Kirei na Onee-san ni Yashinawaretaku Nai Otokonoko nante Iru no? Volume 2 Epilog

"Kalau begitu... bersulang~♪"

Hari Minggu berikutnya.

Aku, Onee-san, dan Chika-san berkumpul di kantor Second House.

Onee-san membawaku ke sini tanpa memberi tahu apa pun. Kukira kami akan mengadakan rapat mengenai pekerjaan ke depannya, tetapi begitu pintu kantor kubuka, suara letusan popper pesta langsung bergema.

Saat aku masih terpaku kebingungan, kulihat Chika-san memegang popper dengan wajah penuh kemenangan, sementara di atas meja telah tersaji hidangan yang mewah.

Barulah aku mengerti apa yang sedang terjadi ketika melihat tulisan di jendela di depanku.

"Selamat datang di Second House!"

Rupanya mereka berdua telah menyiapkan pesta penyambutan kejutan untukku.

Aku memang tahu Onee-san menyukai hal-hal seperti ini, tetapi sedikit mengejutkan bahwa Chika-san juga begitu bersemangat. Ternyata ide ini justru berasal dari Chika-san.

"Maaf... kalian sampai merayakanku semeriah ini."

"Makanannya memang mewah, tapi yang hadir hanya kita bertiga. Kantor ini kecil."

"Jumlah orang bukan masalah! Yang penting adalah perasaannya!"

Onee-san menegur Chika-san yang bercanda sambil merendahkan diri.

"Saori benar. Walaupun hanya bertiga, ini anggota baru pertama kita setelah lebih dari tiga tahun... dan lagi, dia adalah orang berharga yang bisa mengendalikan Saori. Selamat datang."

"Jangan bilang seolah-olah aku anak bermasalah yang tidak pernah menurut!"

"Orang yang sampai belum lama ini menyuruhku menelepon untuk membangunkannya setiap pagi jangan banyak bicara. Bilang saja itu setelah kamu benar-benar bisa bangun sendiri."

"Ugh... akhir-akhir ini aku sudah bangun sendiri."

Dia menggembungkan pipinya dengan kesal lalu melotot ke arah Chika-san.

Demi menjaga harga dirinya, aku akan diam saja soal kenyataan bahwa dia sebenarnya baru bangun kalau mencium aroma sarapan, sedangkan kalau tidak ada sarapan, dia sama sekali tidak bangun.

"Tapi entah kenapa... rasanya menyenangkan."

"Menyenangkan?"

"Sudah lama sekali aku hidup sendirian, jadi belum pernah mengadakan pesta seperti ini bersama semua orang. Berada seperti ini... rasanya seperti keluarga."

Mendengar itu, Onee-san dan Chika-san saling tersenyum kecil.

...Apa... aku mengatakan sesuatu yang aneh?

"Dulu sekali, semua orang yang bergabung dengan perusahaan ini juga mengatakan hal yang sama sepertimu, Eita-kun."

"Semua orang?"

"Ya. Misaki-san adalah orang yang lebih mementingkan hubungan antarmanusia daripada keuntungan atau hasil kerja. Beliau selalu berkata bahwa perusahaan ini adalah rumah bagi semua orang, dan semua karyawannya adalah keluarga... jadi kurasa semua orang akhirnya berpikir seperti itu."

Kantor adalah rumah, dan semua karyawan adalah keluarga.

Kalau dipikir-pikir, itu benar-benar sesuai dengan nama perusahaan ini.

"Tapi bukan berarti aku akan bersikap lunak padamu. Sekalipun keluarga, ketegasan tetap diperlukan."

"Ah, Chika-chan. Hari ini saja bersenang-senang dulu."

"Hari ini saja. Mulai besok aku akan menyuruhmu bekerja keras, jadi bersiaplah. Sebentar lagi para pelajar memang akan memasuki libur musim panas, tapi di pekerjaan kita tidak ada yang namanya libur musim panas."

Sorot mata Chika-san berkilat dengan tajam.

Aku merasa pekerjaannya nanti pasti akan berat... tapi apa pun pekerjaannya, aku akan berusaha sebaik mungkin.

"Ngomong-ngomong, aku punya hadiah untukmu. Soalnya mulai sekarang kamu akan bekerja."

"Hadiah?"

Chika-san menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang dibungkus rapi.

Saat kubuka, di dalamnya ada sebuah buku catatan dan pena.

"Gunakan untuk bekerja."

"Kelihatannya mahal sekali... apa benar tidak apa-apa?"

"Anggap saja hadiah penyambutan masuk perusahaan. Jadi tidak usah sungkan."

"Terima kasih."

"Eita-kun! Aku juga punya hadiah untukmu!"

Seolah tidak mau kalah dari Chika-san, Onee-san menyodorkan sebuah hadiah.

Saat kuterima kantong kertas yang ukurannya cukup besar itu dan kulihat isinya, aku benar-benar terkejut.

"Ini... jas?"

"Iya! Manajer, kan, harus memakai jas. Aku yakin pasti cocok sekali untukmu♪"

"Ah, terima kasih. Tapi... bukankah pakaian seperti ini harus disesuaikan ukurannya?"

Bagaimana kalau ternyata ukurannya tidak pas?

"Tidak apa-apa. Aku sudah mengukur tubuhmu waktu kamu tidur, Eita-kun. Lagipula aku juga sudah beberapa kali memelukmu, jadi aku kurang lebih tahu ukuranmu!"

Dia mengacungkan jempol dengan wajah bangga, tapi... mengukurku saat tidur? Aku sama sekali tidak menyadarinya... jangan-jangan dia melakukan hal lain juga?

"Karena sudah ada di sini, bagaimana kalau langsung dicoba?"

"Sekarang?"

Mereka berdua mengangguk dengan wajah penuh antusias.

"Baiklah... tunggu sebentar."

Aku pergi ke ruangan lain untuk berganti pakaian.

Rasanya canggung karena aku belum terbiasa memakai jas, dan aku juga tidak tahu cara mengikat dasi. Setelah mencari caranya di internet dan mengikatnya asal-asalan, aku kembali ke kantor.

Begitu melihatku, mereka berdua tampak terkejut.

"Gimana... lumayan, kan?"

"Keren sekali! Cocok banget buatmu, Eita-kun!"

Dengan penuh semangat, Onee-san langsung memotretku berkali-kali menggunakan ponselnya.

Malunya bukan main. Rasanya wajahku sampai terbakar.

"Ah... iya."

Hadiah itu mengingatkanku.

"Onee-san. Sebenarnya aku juga punya hadiah untukmu."

"Untukku...?"

Aku mengeluarkannya dari tas lalu menyerahkannya.

Begitu membuka kantong kertasnya, dia sampai terdiam karena terlalu terkejut.

"Tunggu... ini..."

Yang ada di tangannya adalah sepasang anting yang dulu gagal dibelinya di toko suvenir Danau Kawaguchi. Anting kaca berbentuk tetesan air dengan gambar Gunung Fuji di dalamnya, barang yang tidak bisa dibeli di tempat lain.

"Sebenarnya sudah lama ingin kuberikan. Selama ini terus kubawa di dalam tas, tapi tidak pernah menemukan waktu yang tepat..."

"U... ugh..."

Dia langsung mengenakan anting itu sambil meneteskan air mata.

"Terima kasih... Eita-kun. Akan kujaga ini seumur hidup."

"Sekarang kamu punya dua harta yang akan dijaga seumur hidup."

Chika-san bergumam sambil melirik kalung yang tergantung di leher Onee-san.

"Um... mungkin pertanyaanku agak aneh, tapi..."

"Uuuu... ada apa, Eita-kun?"

"Kalung yang Onee-san pakai... itu kalung yang sama seperti milik ibuku, ya?"

Sudah lama aku ingin menanyakannya.

Hari ketika dia ditangkap Akane-san, saat aku menonton ulang drama itu, aku menyadari kalung yang dikenakannya sama persis dengan yang dipakai ibuku.

Begitu kutanya, dia menggenggam kalung itu lalu mengangguk.

"Misaki-san memberikannya padaku saat ulang tahunku yang kedua puluh. Aku sendiri tidak ingat, tapi katanya waktu pertama kali bermain bersama Misaki-san di drama itu, aku sangat menginginkannya. Beliau berjanji akan memberikannya saat aku sudah dewasa... jadi ini juga harta yang akan kujaga seumur hidup."

Benar dugaanku.

"Aku senang sekali... bisa menerima hadiah dari Misaki-san dan juga darimu, Eita-kun."

Ekspresinya tampak seperti sedang mengenang masa lalu.

"Ngomong-ngomong, oleh-olehku mana?"

Tepat ketika suasana mulai terasa hangat, suara Chika-san yang terdengar tidak puas memecah keheningan.

"Aku belum menerima apa-apa."

"Eh, anu..."

"Ada! Ada kok!"

Onee-san buru-buru mengeluarkan sebuah gantungan kunci dari tasnya.

Itu adalah gantungan kunci karakter kucing terkenal yang dikenal tidak pilih-pilih pekerjaan, edisi daerah.

"Ini... edisi khusus Shinshu!?"

Mata Chika-san langsung berbinar saat menerima gantungan kunci itu.

"Chika-chan suka sekali karakter ini, jadi setiap kali aku syuting di daerah lain, aku selalu membelikannya. Dengan ini tinggal sedikit lagi koleksi seluruh prefekturnya lengkap!"

Sungguh di luar dugaan.

Ternyata Chika-san yang selalu terlihat keren menyukai barang-barang karakter lucu.

"...Wajah apa itu? Kamu pasti sedang berpikir kalau itu tidak cocok denganku, ya?"

"Ah, tidak... setiap orang punya seleranya masing-masing, kan!?"

Aku spontan menjawab saat dia menatapku dengan sorot mata sedingin badai salju.

Namun sepertinya dia belum percaya, karena dia masih terus menatapku dengan curiga.

"Pokoknya, sepi sekali kalau cuma bertiga! Nyalakan televisinya, yuk!"

Saat aku menyalakan televisi untuk mengalihkan pembicaraan...

"Dan berikut ini berita terbaru."

"Hah?" "Hah?" "Hah?"

Melihat tayangan yang muncul, kami bertiga tanpa sadar terpaku menatap layar.

"Ichinose Kasumi, seorang jurnalis perang yang sebelumnya disandera oleh kelompok bersenjata di wilayah konflik, dikabarkan telah dibebaskan dengan selamat menurut media setempat."

Lalu tayangannya berganti.

"Hai Eita, kamu lagi nonton, kan♪"

Di layar muncul pria berbaju aloha merah mencolok yang seharusnya masih hilang.

Pria yang merangkul bahu anggota kelompok bersenjata dengan akrab itu tidak diragukan lagi adalah ayahku.

"Aku akrab sekali dengan teman-teman kelompok bersenjata ini, jadi jangan khawatir♪ Terus, sambil makin akrab, aku memberi mereka sedikit saran, dan akhirnya kami memutuskan memulai proyek membangun saluran irigasi dari sungai yang jaraknya puluhan kilometer supaya tanah yang tandus ini bisa kembali mendapatkan air."

Alasan macam apa itu!?

Ngomong-ngomong, waktu Onee-san bercerita tentang kunjungannya menemui ayahku, dia memang bilang ayah sedang mencoba memulai sesuatu yang baru dan sempat menyebut soal air... jadi ternyata itu maksudnya?

"Karena proyeknya berskala besar, sepertinya kepulanganku ke Jepang akan tertunda. Kalau semuanya berjalan lancar, mungkin sekitar lima atau enam tahun lagi?"

"Lima atau enam tahun!?"

"Yah, kalau terjadi apa-apa, andalkan saja Onee-san-mu dan lakukan yang terbaik! Sampai jumpa~♪"

Layar kembali berganti setelah ayahku dan para anggota kelompok bersenjata melambaikan tangan dengan akrab, lalu muncul dua pembawa berita yang pernah kulihat sebelumnya.

"Ini... sebenarnya pesan untuk putranya, ya?"

"Benar. Menurut informasi yang kami peroleh, beliau memiliki seorang putra yang masih duduk di bangku SMA dan tinggal sendirian."

"Syukurlah beliau selamat, tapi saya berharap beliau tidak menggunakan siaran televisi sebagai surat video."

Apa yang dikatakan pembawa berita perempuan itu memang benar sekali.

Entah kenapa... maafkan ayahku.

"Jadi itu ayahmu? Sepertinya dia cukup merepotkan..."

Chika-san menatapku dengan penuh rasa iba.

Jangan menatapku seperti itu. Rasanya malah membuatku semakin putus asa melihat keadaanku sendiri.

"Tapi... lima atau enam tahun, ya."

Sekarang sudah pasti aku tidak bisa mengandalkan ayah untuk biaya kuliah.

Syukurlah aku menerima tawaran menjadi manajer.

"Tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku ada bersamamu!"

"Benar juga... mulai sekarang aku mengandalkanmu."

"Serahkan padaku!"

Tak ada lagi keraguan aneh seperti sebelumnya.

Mulai sekarang aku yakin akan sering merepotkan Onee-san dan Chika-san.

Namun aku tidak takut merepotkan mereka.

Aku akan berusaha menjadi seseorang yang lebih banyak membantu daripada menyusahkan mereka.

Semoga suatu hari nanti kami benar-benar bisa menjadi keluarga yang sesungguhnya.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa