Heroine? Seijo? Iie, All Works Maid desu (Hoko)! Volume 1 Chapter 12 — Sang Penggoda Merah dan Putri Peri

“Kalau begitu, tanpa perlu berlama-lama lagi, dengan ini Spring Ball tahun ini resmi dimulai!”

Dengan sambutan pembuka dari Yang Mulia, aula dansa pun seketika hidup. Dari tiga pasang pintu ganda yang mengarah ke ruangan itu, pintu terbesar terbuka lebar. Biasanya pintu itu hanya dipakai keluarga kerajaan, para marquess, dan kaum aristokrat berpangkat tinggi, tapi malam ini pintu itu menjadi panggung bagi para pemuda dan pemudi yang tengah melakukan debut mereka.

Tepuk tangan penuh hormat memenuhi aula.

Biasanya, para tamu akan masuk satu per satu, nama mereka diumumkan sesuai urutan pangkat, dimulai dari putri-putri duke. Namun malam ini adalah pengecualian khusus, dan nona pertama yang diumumkan jelas bukan putri seorang duke. Hebatnya, pria kedua paling penting di seluruh negeri kebetulan sedang menjadi pendamping seorang debutan tertentu.

“Lady Anna-Marie dari Keluarga Victillium, putri Marquess Victillium, didampingi oleh Yang Mulia Putra Mahkota, Christopher von Theolas! Selamat datang!”

Tepuk tangan kembali pecah, bahkan lebih meriah dari sebelumnya, saat Pangeran Christopher melangkah masuk ke aula dansa dan berdiri di hadapan para hadirin. Busananya sangat berbeda dari tailcoat tradisional yang dikenakan para pria lain. Alih-alih begitu, ia mengenakan pakaian seremonial putra mahkota yang sarat aksen perak. Di sisinya, selangkah lebih lambat dengan sikap yang anggun, muncullah pendampingnya yang berambut merah membara, Anna-Marie.

Rambutnya ditata tinggi, memperlihatkan bagian kulit yang dalam keadaan biasa mungkin akan dianggap terlalu berani. Riasan yang dipulas dengan mahir semakin menonjolkan paras dewasanya yang memesona. Meski usianya baru lima belas tahun, pembawaannya sudah seperti wanita dewasa. Gaun gelap yang tetap mencuri perhatian jatuh membalut tubuhnya, memeluk pinggangnya sebelum mengembang lembut menutupi kakinya. Permata tertanam di rok model A-line itu, sementara renda merambat dari bahu dan dada hingga ke lehernya, menjaga belahan dadanya tetap tertutup. Para pria sampai menahan napas hanya demi kemungkinan sekecil apa pun untuk menangkap kilasan kulit sempurna yang mengintip dari balik renda itu.

Merasa iri pada pesona seperti itu, pada mahakarya kecantikan semacam itu, hanyalah usaha sia-sia, dan semua orang tahu itu. Mereka gentar pada daya tariknya sebagaimana orang gentar pada dewa.

Dengan suara pelan, banyak orang menjulukinya Sang Penggoda Merah. Tentu bukan dalam arti buruk. Kalangan bangsawan sangat mengenal watak dan kemampuan gadis itu, dan satu-satunya hal yang membuat orang-orang belum menyebutnya putri mahkota hanyalah belum adanya pengumuman pertunangan resmi.

Ia dan sang pangeran saling bertukar senyum lembut, memberi hormat kepada raja dan ratu, lalu menunggu tamu-tamu berikutnya dipanggil.

Saat satu demi satu putri bangsawan memasuki aula, Christopher berbisik pada Anna-Marie, “Di game, heroine harusnya dipanggil paling akhir dari kelompok putri count, kan?”

“Di game, iya,” jawab Anna-Marie. “Tapi kita bahkan nggak tahu dia ada di mana, jadi kemungkinan besar yang muncul orang lain.”

“Hm. Tapi dunia ini didasarkan pada game, kan? Nggak masuk akal kalau dia sama sekali nggak muncul. Gimana kita tahu apakah yang itu bakal terjadi tanpa dia?”

“Kita nggak tahu. Kita nggak akan tahu apa pun dengan pasti sampai malam ini selesai, jadi tetap waspada. Kalau heroine nggak ada di sini, apa pun bisa terjadi.”

“Nggak usah bilang dua kali.”

Pesta ini adalah salah satu peristiwa penting dalam game, tapi tanpa kehadiran heroine, tak ada yang bisa memastikan bagaimana semuanya akan berjalan. Christopher dan Anna-Marie tetap memasang wajah tenang ala bangsawan, tapi kegelisahan terus berputar di balik permukaan.

Saat daftar para count hampir mencapai akhir, tepuk tangan para hadirin sudah jauh berkurang.

“Lady Luciana dari Keluarga Rudleberg, putri Count Rudleberg,” umum pembawa acara.

Beberapa tawa kecil berserakan di tengah ruangan yang nyaris sunyi.

“Apa dia memang punya gaun yang layak dipakai? Mereka nggak mungkin membiarkan orang masuk ke sini pakai kain lusuh, kan?”

“Rudleberg membuatku malu sesama count. Kalau dia masih punya harga diri, seharusnya dia menyelamatkan kita dari aib ini dan tetap tinggal di gubuknya.”

“Aku kasihan pada pendampingnya. Nggak ada yang mau pertama kali lewat pintu itu bersama seorang Rudleberg.”

Ibu kota memang tak pernah ramah pada keluarga Rudleberg. Semua orang tahu kisah memalukan tentang jatuhnya martabat mereka, juga rumor soal rumah besar mereka yang reyot dan penuh tikus. Cerita-cerita semacam itu membengkak dan membusuk tanpa pernah dibantah, karena keluarga Rudleberg sendiri jarang sekali meninggalkan wilayah mereka.

Namun kata-kata berikut dari sang pembawa acara membuat semua tawa dan dengusan itu langsung berhenti.

“Didampingi oleh Lord Maxwell dari Keluarga Reclentos, putra sekaligus pewaris Marquess Reclentos. Selamat datang!”

Semua mata langsung terarah ke pintu besar yang hanya diperuntukkan bagi bangsawan paling tinggi kedudukannya. Sebagian orang bertanya-tanya apakah mereka salah dengar, sementara yang lain terang-terangan menolak mempercayainya.

Keluarga Reclentos termasuk salah satu keluarga paling mulia di antara semua bangsawan. Generasi demi generasi mereka menjadi lord chancellor bukan karena nepotisme, melainkan karena kemampuan sungguhan, dan tak ada seorang pun yang berani menyangkalnya. Maxwell, calon kepala keluarga berikutnya, sudah jelas sedang menuju jejak yang sama. Ia mungkin adalah pendamping pria paling diminati di antara semua tamu pesta malam itu. Banyak wanita mendambakan perhatiannya dan kesempatan untuk mendapatkan kesukaannya. Ia bisa memilih wanita mana pun di seluruh kerajaan, dan yang ia pilih justru seorang Ignoble.

(TL/N: Ignoable disini diartikan sebagai bangsawan tak tahu malu)

Aula langsung dipenuhi bisik-bisik penuh tanya dan keraguan.

Sementara itu, Anna-Marie juga memendam kebingungannya sendiri. Lord Maxwell jadi pendamping?! Seharusnya dia datang sendirian. Setidaknya begitu di game. Harusnya di sinilah dia bertemu heroine, lalu baru mengajaknya jadi pasangan di pesta berikutnya!

Pikiran Christopher berada di tempat lain. Dasar pembohong! Dia bilang nggak tertarik pada siapa pun!

Dua siluet muncul dari balik pintu.

Salah satunya jelas Maxwell Reclentos.

Setengah dari para wanita di ruangan itu langsung memasang wajah masam, melimpahkan kemarahan mereka pada wanita jalang yang telah “merebut” Maxwell dari mereka. Iri dan murka memenuhi hati mereka.

Sampai mereka melihat Luciana.

Ia masuk dengan pembawaan seanggun seorang putri. Seseorang di antara para hadirin membandingkan keanggunannya dengan peri, dan dari situlah julukan Putri Peri lahir. Julukan itu menyebar cepat di antara para penonton yang tercengang. Tak seorang pun bisa membantah bahwa julukan itu sangat cocok, karena tak ada penjelasan lain untuk sosok seindah dan sememikat makhluk di hadapan mereka.

Rambut keemasannya, yang ditata setengah terikat, berkilau lebih terang daripada matahari itu sendiri. Matanya adalah kolam biru kehijauan yang dalam, dan kulitnya tampak mulus serta bersih, kecuali semburat merah halus di pipinya. Gaun tanpa lengan yang dikenakannya memukau semua orang dengan gradasi warna biru hingga aquamarine yang mencolok. Setiap kali ia melangkah, gaun itu beriak seperti ombak di lautan, dan permata-permata di atasnya berkilau seperti cahaya matahari yang memantul di permukaan air. Senyumnya yang polos dan manis terasa seolah mampu menyembuhkan penyakit apa pun.

Orang-orang sampai lupa bertepuk tangan.

Luciana dan pendampingnya memberi hormat pada raja dan ratu dalam keheningan total.

K-kenapa mendadak jadi sepi begini?! pikir Luciana. Aku nggak dapat tepuk tangan?! Astaga, semua orang sedang menatap!

Maxwell lebih memahami situasinya, dan ia hanya bisa berusaha sekuat tenaga agar rasa tak nyamannya tidak tampak di wajah.

Sementara itu, ada satu penonton lain yang mungkin kehilangan kendali bahkan lebih cepat daripada Luciana.

Yes! Bagus sekali, Lord Maxwell! Ya Tuhan, dia lucu sekali! Sempurna!

Dan satu lagi.

Maxwell, bajingan! Dia benar-benar tipeku, dan bukan cuma kau bohong soal datang sendirian, kau malah membawanya?! Dia anggun! Dia ramping! Dia semua yang selama ini kuinginkan, dan kau merebutnya dariku! Aku bersumpah, kau HARUS mengenalkan kami!

Anna-Marie dan Christopher memang akur seperti kucing dan anjing, tapi mereka punya satu gairah yang sama:

wanita.

Begitu semua wanita bangsawan selesai diperkenalkan, orkestra mulai memainkan lagu, dan dansa pertama pun dimulai, sebuah waltz. Di sebagian besar pesta dansa, raja dan ratu akan memimpin tarian pertama, tapi di Spring Ball, kehormatan itu justru menjadi milik para debutan.

Meski begitu, ada dua pasangan yang praktis menguasai lantai dansa: Anna-Marie bersama Christopher, dan Luciana bersama Maxwell.

Pasangan kerajaan itu bergerak dalam harmoni sempurna, bukti dari sejarah panjang yang mereka miliki bersama. Sebaliknya, Luciana dan pasangannya bergerak agak kikuk, sebagaimana wajar bagi dua orang yang baru mendadak dipasangkan. Meski begitu, mereka tetap tampak anggun, dan kegugupan serta kecanggungan mereka justru membuat orang-orang semakin menyukai mereka.

Waltz Anna-Marie mengguncang hati siapa pun yang melihatnya. Ia menari dengan api, dengan gairah, sementara Luciana bergerak labil namun menenangkan seperti air. Para penonton pun terbelah antara panas dan dingin, sensual dan murni. Pastilah banyak jantung yang berdebar kacau malam itu.

Tentu saja, ada dua penonton yang pendapatnya sangat jelas.

Berikan dia padakuuu! Aku butuh dia, Maxwell! Dia sempurna sekali!

Berikan dia padakuuu! Aku butuh dia, Lord Maxwell! Dia manis banget!

Secara batin, sang pangeran dan putri marquess itu tinggal selangkah lagi dari kehancuran total. Secara lahiriah, mereka tetap menjadi teladan bangsawan sempurna.

Sementara itu, banyak pria di ruangan itu yang moralnya tidak terlalu baik, termasuk mereka yang tadi sempat mencibir nama Luciana, kini hanya memikirkan satu hal:

Giliran berikutnya dia akan jadi milikku!

Spring Ball malam itu tampaknya akan menjadi pesta yang seseru sekaligus sesukses mungkin. Yah, kecuali kalau kau adalah siapa pun selain Anna-Marie atau Luciana. Dalam kasus itu, malam ini jelas bukan debut yang terlalu berkesan bagimu.

Meski begitu, sulit juga merasa terlalu kasihan pada para debutan lain saat mereka sendiri juga sama terpukaunya oleh tarian itu seperti semua orang lain, sampai-sampai sebagian besar dari mereka justru tertinggal setengah langkah dari pasangan masing-masing.

Itu bukan cara berdansa yang kupelajari, pikir Luciana. Apa ini tren setempat?

Tersandung kaki sendiri jelas bisa disebut tren, kalau saja sebuah tren bisa terbatas hanya di satu ruangan.

“Putri yang luar biasa, Lord Rudleberg.”

“L-Lord Chancellor!”

Saat keluarga Rudleberg sedang menyaksikan putri mereka menari, ayah Maxwell, Marquess Georic Reclentos, menghampiri.

“Sudah berapa lama aku berperang dengan putraku soal mencari pasangan untuk acara-acara seperti ini,” gumamnya. “Bayangkan keterkejutanku ketika di detik-detik terakhir dia datang padaku dan bilang ia berniat mengantar seseorang. Sekarang aku mengerti. Rupanya dia sudah terpesona oleh peri kecil yang kau miliki itu.”

“A-Anda terlalu memuji kami, Lord Chancellor.”

“Tidak, justru aku yang berterima kasih. Terus terang saja, awalnya aku curiga kau menggunakan putrimu untuk mencari muka padaku, tapi sekarang aku sadar aku sudah berlaku tidak adil dengan menganggap begitu. Jawaban paling sederhana sering kali memang yang paling benar, dan akan terlalu berbelit kalau semua yang kulihat malam ini ternyata hanya sandiwara.”

“A-aku mengerti.”

Hughes sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti. Sebagai seorang Ignoble, ia jarang bergaul dengan sesama bangsawan, sehingga tak terlalu paham permainan politik dan tipu daya yang sudah biasa diantisipasi Georic dari orang-orang di sekitarnya.

Keluarga mereka sudah lama diremehkan. Mereka punya sedikit sekutu, dan karena itu juga sedikit musuh, yang secara efektif membuat mereka netral, pikir sang marquess. Kas keluarga mereka memang mengkhawatirkan, tapi itu masih bisa diperbaiki seiring waktu. Putri seorang count jelas punya kedudukan yang pantas, dan dia adalah satu-satunya wanita yang pernah menarik sedikit saja minat putraku.

Ia terkekeh sendiri.

Bahkan kalau ini hanya sandiwara untuk mengangkat pamor keluarganya sendiri, aku tetap akan cukup terkesan untuk membiarkannya. Seorang marchioness masa depan seharusnya paham seni membujuk. Dan kalau ini memang bukan bujuk rayu, lebih bagus lagi. Sangat sedikit wanita yang punya kemampuan memikat sealamiah itu.

Sang marquess menyunggingkan senyum tipis. Ia berada di posisi yang sangat menguntungkan.

Saat lagu pertama berakhir, para debutan—

“Luciana! Kali ini kau harus jelaskan semuanya!”

“Kau menyimpan terlalu banyak rahasia dan kami sudah tidak suka lagi!”

Beatrice dan Milliaria langsung menerjang ke arah Luciana, memotong jalannya agar ia tak bisa kabur.

“Mohon permisi, Lord Maxwell,” kata mereka berdua bersamaan, lalu menyambar sahabat mereka dan menyeretnya pergi.

“G-gadis-gadis! Tunggu!” Luciana memohon sia-sia. Tak ada seorang pun yang datang menyelamatkannya saat ia meratap sepanjang jalan menuju area duduk.

Maxwell cuma berdiri di tempat dan menatap, terlalu tercengang untuk bereaksi. Pendamping Beatrice dan Milliaria juga mengalami keterkejutan yang sama, sehingga ketiga pria itu akhirnya saling menghibur sesama korban.

“Y-Yang Mulia. Saya, um...”

Sementara itu, putri Duke Rincot’dor berhasil menyudutkan Christopher, menuntut perhatiannya.

“Wah, Anda benar-benar memuliakan malam ini dengan kecantikan Anda, Nona,” kata Christopher secara otomatis. “Maukah Anda berbagi tarian berikutnya denganku?”

“Oh, dengan senang hati, Yang Mulia!”

Ini pesta dansa atau pesta rumahan, sih? Ah, biarkan aku pergi lihat Luciana!

“Lady Victillium, maukah Anda memberi saya kehormatan untuk satu tarian?”

Putra Duke Rincot’dor ternyata tak kalah cepat, dan ia langsung menghampiri Anna-Marie begitu saudara perempuannya mengambil pasangan Anna-Marie.

“Tentu. Dengan senang hati,” jawab Anna-Marie refleks. “Saya harap Anda tidak mengecewakan saya.”

“Itu bisa saya janjikan, Nona!”

Ini pesta dansa atau pesta rumahan, sih? Ganggu banget! Aku mau ngobrol dengan Lucianaaaaa!

Beginilah penderitaan bangsawan tinggi. Kewajiban sosial, pekerjaan paling merepotkan dari semuanya, berdiri kokoh menghalangi tujuan sejati sang pangeran dan pasangannya malam itu. Seharusnya mereka memikirkan plot game yang akan menentukan kehidupan baru mereka, tapi Luciana sudah memikat mereka sekuat ia memikat semua orang lain di ruangan itu.

Lagu kedua mulai dimainkan dan tarian baru pun dimulai, tapi kali ini semua tamu bebas ikut serta.

Malam masih muda, dan pesta baru saja dimulai. Lebih banyak tamu akan terus berdatangan sepanjang malam, jadi ketika pintu ganda yang paling kecil terbuka, tak seorang pun memberi perhatian lebih.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa