Kupikir dia bakal bikin keributan lebih besar, pikir Rook sambil mengusap bulu Grail yang tertidur. Tapi dia tenang sekali.
Anak anjing itu tidur sepanjang bagian pertama perjalanan. Saat akhirnya terbangun, matanya bergerak-gerak gelisah dan tubuh kecilnya meregang panjang, lalu tampaknya ia mulai sadar di mana dirinya berada. Atau lebih tepatnya, di mana dirinya tidak berada. Anak anjing itu sempat terlihat bingung beberapa saat, setidaknya kalau dilihat dari caranya berguling-guling dan mengamuk dramatis di dalam keranjang.
Makhluk kecil yang menarik.
Keributan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, si anak anjing tenang kembali, mulai mengibas-ngibaskan ekor dan memelototi pemandangan di sekelilingnya. Ekor yang bergoyang seharusnya menandakan rasa percaya atau puas, tetapi Rook merasa pengetahuan umum itu patut diragukan kalau diterapkan pada anak anjing yang satu ini. Ia tak bisa membayangkan beban apa yang ada di pikiran makhluk malang itu, jadi ia hanya memilih mengelusnya dan berharap yang terbaik. Benar saja, tak lama kemudian Grail kembali tertidur.
Rook menepuknya dua kali, lalu kembali menghadap ke depan. Ia menggenggam tali kendali dan menyipitkan mata, mengamati sekeliling. Hanya butuh sesaat baginya untuk menilai bahwa keadaan mereka aman.
Pikirannya pun bebas mengembara, dan memang itulah yang terjadi. Sebenarnya aku ini siapa, ya, sampai punya kemampuan seperti ini?
Yang barusan ia lakukan bukan sekadar pemeriksaan sekilas. Ia memusatkan mana ke matanya, memperkuat penglihatannya dan membuatnya mampu menangkap benda-benda kecil yang seharusnya mudah terlewat. Menurut Micah, kemampuan ini termasuk istimewa. Tapi di sisi lain, Melody sendiri juga bisa melakukannya dengan mudah, jadi mungkin Micah bukan sumber informasi yang paling bisa diandalkan.
Rook melirik pedang di pinggangnya. Sepengetahuannya, ia belum pernah memegang senjata sebelumnya, tetapi bilah itu terasa seperti perpanjangan alami dari lengannya sendiri. Sihir juga terasa asing baginya, namun di bawah bimbingan Melody, ia hampir seketika menguasai dasar-dasarnya. Untuk saat ini ia memang belum bisa lebih dari sekadar menyalurkan mana ke benda seperti pedang, atau memindahkannya ke bagian tubuh lain seperti mata atau otot, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan bahwa suatu hari nanti merapal mantra juga akan datang dengan sendirinya.
Berarti Rook tidak benar-benar seasing itu dengan semua hal ini, setidaknya tidak seperti yang mula-mula ia kira. Pedang dan sihir jelas pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Di suatu tempat. Pikiran bisa lupa, tapi tubuh tetap ingat. Dan itulah yang terus mengganggunya.
Mungkin sekarang aku “Rook”, tapi sampai kapan?
Salah satu dari sedikit hal yang masih ia ingat adalah kelahiran sosok bernama Rook itu sendiri—Rook, pelayan magang. Itulah ingatan tertuanya.
Dan itu baru terjadi dua minggu lalu.
Ia membuka mata. Butuh beberapa kali kedipan sampai pandangannya benar-benar fokus, tetapi itu pun tidak banyak membantunya memahami di mana ia berada.
Di mana ini? Pikirannya datang lambat dan berat. Langit-langit. Dinding. Tempat tidur. Dan gadis yang sedang tertidur bersandar di sampingnya. Tak satu pun terasa akrab. Siapa dia? Siapa... aku?
Apa amnesia ini efek samping dari apa pun yang membuatnya terbaring di tempat tidur itu? Lucu juga, ia tahu kata untuk menyebut kondisinya, tetapi tidak tahu namanya sendiri.
Langit-langit. Jendela. Dinding, gumamnya dalam hati. Langit. Matahari. Tempat tidur. Selimut. Meja. Kursi... kata-kata ini aku tahu.
Bahasa dan pengenalan benda-benda datang padanya tanpa masalah. Jadi apa yang tidak ia tahu? Ekonomi. Ia tahu kata itu, tetapi tidak tahu maknanya. Negeri tempat ia berada? Mata uangnya? Nilai relatif berbagai jenis koin? Ia juga tidak tahu itu semua.
Ia duduk, dan tirai rambutnya langsung menutupi pandangan. Menyebalkan. Dulu rambutku memang selalu sepanjang ini?
Ia tak tahu. Tapi ia juga tak punya ingatan tentang rambut pendek untuk dijadikan pembanding.
Pria itu menyingkirkan rambutnya ke belakang lalu menurunkan kaki ke lantai, berhati-hati agar tidak membangunkan gadis yang sedang menyandarkan kepala di sisi tempat tidur. Seketika rasa janggal menjalari dirinya. Tapi kenapa? Tak ada yang tampak aneh secara langsung.
Ia mengabaikan perasaan itu dan berdiri. “Apa...”
Dengan bunyi gedebuk berat, ia tersungkur ke lantai. Sakit. Untung bukan di lutut, karena ia sempat menahan diri tepat waktu, tetapi tetap saja rasanya sakit.
Apa yang barusan terjadi? Ia hanya mencoba berdiri.
Coba lagi.
Ia mengulurkan tangan untuk bertumpu pada rangka tempat tidur, tetapi tangannya justru meleset melewati sasaran dan meraih selimut. Menyadarinya terlambat, ia pun kembali jatuh, sambil ikut menarik selimut itu ke bawah. Sekali lagi ia berhasil menghindari benturan parah, menundukkan dagu untuk melindungi kepala saat jatuh, tetapi nyeri kembali menembus tubuhnya.
Saat selimut itu terseret menjauh, gadis tadi langsung terbangun. “Huwa?! A-apa... hah?” Ia menatap kosong ke bawah, pada dirinya yang telentang di lantai. Keheningan canggung membentang di antara mereka. “Kamu ngapain?”
“Jatuh, kurang lebih.”
“Eh... oke?”
“Aku tadi coba berdiri tapi kehilangan keseimbangan. Pas kucoba lagi, tanganku malah lewat dari rangka ranjang dan justru narik selimut. Jadi aku jatuh lagi.”
“Oh. Ya, aku rasa aku paham gambarannya. Yuk, kita kembalikan kamu ke atas tempat tidur dulu.”
Pria itu tidak menolak, meskipun tugas sederhana itu ternyata cukup merepotkan. Bahkan hanya untuk membuatnya berdiri lagi tanpa jatuh sekali pun sudah termasuk pencapaian.
“Apa aku sakit?” tanyanya.
Gadis itu tertawa kecil. “Bisa dibilang begitu, mungkin.”
Ia tidak mengerti. Jelas mustahil baginya untuk menebak bahwa lonjakan pertumbuhan mendadak telah mengacaukan seluruh muscle memory dan keseimbangan tubuhnya.
Begitu berhasil duduk di tepi ranjang, pria itu menilai gadis yang duduk di kursi di hadapannya. Usianya tampak tak lebih dari sepuluh tahun. Rambut pinknya diikat jadi dua bagian kecil, dan ia mengenakan seragam maid.
Aku tidak mengenalnya.
Setidaknya, ia tak mengingatnya. Soal itu ia yakin. Namun anehnya, matanya justru tertarik pada tangan gadis itu, seolah ada sesuatu yang memaksanya melihat ke sana.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Tanganmu,” gumamnya.
“Tanganku?”
Gadis itu mengulurkannya, jadi ia meraihnya. Tangan pria itu menelan tangan kecil itu seluruhnya. Kukira mungkin aku mengenalnya. Mungkin ternyata tidak. Aku tak ingat tangan ini dulu sekecil ini.
Hubungan yang ia rasakan tadi tetap tak bisa ia pahami. Ia tak mungkin tahu bahwa tangan gadis itu hanya terasa begitu kecil karena tangannya sendirilah yang tiba-tiba menjadi jauh lebih besar.
“Itu... bikin malu, tahu,” kata gadis itu.
“Oh. Maaf.”
Ia melepaskannya, lalu memandangi telapak tangannya sendiri. Satu lagi hal yang tak ia kenali.
Apa memang dari dulu begini? Aku tak ingat. Benar-benar tak bisa mengingatnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya gadis itu lagi.
“Iya. Tidak apa-apa.”
“Ada yang sakit?”
“Tidak.”
“Ada yang terasa aneh atau berbeda?”
“Berbeda, ya.”
“Oh! J-jangan bilang sakit?”
“Bukan. Tidak sakit. Cuma terasa tidak pas.”
“Oh. Tidak pas?”
“Kau. Aku tidak mengenalmu. Siapa kau?”
Mata gadis itu langsung membesar. “Yang benar saja! Kamu lupa aku?! Eh, tunggu, aku memang pernah bilang namaku belum, sih?”
“Aku juga tidak ingat diriku sendiri. Wajahku maupun namaku. Aku ini siapa?”
“Kamu malah bilang itu belakangan?! Itu jauh lebih penting!” Gadis itu langsung berdiri. “Miss Melody!”
Ia berlarian keluar dari kamar.
“Anak yang ribut.”
Itulah mungkin satu-satunya kesan pasti yang ia punya tentang gadis itu. Meski begitu, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat pria itu menyeringai saat melihatnya pergi dan meninggalkan pintu sedikit terbuka.
Tak lama kemudian, sosok bernama Melody muncul, yang tampaknya memang atasan gadis tadi, lalu melakukan pemeriksaan menyeluruh. Selain urusan ingatannya, katanya, kondisi tubuh pria itu sehat, tetapi ia tidak bisa memastikan apakah ingatan yang hilang itu akan kembali atau tidak. Bagi pria itu sendiri, semua proses itu terasa agak berlebihan.
“Namaku Micah!” seru gadis tadi. “Jangan lupa lagi kali ini.”
Pria itu menemui jalan buntu. Ia jelas tidak mungkin memperkenalkan diri kalau dirinya sendiri tidak punya identitas. Tidak punya nama.
“Benar juga,” kata Melody. “Itu bisa merepotkan.” Ia menyangga pipinya dengan tangan dan memiringkan kepala.
“Ayo kita buat identitas buat dia! Gimana kalau, uh, Buh... Bor... Rook. Rook!” kata Micah.
“Rook. Nama itu terdengar bagus, sih. Tapi kau dapat dari mana?” tanya Melody.
“Dari mana-mana. Aku bikin sendiri!”
“A-aku mengerti. Jadi kau memang asal membuatnya.”
Pria itu mencoba nama itu di lidahnya sendiri. “Rook.”
Metode gadis itu jelas masih perlu banyak diperbaiki. Menurutnya, nama bukan sesuatu yang seharusnya bisa begitu saja “dibuat” saat itu juga. Tapi nama ini juga tidak membuatnya merasa terganggu. Justru ia cukup menyukainya.
Mungkin aku sedang imprinting. Seperti hewan.
Micah adalah orang pertama yang ia lihat saat sadar. Rasanya aneh, tapi juga pas, kalau gadis itulah yang memberinya identitas.
“Cocok, kan, Rook?” katanya.
Kurasa memang harus cocok.
Pria itu menghela napas. Gadis itu sudah terlanjur menyukainya sebelum ia sempat benar-benar menimbang perasaannya sendiri terhadap nama itu. “Baiklah. Tidak apa. Mulai sekarang aku akan...”
“Rook.”
Ia tersentak. Rook menoleh ke jendela belakangnya, tempat Micah menjulurkan kepala dari dalam kereta.
“Apa?”
“Miss Melody bilang dia mau makan siang sebentar lagi, jadi berhentikan kita di tempat lapang berikutnya.”
Di sepanjang jalan raya sibuk seperti ini memang ada area peristirahatan terbuka, tempat para musafir bisa berhenti dan beristirahat. Pasti itu yang dimaksud Micah.
“Mengerti. Tapi memangnya dia tidak bisa bilang sendiri?”
“Tidak, karena aku mau mencoba jendela kecil ini.” Micah terkekeh.
Dari dalam kereta terdengar Melody tertawa pelan, dan Rook hanya bisa menghela napas. “Tempat lapang berikutnya. Baik.”
“Makasih!”
Micah menutup kembali jendela itu, dan tak lama kemudian obrolan samar kembali terdengar dari dalam kereta.
Gadis kekanak-kanakan itu yang memberiku nama. Yah, anak-anak memang biasanya kekanak-kanakan.
Rook rupanya punya ibu baptis yang masih sangat muda. Yang bisa ia lakukan hanyalah tertawa kecil melihat betapa absurdnya semua ini.