin cepat dan keras.

Christina tertawa terbahak saat lutut Lect nyaris goyah. “Kurasa kita berhasil merusak anak malang itu. Tapi mereka lucu sekali, ya. Gadis itu lumayan berani juga.”

Haumea menyeringai lalu mengangguk.

Marianna melakukan hal yang sama. “Apa cuma aku, atau wajah kalian juga terasa panas? Astaga, ini jadi mengingatkanku pada masa dulu.”

Itu membuat para “ayam betina” itu kembali berkotek.

“Lady Marianna,” Christina terengah, “Anda pernah... melakukan itu juga?”

“Oh, tentu saja. Beberapa kali waktu kami masih jadi murid. Suamiku tidak akan pernah mengajakku sendiri. Selalu terlalu sibuk mengobrol dengan teman-temannya atau entah apa.”

“Ya ampun!” Haumea menutup pipinya yang memerah dengan kedua tangan.

Christina terkikik. “Lady Haumea, ini cuma perasaanku, atau ada tambang emas di sini?”

“Wah, saya justru memikirkan hal yang sama, Lady Christina. Kebetulan sekali, sumber terakhirku baru saja hilang, jadi saya memang sedang mencari yang baru!” Sang marchioness tertawa dengan anggun sekaligus mengerikan.

“Maaf, saya tidak begitu mengerti,” kata Marianna, dengan bodohnya mengabaikan nalurinya untuk kabur.

Ia akan menyesali itu ketika dua wanita lain itu menyeringai seperti pemangsa.

Dengan kompak, mereka menjawab, “Malam ini masih panjang.”

Pada saat pekerjaan kejam dan berdarah mereka selesai, tak akan ada sebutir batu bara pun yang tersisa.

Sementara itu, di sisi Luciana...

Melodyyy...!

Rasa jahilnya perlahan memanas menjadi kemarahan.

Sudah jelas sekali bahwa Melody sedang menghindarinya.

“Kenapa kau cemberut begitu, Luciana?” tanya Beatrice.

“Bukan apa-apa,” jawab Luciana melalui gigi yang terkatup.

“Itu sama sekali nggak kelihatan seperti ‘bukan apa-apa’,” kata Milliaria.

Amarah Luciana sudah bukan rahasia lagi, tapi kedua temannya sama sekali tak tahu apa penyebabnya. Luciana sendiri menolak memalingkan pandangannya dari si pendatang baru yang tampak seperti malaikat itu.

Apa ia cemburu karena gadis itu lebih cantik darinya?

Itu bukan gaya Luciana.

“Kalau kau bilang begitu,” kata Beatrice. “Ngomong-ngomong, kau butuh pasangan untuk nanti?”

“Pasangan?” kata Luciana. “Pasangan untuk apa?”

“Kau nggak tahu? Itu tradisi. Mereka melakukannya di setiap Spring Ball,” kata Milliaria. Ia menunjukkan jadwal acara pada Luciana.

Luciana berkedip. “Tunggu, serius?”

“Kurasa dia benar-benar nggak tahu,” kata Beatrice. “Lumayan menarik juga, sih. Jadi, kau mau ikut?”

“Oh, tentu,” kata Luciana dengan senyum tajam. “Tentu saja aku ikut.”

“Kalau begitu kau butuh pa—”

“Lord Maxwell!” seru Luciana mendadak.

Ia langsung berjalan cepat ke arah pria itu.

Maxwell mundur dari percakapan yang sedang dilakukannya dengan beberapa pria lain lalu memiringkan kepala. “Ya?”

“Ayo berdansa denganku!”

Ajakan Melody tadi memang faux pas.

Tapi “ajakan” Luciana ini dua kali lebih parah karena sama sekali tanpa kerendahan hati.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa wanita sama sekali tidak seharusnya mencari sendiri pasangan dansa mereka.

Karena itulah usulan seberani itu membuat semua orang yang mendengarnya terperangah, tapi tak seorang pun berani mengajukan keberatan pada gadis cantik yang begitu percaya diri ini.

“Aku... Hah?!”

Sebelum Maxwell sempat bereaksi, Luciana sudah menangkap tangannya dan menyeretnya ke lantai dansa, meninggalkan para penonton yang terpaku dalam bisu.

“J-jadi, um, Beatrice?” kata salah satu pendamping mereka. “Maukah kau, um...”

“Tidak. Tidak apa-apa. Apa pun yang sedang dilakukan Luciana, kurasa kita sebaiknya jangan menghalanginya. Tapi ini pasti bakal jadi tontonan yang bagus.”

Milliaria melirik temannya. “Biasanya memang begitu kalau soal dia, ya?”

Mereka saling tersenyum, lalu kembali mengarahkan pandangan ke lantai dansa, tak sabar ingin melihat setiap detik drama yang akan terjadi.

Lect dan Melody kini berdiri berhadapan.

Satu tangan Lect merangkul pinggang Melody, sementara tangan lainnya menggenggam tangan gadis itu. Mereka berdiri cukup dekat untuk mendengar napas satu sama lain, dengan jantung yang berdetak begitu keras sampai hampir terasa membentur dada masing-masing.

Lect sedang berantakan.

Tapi siapa yang bisa menyalahkannya?

Ia akan berdansa dengan gadis yang ia sukai.

Gadis yang aku... Apa aku... punya perasaan padanya?

Kesadaran itu menghantamnya seperti kilat.

Mendadak dan mengejutkan.

Lectias Froude jatuh cinta pada Melody Wave.

Tak ada keraguan lagi.

Kecuali ternyata ada.

Usia dua puluh satu memang cukup terlambat untuk cinta pertama, tapi memang itulah kartu yang dibagikan hidup padanya. Ia tak mengerti perasaan ini, karena belum pernah mengalaminya sebelumnya, tapi cinta terasa sebagai jawaban yang paling masuk akal.

Tanpa tahu apa pun soal gejolak batin itu, Melody justru melemas lega karena berhasil lolos dari situasi tadi tepat pada detik terakhir.

Nona-ku sekarang tidak bisa menyentuhku. Kami tinggal menari satu lagu, lalu diam-diam pergi.

Mereka bisa membaur dengan kerumunan dan kabur dengan cepat.

Luciana tak akan tahu apa-apa.

Sementara itu, siksaan Lect masih berlanjut.

Kaki yang mana dulu, ya? Astaga, aku nggak ingat. Aku nggak bisa mikir.

“Lect, kau harus lebih rileks. Gugup, ya?” kata Melody, menangkap ketegangan tubuh pria itu, meski tidak tahu penyebabnya, berkat jarak mereka yang begitu dekat.

“Aku, um...”

“Bukan penari yang terlalu bagus? Kurasa itu menjelaskan kenapa kau jarang datang ke pesta.” Melody terkekeh, dan jantung Lect rasanya nyaris pecah. “Santai saja. Tinggal ikuti iramanya. Biarkan tubuhmu bergerak sendiri dan nikmati saja.”

Itu jelas bukan nasihat yang ia berikan pada nyonyanya saat “pelajaran” Luciana dulu, tapi Luciana bukan orang yang sedang dihadapinya sekarang. Melody menjulurkan lidah sedikit dan memberi senyum konyol tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Kecemasan Lect langsung lenyap.

Sekarang ia benar-benar yakin.

Ia tahu perasaan ini apa.

Dugaannya benar.

Orkestra mulai memainkan lagu.

Dan malaikat itu bergerak.

Lect menangkap ritmenya dengan cepat dan memimpin dengan cukup baik begitu ia kembali menemukan pijakan. Tubuhnya yang terlatih dan kondisi fisiknya sangat mendukung gerakan-gerakan yang dituntut oleh dansa ballroom. Setiap putaran dan langkah yang diambil Melody, ia selalu mengikuti, bukan hanya menjaga irama, tapi juga mengangkat kualitas tarian mereka.

Dia bisa berdansa! Oke, mungkin aku juga bisa sedikit bersenang-senang!

Melody mulai menambah kecepatan.

Awalnya satu langkah kecil di sini, lalu satu lagi di sana, lalu satu putaran ke arah lain, setiap improvisasi menjadi ujian sejauh mana ia bisa “nakal” sedikit.

Lect mengimbanginya langkah demi langkah.

Dan Melody pun menjadi semakin berani.

Percikan pun bertebaran.

Tubuh mereka bergerak seperti satu kesatuan, sepenuhnya selaras satu sama lain. Tak ada langkah yang terbuang. Tak ada gerakan tanpa tujuan. Seolah seluruh aula berputar mengelilingi mereka saat mereka memukau para penonton dengan gerakan-gerakan halus namun mencolok. Lect mengangkat Melody ke atas, dan gadis itu berputar di udara.

Di saat itu, semua orang tahu.

Aula dansa itu milik mereka.

Wilayah surga.

Karena di sana, ada seorang malaikat tengah terbang di langit, dengan sayapnya yang berkibar di belakang.

Namun perhatian itu tidak hanya miliknya.

Putri Peri ada di dekat sana.

Sementara itu, dua tamu lain tetap sepenuhnya tidak sadar akan drama yang sedang berlangsung di aula.

Sampai pada titik tertentu, orang bisa menganggapnya sebagai bakat tersendiri.

“Apa dansa-dansa ini belum selesai juga?” keluh Anna-Marie. “Aku belum sempat bicara sepatah kata pun dengan Luciana.”

“Menangislah di sungai sana,” balas Christopher. “Seharusnya aku sudah sempat berdansa dengannya tiga kali sekarang. Jangan salah paham, bukannya aku nggak menikmati perhatian dari semua gadis manis tadi, tapi hati menginginkan apa yang diinginkannya.”

“Aku maunya kau diam. Tahan nafsumu itu, bro.”

“Kenapa kau bikin jadi aneh sih?! Aku cowok! Aku pengin berdansa dengan gadis-gadis manis! Memang tugasku berdansa dengan gadis-gadis manis!”

“Jadi waktu kau ngikutin gadis itu buat bantu dia ‘bedakan hidungnya’, itu juga bagian dari tugasmu ya? Oh, kasihan sekali Yang Mulia. Sana terjun ke danau.”

“Bisa nggak sih jangan?! Aku nggak perlu membuktikan apa-apa padamu!”

Akhirnya terbebas dari belenggu ritual sosial wajib, pasangan kerajaan itu pun meminta izin menuju ruang istirahat, lalu segera membelenggu diri mereka sendiri lagi dengan rantai buatan mereka sendiri.

Tampaknya ada beberapa rivalitas yang memang bisa melampaui satu kehidupan.

Mereka akan cukup lama berada di luar aula.

Sangat lama.

Lagu pun berakhir, dan keheningan memenuhi aula, sebelum sesaat kemudian pecah oleh tepuk tangan.

Lect dan Melody saling tersenyum, bahu mereka naik turun, lalu membungkuk hormat.

“Terima kasih untuk tariannya, Lect. Indah sekali.”

“Ya, memang.” Keringat mengalir di sisi wajah pria itu.

Ekspresinya membuat Melody sedikit tertegun.

Aku belum pernah melihat dia tersenyum seperti ini sebelumnya.

Ia tak tahu harus memaknainya bagaimana, selain bahwa melihat temannya bahagia membuat dirinya ikut bahagia.

Begitu euforia dari tarian fantastis mereka mulai turun dan realitas dingin kembali menyergap, Melody pun teringat di mana ia berada dan betapa pentingnya ia segera tidak berada di sini.

“Lect, kita—”

“Para tuan dan nyonya!” seseorang berseru.

Melody tersentak. A-astaga, ini apalagi?

“Merupakan harapan terdalam keluarga kerajaan bahwa malam ini telah memperlakukan Anda semua dengan baik, bahwa pria dan wanita, sahabat maupun kekasih, telah menjalin dan memperkuat kebersamaan mereka lewat seni tari. Kini saatnya memperluas hadiah itu melampaui dinding aula ini. Para murid, kalianlah bintang malam ini, dan suatu hari, saat kalian berjalan melalui aula Royal Academy, kalian akan menerangi langit. Namun kalian tidak akan melakukannya sendirian. Kalian akan bersinar di tengah rekan-rekan kalian, rekan-rekan yang kalian temui justru malam ini. Karena itu, biarkan kebersamaan tumbuh melampaui batas-batas kepantasan. Hanya untuk satu lagu, biarlah para nyonya menjadi tuan, dan para tuan menjadi nyonya. Saya jamin, keduanya akan menghargai pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman semacam itu. Sekarang, mari dimulai dansa sesama jenis tahunan Spring Ball!”

Sesama apa? Sekarang?! Sejak kapan ada begini?!

Pasangan pria-pria dan pasangan wanita-wanita mulai berkumpul, secara efektif menutup jalur kabur Melody.

“Aku tadi sempat bertanya-tanya apa kita kelewatan bagian ini,” kata Lect.

“Jadi kau tahu ini akan terjadi?!”

“Ini tradisi. Mereka melakukannya setiap tahun.”

“S-setiap tahun?! Ya baguslah buat mereka, tapi kurasa ini waktunya kita—”

Melody memekik kecil. Seseorang baru saja menangkap lengannya.

Ia menatap tangan yang mencengkeramnya, lalu mengikuti lengan itu ke atas...

dan langsung pucat begitu mengenali siapa penangkapnya.

“Mau berdansa? Mel... Maaf. Nona Cecilia?”

Rambut pirang terang. Mata aquamarine.

Di sanalah dia.

Putri Peri, tersenyum cemerlang dalam segala pesonanya.

Melody menjerit dalam hati.

Aku nggak suka senyum itu! Aku sama sekali nggak suka senyum itu, Nona!

Malaikat dan peri pun lenyap ke dalam kerumunan.

Kembali ke Anna-Marie dan Christopher...

“Cerita game seharusnya berubah tergantung heroine memilih siapa buat dansa sesama jenis itu, kan?”

“Betul,” jelas Anna-Marie. “Kalau dia berdansa dengan salah satu teman yang ia buat di upacara pembukaan, nilai afeksi mereka naik, dan nanti dia akan mendapat lebih banyak dukungan dari mereka. Kalau dia berdansa dengan villainess, yaitu diriku tersayang, nilai rivalitasnya turun, jadi aku bakal jadi rintangan yang lebih mudah nanti. Pokoknya sangat terbuka arahnya.”

Christopher mengernyit. “Dan kalau aku tidak salah ingat, dansa itu cukup populer di kalangan tipe orang tertentu.”

“Sebagian cowok punya CG bareng, ya tahu sendiri, ilustrasi still gitu, jadi ya mau bagaimana lagi? Beberapa fanfic-nya juga lumayan pedas. Bukan seleraku sih, tapi penggemar pasangan Christopher-Maxwell itu lumayan—”

“Berhenti! Berhenti sekarang juga!” Sang pangeran memegangi kepalanya sambil mengerang. Sebenarnya ia sangat nyaman dengan orientasi dirinya sendiri, dan sama sekali tidak menghargai insinuasi macam itu soal sahabatnya.

“Meski begitu, aku sih pada dasarnya oke dengan apa pun selama ada Lect. Hei, kalian mungkin bakal jadi pasangan yang imut juga.”

“Aku bilang berhentiiii!”

Anna-Marie memang tak bisa menahan diri untuk terus memutar pisaunya sedikit lagi. Bagaimanapun, ia harus menikmati kesenangan itu selagi bisa.

Itu terjadi setelah dansa ini, ingatnya pada diri sendiri. Dan tanpa heroine, sangat mungkin ada korban. Kita harus tetap waspada.

Putri marquess itu kembali ke pesta dengan wajah tegar dan hati mantap, bahkan sempat melompat kecil sepanjang jalan. Ia tahu bahaya sedang mengintai, tapi juga ada kemungkinan untuk akhirnya berdansa dengan Luciana. Ia memilih memikirkan kemungkinan kedua itu, lalu kembali ke aula tanpa sadar bahwa kesempatan itu sebenarnya sudah ia sia-siakan.

Sampai titik tertentu, duo kikuk ini memang pantas dikasihani.

Kembali di pesta, sang maid dan nyonyanya bersiap untuk berdansa.

Takdir menunggu dengan sabar di depan alat tenunnya, benang-benang kusut telah siap.

Tak ada program, tak ada preseden, yang menentukan bagaimana ia akan menenun kali ini.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa