Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 2 Chapter 4 — Memilihkan Baju untuk Adik Perempuanku

“Oh, hei, Kyota. Pagi. Seru ya, bolos sekolah buat kencan?”

Senin pagi.

Begitu aku masuk ke kelas, temanku, Amaya Mizuki, langsung menyapaku.

Mizuki nyengir sambil menyenggol bahuku. Tubuhnya menguar aroma segar dan bersih, sesuatu yang rasanya mustahil untuk orang yang baru saja selesai latihan pagi di awal musim panas.

Apa cowok ganteng itu bahkan baunya juga ganteng?

Sementara aku di sini hidup dalam ketakutan akan hari saat Soyoka bilang kalau aku bau... Aku dengar, kalau anak perempuan makin besar, mereka mulai menjaga jarak dari ayahnya. Kalau Soyoka sampai menghindariku, aku benar-benar tidak akan sanggup melanjutkan hidup...

Tanpa sadar aku malah terjerumus ke pikiran sedih, jadi kekesalanku kulampiaskan ke Mizuki.

“Anak klub olahraga tuh harusnya lebih bau keringat. Kamu terlalu segar.”

“Aku nggak nyangka bakal diprotes gara-gara nggak bau. Aku sebenarnya cukup perhatian soal aroma tubuh, tahu.”

“Mau seberapa perhatian pun, ada orang-orang yang memang nggak bisa menghindarinya...”

Bukan berarti aku bau, oke? Serius.

Buktinya, sampai sekarang Soyoka masih sering nempel terus padaku. Untuk sementara aku harusnya masih aman.

“Jadi, kamu nggak mau menyangkal soal kencannya?”

“Itu tamasya orang tua dan anak.”

“Iya, ya, aku juga tahu. Soalnya selama seminggu terakhir kamu pamer soal itu hampir tiap hari. Tapi Akiyama-chan juga bolos, berarti kalian bareng, kan?”

“Iya, Akiyama ikut.”

“Nah, kan? Berarti kencan.”

Mizuki menyatakannya begitu saja sambil tersenyum cerah.

Bukan cuma Akiyama, tentu saja Soyoka dan Iku juga ada, dan masih banyak keluarga lain juga. Aku sendiri belum pernah menjalani sesuatu yang disebut “kencan normal”, jadi memang tidak bisa menilai dengan pasti, tapi menurutku itu bukan kencan.

Setidaknya, baik aku maupun Akiyama sama sekali tidak menganggapnya seperti itu.

Itu cuma aktivitas biasa sebagai wali murid. Acara TK.

“Kalau harus disebut apa, itu sih kencan dengan Soyoka! Serius deh, Soyoka itu dari pagi sudah semangat banget, terus dia juga senang banget sama bento yang kubikin. Selama tamasya dia kelihatan benar-benar menikmati semuanya...”

Akiyama tidak penting. Bintang utama tamasya orang tua dan anak itu adalah Soyoka.

Seolah memang sudah menunggu, aku langsung mulai menceritakan kenangan-kenanganku soal tamasya itu.

“Nah, mulai lagi.”

Mizuki cuma mengangkat bahu sambil tersenyum kecut.

“Ya mau bagaimana lagi, Soyoka memang terlalu imut...”

Entah kenapa, setiap kali aku buka mulut, aku selalu tanpa sadar mulai membicarakan Soyoka.

“Ya, aku akui dia memang imut.”

“Hah? Bisa nggak kamu jangan bilang adik perempuan orang lain itu imut?”

“...Soyoka-chan sama sekali nggak imut.”

“Mana ada, jangan bercanda.”

“Definisi tidak masuk akal banget, ya.”

Kalau Mizuki bilang dia imut, aku kesal. Tapi kalau dia bilang dia nggak imut, aku malah lebih kesal lagi.

“Aku dulu juga suka banget tamasya~”

Yang tiba-tiba masuk ke percakapan kami adalah Hiiragi Hikaru. Ia mengipasi wajahnya dengan buku catatan, menciptakan hembusan angin kecil.

Hiiragi adalah idola kelas, si kupu-kupu sosial yang bisa ngobrol ceria dengan siapa saja.

Dia sangat populer dan sering ditembak, tapi karena kelihatannya dia menaruh minat pada Mizuki, jumlah mayat pria yang bergelimpangan pun terus bertambah.

“Iya sih, kamu memang aktif banget, Hikaru.”

“Banget! Aku pengin lihat tempat sebanyak mungkin, makanya pas perjalanan pulang biasanya aku selalu mepet.”

Anak ini, tiap ada kesempatan pasti langsung mendekati Mizuki ya...?

Hiiragi melirik ke arahku lalu memberiku kedipan singkat.

Dia tentu bukan sedang menggoda aku, mungkin itu semacam sinyal agar aku membantu dia membuka obrolan dengan Mizuki...

Apa kemampuan melakukan gerakan seperti itu dengan begitu santai memang alasan dia sepopuler ini? Soalnya walaupun aku tahu apa maksudnya, jantungku tetap saja sempat berdebar, jadi aku harap dia berhenti.

“Ngomong-ngomong, panas banget ya? Seragam musim panas sama sekali nggak adem.”

Hiiragi, sama seperti sebagian besar teman sekelas kami, sudah beralih ke blus dan kemeja lengan pendek.

Tapi, di pinggangnya masih terikat cardigan tipis.

“Kalau begitu, bukannya cardigan itu bisa kamu lepas?”

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, Hiiragi langsung menatapku dengan pandangan menghina.

“Kuremocchan, kamu nggak boleh mengkritik fashion cewek.”

“Haaah...”

“Lagipula, kalau aku jalan-jalan di luar pakai lengan pendek begitu saja, kulitku bisa belang.”

“Oh, begitu. Yang itu bahkan aku juga paham. Aku juga selalu pakai banyak sunscreen buat Soyoka.”

“Mm-hm, mm-hm, itu penting.”

“Tentu saja, walaupun Soyoka tetap imut meski kulitnya agak gelap, terlalu banyak kena matahari itu nggak baik buat kesehatan. Demi menjaga kulit Soyoka yang lembut dan lembap, aku nggak ragu beli yang bagus meskipun agak mahal. Dan tentu saja, bukan cuma sunscreen, malam hari juga...”

“Oh iya, Mizuki. Soal latihan hari ini, pelatih katanya nggak bisa datang.”

“Hah? Tunggu, tadi aku sebenarnya lagi ngobrol sama siapa?”

Aku diabaikan dengan mulus.

Rupanya cuma aku yang mengira kami tadi sedang seru-serunya ngobrol soal rutinitas kecantikan cewek.

“M-Maaf. Tekanannya tadi agak terlalu kuat...”

Hiiragi menjulurkan lidah dan meminta maaf dengan santai. Lalu, dia langsung kembali mengobrol soal klub dengan Mizuki.

Mizuki dan Hiiragi sama-sama anggota klub tenis, jadi topik obrolan mereka tidak pernah habis. Karena itu semua hal-hal yang tidak kumengerti sebagai anggota klub pulang langsung, aku cuma mendengarkan tanpa ikut menyela.

“Oh, itu Sumi! Hei!”

Begitu Hiiragi berseru, perhatian seluruh kelas langsung tertuju ke pintu masuk kelas.

Yang datang adalah Akiyama. Seperti biasa, di sekolah wajahnya datar tak berekspresi...

Tapi bahkan ini sudah termasuk perkembangan. Buktinya, ia membalas lambaian tangan Hiiragi dengan anggukan kecil.

“Pagi, Hikaru.”

“Pagiii!”

Hiiragi langsung merangkul Akiyama dengan penuh semangat.

Akiyama sempat ragu, tapi kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.

Dua gadis cantik yang saling lengket begini... Pemandangan yang indah sekali. Rasanya jiwaku ikut dibersihkan.

Siapa sangka, bulan lalu hubungan mereka nyaris bisa dibilang bermusuhan.

Namun, karena Akiyama membuka hatinya, dia dan Hikaru pun berdamai. Sekarang hubungan mereka malah jadi cukup akrab.

Yah, Hiiragi mungkin juga melakukannya sebagian demi mendekati Mizuki. Dan Mizuki tampaknya suka pada Akiyama juga, mungkin karena merasa dia itu sesuatu yang baru.

“Kamu lihat apa?”

“Kuremocchan... jangan-jangan kamu akhirnya mulai tertarik juga pada anak SMA perempuan?”

Bahagia sekali, bahagia sekali... Saat aku sedang menikmati pemandangan dua orang itu yang tampak akrab, Akiyama malah menatapku tajam.

Hiiragi berdiri di depannya seperti bodyguard, seolah melindunginya.

Tunggu, maksud “juga” di situ apa? Kedengarannya seperti aku sebelumnya tertarik pada sesuatu yang lain.

Sebagai catatan, aku baik-baik saja kok kalau harus menyukai cewek seumuranku...

Karena mereka berdua menatapku dengan jijik, aku buru-buru berusaha membela diri.

“...Nggak, aku cuma lagi mikir kalau kalian berdua lengket-lengket begini di cuaca sepanas ini kelihatannya pengap.”

“Wah, jahat banget. Aku nggak mau dengar itu dari kamu, Kuremocchan.”

“Sebegitu pengapnyakah aku di mata kalian?”

“Dalam arti tertentu!”

Mustahil... tidak ada laki-laki yang lebih sejuk dariku.

Yah, kalau urusan Soyoka memang aku suka terlalu berapi-api, jadi kurasa dia tidak sepenuhnya salah!

“Ahaha, kalian bertiga jadi akrab banget ya,” kata Mizuki.

“Akiyama sama Hiiragi sih mungkin, tapi kalau aku nggak juga...”

“Kelihatannya sih kalian akrab. Kalian benar-benar sudah jadi teman.”

“...Kamu ngomongnya kayak urusan itu sama sekali nggak ada hubungannya denganmu.”

“Oh ya?”

Mizuki menopang pipinya dengan tangan sambil tersenyum cerah.

Dia memang berteman dengan semua orang. Mungkin buat dia, perasaan “berteman” itu sendiri sudah jadi agak hambar.

Dalam arti itu, Hiiragi juga tipe yang bisa akrab dengan semua orang. Dia bisa bicara dengan siapa saja, tanpa peduli lawan bicara itu cowok atau cewek.

“Iya, kan? Vibe kita berempat tuh bagus banget.”

Hiiragi mengangguk setuju, sambil diam-diam memasukkan Mizuki ke dalam hitungannya.

Aku dan Akiyama saling berpandangan lalu mengangguk samar. Janji untuk tidak berbicara di sekolah rasanya sudah benar-benar kehilangan makna.

“Oh iya, Sumi, kamu juga habis ikut tamasya, kan? Gimana?”

“Seru. Saat bersama teman-temannya, Iku bertingkah lebih seperti anak kecil daripada saat di rumah.”

“Heeh~. Di sekitar kita sih dia kelihatan pendiam dan anteng, tapi ternyata dia juga bisa kekanakan ya. Yah, umurnya kan baru tiga tahun, itu normal.”

Aku sudah pernah bercerita pada Mizuki dan Hiiragi soal Iku. Atau lebih tepatnya, aku mengenalkan mereka tanpa bertanya dulu.

“Mungkin dia gugup kalau di sekitar kita?”

“Oh, itu juga mungkin. Buat Iku-kun, kita ini cuma orang dewasa yang belum terlalu dia kenal. Di sisi lain, Soyoka-chan sama sekali nggak pemalu.”

“Mereka berdua imut.”

Baik Mizuki maupun Hiiragi bisa menerima keberadaan Soyoka dan Iku dengan baik.

Memang dia tidak seimut Soyoka, tapi Iku juga imut kok! Siapa pun yang pernah bertemu dia sekali pasti akan menyukainya.

Sebagai hasilnya, kekhawatiran Akiyama bahwa Iku akan disakiti orang lain pada dasarnya sudah hilang. Begitu kami berhasil mengamankan kerja sama dari Hiiragi, tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikan semua ini di sekolah.

Kelompok cewek yang dulu suka mengganggu Akiyama juga sudah tidak mengusiknya lagi, mungkin karena sekarang Hiiragi selalu ada di dekatnya.

Meski begitu, tampaknya Akiyama sendiri masih belum siap membicarakan semuanya secara terbuka. Selama ini dia terbiasa tidak bicara dengan siapa pun, jadi wajar kalau sulit baginya untuk tiba-tiba berubah arah.

...Tunggu, kenapa aku jadi begitu memperhatikan Akiyama?

Ini pasti karena itu. Karena Akiyama terlalu kikuk, semacam naluri orang tua tumbuh dalam diriku. Aku jadi tidak bisa membiarkannya sendirian sambil bertanya-tanya kapan dia akan membuat masalah baru lagi.

“Aku pengin lebih akrab sama Iku-kun~,” kata Hiiragi sambil melirik Mizuki.

“...Walaupun kamu minta begitu, Hikaru, aku nggak akan kasih Iku ke siapa pun.”

“Kakaknya langsung nolak ya? Tapi tahu nggak, banyak orang itu cinta pertamanya sama perempuan yang lebih tua.”

“Heeh? Begitu ya. Jadi kamu akan jadi musuhku ya, Hikaru.”

“Serem.”

Akiyama menaikkan satu alis lalu menatap Hiiragi tajam.

Tentu saja, mereka berdua hanya bercanda. Suasana tegang itu langsung pecah saat Hiiragi membuat wajah lucu.

“Aneh ya... Kalau aku mendekati Iku, dia mengeluarkan niat membunuh yang lumayan serius.”

“Kalau kamu sih, Kyota, ada kemungkinan itu bukan bercanda.”

“Mana mungkin... Yah, tapi Iku memang kelihatannya jadi suka padaku. Waktu tamasya juga dia sempat menghampiriku.”

“...Tak termaafkan.”

Akiyama maju selangkah ke arahku sambil bergumam seperti tokoh film horor. A-Aku bakal dibunuh...

Tapi kenyataannya, aku dan Iku memang jadi lumayan dekat. Karena sama-sama laki-laki, ada banyak hal yang bisa kami saling pahami.

“Hehehe. Tapi enak ya. Aku juga pengin bolos sekolah dan ikut tamasya. Tamasya bareng anak TK kelihatannya seru banget, kan?”

“Wah, mengejutkan. Aku nggak tahu kamu suka anak kecil.”

“Aku suka diriku yang suka anak kecil,” kata Hiiragi sambil berpose dengan tangan di dagu. Menyebalkan sih, tapi dia memang lucu. Mau semanufaktur apa pun, lucu ya tetap lucu... Meskipun keimutan Soyoka sepenuhnya natural!

“Kamu jujur banget sampai kebangetan...”

“Bercanda, bercanda. Aku memang suka anak kecil kok. Mereka imut.”

Kali ini dia mengatakannya sambil tersenyum alami.

“Iya. Soyoka itu terutama sudah level tertinggi.”

“Benar. Meski Iku ada satu tingkat di atasnya.”

“Mana mungkin ada yang di atas Soyoka.”

Saat aku dan Akiyama mulai berdebat, Hiiragi kembali tertawa dengan suaranya yang tinggi. Lalu sambil tertawa, dia menepukkan kedua tangannya.

“Oh, aku tahu.”

Pandangannya berpindah dari Akiyama, ke Mizuki, lalu ke aku, dan setelah itu dia bicara.

“Ayo kita pergi main bareng. Kita berempat, plus Soyoka-chan dan Iku-kun!”

Memang dari tadi tujuanmu mengarahkan pembicaraan ke sini, ya...? Kalimat itu kutelan kembali, karena kupikir kalau aku mengatakannya, Hiiragi bisa benar-benar marah.

Di akhir pekan, kami pun janjian bertemu di sebuah mal dekat rumah.

Tempat pertemuannya adalah plaza yang dihiasi pipa organ raksasa. Pola putih dan birunya, yang menyerupai ekor burung merak, indah sekali dan mau tak mau menarik perhatian.

Aku sendiri tidak terlalu suka belanja, jadi tempat ini cuma kudatangi kalau mau nonton film. Tapi katanya, dengan lebih dari dua ratus toko, tempat ini termasuk salah satu yang terbesar di Prefektur Kanagawa. Terutama toko fashion, interior, dan barang kebutuhan hidupnya sangat banyak. Belum lagi bioskop dan restorannya.

Saat aku mendekati tempat janjian, Mizuki dan Hiiragi sudah ada di sana.

“Itu Mizuki!”

Begitu melihat wajah Mizuki, Soyoka langsung melepas tanganku dan berlari ke arahnya. Mizuki berjongkok, dan Soyoka langsung melompat ke dalam pelukannya.

“Doon.”

“Halo, Soyoka-chan. Baju itu lucu.”

“Makasiii!”

Katanya, klub tenis libur setiap dua minggu sekali di hari Minggu, jadi kami memutuskan bertemu hari ini.

Kami memang sempat bertemu di sekolah, tapi ini pertama kalinya aku bertemu Mizuki dan Hiiragi di luar sekolah sejak insiden Akiyama.

Mizuki cuma mengenakan kaus putih sederhana, tapi entah kenapa dia tetap kelihatan bagus.

“Soyoka-chan, kamu masih ingat aku?” tanya Hiiragi sambil berjongkok di samping Mizuki.

Hiiragi mengenakan hot pants, kaus, dan topi, memberi kesan ceria dan energik.

Gayanya santai tapi tetap girly, tidak berlebihan. Ngomong-ngomong, ke mana cerita soal perlindungan dari matahari yang dia katakan di sekolah? Sekarang justru kulitnya banyak terekspos seolah itu hal paling biasa di dunia.

“Hii-chan.”

“Betul! Wah, serius? Aku senang banget. Akhirnya kamu ingat namaku.”

Begitu Soyoka menunjuknya sambil menyebut namanya, wajah Hiiragi langsung berubah jadi senyum bodoh bahagia sambil mengelus kepala Soyoka.

Dia benar-benar sudah kena pesona Soyoka!

“Berarti Soka super popuweeer?”

Dikelilingi kakak laki-laki dan kakak perempuan berkilau yang memanjakannya, Soyoka tampak sangat puas.

Melihat itu, keduanya saling bertukar pandang.

“Kalau begini, rasanya Soyoka seperti anakku dan Mizuki ya?”

“Ahaha, kalau kamu bilang begitu, nanti Kyota cemburu.”

“Eh? Kuremocchan suka aku? Atau sukanya sama Mizuki?”

Mereka ngomong sesuka hati sambil mengelilingi Soyoka.

“Hah! Segitiga cinta.”

Mata Soyoka berbinar saat melihat ke arahku.

Hiiragi sih sudahlah, tapi kenapa aku dan Mizuki...? Bukan, Hiiragi juga jelas tidak.

“Dua-duanya sama sekali nggak mungkin... Yang lebih penting, balikin Soyoka. Dia bukan anak kalian, dia itu adikku.”

“Tuh kan? Cemburu.”

Mizuki menatapku dengan ekspresi memancing, lalu merangkul punggung Soyoka. Soyoka sendiri sambil berkata, “Hii, aku mau dimakan,” sama sekali tidak berusaha melepaskan diri.

Sial, berani-beraninya dia melakukan itu pada Soyoka...

“S-Soyoka...? Ayo balik ke sini.”

“Soka mau sama Mizuki dan Hii-chan.”

“Soyokaaaaa!”

Belakangan ini aku mulai curiga, jangan-jangan Soyoka memang benci padaku?!

Rasanya dia menganggapku sebagai orang yang boleh diperlakukan seenaknya... T-Tidak, ini pasti bentuk kasih sayang!

“Iku, ayo kita pergi belanja sendiri saja biar tidak dikaitkan dengan mereka.”

Suara dingin yang biasa itu terdengar dari arah kami.

Yang datang adalah Akiyama dan Iku.

Hari ini Akiyama mengenakan jaket tipis, gayanya sedikit boyish. Sangat cocok dengan ekspresinya yang tegas.

Sementara Iku mengenakan rompi di atas kemejanya, memberi kesan pangeran kecil. Dibandingkan Hiiragi dan Mizuki, pakaian mereka berdua terasa lebih rapi dan formal.

“Soyoka-chan.”

Iku mendekati Soyoka dengan wajah sedikit cemberut.

“Iya.”

Soyoka menjawab sekenanya dari dalam pelukan Mizuki.

“Mmph... Soyoka-chan, kamu nggak boleh nempel terus sama dia!”

“Eh, kenapa?”

“Pokoknya nggak boleh!”

Iku terlihat kesal sambil menarik tangan Soyoka.

J-Jangan-jangan dia cemburu?!

Aku paham. Tadi aku juga sedang cemburu pada Mizuki yang merebut Soyoka. Menyebalkan sih kalau harus menyerahkannya pada Iku, tapi tolonglah, ambil kembali dia...!

“Aku nggak akan menyerahkan Soyoka-chan.”

“Nggak mau!”

Sudut bibir Mizuki terangkat geli sambil memeluk Soyoka lebih erat, dan Iku menarik tangannya lebih kuat lagi.

“Soka mau kebelah dua.”

Ini benar-benar situasi klise “jangan rebutan aku dong!” Soyoka kelihatannya malah menikmati semuanya.

“I-Imut banget~! Iku-kun, ayo kita main yang seru berdua. Aku bikin kamu lupa sama Soyoka-chan!”

“Hah?”

Rupanya hati Hiiragi tersentuh, dan kali ini Iku yang jadi korbannya.

Didekati kakak perempuan berkilau seperti dia, bahkan anak TK pun tidak akan bisa tetap tenang...

Pipi Iku langsung memerah, dan dia terus melirik wajah Hiiragi.

“Hikaru-neechan, aku... anu...”

Laki-laki memang makhluk yang gampang goyah... ya mau bagaimana lagi.

Tapi aku tidak akan mengalihkan pandanganku dari Soyoka, tidak peduli apa pun!

“Hikaru...?”

Akiyama, yang dari tadi menonton kekacauan ini bersamaku, akhirnya tidak bisa diam saat Hiiragi mulai mempermainkan Iku.

Urat di dahinya berkedut saat dia melangkah mendekati Hiiragi.

“Kamu sedang ngapain pada Iku-ku?”

“Ah, ahaha...”

Pipi Hiiragi berkedut, lalu dia menjauh dari Iku.

Akiyama yang serius memang menakutkan...

Akiyama menghela napas, menggandeng tangan Iku, lalu menariknya kembali ke sisi tubuhnya. Setelah merapikan rambutnya, dia bicara.

“Maaf terlambat. Sepertinya kami yang terakhir.”

“Nggak, nggak, waktunya bahkan belum sampai kok!”

Dengan datangnya Akiyama dan Iku, anggota untuk jalan-jalan hari ini pun lengkap.

Dengan jumlah enam orang, kami harus hati-hati supaya tidak mengganggu sekitar.

“Oke, kalau begitu ayo pergi?”

Mizuki secara alami mengambil peran memimpin.

Atas ucapannya, kami semua mulai berjalan. Sebagai catatan, Soyoka sudah berhasil mengamankan posisi tepat di sebelah Mizuki. Akiyama dan Iku berjalan di belakang mereka, jadi dengan berlinang air mata aku harus berjalan di barisan paling belakang bersama Hiiragi.

“Kita mau ke toko mana dulu?”

Aku ikut karena dia mengundangku, tapi aku sama sekali tidak familiar dengan tempat ini. Toko apa saja yang ada di sini pun aku tidak tahu.

“Kuremocchan, kamu kan pembawa barang, jadi nggak usah pusing. Bintang utamanya itu Soyoka-chan.”

“Jadi aku cuma orang tambahan. Oke, kupahami sepenuhnya.”

“Ahah. Yah, nanti aku bantu pilihkan baju buat Soyoka-chan! Sekalian juga aku memang pengin jalan-jalan sama Sumi.”

Hmm, perlakuan Hiiragi ke aku sih sama seperti biasanya dan itu tidak masalah, tapi tawarannya untuk membantu memilihkan baju buat Soyoka jelas sangat berarti.

Soalnya, jujur saja aku sama sekali tidak paham soal baju anak perempuan. Aku cuma melihat referensi outfit di internet lalu membeli yang ingin kulihat dipakai Soyoka.

Dalam hal itu, aku tidak meragukan selera Hiiragi sedikit pun.

Demi melihat Soyoka yang lebih imut lagi, jadi tukang bawaan pun aku rela.

“Bercanda. Kuremocchan, orang yang paling penting bagiku itu justru kamu,” bisik Hiiragi dengan suara manis sambil menarik ujung lengan bajuku.

“Biar bisa mendekati Mizuki?”

“Oh, ternyata kamu lumayan cepat nangkap ya.”

“Sekarang setelah kita semua sudah kumpul, bukannya tugasku sudah selesai? Lagipula, daripada muter-muter begini, rasanya kamu tinggal ajak dia kencan biasa saja juga bisa.”

“Oups, ternyata kamu lambat nangkap juga.”

“Penilaianku berubah terlalu drastis hanya dalam beberapa detik.”

Aku benar-benar nggak paham cewek... meskipun firasatku bilang Hiiragi ini memang kasus khusus.

“Tahap sebelum cinta itu justru bagian yang paling seru.”

“Oh ya?”

“Lagipula, kurasa Mizuki juga nggak akan mau kalau langsung diajak kencan.”

“Kalau kamu terlalu santai, bisa-bisa dia malah jadian sama cewek lain lho.”

Untuk saat ini, kemungkinan itu sih kelihatannya kecil.

Walaupun dia sangat populer, setahuku dia belum pernah punya pacar selama SMA. Aku tidak tahu waktu SMP atau di luar sekolah bagaimana, tapi setidaknya aku belum pernah dengar Mizuki bicara soal pacar.

“Kurasa tidak apa-apa. Lagi pula, kalau dia tipe orang yang gampang jatuh begitu saja, dari awal aku juga nggak akan suka padanya.”

“Percaya diri banget.”

“Bukan percaya diri. Aku cuma memang nggak berniat kalah.”

Seperti biasa, dia cewek yang anehnya terasa jantan. Kalau aku bilang begitu, dia mungkin akan bilang aku tidak memahami hati gadis, jadi aku memilih diam.

Dulu aku sempat berpikir tidak ada alasan cewek secantik Hiiragi mengejar Mizuki, tapi sekarang aku paham. Ternyata dia tipe yang suka mengejar ya? Dalam arti itu, mungkin dia dan Mizuki memang sejenis.

Dua-duanya menyebalkan juga...

“Jadi, untuk hari ini tolong bantu aku ya~”

“Kenapa aku harus...”

“Kalau kamu bantu, aku kasih hadiah.”

Hiiragi menyandarkan tubuhnya ke bahuku dan berbisik pelan.

Kurasa memang tidak bagus kalau dia terlalu santai dan terlalu alami dalam menyentuh orang seperti ini.

Aku jadi bertanya-tanya sudah berapa banyak cowok yang salah paham gara-gara sikapnya ini. Begitu memikirkan jumlah korban yang sudah dijatuhkan Hiiragi, air mataku hampir menetes dengan sendirinya.

Dan yang lebih parah lagi, dalam kasus Hiiragi, dia melakukannya dengan sadar.

Natural, tapi buatan.

“Kyota-niichan, dewasa banget...”

Iku yang sedang ditarik Akiyama menoleh ke belakang sambil berjalan, wajahnya memerah.

Hei, gara-gara kelakuan Hiiragi, Iku jadi salah paham. Dari sudut pandangnya, sentuhan fisik Hiiragi pasti memang terlihat sangat dewasa.

“Hehe.”

Hiiragi keterusan, lalu melingkarkan tangannya ke lenganku.

Iku terus melirik ke arah kami sambil makin memerah. Ternyata dia lumayan tertarik juga. Yah, dia juga laki-laki soalnya.

“...? Iku, ada apa?”

Menyadari keadaan Iku, Akiyama pun berhenti berjalan.

“Nee-chan kelihatannya nggak bakal menang.”

“Maksudmu apa...?”

“Nggak jadi.”

Iku menggeleng kencang lalu kembali menghadap depan.

Yah, Akiyama memang mungkin tidak bisa menandingi sex appeal Hiiragi...

Tapi karena aku tahu niat asli Hiiragi, tidak ada ruang bagiku untuk salah paham.

“Iku-kun itu imut banget~. Jadi pengin aku godain.”

“Tolong hentikan?! Mempermainkan hati polos anak TK itu dosa berat.”

“Nggak apa-apa, nanti jadi kenangan indah buat dia. Kenangan pertengahan musim panas bersama onee-san yang lebih tua...”

“Itu malah jadi trauma... Pokoknya lepasin lenganku.”

Karena terlalu repot kalau harus terus berdebat, aku paksa melepaskan diri darinya.

Yah, meskipun aku bilang akan membantu, sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik pada kisah asmara Hiiragi.

Aku baru belakangan ini mulai sering berinteraksi dengannya, dan aku itu temannya Mizuki. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang mungkin tidak disukai Mizuki.

Kalau aku membantu Hiiragi di sini, rasanya sama saja seperti mengkhianati teman.

Aku tidak bisa membantunya. Aku akan bilang itu dengan jelas. Aku ini laki-laki yang lebih mengutamakan persahabatan daripada wanita.

“Hadiahmu adalah koordinasi outfit lengkap buat Soyoka-chan.”

“Serahkan padaku. Satu atau dua Mizuki masih pantas dikorbankan demi Soyoka.”

“Oke, sepakat!”

Aliansi pun terbentuk.

Persahabatan dengan Mizuki? Cowok ganteng memang seharusnya sedikit menderita.

“Mizuki~. Kita ke mana dulu?”

Hiiragi mempercepat langkah sedikit agar bisa sejajar berjalan di samping Mizuki.

...Bukannya dia sebenarnya sama sekali tidak butuh bantuanku? Dia sendiri sudah bisa mendekatinya dengan lancar.

Tapi, meskipun dia begitu lengket padaku, dia justru menjaga sedikit jarak dari Mizuki. Mungkin dia memang tidak menganggapku sebagai laki-laki... Yah, aku juga tidak terlalu peduli.

Mizuki memang tidak suka orang terlalu lengket padanya, jadi mungkin ini strategi yang diperhitungkan. Kalau begitu, strateginya memang tepat.

“Kamu kasihan banget.”

Setelah aku sendirian, Akiyama mengarahkan tatapan penuh simpati padaku.

“...Maksudnya?”

Karena kami keluar ke lorong yang cukup lebar, akhirnya aku berjalan di sebelah Akiyama dengan Iku di antara kami. Formasinya jadi dua baris masing-masing tiga orang.

“Hikaru tampaknya sangat berpengalaman. Wajar saja kamu mudah goyah, Kyota. Kalaupun nanti gagal, kamu juga nggak perlu menyesal. Fakta bahwa kamu sudah mencoba itu yang penting.”

“Kamu sebenarnya ngomong apa sih?”

“Hikaru itu lucu... Jadi wajar kalau kamu jatuh padanya. Tapi kamu sebaiknya juga sedikit mempertimbangkan posisimu sendiri. Tenang saja, aku yakin di suatu tempat pasti ada gadis yang akan menyukaimu juga, Kyota... Kemungkinannya bukan nol.”

“Aku ini sedang disalahpahami sekaligus dihina dalam waktu yang sama?!”

Bukan, kalau dipikir-pikir aku malah sedang dihibur. Tatapan penuh iba penuh kasih dari Akiyama itu justru bikin aku kesal.

Dari mana ceritanya jadi aku suka sama Hiiragi?

“Kamu denger aku sama Hiiragi ngomongin apa tadi?”

“Nggak, aku nggak dengar. Tapi kalian kelihatannya lengket sekali, dan aku bisa lihat jelas kalau kamu sedang berusaha keras mendekatinya, Kyota. Meski mungkin aku tidak kelihatan seperti itu, sebenarnya aku cukup pandai menilai orang.”

“Tadi di sini ada toko kacamata, ya...?”

Dia salah total. Untuk orang yang kemampuan bersosialisasinya nol, kenapa dia begitu percaya diri dalam membaca orang...? Menurutku masalahnya bukan di matanya, tapi di cara pandangnya yang melahirkan asumsi-asumsi aneh seperti ini.

“...? Kamu nggak suka sama dia?”

“Kenapa kamu bisa sampai berpikir begitu?”

“Dengan Hikaru yang selucu itu, menurutku justru aneh kalau kamu nggak suka. Dia juga baik padaku... Lagi pula, bukannya Hikaru memang gadis yang paling sering kamu ajak bicara?”

“Itu... yah, cuma kebetulan saja.”

Ada dua bantahan yang muncul di benakku, tapi aku ragu mengucapkan salah satunya, jadi aku cuma mengelak seadanya. Akiyama menyipitkan mata dengan curiga.

Fakta bahwa Hiiragi memang mengejar Mizuki itu sudah cukup terkenal, tapi bukan hakku untuk menyebarkan hal itu sembarangan.

Dan... gadis yang paling sering kuajak bicara di kelas, sekaligus yang menurutku lucu, justru Akiyama... tapi mana mungkin aku mengatakannya. Bukan berarti itu lantas langsung berarti aku punya perasaan romantis padanya juga sih.

“Hatiku hanya milik Soyoka! Bukannya dari dulu aku memang selalu bilang begitu?”

“Oh, begitu... Kalau begitu ya sudah.”

“Hm? Ya sudah apanya?”

Pemilihan kata Akiyama yang aneh itu membuatku refleks memiringkan kepala.

Dia sempat memasang wajah “Ah,” lalu berdeham ringan.

“...Maksudnya, jangan macam-macam dengan temanku.”

“Oh, begitu...”

Karena dia itu teman satu-satunya yang kamu punya, ya...

Tenang saja, aku nggak akan merebutnya darimu, jadi santai saja.

“Nee-chan nggak jujur...”

Iku yang dari tadi memperhatikan pertukaran kami tampak pasrah.

“Iku? Aku jujur kok. Aku sungguh-sungguh khawatir soal Hikaru.”

“Nee-chan, bukan itu.”

“Masa iya...! Aku dianggap kakak yang buruk oleh Iku...”

Ucapan Iku memberikan damage besar pada Akiyama.

Bagus, Iku, lanjutkan. Bikin dia sadar kalau dia memang kikuk.

“Semuanya, ayo masuk sini! Kayaknya di sini juga ada baju anak!”

Mengikuti rombongan Mizuki, kami berhenti di depan sebuah toko. Hiiragi menoleh dan memanggil Akiyama.

Itu adalah toko pakaian wanita. Sebenarnya sejauh yang kulihat, deretan toko di sekitar sini memang kebanyakan toko untuk perempuan, tapi yang satu ini terasa lebih kasual dan menyasar orang yang lebih muda. Sesuai kata Hiiragi, mereka juga menjual cukup banyak pakaian anak-anak.

Tampilan depan tokonya saja sudah terlalu gemerlap sampai sulit dimasuki oleh cowok seperti aku. Padahal aku tidak melakukan hal memalukan apa pun, tapi entah kenapa aku jadi refleks mengalihkan pandangan.

Ini tempat yang sepanjang hidupku nyaris tidak punya hubungan apa-apa denganku. Aku cuma pernah lewat di depan toko baju perempuan, belum pernah masuk ke dalam...

“Soka juga mau masuk!”

“Tentu, Soyoka-chan, ayo kita masuk bareng.”

Saat Soyoka menggandeng tangannya, Hiiragi langsung menyetujuinya dengan lembut.

“Ehehe, aku pilihin baju lucu buat kamu ya~”

“Hii-chan baik banget.”

“Uhehe, Soyoka-chan sih pakai apa aja pasti lucu. Ayo kita masuk fitting room bareng... ngiler.”

“Hii-chan baik banget...?”

Hiiragi memeluk Soyoka dari belakang.

...Awalnya kupikir ini pemandangan yang menghangatkan hati, tapi suasananya mulai terasa aneh.

Soyoka sendiri tampak agak kewalahan menghadapi serangan Hiiragi yang terlalu agresif.

“Hei, menjauh dari Soyokaku. Soyoka, bahaya kalau ikut-ikut nenek asing, jadi sini.”

“Permisi, siapa yang kamu panggil nenek?”

“Kalau dibandingkan dengan Soyoka, kamu memang nenek!”

“Wah, kamu lolicon parah ya. Soyoka-chan, kabur.”

Hiiragi menutupi Soyoka dengan kedua lengan dan tubuhnya.

Sial, Soyoka sedang direbut Hiiragi.

Hiiragi mengedipkan mata usil padaku dengan ekspresi nakal, sehingga hanya aku yang melihatnya.

“Mizuki, kamu juga bantu pilihin baju buat Soyoka-chan dong.”

Hiiragi berdiri lalu memanggil Mizuki, yang dari tadi hanya mengamati selangkah di belakang.

“Mizuki juga?”

Soyoka tampak senang dengan usul itu.

“Hm? Kalau memang kamu mau, aku bantu kok. Tapi aku sama sekali nggak paham baju anak-anak.”

“Nggak apa-apa! Nanti kalau aku bingung aku tanya kamu.”

“Ahaha, aku juga nggak yakin bisa milih. Rasanya Soyoka-chan pakai apa pun pasti lucu.”

Dia menyetujuinya dengan sangat mudah sambil tersenyum cerah dan sempurna.

“Dapet Mizuki.”

“Kamu berhasil dapetin dia, Soyoka-chan.”

Ah, jadi begitu... Dia menggunakan Soyoka sebagai umpan untuk menarik Mizuki masuk. Jadi maksud “bantu” tadi bukan aku harus melakukan sesuatu, tapi dia ingin meminjam Soyoka.

“Jangan kerahkan Soyoka untuk rencana jahatmu...”

Saat aku hendak protes, Hiiragi langsung menatapku dengan mata yang jelas-jelas berkata, “Diam.”

Seram sekali. Biasanya dia selalu ramah dan ceria pada semua orang, tapi aku sudah belajar dari insiden Akiyama bahwa pada orang yang dianggap musuh, dia sama sekali tidak kenal ampun.

“Soyoka-chan, kamu lebih suka kakakmu atau Mizuki?”

“Mizuki! Kakakku berisik,” jawab Soyoka tanpa ragu, lalu memeluk lengan Mizuki.

“Nah, dengar sendiri.”

“S-Soyoka...”

Seolah ingin memberi serangan penutup, sudut bibir Hiiragi terangkat membentuk senyum kemenangan.

Aku terlalu terpukul sampai tidak bisa berkata apa-apa.

“Yah, Kuremocchan, kamu tunggu di situ saja. Aku akan membuat Soyoka-chan jadi super-duper imut! Ayo, Soyoka-chan.”

“Ini rahasia dari Onii-chan?”

“Rahasia.”

Di rumah Soyoka memang selalu nempel padaku, tapi begitu di luar dia dinginnya kebangetan...

Dia pasti cuma malu! Pasti itu!

Yah, kalau kuserahkan pada Hiiragi rasanya tidak akan terjadi hal buruk. Dia ternyata cukup pandai juga mengurus anak, dan Soyoka sendiri tampaknya menyukainya.

Buat Soyoka, Hiiragi mungkin terlihat seperti kakak perempuan berkilau yang pantas dikagumi.

“Yah, kurasa aku cuma bisa percaya dan menunggu...”

Aku bersandar di dinding depan toko sambil menunggu Soyoka dan yang lain.

“Hm? Kamu nggak masuk, Akiyama?”

Saat aku menoleh, ternyata Akiyama juga berdiri di luar toko seperti aku. Tentu saja Iku ada di sampingnya.

Begitu kutanya, dia memainkan ujung rambutnya dengan canggung.

“A-Agak terlalu imut buatku,” katanya sambil melirik ke dalam toko.

Memang benar sih, toko ini terlihat penuh dengan desain lucu. Selama ini aku punya kesan kalau Akiyama lebih suka pakaian yang relatif kasual dan simpel, jadi mungkin memang bukan seleranya.

Hari ini pun dia tampil dengan gaya boyish, yang bisa dibilang kebalikan total dari itu.

“Menurutku sih itu juga nggak bakal jelek di kamu... tapi ya, memang bukan gayamu.”

“Kan?”

“Kenapa nggak coba pakai sekali? Kalau Hiiragi yang bantu lihat, pasti hasilnya bagus.”

“...Kalaupun aku coba, aku nggak akan nunjukkin ke kamu, Kyota.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu langsung meluncur begitu saja, tapi sekalipun dia benar-benar menunjukkannya, aku juga tidak yakin bisa memberi komentar yang bagus.

Kurasa waktu ketemu saat Golden Week kemarin aku juga sempat ngomong sesuatu yang tidak perlu lalu membuatnya kesal... Ya, lain kali aku harus jawab aman-aman saja dan selamat.

Saat aku membuat tekad itu dalam hati, Akiyama melirikku dengan agak malu-malu.

“K-Kamu pengin lihat?”

“Aku pengin lihat.”

“Oh... Hah?”

Sesaat kemudian, mulut Akiyama terbuka.

“Soalnya pasti lucu sekali lihat kamu yang biasanya sok keren pakai baju frilly.”

Cuma membayangkannya saja sudah bikin aku ingin tertawa.

Gadis cantik tentu cocok pakai apa saja, dan mungkin kalau benar-benar kulihat dia akan kelihatan imut, tapi perbedaan dengan karakternya yang biasa itu terlalu besar.

“...Heeh?”

Saat aku sendirian sudah gemetar menahan tawa, tiba-tiba rasa dingin menjalar di punggungku. Rasanya seolah seluruh tubuhku akan bergetar, bukan cuma bahuku.

A-Aura intimidasi apa ini... Akiyama, yang ekspresinya benar-benar lenyap dalam mode marah total, sedikit mengangkat dagu lalu menatapku dari atas.

Seram sekali.

“M-Maaf. Apa kamu sebenarnya pengin banget pakai yang begitu?”

Nggak, penyebabnya jelas aku sendiri yang membayangkannya lalu tertawa.

“...Setelah kupikir tenang-tenang, aku memang nggak mau pakai.”

“Jadi dari awal memang nggak mau ya.”

“Itu nggak cocok dengan image-ku. Menurutku aku lebih cocok dengan pakaian yang keren dan agak misterius.”

“Ah, iya. Kamu benar.”

Sepertinya amarahnya sudah reda, dan aku pun mengembuskan napas lega. Akiyama kembali seperti biasanya.

Tapi instingku bilang kalau melanjutkan pembicaraan dengan Akiyama sekarang itu berbahaya. Aku sama sekali tidak tahu kapan aku akan tanpa sengaja menginjak ranjau lain.

Aku berjongkok sambil membelakangi dinding lalu menatap Iku.

“Kamu tertarik sama baju, Iku? Kayaknya kalau kita cari, bisa nemu yang keren juga.”

Toko ini memang kelihatannya hanya menjual pakaian perempuan, tapi kalau kami berjalan sedikit, mungkin ada toko pakaian laki-laki juga.

Aku berniat mengajaknya kalau dia tertarik, tapi Iku tampaknya sendiri tidak begitu paham dan cuma menggeleng.

“Aku mau mainan.”

“Haha, ya memang begitulah laki-laki.”

Waktu kecil dulu aku juga sama sekali nggak tertarik pada baju.

Sebenarnya sampai sekarang juga begitu. Memang sih kalau pergi keluar aku sedikit berusaha tampil rapi, tapi pakaianku kebanyakan tetap polos dan sederhana. Kadang aku pakai kalung. Dan kalung itu pun hadiah dari Mizuki.

“Nanti kita lihat mainan ya.”

“Iya! Kyota-niichan, Soyoka-chan juga suka mainan?”

“Hm? Oh, iya. Soyoka suka apa pun yang kelihatannya menarik.”

Kepala Soyoka itu penuh wonderland versinya sendiri, jadi bahkan batu biasa pun bisa dia pakai buat main dengan seru. Biasanya dia main jadi orang yang selingkuh, atau diselingkuhi.

Dia terutama suka boneka dan stuffed toy, tapi balok, game, pokoknya apa saja dia suka.

“Begitu!”

“Apa ini ada hubungannya sama Soyoka?”

“Iya. Um, ini rahasia dari Soyoka-chan, ya?”

“Dan kamu bilang ke aku...?”

Antara aku dan Soyoka itu tidak ada rahasia, tahu...? Memangnya benar boleh cerita ke aku?

Sudah jadi pengetahuan umum kalau hal yang dimulai dari “jangan bilang siapa-siapa” itu pasti akan tersebar. Dalam hubunganku dengan Soyoka, itu bahkan bukan rahasia sama sekali.

Aku memutuskan mengabaikan tatapan tajam Akiyama yang sedang melotot pada aku dan Iku, yang berbisik-bisik mencurigakan di dekat dinding.

“Aku mau kasih hadiah.”

“...Buat Soyoka?”

“Iya.”

“Kamu benar-benar sedang berusaha menarik hatinya, ya?!”

Aku refleks mundur sambil menyatakannya sebagai fakta. Sial, Iku, jangan-jangan kamu akhirnya mulai serius?

Kalau dia memberi hadiah, Soyoka pasti akan senang sekali.

“Sebagai catatan, hadiah yang paling bikin Soyoka bahagia adalah hadiah dariku.”

“Hah?”

“Nggak, maaf. Nggak apa-apa.”

Setelah secara refleks bersaing dengannya, melihat wajah kosong Iku aku pun tersadar.

Nggak ada gunanya bersaing soal hal beginian. Soal siapa pemenangnya itu sudah jelas dari awal, jadi tidak perlu dipertandingkan.

“Kenapa tiba-tiba pengin kasih hadiah?”

“Ulang tahun Soyoka-chan sebentar lagi, kan?”

“Oh, kamu tahu?”

Benar, ulang tahun Soyoka jatuh di akhir bulan ini.

Hari bahagia saat keajaiban bernama Soyoka lahir ke dunia. Acara terbesar sepanjang tahun, mana mungkin aku tidak menantikannya.

“Soyoka-chan yang bilang.”

“Begitu. Berarti Soyoka sendiri juga menantikannya ya... meskipun mungkin cuma karena kuenya.”

Jadi itu alasan kenapa tadi muncul pembicaraan soal hadiah untuk Soyoka.

Iku menatapku dengan ekspresi serius. Baiklah, kurasa aku akan merahasiakannya.

“Hmph, memang menyebalkan kalau kamu sedang berusaha cari poin dari Soyoka, tapi niatmu memberi hadiah ulang tahun kejutan itu bagus.”

“Kejutan! Soyoka-chan pasti suka.”

“Sepertinya kamu juga mulai memahami Soyoka... Aku akan memberimu peringkat enam di Ujian Sertifikasi Soyoka. Sebagai catatan, aku ini tingkat sepuluh dan. Kamu masih jauh.”

“Sewtifikasi...?”

Tapi, hadiah ya.

Aku juga harus mulai memikirkannya.

Untuk menjadikan ulang tahunnya yang terbaik, aku harus merencanakan semuanya dengan sangat teliti. Kelihatannya bakal sibuk...

“Ada anak SMA yang berusaha mengungguli anak kecil dalam hal yang nggak penting...”

“Jangan menganalisisnya setenang itu. Dan ini bukan hal yang nggak penting.”

“Membuat sertifikasi sendiri lalu pamer menang jelas-jelas merupakan hal yang nggak penting.”

Saat aku sedang bicara dengan Iku, kakaknya menyela.

Dilihat dari ekspresinya yang agak cemberut, sepertinya dia kesal karena aku merebut Iku. Gampang dibaca sekali.

“Nah, Iku. Nanti pilih hadiahmu untuk Soyoka dengan baik, ya.”

“Oke!”

Sepertinya Iku memang akan memilihkan hadiah untuk Soyoka.

Soyoka mungkin akan senang menerima apa pun dari Iku. Yah, nanti aku akan menyelidiki diam-diam apa yang dia inginkan, lalu membocorkan infonya ke Akiyama.

Ulang tahunnya masih agak lama, jadi tidak perlu harus hari ini.

“Itu Iku-ku, baik sekali. Lebih mengutamakan Soyoka-chan daripada mainannya sendiri... Sebagai catatan, bukan berarti cuma Soyoka-chan yang spesial. Dulu saat ulang tahunku juga aku dapat hadiah darinya.”

“Sama denganmu. Soyoka juga akan menerima hadiah dari orang selain Iku. Hadiah Iku cuma akan jadi salah satu di antaranya.”

“Hei, justru karena itu hadiah dari Iku, kamu harus paling menghargainya.”

“Kalau orang lain nggak boleh tapi kamu boleh? Itu logika laki-laki selingkuh!”

Hati Soyoka luas, jadi tentu saja dia akan menghargai semuanya! Meski dia juga gampang berubah pikiran, jadi ada kemungkinan dalam waktu dekat semua itu bakal tersegel di bagian belakang kotak penyimpanan!

“Yah, Soyoka pasti akan senang menerima sesuatu dari Iku. Aku mengandalkanmu.”

“Iya, baiklah. Aku menagih balasan lima kali lipat nanti.”

Karena yang kemungkinan akan membayar dan membeli itu justru Akiyama, aku pun memastikan meminta tolong padanya dengan baik. Wah, ini terasa sangat seperti sesama mom friend!

Meski firasatku bilang nanti aku akan ditagih sesuatu yang berat... Lebih dari uang, rasanya dia akan menyuruhku membalas dalam bentuk tenaga atau bantuan.

Tepat saat obrolan kami mulai mereda, Hiiragi kembali.

“Kuremocchan, sini, sini.”

Dengan senyum penuh kemenangan, Hiiragi memanggilku sambil melambaikan tangan kecilnya.

“Kayaknya aku ini dewa. Serius deh, aku baru saja menciptakan keimutan itu sendiri...”

“Kamu ngomong apa sih...? ...Hei!”

Hiiragi yang terlalu bersemangat menarikku ke bagian belakang toko. Di bagian belakang ada ruang pas, dan Mizuki berdiri di depan sana.

Cowok sendirian berdiri di depan ruang pas itu jelas kelihatan mencurigakan, tapi karena dia punya buff ganteng, jadinya malah terlihat seperti pria yang sedang menunggu pacarnya.

“Kamu datang, Kyota.”

“Soyoka ada di dalam?”

“Iya. Selamat datang di surga.”

“Kamu memang dari dulu karakter yang seperti ini?”

“Kamu akan paham setelah melihat Soyoka-chan, Kyota.”

Apa dia baru saja mencapai pencerahan atau bagaimana...?

Apa Soyoka benar-benar seimut itu sampai bisa membuat Mizuki jadi aneh begini?

“Baiklah, sekarang saatnya pengungkapan besar. Kuremocchan, berdiri tepat di sini.”

Mengikuti instruksi Hiiragi, aku berdiri di depan deretan fitting room. Untungnya ruang-ruang lain tampaknya kosong, cuma ada satu tirai yang tertutup.

Di balik tirai itu ada Soyoka. Hanya dengan memikirkan itu saja aku jadi sedikit tegang.

“Hii-chan, sudah selesai belum?”

“Wah! Soyoka-chan, belum boleh keluar!”

Soyoka tampaknya bosan lalu mencoba membuka tirai, jadi Hiiragi buru-buru menutupnya kembali. Tubuh Hiiragi menutupi pandangan, jadi aku nyaris saja tidak bisa melihat apa pun.

“A-Ahem. Nah, sekarang, peserta bernama Kuremoto. Apakah Anda sudah siap?”

“Maaf, bisa tolong jelaskan dulu premis acaranya?”

“Hei, jangan merusak suasana.”

Entah kenapa, aku malah dimarahi.

“Kurasa semuanya bermula dari sini... ...‘Kyota, Kuremoto kelak akan bersaksi demikian.’”

“Jangan pakai narasi nggak jelas begitu...”

Mizuki juga sedang sangat larut dalam suasana, tidak seperti biasanya.

Tunggu? Jangan-jangan di sini cuma aku yang nggak ikut terbawa suasana?

“Nee-chan, mereka lagi ngapain di situ?”

“Iku, itu yang namanya sandiwara.”

Iku dan Akiyama yang datang belakangan tampaknya juga tidak paham. Syukurlah...

“Oke, sekarang aku buka ya. Tiga, dua...”

“Mau bagaimana pun, Soyoka tetaplah Soyoka, kan? Buat kalian yang belum terbiasa dengan keimutan Soyoka sih, wajar kalau setelah terlalu lama bersamanya kalian jadi linglung. Itulah yang disebut ‘penyakit keimutan’. Tapi aku berbeda. Aku selalu bersama Soyoka. Jadi seimut apa pun Soyoka, cuma karena dia ganti baju begini”

“Satu, buka!”

“tetap saja tidak akan terlalu mengejutkanku lagi... Imut banget?!”

Di balik tirai yang kini terbuka, di dalam fitting room, berdirilah Soyoka sambil berpose.

“Baan!”

Dia berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang dan wajah bangga.

Aku sampai kehilangan kata-kata karena terlalu imut.

Ini mungkin yang disebut gaya Korea. Dia mengenakan blus panjang yang hampir seperti dress, dengan vest hitam di luarnya. Topi dengan tulisan bahasa Inggris dan dasi kecil di lehernya menonjolkan sisi dewasa sebelum waktunya dari Soyoka.

“Soka lucu?”

“Jelas, lucu banget.”

“Kuat?”

“Iya, paling kuat.”

“Soka paling kuat.”

Soyoka sedang dalam mood yang sangat bagus, sampai berputar-putar di dalam fitting room. Seolah-olah dia sudah berubah jadi model fashion, dia terus berganti pose satu demi satu.

“Ini... daya hancurnya luar biasa... Dilihat dari sudut mana pun tetap lucu.”

Aku menyilangkan tangan sambil mengamati Soyoka.

Dia begitu imut sampai membuatku sesak napas. Aku harus mengakui, ini memang karya sempurna dari si idola kelas, Hiiragi Hikaru.

“Aah, Soyoka-chan benar-benar malaikat!”

“Hiiragi, terima kasih. Terima kasih.”

Aku sampai mengucapkannya dua kali, sebegitu sempurnanya selera Hiiragi.

Tentu saja, outfit ini dibangun di atas keimutan asli Soyoka, tapi dia benar-benar berhasil mengeluarkan semua pesona Soyoka semaksimal mungkin.

Belum lagi, tampilannya berbeda dari biasanya dan terasa sedikit lebih dewasa, jadi aku juga bisa melihat sisi baru dari dirinya.

“Hei, hei, Soyoka-chan. Mau jadi anakku nggak? Aku cuma punya kakak laki-laki, jadi dari dulu aku pengin punya adik perempuan~”

“Hii-chan jadi kakak perempuan Soka?”

“Betul~ Aku kakak perempuan Soyoka-chan~”

“Kayaknya itu ide bagus!”

“Yes!”

Saat aku masih terharu, ternyata di sisi lain Soyoka malah hampir direbut.

Hiiragi mengangkat Soyoka lalu menatapku dengan wajah menantang.

“Kuremocchan, aku ambil Soyoka-chan ya.”

“Hii, aku diculik!”

“Aku culik ya~”

Hiiragi juga benar-benar tergila-gila pada Soyoka.

Aku sangat bisa memahami dorongan untuk menculiknya, tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkannya.

“Aku nggak akan menyerahkan Soyoka.”

“Kedengarannya itu lebih kayak ayah daripada kakak, ya...?”

“Tentu saja. Aku ini ayah dan ibu Soyoka, kakak laki-lakinya sekaligus kakak perempuannya, dan kadang-kadang bahkan sahabat terbaiknya.”

“Ahah, Kuremocchan ngomong ngawur lagi.”

Pernyataanku langsung disapu begitu saja oleh Hiiragi.

“Oh, tapi tunggu. Kalau aku menikah dengan Kuremocchan, berarti Soyoka-chan jadi adikku, kan? Hmm, bagaimana ya?”

“Hii-chan sama Onii-chan mau menikah?”

“Aku bakal ambil hak asuh Soyoka-chan, terus habis itu kita cerai.”

“Cewai! Soka setuju sama ide itu.”

Soyoka dan Hiiragi benar-benar kompak.

“S-Soyoka...? Memangnya kata ‘cerai’ itu sesuatu yang boleh bikin kamu semangat begitu?”

“Onii-chan, kamu juga pengin cewai, kan?”

“Aku sama sekali nggak pengin! Memangnya nggak apa-apa kakakmu dipermainkan begini?”

“Aku suka Hii-chan.”

Soyoka, tolong hati-hati jangan ngomong begitu di depan orang yang benar-benar sedang susah karena perceraian ya.

Tetap saja, sepertinya Soyoka benar-benar jadi sangat menyukai Hiiragi. Mungkin pengaruh dari dia yang memilihkan bajunya juga besar. Aku harus belajar soal ini...

“Tunggu, kalau kamu nggak mau cerai, berarti kamu mau bersamaku seumur hidup...?”

Hiiragi berkata begitu sambil menaruh kedua tangan di dada dan menatap ke atas.

“Kita bahkan belum menikah, tahu? Lagipula hak asuh Soyoka juga bukan di aku. Meskipun aku sangat berharap begitu.”

“Oh, iya juga.”

Dalam sekejap dia kembali seperti biasa, tertawa tanpa beban.

“Hikaru, kamu jangan terlalu gampang bicara soal menikah. Gimana kalau Kyota salah paham lalu menganggapnya serius? Nanti dia menyerangmu.”

“Aku nggak akan menyerang dia...”

Padahal Hiiragi yang memulai candaan itu, tapi entah kenapa aku yang malah ditatap tajam. Tenang saja, aku tidak akan merebut temanmu, jadi santai.

“Yah, kalau begitu kita lanjut lagi?”

“Hah? Kamu nggak jadi beli apa-apa, Hiiragi?”

“Nggak. Aku cuma pengin lihat-lihat,” kata Hiiragi sambil menurunkan Soyoka.

Ooh, akhirnya Soyoka kembali ke sisiku! Dari dekat dia bahkan lebih imut lagi.

“Soyoka, kamu mau baju itu?”

“Mau!”

“Oke, sekarang juga aku beli.”

Harganya memang agak lumayan, tapi kalau demi Soyoka ya mau bagaimana lagi. Toh itu juga bukan uangku, orang tuaku yang mentransfer biaya hidup.

Aku membayar baju itu selagi Soyoka masih memakainya, lalu meminta tag-nya dilepas. Sementara pakaian yang dipakainya tadi kumasukkan ke dalam tasku.

“Huff, seru banget~. Makasih ya, Soyoka-chan.”

“Makasii Hii-chan.”

“Kalau suatu hari kamu capek sama kakakmu, kamu boleh kok datang ke rumahku.”

“Besok?”

Tunggu? Itu artinya dia memang sudah capek sama aku?

Tetap saja, Soyoka dan Hiiragi ternyata akrab juga. Aku senang mereka sempat main bersama.

“Sekarang kita ke mana ya~”

Kami berenam keluar dari toko lalu naik ke lantai dua. Kami pun mulai berkeliling mal itu.

“Aku mau ke situ!”

Yang ditunjuk Iku adalah area bermain anak.

Di sana ada beberapa wahana kecil dan jungle gym, tempat anak-anak bisa bermain dengan bebas.

Karena itu area berbayar, fasilitasnya juga cukup bagus. Kelihatannya seru.

“Soka juga mau main.”

Karena Soyoka juga tertarik, akhirnya diputuskan kami akan masuk ke sana.

Tapi, empat orang dewasa untuk dua anak itu keseimbangannya aneh. Lagi pula itu bukan tempat untuk anak SMA bermain.

“Kyota dan aku yang jaga mereka, jadi Akiyama-chan sama Hikaru, kalian lihat-lihat saja.”

“Eh, beneran nggak apa-apa?”

“Pasti ada tempat-tempat yang pengin kalian lihat juga, kan?”

Sepertinya Mizuki juga berpikir sama, jadi dia mengusulkan itu pada mereka berdua.

Memang benar, sejauh ini kami baru beli baju untuk Soyoka. Namanya juga di mal, pasti Akiyama dan Hiiragi juga punya tempat yang ingin mereka lihat. Kalau kami terus bersama, gerak mereka jadi lebih terbatas.

Aku sempat mengira Soyoka mungkin ingin ikut mereka, tapi minatnya sudah sepenuhnya berpindah ke area bermain.

“Oke. Makasih, Mizuki. Sumi, ayo kita pergi berdua!”

“Eh, tapi Iku...”

“Kan ada Kuremocchan, jadi aman.”

Karena Hiiragi melemparkan itu padaku, aku pun membalas dengan jempol.

Kalau cuma membiarkan Soyoka dan Iku bermain, mereka tidak akan terlalu merepotkan, jadi tidak ada masalah sama sekali. Apalagi ada Mizuki juga.

“Kamu benar. ...Tolong jaga Iku.”

“Tekanan diam-diamnya besar banget.”

Rasanya aku bakal dibunuh kalau sampai terjadi sesuatu pada Iku.

Meski begitu, fakta bahwa dia mempercayakan Iku padaku berarti dia cukup memercayaiku, atau dia benar-benar ingin pergi bersama Hiiragi. Mungkin dua-duanya.

“Oke, kira-kira satu jam lagi kami balik!”

Kedua gadis itu melambai lalu berjalan menuju toko lain.

Iya, iya, memang begini jauh lebih tenang. Katanya cewek itu lama kalau belanja, jadi mungkin justru mereka bisa lebih leluasa tanpa kami.

“Baiklah, Soyoka, Iku. Ayo main! Lihat, di sana ada jungle gym!”

“Yang kelihatan paling semangat main justru kamu, Kyota. Ngomong-ngomong, di area bermain anak seperti ini banyak juga ya istri-istri muda. Kayaknya seru.”

“Motifmu agak melenceng nggak sih?”

Kamu jelas tipe orang yang tidak boleh dibiarkan masuk tempat beginian.

Setelah itu, kami menunggu para gadis kembali sambil bermain bersama Soyoka dan Iku.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa