Kirei na Onee-san ni Yashinawaretaku Nai Otokonoko nante Iru no? Volume 3 Chapter 3 — Onee-san dan Aku Mengadakan Berbeque

Setelah meletakkan barang-barang pribadiku di kamar, aku mulai mengeluarkan bahan makanan dari mobil.

Saat berbelanja tadi, aku sempat khawatir bagaimana kami akan menyimpan semua ini, tetapi ternyata kekhawatiranku tidak beralasan.

Mungkin karena memang dirancang untuk rombongan besar, kulkas yang disediakan berukuran sangat besar. Selain itu, tersedia juga peralatan seperti penanak nasi dan microwave.

Belum lagi dapur bergaya kitchen counter yang menghadap ruang tamu, yang luas dan nyaman digunakan.

Untuk sekarang, aku akan mulai merapikan bahan makanan yang kami beli.

Semuanya berukuran jumbo, jadi harus dipotong-potong dulu menjadi ukuran yang lebih kecil kalau ingin muat di kulkas.

Pekerjaannya cukup banyak, jadi aku menguatkan tekad lalu mengambil pisau. Tepat saat itu, Onee-san dan Chika-san turun dari lantai dua.

"Maaf ya, semuanya jadi kamu yang mengurus."

"Tidak apa-apa. Walaupun ini liburan, memasak memang tugasku."

"Benar-benar ya... Saori beruntung sekali... punya orang yang mengurus semuanya untuknya."

"U-Ugh..."

Onee-san langsung meringkuk di sofa ruang tamu.

Sepertinya dia masih merajuk karena tidak sekamar denganku.

"Ngomong-ngomong, makan malam nanti bagaimana? Kalau bisa, aku ingin mulai menyiapkannya dari sekarang."

"Malam ini kita barbeku saja."

"Baik. Kalau begitu aku akan mulai mempersiapkannya."

"Kalau begitu, biar aku jelaskan jadwalnya. Eita-kun, kamu dengarkan saja sambil bekerja."

Chika-san duduk di depan Onee-san, membuka buku jadwalnya, lalu mulai menjelaskan.

"Hari ini adalah hari pertama, dan besok, hari kedua, adalah hari bebas. Aku akan pergi mengecek lokasi pemotretan, tapi kalian berdua bebas melakukan apa saja. Pemotretan akan dilakukan pada hari ketiga dan keempat, sedangkan hari kelima adalah hari cadangan. Kalau semuanya tidak berjalan lancar, ada kemungkinan pemotretan juga dilakukan di hari kelima, jadi ingat itu."

Pemotretan photobook bisa selesai hanya dalam tiga hari?

Aku kira akan memakan waktu lebih lama, jadi cukup mengejutkan.

"Hari keenam juga tidak ada jadwal khusus, jadi itu hari bebas. Katanya, di dekat sini akan ada festival kembang api."

"Festival kembang api!?"

Ekspresi Onee-san langsung bersinar.

"Asyik! Ayo kita pergi bertiga!"

"Itu tergantung seberapa keras kamu bekerja. Kalau sampai hari kelima pun masih belum selesai, hari keenam juga akan dipakai untuk pemotretan."

"Gunununu... A-Aku akan berusaha!"

Onee-san menunjukkan ekspresi yang cukup rumit.

Sepertinya rasa antusias dan rasa enggannya sedang saling bertarung.

"Dan hari ketujuh kita kembali ke Tokyo. Begitulah rencananya."

"Baik. Terima kasih sudah menjelaskannya."

"Berarti kita bisa jalan-jalan di hari kedua, dan kalau aku bekerja keras, hari keenam juga bisa!"

"Ya, memang begitu, tapi... hati-hati ya. Karena ini daerah wisata, pasti ramai orang. Kalau sampai ketahuan Yoshioka Satomi ada di sini, bukan cuma bikin keributan, tapi juga merepotkan warga sekitar."

"Tenang saja!"

Onee-san menjawab dengan santai, tetapi seperti biasa, begitu dia bersemangat, rasa waspadanya langsung menghilang. Artinya, akulah yang harus lebih berhati-hati memperhatikan keadaan sekitar.

"Eita-kun, kira-kira berapa lama sampai makan malam siap?"

"Coba kulihat... kalau termasuk merapikan bahan dan persiapannya, mungkin sedikit lebih dari satu jam."

"Kalau begitu, sampai saat itu Saori dan aku bebas."

Setelah berkata begitu, Chika-san berdiri dari sofa.

"Aku akan membantu Eita-kun!"

"Aku capek habis menyetir, jadi mau mandi dulu. Katanya pemandian terbuka di cottage ini menggunakan air dari pemandian air panas di sekitar sini."

Oh... jadi ada pemandian terbuka.

Onsen waktu itu benar-benar menyenangkan, jadi aku cukup menantikannya.

"Setelah mandi aku akan beristirahat di kamar, jadi panggil aku kalau sudah siap."

"Baik. Silakan beristirahat."

Chika-san melambaikan tangan lalu meninggalkan ruang tamu.

Dan akhirnya tinggal aku dan Onee-san berdua.

"Eita-kun, apa yang bisa Onee-san bantu?"

"Begini ya..."

Onee-san sama sekali tidak bisa memasak, jadi hampir tidak ada pekerjaan yang bisa kuminta darinya.

Meski begitu, aku senang dia berniat membantu, jadi aku tidak ingin langsung menolaknya.

"Aku yang akan memotong bahan-bahannya, jadi bisa tolong pindahkan ke piring?"

"Oke! Onee-san akan berusaha menyusunnya dengan cantik di piring!"

Dengan penuh semangat, Onee-san masuk ke dapur, mencuci tangan, mengikat rambutnya dengan ikat rambut, lalu menggulung lengan bajunya.

Dia berdiri di sampingku sambil bersenandung dan mulai menyusun potongan daging di atas piring, tetapi...

"O-Onee-san..."

"Kenapa?"

"Bukannya kamu agak terlalu dekat?"

"Begitu ya?"

Jarak Onee-san benar-benar terlalu dekat.

Bahkan bukan sekadar dekat, tapi hampir menempel. Bahu dan siku kami terus bersenggolan saat bekerja, membuatku sulit bergerak, tetapi Onee-san malah semakin mendekat seolah berkata, "Memangnya kenapa?"

Apa cuma perasaanku saja, atau dia memang sengaja ikut mendekat setiap kali aku menjauh?

Aku memutuskan mengabaikannya dan terus bekerja.

"Hei, Eita-kun."

"Ada apa?"

Onee-san terus menatap kedua tanganku.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

"Onee-san juga ingin mencoba memotong daging."

"Hah!?"

Onee-san... memotong daging?

"Tapi Onee-san belum pernah memegang pisau, kan?"

"Belum. Makanya aku ingin kamu mengajariku."

"Tidak... menurutku sebaiknya jangan memaksakan diri."

Keinginannya untuk mencoba memang bagus, tetapi besok sudah mulai pemotretan photobook.

Kalau sampai terluka, bisa jadi masalah besar.

"Selama ini aku selalu melihatmu memasak, Eita-kun, dan berpikir, andai saja ada sesuatu yang bisa kubantu... Mulai sekarang kita akan selalu bersama... Aku juga ingin sesekali memasak, atau menghabiskan hari libur dengan memasak bersama... Aku sangat mendambakan kehidupan seperti itu."

Onee-san yang tadi begitu ceria tiba-tiba berkata begitu dengan tatapan yang terasa begitu rapuh.

Seolah-olah dia sedang meratapi sesuatu.

"Onee-san..."

Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan di balik tatapan itu.

Namun, ekspresi yang sangat tidak biasa itu mengingatkanku pada sebuah kalimat.

"Aku merasa akhir-akhir ini dia bertingkah agak aneh."

"...Baiklah. Kita coba saja."

"Kamu mau mengajariku!?"

"Iya. Tapi besok kamu ada pemotretan, jadi kita harus benar-benar hati-hati supaya tidak terluka."

"Oke! Aku akan berhati-hati!"

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya begitu mengganggu pikiran Onee-san.

Namun, kupikir dengan mengabulkan keinginannya, mungkin aku bisa sedikit membuatnya merasa lebih baik.

Dan begitulah, kelas memasak Onee-san pun dimulai.

"Memotong daging butuh tenaga cukup besar, jadi kita mulai dari sayuran yang lebih mudah dulu."

Aku menyerahkan pisau kepada Onee-san lalu mengosongkan sedikit ruang di dapur.

Onee-san menerima pisau itu, meletakkan sebuah bawang bombai di atas talenan, lalu menghadapinya.

"Pertama, tangan kirimu yang menahan bawangnya harus melengkungkan jari-jari seperti ini supaya tidak ikut terpotong."

"...Dilengkungkan?"

Sepertinya Onee-san masih belum paham. Dia hanya membuka dan mengepalkan tangannya di udara.

"Aku masih kurang mengerti. Kamu boleh menyentuh tanganku, jadi coba pegang dan atur posisinya."

"Hah... tapi kamu tidak akan pingsan atau semacamnya?"

Rasanya itu cukup berbahaya, apalagi dia sedang memegang pisau.

"Tidak apa-apa. Kalau sudah siap secara mental untuk disentuh... mungkin aku bisa menahannya."

Aku benar-benar cemas.

"Kalau begitu... permisi."

Aku berdiri di belakang Onee-san lalu menumpangkan tanganku di atas tangan kirinya, seperti sedang melakukan gerakan berdua.

"Ah..."

Onee-san menghela napas pelan.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Iya. Aku baik-baik saja, tapi... rasanya ini pertama kalinya kamu benar-benar menggenggam tanganku."

Pipi Onee-san memerah saat dia mendongak menatapku.

Tolong jangan bereaksi seperti itu! Aku juga jadi malu!

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang ini pertama kalinya aku menyentuh tangan Onee-san seperti ini.

Kami memang pernah bergandengan tangan di tepi sungai, tetapi waktu itu memakai sarung tangan.

Memang aku pernah dipeluk telanjang olehnya, jadi mungkin orang akan berpikir, "Sekarang baru malu?" Tapi waktu itu adalah kecelakaan yang tak terhindarkan... atau lebih tepatnya memang kecelakaan, jadi tidak dihitung.

Kalau dipikir lagi, memang benar ini pertama kalinya aku benar-benar menyentuh tangannya.

"Sudah siap? Tahan seperti ini..."

"Nnngh..."

Kali ini Onee-san mengeluarkan erangan yang terdengar anehnya manis.

"...Sekarang kenapa lagi?"

"Ehm... napas Eita-kun mengenai telingaku..."

"M-Maaf!"

Kelas memasak macam apa ini!?

Harusnya ini kegiatan yang sehat, tapi rasanya malah seperti sedang melakukan sesuatu yang sama sekali tidak sehat.

Tidak, jangan dipikirkan... Memikirkan hal-hal aneh sambil memegang pisau itu berbahaya.

Sekarang aku hanya sedang mengajari Onee-san cara menggunakan pisau. Tidak ada yang memalukan.

Aku terus mengulang kalimat itu dalam hati untuk mengusir pikiran-pikiran aneh, lalu menumpangkan tanganku di atas tangan kanan Onee-san yang memegang pisau dan menurunkan bilahnya ke bawang bombai yang sedang dia pegang.

"Kalau begini, punggung jari tangan kirimu akan menyentuh sisi pisau, jadi kemungkinan jarimu ikut terpotong jauh lebih kecil. Memang tidak sepenuhnya aman, tapi jauh lebih baik daripada menahannya dengan ujung jari."

"Begitu ya."

"Baik, kita potong."

Aku memberi sedikit tekanan, dan bawang bombai itu terbelah dua dengan bunyi "tok" yang memuaskan.

"Wah!"

Onee-san berseru gembira.

"Eita-kun. Onee-san ingin mencobanya lagi."

Kami mengulanginya beberapa kali lagi hingga satu bawang bombai selesai dipotong.

"Kurasa sekarang aku sudah paham."

"Kalau begitu, sekarang coba potong paprika sendiri."

Aku berkata begitu lalu mundur selangkah dari Onee-san.

"Aku masih takut melakukannya sendirian... Sensei."

"Sensei..."

Aku benar-benar tidak bisa menolak saat dia menatapku seperti anak anjing yang merengek pada pemiliknya.

"Baiklah."

Sekali lagi aku menumpangkan tanganku di atas tangan Onee-san seperti melakukan gerakan berdua.

"Ini pertama kalinya kita mengerjakan sesuatu bersama seperti ini ya... ehehe."

Memang tidak salah sih, tapi rasanya konteks yang kamu pakai agak berbeda.

Begitulah kami terus menyiapkan barbeku... tetapi entah kenapa Onee-san terus bersenandung dengan suasana hati yang sangat baik.

Bahkan lagu yang dia nyanyikan adalah lagu pernikahan.

...Aku memutuskan untuk tidak bertanya kenapa dia memilih lagu itu.

"Baik, berikutnya kita siapkan perlengkapan barbekunya di luar."

"Oke! Kita harus menata meja dan kursinya!"

Setelah selesai menyiapkan makanan, kami keluar ke halaman dan mulai menyiapkan barbeku.

Kami memasang meja dan kursi yang dibeli di toko gudang besar dalam perjalanan tadi, lalu sementara aku menyusun arang di tungku yang sudah disediakan, Onee-san membawa bahan makanan dari dapur.

"Wah, sekarang benar-benar mulai terasa seperti barbeku sungguhan! Aku jadi makin bersemangat♪"

"Tinggal menyalakan arangnya. Setelah apinya stabil, kita bisa mulai."

"Kalau begitu Onee-san akan memanggil Chika-chan."

Aku melihat Onee-san kembali masuk ke cottage sementara aku melanjutkan persiapan.

Aku menggunakan obor gas untuk menyalakan kayu bakar di dasar tungku, lalu api perlahan menyebar ke arang. Sambil sesekali mengipasinya dengan kipas tangan, arang itu mulai memerah karena panas.

Saat apinya sudah stabil, matahari pun telah terbenam dan keadaan di luar cukup gelap.

Sebuah ruang yang diterangi cahaya api, dikelilingi alam.

Suara arang yang berderak terbakar berpadu dengan suara serangga yang bergema di hutan cedar.

Suasana yang tidak mungkin ditemukan di kota itu terasa begitu luar biasa, bahkan sedikit magis.

"Maaf ya, semuanya jadi kamu yang menyiapkan."

Aku mendengar suara lalu menoleh.

Chika-san berdiri di sana sambil membawa beberapa botol minuman keras.

"Tidak kok. Onee-san juga membantu."

"Maaf... maksudku hampir semuanya tetap kamu yang mengerjakan."

"Aku banyak membantu! Eita-kun mengajariku, dan aku juga memotong sayuran!"

"Saori? Yang benar saja?"

Chika-san menatapnya dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

Karena merasa diragukan, Onee-san langsung menggembungkan pipinya.

"Aku memang khawatir dia terluka karena besok ada pemotretan... tapi aku terus mengawasinya, dan dia tidak terluka sama sekali."

"Begitu ya. Syukurlah."

Chika-san mengembuskan napas lega.

Kemudian dia meletakkan botol-botol minuman di atas meja lalu duduk.

"Jadi akhirnya kamu memang minum juga."

"Hari ini saja tidak apa-apa, kan? Soalnya Saori sudah susah payah membelikannya untukku."

"Benar! Chika-chan kan selalu bekerja keras!"

Onee-san dengan cekatan memasukkan es ke dalam gelas lalu menyerahkannya kepada Chika-san.

"Wah, perhatian sekali. Terima kasih."

"Sama-sama. Silakan diminum sebanyak yang kamu mau~♪"

Onee-san langsung membuka sebotol wiski dan menuangkannya ke gelas Chika-san.

Rasanya seperti sedang menjamu klien.

Entah kenapa firasat burukku kembali muncul, dan kata-kata Onee-san terlintas di benakku.

"Kalau Chika-chan kubuat mabuk sampai pingsan... maksudku, dia kan selalu bekerja keras, jadi aku ingin dia bisa santai menikmati perjalanan ini!"

"..."

Aku memutuskan berpura-pura tidak mengingat kalimat itu.

"Kalau begitu aku mulai memanggang dagingnya."

"Tolong."

Chika-san langsung menghabiskan gelas pertamanya dalam sekali teguk dan terlihat sedang dalam suasana hati yang sangat baik.

Tak lama kemudian, mungkin dia bosan menuang ke gelas, dia mulai minum langsung dari botol.

Onee-san yang sudah tidak ada pekerjaan lagi datang ke sampingku dan menatap daging serta sayuran yang sedang dipanggang.

"Aaaah... kelihatannya enak sekali."

"Belum matang. Tunggu sebentar lagi."

Onee-san yang harus menunggu hanya bisa menahan nafsu makannya dengan ekspresi tersiksa.

Dia lucu sekali, seperti anjing yang mati-matian berusaha bersabar.

"Ngomong-ngomong, Chika-san minumnya cepat sekali. Tidak apa-apa?"

"Dia akan baik-baik saja. Semuanya berjalan sesuai rencana..."

Onee-san menunjukkan senyum licik yang penuh percaya diri.

Sementara itu makanan akhirnya matang, lalu kubagi ke piring dan kuberikan kepada mereka.

"Maaf sudah menunggu. Ayo makan."

"Oke!"

Onee-san yang sudah tidak sabar langsung menggigit sepotong daging.

"Mmm♪ Enak!"

"Memang enak. Sausnya juga sangat enak."

"Kita membeli banyak daging, jadi aku membuat beberapa jenis saus. Ada yang berbahan dasar kecap jahe, ada saus tomat, lalu ada juga saus wasabi yang sangat kurekomendasikan. Garam dan lada biasa memang enak, tapi kupikir lama-lama akan bosan kalau rasanya itu-itu saja."

Ngomong-ngomong, favoritku adalah saus wasabi ini.

Aku merebus mentsuyu bersama gula, bawang putih, dan kaldu consommé, lalu menambahkan wasabi dan sedikit perasan lemon di akhir. Rasa manis yang kemudian disusul sensasi pedas wasabi benar-benar membuat cita rasa daging semakin keluar.

Memang rasanya agak dewasa, tapi menurutku ini pasangan terbaik untuk daging.

"Aku sudah berpikir begitu sejak sarapan tadi. Hebat sekali untuk anak seusiamu."

"Tidak juga. Aku hanya belajar karena keadaan."

"Aku dengar dari Saori. Sejak kecil ayahmu sering tidak di rumah, jadi semua hal kamu urus sendiri, kan? Pantas saja kamu begitu pandai mengurus rumah."

"Itu semua berkat ayahku... atau justru gara-gara dia... aku sendiri juga bingung."

"Benar, benar. Ngomong-ngomong soal ayahmu, aku menemukan sesuatu."

"Menemukan sesuatu?"

Chika-san mengangguk.

"Aku ingin mencari petunjuk tentang Misaki-san, jadi aku menemui orang-orang yang dulu pernah bekerja dengannya dan memeriksa dokumen perusahaan lama. Lalu aku menemukan sesuatu yang mengejutkan."

"Sesuatu yang mengejutkan?"

"Ayahmu, Ichinose Kasumi-san, ternyata adalah manajer Mizusaki Miyuki... atau dengan kata lain, ibumu, Misaki-san, saat beliau masih menjadi aktris."

"Hah...?" "Hah...?"

Sumpitku dan Onee-san sama-sama berhenti.

"Katanya dulu beliau adalah manajer yang sangat terkenal di industri hiburan. Bukan hanya pekerjaannya bagus, beliau juga sangat dipercaya orang-orang di sekitarnya. Banyak yang mengatakan keberhasilan Misaki-san sebagai aktris tidak lepas dari dukungan penuh Kasumi-san sejak awal kariernya. Katanya, hampir semua orang yang sudah lama berkecimpung di dunia hiburan pasti mengenal Kasumi-san."

Ayahku adalah manajer ibuku?

Aku sama sekali belum pernah mendengar cerita itu darinya.

"Katanya dulu tidak ada yang tahu mereka berpacaran. Bahkan ketika Misaki-san mengumumkan pensiun untuk menikah, beliau juga tidak mengungkapkan kalau pasangannya adalah Kasumi-san. Kurasa Kasumi-san juga meninggalkan dunia hiburan bersamaan dengan pensiunnya Misaki-san."

Sebenarnya, sejak mengetahui hubungan antara Onee-san dan ibuku, aku sudah mencoba mencari informasi di internet.

Memang ada cukup banyak informasi mengenai ibuku saat masih menjadi aktris, tetapi sama sekali tidak ada tentang kehidupannya setelah menikah dengan ayahku. Tentu saja tidak ada informasi mengenai manajernya juga.

Saat itu internet belum tersebar luas, dan setelah seorang aktris pensiun, dia menjadi warga biasa. Kalau memang hubungan mereka dirahasiakan, tidak aneh kalau tidak ada informasinya.

Satu-satunya informasi yang muncul hanyalah berita tentang Mizusaki Miyuki yang mendirikan Second House.

"Tapi ada satu hal yang sedikit mengganjal."

"Mengganjal?"

"Sepertinya tidak ada yang tahu kenapa Kasumi-san berhenti menjadi manajer."

Tidak ada yang tahu...?

"Misaki-san memang pensiun karena menikah. Tapi tidak ada alasan bagi Kasumi-san untuk ikut berhenti. Justru saat itu seharusnya kariernya sedang berkembang, tetapi dia malah meninggalkan dunia hiburan bersama Misaki-san..."

Benar juga... apa dia memang sangat ingin menjadi koresponden perang?

Tidak, ayah baru menjadi koresponden perang saat aku duduk di kelas atas sekolah dasar.

Sebelumnya dia mengaku pekerja lepas dan melakukan berbagai macam pekerjaan, jadi itu jelas bukan alasan dia berhenti.

"Bukan cuma itu. Sepertinya sebagian dana saat Misaki-san mendirikan Second House juga berasal dari investasi Kasumi-san... namanya tercantum di beberapa dokumen pendirian lama."

"Apa maksudnya itu?"

Onee-san mengajukan pertanyaan yang juga ingin kutanyakan.

"Ini hanya dugaanku..."

Kata Chika-san sebagai pendahuluan.

"Misaki-san bercerai setelah Eita-kun lahir lalu mendirikan Second House. Kalau mereka bercerai karena saling membenci, rasanya sulit membayangkan Kasumi-san masih mau berinvestasi. Menurutku, Kasumi-san tahu Misaki-san akan menerima Saori dan mendirikan agensi, karena itulah dia berinvestasi."

"..." "..."

Ayah tahu ibuku akan menerima Onee-san?

Dan dia menceraikannya sambil mengetahui hal itu... bukan sesuatu yang mustahil.

"Saori. Waktu pertama kali bertemu Kasumi-san, apa kamu sempat memperkenalkan diri sebagai Yoshioka Satomi?"

"Sebelum sempat memperkenalkan diri, Kasumi-san sudah mengenaliku."

"Kalau begitu masuk akal kenapa Kasumi-san langsung meminta Saori menjaga Eita-kun kalau terjadi sesuatu padanya. Seaneh apa pun Kasumi-san, mustahil dia menitipkan putranya kepada orang yang baru pertama kali ditemui, sekalipun orang itu seorang selebritas."

Aneh... ya.

Aku memang tidak bisa membantahnya.

Bagaimanapun juga, dia memang tipe orang yang berkeliaran di zona perang hanya mengenakan kemeja aloha.

"Kita memang belum tahu kebenaran sebenarnya. Tapi fakta bahwa kita semua bisa berkumpul seperti ini mungkin bukan sekadar kebetulan. Kalau ada kesempatan, aku ingin bertanya langsung kepada Kasumi-san..."

Kata Chika-san sambil menempelkan botol wiski ke bibirnya.

Ayahku ternyata adalah manajer ibuku...

Entah kenapa rasanya lebih aneh daripada mengejutkan.

Onee-san yang dibesarkan oleh ibuku yang seorang aktris kini menjadi aktris populer. Ayahku dulu adalah manajer ibuku, sementara sekarang aku menjadi manajer Onee-san.

Rasanya seperti kami sedang mengulangi hubungan mereka di masa lalu.

Aku tidak bisa mengabaikan hubungan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Eita-kun, bagaimana kalau kita pergi menemui Kasumi-san bersama?"

"Hah?"

"Kalau kita bertanya langsung kepada Kasumi-san, pasti banyak pertanyaan yang akan terjawab. Mungkin beliau juga tahu cara menghubungi Misaki-san, bahkan tahu di mana beliau berada sekarang dan sedang apa."

"Memang benar, tapi..."

Tempat ayah berada sekarang... memang aneh mengatakannya seperti ini, tapi itu zona perang, tahu?

Dia mengatakannya seolah-olah kami hanya akan pergi jalan-jalan sebentar. Walaupun... waktu dia pergi meminta persetujuan ayah untuk menjadi waliku dulu, dia juga memang berangkat seolah cuma pergi bertamasya.

"Kamu tidak punya waktu untuk itu."

"Presiden! Saya mengajukan cuti berbayar!"

"Aktris itu pekerja mandiri. Tidak ada cuti berbayar."

"Kalau begitu aku ambil cuti tanpa bayaran!"

"Untuk sementara jadwalmu sudah penuh sampai akhir tahun. Sebentar lagi juga ada syuting film."

"Chika-chan jahat sekaliiiiiii-fugu!"

Saat Onee-san menggembungkan pipinya dan memprotes Chika-san, Chika-san langsung membungkamnya dengan memasukkan sepotong daging ke mulutnya.

"Tidak perlu memaksakan diri mengetahui semua itu."

Kata Chika-san sambil membuang botol wiski kosong lalu membuka botol berikutnya.

"Kalau mereka tidak memberi tahu kita, berarti memang ada alasan kenapa hal itu harus dirahasiakan. Nanti pada waktunya semuanya pasti akan terungkap. Sampai saat itu, kita hanya perlu menjalani hidup sebaik mungkin."

"...Benar."

Aku merasa sedikit kasihan pada Onee-san, tetapi aku juga sependapat dengan Chika-san.

Aku memang penasaran kenapa ayah dan ibu berpisah, dan kenapa ayah sampai mau berinvestasi di Second House ketika ibu menerima Onee-san dan mendirikannya.

Namun, bagaimana kalau alasan mereka berpisah bukanlah sesuatu yang ingin kami dengar?

Seperti yang dikatakan Chika-san tadi, kalau memang ayah berinvestasi karena tahu ibu akan menerima Onee-san, maka ada kemungkinan alasan perceraian mereka juga demi Onee-san.

Tiba-tiba terlintas wajah sedih Onee-san di peron stasiun lokal pada hari terakhir perjalanan kami ke Nagano.

Lalu kata-kata menyakitkan yang dia ucapkan seperti sebuah pengakuan setelah pertemuan orang tua, guru, dan murid.

Kalau memang begitu, kenyataan itu pasti akan sangat menyiksa Onee-san.

Saat memikirkan hal itu, aku jadi takut mengetahui kebenarannya.

"Daging berikutnya sudah matang."

Aku menyajikannya kepada mereka sambil tersenyum ceria, berusaha agar mereka tidak menyadari apa yang sedang kupikirkan.

Setelah itu kami larut dalam obrolan-obrolan ringan.

Kami melupakan kesibukan pekerjaan belakangan ini dan menikmati makan malam serta percakapan bersama.

Satu-satunya hal yang menggangguku adalah Onee-san terus-menerus menuangkan minuman keras untuk Chika-san. Memang Chika-san bilang dia kuat minum, tetapi dia sudah menghabiskan dua botol wiski...

Bukankah itu keterlaluan...?

Saat semua makanan yang kami siapkan akhirnya habis, Chika-san tampak sudah linglung.

"...Chika-san, kamu tidak apa-apa?"

"...Nn."

Sepertinya dia tidak baik-baik saja.

Dia sudah setengah tertidur.

"Onee-san akan mengantar Chika-chan ke kamarnya."

"Tolong ya. Biar aku yang beres-beres."

"Oke. Terima kasih. Hehehe... akhirnya tumbang juga."

Apa aku salah dengar...?

Rasanya tadi Onee-san mengatakan sesuatu yang terdengar sangat mengkhawatirkan.

"Chika-chan, ayo berdiri. Kita ke kamar."

"Ugh..."

Aku melihat Onee-san masuk ke dalam cottage sambil menopang Chika-san, lalu mulai membereskan semuanya.

Aku merasa firasat buruk yang sejak tadi terus muncul akhirnya akan benar-benar terjadi.

☆Buku Harian Onee-san☆

Barbekunya seru sekali~♪

Eita-kun mengajariku sedikit cara memasak, jadi mulai sekarang aku akan belajar pelan-pelan. Suatu hari nanti aku akan mentraktir Eita-kun makanan buatan Onee-san!

Tapi tetap saja... soal Kasumi-san tadi benar-benar mengejutkan.

Kasumi-san dulu manajer Misaki-san, dan sekarang Eita-kun adalah manajerku. Rasanya seperti... aku benar-benar merasa ini adalah takdir!

Takdir, ya... Kalau memang takdir, apa aku bisa terus bersama Eita-kun selamanya?

Belakangan ini aku kadang memikirkan hal itu.

Bahwa tidak ada jaminan kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.

Selama ini aku sudah bahagia hanya bisa bersama Eita-kun. Dia juga bilang ingin terus bersamaku, dan seharusnya itu membuatku sangat bahagia... tapi entah kenapa ada bagian dari diriku yang masih merasa cemas.

Kenapa ya? Apa aku... sudah menjadi orang yang serakah?

Yah, yang penting rencananya berjalan lancar. Aku berhasil membuat Chika-chan mabuk sampai pingsan!

Sekarang aku bisa bersenang-senang dengan Eita-kun sampai pagi tanpa perlu khawatir lagi!

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa