Heroine? Seijo? Iie, All Works Maid desu (Hoko)! Volume 1 Chapter 13 — Seorang Malaikat Turun

Wakil Kanselir Cloud Leginbarth, atasan langsungnya yaitu Lord Chancellor Marquess Georic Reclentos, serta bawahan barunya, Count Hughes Rudleberg, berdiri di tepi lantai dansa sambil mengobrol dengan cukup akrab.

Ini adalah interaksi tulus pertama Cloud dengan Hughes, dan kesannya cukup baik. Pria itu paham pekerjaannya, dan ia menjalankannya dengan bagus. Memiliki rekan kerja yang baik dan cakap seperti itu benar-benar melegakan.

Tatapannya lalu melayang ke arah putri Hughes, Luciana. Gadis itu tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya dengan cara yang mencengkeram hatinya. Kalau putrinya ada di sini sekarang, apakah mereka juga akan tersenyum seperti itu bersamanya? Apakah mereka akan berteman dengannya?

Cloud menghela napas.

Seandainya saja ayahnya dulu menerima Selena, cinta sejatinya, ia tak perlu menunggu lima tahun lamanya sampai mewarisi gelar untuk bisa mencari putrinya. Mungkin sekarang gadis itu sudah ada di sini bersamanya. Mungkin mereka bahkan sempat berdansa. Hatinya bergetar diterpa duka segar yang dibangkitkan oleh bayangan itu, tapi harapan bahwa suatu hari nanti ia masih bisa bertemu putri mereka menjadi hiburan kecil baginya.

Betapa kejamnya takdir, ratapnya dalam hati. Aku hanya berdoa semoga dia cukup berbelas kasihan untuk membiarkanku melihat wajahmu, walau cuma sekali.

Sang count menatap ke atas, ke kehampaan. Terhimpit beban tugas, ia bahkan belum sempat mengunjungi makam Selena. Tapi sebanyak apa pun tanggung jawab yang menimpanya, tak ada yang bisa benar-benar mengalihkan rasa nyeri dari penyesalannya.

“Ada yang salah?”

Georic menarik Cloud keluar dari pusaran pikirannya.

Cloud pun menenangkan diri lalu menjawab, “Aku cuma sedang bertanya-tanya Lectias ada di mana.”

“Ya, aku juga memikirkan hal itu.” Georic menyeringai. “Sepertinya kambing hitammu datang terlambat.”

Cloud terkekeh.

“Kurasa ada ceritanya, ya?” tanya Hughes, dan Cloud pun segera menjelaskan singkat. “Begitu rupanya. Memang tadi sebelum melarikan diri, kau terlihat cukup populer di kalangan para wanita. Jadi Sir Lectias itu seharusnya jadi tamengmu dari mereka.”

“Lord Leginbarth menjual bawahannya pada para wanita buas,” ujar Georic dengan gaya teatrikal. “Perlu kuberitahu pada para penjaja berita?”

“Aku tak akan memaksanya datang kalau dia lebih rajin hadir di acara-acara seperti ini,” bantah Cloud. “Lagipula aku sudah cukup baik dengan menyarankannya membawa seseorang. Setidaknya untuk melindungi dirinya sendiri.”

“Permintaan yang lumayan berat untuk waktu sesingkat itu. Kau ini pria yang kejam.” Georic melirik ke seberang aula. “Nah, muncul juga.”

Cloud menoleh tepat saat pintu paling kecil dari tiga pintu itu terbuka.

Keheningan menyebar keluar dari sana seperti kabut pekat yang menyapu ruangan.

Tinggi badan dan rambut merah Lect membuatnya mudah dikenali, tapi baru ketika orang-orang mulai menyingkir, Cloud akhirnya sempat melihat siapa pendampingnya.

Dia adalah malaikat.

Tak ada yang mengatakannya.

Tak perlu.

Pemahaman diam-diam merambat di seluruh aula: seorang malaikat telah turun ke hadapan mereka.

