Turnamen olahraga dimulai di bawah ramalan cuaca yang memperkirakan suhu tertinggi hari ini mencapai dua puluh delapan derajat.
Panas. Para guru santai saja menonton dari bawah tenda, jadi kenapa kami malah harus berada di bawah terik matahari?
Meski begitu, karena ujian sudah selesai dan ini juga acara pertama kami di tahun kedua, semangat semua orang sedang tinggi.
Untuk anak laki-laki, cabangnya softball dan sepak bola, dan aku memilih softball. Bahkan di tengah panas menyengat begini pun, semangat para cowok tetap tinggi, dan mereka menunjukkan tekad serius untuk menang. Turnamen olahraga adalah salah satu dari sedikit kesempatan bagi cowok untuk pamer.
Dan kami kalah.
Kami dihajar habis-habisan, baik di babak pertama maupun di pertandingan hiburan sesama tim yang kalah. Kami kalah begitu cepat sampai bahkan makan siang pun masih belum tiba.
Nggak, nggak apa-apa. Strategi kelas kami memang memusatkan anak-anak klub olahraga ke sepak bola! Aku yakin Mizuki dan yang lain pasti menang!
Soyoka, maaf. Onii-chan-mu nggak bisa menang...
Berkebalikan dengan aku yang murung, para cowok di kelasku justru penuh semangat.
“Oke, semuanya! Kita pergi dukung para cewek!”
“Whoaaaaa!”
Yup, anak-anak cowok di kelasku memang bodoh. Dan mereka yang terbaik.
Mereka bahkan tampak lebih bersemangat daripada waktu bertanding sendiri.
Untuk anak perempuan, cabangnya basket dan voli. Voli dimainkan di lapangan luar, tapi... sepertinya tujuan mereka ada di gym.
Basket punya durasi pertandingan lebih pendek dan jumlah pemain lebih sedikit, jadi timnya dibagi dua. Aku bisa menebak dengan cukup jelas apa tujuan mereka.
Rombongan tim softball berbondong-bondong naik ke tribun berdiri yang penuh sesak di galeri gym.
Di setengah lapangan dekat panggung, anak-anak cewek dari kelas kami sedang bertanding.
“Gym ini panas banget.”
Percuma sih ngomong begitu, tapi tetap saja keluar dari mulut. Aku bersandar pada pagar besi, mencoba mencari sedikit hawa sejuk.
Matahari di luar memang brutal, tapi bagian dalam gym ini juga neraka versi lain dengan udara pengapnya. Ini bahkan belum bulan Juni, lho? Rasanya tiap tahun makin panas saja.
Walaupun, tetap kalah panas dibanding semangat para cowok ini yang berteriak sambil memegang handuk.
“Hikaru-chaaaan! Semangaaat!”
“Akiyama-san pakai baju olahraga... cantiknya kebangetan...”
“Pengen didribble Hikaru-sama.”
“Dribble Hikaru-chan memang luar biasa dalam banyak arti.”
Mungkin aku nggak seharusnya ikut datang... Tatapan orang-orang di sekitarku sakit sekali. Memang semuanya cukup parah, tapi yang terakhir itu terutama... kurasa aku harus meninjau ulang hubunganku dengannya.
Duo gadis cantik Hiiragi dan Akiyama, yang bisa dibilang peringkat satu dan dua bukan cuma di kelas tapi di seluruh angkatan, sekarang ada di tim yang sama. Para cowok dari kelas lain juga berkumpul hanya demi melihat sekilas keajaiban ini.
Dengan begitu banyak suara berat menggema, pasti mengganggu, tapi sesuai dugaan, dua orang itu tetap tenang. Hiiragi tersenyum sambil melambai, sedangkan Akiyama tetap memandang lurus ke depan dengan wajah tenangnya. Sepertinya mereka memang sudah terbiasa jadi pusat perhatian.
Rambut mereka sama-sama diikat ke belakang dan memakai bandana seperti ikat kepala. Karena pelajaran olahraga anak cowok dan cewek dipisah, ini pemandangan yang cukup langka.
“Sumi, putaran kedua nanti juga ayo kita menang!”
“Iya, tentu saja kita akan menang. H-Hikaru.”
Mereka saling bertukar kata lalu saling adu tinju kecil. Benar-benar satu lembar masa muda yang indah. Pemandangan berkilau yang rasanya cocok jadi poster stasiun.
Sulit dipercaya kalau belum lama ini mereka masih saling bentrok.
Sepertinya setelah jadi teman di rumahku waktu itu, mereka memang jadi cukup dekat selama masa ujian.
Dengan Hiiragi berada di pihaknya, gangguan pada Akiyama kini setidaknya sudah menghilang di permukaan. Mungkin Hiiragi bergerak di belakang layar, tapi kebenarannya aku tidak tahu.
Tapi setidaknya, aku rasa semuanya bisa terselesaikan dengan lancar sebagian besar memang berkat Hiiragi. Sebagai gantinya, dia sendiri juga senang karena bisa punya lebih banyak kesempatan berinteraksi dengan Mizuki saat membantu urusan ketua kelas.
“Sumi!”
Dari lapangan, sebuah operan meluncur dari Hiiragi ke arah Akiyama. Hiiragi memang atlet serba bisa, dan sepertinya bukan cuma tenis yang jadi spesialisasinya, hampir semua olahraga lain juga di atas rata-rata. Cara mainnya bahkan tidak kalah, kalau bukan justru lebih bagus, dari anak-anak klub basket.
Dia pernah bilang Akiyama itu jenius, tapi Hiiragi sendiri juga hebat sekali.
“Serahkan padaku.”
Kemampuan olahraga Akiyama itu biasa-biasa saja. Kemampuan fisiknya tidak rendah, tapi kecanggungannya sering menghambat.
Namun seperti yang sudah bisa diduga, lewat latihan keras rahasia, dia berhasil berubah jadi pemain yang sangat bagus. Rupanya dia sama sekali tidak berniat bersantai dalam acara sekolah, bukan cuma dalam pelajaran. Dan aku ikut dipaksa menemaninya latihan.
Akiyama melompat ringan di depan ring lalu melepaskan bola dengan bentuk gerakan yang indah.
Bola itu membentuk lintasan ideal, menyentuh tengah ring, lalu menembus jaring.
“Whoaaaaa!”
“Main bagus!”
Sorak sorai para cowok sampai mengguncang jendela gym.
Yah, setelah latihan sebanyak itu, memang sebaiknya dia berhasil memasukkannya.
“Yeah!”
Hiiragi berlari mendekat lalu mengangkat tangannya di depan Akiyama.
“I-iya.”

Akiyama membalas high-five itu dengan agak kikuk. Saat aku melihatnya setengah linglung, tiba-tiba mata kami bertemu. Entah kenapa, tangan Akiyama yang masih terangkat untuk high-five tadi malah diarahkan ke arahku.
Dia mengangkat dua jari rampingnya, membentuk peace sign miring.
Sudut bibirnya terangkat dalam senyum halus, sangat tipis sampai hampir tidak kelihatan.
“Akiyama-san ngasih peace sign ke aku!”
“Nggak, itu buat aku. Minggir.”
“Hah? Itu jelas buat aku.”
Keributan di sekelilingku cuma jadi suara latar, bahkan tidak masuk ke kesadaranku.
Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Akiyama. Seolah-olah waktu mengalir lambat hanya untuk kami berdua.
Pertukaran singkat yang bahkan tidak sampai lima detik itu terasa seperti lambang hubungan kami sejak bulan April.
Walaupun aku tahu tanganku tidak akan sampai, aku tetap mengulurkan lengan sejauh mungkin lalu membalas dengan acungan jempol. Senyum muncul begitu saja di bibirku.
Kurasa jarak seperti ini memang yang paling pas untuk kami.
Akiyama mengangguk puas, lalu menurunkan tangannya dan kembali ke pertandingan. Kerja samanya dengan Hiiragi sekali lagi menerobos pertahanan lawan.
“Sepertinya aku nggak perlu khawatir lagi.”
Aku membalikkan badan dari teman-teman sekelasku yang bersorak dan suara bola yang memantul, lalu meninggalkan gym.
Aku adalah onii-chan yang mencintai adik perempuannya.
Akiyama adalah onee-chan yang mencintai adik laki-lakinya.
Kami adalah teman sesama ibu, terhubung lewat adik-adik kami.
Hubungan yang aneh, tapi untuk sekarang hubungan seperti ini terasa nyaman.
Yah, Iku dan Soyoka kan berteman. Jadi tidak masalah juga kalau onii-chan dan onee-chan mereka ikut berteman, kan?
※※※
Setelah turnamen olahraga selesai, aku pergi menjemput Soyoka dari TK, dan dia langsung berlari mendekat sambil memegang bola karet biru dengan kedua tangannya.
“Soka juga mau main bola!”
Dia mengangkat bola seukuran anak kecil milik TK itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Mata Soyoka berbinar-binar saat aku menjelaskan soal turnamen olahraga tadi. Bahkan anak TK juga bisa main lempar tangkap sederhana. Bolanya lembut dan cukup besar, jadi tidak ada risiko terluka.
“Baik! Kebetulan aku juga merasa turnamen olahraga tadi belum cukup.”
“Padahal kamu kalah cepat sekali.”
“Aku sengaja menyimpan tenagaku buat main sama Soyoka.”
Akiyama yang juga datang menjemput Iku menatapku dengan dingin.
Seperti katanya, karena kami kalah telak pagi tadi, sore harinya aku praktis tidak punya kegiatan.
Sebaliknya, tim cewek Akiyama terus melaju dengan stabil dan berhasil meraih prestasi hebat sebagai juara dua se-sekolah.
Yah, untuk hari ini saja, aku akan menerimanya dengan anggun, termasuk senyum kemenangan Akiyama itu.
“Onii-chan, kamu kalah...?”
Wajah Soyoka tampak seperti ada efek suara Gah! yang muncul di sampingnya. Bola yang dia pegang jatuh dari tangannya.
“Onii-chan ternyata bukan yang paling kuat...”
“S-Soyoka... Ugh, seandainya aku lebih kuat, aku nggak akan sampai membuat Soyoka sesedih ini...!”
Sial. Aku sama sekali tidak sadar kalau Soyoka ternyata begitu berharap pada kemenanganku.
Aku benar-benar onii-chan yang payah...!
Aku jatuh berlutut di tempat lalu memukul tanah dengan tinjuku. Bola yang tadi dijatuhkan Soyoka menggelinding lalu berhenti di sampingnya.
Soyoka terkesiap.
“Kalau begitu, sekarang Soka bisa mengalahkan Onii-chan.”
“Iya, Soyoka-chan. Dengan aku, si juara dua se-sekolah, kita pasti bisa mengalahkannya dengan mudah.”
“Sumi-chan hebat!”
“Ayo kita kalahkan dia bersama.”
Padahal belum lama ini kamu sendiri juga masih berantakan.
Memang sih kamu akhirnya bisa belajar menembak juga, tapi kemenangan itu sebagian besar berkat Hiiragi.
Mata polos Soyoka berbinar saat dia menatap Akiyama.
“Jadi selama ini aku adalah target yang harus dikalahkan oleh Soyoka?”
Gawat. Onee-chan yang buruk sedang menyesatkan Soyoka. Aku tidak boleh kalah.
“...Baiklah. Soyoka, mau main lempar tangkap!?”
“Mau!”
Aku melirik ke arah guru TK, dan beliau memberi isyarat ke halaman sekolah sambil berkata, “Silakan saja.”
Bagus. Rupanya wali murid juga boleh memakainya. Soalnya sekarang ini banyak taman yang melarang permainan bola.
Soyoka dengan gembira memungut bolanya lagi lalu menghampiri Iku.
“Iku, kamu juga mau main?”
“Mau...!”
Bahkan Iku yang biasanya cenderung pemalu pun tersenyum polos di depan Soyoka.
Kami berempat pindah ke area halaman yang agak luas lalu berdiri saling berjauhan sedikit.
“Yang menang dapat hadiah hiburan.”
“Kamu jelas nggak tahu artinya itu apa...”
Setelah membuat deklarasi misterius, Soyoka melempar bola dengan kedua tangan. Bola itu menggelinding pelan di tanah dan sampai ke kakiku.
Aku mengambilnya lalu menggulirkannya kembali ke arah Soyoka dan Iku yang berdiri berdampingan.
Mereka langsung menjerit kecil dan mengejarnya bersama. Akur sekali kalian berdua!
“Hebat, Soyoka! Kamu jenius dalam olahraga bola!”
“Keren sekali... Waduh. Kalau Iku nanti mulai serius olahraga, tribun pasti bakal penuh cewek...”
Adik perempuanku memang imut apa pun yang dia lakukan.
Untuk beberapa waktu, kami berempat terus bermain bola. Setelah mulai terbiasa, Soyoka dan Iku malah jadi asyik main berdua.
“Kyōta.”
“Hm? Ada apa?”
Akiyama memanggil namaku dari samping.
Akiyama menoleh ke arah lain, dan entah kenapa tidak langsung bicara. Hanya ujung bibirnya yang tampak bergerak sedikit.
“Ada apa?”
“N-nggak. Umm... hari ini menyenangkan.” Akiyama berkata terbata-bata, lalu sedikit merona.
“Oh? Syukurlah.”
Kalau tiba-tiba memberitahuku kesan hari ini begitu saja... Memang benar sih, hari ini Akiyama kelihatan senang bersama Hiiragi. Sampai sekarang dia tidak pernah sekalipun merusak wajah keren buatannya di sekolah, jadi pemandangan seperti ini terasa segar.
“Iya, itu bagus... semua ini berkatmu, Kyōta.”
“Hah? Memangnya melihat aku kalah seburuk itu sampai bisa jadi hiburan...?”
“Bukan begitu.”
Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga lalu melirikku dari samping, tampak sedikit malu.
“Soalnya kamu, Kyōta, yang memberiku kesempatan untuk berteman dengan Hiiragi-san... Hikaru, jadi aku bisa bersenang-senang. Kalau semuanya tetap seperti dulu, mungkin aku akan terus dibenci semua orang.”
“Nggak, aku juga nggak melakukan sesuatu yang sehebat itu. Itu berkat Soyoka dan Iku, kan?”
“Kamu benar. Aku juga harus berterima kasih pada mereka.”
Kurasa alasan Akiyama bisa sejujur ini adalah karena itu. Hari ini dia berolahraga seharian, sesuatu yang jarang dia lakukan, jadi dia pasti lelah.
Kalau bukan karena itu, aku tidak bisa menjelaskan suasana lembut yang menyelimutinya sekarang.
“Tapi orang pertama yang bergerak itu kamu, Kyōta. Meskipun semua ini sebenarnya nggak ada hubungannya denganmu, kamu tetap membantuku. Jadi... terima kasih.”
“O-oh. Sama-sama?”
“Kenapa?”
“Nggak, bukan apa-apa.”
Sebenarnya ini juga bukan berarti tidak ada hubungannya denganku.
Aku memandangi adik-adik kami yang sedang melempar bola dengan tangan mereka yang canggung. Dua-duanya berbakat! Terutama Soyoka, suatu hari nanti dia mungkin bakal masuk Olimpiade. Maaf ya kalau adik perempuanku terlalu jenius.
Demi melindungi senyum dua anak ini, aku akan melakukan apa saja.
Tentu saja, dengan kerja sama teman sesama ibu-ku.
“Onii-chan dan Sumi-chan mesra?”
“Nggaklah. Aku mesra sama Soyoka.”
“Mesra! Onii-chan selingkuh sama Sumi-chan?”
“Anime drama siang itu benar-benar buruk buat pendidikan anak, ya?”
“Soka rasa Onii-chan sama Sumi-chan mesra.”
Soyoka menyeringai lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Tuh kan, Akiyama pasti bakal marah lagi kalau kamu ngomong begitu.
Aku langsung bersiap menerima omelan dingin tanpa ampun. Tapi waktu aku mengintip wajah Akiyama, pipinya justru tampak memerah samar.

“Eh?”
Karena reaksinya berbeda dari yang kuduga, aku jadi sedikit tersentak.
Begitu sadar kami sedang melihatnya, Akiyama buru-buru membalikkan badan.
“Kyōta.”
“Y-ya.”
“Aku pulang dulu.”
“Ah, iya. Oke. Sampai nanti.”
Tanpa menunjukkan wajahnya, Akiyama memungut tas sekolahnya yang tadi diletakkan di sudut halaman.
Setelah memastikan Iku mengikutinya, dia pergi ke arah parkiran sepeda.
Eh, tadi itu reaksi apa?
“Soyoka, Sumi-oneechan tadi marah gara-gara kamu bilang yang aneh-aneh, ya? Kamu harus hati-hati.”
“Nggak kok, kayaknya bukan itu.”
“Besok kita minta maaf, ya?”
Soyoka menundukkan kepala seolah pasrah.
“Onii-chan payah.”
Mustahil. Kalau sampai Soyoka meninggalkanku, aku benar-benar nggak bisa hidup...!
“Kita pulang juga, yuk?”
“Iya! Hari ini ada puding?”
“Ada! Puding buatan Onii-chan!”
“Buatan sendiri...! Onii-chan jenius.”
“Padahal cuma campur lalu dinginkan saja.”
Itu semua berkat bubuk ajaib... maksudku, bubuk puding instan yang bisa jadi puding cuma dengan dicampur susu. Rasanya sudah enak dari sananya, dan Soyoka juga suka. Aku benar-benar kagum pada usaha dunia industri.
Kami mengembalikan bolanya lalu berjalan ke tempat parkir sepeda. Kakak-beradik Akiyama sudah tidak ada.
Melihat Soyoka duduk dengan riang di kursi anak di sepedaku, aku langsung melupakan kejadian tadi.
Untuk saat ini, adik perempuanku tetap yang paling imut di dunia, hari ini pun begitu.