WAKTU BERLALU BAGAI BURUNG YANG TERBANG. Tanggal 31 Agustus tiba dengan kecepatan yang memusingkan, mengantar akhir libur musim panas dan awal pesta dansa. Count dan Countess Rudleberg hadir bersama putri mereka, maid mereka—dengan kedok sebagai Cecilia—serta escort masing-masing, Maxwell dan Lect. Total tiga pasangan. Sang count dan countess akan menaiki kereta yang mereka sewa untuk malam itu, sementara para pemuda dan pemudi menikmati kereta yang disiapkan oleh Maxwell.
“Kau terlihat sangat cantik, Luciana,” kata sang countess. “Dan kau juga tentu saja, Melo… Cecilia.”
“Nona saya melakukan pekerjaan yang luar biasa—eh, Anda terlalu baik, Lady Marianna.”
Percakapan santai memenuhi foyer saat mereka menunggu kereta tiba, tetapi mereka memang membutuhkan latihan itu. Dengan rambut keemasan, mata merah menyala, dan sentuhan riasan dari Paula yang berbakat, Melody telah berubah menjadi Cecilia yang penuh teka-teki. Semua orang harus menyesuaikan diri. Marianna terus saja keliru dan memanggilnya dengan nama yang salah, sementara Melody kesulitan melepaskan sikapnya sebagai maid. Mereka punya waktu sampai tiba di ballroom untuk memperbaiki kebiasaan lama.

“Aku tidak bisa berhenti berpikir kalian berdua terlihat seperti saudari,” komentar Hughes.
Luciana terkikik. “Benarkah?”
Ia mengenakan gaun panjang berbahu terbuka yang mengalir menyusuri tubuhnya seperti gelombang aquamarine, warna khasnya sekarang. Sebuah pita turquoise bersilangan di dadanya dan melilit lehernya seperti halter top, tetapi itu murni hiasan. Tidak akan ada insiden pakaian terbuka jika pita itu terlepas. Sebuah hiasan emas melekat di tengah dadanya, bertatahkan permata biru pucat yang senada dengan matanya.
Gaun Melody sangat mirip—berbahu terbuka dan mengalir, tetapi berwarna putih surgawi, bukan aquamarine. Ia memiliki halter senada berwarna merah, dan permatanya menyala seperti api di matanya.
Itu ansambel yang sangat indah, serupa dalam siluet tetapi berbeda pada bagian yang penting. Rok berlapis mereka bahkan memasukkan jejak warna milik yang lain—putih untuk Melody dan aquamarine untuk Luciana. Itu memang membuat mereka terlihat seperti saudari. Sepasang, lengkap hanya saat menjadi satu set. Tak pernah satu tanpa yang lain.
“Ulang tahunku tanggal 7 Agustus, tapi Melo—benar, Cecilia tanggal 15 Juni,” kata Luciana. “Berarti dia kakakku!” Ia melingkarkan lengan ke saudari barunya itu.
Melody terkikik. “Itu membuat nona saya—maksud saya, Lady Luciana menjadi yang bungsu, dan gadis baik menuruti perkataan yang tertua. Apakah Anda akan menjadi gadis baik?”
“Tidak, kau harus jadi tipe kakak yang memanjakan! Aku ingin dimanjakan!”
Foyer bergema oleh tawa kecil dan cekikikan. Sang maid dan nonanya saling menatap mata, tersenyum lebar, sementara sang count dan countess menyaksikan dengan lembut.
Namun di tempat lain, tatapan yang ada tidak selembut itu. “Ada apa dengan semua ini?” gerutu Micah. “Dari mana datangnya chemistry ini?”
Anda heroine-nya! Rayu salah satu cowok, dong!
“Inilah yang terjadi kalau alternatifnya tidak punya tulang punggung,” kata Paula.
“Uh-huh.”
“Jangan pedulikan aku,” kata Lect dengan wajah meringis. Ia mengisi setelan jasnya dengan sangat baik, tampak tampan menawan, tetapi ada sesuatu tentang keluarga Rudleberg yang tak dapat ia tembus, sehingga ia berdiri di sisi bersama para figuran. Keamanan ini datang dengan harga: harus menanggung hinaan Paula dan Micah. Rook bergabung dengan mereka, tetapi ia tidak tampak berminat menyelamatkan sang ksatria. Atau mungkin sikap diamnya adalah bentuk kebaikan. Hanya Rook yang akan tahu.
“Tumbuhkan keberanianmu dan pergilah ke sana,” perintah Paula. “Sebelum dia mencuri pasanganmu.”
“Aku percaya padamu, Sir Lectias!” kata Micah.
“B-baik.” Dengan bantuan para maid—sebagian secara fisik—Lect akhirnya mendekati yang lain. “Melody—eh, Lady Cecilia.”
“Oh, halo, Lect,” kata sang maid yang sedang menyamar.
“Kau, um, terlihat sangat cantik. Maksudku, dalam gaun itu.”
Ini, pada kenyataannya, adalah usaha terbaiknya. Ia bahkan tidak menatap mata gadis itu, tetapi ia berbicara. Baik atau buruk.
“Terima kasih.” Melody berseri-seri, dan dengan busananya saat ini, senyum itu menghantam Lect dengan kekuatan yang nyaris mematikan. Ia hanya bisa berusaha mempertahankan wajah datar. “Kau baik-baik saja?”
“B-baik! Hanya, um, bertanya-tanya kapan keretanya akan tiba.”
Tepat pada waktunya, ketukan terdengar di pintu. Dengan langkah tenang dan mantap, Serena mendekat dan menyambut kedatangan baru itu.
“Tuanku, Nona. Kereta kalian telah tiba,” katanya.
“Sepertinya kami berangkat duluan. Kalian akan baik-baik saja tanpa kami?” tanya Hughes.
“Kami akan baik-baik saja, Ayah,” jawab Luciana. “Sampai bertemu di ballroom.”
“Beliau berada di tangan yang baik, Your Lordship,” kata Melody.
“Saya akan mengurus estate,” tambah Serena. “Silakan nikmati malam kalian.”
Hughes mengangguk. “Sir Froude, aku mempercayakan Melody dan putriku kepadamu.”
“Demi kehormatanku, mereka tidak akan terluka,” sumpah sang ksatria.
“Aku, um, akan menganggap ketulusanmu sebagai jaminan.”
Dengan itu, sang count dan countess berangkat menuju istana. Tidak lama kemudian, Maxwell menggantikan mereka di foyer.
“Selamat malam, Lady Luciana,” kata lord yang gagah itu.
Luciana seketika memerah padam saat salamnya sendiri tersangkut di tenggorokan. Maxwell tampak sangat tampan dalam setelan itu, harus ia akui. Dia seharusnya menjadi pasangannya?
Ia kembali sadar setelah Melody menepuk punggungnya. “S-selamat malam, Tuanku. Anda memuliakan saya dengan kehadiran Anda.”
“Dan Anda memuliakan saya dengan mengizinkan saya berada di hadapan Anda. Izinkan saya berterima kasih karena telah menerima undangan saya.” Ia menyunggingkan senyum melihat kegugupannya yang menggemaskan. “Nah, dalam surat Anda, Anda menulis tentang satu orang lagi.”
“Senang bertemu Anda, Lord Reclentos,” kata Lect.
“Ah, Instructor Froude. Kurasa kita belum bertemu lagi sejak masa singkat Anda di akademi.”
“Tolong panggil aku Lectias. Aku bukan instruktur lagi.” Menangkap nada godaan itu, Lect tersenyum kecut.
“Tentu saja. Kalau begitu, Sir Lectias. Demikian pula, panggil aku Maxwell.”
“Sesuai ucapan Anda, Lord Maxwell.”
Sebagaimana ditentukan oleh kepantasan, Cecilia baru menyapa sang lord setelah ia selesai bertukar kata dengan sang ksatria.
Maxwell menyapa gadis rakyat jelata itu. “Salam, aku Maxwell. Maxwell Reclentos.”
“Cecilia, Tuanku. Saya hanya rakyat jelata, tetapi saya merasa terhormat dapat berkenalan dengan Anda.” Ia melakukan curtsy dengan sangat sempurna.
Maxwell menahan campuran keterkejutan dan rasa hormat melihat pelaksanaan curtsy itu. Dia terlatih dalam etiket. Kalau dia bukan bangsawan, siapa keluarganya?
“Jika boleh, Madam, apakah Anda memiliki nama keluarga?”
“Maaf? N-nama keluarga? Itu, um, Wa—eh, Mc…”
“‘Mc’?”
“Y-ya. Mc… McMarden. Saya Cecilia McMarden.”
Rakyat jelata di Theolas sering memiliki dua nama. Bahkan itu standar. Biasanya hanya anak yatim seperti Micah yang memiliki satu nama. Atau orang hilang ingatan seperti Rook. Keluarga bangsawan sama sekali tidak memonopoli nama keluarga. Jika mereka ingin, baik Micah maupun Rook bisa mengajukan nama keluarga mereka sendiri. Dalam kasus anak yatim, nama itu sering kali berasal dari nama panti asuhan tempat mereka dibesarkan.
Terlepas dari trivia itu, Melody tidak mempertimbangkan bahwa dirinya mungkin membutuhkan nama keluarga juga. Awalnya ia sempat hendak memberikan nama aslinya, Wave, tetapi berpikir ulang. Nama berikutnya yang muncul di benaknya adalah nama yang sudah lama tidak ia pikirkan—McMarden. Sayangnya baginya, itulah yang didengar Maxwell. Maka jadilah ia Cecilia McMarden, suka atau tidak. Bila ada yang mempertanyakan pikiran Melody atau banyak jalan lain yang lebih baik yang bisa ia pilih, pertimbangkanlah ini: Melody adalah gadis baik dan jujur yang tidak terbiasa dengan tipu muslihat.
“Senang bertemu denganmu, Cecilia McMarden,” kata Maxwell.
McMarden, pikirnya. Aku tidak familier dengan nama itu. Tapi nama depannya, Cecilia. Ini nama yang Chris dan Lady Anna-Marie bersikeras milik Saint yang muncul dalam penglihatan mereka. Aku harus menyelidiki lebih jauh.
Ia membuat catatan dalam hati, lalu melanjutkan, “Silakan panggil aku Maxwell.”
“Dan Anda boleh memanggil saya Cecilia.”
Maaf sekali, Max! tangis gadis itu dalam hati. Aku tidak suka berbohong padamu!
Sejauh ini semuanya berjalan baik, terlepas dari gejolak batin. Percakapan mereka sopan dan alami.
Sampai Maxwell menyadari sesuatu. “Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Melody.”
Jantung semua orang melewatkan detak yang sama.
Max! Kenapa itu penting?! pikir Melody panik.
Tidak ada orang lain yang menganggap ketidakhadirannya mencolok, jadi tak seorang pun repot-repot menyiapkan alasan.
“Dia, um, sedang tidak enak badan,” kata Luciana, perlahan merangkai kata-katanya saat berbicara. “Dia sedang beristirahat.”
Penyelamatan yang sangat baik. Atau begitulah yang mereka kira.
“Melody?” kata Maxwell. “Beristirahat saat nonanya akan pergi ke pesta dansa?”
Seperti kilat, pikiran yang sama menyambar seluruh ruangan. Dia benar!
Melody duduk diam melewatkan hari sepenting itu benar-benar tak terbayangkan. Tidak ada yang bisa menahannya. Tidak ada selain kiamat atau luka yang membuatnya tinggal beberapa detik lagi kehabisan darah. Maid gila itu memang segila itu.
“Dia s-sedang tidur,” tambah Melody. Rasanya aneh membicarakan dirinya sendiri seperti itu. “Saya memutuskan dengan cukup mendadak untuk menghadiri pesta dansa, Tuanku, dan dia memforsir dirinya memastikan saya memiliki gaun untuk kesempatan ini. Bayangkan saja, dia baru menyelesaikannya beberapa jam lalu. Dia berada di bawah perintah ketat untuk memulihkan diri, Anda mengerti.” Ia melirik nona mudanya.
Luciana tersentak. “Y-ya! Tepat sekali! Dia memohon agar aku membangunkannya tepat waktu untuk keberangkatan kami, tetapi kami semua memutuskan dia butuh istirahat.”
“Begitu,” kata Maxwell. “Yah, usahanya jelas sepadan dengan jerih payahnya. Kalian tampak memesona bersama. Dengan rambut kalian yang begitu mirip, kurasa semua orang akan mengira kalian saudari sepanjang malam.”
“Terima kasih, Tuanku,” kata kedua gadis itu bersamaan, berbagi rona merah. Dan embusan napas lega.
“Haruskah kita berangkat?” kata Melody.
“Ya, mari. Aku serahkan estate kepadamu,” Luciana memberi tahu retinue yang tersisa.
Mereka membungkuk dan menyuarakan persetujuan, termasuk Paula.
Maxwell menawarkan tangannya. “Nona.”
“Oh. Terima kasih.”
Ia mengantar Luciana keluar menuju kereta.
“Kurasa kita harus mengikuti,” kata Lect, menawarkan tangannya kepada Melody.
“Memang,” jawabnya. “Mari kita buat malam ini menyenangkan.”
“B-benar.”
Tangannya bukanlah sesuatu yang asing bagi Lect. Mereka telah berlatih dansa berkali-kali. Namun tak pernah sentuhan itu membuat jantungnya berdebar seperti sekarang.
Mereka pun berangkat menuju pesta dansa.