Rambutnya berkilau lebih terang daripada emas. Gelombangnya yang lembut berpendar seperti ambar yang ditenun ke dalam sutra berkilau. Matanya menyala merah seperti api dan mendidih seperti darah, sama menghipnosisnya dengan menakutkannya. Ia mengenakan gaun seputih salju yang paling murni. Mantel renda berbordir perak mengalir dan berkibar di belakangnya seperti sayap serafim.

Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan kecantikan seperti itu. Ia memikat, tapi bukan menggoda. Anggun, tapi bukan lincah seperti peri. Ia memesona dan menggugah takjub, seperti lukisan indah yang diberi wujud manusia.

Georic dan Hughes hanya bisa menatap tanpa kata saat gadis itu mendekat. Cloud juga tak mampu bicara, meski bukan karena tak punya kata-kata.

Selena...?

Sang count tak bisa menahan diri untuk tidak melihat bayangan cinta yang telah hilang itu pada malaikat yang tengah menghiasi aula. Namun ia tahu itu tak mungkin. Gadis ini sama sekali tidak mirip Selena. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Cloud merasa bahwa malaikat ini adalah Selena, turun dari surga untuk bertemu kembali dengannya.

Lect dan gadis itu berhenti di hadapan mereka.

“Mohon maaf atas keterlambatanku, Tuan.”

Mereka membungkuk hormat.

Para bangsawan itu mendapatkan kembali sedikit ketenangannya berkat gestur itu.

“B-baik. Selamat malam,” kata Hughes.

Cloud sendiri masih butuh sesaat lagi untuk menenangkan diri.

Georic mengisi keheningan untuknya. “Kurasa inilah alasan keterlambatanmu. Dan alasan yang luar biasa juga. Mau memperkenalkannya pada kami?”

Melody memberi hormat. “Merupakan kehormatan bagi saya berkenalan dengan para Tuan. Nama saya Mel... Cecilia.”

Jantung Cloud berhenti berdetak.

Cecilia.

Namanya Cecilia.

Nama yang dulu ia pilih untuk putrinya, nama yang berniat ia berikan saat akhirnya mereka bisa bertemu.

Takdir memang benar-benar nyonya yang kejam.

Beberapa waktu sebelumnya...

“Sudah!”

Saat kereta terus melaju menuju istana, Melody memeriksa rambutnya yang kini berwarna ambar dan mengangguk puas.

Tak seorang pun seharusnya akan mengenaliku begini. Nona Luciana bahkan tidak menyangka aku akan datang, jadi aku yakin penyamaran ini akan berhasil. Syukurlah dulu aku sempat berlatih melakukan ini saat meninggalkan rumah.

“Barusan itu sihir?” tanya Lect. “Aku belum pernah melihat mantra seperti itu.”

Dalam sekejap, rambut Melody berubah seemas warna mata Lect, dan matanya berubah semerah rambut pria itu. Lect menatapnya, terpukau. Warna putih gaunnya berpadu sangat indah dengan warna alaminya, membuatnya tampak seperti malaikat lembut. Tapi sekarang, gadis itu memancarkan aura ilahi, seperti serafim yang agung dan menggentarkan.

Apa pun bentuknya, menurut Lect, tetap saja dia malaikat.

“Kurasa ini menyelesaikan masalah kita,” kata Melody.

“Kau benar-benar tak bisa dikenali sekarang, bahkan kalau sebelumnya mungkin masih bisa. Nona-mu tak akan curiga sedikit pun.”

“Meski begitu, tolong jangan jadikan ini kebiasaan. Lain kali, katakan saja dengan kata-kata, Lect.”

“Ya. Tentu. Maaf.” Ia menundukkan kepala dengan patuh. Melody menerima permintaan maaf itu.

Tak lama kemudian mereka tiba di istana kerajaan. Melody membiarkan Lect menggandengnya menuju aula dansa, sambil menempatkan dirinya dalam peran seorang pendamping. Memang tak sepenuhnya sama dengan menjadi maid, tapi cukup dekat untuk menenangkan dirinya dan mengembalikannya ke zona nyamannya.

Namun, begitu mereka turun dari kereta, semua tatapan yang mengarah pada mereka langsung merusak kenyamanan itu.

Ja-jangan-jangan para penjaga sudah tahu kalau aku sebenarnya maid? Apa aku kelihatan terlalu anggun? Sikapku nggak terlalu kayak maid, kan?!

Untungnya tidak, karena maid biasanya juga tidak mengenakan gaun putih bak malaikat. Paranoia Melody, sebenarnya, cuma berakar pada rasa percaya diri yang agak berlebihan.

Pintu paling kecil dari tiga pintu itu pun terbuka, dan mereka masuk ke aula dansa.

Yang menyambut mereka adalah ruangan mewah besar yang dihiasi dengan megah. Lampu-lampu dan lentera bercahaya sihir tergantung di sana-sini. Para tamu menari dan mengobrol, memenuhi ruangan dengan dengung energi yang hidup. Melody entah bagaimana masih ingat untuk tersenyum, tapi sarafnya berderak tegang saat ia melangkah ke jantung masyarakat bangsawan.

Untungnya, hanya sedikit orang yang benar-benar memperhatikan orang-orang yang masuk lewat pintu kecil seperti yang mereka gunakan. Tapi mereka yang memperhatikan... terus menatap.

Tercengang, tentu saja, pikir Lect. Ia tahu lebih baik daripada siapa pun betapa cantiknya pendampingnya malam itu. Ia teringat betapa dirinya dulu juga nyaris kehilangan akal saat pertama kali melihat gadis itu. Karya seni terbaik memang selalu meninggalkan kesan.

Orang-orang memberi jalan saat Lect dan Melody lewat, seolah-olah dalam penghormatan. Lect belum pernah melihat hal seperti itu. Rasanya seperti ia baru melangkah masuk ke dalam dongeng atau legenda yang terlalu dilebih-lebihkan.

Duo yang tak sesuai zaman tertentu mungkin akan menyebutnya sebagai hak istimewa protagonis.

Semua ini cuma gara-gara warna rambut dan mata diubah sedikit, gumam Lect dalam hati. Aku harus dua kali lebih waspada terhadap mata-mata kalau para mage bisa mengubah penampilan seenaknya. Tunggu...

“Lect,” kata Melody, “itu mereka?”

“Hm? Oh, ya.” Beberapa kepingan dalam pikirannya hampir saja tersusun dengan benar sebelum Melody bicara. Sayangnya, hampir saja.

Mereka mendekati tiga pria: tuan Lect, Count Cloud Leginbarth, Lord Chancellor Georic Reclentos, dan seorang pria pirang yang tidak dikenali Lect. Melody tentu mengenali pria terakhir itu, tapi Lect tak tahu apa-apa soal itu, sama seperti ia tak tahu kepanikan yang sedang mulai berkumpul dalam diri gadis di sampingnya.

“Mohon maaf atas keterlambatanku, Tuan.”

“B-baik. Selamat malam.”

Lect melirik tuannya. Jangan-jangan tuannya juga sampai terpana pada pendampingnya?

Georic mengakhiri keheningan. “Kurasa inilah alasan keterlambatanmu. Dan alasan yang luar biasa juga. Mau memperkenalkannya pada kami?”

Melody memberi hormat. “Merupakan kehormatan bagi saya berkenalan dengan para Tuan. Nama saya Mel...” Ia berhenti tepat pada waktunya, sambil menendang dirinya sendiri dalam hati. “Cecilia.”

Itu nama pertama yang muncul di kepalanya. Sebentar lagi sepertinya ia benar-benar perlu membuat daftar semua nama samarannya.

“Nama yang indah untuk wanita yang indah. Aku Marquess Georic Reclentos.”

Pria pirang itu memberi senyum sopan. “Count Hughes Rudleberg, Nona.”

Melody sedikit lega karena jelas-jelas tuannya sendiri tidak mengenalinya. Ia membungkuk hormat, lalu menunggu pria berambut perak itu memperkenalkan diri... tapi pria itu tetap diam.

“Sudah lupa sopan santunmu, Cloud?” sindir sang marquess.

“O-oh. Maafkan aku. C-Count Cloud Leginbarth... Nona.”

“Senang berkenalan dengan Anda, Tuan,” jawab Melody. “Merupakan kehormatan bagi saya.”

“S-sama-sama.”

Lect dan Georic memandang Cloud. Ada apa dengan pria itu? Jangan-jangan ia benar-benar terpana pada kecantikan gadis ini?

Melody sendiri mulai merasakan kecurigaan samar di belakang kepalanya.

Cloud Leginbarth... Aku pernah dengar nama itu?

Ia memang pernah.

Itu adalah nama ayahnya, nama yang ditinggalkan ibunya dalam wasiat terakhir.

Sayangnya, ingatan Melody sangat selektif, dan yang dipilihnya untuk diingat adalah maid, bukan keluarga.

Ah, benar! Dia Wakil Kanselir! Atasan Lord Rudleberg di Kanselari! Haaah, satu misteri terpecahkan.

Padahal sama sekali belum.

Tapi bagi Melody, buku itu sudah tertutup. Kasihan sekali Cloud, kemungkinan besar ia tak akan pernah bertemu putrinya kecuali ia sendiri berhasil menggali kebenarannya.

Untungnya, Hughes sama sekali tidak berhasil menembus penyamaran Melody. Paula telah bekerja sangat baik, dan perubahan warna rambut serta mata itu juga sangat membantu. Itu sihir tingkat tinggi, jenis sihir yang tak bisa dicapai siapa pun di dunia ini selain Melody. Bahkan Anna-Marie pun, meski berbakat, tak akan mampu melakukannya. Dengan kata lain, itu berada di luar pemahaman siapa pun, dan karena itulah penyamaran itu sempurna.

Untuk semua orang, kecuali satu orang tertentu.

“Wah, Luciana, lihat deh. Cantik sekali,” kata Beatrice. “Dia mungkin bahkan lebih cantik daripada kamu.”

“Apa sih yang sebenarnya terjadi di pesta tahun ini?” keluh Milliaria. “Apa kita ini masih pantas ada di sini?”

Luciana memilih untuk tidak berkomentar.

Ia cuma menatap gadis misterius itu.

Keras.

Ia tahu.

Ia tahu kemampuan Melody memang luar biasa, tahu bahwa gadis itu bisa melakukan hampir apa saja, bahkan mukjizat sekalipun. Penyamaran seperti ini sama sekali tak bisa menipunya.

Ayah sedang apa sih?! Itu jelas-jelas Melody! Luciana merindukan harisen yang ia tinggalkan di rumah.

Hughes bergidik. Mungkin karena angin.

Dan pria itu siapa?! Kekasihnya?! Oh, dia nggak bakal lolos semudah ini!

Luciana langsung menetapkan sasarannya. Ia baru saja memikirkan cara untuk melampiaskan sedikit tekanan setelah terus-menerus dihujani pertanyaan tanpa henti dari teman-temannya soal hubungannya dengan Maxwell. Ia sedang gatal ingin menuruti sisi jahilnya, dan ini adalah alasan yang sempurna.

Sejujurnya, Luciana juga tidak bisa benar-benar marah pada perkembangan ini.

Lima menit.

Lima menit, itulah lamanya penyamaran Melody bertahan.

Sementara itu, di bagian lain aula dansa, sang villainess dan pemeran rute utama terlalu sibuk sampai tak sadar bahwa heroine mereka akhirnya telah tiba.

Biarkan aku pergi lihat Lucianaaaaa!

Kalau pun heroine memang ada di pikiran mereka.

Beginilah nasib calon raja dan ratu masa depan, tentu dengan catatan kalau nanti memang diumumkan resmi. Mereka tak bisa menolak rakyat mereka, dan selama Spring Ball masih berlangsung, merekalah jantung pesta yang terus bekerja tanpa lelah, meski sesungguhnya mereka punya tujuan lain.

Dua kali.

Dua kali mereka membiarkan heroine lewat begitu saja di depan mata.

Jadi mau tak mau orang bertanya-tanya, berapa banyak kesempatan lain yang juga telah terlewat oleh pasangan super tidak peka ini?

Mereka belum lupa plot gamenya, kan?

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa