"Hei, Keiji."
"Selamat datang, Maki."
"Hah?"
Saat hendak membuka kotak bekalku di jam istirahat makan siang, dia memanggilku.
Di bagian atas tangga menuju atap ada ruang kecil yang selama ini kupakai tanpa izin.
Entah kenapa, di sana ada beberapa meja dan kursi, dan tempat itu pas sekali untuk makan sendirian.
"A-Ada apa, Keiji? Ke mana sikap dinginmu yang biasanya? Keiji yang ini bukan Keiji yang kukenal!"
"Aku tidak tahu seperti apa 'Keiji'-mu itu, tapi kali ini aku cuma ingin mengubah sikapku."
"Oh, kukira akhirnya kamu sadar akan pesona gyaru berambut pirang."
"Untuk sementara, itu belum ada dalam rencanaku."
Meski berkata begitu, sebenarnya aku merasa sedikit lebih santai.
Sampai belum lama ini, Maki adalah satu-satunya orang yang kuajak bicara di sekolah, dan kurasa dulu aku memang menikmati obrolan ringan seperti ini.
"Jadi kamu makan siang di sini, ya, Keiji? Benar-benar penyendiri."
"Berisik. Justru tempat seperti ini cocok untuk makan sendirian. Hari ini Sayaka, yang biasanya tidak pernah, membawakanku bekal."
"Kenapa tidak makan bareng Sa-chan?"
"Makan siang berdua saja dengan seorang gadis itu agak..."
Sayaka juga tampaknya tidak terlalu bersemangat, jadi aku makan sendirian seperti ini. Saat ini Sayaka sedang duduk di mejanya di kelas, makan sambil membaca novel saku. Tata krama makannya tidak terlalu bagus.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertiga makan bersama?"
"Kamu juga tidak selalu ada saat jam makan siang, kan?"
Aku memang tidak pernah tahu Maki berada di mana.
"Aku ini orang yang bebas."
"Nah, keluar lagi tarian Maki."
Maki mulai menari sambil mengayunkan anggota tubuhnya yang lentur.
Saat SMP, Maki bergabung dengan klub tari dan katanya pernah meraih hasil bagus di berbagai kompetisi.
Sekarang di SMA dia menikmati kehidupan sebagai anggota klub pulang langsung dan informan, tetapi tubuhnya tampaknya belum melupakan masa-masa di klub tari.
Tiba-tiba menari memang tingkah yang eksentrik, tetapi dia hanya melakukannya di depanku, teman dekatnya.
"Ini olahraga yang bagus. Setelah makan, tubuh harus digerakkan."
"Ngomong-ngomong, kamu memang cukup kurus ya, Maki."
"Yah, aku tetap seorang perempuan, lho. Aku juga peduli sama berat badanku."
"Mengejutkan. Kukira kamu tidak punya sisi normal seperti itu."
"Hei!"
Sambil tetap menari, Maki melancarkan tendangan rendah ringan ke kakiku.
"Kamu memang tidak menganggapku sebagai perempuan, ya? Padahal sebenarnya lumayan banyak cowok yang menyatakan perasaan kepadaku karena tubuhku."
"Karena tubuhmu...?"
Maki memang imut dan bertubuh bagus, tetapi benarkah ada cowok yang terang-terangan menyatakan perasaan dengan niat seperti itu?
"Keluarga Sogano itu keluarga kecil, dan aku juga tidak seanggun para nona muda lainnya. Mereka mungkin berpikir bisa berbuat mesum denganku tanpa kesulitan. Dasar, sebaik apa pun mereka berpura-pura jadi tuan muda dari keluarga terpandang, pada akhirnya mereka cuma binatang..."
"Bagian terakhir itu menyindirku!"
Tadi kamu sedang membicarakan cowok-cowok yang menggodamu! Aku kan tidak menggodamu.
"Tapi serius."
"Hm?"
Maki tiba-tiba berhenti menari dan berpose. Apa dia benar-benar akan serius?
"Keiji, kamu mau membentuk faksi, kan? Bukankah sudah waktunya mulai bergerak?"
"...Aku masih belum berhasil masuk sepuluh besar dalam ujian. Kalau bicara soal membentuk faksi tanpa hasil apa pun, aku cuma akan ditertawakan."
"Sekarang kamu takut ditertawakan?"
"Aku akan membuat mereka tidak bisa menertawakanku lagi. Bukankah itu arti dari 'tidak lagi menjadi sampah'?"
Kalau mereka menertawakanku, kalau mereka meremehkanku, maka sebagai anggota keluarga Kiyomiya aku bahkan tidak bisa melindungi "pelayanku".
Benar. Aku berusaha menjadi orang yang pantas menyandang nama Kiyomiya demi pelayan yang bekerja untukku. Tekadku memang sempat goyah setelah mengetahui rahasia kelahiranku, tetapi... aku tidak boleh melupakan tekad itu.
"Hmm, menurutku nilai ujian bukan satu-satunya cara membentuk faksi. Pintar bukan satu-satunya hal yang menarik. Yang penting bagi seorang pemimpin faksi adalah pesonanya sebagai pribadi."
"Aku tahu. Hanya saja, mendapat nilai bagus di sekolah adalah cara yang paling mudah menunjukkan hasil, jadi kupilih itu sebagai langkah pertama."
"Menurutku kamu tidak perlu terlalu terpaku pada itu. Keiji, lebih fleksibel sedikit, lebih... lentur."
"...Rasanya kamu malah terlalu lentur, Maki."
Apa Maki sedang merencanakan sesuatu?
"Kalau begitu, setelah pulang sekolah kita rapat strategi."
"Rapat strategi?"
"Tentang faksi. Sekalian nanti kamu ceritakan semuanya soal pertemuan perjodohanmu dengan nona muda dari keluarga Maritsuji."
"..."
Begitu rupanya. Jadi itu tujuan utamanya. Mana mungkin Maki melewatkan cerita semenarik ini.
Aku yakin tidak pernah memberi tahu Maki ke mana aku pergi kemarin, tetapi... di hadapan seorang informan, kejadian sebesar itu memang mustahil disembunyikan.
Setelah pulang sekolah, aku dan Maki keluar sekolah bersama. Aku terus terang saja memberi tahu Sayaka kalau aku akan pergi bersama Maki.
Entah kenapa rasanya seperti sedang memberi alasan kepada pacar, "Aku pergi dengan teman perempuan, jadi jangan salah paham"...
"Karaoke, ya..."
Tempat yang dituju Maki adalah sebuah karaoke di gedung pertokoan.
Maki tampaknya sudah terbiasa dan langsung mengurus proses masuk.
"Kamu jarang ke sini ya, Keiji? Tempat ini kedap suara, dan di luar juga berisik sekali, jadi cocok untuk pertemuan rahasia."
"Kamu sering ke sini ya?"
"Bukan sama orang lain. Seperti yang kamu tahu, aku tidak punya banyak teman. Aku senang bisa berteman denganmu dan Sa-chan."
"Hmm..."
Masih meragukan apakah Sayaka menganggap Maki sebagai teman. Bukankah lebih tepat kalau dia menganggapnya sebagai pengganggu yang numpang makan?
"Hah?"
Begitu kami masuk ke ruang pribadi dan duduk di sofa, aku baru menyadari sesuatu.
"Jadi selama ini kamu datang ke sini sendirian, Maki?"
"Memangnya kenapa?"
Maki menatapku tajam. Gadis yang biasanya ramah ini jarang sekali menunjukkan tatapan semenakutkan itu.
"B-Bukan. Sekarang karaoke sendirian memang sudah biasa. Hanya saja, kamu kelihatannya tipe yang lebih suka bersenang-senang bersama orang lain."
Maki pandai bergaul dan kemampuan komunikasinya sangat tinggi. Kalau saja bukan di sekolah seperti Sōshūkan yang begitu mementingkan status sosial, mungkin dia sudah menjadi pusat kelompok para siswi.
"Hm? Jangan-jangan kamu kesulitan berteman dengan siswi lain gara-gara sering bersamaku...?"
"Oh, baru sadar? Benar sekali. Para siswi menghindariku karena aku berteman dengan Kiyomiya Keiji, si anak haram yang sampah."
"M-Maki, kalau memang begitu, sebaiknya kamu berhenti berteman denganku dan..."
"Cuma bercanda. Justru kebalikannya. Aku berasal dari keluarga yang tidak dikenal siapa pun, jadi selain cowok-cowok yang cuma tertarik pada tubuhku, tidak ada yang mau mengajakku bicara. Justru kehadiranmu sangat membantuku, Keiji. Mau kamu sampah atau bukan, kita ini senasib."
"...Kamu benar-benar..."
Tadi aku benar-benar panik.
Bagaimana kalau Maki menjalani kehidupan sekolah yang kesepian gara-gara aku?
"Hehe, kamu memang orang baik, Keiji. Aku suka sisi itu."
"Jangan bilang 'suka'."
Sial. Aku sempat lengah dan malah mengkhawatirkan Maki. Padahal aku juga tidak seharusnya sedekat itu dengannya.
"Lagipula, yang pertama kali mengajakku bicara itu kamu, kan?"
"Hah? Aku?"
"Kurasa waktu kelas lima SD. Aku memang sudah tahu wajahmu sebelumnya, tapi kita belum pernah bicara. Lalu tiba-tiba saja kamu mengajakku bicara."
"...Aku tidak ingat."
Aku bukan tipe orang yang mendekati perempuan tanpa alasan. Kenapa dulu aku mulai berbicara dengan Maki...?
Benar-benar tidak ingat. Rasanya kami tahu-tahu saja sudah berteman.
"Yah, lupakan masa lalu. Waktu kita terbatas, jadi kita harus menyanyi."
"Tunggu. Bukannya kita mau rapat strategi?"
"Sebelum itu... ah, aku lupa satu hal penting."
"Apa?"
Maki tidak menjawab, hanya menyeringai lalu keluar dari ruangan.
Minuman kami sudah ada, jadi seharusnya tidak ada lagi yang diperlukan.
"Maaf membuatmu menunggu!"
"Cepat sekali!"
Maki yang kembali mengenakan bando merah muda, gaun terusan merah, dan celemek putih berenda.
Gaunnya sangat pendek hingga sedikit saja bergerak rasanya celana dalamnya akan terlihat.
Dengan kata lain...
Di depanku berdiri Maki dengan seragam pelayan rok mini.
"Kalau karaoke ya harus cosplay!"
"...Kenapa harus seragam pelayan?"
Ternyata tempat ini juga menyewakan kostum cosplay.
"Kamu suka pelayan, kan, Keiji? Katanya makan ditemani pelayan saja sudah bisa jadi lauk."
"Sejak kapan aku jadi mesum seperti itu?!"
Aku bukan suka pelayan, aku suka Sayaka... Tidak, kalau sampai keceplosan mengatakannya, habislah aku!
"Mungkin aku juga sebaiknya jadi pelayan di rumah lama. Lama-lama aku merasa tidak enak terus numpang makan."
"Pergi dari sana juga pilihan, lho."
"Sa-chan jadi kepala pelayan, aku jadi pelayan biasa. Pelayan rok mini yang ceria dan imut, lalu selalu diomeli kepala pelayan yang galak... Mantap!"

"Tidak juga."
Nanti Sayaka malah berubah menjadi atasan yang suka menindas bawahan.
Satu pelayan saja, yaitu Sayaka, sudah lebih dari cukup.
"Yah, sudahlah. Pertama, kita mulai dengan satu lagu!"
Pelayan Maki dengan riang mengoperasikan remote.
Sepertinya memang benar Maki sering karaoke sendirian karena dia sangat mahir menggunakan remote itu.
Ini juga bukan pertama kalinya aku datang ke karaoke, tetapi aku tetap tidak terbiasa dengan suasananya, apalagi mengoperasikan remotenya.
"Wah, banyak sekali lagu yang ingin kunyanyikan."
"Kalau memang ingin menyanyi sebanyak itu, tinggal ajak aku kapan saja."
"Kamu juga kadang pergi karaoke, kan, Keiji?"
"Kadang-kadang. Kalau aku cuma ikut tersenyum dan tertawa, tahu-tahu aku sudah ikut pergi bersama anak-anak sekelas."
Rasanya aku pernah menjelaskan ini kepada seseorang sebelumnya, tetapi para tuan muda dan nona muda juga pergi ke karaoke, kafe, bahkan minimarket.
"Aku juga tidak benci Keiji yang cuma tersenyum waktu itu. Menurutku itu juga salah satu cara bertahan hidup."
"Tidak sehebat itu..."
Aku meneguk habis cola yang kuambil dari bar minuman.
"Ah, ini dia! Lagu pertama yang benar-benar ingin kunyanyikan."
"Hm? Lagu apa ini?"
Lagu yang mulai diputar terdengar agak familiar.
"Hah? Kamu tidak kenal AKIHO¹, Keiji?"
"Dia penyanyi? Aku memang tidak terlalu mengikuti musik."
"Dia penyanyi yang merilis lagu-lagunya di U Cube. 'Lost Spring' keren sekali."
Setelah berkata begitu, Maki mulai bernyanyi sekuat tenaga.
Maki berdiri dan bernyanyi sambil membuat berbagai gerakan.
"..."
Rok berendanya bergoyang-goyang, dan aku bisa melihat sesuatu yang gelap di baliknya.
Celana pendek? Spats? Pokoknya sesuatu yang memang tidak masalah kalau terlihat, kan?
Selain itu, dadanya ternyata cukup besar, dan bagian dadanya yang menonjol ikut bergoyang.
"Keiji, setidaknya tepuk tangan kek!"
"Oh, iya."
Maki benar-benar tenggelam dalam nyanyiannya sehingga tampaknya tidak menyadari arah tatapanku.
Nyaris saja. Entah apa yang akan dia katakan kalau tahu aku sedang melihat ke arahnya dengan tatapan mesum. Itu bukan sifatku, jadi lebih baik aku ikut menikmati suasananya saja.
"Ya! AKIHO memang keren. Tubuhnya kecil, tapi bentuk badannya bagus, dan wajahnya cantik sekali."
"Jadi ujung-ujungnya soal wajah."
Setelah selesai bernyanyi, Maki tampak sangat puas.
Yah, selama Maki senang, itu sudah cukup, tetapi...
"Katanya AKIHO menulis lagu ini waktu masih SMA. Hebat sekali, ya? Sama-sama anak SMA, tapi yang kumiliki cuma wajah imut, sifat baik, dan kemampuan mengumpulkan informasi."
"Itu merendahkan diri atau menyombongkan diri?"
Dalam banyak hal, Maki memang bukan siswi SMA biasa.
"Jadi, kamu tidak mau menyanyi, Keiji? Ayo, kamu juga boleh menyanyi."
"Aku tidak menunggu izin darimu. Kamu mau menyanyi sebanyak apa pun silakan, tapi rapat strategi juga harus kita selesaikan. Kita tidak bisa terus bermain seperti ini."
"Keiji, kalau kamu ingin berhenti jadi sampah, kamu juga harus tahu cara bersenang-senang seperti ini. Sepintar apa pun kamu belajar, kamu tidak akan bisa membentuk faksi kalau tidak bisa bermain dan berkomunikasi."
"Jangan tiba-tiba serius begitu. Menyebalkan karena kamu benar."
"Keiji yang selama ini selalu jadi sampah dan cuma tertawa menghadapinya, lalu Sa-chan yang benar-benar terlepas dari dunia. Di antara kelompok kecil kita, akulah yang paling mengerti dunia nyata."
"...Benar."
Aku tidak punya pilihan selain mengakui bahwa Maki memang sangat paham dunia.
Pada dasarnya, gadis ini hanyalah kupu-kupu sosial yang tidak punya kelompok tetap...
"Tapi ada satu hal yang menggangguku."
"Hah? Apa lagi sekarang?"
"Keluarga Maritsuji adalah keluarga terpandang yang sangat besar. Mereka sangat menjunjung harga diri, dan kepala keluarga saat ini, si kakek itu, kabarnya begitu terobsesi pada adat lama dan tata krama kuno seolah-olah dia hidup sejak zaman Heian, bukan sekadar zaman Meiji."
"Nah, akhirnya masuk ke inti pembicaraan. Aku tahu. Bukankah dia dijuluki 'Dajō-daijin Modern'²?"
Bagian "Dajō-daijin" itu memang sindiran yang menarik. Itu memang jabatan tertinggi pada masanya, tetapi sekaligus gelar yang nyaris tidak memiliki kekuasaan. Mungkin julukan itu diberikan untuk menyindir lelaki tua sombong yang bertingkah seolah hidup sejak zaman Heian.
"Menurutmu orang seperti itu benar-benar akan menyetujui lamaran pernikahan dengan anak di luar nikah keluarga Kiyomiya, meskipun belum diputuskan secara resmi?"
"Itu juga yang kupikirkan... tapi bagaimana kalau lelaki tua Maritsuji itu bahkan tidak tahu soal lamaran ini?"
"Tidak mungkin."
Maki mengayunkan mikrofon yang masih dipegangnya.
"Kepala keluarga Maritsuji itu bukan orang sembarangan. Seluruh kekuasaan benar-benar berada di tangannya. Semua yang dilakukan putra dan menantunya selalu dilaporkan kepada 'Gozen'² di Kyoto."
"G-Gozen... seram sekali."
Aku benar-benar penasaran orang itu sebenarnya hidup di zaman apa.
"Katanya hanya segelintir orang setiap tahun yang bisa mendapat kesempatan bertemu dengan Gozen. Bahkan anggota keluarga dan kerabatnya sendiri sering kali tidak bisa membuat janji."
"Bukankah lelaki tua itu cuma pembenci manusia?"
Atau jangan-jangan dia sedang melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.
"Dia punya banyak anak, cucu, dan keturunan lainnya, tetapi ada cucu yang bahkan belum pernah ditemuinya sama sekali. Akan tetapi..."
"Hm?"
"Hanya ada satu kerabat yang sangat dia sayangi..."
"Jangan bilang itu Maritsuji Anri."
"Serius."
Maki mengangguk dengan ekspresi serius, lalu meletakkan mikrofon dan mulai mengoperasikan ponselnya.
Kemudian dia memperlihatkan layarnya kepadaku. Di sana terpampang foto seorang lelaki tua berwajah garang dengan rambut putih panjang, mengenakan kimono biru tua dan duduk bersila.
"Jadi ini kepala keluarga Maritsuji saat ini. Baru kali ini aku melihat fotonya."
"Katanya foto dirinya memang jarang dipublikasikan. Dan yang ini, tentu saja..."
"Anri-chan..."
Di pangkuan lelaki tua berwajah garang itu duduk seorang gadis kecil yang lucu, kira-kira berusia lima tahun.
Rambut hitamnya yang halus diikat kecil di sisi kanan kepala, dan dia mengenakan gaun putih.
Meskipun masih seumur anak taman kanak-kanak, dia duduk dengan kedua lutut rapat sambil tersenyum anggun.
"Entah kenapa... Anri-chan memang sudah terasa seperti Anri-chan sejak dulu."
"Maritsuji Anri memang sudah jadi produk jadi sejak kecil."
Maki tampaknya tidak mempermasalahkan aku memanggilnya Anri-chan.
Mungkin dia memang sudah tahu.
"Katanya Maritsuji Anri adalah satu-satunya anak dan cucu Gozen yang pernah diizinkan duduk di pangkuannya."
"Berarti Anri-chan memang cucu kesayangan lelaki tua itu."
Sepertinya memang benar kepala keluarga Maritsuji sangat menyayangi cucunya, Anri-chan.
Lelaki tua ini sama sekali tidak terlihat seperti tipe yang akan tersenyum sambil memangku anak kecil, meskipun itu cucunya sendiri. Bahkan di foto ini pun wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Sejak kecil dia sudah cerdas dan anggun, ditambah lagi memiliki kecantikan yang memikat orang. Kabarnya Gozen sudah melihat bakatnya sejak dini dan terus memperhatikannya."
"Memangnya bakat seseorang bisa diketahui hanya dengan melihatnya waktu masih kecil? Tapi memang benar kalau Anri-chan sangat disayangi."
"Menurutmu Gozen akan memberikan cucu kesayangannya kepada anak keluarga Kiyomiya, meskipun dia anak di luar nikah? Kalau benar ada pembicaraan soal pernikahan, bukankah dia pasti langsung datang untuk menghancurkannya?"
"Jadi maksudmu ada sesuatu yang mencurigakan di balik lamaran ini."
Semuanya memang terjadi begitu mendadak, dan bahkan tanpa diberi tahu Maki pun aku sudah menganggap aneh kenapa keluarga Maritsuji mengajukan lamaran seperti itu. Namun sekarang, ada hal lain yang lebih menggangguku.
"Oh, kamu juga mau foto ini, Keiji? Lolitsuji-san memang luar biasa, ya?"
"Jangan memberi putri keluarga terpandang julukan seburuk itu!"
Meski begitu, fotonya benar-benar dikirim kepadaku.
Lolitsuji... bukan, Maritsuji Anri. Kenapa gadis yang begitu disayangi justru ingin menjadi istriku?
Apa keluarga Maritsuji benar-benar menyetujui lamaran ini? Aku memang penasaran, tetapi...
"..."
"Ada apa, Keiji? Mau foto Lolitsuji-san pakai baju renang?"
"Aku tidak perlu!"
Bukan itu.
Sama sekali bukan itu.
Sehebat apa pun dia sebagai informan, kenapa Maki memiliki foto seperti ini?
Dia memang bilang keluarga Sogano adalah bagian dari keluarga Toyohara, tetapi... aku mulai merasa ada rahasia lain di balik itu.
Rahasia tentang kelahiranku dan Sayaka saja sudah lebih dari cukup.