Heroine? Seijo? Iie, All Works Maid desu (Hoko)! Volume 2 Chapter 7 — Kesatriaan dan Kemaidan

“Semoga harimu menyenangkan, Lady Luciana.”

“Terima kasih! Sampai nanti!”

Lady-nya Melody berangkat ke hari kelima sekolahnya dengan ceria. Baru setelah sosoknya lama menghilang dari pandangan, sang maid kembali ke kamar dan mengembuskan napas kecil.

“Kalau begitu, saatnya bekerja.”

Dengan ujian dan orientasi yang sudah selesai, semester kini benar-benar dimulai. Pagi Luciana diisi mata pelajaran inti, sementara sorenya diisi dengan mencoba berbagai kelas pilihan, persis seperti yang sudah dijelaskan padanya sebelumnya. Keadaan baru akan benar-benar stabil di semester kedua, saat kelas pilihan resmi dibuka untuk pendaftaran murid tahun pertama, tetapi sampai saat itu Luciana berniat mencoba sebanyak mungkin.

Selama dua hari sekolah terakhir, Luciana sudah menghadiri empat kelas: Studi Arkana Terapan bersama Luna, Kimia Obat bersama Perriand, Ilmu Kesatriaan bersama Lucif, dan Etiket Terapan bersama ketiganya. Ia hampir tidak ikut berpartisipasi dalam kelas Ilmu Kesatriaan, tetapi setiap mata pelajaran pilihan tetap berhasil membangkitkan minatnya, setidaknya sedikit. Dan tentu saja, Melody mendengar semua ceritanya nanti.

Terlepas dari pengawasan Olivia yang selalu terasa menempel, kehidupan Luciana di akademi berjalan lancar. Bahkan lebih dari lancar. Berkat teman-temannya di kelas lain, lingkaran sosialnya perlahan juga mulai meluas.

“Tak ada yang lebih membuatku bahagia selain melihat Lady-ku menikmatinya. Seandainya aku juga...”

Melody memeriksa hasil kerjanya di kamar tidur Luciana. Tidak ada setitik debu pun. Perabot di sana masih baru dan dalam kondisi baik, tetapi Melody membersihkannya seolah Luciana baru saja pindah kemarin. Maid lain mana pun pasti akan memandang hasil seperti ini dengan bangga.

Namun Melody hanya menghela napas dan melirik jam.

Baru lewat pukul sebelas pagi.

“Sudah selesai lagi...”

Hidup di asrama ternyata terasa sangat menyiksa bagi maid yang satu ini.

“Kamu serius mengeluh soal itu?”

Sasha menggeleng dari seberang meja di aula makan.

Blish hanya berkedip.

“Jadi maksudmu kamu bisa membersihkan seluruh tempat tinggal, mencuci, mengurus perawatan dan perbaikan, mulai menyiapkan makan malam, dan entah apa lagi semuanya sebelum tengah hari, lalu itu malah jadi masalah?” Warren memasang senyum miring penuh heran. “Kamu ini sebenarnya apa, Melody?”

“Aku serius, kalian,” kata Melody sambil manyun.

“Lucu,” gumam Blish.

Pikirannya selalu kembali ke tempat yang sama. Bisa jadi bocah itu sedang jatuh cinta. Mudah-mudahan tidak, demi kebaikannya sendiri. Kalau iya, sebaiknya ia benar-benar menjaga mulut di sekitar seorang lady tertentu.

“Dari semua yang kamu ceritakan,” kata Sasha, “kedengarannya kamu memang luar biasa berbakat dalam pekerjaanmu, dan itu kalau mau dibilang halus. Sejujurnya aku malah agak iri.”

“Aku cuma berharap pekerjaanku terasa lebih... entahlah, lebih menantang,” jelas Melody. “Tentu saja aku akan dengan senang hati mengurus semua kebutuhan Lady-ku tanpa mengeluh, tapi kediaman keluarga jauh lebih besar. Ada jauh lebih banyak yang bisa dikerjakan, apalagi dengan ibu Lady Luciana yang juga harus dilayani. Jauh lebih menyenangkan.”

“Kurasa kamu satu-satunya orang di kerajaan ini yang menganggap kerja itu menyenangkan,” komentar Warren dengan nada sinis.

Melody memiringkan kepala, benar-benar bingung. “Tapi memang jadi maid itu menyenangkan.”

Warren sempat bimbang apakah ia harus kagum atau khawatir. Pada akhirnya ia memutuskan itu bukan urusannya.

Dari mansion seorang count ke kamar asrama untuk satu nona muda memang perubahan yang membingungkan. Sekarang semuanya selesai begitu cepat. Lebih sedikit yang harus dibersihkan, lebih sedikit pakaian untuk dicuci, lebih sedikit makanan yang harus disiapkan setiap waktu makan. Terus terang, bagi Melody, dan mungkin hanya bagi Melody, perubahan ini terasa seperti penurunan pangkat.

Pada titik ini, ia justru bersyukur Lady-nya melarangnya menggunakan sihir. Kalau tanpa sihir saja ia sudah sebosan ini, ia tak bisa membayangkan seberapa parahnya kalau ia bisa menyelesaikan semua pekerjaan hanya dengan menjentikkan jari.

“Kenapa tidak fokus kenalan lebih dekat dengan pelayan lain?” saran Warren. “Meskipun, ya... kurasa itu memang butuh waktu.”

“Sayangnya, aku cukup sial dalam hal itu.”

Asrama membuat Melody lebih sulit bertemu kenalan baru daripada yang ia bayangkan. Tidak membantu juga bahwa ruang cuci Upper Hall, tanah suci percakapan spontan itu, ternyata tragisnya sangat jarang dipakai.

Kenyataan pahitnya, kebanyakan pelayan terlalu sibuk mengurus kebutuhan tuan atau nyonya mereka untuk membangun jaringan. Tanpa ruang cuci, aula makan ini adalah satu-satunya harapan Melody untuk berinteraksi. Dan tetap saja, Melody tampaknya tidak benar-benar masuk ke dalam lingkaran mana pun. Sasha dan teman-temannya masih menjadi satu-satunya titik kontak yang ia punya di akademi. Tentu saja, para sahabat masa kecil Luciana juga punya pelayan yang menggunakan aula makan ini, tetapi Melody belum pernah bertemu mereka dan sama sekali tak punya cara untuk mengenali siapa mereka di dunia ini, jadi kalaupun bertemu, itu murni karena kebetulan.

“Kalau kalian bertiga sendiri?” tanya Melody. “Sudah kenal siapa saja?”

“Sejujurnya, itu bukan prioritas besar buatku sekarang,” kata Sasha. “Aku ini maid ruang tamu, tapi sekarang aku juga harus mengerjakan tugas housemaid di atas itu. Tanganku benar-benar penuh.”

“Aku iri sekali.”

Sasha menghela napas. Pekerjaan rumah tangga jelas bukan spesialisasinya.

Tugas Blish sendiri sebagian besar adalah perawatan bangunan atau pekerjaan berat lain yang serba tanggung.

“Aku satu-satunya pendamping tuanku, sama sepertimu,” kata Warren. “Tapi kamar di Common Hall kecil-kecil, jadi sebenarnya mengurus semuanya juga tidak terlalu banyak kerjaan.”

“Aku jadi tidak terlalu iri.”

“Kurasa kamu kebalik,” kata Warren.

Walaupun sebagian besar penghuni Common Hall datang ke akademi sendirian, tetap ada pengecualian, jadi beberapa kamar memang punya ruang pelayan yang terhubung.

“Aku malu merasa tidak puas dengan pengabdianku pada Lady-ku,” aku Melody, “tapi aku benar-benar tidak bisa menyingkirkan perasaan ini.” Ia menghela napas panjang.

Sementara Blish sedang merenungi keindahan baru dalam rasa bosan, Sasha mendapatkan ide.

“Ngomong-ngomong, kamu sudah lihat papan pengumuman belum?”

“Papan pengumuman? Ada papan pengumuman?” tanya Melody.

“Di sini, di aula makan ini. Di sana.”

Sebuah papan besar penuh berbagai pemberitahuan memang berdiri di dekat pintu masuk.

“Harus kuakui, aku sama sekali tidak menyadarinya,” kata Melody.

“Kita benar-benar harus memperbaiki beberapa kemampuanmu yang tidak berhubungan dengan maid, Melody,” kata Sasha. “Tolong hati-hati di dunia luar.”

“C-catatan diterima,” gagap Melody. “Lalu, soal papan pengumuman tadi.”

“Ya,” kata Sasha. “Aku lihat ada lowongan yang mencari pelayan untuk posisi sementara. Sepertinya seorang pengajar mata pelajaran pilihan yang masih kontrak sedang mencari asisten. Tidak ada batasan umur atau gender juga, jadi kalau kamu memang benar-benar mati gaya karena terlalu banyak waktu kosong, kenapa tidak coba itu?”

“Pendamping murid memang boleh mengambil pekerjaan seperti itu?” tanya Melody.

“Kurasa boleh saja, mengingat pengumumannya ditempel di ruang makan pendamping murid. Pasti ada banyak keluarga yang punya pelayan lebih dari cukup. Kudengar posisinya hanya untuk satu semester, dan kalau tidak salah tertulis mendesak.”

Melody menghabiskan makan siangnya lalu segera berlari ke papan pengumuman. Ia menemukan lowongan yang dimaksud dengan mudah, lengkap dengan kata “MENDESAK” tercetak besar dan tebal, persis seperti kata Sasha. Posisi itu mencari asisten untuk pengajar kontrak mata pelajaran pilihan Ilmu Kesatriaan, hanya untuk satu semester. Tugasnya termasuk membantu persiapan pelajaran dan membantu sebelum serta selama kelas berlangsung. Tidak ada batasan gender maupun usia. Izin dari tuan atau nyonya wajib ada. Pengumuman itu juga menjabarkan berbagai detail lain, termasuk upah.

Yah, Sasha memang benar. Tidak adanya batasan umur atau gender membuatku berpikir pekerjaannya seharusnya cukup ringan. Kurasa ini memang bisa menyelesaikan masalah terlalu banyak waktu luang di sore hari.

Meski begitu, Melody tetap ragu. Rasa ingin tahu beradu dengan keengganan aneh yang bahkan tak bisa ia jelaskan sendiri. Sebagai asisten pengajar, ia akan bisa masuk ke gedung sekolah yang megah, dan itu seharusnya hanya membawa pengalaman baik baginya. Tawaran ini sangat menggoda, namun tetap saja... ia terdiam.

Malam itu, ia membawa ide itu kepada Lady-nya.

“Asisten mata pelajaran pilihan?” kata Luciana. “Tentu, aku sama sekali tidak keberatan. Ambil saja.”

“Anda yakin?” tanya Melody.

“Aku tahu akhir-akhir ini kamu bosan sekali. Semester ini aku sendiri berencana mencoba sebanyak mungkin kelas, jadi kamu tidak akan menelantarkanku di sore hari. Lagipula, bukan berarti aku tidak bisa mengurus diriku sendiri kalau kamu pulang sedikit terlambat.”

“S-saya mengerti. Terima kasih, Lady Luciana.”

Ternyata keadaannya tidak tersembunyi serapi yang ia kira. Luciana langsung memberi izin, tetapi Melody tetap merasa setengah hati.

Keesokan paginya, Melody menyelesaikan semua dokumen yang diperlukan, dan sore itu juga jadwal wawancaranya sudah ditetapkan. Rupanya, dia satu-satunya orang yang menanggapi lowongan itu. Kebanyakan pelayan puas hanya mengabdi pada keluarga mereka sendiri, dan kebanyakan keluarga, kecuali milik Fae Princess tampaknya, tidak mau meminjamkan bantuan mereka.

Karena itu, Melody mendapatkan izin khusus untuk masuk ke area akademi yang sebenarnya, sesuatu yang memang ia perlukan untuk menghadiri wawancaranya.

Pada dasarnya, Ilmu Kesatriaan adalah kelas bermain pedang. Memang ada kuliah tentang rincian kode kesatria, tentu saja, dan juga pelatihan berjalan dalam formasi, tetapi inti dari mata pelajaran pilihan itu tetaplah seni bela diri. Karena itu, para pengajarnya sering mengadakan kelas di arena kampus. Para pengajar itu sendiri biasanya adalah ksatria aktif, atau setidaknya pernah menjadi ksatria, dan juga dipilih secara khusus. Hanya orang-orang paling cocok dan paling terhormat dari ordo mereka yang akan dipilih untuk mengajar mata pelajaran ini.

Dan salah satu orang terhormat itulah yang akan mewawancarai Melody.

Namun begitu Melody membuka pintu dan melihat rambut pendek merah menyala serta mata keemasannya, status orang itu menjadi hal terakhir yang ada di pikirannya.

“Lect?”

Tak lain dan tak bukan, pria yang berdiri di kantor itu adalah Sir Lectias Froude, love interest ketiga dalam The Silver Saint and the Five Oaths, seorang ksatria muda berusia dua puluh satu tahun yang melayani Count Cloud Leginbarth, pembawa kutukan berupa pengetahuan, karena bukan hanya ia tahu bahwa Melody adalah putri sang lord yang telah lama hilang, ia juga jatuh cinta setengah mati pada gadis itu.

Mereka pun duduk.

Pendaftaran Luciana di akademi membuat Melody sangat sibuk, jadi ia tidak bertemu Lect setidaknya selama dua minggu. Keduanya sama-sama tidak tahu harus berkata apa. Dari semua kemungkinan cara mereka bertemu lagi, ini jelas terasa yang paling tak terduga.

“K-kamu orang terakhir yang kukira akan kulihat,” kata sang ksatria akhirnya.

“S-sama. Meski aku berani taruhan aku jauh lebih terkejut melihatmu dibanding kamu melihatku, Lect. Oh, tapi maaf. Kita sedang berada di lingkungan akademi. Kurasa aku harus lebih menjaga cara memanggilmu, ya?”

“Tolong, tidak perlu kalau hanya kita berdua.” Lalu lebih pelan ia mengulang, “Berdua saja...”

“Begitu. Kalau begitu, dengan senang hati aku akan menurut. Jadi apa yang membawamu ke sini? Kukira kamu melayani Lord Leginbarth.”

“I-iya, yah... anggap saja aku ada di sini atas perintah beliau.”

“Begitu ya?”

Lect lalu menjelaskan singkat.

Semuanya bermula dari serangan saat Spring Ball. Dalam serangan itu, penyusup misterius berhasil menjadikan beberapa bangsawan, termasuk Luciana, sebagai sandera di dalam penghalang yang tak bisa ditembus. Putra Mahkota Christopher juga termasuk di antara mereka yang terjebak. Kerajaan hampir saja kehilangan raja masa depannya, yang tentu akan memicu krisis suksesi, dan walaupun kepemimpinan sang pangeran pada akhirnya berhasil menggagalkan rencana penjahat itu, menjadi sangat jelas bahwa para bangsawan Theolas sangat tidak siap menghadapi krisis.

“Jadi mata pelajaran itu diperluas besar-besaran,” lanjut Lect. “Tapi akademi kesulitan mencari pengajar tambahan dalam waktu sesingkat itu.”

“Dan karena itulah kamu turun tangan.”

“Untuk sementara. Sampai mereka menemukan pengganti jangka panjang. Kontrakku hanya berlaku satu semester. Saat Lord memerintahkanku datang, aku tidak punya banyak ruang untuk menolak.”

“Karena terlalu banyak waktu luang, begitu?”

Lect meringis. Sejak kembali dari pencariannya atas Selena, kekasih lama tuannya sekaligus ibu Melody, ia memang menghabiskan hari-harinya dalam keadaan nyaris tanpa tugas. Ia hanya bisa membantu dan menjaga tuannya sampai batas tertentu, padahal Count itu sudah punya orang lain untuk pekerjaan seperti itu.

Di dunia lain, ia pasti akan sibuk menjadi pengawal pribadi Cecilia Leginbarth, seandainya Melody benar-benar menjadi Cecilia. Namun karena itu tidak terjadi, Count Leginbarth sampai sekarang masih belum menemukan peran baru bagi ksatria mudanya yang kehilangan arah.

Yang berarti, dengan cara yang berputar-putar, semua ini salah Melody juga.

“A-aku bersedia pura-pura jadi pengajar sekolah,” kata Lect, “tapi punya asisten jelas akan membuatku jauh lebih tenang. Sebenarnya aku bisa saja membawa seseorang sendiri, tapi, yah...”

“Paula memang tidak terlalu cocok dengan kehidupan akademi, ya?”

Maid serbabisa milik Lect adalah gadis yang cukup berkemauan keras, dan memang itulah alasan Lect mempekerjakannya, tetapi keberaniannya jelas tidak akan cocok dengan lingkungan aristokrat seperti ini. Lagi pula, kalau Paula datang ke sini, rumah Lect akan kosong.

“Karena aku sendiri kekurangan orang, pilihanku memang sedikit. Tentu tuanku tidak begitu, tapi kalau begitu aku harus meminta seseorang bolak-balik dari kediaman beliau setiap sore. Belum lagi betapa... tidak pantasnya kalau aku terlalu sering memakai bantuan seorang maid.”

“Itu sebabnya kamu mencari pelayan murid yang memang sudah tinggal di kampus.”

“Tepat sekali.”

“Bukankah itu juga tetap agak tidak pantas dengan caranya sendiri?”

“Kedatanganmu baru saja menyadarkanku akan hal itu, ya.”

Lect mengerutkan kening. Dalam benaknya, sepasang mata biru kehijauan menatapnya tajam, waspada pada pikiran-pikiran menyimpang apa pun.

Kalau dia sampai tahu, aku mungkin bahkan tidak akan hidup cukup lama untuk menyesalinya, pikirnya. Dan itu pemikiran yang sangat bijak. Naluri tempur seorang ksatria memang tak main-main.

“Kalau boleh tahu, Lect, sebenarnya pekerjaan ini seperti apa?” tanya Melody.

“Sebagian besar membantu menyiapkan pelajaran dan berbagai urusan kecil saat kelas berlangsung. Kamu tak perlu khawatir soal pekerjaan berat. Akademi akan menyediakan bantuan untuk urusan itu, jadi tugasmu lebih banyak bersifat administratif. Mengambil bahan dari perpustakaan, dan semacamnya.”

“Perpustakaan?”

Mata sang maid langsung berbinar.

“Kamu berhasil menarik perhatianku.”

Melody baru sadar bahwa ia nyaris tak pernah punya kesempatan menjelajahi literatur dunia barunya. Buku adalah barang sangat berharga di masyarakat ini, sama seperti di Eropa abad pertengahan, dan Melody lahir sebagai rakyat biasa di desa kecil. Singkatnya, aksesnya terhadap bahan bacaan sangat terbatas, dan keluarga Rudleberg pun tidak punya ruang belajar yang dipenuhi buku.

Intinya, Melody sangat kekurangan bacaan. Perpustakaan di kepalanya hanya berisi buku-buku dari kehidupan masa lalunya dan buku pelajaran yang sempat ia baca sekilas demi pendidikan Lady-nya, jadi kesempatan untuk mengakses perpustakaan sungguhan adalah godaan yang sangat kuat.

“Bagus sekali,” kata Lect. “Kapan kamu bisa mulai?”

“A-aku diterima? Tapi aku bahkan...”

Lect tak perlu berpikir panjang. Ia akan bisa menghabiskan waktu bersama gadis yang ia sukai, dan meski mata-mata tak kasatmata dalam benaknya seolah menyipit tajam, kemungkinan itu tetap terasa terlalu menggoda—

Tiba-tiba, Melody menatapnya dengan mata berbinar.

“Apakah kamu yakin aku akan berguna untukmu?”

Jantung Lect nyaris meledak. Sesaat ia bertanya-tanya apakah Melody sudah menyadari perasaannya dan sengaja mempermainkannya. Pada akhirnya, ia tidak yakin dirinya peduli. Karena dia adalah pria yang sedang jatuh cinta.

“B-bagaimana kalau mulai minggu depan?”

“Sempurna!” seru Melody ceria. “Terima kasih, Lect! Atau sekarang aku harus memanggilmu Master karena aku sudah jadi asistenmu?”

“M-Master...”

Betapa berbeda rasanya saat kata itu diucapkan oleh seseorang yang begitu tidak peka. Pikiran Lect langsung meluncur ke arah yang tidak-tidak.

Dan begitulah, pengajar sementara Lect mendapatkan asisten sementaranya. Ia dan Melody membicarakan rincian tugasnya, sambil tetap mempertimbangkan kewajiban Melody yang sudah lebih dulu ada sebagai seorang maid. Kelas Ilmu Kesatriaan berlangsung selama dua jam pelajaran, dan kelas yang diajar Lect berada di jam kedua, sehingga Melody punya cukup waktu untuk makan siang sebelum datang.

“Kurasa itu mencakup semuanya,” kata Lect. “Nanti kita sesuaikan dan lihat perkembangannya sambil jalan.”

Melody mengangguk dengan senyum lebar. “Terdengar sempurna.”

“Kamu, eh, kelihatan sangat bersemangat soal ini. Apa menjadi asistensku memang semenyenangkan itu?” Lect tak bisa menahan secercah harapan kecil di hatinya. Apa dia bahagia? Bahagia karena akan bersamanya?

Bahkan Lect sendiri tahu ia sedang berharap pada hal yang nyaris mustahil.

“Aku bisa masuk perpustakaan!” seru Melody gembira.

“Ah. Benar. Perpustakaan.”

Benar saja, yang ia genggam tak lebih dari segenggam udara kosong. Sisi kekanak-kanakannya berharap setidaknya Melody bisa menolaknya dengan cara yang sedikit lebih halus. Rupanya, usia dua puluh satu masih cukup rapuh kalau masa remajanya datang terlambat. Meski begitu, dalam hati ia tetap mencatat untuk sesegera mungkin membawanya ke perpustakaan.

“Meski begitu, aku sungguh berterima kasih,” tambah Melody. “Sore-sore belakangan ini aku bosan setengah mati, jadi sekarang akhirnya ada sesuatu yang bisa kutunggu!”

“Yah, baguslah kalau pengaturan ini menguntungkan kita berdua. Eh, kamu bosan?”

“Parah sekali. Asrama itu jauh lebih kecil daripada kediaman keluarga, jadi pekerjaan yang bisa kulakukan jauh lebih sedikit. Kenapa kamu bertanya?”

Lect berkedip menatapnya, dan Melody memiringkan kepala sebagai balasan. Kata-kata yang bisa menusuk jauh ke dalam jiwa seorang maid berputar dalam pikiran sang ksatria.

“Kamu pernah bilang padaku bahwa kamu bersumpah pada ibumu kalau kamu akan menjadi maid yang sempurna. Jadi kurasa aku selalu mengira ambisimu itu akan membuatmu sibuk tanpa henti.” Ia mengangguk pelan. “Tapi benar juga, kalau terlalu lama tidak ada kerjaan, siapa pun pasti bisa jadi gila.”

Mata Melody membelalak lebar. Lect masih terus bicara, tetapi tak satu pun kata berikutnya masuk ke telinganya, karena ucapan tadi terus bergema di kepalanya.

Apa... sebenarnya maid yang sempurna itu?

Jelas bukan seseorang yang menghabiskan separuh harinya tanpa melakukan apa-apa.

Ada sesuatu di dalam diri sang maid yang mulai retak.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa