Heroine? Seijo? Iie, All Works Maid desu (Hoko)! Volume 3 Chapter 1 — Micah Ingin Sihir!

Kejadiannya berlangsung tak lama setelah Insiden Penyihir Cemburu. Luciana sedang belajar di kamar asramanya untuk ujian semester yang tinggal tiga hari lagi.

“Nah. Kurasa itu cukup untuk kerja keras hari ini,” gumam sang nona sambil menghela napas. Ia tidak khawatir. Setiap hari ia sudah mengulang pelajaran, dan semua materinya nyaris hafal luar kepala.

Ia mengangkat tangan untuk meregangkan badan, tetapi tiba-tiba jeritan melengking yang tajam memotong suasana.

“Apa-apaan itu?!”

Dapur, tebaknya. Suara itu datang dari dapur. Pada jam seperti ini, Melody dan Micah seharusnya sedang menyiapkan makan malam di sana. Terdengar seperti suara Micah. Melody pasti mampu melindunginya, tapi orang tidak akan berteriak seperti itu kalau bukan sesuatu yang benar-benar gawat!

Luciana sangat percaya pada Melody, sepenuh hati dan tanpa ragu, jadi apa pun yang terjadi, ia yakin itu pasti sesuatu yang serius kalau sampai mengeluarkan suara seperti itu.

“Ini tidak mungkin! Bilang kalau ini bohong!” terdengar lagi raungan lain yang terasa seolah bisa memecahkan kaca. Jeritan itu keluar dari lubuk jiwa, membawa rasa sakit yang begitu nyata dan menyayat, sejenis keputusasaan yang hanya lahir dari dasar jurang paling kelam.

Luciana mengatupkan gigi dan berteriak, “Kalian berdua tidak apa-apa?! Ada apa...”

Begitu ia menerobos masuk ke dapur, kepanikannya langsung lenyap.

“Tidak! Tidak, tidak, tidak, tidaaak!”

“Ini... sebenarnya ada apa di sini?”

Micah bersandar di meja dapur, wajahnya terkubur di antara lengan-lengannya, seluruh tubuhnya gemetar. Melody mondar-mandir dengan panik, ikut gelisah sendiri sambil berusaha menenangkan muridnya. Apa pun ini, jelas bukan keadaan darurat. Tidak ada penyusup. Tidak ada kebakaran. Dapur itu tetaplah dapur biasa.

“Boleh dijelaskan, Melody?” tanya Luciana sekali lagi.

“Oh, Nona. Ya, jadi, sebenarnya ini bukan sesuatu yang serius...”

“Bagian mana dari ini yang tidak serius, Miss Melody?!” sela Micah sambil mengangkat kepala mendadak. Air mata mengambang di pelupuk matanya.

Melody mencoba menjawab, tapi gagal.

“Seseorang bisa jelaskan padaku?” desak Luciana.

“Itu, anu...”

“Aku gagal!” ratap Micah. “Aku ini bukan apa-apa! Aku tidak bisa hidup tanpa sihir! Tidak bisa!”

“Ya, itu,” kata Melody.

Kebingungan Luciana justru semakin dalam. “Maaf, apa?”

Beberapa waktu sebelumnya...

“Nyalakan kompor, ya, Micah.”

“Baik, Madam!”

Sebuah panci berisi air sudah diletakkan menunggu di atas kompor. Micah pun bersiap menyalakan api agar airnya mendidih, tapi dengan apa? Batu api dan baja? Gesekan? Faktanya, dunia ini sudah memakai korek kayu. Korek kayu biasa. Ajaibnya, Keluarga Rudleberg belum semiskin itu sampai-sampai harus menghemat kemewahan sederhana seperti ini.

“Sebentar, kita taruh di mana, ya... Hmm. Miss Melody, kurasa korek kita habis.”

“Oh? Nanti aku catat untuk beli lagi.”

“Tapi sekarang gimana? Apa aku harus keluar beli?”

“Tidak, tidak, kita tidak boleh menunda makan malam. Biar aku saja. Kindle, Acce.”

Nyala api kecil muncul di ujung jari Melody. Dengan gerakan ringan, api itu melompat ke dalam kompor dan menyalakannya. Asap tipis pun mulai menyelinap keluar dari sela-sela kayu bakar yang mulai membara.

“Wah,” desah Micah. “Anda seperti penyihir tua.”

“T-tua? Aku kelihatan tua?”

“Oh, bukan! Bukan begitu maksudku! Anda cuma punya aura... jiwa tua! Nah, itu!”

“A-aku mengerti.”

Itu pujian, ya? pikir Melody.

“Aku serius, itu maksud yang bagus! Sungguh!”

Pikiran Micah melayang ke Jepang, tempat ia tumbuh besar dengan banyak tokoh penyihir kartun yang biasanya digambarkan sebagai sosok tua dan bijak. Ibu peri, peri ajaib yang berusaha membangunkan putri tertidur, jin yang terkurung dalam lampu... Singkatnya, Micah melihat sesuatu yang luar biasa dalam diri Melody. Mungkin agak seperti tokoh kartun, dalam arti ia bisa membuat tindakan paling biasa pun tampak megah, tapi tetap saja luar biasa.

Terus terang, hal-hal yang bisa dilakukan gadis itu memang menyeramkan. Benar-benar bahan mimpi buruk.

Andai aku juga bisa pakai sihir seperti itu, pikir Micah. Eh, tunggu. Aku memang bisa, dong! Di dunia ini sihir itu nyata!

Sudah tiga bulan berlalu sejak Micah terlahir kembali. Tiga bulan yang padat, penuh penyesuaian dan kejutan, apalagi dengan seorang heroine yang terlalu asyik main jadi maid sampai lupa menjalankan peran penyelamat dunianya. Tapi akhirnya, Micah sadar bahwa di dunia ini ia bisa mewujudkan semua impian fantasinya.

“Miss Melody!” serunya tiba-tiba.

“Y-ya?” Melody mundur selangkah.

“Aku ingin pakai sihir!”

“Sihir? Kau ingin belajar merapal mantra?”

“Iya, Miss Melody. Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, mungkin aku juga bisa berbuat sesuatu!”

“Yah, sebenarnya aku memang berusaha memakai korek dulu sebelum mengandalkan sihir, tapi ada benarnya juga.”

“Tunggu, memangnya Anda pakai korek?”

“Kalau aku terlalu sering menyelesaikan semuanya hanya dengan melambaikan tangan, kemampuanku bisa tumpul dengan cepat. Seorang maid harus menguasai banyak teknik, jadi bagiku sihir itu hanya untuk keadaan darurat.”

Micah mengangguk paham. Kalau dipikir-pikir lagi, sejak hari pertamanya bekerja, ia memang jarang melihat Melody memakai sihir yang mencolok. Kalaupun Melody sesekali menggunakan mantra, itu selalu sesuatu yang sederhana. Sangat berbeda dengan kepiawaiannya dalam pekerjaan maid, yang sama sekali tidak sederhana.

Miss Melody itu bukannya bodoh atau apa. Dia punya akal sehat. Jadi kenapa kalau soal sihir malah suka melayang begitu?

Kelopak mata Micah berkedut. Itu masalah untuk dipikirkan di lain hari. “Pokoknya, intinya aku mau belajar pakai sihir!”

“Baiklah...” Melody berpikir sejenak, lalu melirik nyala api yang berkeretak di dalam kompor. Ia mengangguk. “Kata orang, panci yang ditunggu tak akan cepat mendidih. Kita tidak punya waktu untuk pelajaran sungguhan, tapi kurasa aku bisa memeriksa jumlah mana milikmu dulu.”

“Iya! Terima kasih, terima kasih banyak, Miss Melody!”

Mereka pun mengambil kursi dan duduk saling berhadapan, lalu saling menggenggam tangan. Melody menyelidiki aliran energi dalam dirinya sama seperti saat ia memeriksa Luciana dulu.

Kalau Anna-oneechan tahu aku sedang duduk berhadapan begini dengan heroine sungguhan, dia pasti iri setengah mati.

Sambil Melody menutup mata dan berkonsentrasi, Micah memanjakan matanya dengan memandangi wajahnya. Ia menunggu hasilnya dengan sabar sambil menyeringai lebar. Tak lama lagi, ia juga pasti bisa menjentikkan percikan api dan menyalakan kompor sendiri.

Kalau cuma bisa memunculkan sedikit air seperti Luciana pun aku sudah puas, pikirnya, tapi bakal keren banget kalau aku bisa pakai mantra seperti Melody. Bukan berarti aku berharap terlalu tinggi. Harapanku? Rendah banget. Sangat realistis. Pikirannya lalu melayang pada Rook, versi baru dan dewasa dari Bjork. Keberadaannya memang aneh. Sama seperti di game, kekuatan Dark One sudah dikeluarkan dari dalam dirinya, tapi pria yang tersisa sekarang benar-benar berbeda dari yang ada di cerita asli.

Orang-orang dulu suka dia karena dia itu bocah kecil galak penuh kebencian, tapi sekarang dia tipe pendiam dan kuat. Kira-kira reaksi para fans bakal gimana, ya? Micah buru-buru menyadarkan diri sebelum lamunannya melenceng terlalu jauh. Ah, sudahlah. Yang penting semuanya berakhir baik. Aku sih tidak butuh kekuatan sehebat itu, tapi kalau aku bisa melempar fireball seperti di game, pasti keren banget!

Harapannya yang semula kecil mulai membengkak. Bagaimanapun juga, ia bereinkarnasi, dan itu biasanya datang dengan aturan genre tertentu. Aku memang tidak pernah ketemu dewa atau apa, tapi bagaimana kalau aku dikirim ke dunia ini dengan skill super overpower? Bisa saja, kan? Mungkin? Sangat mungkin! Ya ampun, gimana kalau nanti malah aku yang ambil peran heroine? Aku? Hah, yang benar saja!

Secara teknis, Micah memang pernah hidup sampai usia enam puluhan, tapi secara mental ia masih seperti siswi SMP. Mungkin suatu hari nanti memorinya akan kembali sepenuhnya dan ia akan menoleh ke masa ini dengan rasa malu atas semua fantasi konyolnya, tapi hari itu belum tiba. Jadi untuk saat ini, ia pun terus berkhayal sepuasnya.

Tiba-tiba, Melody membuka mata. “Aku... tidak tahu harus bilang apa,” gumamnya.

Micah langsung duduk lebih tegak. Apa? Tunggu. Jangan-jangan. Ini dia?

Waktunya telah tiba. Bintangnya mulai bersinar, dan kisah fantasi kekuatannya akan segera dimulai.

Melody melepaskan tangannya, menghela napas, lalu menatap lurus ke mata Micah. “Aku ingin kau tetap tenang setelah mendengar apa yang akan kukatakan ini, Micah.”

“O-oke.”

Kedengarannya serius. Tidak mungkin. Apa aku benar-benar akan jadi penyihir terkuat seperti Melo...

“Aku tidak merasakan jejak sihir sedikit pun darimu.”

“Kau... Apa?” Otak Micah berhenti bekerja sesaat. “Tidak... tidak ada jejak sama sekali? Maksudnya benar-benar nol? Mana-ku kosong?”

“Maaf, Micah. Tidak ada sama sekali. Sepertinya kau tidak punya bakat apa pun untuk merapal sihir.”

Sunyi.

“M-Micah?”

Masih sunyi. Mulut maid muda itu menganga seperti ikan mati, dan matanya pun tampak sama matinya.

Lalu teriakan itu pun dimulai, dan Luciana serta yang lain akhirnya mengetahui semuanya.

“Benarkah?” kata Luciana setelah mendengar penjelasannya. “Cuma itu... maksudku, aku turut sedih mendengarnya, Micah.”

“Oh, Nona!”

Micah, yang sekarang sudah jadi berantakan sambil menangis, langsung melemparkan diri ke pelukan nona mudanya. Luciana menerimanya dan menenangkannya dengan membelai rambutnya lembut, seperti kakak perempuan yang menenangkan adik kecilnya. Sama sekali bukan karena ia nyaris saja menganggap enteng penderitaannya barusan.

“J-jangan sedih, Micah,” Melody ikut membujuk. “Kau tidak butuh sihir untuk jadi maid yang hebat. Aku janji akan mengajarkan semua yang aku tahu, dan pada akhirnya kau bahkan tidak akan peduli lagi! Semangat, ya!”

“Miss Melody... itu tidak membantu,” isak Micah.

“Maaf, Melody. Kurasa dia benar,” sahut Luciana.

“Hah?! Tapi kenapa?!”

Besoknya akademi tidak mengadakan kelas, jadi malam berikutnya Luciana dan para pelayannya kembali ke kediaman keluarga.

Hari sudah lewat makan malam, dan sebenarnya Melody seharusnya sudah berada di tempat tidur, tapi ternyata ia malah sedang membersihkan dapur. Sebuah helaan napas lolos dari bibirnya.

“Ada masalah, Saudari Terkasih?” tanya Serena, yang menemaninya.

“Kemarin ada sedikit keributan dengan Micah.”

“Oh, soal pemeriksaan itu? Saat kau tahu dia tidak punya mana?”

“Dia terpukul sekali, dan hari ini pun kelihatannya masih murung. Sejak kami sampai, aku bahkan belum melihatnya sama sekali. Apa jangan-jangan aku membuatnya tersinggung?”

Melody tidak bisa melupakan wajah muram Micah, juga caranya menyuap makan malam dengan sedih dan lesu semalam. Tapi di sisi lain, dia tetap makan. Bahkan tambah satu porsi, malah.

Melody menggeleng. Ia tahu seperti apa wajah sedih, dan yang ini sudah lebih dari sekadar sedih. Ini benar-benar terpuruk!

“Dia sedang mengunjungi panti asuhan, Saudari Terkasih.”

“Hah?”

“Besok Micah libur, jadi dia dan Rook pergi mengunjungi panti asuhannya. Kudengar mereka juga menginap di sana.”

“O-oh. Oh, begitu. Syukurlah kalau begitu.” Melody menggaruk pipinya yang mulai memerah. Rupanya keadaan anak buahnya itu memengaruhi dirinya lebih dari yang ia kira. Bagaimana bisa maid terhebat masa depan sampai lupa jadwal kerja rekannya sendiri?

Serena tersenyum seperti patung Yunani kuno, seolah merasa terhibur, tetapi matanya tetap dingin seperti marmer.

“Serena?”

“Bukankah hari ini seharusnya giliranmu libur juga?” katanya. “Aneh sekali kau masih ada di sini.”

“Liburku? O-oh.” Melody menunduk. “Kau yakin?”

Serena terus menatap penciptanya tajam. “Kau bebas melakukan apa pun dengan waktu luangmu, tetapi aku harus memperingatkan bahwa bekerja terlalu keras akan menciptakan lingkungan yang tidak sehat bagi orang-orang di sekitarmu. Mari sedikit menahan diri, ya?”

“I-iya. Tentu. Maaf. Akan kulakukan.”

Kadang Serena menakutkan juga, pikir Melody. Dengan cara yang agak membuat nostalgia...

Ibunya, Selena, juga sering tersenyum seperti itu saat kesabarannya mulai habis, dan Serena adalah cerminan dirinya. Melody sendiri tak tahu bagaimana boneka hidup itu bisa menampilkan aura sang ibu sedemikian sempurna. Mungkin ingatan dan perasaannya sendiri ikut berperan. Bagaimanapun juga, ada saat-saat ketika ia hampir tak bisa membedakan keduanya.

Aku sebenarnya bisa hidup tenang tanpa dia mewarisi kebiasaan yang satu itu.

Setelah ingatan kehidupan lampaunya kembali di usia enam tahun, Melody mengambil peran sebagai anak ajaib paling hebat yang pernah ada. Tapi itu tidak berarti ia selalu menjadi anak yang paling mudah diurus. Ibunya sudah berkali-kali memarahinya habis-habisan demi membuatnya sadar diri. Lebih dari sekali, Melody pernah berada di luar sampai larut malam demi berlatih mengejar mimpinya menjadi maid. Bahkan pernah juga ia hampir tersandung karena matanya terpaku pada seorang maid yang lewat, lalu menutupinya dengan serangkaian salto akrobatik yang justru membuat orang-orang bertepuk tangan.

Ibunya tidak merasa itu sehebat penduduk kota. Senyumnya memang seperti malaikat, tapi di balik itu... wah, aura yang sama persis sedang kurasakan sekarang dari Serena.

Bagaimana bisa ekspresi selembut itu tetap menyampaikan kemarahan, sekaligus menimbulkan rasa takut?

“Kau akan melakukan apa, Melody?”

“A-aku akan menahan diri, Madam! Saya minta maaf, Madam! Peringatannya sudah saya pahami!”

Saking terguncangnya, Melody sampai tidak menyadari adanya nuansa keibuan halus dalam nada bicara Serena. Lebih aman menunduk dan mengakui kesalahan daripada mencoba membantah. Tentu saja, permintaan maaf seperti itu sering kali tidak sepenuhnya tulus, tanpa niat sungguh-sungguh untuk ditepati. Siapa pun yang pernah hidup di Bumi modern pasti akan mudah melihat celah dalam penyesalannya.

“Aku akan pegang kata-katamu itu, Saudari Terkasih.” Serena menggeleng lelah. “Kembali ke soal Micah, kalau kurangnya bakat sihir membuatnya tertekan, kenapa tidak ditutupi saja dengan alat sihir?”

“Aku memang sempat memikirkannya.” Melody kembali membersihkan dapur. Kali ini lebih cepat dan sedikit lebih tergesa.

“Baru dipikirkan saja?”

“Rasanya agak hampa.”

“Kenapa?”

“Begini. Saat ini dia harus memakai korek untuk menyalakan api. Kalau kuberikan alat sihir yang melakukan itu untuknya, pada dasarnya aku cuma mengganti korek dengan pemantik.”

“Masuk akal juga.”

Banyak benda, artefak, alat, dan perlengkapan di dunia ini berfungsi berkat sihir. Salah satu contohnya adalah toilet siram yang seolah bisa membuang dan memurnikan kotoran dengan sendirinya tanpa pipa air. Tapi apa itu berarti setiap orang biasa yang menekan tombol flush bisa disebut penyihir? Melody jelas tidak berpikir begitu, apalagi karena banyak barang sihir seperti itu, di matanya, hanyalah benda yang di Jepang bisa dibeli di toko serba ada atau toko bangunan.

“Menurutku perbedaannya ada pada niat,” kata Melody. “Yang membuat sihir begitu indah adalah ketika seseorang mewujudkan pikiran dan perasaannya sendiri melalui mana miliknya sendiri. Aku masih ingat mantra pertama yang kupakai. Perasaan berdebar dan antusias saat menciptakan berbagai macam sihir ala maid. Saat berlatih. Alat yang melakukan semuanya untukmu rasanya tidak akan pernah sama.”

“Poinmu bagus sekali, Saudari Terkasih. Aku terlahir dengan sihir, jadi soal itu kau punya pengalaman yang tidak kumiliki.”

“Yah, kau sebenarnya dibuat dengan sihir, jadi...” Kalimat Melody menggantung.

“Saudari Terkasih?”

“Dibuat dengan sihir,” gumam Melody, terlalu pelan untuk didengar Serena. “Secara artifisial...”

“Ada apa?”

“Serena, kau bisa memakai sihir sesukamu, kan?”

“Y-ya. Seperti katamu sendiri, kau memang menciptakanku agar bisa.”

“Jadi kau bisa merasakannya. Kau bisa merasakan mana di dalam dirimu dan memanipulasinya.”

“Tentu saja. Aku tak akan layak disebut penyihir kalau tidak bisa.”

Sebenarnya dia sedang menuju ke mana? pikir boneka itu.

Melody melanjutkan, “Kalau dipikir-pikir, kau sendiri bisa dibilang semacam alat sihir, bukan?”

“Kurasa bisa dibilang begitu. Alat yang unik, karena aku punya kehendak bebas dan kepribadian, tapi logikanya benar. Kenapa kau menanyakan semua ini?”

“Benar. Secara teknis kau memang item sihir, tapi kau bisa merasakan dan memakai sihir seperti manusia. Dan itu berarti... Ya, kurasa memang begitu!”

Serena tersentak saat suara Melody meninggi karena kegembiraan. “Apa maksudnya?”

“Tidak ada waktu untuk santai. Ayo cepat kita selesaikan ini, Serena! Kita masih punya pekerjaan!”

“Hah? S-Saudari Terkasih!”

Melody langsung tancap gas, mendadak membersihkan dapur dengan kecepatan mengerikan seolah-olah justru dialah boneka yang baru diputar kuncinya. Dan semua itu tanpa sihir. Benar-benar mengerikan.

“Kali ini dia dapat ilham aneh apa lagi?” gumam Serena pada dirinya sendiri. “Semoga bukan sesuatu yang keterlaluan.”

Konsep foreshadowing tampaknya belum terasa relevan baginya saat itu.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Melody menghilang lewat pintu Ovunque Porta, lalu kembali beberapa waktu kemudian.

“Serena, aku kembali! Maaf meninggalkan sisa pekerjaan untukmu.”

“Sekarang seharusnya kau sedang libur. Jadi ke mana kau pergi? Apa yang kau lakukan?”

Melody terkikik dengan cara yang agak menyeramkan. “Aku pergi mengambil ini.” Ia meletakkan sebuah keranjang di meja dapur lalu membalikkannya hingga isinya tumpah keluar.

“Itu... batu,” kata Serena. “Batu kusam. Tunggu, bukan. Warnanya memang pudar, tapi ini perak.”

Sepuluh bongkah logam seukuran telapak tangan berserakan di atas meja dapur, kusam dan belum dipoles.

“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Serena.

“Ingat tempat pertama kali kau bertemu Rook? Kau ingat, kan?”

“Di hutan yang sering kau kunjungi itu. Tapi kenapa ada perak murni di tempat seperti itu?”

Bahan itu adalah alas yang dahulu menopang pedang yang menyegel Dark One. Setelah Melody menyerap kekuatannya untuk dijadikan jantung Serena, alas itu, peninggalan dari Saint sebelum Melody, runtuh menjadi puing-puing.

“Aku tidak percaya waktu itu aku tidak menyadarinya.” Serena memiringkan kepala. “Jadi apa yang ingin kau lakukan dengan semua ini?”

Melody terkekeh lalu mengangkat salah satu bongkah perak itu. “Kita akan membuat Micah jadi penyihir!”

Beberapa jam lewat tengah malam, cahaya bulan menumpahi halaman kediaman.

Melody berjalan ke tengah halaman. Sepuluh bongkah perak mengelilinginya dalam jarak yang sama. Serena mengawasi dari agak jauh.

Melody menutup mata. “Annerire, release.”

Ia melepas penutup kepalanya, dan rambutnya pun terurai bebas. Helai-helai panjang hitam legam itu berubah menjadi perak, seolah warnanya terkelupas. Warna yang sebenarnya memang bukan milik asli rambut itu.

Saat ia membuka mata, kekosongan gelap yang biasa tergantikan oleh sepasang mata biru lapis lazuli.

Pekerjaan halus, pikirnya. Aku tak boleh membiarkan mantra lain ikut mengganggu.

“Kalau sudah siap, Saudari Terkasih,” ujar Serena.

“Baik.”

Melody kembali memejamkan mata dan berkonsentrasi. Seiring itu, energi perak memancar dari tubuhnya. Ia mengangkat kedua tangan, seolah mempersembahkan sesuatu kepada bulan yang tergantung tinggi di langit. Batu-batu itu pun terangkat dan memancarkan warna keperakan yang sama dengan energi yang memenuhi halaman.

Lalu mereka mulai berputar.

Tangan Melody turun perlahan dan terbuka lebar ke samping. Ia mulai bernyanyi, lalu menari di tengah sistem tata surya mini itu. Gerakannya lembut. Lirik tanpa kata, tangga nada sederhana namun musikal, nada-nada yang naik turun seiring gemerlap bintang mengubah taman itu menjadi panggung lain dari dunia ini. Lengannya tidak berayun, melainkan mengalir di udara. Kakinya tidak melangkah, melainkan meluncur. Di bawah cahaya bulan itu, yang berdiri di sana bukanlah seorang maid, melainkan dewi perak.

Batu-batu itu berputar mengelilinginya, berkilau semakin redup hingga kesepuluh bongkah itu akhirnya meleleh sepenuhnya. Namun warna peraknya tetap ada, terus menari bersama bintang di tengah halaman, melebur dan menyatu menjadi satu.

Serena tertegun, terpukau oleh pemandangan di depannya. Oh, Saudari Terkasih. Mana-mu memang jauh di atasku, tapi seharusnya kemampuan kita sama. Meski begitu, aku pun tak berani membayangkan bisa melakukan hal seperti ini.

Ritual itu sendiri adalah bagian dari prosesnya. Sebuah mantra yang begitu rumit dan kompleks, sampai unsur makna dan gerakan biasa saja mustahil bisa menirunya.

Keadaan menuntut agar nyanyian dan tariannya tetap bersifat abstrak. Rumit bahkan belum cukup untuk menggambarkan prosedur ini. Setiap bagian dari teka-teki itu, setiap jarak antarnada, setiap tarikan napas, setiap getaran suara, setiap gerakan tubuh, semuanya adalah elemen penting. Dengan cara itulah Melody berharap bisa memanggil kerumitan yang tak terpikirkan sebelumnya, lalu menenun instruksi yang jauh lebih halus dan lebih teliti ke dalam sihirnya. Dan ia berhasil.

Namun tugas ini adalah sesuatu yang sangat besar, bahkan bagi Melody. Ritual itu menuntut seluruh fokus yang ia miliki, tanpa boleh ada gangguan sedikit pun dari mantra kamuflase yang biasa dipakainya.

Tentu saja, itu juga berarti halaman itu kini berubah menjadi mercusuar energi perak yang luar biasa kuat. Langit seolah bisa saja turun ke Kediaman Rudleberg, dan orang yang kebetulan lewat pasti bisa melihatnya, belum lagi nyanyian Melody yang tak mungkin ia redam demi kesopanan terhadap tetangga. Siapa pun bisa saja menemukan mereka, terutama Luciana, tapi tak seorang pun melakukannya. Ritual itu berlangsung tanpa sedikit pun gangguan.

Karena itulah Serena harus berada di sana. Semuanya tersembunyi sempurna, Saudari Terkasih. Kali ini saja, kau tak perlu menahan diri.

Serena telah menyelimuti halaman dengan mantra privasi yang mengurung seluruh cahaya dan suara di dalamnya. Itu juga memberi Melody ketenangan untuk menampilkan rambut dan mata aslinya di ruang terbuka.

Dan ritual itu terus berlanjut, sampai akhirnya nyanyian itu berhenti.

Keheningan turun ke halaman. Melody sekali lagi mengangkat kedua tangan ke arah bulan. Gumpalan gabungan dari sepuluh bongkah perak, yang kini masih berupa logam cair tak berbentuk, melayang di ujung jarinya.

Benda itu berdenyut dan berkilau sampai Melody mengucapkan kata-kata terakhir ritual tersebut padanya.

“Magic emerge, Crea Immagina.”

Massa perak itu berkilau.

“We’re returned.”

“We’re back...”

Micah kembali ke kediaman setelah menginap di panti asuhan, dengan Rook di sampingnya. Rook ikut terutama karena kebetulan ia juga sedang libur hari itu, tapi memang akhir-akhir ini ia cenderung menempel terus pada Micah. “Cenderung” karena pria itu bukan tipe yang banyak bicara.

Mungkin kedekatan itu lahir karena Micah-lah yang memberinya nama. Mungkin ada kenangan terlupakan dalam dirinya yang terusik oleh keberadaan Micah. Hanya Rook yang tahu, dan ia menyimpannya untuk dirinya sendiri.

“Selamat datang kembali,” sapa Serena sambil berhenti sejenak dari persiapan makan malam. “Beristirahat dengan baik? Eh, kurasa Rook tidak.”

Meskipun baru dua hari lalu ia mengalami krisis hebat karena tak punya bakat sihir, suasana hati Micah kini sedikit membaik setelah menghabiskan waktu di tempat yang bisa dibilang adalah rumah baginya.

Aku masih tetap ingin bisa pakai sihir, akunya dalam hati, tapi perjalanan ini cukup menyegarkan.

Lalu ada Rook. Bjork Quichel, yang dulunya pemuda berwajah anak laki-laki, kini tumbuh sesuai usianya dan menjadi pria yang sangat enak dipandang, semua berkat Melody tanpa sepengetahuannya. Dulu, saat masih menjadi Bjork, rambut ungunya acak-acakan dan dipotong pendek asal-asalan, tapi sekarang rambut itu tertata rapi, menonjolkan garis wajahnya yang sudah jauh lebih maskulin. Mata abu-abunya yang aneh, hampir seterang perak, membuat orang bertanya-tanya isi pikiran apa yang tersembunyi di baliknya. Tingginya kurang lebih sama dengan Christopher, dan meskipun tubuhnya ramping, otot-ototnya mengisi pakaiannya di semua tempat yang tepat. Kemejanya menempel pas di pinggang yang langsing, menonjolkan bentuk tubuh menyerupai jam pasir yang mungkin akan dianggap sia-sia bila dimiliki pria.

Bahkan dalam keadaan lesu pun, ketampanannya tetap terpancar.

“Anak-anak bikin dia kerepotan banget, kurasa,” kata Micah.

“Aku akan menganggap kalimatmu itu lebih harfiah dari dugaanku semula.”

“Begini saja. Anak-anak itu memang tidak suka tidur tepat waktu.” Micah terkikik.

Serena ikut tertawa kecil.

“Aku tidak merasa itu lucu,” desah Rook.

Kesimpulan alami saat Micah pulang bersama pria muda tampan tentu cuma satu, jadi Micah dan Rook pun harus menghadapi hujan pertanyaan tentang “pacar baru” Micah. Sebagian anak yang lebih suka belajar lewat sentuhan malah terang-terangan menusuk dan meraba-raba juga.

Rook menghadapi semuanya sebagaimana biasanya ia menghadapi segala hal, dengan tenang dan diam. Dan itu segera menjadi penyesalannya. Kebungkamannya ditafsirkan anak-anak sebagai “iya”, yang justru semakin menegaskan keyakinan mereka bahwa ia memang anggota baru “keluarga” itu. Dan kalau sudah dianggap keluarga, maka ia adalah sasaran aman untuk diganggu, direcoki, dan diajak main sesuka hati. Dengan amnesia dan kemungkinan besar juga tanpa pengalaman berguna untuk menghadapi anak-anak, Rook benar-benar tak berdaya melawan tangan-tangan kecil yang terus menarik-narik dirinya.

Tak peduli bahwa Micah sudah membantah tuduhan soal hubungan mereka. Sayangnya, kebanyakan anak kecil memang menderita penyakit kronis bernama “pendengaran selektif.”

Anak-anak adalah harta berharga. Tapi mereka juga bocah-bocah liar yang seenaknya sendiri.

“Kurasa mulai sekarang aku akan menjaga jarak dari panti asuhan,” kata Rook.

“Kau tidak perlu begitu kalau akademi sudah mulai libur musim panas,” kata Micah. “Kami akan pulang ke rumah bersama Nona Luciana. Ngomong-ngomong, aku memang harus memberi tahu panti soal itu. Bagaimana? Satu kali lagi saja sebelum kami berangkat?”

“Mungkin... asal tidak menginap.”

“Hati-hati, nanti dia malah mengirimmu ke sana untuk selamanya,” goda Serena.

“Jangan, tolong.”

Rook menghela napas. Micah dan Serena terkikik. Mereka tahu pria malang itu sedang mengalami growing pain yang datang terlambat. Kalau ia benar-benar membenci ide itu, pasti akan tampak jelas.

Lagipula, dia tetap menuruti anak-anak itu semampunya, padahal dia bisa saja mengabaikan mereka, kenang Micah.

Rook sendiri sudah tidak mengingatnya lagi, tetapi masa kecil yang bahagia pernah direnggut darinya lebih awal. Micah berharap ia bisa menemukan sedikit kedamaian lewat panti asuhan, meskipun ia sendiri tak sadar bahwa ia membutuhkannya.

“Pokoknya, kami sudah cukup istirahat,” kata Micah. “Aku bisa bantu menyiapkan makan malam kalau... eh, Miss Melody mana?”

Melody tidak terlihat di dapur, dan itu aneh sekali untuk workaholic sepertinya. Biasanya, sulit sekali menjauhkan dia dari pekerjaan.

“Aku sudah memastikan dia mengambil hari libur,” kata Serena.

“Miss Melody?! Libur?!” seru Micah.

“Dan dia setuju?” tanya Rook. Ia memang belum lama bersama Keluarga Rudleberg, tapi bahkan dia pun tampak tak percaya. Sampai membuat orang bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sudah ia lihat sampai bisa memahami maid sinting itu secepat ini.

“Aku kagum,” kata Micah. “Biasanya dia pakai waktu liburnya buat jadi ‘maid demi kesenangan.’ Aku tak tahu bagaimana caramu melakukannya, Serena.”

Serena tertawa kecil. “Hari ini dia memang sangat kelelahan. Sejak pagi dia istirahat di kamarnya.”

“Sejak pagi? Kau yakin dia tidak sakit?”

“Oh, tidak. Bukan seperti itu.”

Tiba-tiba pintu terbuka.

“Selamat pagi, Serena,” ujar seorang maid sambil menguap. “Maaf. Aku akan segera membantu menyiapkan makan malam.”

“Akhirnya bangun juga. Selamat pagi, Saudari Terkasih.”

“Atau selamat sore, mungkin. Aneh juga bangun dan langsung melihat matahari terbenam.”

“Miss Melody,” kata Micah, “apa Anda tidur dari semalam sampai sekarang?” Ia sedang berada di panti asuhan saat itu, dan ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat kejadian yang tak masuk akal ini.

“Oh, halo, Micah. Selamat datang kembali.”

“Terima kasih, tapi Anda tidak apa-apa? Sebaiknya Anda kembali tidur kalau memang sedang tidak enak badan.”

“Aku baik-baik saja. Kemarin aku cuma sedikit memakai terlalu banyak mana, itu saja. Tidur nyenyak sebentar sudah cukup.” Melody tersenyum menenangkan.

Mata Micah justru semakin membesar. Miss Melody memakai “terlalu banyak mana”? Dia? Dengan statistik gilanya itu? Memangnya dia melakukan apa lagi kali ini?!

Sebagai satu-satunya orang di Keluarga Rudleberg yang tahu kebenaran peran Melody dalam game, Micah sulit menelan penjelasan itu begitu saja.

Melody, yang sama sekali tak menyadari semua ini, ternganga kecil. “Ah, aku hampir lupa! Aku punya hadiah untukmu, Micah.”

“Hadiah? Untukku?”

“Betul. Ini.” Dengan wajah berseri-seri, ia menyodorkan sebuah benda kecil.

“Liontin?”

Sebuah ornamen kecil berbentuk telur tergantung di ujung rantai perak yang diangkat Melody. Di kedua sisinya ada sepasang sayap kecil, dan di bagian tengahnya tertanam batu lapis lazuli berbentuk hati.

“Cantik sekali,” kata Micah. “Tapi kenapa?”

“Itu akan membantumu memakai sihir,” kata Melody. “Kubuat semalam.”

“Itu... apa?”

Micah membeku saat semuanya tersusun di kepalanya seperti deretan domino. Jadi ini maksudnya memakai terlalu banyak mana. Jadi ini yang dia lakukan!

Melody terus tersenyum puas, tampak senang karena hadiah kejutannya berhasil menjalankan fungsinya. Terutama bagian “kejutan”-nya.

Micah tak tahu harus bagaimana menghadapi perangkat plot tingkat nuklir yang kini ada di tangannya. Keraguan dan kebimbangan berkilat di matanya, tapi gairah segera menyapu semuanya.

Benarkah? pikirnya. Aku benar-benar bisa merapal mantra dengan ini? Sungguh?

“Terima kasih, Miss Melody! Jadi aku tinggal memakainya saja?” Ia memasukkan kepala ke rantai kalung itu dan memakainya di leher. “Begini?”

Solusi yang elegan, pikir Micah. Tinggal menanamkan beberapa mantra dasar ke sebuah perhiasan, lalu pemakainya cukup mengucapkan kata ajaibnya, dan voila. Penyihir instan. Sudah pasti itu tujuan Melody dengan ciptaan terbarunya ini.

Memang aku tidak akan jadi penyihir sungguhan, tapi pasti rasanya mirip!

Jantung Micah berdebar-debar karena antusias.

Tapi Melody sudah siap menghancurkan angan-angannya. “Tidak, bukan begitu sama sekali.”

Micah ambruk seperti komedian yang sengaja menjatuhkan diri di panggung. Ia memang bukan orang Osaka, kampung halaman komedi Kansai, di kehidupan sebelumnya, tapi ia yakin mereka pasti akan mengagumi aksinya barusan.

“Um... kau tidak apa-apa?”

“Bukan, aku Micah!”

Sayang sekali, pendaratan memang selalu bagian tersulit. Micah si Maid Magang Reinkarnasi, ahli lempar celetukan lurus tak tertandingi, mulai kehabisan materi. Kalau ia tidak segera menemukan bahan baru, penontonnya bisa bosan dan dunia hiburan akan melumat lalu meludahi...

Ahem. Micah bukan komedian. Tapi memang ada situasi tertentu yang menuntut celetukan.

“Miss Melody, barusan Anda bilang benda ini akan membuatku bisa memakai sihir!”

“Aku memang bilang begitu, dan memang akan, tapi caranya bukan sekadar dipakai.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ini adalah alat sihir bernama Uovo del Mago, Telur Sang Penyihir, dan ya, fungsinya memang persis seperti kedengarannya. Di dalamnya ada sesuatu yang akan membantumu dalam perjalanan belajar merapal sihir.”

“Tunggu, ini telur sungguhan?!” Micah memegangnya dengan hati-hati dan menelitinya dekat-dekat. “Ini telur burung?”

Rook ikut memandangi benda itu, sama bingungnya. Hanya Serena yang tersenyum tipis sambil menikmati rasa penasaran yang dibiarkannya menggantung.

“Apa pun yang menetas nanti tergantung padamu,” jawab Melody.

“Tergantung padaku?”

“Bisa jadi anjing, kucing, kelinci, atau burung. Bisa juga sapu, tongkat sihir. Bahkan cincin.”

“Itu kan bukan makhluk hidup!”

“Itu akan menjadi apa pun yang paling kau butuhkan, dan belum tentu harus makhluk hidup. Tenang saja, pasangan yang keluar nanti akan jadi partner yang paling cocok untukmu, benar-benar dibuat khusus hanya untukmu.”

“Khusus untukku... Tapi untuk apa?”

“Supaya kau bisa memakai sihir, tentu saja. Itulah alasan utama aku menciptakan Uovo del Mago.” Melihat semua orang menatapnya dengan muka kosong, Melody melanjutkan, “Ide ini muncul berkat Serena.”

“Serena?”

Micah menoleh ke boneka itu. Serena membalas dengan senyum lembut dari balik punggung Melody. Memang mudah sekali lupa bahwa Serena adalah eksistensi arkana, automaton maid sihir.

“Pada dasarnya Serena adalah item sihir, tapi dia bisa merasakan dan memanipulasi sihir dengan bebas. Yang dibutuhkan hanyalah mana dan kemampuan untuk memahaminya, dan aku menciptakannya dengan dua hal itu. Sayangnya, kau tidak punya yang pertama, jadi secara otomatis kau juga tak bisa punya yang kedua. Tapi lalu aku terpikir bahwa kekurangan seseorang selalu bisa dilengkapi.”

“Dilengkapi dengan apa?”

“Pada dasarnya, yang kau butuhkan hanyalah sumber mana dari luar dan katalis, atau fokus, untuk merapal.”

Micah menatap liontin di lehernya. “Dan yang akan menetas dari benda ini adalah itu?”

Ini lebih terasa seperti beast tamer atau summoner daripada penyihir.

Micah menebak bahwa semacam Serena Mark II akan menetas dari telur itu, lalu makhluk itulah yang akan melakukan semua perapalan sihir. Jujur saja, itu sama sekali tidak terasa seperti “penyihir” baginya.

Tapi Melody langsung memahami isi kepalanya dan tersenyum. “Aku paham sekali. Kalau bukan dirimu yang merapal, maka yang kau miliki cuma alat mewah. Aku memikirkan keras bagaimana menyelesaikan masalah itu, dan aku pastikan, Uovo del Mago adalah jawabannya.”

Micah memiringkan kepala, masih belum yakin.

“Saat membuatnya, aku memakai metode yang sama seperti saat menciptakan Serena,” lanjut Melody, “yakni menanamkan kepribadian dengan mantra Alter Ego. Hanya saja ada satu perbedaan. Aku membersihkan seluruh pengetahuan dan ingatanku. Kecuali hal-hal paling dasar yang dibutuhkan untuk perapalan sihir.”

“Apa maksudnya, pengetahuan dan ingatan Anda?”

“Uovo del Mago itu seperti kertas kosong. Bawalah ia terus bersamamu, dan selama kau membawanya, ia akan belajar dari pengetahuan dan ingatanmu. Begitu ia menyesuaikan diri dengan pikiran dan caramu memandang dunia, kau akan mendapat partner yang sempurna.”

“Menyesuaikan diri maksudnya dia akan keluar persis seperti aku?”

“Maksudku, kau akan jadi fondasinya. Ia belajar darimu agar sesuai dengan kebutuhanmu, tapi tetap akan lahir dengan kepribadiannya sendiri. Tentu, kalau bentuk yang keluar nanti memang bisa punya kepribadian.”

“Semakin dijelaskan, aku malah semakin takut.”

“Memang banyak hal dari telur ini yang mustahil diprediksi. Tentu saja, apa pun yang keluar nanti tidak akan membahayakanmu, tapi untuk soal seberapa cerdas ia nanti, apakah ia akan bisa memahami ucapan manusia, hal-hal seperti itu baru bisa kita ketahui setelah menunggu. Bisa jadi ia cuma hewan peliharaan, atau semacam benda kecil, atau bentuk praktis maupun tidak praktis lainnya.”

“Itulah kenapa semuanya tergantung dia,” kata Rook mewakili Micah, yang masih terlalu sibuk mencerna penjelasan ini.

“Coba jelaskan, Rook,” tuntut Micah.

“Telur itu akan membentuk pikiran dan tubuhnya agar sesuai dengan milikmu. Dengan kata lain, identitas dari apa pun yang akan lahir nanti akan dibentuk olehmu. Jadi semuanya memang tergantung dirimu. Melody mustahil bisa memprediksi apa yang akan keluar dari telur itu.”

Micah merintih pelan. Kedengarannya itu tanggung jawab yang berat sekali.

Tidak ada hubungannya, tapi memang bukan hal aneh kalau Rook menyebut Melody tanpa sapaan hormat. Ia jarang sekali memakai panggilan seperti “Tuan” atau “Nyonya.”

“Jangan terlalu dipikirkan,” kata Melody. “Seperti yang kubilang tadi, apa pun yang menetas, dia akan menjadi partner sempurna sekaligus fokus untuk perapalan sihirmu. Kalian berdua pasti akan akur sekali. Itu nyaris sudah pasti.”

Dan bagaimana caraku “akur sekali” kalau yang keluar malah benda mati? pikir Micah tak kuasa menahan diri.

Ia hampir saja memutar mata, tapi akhirnya memilih pasrah pada cara Melody. Melody tak mungkin menyesatkannya. Ia harus percaya pada itu. Meski rasa tertekan karena tanggung jawab yang tiba-tiba dilemparkan padanya ini jelas sangat nyata.

Masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

“Miss Melody, Anda bilang partner ini akan membantuku memakai sihir, tapi tepatnya bagaimana caranya?”

Bahkan andaikan yang keluar nanti adalah salinan Micah sendiri, bukankah tetap saja makhluk itulah yang akan merapal mantra, bukan Micah?

Melody tersenyum lebar. “Ia bukan satu-satunya yang akan menyesuaikan diri. Saat kalian berdua semakin selaras, kalian akan membentuk semacam ikatan sinkron. Mana milik partnermu dan kemampuannya mengubah mana itu akan menjadi milikmu juga.”

Micah ternganga saat makna kata-kata itu akhirnya masuk ke kepalanya. “J-jadi maksud Anda aku akan bisa merasakan sihir lewat dia? Mungkin ‘lewat dia’ kurang tepat. Kalau kami saling selaras, mungkin pikiran kami pun akan tersambung. Dan kalau pikiran saja bisa tersambung, maka... yang lain juga akan tersambung, kan?”

Ia menoleh ke Serena, bukti hidup bahwa perangkat sihir buatan mampu memanipulasi mana sesuka hati. Partner itulah yang menjadi pemanipulasi, dan Micah adalah kehendaknya. Dan itu berarti, selama mereka bersama...

Aku bisa jadi penyihir. Penyihir sungguhan!

Tiba-tiba, telur itu berkilau.

Micah memekik. “A-apa itu tadi?”

“Telurnya sudah mulai menyesuaikan diri,” jelas Melody. “Apa pun yang barusan kau rasakan, itu memberi pengaruh yang besar.”

“Dia merasakan... apa yang kurasakan?”

Micah mencoba menghidupkan kembali emosi singkat tadi. Bahagia. Kegembiraan bahwa mimpinya mungkin benar-benar akan terwujud. Uovo del Mago merespons emosi itu dengan cara yang sama.

Entah kenapa rasanya hangat dan menenangkan.

Makhluk yang belum lahir itu sekarang miliknya, dan ia merasakan apa yang Micah rasakan. Pikiran itu cukup menggetarkan, tapi tidak menakutkan.

“Saudari Terkasih,” sela Serena saat Micah masih sibuk mengagumi telur itu, “bagaimana benda ini bisa punya cukup mana untuk mempertahankan dirinya sendiri?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Micah.

“Bahannya cukup konduktif, jadi itu bukan masalah,” jawab Melody. “Seharusnya cadangan mana di dalamnya cukup sampai ia menetas.”

“Perak,” tebak Rook sambil meneliti hasil kerajinan itu.

Seluruh bagiannya memang terbuat dari perak, sampai ke rantainya juga. Rantai itu sendiri sudah cukup untuk menjadikan liontin itu aksesori yang berharga, tapi semua hal lain tentang benda itu jelas jauh lebih luar biasa. Dan sejujurnya, “hal lain” itulah yang mungkin membuat nilainya jauh melampaui sekadar harga logamnya.

“Logam adalah bahan yang paling konduktif terhadap sihir,” jelas Melody. “Entah kenapa aku sangat cocok bekerja dengan perak, jadi aku sudah menyimpan cukup banyak.”

Iya, ya, kira-kira kenapa, ya! Micah benar-benar terkutuk oleh pengetahuan yang tak semestinya ia miliki.

“Meski begitu, jumlahnya masih tidak sebanyak yang kuinginkan. Sayangnya, hasilnya masih belum setara dengan Serena.”

Melody menggaruk pipinya dengan malu-malu, seolah itu berarti ia telah gagal.

Rook berdeham pelan dan mengangguk.

Masih belum sebanyak yang kuinginkan, ulang Micah dalam hati dengan nada sarkastis. Standar yang dia inginkan pasti tidak masuk akal!

Standar Melody memang luar biasa tinggi, untuk ukuran apa pun.

“Pokoknya, kurang lebih begitu,” kata Melody. “Maukah kau menerimanya?”

“Tentu saja!” teriak Micah. “Terima kasih banyak, Miss Melody!”

Tak ada orang waras yang menolak kesempatan untuk memakai sihir. Micah bahkan tidak butuh satu detik pun untuk ragu.

Aku bisa jadi penyihir! Aku benar-benar bisa jadi penyihir! Ini pasti akan baik-baik saja, kan? Insiden Penyihir Cemburu memang sempat kacau, tapi ujung-ujungnya tetap berhasil. Yang ini juga pasti aman!

Begitulah kata-kata yang diucapkan manusia sebelum membuat banyak keputusan buruk. Tunnel vision benar-benar penyakit yang nyata dan berbahaya.

“Ngomong-ngomong,” kata Rook, “dari mana kau mendapatkan perak untuk membuat ini?”

Logam mulia jelas tidak murah.

“Dari hutan tempatku biasa mencari bahan,” jawab Melody. “Kau pasti tidak ingat. Di sana ada alas yang sudah runtuh. Aku cuma mengambil beberapa bongkah besar darinya.”

“Anda mengambil apa?!” seru Micah.

“Kenapa kau berteriak begitu?” kata Melody.

Segala rasa kagum dan takjub Micah langsung terbang keluar dari dapur bersama suaranya. Hanya ada satu alas perak di hutan itu. Memang benar benda itu secara teknis sudah menunaikan perannya dalam menyelamatkan Rook, tetapi itu tidak mengubah kenyataan mengerikan tentang Uovo del Mago.

Kini Micah memegang sebuah perangkat plot yang daya hancurnya jauh lebih mengerikan daripada bayangannya. Ini bukan sekadar benda plot. Ini penghancur plot.

Dan satu-satunya hal yang kini bisa dilakukan gadis malang itu hanyalah bertanya-tanya, kali berikutnya maid itu akan melakukan kegilaan macam apa lagi.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa