Mama Tomo to Sodateru Love Comedy Volume 2 Chapter 1 — Adik Perempuanku Terlalu Imut Saat Hari Hujan

“Jangan-jangan ini... air mata Soyoka?! Mungkin langit juga menangis karena Soyoka kesepian.”

Hari pertama masuk sekolah di bulan Juni, sayangnya, dimulai dengan hujan.

Musim hujan resminya memang masih agak lama lagi, tapi ramalan cuaca sudah penuh deretan ikon payung. Mungkin karena itu juga suhunya sedikit turun, jadi terasa dingin.

“Padahal kukira hujannya bakal berhenti sebelum sekolah bubar, ternyata sama sekali tidak. Dan Soyoka pasti sedang menungguku di TK sambil menengadah panjang-panjang...!”

Aku menggertakkan gigi sambil membayangkan adik kecilku yang tercinta, yang pasti sedang merasa kesepian.

Sejak pagi hujan turun deras, dan tak ada tanda-tanda akan reda.

Saat memandang ke luar jendela kelas, yang terlihat hanya awan kelabu muram membentang sejauh mata memandang.

“Yah, rintangan itu bagian dari cinta sejati! Jangan kira hal beginian bisa menghentikan cintaku pada Soyoka!”

Bahkan kalau angin puting beliung datang pun, aku tetap akan menjemput Soyoka. Mau petir, bencana, apa saja terserah. Eh, jangan deh. Itu malah bisa membahayakan Soyoka, jadi lupakan.

Dari sekitar, aku bisa mendengar bisik-bisik teman sekelasku seperti, “Tuh kan, Kyota ngomong sendiri lagi...,” tapi aku mengabaikannya.

Aku mengganti sepatu di loker, lalu mengambil payung plastikku dari tempat payung yang penuh sesak dan berantakan. Tanda pengenalku adalah selotip masking kuning yang sama seperti milik Soyoka. Aku membukanya lalu melangkah keluar dari gedung sekolah.

Biasanya, dari sini aku akan menuju parkiran sepeda lalu menaiki sepeda dengan kursi anak. Tapi hari ini aku datang naik bus, jadi aku berjalan ke halte.

Aku memang memilih SMA ini dengan mempertimbangkan jalur bus, supaya bisa sampai ke TK hanya dengan satu bus. Memang sedikit lebih lambat daripada naik sepeda, tapi selisih waktunya tidak terlalu jauh.

“Ooh, timing-nya pas.”

Busnya baru saja datang, jadi aku langsung naik.

Aku berjalan ke belakang dan duduk di kursi dua orang dekat jendela. Berusaha supaya pakaianku tidak basah oleh payung, aku menyandarkan tubuh ke kursi.

Harusnya ada lumayan banyak murid yang pulang naik bus yang sama, tapi karena aku datang lebih cepat, kursi kosong masih banyak.

Begitu memikirkan Soyoka, kakiku otomatis bergerak lebih cepat!

“...Ngapain kamu di sini?”

Saat sedang memandangi titik-titik hujan di jendela sambil menunggu bus berangkat, aku mendengar suara ketus.

Saat menoleh, pandanganku bertemu dengan seorang gadis yang berdiri di lorong bus.

Akiyama Sumi. Teman sekelasku, sekaligus teman sesama ortu.

Bahkan di dalam cahaya redup bus pun, kecantikannya tetap tak tergoyahkan. Rambut hitam panjangnya yang berkilau membuat keberadaannya makin menonjol.

Adik laki-lakinya bernama Iku, dan dia bersekolah di TK yang sama dengan Soyoka. Bahkan mereka satu kelas, jadi keduanya akrab.

Demi mereka, kami para kakak ini juga saling bekerja sama sebagai sesama ortu. Karena keadaan kami mirip, ada banyak hal yang bisa saling kami bantu.

“Maksudmu ngapain? Kita kan satu kelas dan tujuan kita juga sama.”

Maksudku, aku juga selalu melihatnya saat sedang menjemput anak-anak naik sepeda...

Sepertinya Akiyama agak kehujanan. Rambutnya menempel di pipi, dan poninya juga sedikit basah sampai tampak berkilau.

Dia mungkin buru-buru ke sini seperti aku. Anginnya juga kencang, jadi sedikit basah memang tak terhindarkan.

“Kalau melihat sifatmu, Kyota, kukira kamu pasti tetap naik sepeda ke sekolah walaupun hujan.”

“Hah? Gambaran macam apa sih yang kamu punya tentang aku? Kalau aku melakukan itu, Soyoka bakal ikut kehujanan.”

“Itu bahaya sih... Tapi kalau kursi anaknya dipasang penutup, yang basah cuma kamu, tahu.”

“Kamu pengin banget lihat aku basah kuyup, ya?”

Mulutnya memang masih tetap pedas tiap kali bicara, tapi rasanya dia sudah agak melunak dibanding waktu pertama kami bertemu. Apa ini berarti ejekannya adalah tanda pertemanan? Ah, tidak juga. Dari dulu dia memang begini...

“Yah, jangan cuma berdiri di situ. Duduk sana.”

Aku menyuruh Akiyama yang masih terpaku di tempat.

Setelah menoleh sekilas ke dalam bus, dia mungkin sadar tidak ada kursi kosong lain, karena wajahnya langsung berubah jijik setengah mati. Lalu, dengan sedikit ragu, dia duduk di sebelahku.

Bahu kami saling bersentuhan. Akiyama melirikku dari sudut mata, mendesah, lalu menopang pipinya dengan tangan di sandaran sisi lorong.

Aku agak syok melihat betapa dia berusaha menghindariku.

“Kita sudah bukan di sekolah.”

“Jadi kamu bahkan tidak bisa berinteraksi denganku tanpa mencari alasan dulu?”

“Janji kita adalah tidak bicara di sekolah.”

“Iya, iya.”

Sikapnya memang sama seperti biasa.

Sepanjang yang kulihat, memang tidak ada teman sekelas lain di bus ini, tapi ada beberapa murid dengan seragam yang sama. Namun bagi Akiyama, sepertinya selama bukan di dalam area sekolah, semuanya aman.

Akiyama memalingkan wajah dariku dengan kesal lalu menyilangkan tangan.

Yah, ini sudah perkembangan besar dalam hubungan kami. Kalau dia tiba-tiba jadi ramah juga malah bikin bingung, jadi begini justru pas.

Bukan teman, tapi teman sesama ortu. Itulah hubungan kami.

...Diam-diaman begini canggung juga. Apa aku lihat ponsel saja, ya?

Folder fotoku penuh dengan gambar Soyoka yang tersenyum, jadi aku tidak pernah kehabisan cara buat menghabiskan waktu. Bahkan saat tidak bosan pun aku tetap melihatnya. Bisa dibilang aku sengaja meluangkan waktu untuk itu.

“Soyoka terlalu imut...”

“Kalau dilihat orang lain, kamu kelihatan seperti mesum kelas berat.”

Tatapan dingin dan penuh jijik terasa dari samping.

Mustahil. Aku yakin tadi wajahku terlihat seperti kakak yang hangat penuh kasih sayang.

“Wajahmu mesumnya kebangetan. Sampai-sampai aku khawatir jangan-jangan kamu diam-diam memotretku.”

“Siapa juga yang mau motret kamu. Aku tidak bisa menyia-nyiakan sedikit pun kapasitas data yang bisa dipakai untuk Soyoka.”

“Syukurlah. Cuma membayangkan kamu melihatku dengan wajah seperti tadi saja sudah bikin merinding.”

“Segitunya memang wajahku?! Kukira tadi itu ekspresi yang dipenuhi cinta dan kasih sayang.”

Kalau melihat Soyoka, wajahku memang otomatis melembut... Soalnya dia malaikat, mau bagaimana lagi.

Kursi bus sempit, jadi aku dan Akiyama duduk berdekatan. Dia langsing, jadi masih ada sedikit ruang, tapi tetap terasa sempit.

Yah, aku juga sering harus berbagi kursi dengan orang asing, jadi kurasa aku harus bersyukur kali ini dengan orang yang kukenal. Dan kalau orang itu adalah salah satu dari dua gadis tercantik di kelas, tentu saja suasana hatiku ikut membaik, sadar ataupun tidak.

Anak-anak yang rumahnya jauh dari sekolah harus naik bus atau kereta tiap pagi... Pasti padat sekali saat pagi hari. Berat juga. Untung aku bisa berangkat naik sepeda.

Bus pun berangkat tepat waktu.

Karena terus diam terasa canggung, aku memutuskan melempar topik seadanya.

“Sebentar lagi ada tamasya orang tua dan anak dari TK, ya.”

“Iya. Aku menantikannya.”

“Aku harus habis-habisan bikin bento hari itu! Aku harus memikirkan menu yang bisa bikin Soyoka senang!”

Tak berlebihan rasanya kalau bilang acara utama dari tamasya itu justru makan siang. Apa aku harus menyiapkan kotak bento bertingkat seperti saat tahun baru?

“Ibuku juga semangat sekali... Karena dia tidak bisa ikut tamasyanya, dia jadi ingin menuangkan seluruh tenaganya ke bento,” kata Akiyama sambil tersenyum kecut melihat antusiasku.

“Kalau camilan, kamu mau bawa apa? Di pemberitahuannya dibilang harus menyiapkan juga.”

“Pasti beli jadi. Anak-anak nanti kemungkinan bakal saling tukar camilan, jadi aku berencana pilih yang satu bungkus besar isinya terpisah-pisah. Yang jenisnya sebanyak mungkin.”

“Oh, begitu... Ide bagus juga. Kami bakal begitu juga.”

Percakapan ini terasa lebih mirip obrolan antar orang tua daripada antar teman sekolah.

Yah, memang sembilan puluh persen percakapan kami selalu soal adik-adik kami. Untuk saat ini, hubungan seperti ini terasa nyaman.

“Hm? Oh ya, tamasyanya hari Jumat, kan. Kalian bagaimana, Akiyama?”

“Ibuku tidak bisa cuti kerja, jadi rencananya aku yang ikut.”

Walaupun jumlah keluarga dengan dua orang tua bekerja makin banyak, acara-acara TK tetap kebanyakan diadakan pada hari kerja.

Aku paham sih kenapa harus hari kerja, karena jadwal guru juga begitu. Kalau anak-anak diberi libur pengganti di hari kerja lain, mereka malah akan berada di rumah, dan itu mungkin juga jadi masalah bagi beberapa keluarga.

“Hah, tak kusangka. Aku tidak pernah menyangka murid teladan sepertimu bakal bolos demi urusan pribadi, Akiyama.”

“Oh? Justru karena aku murid teladan, para guru langsung menyetujuinya tanpa banyak tanya. Nilai-nilaiku tidak akan jatuh cuma karena bolos sehari, dan tugas-tugasnya juga sudah kuselesaikan lebih dulu.”

“Seperti yang diharapkan dari peringkat satu angkatan.”

“Bisa dibilang menjaga nilai bagus itu sebagian juga demi momen seperti ini.”

Jenius yang tetap mempertahankan posisi nomor satu di angkatan sambil menjalani sekolah dan mengurus anak itu mengatakannya dengan ekspresi tenang.

“Cara hidupku sehari-hari memang beda denganmu, Kyota.”

“Tentu saja, aku ambil liburnya dengan kepala tegak! Sekolah dan Soyoka itu tingkat prioritasnya sudah beda jauh! Sebagai catatan, daftar prioritasku itu Soyoka, Soyoka, lalu Soyoka.”

“Itu semuanya sama saja...”

“Memangnya ada hal yang lebih penting daripada Soyoka? Tidak ada, kan?”

“Tolong jangan jawab pertanyaanmu sendiri. ...Meski kalau aku, Iku juga tetap nomor satu.”

Itu sudah jadi hal yang tak perlu diucapkan bagi kami berdua.

Sama sepertiku, prioritas nomor satu Akiyama juga adik laki-lakinya, Iku. Tapi di saat yang sama, dia terobsesi untuk menjadi “kakak perempuan sempurna” yang pantas untuknya.

Obsesi itu pernah menimbulkan masalah juga, dan sepertinya setelah itu dia belajar sedikit lebih rileks.

“Yah, nilai ulanganku juga tidak akan berubah cuma karena bolos sehari.”

“Itu cuma karena nilaimu memang sudah tidak bisa turun lagi. Jangan samakan kita.”

“Kamu ketahuan juga?”

Akiyama menyipitkan mata seolah kelelahan, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Aku bantu kamu belajar lagi.”

“Serius? Kamu penyelamatku, Sensei! Tapi aneh juga kamu menawarkan diri duluan. Ada apa ini? Kukira kamu bakal meminta bayaran yang jauh lebih berat. Misalnya, ‘Jilat sepatuku,’ begitu.”

“...Tahu begini, mungkin lebih baik aku lupakan saja.”

“Maaf.”

Aku langsung minta maaf saat itu juga.

Kalau aku gagal ujian dan kena kelas tambahan, waktuku bersama Soyoka bakal berkurang!

Aku bahkan tidak mau membayangkan apa yang terjadi pada ujian terakhir kalau waktu itu tidak ada Akiyama...

“Aku bercanda. Lagi pula, ada juga yang ingin kupelajari darimu.”

“Apa, semua poin keimutan Soyoka? Sip. Aku akan memberimu kuliah dua puluh empat jam nonstop.”

“Itu penyiksaan model baru?”

Satu hari penuh saja bahkan tidak akan cukup.

Tatapan Akiyama bergerak ke sana kemari dengan agak canggung sebelum akhirnya dia bicara.

“Aku ingin kamu mengajariku bikin tamagoyaki.”

“Hm? Boleh sih, tapi kenapa?”

“Kalau bicara soal bento, pasti terpikir tamagoyaki, kan? Sebagian besar nanti memang akan dibuat ibu, tapi aku ingin setidaknya ada satu lauk yang kubuat sendiri. Soalnya ini untuk tamasya.”

Memang benar, tamagoyaki hampir bisa dibilang lauk wajib dalam bento. Sebagai catatan, aku juga memang berniat memasukkannya ke dalam bento kami.

“Oh, jadi begitu.”

Akiyama mungkin kelihatan seperti manusia super sempurna, tapi aslinya dia cukup ceroboh. Terutama kalau urusan masak. Soal itu reputasinya di mata Iku cukup buruk.

Tapi justru karena dia tidak pernah berhenti berusaha, itulah yang membuat dia menjadi dirinya sendiri.

“Serahkan padaku. Soyoka suka tamagoyaki, jadi aku sudah menguasai cara membuatnya. Hari ini kamu ada waktu?”

“Iya.”

“Kalau begitu nanti ketemuan di rumahku.”

Aku mengundangnya dengan sangat alami, tapi dia memang sudah terlalu sering datang, jadi kami berdua sudah tidak merasa canggung soal itu.

Akiyama mengangguk kecil.

“Terima kasih.”

“Siap. Oke, kalau begitu nanti aku serahkan urusan ujianku padamu.”

“...Yang kulakukan cuma mengajarimu. Yang harus berusaha saat ujian itu kamu, Kyota.”

Padahal kukira kalau diserahkan ke Akiyama semuanya bakal beres...

Sambil terus mengobrol, kami sampai di tujuan.

Kami turun di halte dekat TK lalu berjalan bersama ke sana. Nama halte itu memang memakai nama TK-nya, jadi begitu turun gerbangnya langsung terlihat.

Karena aku mengajukan penitipan tambahan supaya cocok dengan jadwal sekolahku, orang tua lain sudah tidak ada di sana.

Biasanya anak-anak menunggu di halaman, tapi karena hujan, sepertinya mereka ada di dalam ruangan.

“Hei, Kyota. Itu Soyoka-chan sedang pegang tangan Iku, ya? Bilangin dia jangan terlalu lengket.”

“Hei, Iku! Jangan sentuh kulit Soyoka yang lembut itu! Tangan itu bukan diciptakan untuk digenggam olehmu...!”

Sepertinya mereka sedang melipat origami bersama, dan jarak mereka dekat sekali.

Aku paham, tangan Soyoka itu kecil dan lembut, jadi memang bikin orang ingin menyentuhnya! Tapi laki-laki selain aku tidak diperbolehkan!

“Onii-chan datang!”

Saat kami ribut-ribut di depan pintu masuk, Soyoka langsung menyadari keberadaan kami dan berlari mendekat.

“Lihat. Origami.”

“Itu hati?! Kamu sedang mengungkapkan cintamu untuk Onii-chan, ya?”

“Ikan!”

Salah total. Soyoka membetulkanku sambil menggembungkan pipi dengan kesal.

Tetap saja, hari ini pun Soyoka imutnya kebangetan. Aku tidak melihatnya sekitar delapan jam karena sekolah, jadi dia tampak lebih imut dari biasanya! Tidak, tingkat keimutannya memang selalu maksimal, cuma hari ini rasanya sudah menembus batas. Mungkin memang sejak awal tak ada batasnya.

Dia masih baru tiga tahun. Adik kecilku yang polos, murni, dan tercinta.

Dengan pipi kenyal, mata besar bulat, dan senyum yang rasanya bisa meledak karena riang, dia benar-benar mukjizat seorang gadis cantik!

Kalau besar nanti, dia mungkin akan jadi femme fatale yang bisa menjatuhkan negara. Dunia ini pasti bakal berperang karena Soyoka.

Dia sudah cukup terbiasa memakai seragam TK, dan itu cocok sekali padanya. Topinya entah dilempar ke mana, mungkin karena tadi dia berada di dalam.

“Kalau ini wajahku?”

“Onigiri.”

“Ooh, berarti yang ini kakiku ya.”

“Bukan! Kereta!”

Kadang-kadang coba pikirkan kakakmu sedikit saja, boleh? Aku selalu memikirkanmu bahkan saat sedang di sekolah!

Yah, selama Soyoka senang, kurasa tidak masalah. Dia lalu menjelaskan satu per satu hasil karyanya yang berjejer di lantai.

“Mana mungkin dia bikin sesuatu seperti kaki...”

“Nee-chan.”

Iku, yang tadi fokus melipat origami, sadar Akiyama datang lalu mendongak.

“Iku, hari ini kita ke rumah Soyoka-chan, ya.”

“Makanan Kyota-niichan!”

Begitu mendengar kata-kata kakaknya, mata Iku langsung berbinar.

Wajah Iku setegas kakaknya, tapi tidak seperti dia, anak ini jujur, polos, dan menggemaskan.

“Hehehe, kali ini aku yang akan memasak.”

“M-Masakan Nee-chan...?”

Kali ini wajahnya berkedut.

“Aneh ya, kenapa reaksinya beda sekali antara aku dan Kyota?”

“Itu karena perilaku sehari-harimu.”

Perut Iku sudah sepenuhnya dalam genggamanku!

Saat aku menyela dari samping, dia menatapku tajam. Wah, dia memang gampang sekali defensif kalau menyangkut adiknya.

“...Aku akan menebus semuanya saat tamasya nanti.”

Akiyama memainkan ujung rambutnya dengan wajah kesal. Karena memang benar dia tidak jago masak, sepertinya dia tidak bisa membantah.

Kami berterima kasih pada gurunya, lalu kami berempat menuju luar.

“Ujan-ujaaan!”

Soyoka, yang kini sudah memakai jas hujan kuning dan sepatu bot hujan, menarik tudungnya ke atas lalu melangkah ke halaman.

Versi Soyoka di hari hujan juga imut...

“Lihat, genangan!”

Dia menemukan genangan air besar dan langsung menciprat-ciprati dengan kakinya. Semangat sekali!

Kalau sudah dewasa, hari hujan itu cuma bikin muram. Tidak ada enaknya sama sekali. Harus bawa payung, kaki basah, semuanya menyebalkan.

Tapi bagi Soyoka, hari hujan adalah hari menyenangkan yang sedikit berbeda dari biasanya.

“Waaah, shower keciiil.”

“Itu kotor.”

“Soka suka ujaaaan!”

“Dia terlalu murni dan terlalu imut...!”

Tapi kalau basah nanti kamu masuk angin, jadi pakai payung ya!

Tak lama kemudian Iku ikut keluar. Halamannya aman, jadi aku dan Akiyama berdiri berdampingan agak jauh sambil mengawasi adik-adik kami.

“Iku, mau kalahin genangannya?”

“Ngalahin?”

“Injak-injak sampai hilang.”

Soyoka tertawa kecil sambil bermain melawan genangan air. Kurasa genangannya tidak akan hilang walau diinjak sekeras apa pun...

Iku memegang payungnya dengan benar lalu melangkah hati-hati ke dalam genangan. Begitu sadar sepatu bot hujannya membuat dia tidak basah, dia menghela napas lega.

“Soyoka-chan, nanti kamu basah. Mau pakai payung?”

“Makasiii!”

Lalu, entah kenapa, dia malah menawarkan payungnya pada Soyoka.

Dengan tersenyum, Soyoka masuk ke bawah payung yang dipegang Iku.

“I-Itu... payungan berdua?! Tidak mungkin, Soyoka! Di dunia ini ada payung yang boleh dipakai berdua dan ada yang tidak boleh!”

“Jangan-jangan dia sengaja tidak pakai payung demi memancing tawaran itu dari Iku...? Anak ini menakutkan sekali. Seorang ahli strategi sejati. Memanfaatkan kebaikan Iku...”

“Itu Iku, tiap ada kesempatan selalu baik sekali pada Soyoka.”

“Iku memang baik kepada semua orang. Jujur saja, cowok populer itu memang selalu gampang disalahpahami. Merepotkan sekali.”

Aku dan Akiyama menggerutu bersamaan. Tapi kami juga tidak tega mengganggu niat tulus mereka, jadi kami tidak turun tangan. Ugh... apa ini yang disebut dilema?

“Onii-chan sama Sumi-chan ngomong aneh lagi.”

“Iya.”

Soyoka dan Iku saling berpandangan lalu tertawa di bawah payung yang sama.

Ngomong-ngomong, Iku, kamu memiringkan payung itu terlalu jauh ke arah Soyoka sampai bahumu sendiri basah kuyup. Benar-benar gentleman.

Yah sudahlah. Untuk hari ini, akan kubiarkan...

“Soyoka, sebentar lagi kita harus berangkat. Hari ini pasti bakal makan waktu lama.”

“Dan maksud dari perkataan itu apa?”

“Kamu pikir bisa langsung mahir di percobaan pertama?”

“...Kemungkinannya bukan nol, tahu.”

“Itu nol.”

Tamagoyaki itu ternyata cukup sulit. Bahkan aku sendiri dulu latihan lumayan banyak.

“Lihat, payung Soka lucu.”

“Memang lucu.”

“Aku tauu.”

Karena terlalu berbahaya kalau mereka berjalan di jalan raya sambil berbagi payung, Soyoka membuka payungnya sendiri. Itu payung favoritnya, bermotif telapak kaki kucing.

Kami pun berjalan pulang sambil berhati-hati pada mobil.

Bahan tamagoyaki selain bumbu cuma telur, dan kebetulan itu ada di rumah. Sepertinya tidak perlu belanja. Kalau tidak salah aku memang baru beli telur beberapa hari lalu.

“Soka sudah pulang.”

Soyoka masuk ke genkan rumah dengan aura seorang pejuang berpengalaman.

Begitu melepas jas hujannya, dia langsung ambruk di sofa, terlihat kelelahan.

“Kerja bagus di medan perang.”

“Soka nggak bisa ngalahin genangannya. Soka nggak paling kuat...”

“Bukan begitu. Genangan itu akan hilang kalau matahari keluar. Artinya, genangan itu bukan tandingan Soyoka dan senyummu yang seperti matahari.”

“Jadi Soka menang?”

“Betul.”

“Soka paling kuat.”

Soyoka langsung semangat lagi. Dia berdiri di atas sofa sambil bertolak pinggang.

Sebenarnya, maksud “menang melawan genangan” itu apa sih...?

Aku mengambil handuk lalu memberikannya pada Akiyama. Kami bersama-sama mengeringkan anak-anak.

Tidak boleh sampai mereka masuk angin karena basah!

Aku menyalakan TV, lalu mereka berdua duduk berdampingan di depannya.

“Kyota, ayo kita mulai.”

Melihat Soyoka dan Iku sudah tenang, Akiyama bicara sambil mengenakan celemek.

Celemek ini rasanya sudah nyaris jadi milik khusus Akiyama.

Dia datang sekitar seminggu sekali, jadi gerakannya dalam menyiapkan segala sesuatu sudah seperti pemilik rumah sendiri.

“Ada wajan khusus untuk tamagoyaki. Sebenarnya bisa juga bikin di wajan bulat dan rasanya tidak berubah, tapi untuk bentuknya, yang ini jelas lebih bagus.”

Aku tidak tahu seberapa banyak yang sudah Akiyama ketahui, jadi aku mulai menjelaskan dari awal.

Siapa pun bisa memasak telur. Selama takarannya benar, tinggal dipanaskan saja.

Tapi kalau cuma begitu, yang jadi hanyalah telur dadar biasa.

Wajan khususnya berbentuk persegi panjang, jadi gulungannya bisa rapi. Bentuk itu penting!

“Triknya ada di cara memasak dan menggulungnya. Aku akan melakukannya dulu, jadi perhatikan baik-baik.”

“Oke, aku mengerti.”

“Kamu patuh sekali hari ini.”

“Aku memang selalu patuh.”

“Kamu justru kebalikan total dari patuh...”

Akiyama mendengarkan penjelasanku dengan sikap jinak yang patut dipuji.

Dia memang tidak mencatat seperti waktu belajar bikin kari dulu, tapi ekspresinya serius.

“Aku sudah belajar kalau tidak ada gunanya berusaha terlihat keren di depanmu, Kyota.”

“Yah, sadar begitu sekarang juga sudah agak terlambat.”

“Dan tanpa berusaha pun, aku tetap lebih keren darimu.”

“Sejak kapan ini berubah jadi lomba siapa yang lebih keren di antara kita...?”

Maksudku, dia memang terkenal di sekolah sebagai si cantik cool!

Aku sendiri tidak terlalu mengejar predikat keren, jadi aku tidak berniat ikut bersaing.

“Aku sudah memutuskan tidak peduli bagaimana diriku terlihat di matamu.”

“Kalau sedang membesarkan anak, penampilan diri sendiri memang jadi nomor sekian. Menurutku itu tidak masalah.”

“Kamu benar. Tidak perlu memedulikan tatapan tungau dan nyamuk.”

“Itu perumpamaan yang layak dibasmi!”

Jujur saja, diperlakukan seperti serangga itu cukup bikin syok.

Tapi melihat sudut bibir Akiyama melengkung geli, aku jadi tidak tega marah.

Aku justru senang dia sudah cukup nyaman untuk bersikap santai di sekitarku. Akiyama saat mode cool itu benar-benar menakutkan...

“Yang lebih penting, prioritasku sekarang adalah membuat Iku terkesan. Aku harus membuat tamagoyaki terenak dan membuatnya memandangku dengan cara baru.”

“Untuk saat ini, penilaian Iku terhadapmu ada di titik terendah.”

“Ini latihan rahasiaku.”

Sambil berkata begitu, dia melirik ke arah Iku.

Iku sedang main rumah-rumahan bersama Soyoka, tapi sesekali dia melirik kakaknya dengan ekspresi khawatir. Dia masih tidak percaya padanya...

“Tenang saja, Iku. Aku awasi dia kok.”

Kurasa dia tidak mendengarku, tapi aku tetap berbisik sambil memberi jempol. Iku menyadarinya lalu membalas dengan anggukan kecil.

Itu adalah komunikasi antarpria lewat tatapan.

“Sepertinya Iku juga mendukungku.”

“Kamu salah paham, sepertinya.”

Kalau ada apa-apa, justru yang dia pikirkan pasti semoga kakaknya tidak melakukan hal aneh-aneh.

Belakangan ini jadwal pulang ibu mereka memang tidak terlalu malam, jadi katanya beliau bisa membuatkan makan malam. Bento untuk tamasya nanti juga bisa dibuatkannya, jadi sebenarnya tidak ada keharusan bagi Akiyama untuk memasak.

Tetap saja, aku sangat paham keinginan untuk melakukan sesuatu sendiri pada acara spesial seperti tamasya, jadi sebagai teman sesama ortu, aku akan membantunya.

“Ngomong-ngomong, kalau tamagoyaki, kamu tim manis atau tim gurih?”

Akhirnya, aku melempar pertanyaan terlarang itu.

Ya, pertarungan kubu bumbu.

Ayam goreng pakai garam atau kecap asin? Okonomiyaki gaya Hiroshima atau gaya Kansai? Imoni pakai miso atau kecap asin? Jangan remehkan perkara bumbu. Sepanjang sejarah dan di seluruh dunia, perbedaan selera makanan telah menjadi penyebab konflik.

Tidak berlebihan kalau kubilang jawabannya bisa mengubah hubunganku dengan Akiyama.

“Nah, jawab. Akiyama, kamu di pihak mana?”

“I-Itu wajah paling serius yang pernah kulihat darimu...”

Saat aku melempar pertanyaan itu, Akiyama malah mundur dua tiga langkah dengan takut.

“Aku sih sebenarnya tidak terlalu peduli. Atau lebih tepatnya, dua-duanya suka.”

Dan begitulah, dia memberikan jawaban aman.

“Kamu ini, mau bermain netral ya...?! Itu tipe orang paling parah. Kamu juga tipe yang menjawab ‘batang cokelat’ saat ditanya ‘Kinoko atau Takenoko’?!”

“Memang dua-duanya enak, kan...? Kalau harus dibedakan, menurutku fungsi mereka berbeda. Yang manis kumakan untuk penyegar lidah, yang gurih sebagai lauk makan nasi.”

“Kamu serius tidak masalah dengan itu? Punya pendirian sedikit dong.”

“...Kalau kamu sendiri, Kyota?” tanya Akiyama sambil menyipitkan mata seolah merasa repot.

Aku mengambil sebutir telur dan mengetukkannya ringan ke meja dapur. Lalu sambil memecahkannya dengan satu tangan, aku menjawab.

“Manis. Karena Soyoka suka itu.”

“Lalu tadi soal pendirian ke mana?”

“Apa yang Soyoka suka adalah apa yang aku suka. Ada masalah?”

Akiyama menghela napas panjang sekali.

“Haaah... Kalau begitu kita buat yang manis. Iku juga suka, dan kalau bicara soal bento, memang tamagoyaki manis yang paling terbayang.”

“Memang sih punya citra seperti itu.”

Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya diputuskan tamagoyakinya akan dibuat manis dengan gula.

Tapi ya, aku juga suka dashimaki yang pakai shiro-dashi dan semacamnya. Rasanya seperti masakan restoran mahal. Bisa juga dikreasikan dengan bahan lain. Hm? Pendirian? Kalau enak ya enak.

“Oke, telurnya segini harusnya cukup.”

Untuk sementara, aku memecahkan empat butir telur lalu menyaringnya dua kali. Cukup untuk dua gulung tamagoyaki.

“Menyaringnya dengan baik itu penting. Putih dan kuning telurnya jadi merata, dan hasil tamagoyakinya juga lebih halus.”

Aku menyerahkan saringan dan mangkuk pada Akiyama sambil menjelaskan caranya. Meski sebenarnya, ya tinggal disaring saja.

“Itu mudah.”

“Memang tidak sulit, tapi langkah ini sering tergoda untuk dilewatkan karena artinya ada lebih banyak alat kotor yang harus dicuci. Padahal persiapan ini sangat penting.”

Setelah disaring, tibalah saatnya memberi bumbu.

Aku memasukkan gula, kecap asin, dan garam dalam takaran yang pas. Diaduk ringan, persiapan pun selesai.

“Oke, sekarang saatnya memasak.”

Aku menaruh wajan tamagoyaki di atas api besar. Dengan tisu dapur yang diberi minyak salad, aku mengoleskannya merata sampai ke sudut-sudut.

Setelah wajannya benar-benar panas, aku menuang campuran telur.

“Kalau mulai muncul gelembung, pecahkan dengan sumpit. Telurnya cepat sekali mulai mengeras, jadi kamu harus mulai menggulung saat masih ada sedikit bagian cair.”

“Tidak bisa dibiarkan sampai lebih matang dulu?”

“Kalau sampai ada bercak cokelat, nanti potongannya tidak akan cantik saat diiris. Kamu mau bikin tamagoyaki kuning cerah yang cantik, kan?”

Bukan hangus sih, tapi bekas panggangan itu sedikit mengubah rasa. Memang tetap enak dengan caranya sendiri, tapi penampilan yang cantik tetap penting.

Lagipula bento itu bukan cuma soal dimakan. Kalau makannya sambil seru-seruan dengan teman, ada kemungkinan orang lain juga melihat isinya.

Aku tidak bisa asal-asalan kalau demi Soyoka...!

“Setelah gulungan pertama, dorong ke belakang, olesi lagi wajannya dengan minyak, lalu tuang telur lagi. Pastikan benar-benar terlumuri minyak, kalau tidak nanti lengket.”

Bagian kedua inilah yang sulit. Gulungan telur jadi lebih berat, dan membaliknya butuh teknik.

“Di sini kamu tidak boleh memberi terlalu banyak tenaga ke sumpit. Sumpit cuma jadi penyangga... Yang kerja sebenarnya tangan kirimu yang memegang wajan. Angkat pelan, seperti sedang mengipasi api.”

Aku terus menggulung sambil berhati-hati agar tidak sampai kecokelatan. Triknya adalah membiarkan sedikit telur cair mengalir ke bawah gulungan yang sudah jadi.

Setelah itu, yang ketiga kalinya. Aku menggulungnya sampai seluruh bagian tertutup. Ini lapisan terakhir yang akan terlihat, jadi kubungkus dengan hati-hati agar tidak robek.

“Jadi...!”

Aku membentuknya dengan tikar bambu penggulung lalu mengembuskan napas lega. Keringat di dahiku kusapu dengan lengan baju.

“Kamu cukup terampil.”

“Aku sudah bikin ini berkali-kali. Kadang aku juga membuatkannya sebagai camilan untuk ibu. Kalau untuk beliau sih versinya dashimaki.”

“Begitu... Jarang sekali ya mendengar kamu bicara soal ibumu, Kyota.”

“Tidak juga. Cuma memang tidak banyak yang bisa diceritakan. Kami bahkan jarang sekali bertemu.”

Sebenarnya aku tidak berniat bicara soal ibu, tapi mungkin karena teringat jadi terucap begitu saja.

“Nih, lupakan itu. Sekarang giliranmu, Akiyama. Coba saja.”

“Oke. Aku akan langsung menguasainya sekali coba. ...Ngomong-ngomong, telur orak-arik itu enak, ya?”

“Percaya dirimu nol!”

Akiyama yang biasanya selalu penuh keyakinan kini memasang wajah tegang. Dia memang kelihatan seperti bisa melakukan apa saja, tapi kenyataannya cukup kikuk. Dia tidak cocok untuk pekerjaan yang butuh ketelitian tangan.

Tetap saja, dia maju menghadapi tantangan itu dengan berani.

Sambil mengingat gerakanku tadi, dia perlahan mulai menggulung telurnya.

“Tidak usah dipaksakan langsung sempurna. Fokus saja dulu membiasakan diri menggulungnya. Tidak usah khawatir kalau jadi kecokelatan juga.”

Akiyama menatap telur yang sedang matang dengan serius, lalu menggulungnya dengan sangat hati-hati.

Namun, justru kehati-hatian itulah yang bisa menjadi kelemahan saat membuat tamagoyaki.

Karena makin lama kamu, makin matang telurnya. Tapi kalau apinya terlalu kecil, hasilnya juga tidak akan benar.

Ini pertarungan melawan waktu.

“Ky-Kyotaaa...”

Di hadapan tamagoyaki yang sudah menghitam, mata Akiyama mulai dipenuhi air mata.

...Melihat Akiyama yang biasanya selalu tegas sampai hampir menangis begini ternyata memberikan efek tertentu padaku.

Yah, ini salahku juga karena cuma menonton sampai jadi begini.

“Awalnya memang begitu. Yang berikutnya, coba gulung tanpa takut.”

Aku memindahkan puing-puing telur itu ke piring lain lalu menyuruhnya mencoba lagi.

Ini bahkan bukan telur orak-arik!

“Ini... memang belum... bisa dibilang hangus, tapi juga tidak bisa dibilang layak.”

“Aku yang makan.”

“Sudah, coba lagi saja. Karena pakai gula, ini memang lebih gampang gosong daripada dashimaki. Jadi harus cepat.”

Aku memang sudah mulai lapar, jadi aku langsung menyuapkannya ke mulut tanpa benar-benar merasakan rasanya. Yah, seharusnya tidak bikin sakit. Ini cuma telur.

Kalau memasak untuk Soyoka aku pilih-pilih, tapi kalau untuk diriku sendiri aku tipe yang bisa menikmati hampir apa saja, jadi sedikit gosong bukan masalah. Yup, enak, enak.

“O-Oke.”

Dengan ekspresi gugup, Akiyama menyalakan kompor lagi.

“Cepat tapi hati-hati, ya?”

“Pilih salah satu.”

“Cepat dan hati-hati, lalu juga berani tapi tetap lembut.”

Aku menambahkan dua syarat lagi, dan urat di kening Akiyama langsung muncul.

“Kamu mengerjaiku.”

“Aku tidak menyangkal, tapi yang kukatakan memang benar.”

“...Tolong jelaskan dengan lebih sederhana.”

Akiyama mengangkat sumpitnya lalu kembali menatap wajan.

Dia mengecek panasnya lalu menuang telur.

“Bagaimanapun juga, ini memang soal kebiasaan. Kamu harus melakukannya beberapa kali sampai tubuhmu merasakan ritmenya.”

“Aku mengerti.”

Akiyama mengangguk mendengar kata-kataku lalu mulai menggulung telur itu. Dan kemudian...

“Onii-chan, aku lapaaaar.”

“Aku juga.”

Soyoka dan Iku yang sudah kehabisan kesabaran masuk ke dapur.

Saat kulihat jam, ternyata sudah jauh lewat waktu makan malam.

“Ah, sebentar lagi selesai.”

Aku menjawab sambil menata tumis sayur ke atas piring.

Di atas meja sudah ada mangkuk nasi, tumis sayur, sup miso... dan tamagoyaki yang bentuknya miring tak karuan.

“...Sepertinya aku memang tidak berbakat soal ini.”

Akiyama berdiri lesu di ujung dapur dengan kepala tertunduk. Dia terlihat benar-benar putus asa. Jarang sekali melihat gadis yang biasanya penuh percaya diri seperti ini.

Yah, aku tidak bisa menyalahkannya. Kami sudah latihan hampir satu jam. Setelah lima kali mencoba, dia tetap belum terbiasa. Meski kebanyakan tetap akulah yang memakannya!

Yang hasilnya paling lumayan itulah yang sekarang ada di meja.

“Yah, menurutku untuk percobaan pertama, ini sudah cukup bagus. Lihat, yang terakhir sudah tidak gosong. ...Cuma waktu membalik kamu gagal, jadi agak hancur.”

“Punyamu terlalu sempurna, sampai aku bahkan tidak bisa membantah.”

“Hei, hei, ke mana balasan tajammu yang biasa itu?”

Kalau begini malah kelihatan aku yang merundungnya.

Padahal dari awal dia memang tidak bisa masak...

“Sudah, nanti aku bantu kamu latihan lagi. Dua anak itu sudah lapar, jadi ayo cepat makan.”

“...Benar juga.”

Akiyama akhirnya mengangkat kepala lalu mulai bergerak.

Kami berempat duduk di tempat biasa masing-masing lalu berkata bersamaan, “Itadakimasu.”

“Soyoka, hari ini kita punya banyak tamagoyaki!”

“Aku suka telur! ...Tapi ini lembek semua?”

“Jangan bilang begitu!”

Soyoka memiringkan kepala sambil melihat tamagoyaki itu.

Komentar polos seorang anak menusuk tepat ke jantung Akiyama.

“Gampang diambil.”

Soyoka berkomentar sambil menyendoknya.

Dengan Akiyama yang menatapnya penuh tegang, dia memasukkan tamagoyaki itu ke dalam mulut.

“Enak-enak-enak!”

Setelah menelannya, Soyoka tersenyum lebar sekali.

“Soyoka, enak?”

“Enaknya tiga kali! Sumi-chan jenius?” kata Soyoka sambil mengacungkan tiga jari.

“Jadi ini sistem di mana jumlah ‘enak’-nya bertambah?”

“Iya. Tiga enak berarti enak-enak-enak!”

Bahkan aku saja baru pernah dapat dua kali darinya!

Soyoka mulai memasukkan tamagoyaki ke mulutnya terus-terusan seolah mau menghabiskannya semua.

“Aku juga mau makan!”

Iku yang melihat dari samping langsung mengangkat tangan penuh semangat.

“Aku kasih Iku ya. Ini enak.”

“Makasih, Soyoka-chan.”

Wah, nyaris saja. Sedikit lagi Soyoka hampir menghabiskannya sendirian! Memang, Soyoka lemah sekali terhadap makanan enak.

Tapi mau berbagi sesuatu yang dia suka... seperti dugaan, Soyoka terlalu baik hati.

Melihat mereka berdua, Akiyama mulai panik.

“I-Iku...? Itu kan masih cuma hasil latihan. Bukan sesuatu yang harus kamu makan... Tidak apa-apa, sisanya nanti aku saja yang habiskan.”

“Jangan rebut!”

Tamagoyaki buatan Akiyama pun masuk ke mulut Iku.

“Ah...”

Akiyama menatap dengan wajah tegang.

Iku mengunyah pelan, menelannya, lalu tersenyum lebar.

“Enak!”

Iku menatap lurus ke arah Akiyama lalu mengatakannya dengan jujur. Begitu selesai bicara, dia langsung memasukkan potongan kedua ke mulut.

Bagus. Sepertinya rasanya cocok juga dengan selera Iku. Dia sudah latihan cukup banyak, dan meski bentuknya berantakan, hasilnya memang tidak gosong. Dari yang kulihat, dia juga mengikuti takaran resep dengan benar, jadi kalau dikerjakan dengan baik, bahkan Akiyama pun bisa membuat sesuatu yang enak.

“Iku...”

Bibir Akiyama bergetar, seolah dia benar-benar tersentuh.

“Nee-chan hebat!”

“B-Betul. Kakakmu ini memang hebat.”

Bahkan sambil berkata begitu, Iku terus makan, dan tamagoyaki di piring cepat sekali habis. Dia sampai mengangkat piringnya sambil menuntut, “Aku mau lagi!”

Kepercayaan Iku pada masakan Akiyama tadinya nyaris nol, tapi kali ini dia benar-benar memberinya pujian besar.

“Haha, syukurlah.”

“...Tentu saja. Yang membuatnya aku. Sudah pasti enak.”

“Biar kukasih tahu, hari ini belum pertandingan sebenarnya, ya?”

“Iya, dan sebelum tamasya nanti aku akan menyempurnakannya.”

Cepat sekali ya kepercayaan dirinya kembali...

Akiyama membusungkan dada dengan bangga, wajahnya penuh kemenangan. Sepertinya dipuji oleh Iku membuatnya sangat bahagia. Soyoka juga tadi terlihat puas.

Yah, punyaku tetap lebih enak! Tapi untuk hari ini, aku akui kemenangan Akiyama.

“Terima kasih.”

Akiyama melirikku dari sudut mata lalu berkata pelan.

“Iya. Sama-sama.”

“Tinggal menunggu waktu sampai aku melampauimu, Kyota.”

“Entah berapa banyak telur lagi yang harus dikorbankan sampai saat itu tiba...”

Meski begitu, kalau dia sudah menguasai teknik menggulungnya, kurasa jarak kemampuan kami bakal menyempit dengan cepat.

Bukannya kami sedang bertanding, jadi aku benar-benar senang Akiyama mulai memahami caranya.

Ini cuma menambah satu hal lagi yang membuat tamasya orang tua dan anak nanti semakin layak dinantikan.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa