Musim panas pun tiba. Tepatnya tanggal lima Agustus.
Di bagian utara-tengah Theolas, wilayah kekuasaan kecil milik Keluarga Rudleberg membentang di atas sebidang tanah yang tak seberapa luas. Wilayah itu telah menyusut cukup parah akibat kepemimpinan yang begitu ceroboh dua generasi sebelumnya, hingga yang tersisa hanyalah puing-puing dari kegagalan masa lalu. Peristiwa memalukan itulah yang kemudian menjadi awal mula julukan buruk Ignobles, sebutan kasar yang baunya seolah tak pernah bisa benar-benar hilang.
Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, setelah utang terakhir mereka akhirnya lunas, dan ketika mereka nyaris berhasil melepaskan diri dari hinaan yang begitu lama membayangi, nasib tampaknya masih belum berniat membiarkan Keluarga Rudleberg bangkit. Panen buruk pada tahun sebelumnya memaksa sang count mengambil keputusan berat, dan uang yang seharusnya bisa dipulihkan lewat pajak serta pemasukan lain justru harus dikorbankan demi kesejahteraan rakyat mereka.
Namun, kepemimpinan tanpa pamrih sang penguasa wilayah tak luput dari perhatian kerajaan. Karena itulah Count Rudleberg yang sekarang berhasil memperoleh jabatan di Royal Chancery yang bergengsi. Betapa berubah-ubahnya keberuntungan, ketika tindakan yang tampaknya kecil justru bisa menimbulkan akibat besar dan tak terduga di masa depan yang tak terlihat.
Tak lama kemudian, kediaman mereka di ibu kota kembali digunakan setelah sekian lama terbengkalai. Di sanalah sisi jahat nasib menunggu, ketika Keluarga Rudleberg tanpa curiga mengirim putri tunggal mereka untuk menempati rumah besar yang penuh sarang laba-laba dan kabar angker. Namun keadaan sekali lagi segera berbalik, dan si maid sinting itu pun muncul, membawa sihir, mukjizat, dan entah apa lagi di antaranya.
Sampai di titik itu, bahkan Dewi Keberuntungan pun mungkin mulai bertanya-tanya seberapa besar semua ini benar-benar berkat dirinya.
Namun, mereka yang berada di kediaman utama Keluarga Rudleberg belum mengetahui semua itu. Belum. Hari itu adalah tanggal lima Agustus, hari yang baru, hari yang panjang, hari dengan banyak tugas yang harus dibereskan dan sama sekali tak menyisakan waktu untuk memikirkan gagasan hitam-putih konyol milik seorang fanatik.
“Tunggu sebentar, Dyrule.”
“Ya, Tuan Hubert?”
Di ruang kerja itu duduk Hubert Rudleberg, adik laki-laki Count Hughes. Wajah mereka cukup mirip, tetapi bentuk tubuh mereka sangat berbeda. Di usia tiga puluh dua tahun, Hubert saat ini menjabat sebagai pengelola sementara wilayah keluarga.
Berbeda dengan tubuh Count Hughes yang ramping namun tetap tampan, Hubert Rudleberg memiliki badan kekar dengan otot-otot yang terawat. Overall yang tergantung di atas kemeja polos berkerahnya seakan menjelaskan dari mana bentuk tubuh itu berasal. Jujur saja, ia lebih mirip petani daripada bangsawan.
Dua pria lain juga berada di ruangan itu bersamanya: Ryan, kepala pelayan, dan Dyrule, sang penjaga. Keduanya untuk sementara meninggalkan tugas biasa mereka dan kini sedang berjibaku dengan tumpukan dokumen yang menggunung di atas dua meja darurat. Meski Keluarga Rudleberg hanya memerintah tiga desa kecil, mengurus semuanya sekaligus tetap bukan pekerjaan yang bisa ditangani seorang diri.
Hubert mengulurkan seikat dokumen kepada Dyrule. “Bisa tolong pastikan kepala desa Durnan di barat daya menerima ini?”
“Tuan, tugas saya adalah menjaga Anda.”
“Itu justru berarti kau jauh lebih cocok menghadapi terik matahari daripada Ryan yang malang. Cuaca begini bisa menjatuhkannya seperti panen tahun lalu.”
“Itu candaan yang tidak pantas, Tuan,” tegur Ryan, kepala pelayan berusia lima puluh sembilan tahun itu. “Masih ada sedikit semangat tersisa di tulang tua saya ini.”
Ryan memang cukup sigap untuk orang seusianya. Tapi tetap saja belum cukup sigap untuk mengubah keputusan Hubert.
Dyrule sendiri mengerti itu. Keengganannya tadi lebih merupakan formalitas belaka.
“Baiklah, sesuai perintah,” jawab sang penjaga dengan nada enggan. “Namun izinkan saya mengingatkan sekali lagi agar Anda tidak meninggalkan kediaman sebelum saya kembali.”
“Penilaianmu terhadapku tinggi sekali kalau kau kira aku akan bebas dari lembah kertas ini sebelum kau pulang.”
“Kurasa aku akan kembali sebelum makan siang.”
“Baik. Hati-hati di jalan.”
Dyrule pun keluar dari ruang kerja dengan wajah masam, dan kali ini bukan sekadar pura-pura. Kediaman mereka tidak memiliki kuda, jadi ia harus pergi dengan berjalan kaki. Perjalanan santai akan memakan waktu dua jam, atau satu jam jika ia berlari kecil. Bagaimanapun juga, itu tetap berarti beberapa jam akan habis.
Setelah memandangi kepergian rekannya dari jendela, Hubert kembali menekuni pekerjaannya.
Selama dua jam berikutnya, hanya suara gesekan pena yang memecah keheningan ruangan itu. Namun setelah itu, ketiga pria tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
“Terkutuklah pekerjaan remeh menyebalkan ini,” gerutu Hubert. “Andai saja aku bisa berada di ladang sekarang.”
Tak mengherankan, Hubert memang tipe orang yang lebih cocok hidup di alam terbuka. Ia jelas orang berpendidikan, terbukti dari kemahirannya memakai pena, tetapi kecintaan sejatinya berada di luar sana, bersama matahari, rumput liar, dan tanah yang dibajak.
Kecintaan itu bermula sekitar lima belas tahun lalu. Karena cinta dan hormat kepada kakaknya, Hubert mencari cara untuk membantu Hughes memulihkan kembali martabat keluarga mereka, dan dari situlah ia menemukan dunia pertanian. Karena wilayah keluarga Rudleberg tidak memiliki komoditas unggulan, tanah mereka bergantung pada hasil panen sederhana seperti gandum dan berbagai sayuran. Menurut Hubert, tugas seorang penguasa adalah mendukung cara hidup rakyatnya sebagaimana adanya, bukan memaksa perubahan yang tidak mereka butuhkan.
Bagi Hubert, kebahagiaan adalah otot yang pegal karena kerja keras di bawah matahari. Topi jerami, handuk yang basah oleh keringat, dan suara cangkul menghantam tanah. Ia hanya sanggup bertahan menghadapi jam-jam panjang bersama pena dan kertas karena semua itu pada akhirnya mengarah pada tujuan tersebut. Tapi tetap saja, ia sangat ingin menyingkirkan pekerjaan ini agar bisa merawat kebunnya di belakang kediaman. Kadang-kadang, ia bahkan berkeliling ke desa-desa untuk membantu mengerjakan ladang milik orang lain.
Aku rindu tanah, keluhnya dalam hati.
Meski cara ia menelungkupkan wajah di meja sudah cukup menyampaikan isi pikirannya dengan jelas.
“Begitu ini selesai, Tuan akan punya waktu seharian penuh nanti sore,” kata Ryan.
“Kalau selesai...” erang Hubert.
Pekerjaan mereka memang tidak sampai berlebihan secara konyol, tapi cukup banyak untuk membuat dua orang kewalahan. Dan itu baru untuk tiga desa. Hubert sempat membayangkan betapa sibuknya keadaan pada masa kejayaan keluarga mereka, lalu bergidik sendiri.
Terdengar ketukan di pintu.
“Ini Aasha. Saya membawa teh.”
“Masuk,” kata Hubert. “Terima kasih.”
“Tentu.”
Salah satu dari tiga maid di kediaman itu pun masuk. Aasha adalah perempuan lajang berusia dua puluh delapan tahun, bertubuh ramping dengan rambut merah yang diikat rapi menjadi satu kepang besar.
Sambil mendorong troli teh, Aasha sempat melihat sekeliling ruangan seolah mencari sesuatu, tapi tampaknya tidak menemukannya. “Apa Dyrule pergi ke suatu tempat?”
“Saya menyuruhnya ke Durnan untuk suatu urusan,” jawab Hubert.
“Saya mengerti. Jadi hanya dua cangkir, Tuan?”
“Itu sudah cukup, terima kasih.”
Aasha menuangkan teh hitam kecokelatan ke dalam dua cangkir, sementara cangkir ketiga yang tak terpakai ia sisihkan. Setelah selesai, ia segera keluar.
Hubert menyesap tehnya. “Kasihan gadis itu. Dia sudah berusaha keras membuat minuman sampah ini jadi layak diminum. Kita benar-benar harus mulai mencari teh dengan kualitas yang lebih baik.”
Teh pilihan Keluarga Rudleberg, Belleschwit, adalah jenis paling rendah dari yang masih berani disentuh bangsawan. Begitu rendahnya sampai bangsawan rendahan pun enggan menurunkan diri ke level itu. Namun Keluarga Rudleberg, walaupun tahu betul betapa buruknya teh itu, pada akhirnya terbiasa juga. Bertahun-tahun mencoba dan gagal membuat mereka menemukan cara seduh yang sangat khusus, sehingga Belleschwit yang terkenal buruk itu setidaknya masih bisa diminum. Sedikit, setidaknya.
“Kalau ada satu maid saja di luar sana yang bisa menyelamatkan daun teh ini, saya ingin bertemu dengannya, lalu langsung mempekerjakannya,” canda Ryan.
“Kau akan mendapat dukungan penuh dariku,” sahut Hubert sambil tertawa kecil.
Mereka sama sekali belum tahu.
Kedua pria itu pun kembali tenggelam dalam pekerjaan, dan satu jam segera berlalu.
Hubert menghela napas panjang. “Aku mulai bisa melihat cahaya di ujung terowongan.”
“Dua jam lagi seharusnya cukup,” kata Ryan.
“Dua jam? Berarti waktunya mepet sekali.”
“Ada sesuatu yang Tuan rencanakan...? Ah, benar. Kepulangan Nona Luciana.”
“Aku berharap bisa menyambutnya tanpa latar belakang tumpukan dokumen setinggi gunung. Dan kalau boleh serakah, sekalian melihat tanamanku.”
Luciana Rudleberg adalah keponakan Hubert, putri pertama sekaligus satu-satunya dari Hughes. Saat ini ia bersekolah di Royal Academy, dan bulan Agustus menandai dimulainya libur musim panas tahunan akademi itu. Beberapa hari lalu, sebuah surat tiba memberitahukan rencana kepulangan Luciana. Perjalanan dari akademi memakan waktu sekitar lima hari, dan sekarang sudah tanggal lima. Jika semuanya berjalan baik, mereka mungkin akan melihatnya sore ini juga.
“Oh, kira-kira apa yang akan kami lakukan bersama nanti?” Hubert cekikikan seperti gadis sekolah. “Mungkin dia akan tertarik dengan ladangku.”
“Jangan sekali-kali membawa nona muda ke tempat seperti itu.”
Ryan menyipitkan mata ke arah Hubert.
“A-aku tahu.” Hubert tersentak. “Aku cuma bercanda.”
Ryan menghela napas.
“Lord... eh, maksud saya, Tuan Hubert, Master Ryan,” ujar seorang anak laki-laki sambil masuk ke ruang kerja. “Lullia bilang kalian diminta ke ruang makan. Makan siang hampir siap.”
“Schue,” tegur Ryan, “sudah berapa kali kubilang kau harus mengetuk dulu? Tata kramamu masih buruk.”
“Oh, benar juga! Maaf banget!”
Wajah bocah itu langsung pucat di balik kulitnya yang kecokelatan karena matahari. Schue adalah anak laki-laki lima belas tahun dengan rambut kuning cerah yang tebal dan mata keemasan yang serasi sekali. Meski begitu, ia masih dalam masa pelatihan. Terlepas dari soal tata krama, bocah itu benar-benar tampan: garis wajahnya tegas, tubuhnya ramping tapi tidak kurus, juga tidak terlalu kekar. Seharusnya ia bisa dengan mudah memikat hati banyak gadis.
Seharusnya.
Ekspresinya langsung melunak seperti puding. “Mira bikin pasta dingin yang enak banget! Bagus, kan? Musim panas memang panas banget! Kita memang enggak punya es, jadi mienya didinginkan pakai air sumur, tapi pasti enak kok! Setidaknya menurutku begitu!”

Sayang sekali pesona halus yang ia miliki malah terbuang percuma hanya karena tingkahnya yang kelewat polos.
Sungguh mengagumkan betapa buruknya senyum itu terlihat saat dipakai olehnya. Sedikit sikap tenang dan cool saja pasti akan jauh lebih efektif di mata para gadis, pikir Hubert. Ia ingat pernah mengatakan hal serupa pada anak itu, tetapi Schue menolak mentah-mentah dengan alasan “citra diri” atau semacamnya. Meski begitu, yah, harus diakui ada daya tariknya juga. Bukan jenis pesona yang biasanya dicari perempuan, memang, tapi tetap saja itu pesona.
Butuh bakat tertentu untuk bisa setampan itu sekaligus secanggung itu. Bagaimanapun juga, Hubert merasa tingkah ceria Schue cukup menyenangkan. Ia menyukai anak itu.
Kediaman ini pasti akan terasa sangat pengap tanpa anak muda yang meramaikannya, pikir sang pengelola wilayah. Syukurlah kami membawanya masuk.
Musim semi yang lalu, saat melakukan peninjauan ke desa paling utara mereka, Tenon, Hubert menemukan Schue. Entah dari mana anak itu kabur, Hubert jelas tak tega membiarkannya tergeletak begitu saja di pinggir jalan, jadi ia membawanya ke kediaman dan memberinya tempat sebagai pelayan pribadi magang, pekerjaan yang ternyata cukup dikuasai Schue. Soal tata krama memang masih lambat, tetapi ia cekatan dalam pekerjaan tangan, termasuk, yang membuat Hubert sangat senang, pekerjaan ladang.
Hanya saja, ada satu masalah.
“Tuan Hubert, Anda bilang keponakan Anda pulang hari ini, kan? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya! Semoga dia secantik yang Anda bilang!”
Schue memang agak mata keranjang.
Bukan berarti ia punya niat buruk. Hanya saja, setiap kali bertemu perempuan yang menurutnya menarik, ia seperti tak bisa menahan diri untuk langsung menyatakan suka. Dan tentu saja, setiap usahanya selalu berakhir kacau. Yang paling aneh justru, bahkan setelah ditolak, entah bagaimana ia tetap berakhir akrab dengan mereka semua.
Selama empat bulan terakhir, Schue sudah mencoba mendekati hampir semua gadis sebayanya di setiap desa, dan semuanya gagal total. Hubert cukup kagum pada kegigihan dan kekuatan mental anak itu. Metodenya sih kurang bisa dipuji, tapi usaha tetap harus dihargai.
“Aku harap kau sudah membersihkan peralatan perak itu seperti instruksiku,” sela Ryan.
“Sudah, Master Ryan! Tinggal menunggu pemeriksaan Anda!”
“Bagus. Nanti setelah makan siang akan kulihat.”
Keluarga Rudleberg hampir tak memiliki apa-apa lagi, karena sebagian besar harta mereka sudah dijual untuk melunasi utang turun-temurun keluarga. Meski begitu, mereka masih menyimpan beberapa peralatan makan perak asli. Bukan untuk dipakai, tentu saja, melainkan untuk mengajari para pelayan baru cara memoles logam mulia. Ryan adalah pengajar yang teliti, dan ia percaya bahwa pelayan yang tak bisa menjaga kilau peralatan dengan benar bukanlah pelayan yang layak disebut pelayan. Pelajaran itu menjadi langkah pertama dalam perjalanan panjang untuk menjadi pelayan pribadi yang semestinya.
Entah seberapa serius hal itu benar-benar dipikirkan oleh bocah hiperaktif tersebut.
“Harumnya enak sekali, Lullia,” kata Hubert saat memasuki ruang makan.
“Sebentar lagi siap, Tuan. Silakan duduk dulu. Mira, bawakan segelas air untuk Tuan Hubert.”
“Baik, Madam!”
Seorang wanita bertubuh agak gemuk berusia empat puluh sembilan tahun, dengan rambut cokelat biasa yang diikat rapi agar tak menutupi wajah, sibuk bekerja di dapur. Dialah Lullia, kepala pelayan wanita di kediaman itu. Sementara itu, seorang maid lain yang tubuhnya lebih ramping dan berambut hijau pucat bergegas membawakan minuman untuk tuannya. Mira beberapa tahun lebih muda dari Lullia, berusia empat puluh empat tahun. Aasha sibuk menata meja.
Para pria di rumah itu, yang tidak punya tugas menjelang makan siang, duduk tenang di meja makan, seperti pulau-pulau kecil yang hening di tengah aula yang sibuk.
“Maaf membuat Anda menunggu, Tuan,” kata kepala maid itu. “Menu siang ini agak tidak biasa, tapi Schue yang memaksa.”
“Oh? Begitu rupanya?”
“Anak itu terus ribut soal perlunya makanan yang bisa membantu melawan panas musim panas. Akhirnya dia terpaku pada ide sup dingin dan mi dingin, tapi jujur saja, kombinasi rasa seperti itu benar-benar baru bagiku. Butuh cukup banyak percobaan sampai bumbunya terasa pas.” Lullia meletakkan sepiring makanan di depan tuannya, tampak cukup puas dengan hasil akhir percobaan itu.
Keluarga Rudleberg memang unik dalam banyak hal, termasuk soal kebiasaan makan mereka. Para pelayan dan tuan rumah makan di meja yang sama di kediaman itu, tapi bukan karena mereka akrab secara khusus. Secara praktis saja, dengan jumlah penghuni rumah yang sedikit seperti sekarang, memisahkan tempat makan hanya akan menambah pekerjaan yang tak perlu. Kediaman mereka di ibu kota menuntut tata krama yang lebih tinggi, termasuk jamuan makan dengan cara yang lebih resmi. Dan tentu saja, ada seorang maid luar biasa yang punya andil besar dalam memungkinkan semua itu.
Tak lama kemudian, sepiring pasta dingin telah tersaji di setiap tempat duduk. Mata Schue berbinar-binar penuh kebanggaan melihat ide darinya benar-benar terwujud.
“Wah, ini kelihatan enak banget, Lullia!” serunya.
Sang kepala pelayan wanita terkikik. “Kurasa kali ini aku memang bekerja sangat baik. Silakan, Tuan Hubert.”
“Apa kita tidak menunggu Dyrule dulu?” tanya Aasha dengan hati-hati.
“Entah kapan dia akan kembali,” jawab Hubert. “Lagipula, membiarkan masakan Lullia kehilangan dinginnya bukankah sama saja menghina jerih payahnya? Menurutku kita mulai saja. Bagaimana, semuanya?”
Itu hanyalah makan siang biasa di hari yang biasa.
Hari biasa, saat nasib kebetulan mengarahkan pandangannya ke sana.
Tak ada yang benar-benar bisa mengetahui arus takdir, tindakan mana yang akan menimbulkan gelombang seperti apa. Sama seperti Keluarga Rudleberg yang sama sekali tak mungkin tahu bahwa pada saat itu juga, bahaya sedang mengincar nyawa mereka.