Ripīto Vaisu: Akuyaku Kizoku wa Shinitakunai no de Shitennō ni Naru no o Yamemashita Volume 1 Afterword

Catatan: Mengandung sedikit spoiler untuk arc Negeri Wano dari manga One Piece.

Kepada para pembaca,

Terima kasih banyak sudah mengambil novel ini. Saya Yukitsugu Kurokawa, penulisnya. Sebagai pembuka, saya ingin bertanya, apakah kalian punya yang namanya “karakter favorit”? Maksud saya bukan karakter dari novel ini, melainkan karakter dari anime, manga, atau novel secara umum. Singkatnya, karakter yang bisa kalian bilang benar-benar kalian sukai.

Sebagai orang yang menulis tentang villain, saya memang merasa ada pesona yang sulit ditolak dari tokoh antagonis. Kalau diibaratkan, saya ini lebih suka Baikinman daripada Anpanman.

Mungkin saya belum selama Baikinman yang legendaris berkecimpung di dunia villain, tapi di antara banyak villain, favorit saya adalah Basil Hawkins dari One Piece. Saya benar-benar menyukainya, sampai tidak berlebihan rasanya kalau saya bilang dia adalah pilihan nomor satu saya. Meski porsi kemunculannya di keseluruhan cerita tidak terlalu banyak, cara hidupnya membuat saya merasa sangat terhubung sekaligus terinspirasi. Dia selalu mengambil keputusan berdasarkan hasil ramalannya, memilih jalan dengan kemungkinan hidup paling tinggi. Dan pada akhirnya, dia justru memilih jalan dengan peluang hidup hanya satu persen. Realis licik yang satu ini tidak berjudi pada peluang hidup satu persen itu, melainkan menghadapi kenyataan bahwa masa depannya adalah kematian. Selama ini dia terus mengorbankan harga dirinya demi bertahan hidup, bahkan sampai bergabung dengan musuh, tetapi pada akhirnya dia memilih untuk mengutamakan harga diri dan kehormatannya. Bahkan jika itu berarti memutarbalikkan cara hidup yang selama ini ia pegang.

Kecintaan saya pada Basil Hawkins benar-benar mantap saat menyaksikan akhir hidupnya. Hawkins adalah tipe orang yang rela merendahkan diri sampai ke pihak musuh, bahkan menjadikan orang lain sandera jika perlu. Di mata sebagian orang, dia mungkin terlihat sebagai villain pengecut dan menyedihkan, seseorang yang tega mengorbankan orang lain demi keselamatannya sendiri. Kalau hanya sampai situ, dia memang bisa dianggap sekadar antagonis kelas kecil. Namun pada saat dia membuat pilihan terakhirnya, dia berubah dari villain kecil menjadi sosok yang sangat manusiawi dan memiliki harga diri. Di situlah gambaran saya tentang Basil Hawkins terasa lengkap. Seperti kata orang, akhir yang baik akan membuat segalanya terasa baik. Memang, penyempurnaan dirinya datang lewat kematian, tetapi saya sendiri termasuk orang yang masih percaya dia selamat. Soalnya dia memang bilang peluangnya masih satu persen. Kalau belum nol, berarti belum benar-benar pasti. Diam-diam saya berharap suatu hari nanti dia muncul lagi di cerita utama, atau paling tidak di ilustrasi sampul, sebagai seseorang yang ternyata masih hidup.

Sekarang saya harus mulai membahas novel Repeat Vice dari sudut pandang meta, kalau tidak editor saya bisa marah karena kata penutup ini isinya cuma pembicaraan soal karakter favorit. Novel ini pada dasarnya adalah peti harta karun, atau lebih tepatnya kotak Pandora, yang dipenuhi selera pribadi Kurokawa.

Kalau melihat protagonisnya, Rofus, di bagian akhir cerita, saya rasa kalian bisa menebak macam-macam hal. Kutukan, mata berbeda warna, lengan yang hilang, sihir dalam jumlah besar, kegelapan... rasanya seperti terlalu banyak atribut yang dijejalkan sekaligus. Sampai-sampai memunculkan krisis historis yang agak nostalgik. Yang menakutkan, sebenarnya Rofus dari awal tidak direncanakan akan menjadi seperti itu. Meski saya sendiri yang menyusun dan menyesuaikan alurnya, ada beberapa hal seperti kutukan, mata berbeda warna, dan hilangnya lengan yang murni muncul secara kebetulan karena perkembangan cerita. Dengan kata lain, ini seperti reuni dengan masa lalu gelap yang sudah saya kubur dalam-dalam di ingatan. Jadi beginilah rasanya saat kewarasan perlahan terkikis. Tetapi ini adalah cerita yang saya mulai sendiri. Musuh yang saya hadapi adalah monster tragis yang saya ciptakan sendiri. Karena itu, saya harap kalian akan terus menikmati Rofus, perwujudan dari masa lalu gelap saya sekaligus monster tragis itu.

Terima kasih kepada “kalian” yang telah mengambil buku ini. Saya menantikan saat bisa bertemu kalian lagi.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa