Anna-Marie Victillium adalah seorang lady yang sempurna. Scarlet Seductress. Lambang karisma, kecerdasan, dan kecantikan.
Padahal kenyataannya, dia adalah Asakura Anna, gadis Jepang biasa yang tak memiliki satu pun dari kualitas itu, lalu terlahir kembali ke dalam hidup seorang lady yang bahkan lebih tidak memiliki semua itu. Persona yang ia tunjukkan hanyalah akting, dan akting yang sangat melelahkan untuk dipertahankan dua puluh empat jam sehari, tiga ratus enam puluh lima hari setahun. Pasti ada yang harus dikendurkan. Ia perlu sesekali melepas topeng itu, kalau tidak ia benar-benar bisa kehilangan akal.
Maka lahirlah Anna, gadis rakyat biasa yang manis dan tidak punya kualitas menonjol apa-apa.
Anna-Marie suka menjadi Anna. Sesekali ia akan mengenakan wajah Anna lalu berjalan-jalan santai di Lower District hanya agar bisa bernapas sejenak. Agar ia bisa menjadi seseorang selain putri marquess yang begitu penting itu. Namun kali ini, Anna mengenakan penyamaran itu dengan tujuan yang jelas.
Penyelidikan atas insiden-insiden belakangan ini mulai kehilangan momentum, dan Anna-Marie sadar interogasi dingin ala dirinya hanya bisa membawanya sampai titik tertentu. Semua penyelidikannya sejauh ini tidak menghasilkan apa-apa selain tuduhan, dan hampir semuanya mengarah pada Luciana. Berdasarkan catatan yang ia lihat, penyelidikan rekan-rekannya di dewan siswa pun hasilnya tidak jauh lebih baik. Olivia masih menjadi tersangka utama, tetapi Anna-Marie tidak bisa menyanggah kesimpulan itu hanya berdasarkan firasat, apalagi saat bukti nyata yang memberatkan Luciana memang ada, yakni pensil dan saputangannya.
Karena tak punya pilihan yang lebih baik, akhirnya ia mengeluarkan kartu terakhirnya: Anna. Sudut pandang yang berbeda mungkin akan membantunya melihat semuanya dengan lebih jelas. Sebagai seorang pelayan biasa, ia tidak akan tampak sebagai pihak yang terlibat langsung dalam insiden-insiden itu.
Setelah jungkir balik mengatur jadwal, ia akhirnya berhasil meluangkan satu sore dan menyelinap ke area asrama sebagai Anna sang Maid, lewat salah satu lorong rahasia.
Namun ia belum melangkah jauh saat ragu menyerangnya. “Baiklah. Sekarang bagaimana?”
Saat itu hampir waktunya makan siang. Ruang makan adalah tempat paling efisien untuk memulai, tapi secara praktis, bagaimana ia bisa masuk ke sana? Para pelayan pribadinya sendiri menggunakan ruang makan yang sama, yang berarti risiko terbongkar justru makin besar. Memang tak seorang pun selain dirinya yang tahu tentang Anna, dan ia ragu mereka akan mengenalinya hanya dengan sekali lihat, tetapi tetap saja kemungkinan itu ada.
Andai saja ada seseorang yang bisa kuajak masuk, aku pasti akan lebih mudah membaur. Tapi cuma ada satu maid lain yang Anna kenal, dan dia...
“Anna? Itu kamu?”
Keberuntungan benar-benar memihaknya. Anna-Marie berbalik, dan di sanalah orang yang ia pikirkan berada, satu-satunya maid lain yang Anna kenal: Melody Wave.
“Melody!”
“Kupikir itu memang kamu!” Melody bertepuk tangan sambil tersenyum cerah. “Aku tidak tahu kalau kamu juga datang ke akademi.”
Sudah cukup lama sejak Anna-Marie, atau lebih tepatnya Anna, bertemu dengan teman lamanya itu. Terakhir kali adalah bulan Mei, di hari libur wajib saat Luciana memaksa Melody beristirahat dengan cara mengusirnya keluar rumah karena ia terlalu banyak bekerja. Secara kebetulan, Melody bertemu Anna saat sedang berjalan-jalan, dan mereka akhirnya menghabiskan hari bersama. Mereka langsung cocok seketika. Anna memperkenalkan diri sebagai maid keluarga Victillium, dan itu saja sudah cukup bagi Melody untuk menganggapnya teman seumur hidup.
“Boneka yang kuberikan dulu kau rawat baik-baik, kan?” tanya Anna.
“Oh, iya. Dia baik-baik saja. Dan punyamu?” tanya Melody.
“Aku simpan rapi dan aman di rak, dan tiap kali melihatnya aku selalu teringat kita.”
‘Dia baik-baik saja’? Maksudnya apa itu? Tapi sudahlah.
Serena memang baik-baik saja dalam tugas-tugas kemaiannya. Bahkan, boneka yang menjadi wadah tubuhnya itu memang hadiah dari Anna. Dalam banyak hal, Anna bisa dibilang ibu kedua Serena.
Saat Melody dan Anna mengobrol di dekat pintu masuk ruang makan, Sasha muncul bersama dua pelayan lainnya.
“Temanmu, Melody?” tanya Sasha.
“Wajah baru. Menarik juga,” kata Warren.
“Cantik...” gumam Blish sambil melongo.
“Ini Anna, maid dari keluarga Victillium,” kata Melody. “Anna, ini Sasha dan Blish, pelayan dari keluarga Invidia. Dan ini Warren. Dia bekerja untuk keluarga Gelman.”
Mereka semua saling memberi salam sebagaimana mestinya.
“Mau ikut makan siang bersama kami?” tanya Sasha. “Kami ingin sekali kenalan lebih jauh.”
“Tentu, mau sekali!” jawab Anna-Marie tanpa ragu.
Ia mendapat penyamaran, sekelompok orang yang bisa digali informasinya, dan kesempatan bertemu Melody lagi. Hari ini benar-benar tidak bisa lebih sempurna.
“Bagus!” seru Melody ceria. “Aku senang sekali bisa mengobrol denganmu lagi, Anna.”
“Tak pernah ada yang namanya terlalu banyak wajah cantik di sekitar, bukan begitu, Blish?” kata Warren.
“Jangan lihat aku... Apa? Aku juga tidak akan menolak.”
Kelima orang itu pun masuk ke ruang makan, sementara Anna-Marie berjuang keras menahan seringai puasnya.
“Oh,” kata Sasha, “Micah ke mana?”
Jantung Anna-Marie sempat tersentak. Nama itu membangkitkan kenangan tentang sahabat dekatnya di kehidupan sebelumnya. Kurita Maika, adik perempuan Pangeran Christopher saat ia masih Kurita Hideki. Maika adalah partner-in-crime Anna-Marie, dan orang yang sering membantu menyeret Hideki ikut bermain The Silver Saint and the Five Oaths bersama mereka. Omelan dan ejekan hangat yang dulu mereka bagi soal Hideki sama berharganya dengan banyaknya.
Sebagian kecil dari hati Anna-Marie bertanya-tanya, dan berharap, apakah Maika juga ada di Theolas. Tapi ia segera menepis pikiran itu. Itu bukan nama yang langka, dan kemungkinan Maika yang ia kenal berada di dunia ini sangatlah kecil. Setidaknya, itulah yang ingin dipercayainya. Kalau Maika memang ada di sini, itu hanya bisa berarti satu hal: ia bereinkarnasi. Dan kalau begitu, berarti ia meninggal terlalu cepat.
Kalau kita bertemu lagi, dan aku sungguh berharap itu terjadi, semoga tempatnya jauh lebih baik daripada di sini.
Mereka akan bertemu lagi. Di surga, setelah Maika hidup panjang dan penuh. Anna-Marie membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam kesedihan sebelum kembali fokus pada tujuannya.
Tentu saja, ia sama sekali tidak tahu bahwa Maika memang telah hidup panjang dan penuh. Tapi Anna-Marie tak bisa disalahkan karena gagal menebak bahwa seorang nenek ternyata berubah menjadi anak kecil di dunia fantasi.
“Melody, siapa Micah itu?” tanyanya.
“Maid-in-training terbaru keluarga Rudleberg,” jawab Melody. “Barusan dia masih bersamaku, tapi tiba-tiba kabur sambil bilang harus ‘menangkap seseorang.’”
“Haruskah kita khawatir?”
“Aku sempat mau mengejarnya, tapi dia bilang nanti akan menyusul, jadi kubiarkan.”
“Sayang sekali. Aku sebenarnya ingin bertemu dengannya.”
“Masih ada lain kali,” kata Melody. “Dia pekerja keras sekali. Kurasa kamu pasti akan langsung menyukainya, Anna.”
“Oh, kalau begitu harapanku jadi tinggi sekali.”
Tampaknya, pertemuan mereka memang sudah ditakdirkan. Tapi akan terjadi dalam keadaan seperti apa?
“Ayo jalan, yuk,” kata Sasha. “Aku tidak tahu kalian bagaimana, tapi aku sudah lapar sekali.”
Mereka pun melanjutkan langkah masuk ke dalam.
“Tunggu!” teriak Micah.
Anak laki-laki itu sama sekali tidak melambat.
“Aku bilang tunggu!”
Ia berusaha mati-matian agar sosok itu tidak hilang dari pandangan. Tak satu pun yang dilakukan Micah berhasil menjangkau anak laki-laki itu saat mereka berdua berlari di kawasan asrama. Tapi Micah kenal bocah itu. Mustahil ia melupakannya. Meski sekarang ia sudah tampak jauh lebih rapi dan mengenakan seragam valet, rambut ungu acak-acakan itu tetap tak mungkin salah dikenali, begitu pula mata abu-abunya yang mati.
“Mau tidak kau—”
Kakinya menyerah lebih dulu. Anak itu terlalu cepat, dan sebesar apa pun usahanya berlari, ia tak berhasil memperkecil jarak. Kakinya mendadak tak kuat lagi, dan ia pun terjatuh sambil memekik pelan.
“Aduh...”
Micah tetap terduduk di sana, linglung. Untungnya rok panjangnya setidaknya berhasil melindungi lututnya.
Tiba-tiba, sebuah bayangan jatuh menutupi dirinya. Sebuah tangan terulur ke bawah, seolah menunggunya menyambutnya. Saat ia mendongak, ia melihat penyelamatnya, anak laki-laki yang dulu menyelamatkannya dari kawasan kumuh pada hari pertamanya di dunia ini.
Bagi Micah, itulah satu-satunya identitas bocah itu. Ia tak mungkin bisa menebak kekuatan macam apa yang tanpa sadar telah ia sentuh, bahwa pria ini sebenarnya adalah Bjork Quichel, pion Dark One dan love interest keempat dalam The Silver Saint and the Five Oaths. Ia juga tak mungkin tahu gelombang macam apa yang akan ditimbulkan riak kecil ini pada cerita yang akan datang.
Bjork Quichel adalah seorang pria yang dikutuk oleh narasi itu sendiri. Dialah yang membuka segel di Hutan Besar Vanargand, dan Dark One langsung merasuki tubuhnya saat itu juga, menjadikannya pion tanpa kehendak dalam skema yang lebih besar. Meski usianya delapan belas tahun, penampilannya masih seperti bocah.
Di bawah pengaruh Dark One, ia menyerang Spring Ball dengan niat mencelakai Putra Mahkota. Namun ketika Luciana berdiri di hadapannya, ia menggagalkan rencananya berkat sihir pertahanan kuat yang tertanam di gaunnya. Bilah gelap yang menjadi wadah esensi Dark One itu pun hancur, melepaskan sebagian besar esensinya ke atmosfer sekitar. Dari sana, esensi itu berpindah ke tubuh seekor anak anjing, tetapi Melody tanpa sadar membuat Dark One tertidur dalam wujud itu.

Tanpa ada lagi seorang tuan yang menarik benang-benang jiwanya, seharusnya Bjork telah menjadi manusia bebas, tetapi hidupnya memang menyedihkan, dan takdir tak pernah membiarkannya beristirahat. Sisa kecil Dark One yang masih bertahan di dalam pedang patah itu tetap mencengkeram dirinya. Hubungan itu kini rapuh dan lemah, jadi setidaknya Dark One sudah tak bisa lagi mengendalikan setiap keinginannya seperti di dalam game. Seharusnya Bjork baru akan mendapatkan kembali akal sehatnya di paruh akhir cerita, kalau semuanya berjalan alami. Tapi versi peristiwa yang ini sudah menyimpang jauh. Dalam versi ini, ego Bjork mulai bangkit hanya beberapa hari setelah Spring Ball.
Tangisan gadis itu bergema dalam benaknya yang retak. Pandangannya kembali fokus, dan ia mendapati seorang anak kecil bermata basah duduk di hadapannya. Ia menatap gadis itu sesaat, ragu. Lalu naluri mengambil alih, dan sebelum ia sempat sadar, ia sudah menggandeng tangan si gadis. Tak lama kemudian, mereka berdua telah keluar dari kawasan kumuh itu bersama-sama.
Bjork sendiri tidak asing dengan air mata. Dengan jerit tangis dalam segala bentuknya. Ia pernah mendengar semuanya, saat para pedagang budak datang dan membantai setiap orang dan segala hal yang pernah ia sayangi.
Itu bukan tempat untuk seorang anak kecil. Ia harus melindunginya, menjauhkannya dari hal-hal yang dulu ia alami. Tak ada hal lain di benak pria itu saat ia menuntunnya pergi. Lalu tangisan itu berhenti, dan kegelapan kembali mengambil alih. Ia bisa merasakannya merembes ke dalam pikirannya. Kegelapan itu selalu datang ketika ia merasa damai. Karena itu, ia tak boleh membiarkan dirinya merasa damai. Ia kembali ke bayang-bayang kawasan kumuh, bertekad untuk tak mengalami celah kesadaran seperti itu lagi.
Suatu hari, kegelapan itu bergerak jauh lebih gelisah daripada biasanya. Ia mendidih dalam kebencian terhadap kekuatan perak itu dan gadis menjijikkan yang menggunakannya. Yang tersisa dari Dark One kini begitu sedikit sampai ia tak lagi memiliki ego. Yang tersisa hanya naluri paling dasar. Emosi murni dan liar, amarah terhadap Sang Saint. Hari itu, naluri itu bangkit. Ia menginginkan balas dendam.
Ia memerintahkan Bjork untuk masuk ke Royal Academy dan mencari pion yang mau dijadikan wadah. Ingatan Dark One akan kekalahannya menajamkan kebenciannya dan mengajarinya bertindak lebih cermat. Ia tahu bahwa ia tak bisa mengalahkan Sang Saint secara langsung. Ia tahu itu, meski ingatannya sendiri telah rusak. Baginya, Luciana adalah Sang Saint. Kekuatan perak yang pernah menghuni gaunnya membuktikannya. Maka kebencian yang salah sasaran dan liar itu pun mencari pion-pion malang yang bisa dipakai untuk melancarkan pembalasan pada orang yang dianggap pantas menerimanya.
Dan begitulah ia menemukan gadis itu.
Dark One beresonansi dengan kemarahan jiwa malang itu dan meneteskan liur atas pikiran-pikiran gelap yang menyiksanya. Maka ia pun mengambil alih, meski dalam keadaan lemah. Hati manusia adalah sesuatu yang rapuh, terlebih lagi ketika dibebani negativitas sebesar miliknya.
Perintah pertama untuk boneka barunya itu adalah membereskan boneka lamanya. Kain compang-camping Bjork akan jadi hambatan dalam rencana-rencana mereka, jadi ia perlu penyamaran. Ide itu justru datang dari dirinya sendiri. Dari dia. Bjork. Manusianya. Berbeda dengan di game, Bjork sudah mulai merebut kembali rasa dirinya, dan Dark One tak lagi mendikte isi hatinya. Ia tidak cukup kuat untuk melakukan itu. Diri Bjork semakin kembali sedikit demi sedikit setiap harinya.
Itu juga sebabnya Dark One tak akan pernah menyuruhnya mengulurkan tangan pada gadis yang terjatuh seperti yang sedang ia lakukan sekarang.
“M-makasih,” kata gadis itu tergagap. Ia tak menyangka anak laki-laki itu benar-benar kembali untuknya.
Anak laki-laki itu tak mengatakan apa-apa, tak melakukan apa-apa untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia melihat noda kotor di rok gadis itu. Nyaris tak terdengar, ia bertanya, “Kau terluka?”
“Hah? T-tidak, aku baik-baik saja. Cuma jatuh sedikit, itu saja. Makasih sudah khawatir.”
“Aku tidak khawatir.” Ia memalingkan muka. Malu, mungkin?
“Jadi, um, kamu anak laki-laki yang menyelamatkanku dari kawasan kumuh itu, kan? Dua bulan lalu?” Tak ada jawaban. Micah memiringkan kepala. “Benar, kan?”
Mata Bjork bergerak gugup menyusuri lantai sebelum akhirnya ia mengangguk.
Micah mengembuskan napas lega, lalu tersenyum. “Aku ingin berterima kasih soal itu. Kamu menyelamatkan hidupku, lho. Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan ada di sini.” Ia membungkuk dalam-dalam.
Mata anak laki-laki itu membelalak. Napasnya tercekat. Bahunya bergetar. Sudah seumur hidup rasanya ia tak pernah mendengar kata terima kasih.
Saat Micah akhirnya mengangkat kepala, ia membeku melihat reaksinya. “A-apa? Ada apa?”
“Tidak ada.” Ledakan emosi itu menghilang dari wajahnya secepat kemunculannya. Tak berarti. Bodoh. Semua ini. Ia harus pergi dari sini.
Tapi kakinya tak mau bergerak. Kenapa?
“Biar aku mengucapkan terima kasih dengan benar,” kata Micah. “Ayo makan siang denganku. Aku yang traktir!”
“Tidak mau.”
“Aduh, jangan begitu. Ayo, setidaknya itu bisa menebus karena aku harus mengejarmu muter-muter. Ruang makan bakal tutup sebentar lagi.”
“Tinggalkan aku...”
“Micah!” teriak seseorang.
“Oh! Miss Melody! Di sini!”
Rupanya Melody datang mencarinya.
“Kau harus cepat kalau tak mau ruang makan tutup,” kata Melody. “Oh, ini siapa? Temanmu?”
“Betul. Dia yang menyelamatkanku dari kawasan kumuh beberapa waktu lalu.”
“Ya ampun, dan aku lupa sopan santunku. Halo, aku Melody, maid keluarga Rudleberg. Izinkan aku berterima kasih padamu karena telah menolong rekan kerjaku ini.”
Senyum lagi. Ucapan terima kasih lagi. Bjork membeku.
“Kamu melakukan itu lagi,” kata Micah. “Kamu benar-benar tidak apa-apa?”
“Baik,” gumamnya.
“Kau seharusnya membiarkan kami mentraktirmu makan siang,” kata Melody, “supaya kami bisa berterima kasih dengan layak. Tolong, aku memohon.”
Guru dan murid, sama saja rupanya.
“Dia bilang dia tidak mau makan, Miss Melody.”
“Oh? Kalau begitu kita harus memikirkan cara lain. Aku tak akan membiarkan penyelamatmu pergi begitu saja tanpa imbalan, Micah. Bolehkah aku tahu namamu dan keluarga mana yang kau layani, Tuan?”
Baru terpikir oleh Micah bahwa ia memang belum menanyakan nama anak laki-laki itu.
Wajah Bjork justru semakin gelap. “Aku tidak melayani siapa pun.”
“Eh, maaf?” Melody tak paham. Anak laki-laki itu mengenakan seragam pelayan, jadi tentu saja seharusnya ia melayani seseorang.
“Aku tidak menerima perintah dari siapa pun. Tidak tunduk pada siapa pun!” geramnya. Gelombang emosi membuat suaranya yang tadi datar menjadi kasar. Tapi mendadak ia menggertakkan gigi dan mencengkeram dadanya. “Aku adalah... tuan... atas diriku sendiri!”
“Hei, kamu tidak apa-apa?!” seru Micah.
Saat Melody mendekat hendak memeriksanya, kabut hitam samar mulai merembes keluar dari tubuhnya. Melody spontan menarik tangannya karena terkejut, dan pada saat itulah Bjork melompat ke udara dengan kekuatan yang tidak manusiawi, mendarat tepat di atas atap terdekat.
Lalu ia menghilang.
“Apa... sebenarnya itu tadi?” kata Melody, menatap tempat Bjork berdiri beberapa detik sebelumnya. “Siapa anak itu?”
Micah merasa dirinya tahu. Mana gelap yang padat, berbentuk kabut. Rambut ungu. Tidak... tidak mungkin. Bjork Quichel?! Tapi pasti dia. Aku tadi tak mengenalinya karena dia sudah rapi, tapi memang itu dia. Rute keempat. Astaga, kenapa aku selalu sadar semuanya terlambat begini?!
Melody dan Micah memeriksa sekitar, tetapi anak laki-laki itu tak pernah muncul lagi, dan Micah pun tak pernah jadi makan siang. Untungnya, Melody masih sempat menyiapkan camilan untuknya.
“Anna?” kata Micah setelah Melody menceritakan kegiatan makan siangnya sendiri. “Dan dia dari keluarga Victillium?”
“Betul,” kata Melody. “Dia temanku. Nanti kalau ada kesempatan, akan kuperkenalkan kalian.”
“Tolong lakukan.”
Aku tahu aku sekarang sedang terlalu berharap, tapi Anna... jangan-jangan dia Anna-ku? Aku ingin bertemu lagi dengan Anna-oneechan. Tapi mana mungkin.
Anna juga penggemar game yang menjadi dasar dunia ini, jadi Micah ingin mempercayai kemungkinan itu. Namun ia juga cukup realistis untuk tahu bahwa peluangnya sangat kecil.
Kalau ada kejuaraan dunia untuk orang yang salah tebak...
“Ahhh, aku benar-benar butuh itu!” keluh Anna(-Marie). “Melody tetap secantik hari pertama aku bertemu dengannya, dan Sasha sepertinya bakal jadi sekutu yang bisa diandalkan. Soal dua cowok itu... ya, ada atau tidak juga sama saja, tapi aku benar-benar berharap bisa makan siang bareng mereka lagi. Aku masih harus bertemu Micah.”
“Bagus. Senang sekali buatmu. Sebenarnya aku ini ada di sini buat apa? Cuma senyum dan angguk-angguk?”
Anna-Marie meringis. Christopher sudah mempertaruhkan lehernya untuk menyelinap ke kamarnya malam itu supaya ia bisa menceritakan informasi yang berhasil ia kumpulkan, tetapi sampai detik itu yang didengarnya cuma betapa cantiknya para gadis lain dan betapa menyenangkannya hari Anna-Marie.
“Maaf, ya?” kata Anna-Marie. “Aku memang sempat menanyakan soal insiden itu, tapi tak dapat hal baru selain yang sudah kita tahu. Memangnya kau ingin aku ngambek dan cemberut sepanjang makan siang?”
“Kau juga bisa sedikit kurang terang-terangan soal seleramu pada perempuan.” Christopher menghela napas. Kenapa selalu dia yang dianggap paling bermasalah?
Teman bicaranya memilih diam, sebuah tugas seberat gunung kalau lawannya Christopher.
Sementara itu, di pihak Sasha...
“Selamat datang kembali, Lady Luna,” kata Sasha.
Blish membungkuk memberi salam. “Lady.”
Dengan lelah, Luna menyerahkan tasnya pada valet-nya dan langsung menuju kamar tidurnya, tempat ia duduk menunggu Sasha mengurus rambutnya.
“Bagaimana hari Anda?” tanya maid itu.
“Masih sama seperti kemarin. Semua orang di kelas masih tegang,” kata Luna.
“Turut prihatin mendengarnya. Saya hanya bisa membayangkan tekanan yang sedang dihadapi Lady Rudleberg, mengingat masih sangat sedikit bukti baru yang muncul. Bahkan keluarga Victillium pun tampaknya sudah menurunkan para pelayannya untuk menggali informasi. Sayangnya, sejauh ini hasilnya pun sangat sedikit.”
“Pelayan mereka? Maksudmu bagaimana?” tanya Luna.
“Aku makan siang dengan salah satu dari mereka hari ini,” kata Sasha, “dan dia cukup baik untuk memberitahuku bahwa Lady-nya menugaskan dia dan rekan-rekannya untuk mencari tahu opini umum soal kontroversi belakangan ini. Aku sudah berbagi dengannya hal-hal yang menurutku relevan.”
“Ya ampun, aku sama sekali tidak tahu kalau Lady Anna-Marie seproaktif itu. Ngomong-ngomong, Sasha, bisakah kau ceritakan lebih banyak? Sedetail mungkin.”
“Tentu, Lady.”
Sambil menyisir rambut Lady-nya dengan gerakan anggun, Sasha pun menceritakan kejadian hari itu. Minat Luna yang tiba-tiba begitu besar membuatnya senang. Sejak tuduhan-tuduhan itu mulai muncul, Lady-nya memang hampir tak menunjukkan minat pada hal lain.
Sayangnya, keadaan akan menjadi lebih buruk sebelum akhirnya membaik.