Heroine? Seijo? Iie, All Works Maid desu (Hoko)! Volume 1 Chapter 1 — Gadis yang Ingin Menjadi Maid

Dahulu kala, dunia Mizunami Ritsuko tidak berwarna.

Terlahir dalam kemewahan dan dibesarkan oleh orang tua yang penuh kasih, ia tidak pernah mengenal penderitaan dan tak pernah kekurangan apa pun. Ia berbakat, dan pada usia enam tahun saja sudah mampu mengakali kebanyakan orang dewasa. Kalau sampai ada yang mengira karena itu ia kurang dalam soal budaya, tenang saja, sama sekali tidak. Lukisannya, yang diterbitkan dengan nama samaran, terjual dengan harga selangit di galeri. Alat musik pertama yang ia sentuh bisa ia kuasai hanya dalam waktu satu jam. Dan saat ia bernyanyi, burung-burung pun berdatangan tertarik pada suaranya yang merdu.

Programming hanyalah permainan anak-anak baginya, pertolongan pertama semudah membalik tangan. Lalu soal bela diri? Pria dewasa pun gemetar di hadapannya. Sederhananya, Mizunami Ritsuko adalah jenius terbesar yang pernah hidup.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apakah dia benar-benar hidup?

Tak ada satu pun yang pernah ia lakukan terasa berarti. Tak ada satu pun yang menuntut usaha lebih dari sekadar minimum. Apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Dan saat segalanya menjadi emas, kilau itu pun perlahan kehilangan artinya. Jika seseorang sudah diberikan semua penghargaan yang mungkin diraih, lalu apa lagi yang tersisa untuk dikejar? Kemenangan macam apa yang bisa dirasakan dalam perlombaan tanpa saingan?

Bukan berarti Ritsuko tak punya orang yang lebih hebat darinya. Ada. Tapi tak satu pun dari mereka sebayanya. Saat ia kalah, lawannya selalu seseorang yang lebih tua, seseorang yang telah mendedikasikan hidupnya pada satu bidang, seseorang yang memang akan mengalahkan siapa pun.

Dan Ritsuko tidak merasakan apa-apa.

Sikap pragmatis yang sinis berakar dalam hati gadis kecil itu. Ia menyingkirkan emosi-emosi ekstrem, kebahagiaan dan kesedihan, kenyamanan dan ketidaknyamanan, keraguan dan keyakinan dalam hidup, dan karena itu dunianya pun kehilangan warna. Segala sesuatu melewati saringan tanpa perasaan itu lalu keluar sebagai abu-abu dan pucat tak bernuansa. Kusam dan membosankan di mata seorang anak.

Bagi Ritsuko, hidup adalah penjara menyedihkan, jerujinya dibangun dari kesombongan yang ia ciptakan sendiri.

Menjadi manusia berarti menilai dan dinilai. Dan para jenius terlalu sering menyadari bakat mereka, tapi tidak memiliki kerendahan hati untuk menahan naluri tersebut. Bakat melahirkan keangkuhan, dan keangkuhan melahirkan rasa meremehkan.

Begitulah nasib Ritsuko. Ia pun menilai dunia, meski secara bawah sadar dalam pikirannya yang masih belia, dan memutuskan bahwa dunia ini tidaklah cukup, spektrum warnanya terlalu terbatas.

Begitulah si katak dalam tempurung.

Sebakat apa pun dirinya, Ritsuko tetaplah anak enam tahun. Ia tahu sangat sedikit tentang luasnya tenunan dunia, apalagi kedalaman maknanya.

Tapi tak lama lagi ia akan belajar.

Suatu hari, orang tua Ritsuko menyeretnya ke sebuah acara perusahaan yang diadakan oleh kenalan ayahnya dari pekerjaan, seorang pria Inggris tampan, seorang baron, meski sebutan life peer mungkin lebih tepat. Gelar itu tidak diwariskan turun-temurun.

Vila miliknya berdiri di atas bukit kecil yang indah. Pria itu memilih taman dari kediaman tenang tersebut sebagai tempat tea party besarnya.

Di sanalah Ritsuko bertemu dengan takdirnya.

Di antara hitam dan putih kusam dalam dunia monokrom milik Ritsuko, muncul sebuah anomali aneh yang mengguncang cara pandangnya.

“Selamat datang dengan sepenuh hati kami. Silakan anggap tempat ini seperti rumah Anda sendiri.”

Seorang wanita cantik mendorong troli ke meja Ritsuko. Ia mengenakan dress hitam pekat dengan apron putih bersih. Sebuah cap dengan warna steril serupa bertengger di atas rambut pirang terang yang jelas bukan rambut orang Jepang, namun ia berbicara dalam bahasa Jepang yang sempurna. Dengan punggung tegak dan lutut ditekuk pada sudut yang pas, wanita itu melakukan apa yang Ritsuko tahu sebagai curtsy.

Wanita itu menjelaskan pilihan teh dan susu dengan singkat namun elegan, lalu dengan sempurna memenuhi satu per satu permintaan yang diajukan, sebelum pergi untuk mengulangi ritual itu pada tamu-tamu lain.

Ritsuko terus menatap punggungnya.

“Ibu, siapa wanita cantik itu?”

“Wanita cantik? Ah, itu cuma seorang maid.”

“Maid...”

Seumur hidupnya, sebanyak apa pun pengetahuan yang ia miliki, ini adalah pertama kalinya ia mendengar tentang hal seperti itu, akibat dari kebiasaannya belajar secara selektif. Meski ia tahu banyak tentang Inggris, tanggal-tanggal pentingnya, sejarahnya, rincian kecil kehidupan sehari-harinya justru luput dari perhatiannya.

Ayah Ritsuko lalu menjelaskan bahwa wanita itu adalah seorang parlormaid, seorang maid yang khusus melayani tamu, yang sengaja dipanggil pria Inggris tadi dari luar negeri khusus untuk acara hari ini. Ritsuko mendengarkan tanpa sekali pun mengalihkan pandangan dari wanita itu.

Tak lama, sang maid pun menyadarinya.

Tatapan mereka bertemu. Namun sebelum rasa malu sempat menjalar ke wajah Ritsuko, wanita itu tersenyum padanya.

Dan senyum itu benar-benar sempurna.

Segalanya berubah pada saat itu.

Hanya sesaat, warna kembali ke dunia yang abu-abu. Atau mungkin tidak. Mungkin itu hanya ilusi yang muncul karena hitam dan putih pada pakaian maid itu begitu hidup di mata Ritsuko. Apa pun jawabannya, ia tidak peduli.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ritsuko akhirnya merasakan sesuatu yang nyata.

“Cantik sekali...” bisik gadis kecil itu.

“Iya, kurasa memang begitu,” kata ibunya. “Kamu benar-benar memperhatikannya, ya, Sayang?”

“Hah?” ayahnya tiba-tiba kalang kabut. “Sweetie, enggak. Aku, uh, janji?”

“Bukan cuma janji, nanti kita bahas itu waktu sampai rumah.”

“Sumpah! Mataku cuma untukmu, istriku yang manis, cantik, dan pengertian!”

Satu senyum dari seorang wanita berbaju hitam putih.

Sepele sekali.

Tapi hitam dan putih adalah warna pertama yang dilihat Ritsuko setelah waktu yang sangat lama.

“Maid. Pelayan rumah tangga wanita. Menjadi populer pada paruh akhir abad ke-19 di Inggris, era Victoria. Dalam sebuah estate, pekerjaan biasanya dibagi antara beberapa jenis maid, termasuk kitchen maid, housemaid, parlormaid...”

Ritsuko melahap setiap potongan informasi yang bisa ia temukan tentang obsesi barunya itu, dengan semua bakat jeniusnya kini terfokus tepat ke satu titik.

Ia harus tahu lebih banyak.

Sejarah mereka. Evolusi profesi mereka.

Ia bahkan sampai mempelajari teknik-teknik pekerjaan mereka dan menjahit sendiri seragam maid miliknya, dua hal yang jauh lebih mudah dilakukan berkat kecerdikan dan ketangkasan alaminya. Lalu, lebih jauh lagi, ia mulai bermain peran sebagai maid di seluruh rumah.

Orang tuanya tidak pernah menegurnya, bahkan justru mendukungnya. Mereka sangat bahagia melihat putri mereka begitu bersemangat pada sesuatu. Apa pun itu lebih baik daripada sikap apatis tak bernyawa yang biasanya ia tunjukkan.

Suatu hari, Ritsuko menonton sebuah film berjudul The Glass Princess. Film itu bercerita tentang seorang gadis bangsawan muda di Inggris feodal, dibesarkan dengan segala kemewahan dan diasingkan dari dunia luar. Itu adalah kisah sedih tentang cinta mustahil antara dirinya dan seorang pemuda rakyat jelata, yang berakhir dengan bunuh diri tragis mereka berdua. Para penonton menangis saat kredit film mulai bergulir, termasuk Ritsuko. Orang tuanya pun menyimpulkan bahwa kecerdasan putri mereka ternyata juga menjangkau ranah emosi.

Padahal mereka sama sekali salah besar.

Sang putri memang melalui begitu banyak hal, tapi yang selalu berada di sisinya sepanjang jalan adalah para maid-nya.

Memang, sang putri adalah heroine utama dan film itu hanya sedikit menyoroti para lady-in-waiting-nya, tapi Ritsuko tahu.

Ia sudah mempelajarinya, dan ia tahu sejauh apa para maid itu pasti telah berjuang demi nyonya yang begitu mereka hormati.

Mizunami Ritsuko terus tumbuh.

Ia berkembang menjadi seorang wanita, wanita yang memilih fungsi di atas penampilan, tugas di atas kesenangan, apron di atas dress.

Namun, kecerdasannya tak pernah tumpul. Ritsuko menggunakan inteleknya yang luar biasa untuk segala hal yang berhubungan dengan maid dan pekerjaan mereka. Arsitektur. Teknik. Astronomi. Biologi. Apakah semua bidang yang ia pelajari itu benar-benar relevan dengan maid dan pekerjaan mereka? Mungkin. Bisa diperdebatkan. Tapi Ritsuko sama sekali tidak berhenti cukup lama untuk memikirkan jawaban itu.

Obsesi itu justru semakin dalam ketika ia masuk kuliah.

Di sanalah ia melihat kesempatan untuk mewujudkan mimpinya dan menjadi sosok yang selama ini ia idolakan.

Namun bagaimana caranya?

Masalah langsung muncul nyaris seketika. Tidak ada pasar bagi pelayan rumah tangga dalam Jepang modern. Bahkan, hanya sedikit tempat di dunia yang masih menggunakan gelar bangsawan, yang secara efektif membuat profesi kuno itu, setidaknya dalam bentuk historisnya, nyaris punah. Kalau paling mentok, mungkin ia hanya bisa bekerja di jasa kebersihan rumah.

Ia teringat pada pria Inggris itu dan wanita pirang tersebut.

Mungkin Inggris?

Mungkin di sanalah Ritsuko bisa menemukan apa yang selama ini ia dambakan.

Keputusannya pun bulat.

Ia akan belajar di luar negeri.

“Ibu! Ayah! Aku akan pergi ke Inggris untuk menjadi maid!”

“Jangan lupa fotoin Big Ben buat Ayah,” kata ayahnya.

“Kamu dan maid-maidmu itu ya,” goda ibunya. “Yang penting kamu senang di sana.”

Secepat Ritsuko mengambil keputusan, mungkin bahkan lebih cepat lagi, orang tuanya pun mengambil keputusan mereka.

Sebuah keputusan yang nantinya akan mereka sesali.

Akhirnya, saat usianya dua puluh tahun, Ritsuko berangkat ke luar negeri.

Ia berhasil.

Dan dengan kedua tangannya sendiri, tanpa bantuan kekayaan keluarganya.

Setelah memberikan salam perpisahan terakhir pada Mom dan Dad, Ritsuko menaiki pesawat yang akan membawanya ke Inggris. Ia duduk di kursi dekat jendela dan menunggu pesawat lepas landas, saat sepasang anak muda berhenti di lorong di dekat kursinya.

“Kurasa aku duduk di sebelahmu,” kata si gadis.

“Oh, ya ampun, enak banget duduk di sebelah cewek cakep,” kata si cowok. “Hai!”

“Diem. Tolong abaikan dia.”

Mereka orang Jepang. Usianya kira-kira seumuran dengan Ritsuko, mungkin sedikit lebih muda.

Ritsuko terkikik.

“Aku tidak keberatan. Silakan duduk.”

Beberapa saat kemudian, pesawat pun lepas landas dan naik ke langit. Dalam kurang lebih dua belas jam, mereka akan tiba di Inggris. Itu waktu yang lama dalam ruang sesempit ini, jadi Ritsuko pun mulai mengobrol dengan dua penumpang di sampingnya.

“Kalian anak SMA?” tanya Ritsuko. “Dan pergi ke luar negeri sendirian begini. Aku cukup kaget orang tua kalian percaya sebesar itu. Mereka tahu kalian pacaran?”

“Kami tidak pacaran!” seru keduanya secara serempak.

Ritsuko tertawa kecil. “Kalian benar-benar hampir berhasil menipuku.”

Gadis itu, namanya Asakura Anna, langsung cemberut.

“Aku mending mati daripada dijodoh-jodohin sama orang bego ini.”

“Perasaanku juga sama!” balas si cowok, Kurita Hideki. “Aku cuma mau yang levelnya minimal seperti Ritsuko-san di sini. Nah ini baru wanita.”

Semua bantahan mereka sama sekali tidak berhasil menipu Ritsuko. Dari yang ia lihat, mereka jelas cocok satu sama lain.

“Kalau begitu ceritakan. Kenapa kalian pergi bareng dalam perjalanan ini?” tanyanya.

“Bukan cuma kami. Ini tur,” jelas Anna sambil mengeluarkan semacam game komputer. Sampulnya menampilkan seorang gadis berambut perak dikelilingi lima pria, dengan kilau-kilau dan hiasan fantasi lain di sekelilingnya. “Semua teman cewekku di sekolah lagi obsesi banget sama ini, dan mereka ngadain promo khusus di mana sepuluh orang beruntung bakal diajak tur ke Inggris kalau beli edisi spesialnya, percaya nggak percaya. Aku entah gimana berhasil dapat tempat, jadi kami pergi ke Inggris bareng beberapa fans lain yang agak kami kenal. Mereka tersebar di pesawat ini.”

“Aku di sini buat ngawasin dia,” kata Hideki. “Adik perempuanku sebenarnya pengin ikut, tapi aku cuma satu orang, dan ngurusin yang ini aja sudah bikin repot. Alasan kenapa aku yang ikut, bukan orang tuanya, ya karena mereka ada urusan kerja pas hari-hari itu.” Ia mendengus pada dirinya sendiri. “Mereka mikir aku nggak bakal macam-macam soalnya kami selalu ribut terus.”

“Jadi kamu itu knight in shining armor-nya Anna-san, begitu?” goda Ritsuko.

“Mana mungkin!” seru keduanya lagi, sekali lagi serempak. Bahkan ekspresi wajah dan gerakan mereka pun sama persis.

Ritsuko tak bisa menahan tawanya. Apa pun sebenarnya nuansa hubungan mereka, itu sama sekali tak terbaca olehnya. Soal romance, ia sudah lama meninggalkannya demi apron. Namun setidaknya, apa pun hubungan yang mereka miliki, itu terasa menghangatkan hatinya.

Beberapa jam kemudian, lampu di kabin diredupkan, mereka mengenakan selimut masing-masing, dan ketiganya pun perlahan terlelap. Saat bangun nanti, mereka akan resmi berada di atas tanah Britania. Rasa antusias memenuhi dada mereka, dan bayangan petualangan yang menunggu di depan pun mengisi mimpi mereka.

Namun semua itu memang akan tetap menjadi mimpi, selamanya tak akan tergapai.

Karena pesawat itu menghilang.

Dan enam tahun kemudian, bangkai pesawat itu masih belum ditemukan.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa