Sukidatta Ko o Meido ni Shitara, Ore no Heya de Kossori Nani ka Shiteiru Volume 3 Chapter 23 — Sang Tuan dari Sang Maid Menghadapi Seorang Monster

Penampilan debut tarian Seishinkai berakhir dengan selamat.

Kami tidak benar-benar menyaksikan penampilan kelompok Fujikawa, dan Festival Hōki pertama kami pun berakhir.

"Haa... capek sekali."

Setelah mendapat perawatan dari perawat sekolah di ruang UKS, aku sedang duduk di atas ranjang.

Sebelum pergi ke rumah sakit, aku mendapat pertolongan pertama di sini.

Perawat sekolah masih berada di sini sampai beberapa saat yang lalu, tetapi dia dipanggil ke suatu tempat.

Sayaka menghadiri "jamuan pergaulan" setelah Festival Hōki sebagai wakilku sekaligus perwakilan Seishinkai.

Tentu saja Sayaka mungkin sebenarnya tidak ingin menghadirinya, tetapi sebagai kelompok yang baru dibentuk, kami tidak mungkin melewatkannya.

"Rasanya aku bukan cuma akan dibenci seumur hidup, tapi sampai selamanya."

Sambil tersenyum pahit, aku mengusap pergelangan kakiku yang diperban ketika...

"Yah, kelihatannya kau baik-baik saja."

"...!"

Aku spontan berdiri, mengabaikan rasa sakit di kaki kananku.

Orang yang memasuki ruang UKS adalah pria tua berkepala plontos, berkacamata hitam, dan mengenakan kimono.

"G-Gozen dari keluarga Maritsuji..."

"'Gozen' itu bukan gelar yang kubuat sendiri, tahu. Orang-orang di sekitarku saja yang mulai memanggilku begitu. Yah, panggil saja sesukamu. Ah, tak apa, duduklah."

"B-Baik."

Saat aku kembali duduk di ranjang, Gozen berjalan mendekat sambil bertumpu pada tongkatnya.

Langkah kakinya begitu mantap hingga sulit dipercaya bahwa dia benar-benar membutuhkan tongkat.

"Sudah lama tak bertemu, Tuan Muda keluarga Kiyomiya."

"Apa... kita pernah bertemu sebelumnya?"

Yang dimaksud dengan "Tuan Muda" mungkin adalah aku.

"Takatsugu pernah mengajakmu datang waktu kau masih bayi. Keluarga-keluarga Taika memang punya kebiasaan saling memperkenalkan anak yang baru lahir. Aku memperlihatkan Anri kecilku, dan keluarga Toyohara juga memperlihatkan putri kecil mereka."

"...Jadi Anda juga tahu soal Maki."

Padahal dia seharusnya anak yang dirahasiakan, tetapi tampaknya rahasia seperti itu memang diketahui oleh para kepala keluarga tertinggi Taika.

"Lucu juga, ya. Semua keluarga Taika cuma punya anak perempuan. Yah, mau bagaimana lagi. Ini bukan zaman dulu yang masih punya selir. Kita juga tak bisa terus memaksakan garis keturunan laki-laki. Keluarga Kiyomiya selalu keras kepala soal pewaris laki-laki, jadi berkali-kali hampir punah. Fakta kalau garis keturunan laki-laki langsungnya masih bertahan sampai sekarang saja sudah seperti keajaiban."

"...Gozen, maaf lancang, tapi sebenarnya apa yang ingin Anda katakan?"

"Cuma basa-basi. Bukankah wajar kalau seorang kakek ingin bertemu tunangan cucunya?"

"Tapi saya dengar Anda jarang sekali muncul di depan umum."

"Di usia segini aku memang sudah malas keluar rumah. Lagi pula banyak orang yang suka membesar-besarkan hal biasa. Selain itu aku juga penyendiri di Kyoto. Ketemu orang itu merepotkan."

"Begitu..."

Kurasa tidak sepenuhnya aneh kalau orang ini tertarik bertemu denganku.

Lagipula, dia juga tampaknya tidak seseram yang kubayangkan.

"Sebenarnya, kalau suatu hari bisa bertemu dengan Anda, Gozen, ada sesuatu yang ingin kutanyakan."

"Apa itu?"

"Apa Anda merasa terhina saat para samurai merebut kekuasaan pemerintahan?"

"Kau kira aku sudah hidup delapan ratus tahun?"

Aku bisa merasakan tatapan tajam dari balik kacamata hitamnya.

Ah, memang seharusnya begini. Orang ini benar-benar menakutkan.

"Aku bahkan belum mengalami Perang Dunia terakhir, tahu. Sikap kurang ajarmu itu benar-benar mirip Takatsugu waktu masih muda."

"Dibilang mirip ayahku yang reputasinya sangat buruk di kalangan bangsawan rasanya cukup rumit. Padahal menurutku membentuk kelompok sendiri, meski kecil, lalu berusaha keras itu cukup membanggakan."

"Nah, sikap seperti itulah yang bikin kubilang kau mirip Takatsugu. Hmph. Padahal kalian bahkan tidak punya hubungan darah."

"...!"

Saat tadi dia mengatakan keluarga Taika hanya memiliki anak perempuan... apa dia juga memasukkan Sayaka ke dalam hitungan itu!?

Yah, kalau dia bilang sudah mengenalku sejak bayi, tentu tidak aneh kalau dia juga mengetahui hal itu.

"...Aku adalah putra sulung Kiyomiya Takatsugu."

"Orang itu tak punya putra sulung. Anak sulungnya adalah seorang putri yang sangat cantik, bukan? Gadis yang tadi menari memakai haori emas itu. Ibunya dulu murid penerima beasiswa di sekolah ini kalau tak salah. Dia memang cantik, tapi juga sangat cerdas. Sepertinya darah hebat dari ibunya diwarisi dengan baik."

Dia bahkan tahu tentang Wakura Honoka...!

"Torikaebaya."

"Hah?"

Apa lagi sekarang?

"Artinya, 'Andai saja mereka bisa ditukar'."

"Ini mendadak jadi pelajaran sastra klasik?"

"Aku sudah mencarikan calon suami untuk cucuku sejak dia baru lahir. Anak dari keluarga baik harus diamankan secepat mungkin. Aku sempat pusing karena anak yang lahir di keluarga Kiyomiya ternyata perempuan sehingga tak bisa menjadi pewaris. Jadi kupikir, kalau begitu kenapa tidak ditukar saja? Kebetulan ada bayi laki-laki yang lahir di tempat dan waktu yang tepat."

"Jadi Anda dalangnya!?"

Tunggu, tunggu. Aku sudah tidak bisa mengikuti pembicaraan ini lagi.

Baru mengetahui Maki adalah anak yang dirahasiakan keluarga Toyohara saja sudah mengejutkan, sekarang ternyata keluarga Maritsuji juga ikut terlibat dalam penukaran aku dan Sayaka!?

"Lagipula setelah kuselidiki, secara teknis kau juga berasal dari garis keturunan laki-laki keluarga Kiyomiya. Dari sisi garis darah masih bisa diterima."

"...Bahkan soal ayah kandungku?"

Meskipun Hisaka Tsukasa adalah ibu kandungku, tampaknya bahkan Sayaka pun tidak tahu siapa ayah kandungku.

Ayah kandungku... tidak, sebenarnya siapa pun dia sudah tidak penting.

"Kelihatannya tak ada masalah berarti, jadi kubilang saja kepada Takatsugu kalau mereka tinggal ditukar."

"Menurutku masalahnya justru sangat besar. Kukira itu ide ayahku."

"Ayahmu memang kurang ajar, tapi hatinya lembek. Dia tak mungkin kepikiran ide busuk seperti menukar bayi."

"...Benar juga. Memang terdengar seperti ide yang cuma bisa dipikirkan monster tua."

"Hmph, lidahmu tajam juga."

Tatapan tajam mengarah kepadaku dari balik kacamata hitamnya.

Aku membalas menatapnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

"Kau memang benar-benar kurang ajar. Yah, tak apa. Penukarannya berjalan lancar, dan putri Takatsugu juga akhirnya berada di tempat yang semestinya. Dia bekerja sebagai pelayan di rumah Tuan Muda, bukan? Pengaturan yang lumayan. Setidaknya aku yakin kau akan menjaga gadis itu."

"Rasanya kami hanya menari di atas telapak tangan orang-orang dewasa. Perasaan itu tidak menyenangkan."

"Dunia bangsawan memang penuh hal-hal yang tak menyenangkan. Itulah kenapa aku juga memilih mengurung diri. Kalau kau membencinya, ubahlah masyarakat itu sendiri. Membentuk kelompok bukan langkah yang buruk. Semua memang harus dimulai dari sana."

"...Kakek tua... Gozen."

"Memanggilku kakek tua juga tak masalah. Bagaimanapun nanti aku juga akan menjadi kakekmu yang sebenarnya."

"Orang yang kusukai adalah Sayaka."

"Oh."

Untuk sesaat pria tua itu memperlihatkan ekspresi terkejut.

"Jadi memang jadi rumit, ya. Kau tinggal menjadikan Anri-chan istrimu, lalu menjadikan putri kandung keluarga Kiyomiya sebagai simpananmu. Walaupun selir sudah tak ada lagi, punya wanita simpanan juga tidak dilarang hukum."

"Aku tidak bisa searogan itu."

"Kalau tak arogan, kau bukan bangsawan. Nanti juga kau akan mengerti. Kelihatannya cucuku juga semangat sekali ingin bekerja sebagai pelayan, jadi kau tak akan bisa kabur."

"A-Anda bahkan tahu soal itu juga...!"

Kupikir kepalaku akan dipenggal kalau mereka tahu aku menjadikan nona muda pewaris utama keluarga Maritsuji sebagai pelayan.

"Hari ini cuma sekadar salam perkenalan. Aku akan kembali ke Kyoto. Lain kali, giliran kau yang datang menemuiku."

Setelah berkata demikian, Gozen dari keluarga Maritsuji berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang tetap tegap.

"Hmph."

Sesaat kemudian, entah kenapa, dia mendengus tidak senang sebelum meninggalkan ruangan.

Apa maksudnya tadi?

"...Kelihatannya Keiji-kun baik-baik saja."

"Semua berkatmu..."

Saat aku masih bertanya-tanya soal itu, ternyata ada seorang pelayan yang tidak tahu sopan santun menguping dari balik pintu.

Benar juga, dia memang sangat pandai bergerak tanpa suara.

Sayaka.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa