Setelah selesai bermain lempar tangkap, aku pulang ke rumah bersama Shirakawa-kun dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan. Sesampainya di rumah, aku langsung mandi lalu kembali ke kamarku.
Saat ini jantungku masih berdetak sangat kencang, dan seluruh tubuhku terasa hangat seperti terbakar.
Begitu bahagianya aku dengan semua yang terjadi hari ini.
Kencanku dengannya di taman hiburan, dan waktu yang kami habiskan bermain lempar tangkap di taman, semuanya menjadi kenangan yang sangat berharga bagiku.
Namun, ada satu hal yang membuatku jauh lebih bahagia daripada semua itu.
"Takdir, ya... Ternyata hal seperti itu benar-benar bisa terjadi..." (Sophia)
Aku mengeluarkan sebuah foto yang kusimpan dengan hati-hati di dalam laci mejaku.
Itu adalah foto keluarga yang diambil saat aku masih kecil.
Tak perlu dikatakan lagi, foto itu adalah salah satu harta paling berhargaku.
"Papa..." (Sophia)
Aku berbicara kepada pria dalam foto itu yang sedang tersenyum cerah.
Diriku yang masih kecil, berada dalam pelukannya, juga tersenyum begitu bahagia.
Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali aku berharap bisa kembali ke saat itu.
Sebegitu berartinya Papa bagiku, dan sebegitu besarnya rasa cintaku padanya.
Dan sekarang, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadanya.
"Ada seseorang yang masih mengingat Papa. Dia bilang Papa adalah orang yang selalu dia kagumi." (Sophia)
Selama ini aku mengira hanya aku satu-satunya yang masih mengingat Papa.
Mama tentu masih mengingatnya juga, tetapi sekarang beliau sudah menemukan seseorang yang baru untuk dicintai.
Menurutku itu bukan hal yang buruk, dan aku yakin Papa pun akan lebih bahagia mengetahui Mama tidak terus terpuruk dalam kesedihan.
Aku juga dengan sepenuh hati mendoakan kebahagiaan Mama saat beliau menikah lagi.
Namun... meski begitu, tetap ada bagian dari diriku yang merasa kesepian.
Karena rasanya keberadaan Papa perlahan mulai dilupakan.
Tetapi masih ada seseorang yang tetap mengingat Papa, seseorang yang bahkan sampai sekarang masih menyimpannya di dalam hati.
Fakta itu membuatku sangat bahagia.
Lebih dari siapa pun, menurutku dia adalah pria paling luar biasa yang pernah kutemui.
"Dia baik hati, pekerja keras, dan benar-benar orang yang luar biasa. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya. Aku yakin, bersamanya, mimpiku akan menjadi kenyataan. Papa, tolong dukung dia dari surga." (Sophia)
Setelah mengatakannya, aku menyimpan kembali foto itu dengan hati-hati agar tidak rusak.
Lalu pikiranku pun beralih.
"Aku terus berpikir kepribadiannya terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan... tapi mulai sekarang aku akan membuang pikiran seperti itu. Lagi pula, takdir tidak datang berkali-kali... dan kalau nanti dia sampai menyukaiku, yang lain tidak penting lagi. Tapi... apa yang harus kulakukan...?" (Sophia)
Aku mulai memikirkan bagaimana caranya memperpendek jarak di antara kami.
Tidak mungkin bagiku mendekatinya dengan jujur begitu saja.
Aku belum pernah berhubungan dengan seseorang seperti itu sebelumnya, dan meskipun aku berusaha bersikap jujur serta mengandalkannya, kenangan tentang bagaimana aku memperlakukannya di masa lalu selalu kembali menghantuiku.
Sejujurnya, bahkan aku sendiri sadar kalau aku sangat canggung dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Karena itu, mungkin yang terbaik adalah melakukan apa yang bisa kulakukan dengan caraku sendiri, meski canggung.
Untungnya, dia orang yang baik, jadi kalau aku berusaha mendekatinya, kurasa dia akan mengizinkanku tetap berada di sisinya.
Kalau aku melakukannya perlahan dan sedikit demi sedikit, mungkin suatu hari nanti jarak di antara kami benar-benar bisa semakin dekat.
"Pertama-tama, aku harus mengubah cara memanggilnya... Dia memanggilku Sophia, jadi aku juga harus memanggilnya Kento... Kento-kun? Nama panggilan... tidak, itu tidak cocok denganku. Memanggilnya onii-chan... tidak, itu terlalu memalukan. Kurasa tetap memanggilnya Kento-kun lebih aman... tapi aku harus memikirkan cara mengubahnya secara alami..." (Sophia)
Begitulah, aku terus memutar otak memikirkan bagaimana cara memperpendek jarak di antara kami.